[Multichapter] I Have Gotten Ready To Bid Farewell (#1)

CYMERA_20170824_204121

I HAVE GOTTEN READY TO BID FAREWELL
#1
By aiibaka
Cast : Hirano Sho (Mr. KING, Johnnys Jr); Kogure Kie (OC)
Genre : romance
Disclaimer : Hirano belongs to himself and JE, author owns the plot and OC
Note : Judulnya diambil dari lagu Crude Play – I have gotten ready to bid farewell.
FF ini terinpirasi dari kegalauan author beberapa hari yang lalu XD
Hope you like it.
Comments are love ^^

Sepertinya hari ini aku terlalu bersemangat. Setelah libur sekolah beberapa saat lamanya, maka hari ini seperti hari yang benar-benar baru karena bisa kembali ke sekolah. Dan yang lebih menyenangkan lagi, hari ini hari pertamaku di SMA!!

Aku berdiri di koridor depan kelas bersama temanku setelah menemukan akan duduk dimana di dalam kelas itu. Tas-ku sudah menjadi tanda bahwa itu adalah teritorialku. Tidak ada yang akan mengambilnya.

Temanku, Kawaguchi Eri sedang menceritakan pengalaman liburannya ke Okinawa. Aku menjadi pendengar baiknya saat ini, mendengarkan setiap pengalaman uniknya di tempat itu. Meskipun belum pernah ke Okinawa sebelumnya, otakku bisa dengan baik memberi gambaran tentang kota itu melalui cerita yang diutarakan Eri padaku. Sementara diriku, liburanku kemarin hanya diisi dengan kerja paruh waktu. Melelahkan memang, tapi aku mendapat banyak pengalaman, tidak kalah dengan Eri.

“Anoo, apa ini kelas 1-4?”

Aku dan Eri sama-sama menoleh ke asal suara. Seorang anak laki-laki yang lebih tinggi dari kami. Di tangannya ada secarik kertas kecil yang sempat kulihat sekilas bertuliskan ‘1-4’.

Aku ingin tahu apa dia benar-benar bisa membaca atau tidak, jelas-jelas di depan kelas terdapat papan berukuran pas yang bertuliskan ‘1-4’.

“Ini kelasnya.” Eri menjawab sembari menunjuk kelas depan kami.

Anak laki-laki itu mengangguk paham lalu permisi.

“Anak baru, ya?” tanyaku.

Eri mengangkat bahunya. Meskipun hari ini hari pertama SMA bagiku dan Eri, sebenarnya kami sudah bersama sejak SMP. Sekolah kami memiliki tingkat lanjutan bagi anak SMP yang ingin melanjutkan ke SMA. Aku, yang sudah merasa senang bersekolah di sini tidak ingin membuang waktu untuk mendaftar di sekolah lain. Apalagi bisa kembali bersama teman-teman SMP yang dulu, rasanya sangat bahagia. Termasuk bertemu Eri lagi. Jadi, meskipun berpindah tingkatan dari SMP ke SMA, rasanya seperti naik kelas saja.

Koridor sekolah lambat laun dipenuhi lautan murid-murid yang mencari kelas masing-masing. Di dalam kelasku sendiri sudah banyak orang. Hampir semua bangku sudah terisi. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat anak laki-laki yang tadi bertanya pada kami sudah menemukan bangkunya. Dia duduk tepat di sebelah kiriku.

Bel sekolah berbunyi. Kami masuk kelas dengan rapih. Suara seorang wanita melalui mikrofon menginstruksikan agar kami, para murid baru segera ke aula karena upacara penyambutan murid baru akan segera dilaksanakan. Aku pergi bersama Eri dan berdiri di barisan belakang bagian tengah. Aku bertemu dengan beberapa teman yang kukenal saat SMP, kami mengobrol berbisik-bisik. Sayang sekali kami tidak sekelas di SMA ini.

Upacara penyambutan berjalan lancar tanpa gangguan. Aku tidak benar-benar mengikuti jalannya upacara karena sejak tadi lebih memilih ngobrol dengan Eri, dengan berbisik-bisik. Begitu tersadar karena sudah banyak mengobrol, seorang guru menginstruksikan agar kami kembali ke kelas dengan beraturan.

Aku dan Eri kembali ke kelas, duduk di bangku masing-masing. Aku duduk di deretan bangku paling belakang, tempat kesukaanku. Eri duduk di depanku. Seperti biasa, dia akan menjadi pelindung jika tiba-tiba aku tertidur saat pelajaran. Badan Eri lebih berisi. Dia bisa jadi perisai yang baik.

“Hirano Sho desu!”

Aku menoleh ke kiri mendengar suara itu. Aku yakin itu ditujukan padaku. Ternyata anak yang tadi. Dia tersenyum padaku setelah menyebutkan namanya tiba-tiba.

“Kogure… Kie.” Sahutku merespon sikapnya yang tiba-tiba itu.

“Yoroshiku,na!”

“…yoroshiku.”

***

Hari pertama di SMA, aku sudah mengenal banyak teman baru. Sebagian adalah temanku di SMP dulu. Sebagian lagi adalah murid baru yang baru masuk tahun ini di yayasan sekolahku. Termasuk anak laki-laki yang tadi pagi menyapaku, Hirano Sho.

Jika diperhatikan, Sho adalah anak yang aktif. Dia mudah bergaul dengan siapapun di dalam kelas. Sama seperti yang dia lakukan padaku tadi pagi, dia mengajak murid lain berkenalan dengan caranya. Dia juga membantu beberapa murid yang tidak memintanya, seperti membantu seorang murid perempuan menghapus papan tulis. Karena dia tinggi, dia bisa menjangkau tulisan di papan tulis yang tidak bisa dilakukan murid perempuan itu.

Kesan pertama, Sho anak yang baik.

“Kie, kau duluan saja ke kantin. Aku mau ke toilet sebentar.” Ujar Eri ketika kami bersiap-siap ke kantin pada jam istirahat.

“Baiklah.” Sahutku tanpa banyak bicara.

Di luar kelas, kami berpisah. Eri mengambil jalan ke kiri menuju toilet. Sementara aku ke kanan. Dalam kepalaku muncul bayangan puding coklat yang lembut, disertai fla susunya yang gurih. Kantin di sekolah memang memiliki jajanan seperti itu. Dan itu memang sangat enak.

“Kogure!”

Suara itu berasal dari samping kiriku. Seorang anak laki-laki sedang berusaha menyamai langkahku. Dia lagi.

“Ada apa?” tanyaku datar.

“Mau ke kantin, ya?”

Aku mengangguk tanpa memperhatikannya.

“Aku ikut,” sahutnya. Dan karena aku menoleh padanya dengan tatapan tidak mengerti, dia pun menambahkan. “Aku belum tahu kantin sekolah ini ada dimana, makanya aku ikut saja denganmu. Kau SMP di sini, kan?”

Meskipun masih satu yayasan dan satu kompleks, sekolah SMP dan SMA dipisah. Jadi kantin SMP dan SMA juga otomatis tidak sama. Tapi benar katanya, aku memang tahu dimana letak kantin. Karena saat SMP, beberapa kali aku kesana menemani Eri bertemu pacarnya yang anak SMA saat itu. Tunggu! Darimana dia tahu aku SMP di sini?

“Mana temanmu?” tanya Sho lagi.

Aku yakin yang dia maksud pasti Eri. “Ada urusan lain.”

Sho hanya mengangguk. Aku mengarahkan pandanganku ke arah lain.

“Aku baru saja pindah minggu lalu dari Tokyo.”

Aku tidak mengerti kenapa dia menceritakan itu padaku, padahal kami belum terlalu kenal. Aku hanya terdiam, seolah-olah mendengarkannya dengan seksama.

“Apa kau sudah lama tinggal di Matsumoto ini?” dia bertanya padaku. Caranya bertanya terdengar sangat butuh jawaban.

“Iya.”

“Apa kau lahir di sini?” tanyanya lagi.

“Iya.”

“Aku ingin kapan-kapan kau mengajakku berkeliling kota.”

Aku mendelik ke arahnya.

“Kau adalah teman pertamaku di kota ini. Jadi aku ingin kau yang menemaniku jalan-jalan.”

Jujur saja, karena baru hari ini berkenalan dengannya, lalu tiba-tiba dia mengatakan hal seperti itu padaku, aku sedikit takut padanya. Dia terlihat sangat percaya diri, seolah-olah aku akan melakukan seperti apa yang dia inginkan.

“Aku sibuk.” Kataku kemudian.

“Kapan ada waktu luang?”

Aku berpikir sejenak, padahal tidak benar-benar berpikir. Jawabannya sudah kutemukan dari tadi.

“Sepertinya tidak ada. Lagipula kau bisa mengajak teman yang lain. Kau sudah mengenal mereka semua kan?”

Dari ekor mataku, aku bisa melihat Sho tampak kecewa. Entah apa yang membuatnya seperti itu. Aku semakin tidak nyaman. Kuharap Eri segera datang dan mengajakku pergi.

Untung saja, Eri muncul di belakang kami beberapa menit kemudian. Aku menoleh padanya. Sho juga ikut menoleh. Sebelum Eri cukup dekat ke arah kami, Sho mengatakan sesuatu padaku dengan suara yang pelan, “Temanmu cantik, ya.”

Aku menoleh padanya. Dia mengedipkan mata padaku sebelum pergi. Ketika Eri mendekat, dia bertanya tentang Sho.

“Kenapa kau bisa bersama dengannya?”

“Dia mencari kantin.”

“Lalu kenapa dia pergi?”

Aku mengedikkan bahu. Aku tidak memberitahu Eri tentang ucapan Sho tadi. Rasanya tidak perlu. Kalau mau, Sho bisa mengatakannya sendiri. Aku tidak mau ikut campur.

“Ayo ke kantin.”

Aku mengikuti ajakan Eri.

***

Sepulang sekolah, aku bekerja part-time di sebuah toko roti. Sudah hampir 6 bulan aku bekerja di sini. Selain bisa membantu membiayai sekolahku, pekerjaan ini kugunakan untuk membuang rasa bosanku.

Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam ketika kami tutup dan selesai beres-beres. Setelah mengganti seragam kerja dengan seragam sekolah lagi, aku pamit pada Ami-san, wanita pemilik toko.

“Hati-hati di jalan, Kie-chan.” Ucapnya sembari menarik rolling door dan menguncinya.

“Iya.” Aku mengangguk, lalu membungkuk sedikit sebelum pergi.

Sebelum pulang, aku mampir dulu ke kombini. Tadi pagi ayah minta dibelikan beberapa minuman kaleng. Aku juga punya beberapa kebutuhan yang harus kubeli.

Jarak kombini menuju rumah tidak bisa dibilang dekat, namun juga tidak jauh. Hanya perlu berjalan kaki beberapa menit. Dalam perjalanan, aku melewati sebuah taman yang hanya diterangi oleh lampu jalan. Keadaannya sangat sepi. Mungkin karena sudah hampir tengah malam. Aku tidak bisa melihat dengan jelas keadaan di taman karena memang sangat gelap.

Kucepatkan langkah kakiku. Aku memiliki ketakutakn terhadap hal-hal seperti ini. Bagaimana jika tiba-tiba saja muncul hantu dari taman yang gelap itu? Atau mungkin yang lebih buruk, ada orang jahat yang akan melukaiku. Kugelengkan kepalaku cepat. Aku tidak boleh punya pikiran seperti itu jika tidak ingin semakin takut. Hal yang bisa kulakukan hanya berjalan semakin cepat tanpa menoleh.

Hap!

Aku terkesiap saat kurasakan sebuah tangan besar menyentuh bahuku. Kutahan napasku, lalu menoleh pelan dengan penuh harap itu bukan hantu ataupun orang jahat.

“Mau kemana anak manis?”

Aku berusaha menepis tangannya dan mundur beberapa langkah. Di sana berdiri seorang pria tidak kukenal. Pakaiannya berantakan. Tatapannya menjelajahi tubuhku dari atas ke bawah. Aku merinding. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, aku hanya bisa menutup mata dan berteriak ketika dia berusaha menyentuhku kembali.

“Oi! Dia itu temanku!”

Aku dapat mendengar suara yang lain. Ketika aku merasa pria itu tidak jadi menyentuhku, kubuka mataku pelan. Di belakang pria itu muncul seorang laki-laki yang wajahnya tidak asing.

Sho!

“Eh?” pria itu menoleh pada laki-laki tadi.

“Jangan apa-apakan dia. Aku mengenalnya. Dia temanku.” Jawab laki-laki itu.

“Begitu, ya? Sumimasen!” Dia berkata padaku, lalu pergi meninggalkan kami.

Sebenarnya aku cukup heran dengan cara Sho menghentikan pria yang mencoba berbuat jahat padaku. Tanpa perlawanan apapun, dia berhasil mengusir orang itu. Aku bertanya-tanya dalam hati apakah dia cukup berpengaruh di tempat ini?

“Kau tidak apa-apa?” tanyanya mendekat.

Aku menggeleng, lalu tanpa mengatakan apapun, aku mundur selangkah lalu pergi.

Matte!” dia mencegatku. Aku terkesiap. “Aku akan mengantarmu.”

“Tidak usah!” selain pria tadi, aku juga takut pada Sho. Apalagi mengingat kejadian siang tadi. Dia itu aneh.

“Tidak apa-apa, aku tidak repot.”

Bukan itu maksudku!

Sepertinya Sho mengerti jawaban yang tidak kuucapkan itu.

“Jangan takut, aku tidak akan berbuat jahat padamu.”

“Aku bisa pulang sendiri, Hirano-san!” kali ini aku menolak dengan tegas.

“Aku serius! Aku tidak akan berbuat jahat,” kata Sho mendesak, seolah takut aku akan menolak ajakannya. “Aku hanya takut akan ada yang menyakitimu lagi. Kita teman, kan?”

Aku takut membayangkan muncul lagi orang seperti pria tadi yang akan berbuat jahat padaku. Kali ini, hatiku berkata aku harus mempercayai ucapan Sho.

Pada akhirnya akupun mengangguk meski dengan ragu.

“Kalau begitu tunggu di sini. Aku segera kembali!”

Aku tidak ingin tahu Sho pergi kemana, tapi beberapa saat kemudian dia kembali dengan sebuah motor besar berwarna hitam.

“Ayo naik!” katanya.

“Naik motor?” tanyaku.

“Iya. Biar lebih cepat sampai rumah.” Jawabnya sembari menatapku tanpa berkedip.

Meski ragu, aku tetap menuruti kemauan Sho. Motornya terlalu tinggi sehingga aku cukup kesulitan menaikinya. Aku berpegangan pada bahunya dengan terpaksa karena dia yang menyuruh. Setelah aku duduk, dia menjalankan motornya, membawaku pulang, memecah kesunyian malam di Matsumoto yang cukup tenang.

Kami melewati jalan raya yang lengang. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Tentu saja, karena kota ini bukan kota besar seperti Tokyo yang selalu ramai dan padat.

Sepanjang  perjalanan, aku duduk diam di belakang, menjaga jarak yang cukup jauh dengannya. Beberapa kali menyahut hanya ketika Sho bertanya sesuatu.

“Kogure~” panggilnya.

“Iya?” kataku memiringkan kepala agar bisa mendengar apa yang akan dia ucapkan.

“Maaf ya!” ucapnya.

Aku tidak mengerti. “Maaf untuk apa?”

“Malam ini aku mengantarmu pakai motor temanku. Besok-besok aku akan mengantarmu pakai motorku sendiri.”

Aku tidak peduli. Cepat antar aku pulang!

“Motorku sedang ada di bengkel.” Jawabnya tanpa kutanya.

Aku kembali diam. Rasanya perjalanan ke rumah malam ini menjadi sangat lama. Aku ingin cepat sampai.

“Kogure~” dia memanggil lagi.

“Hm?”

“Kapan kita jalan-jalan?”

Sepertinya anak ini memang penuh rasa percaya diri. Sudah jelas tadi siang aku menolaknya. Malam ini dia kembali mengulangi pertanyaan yang sama.

“Aku sibuk.” Kuulang lagi jawabanku seperti siang tadi.

“Kapan luang?” dia juga mengulang pertanyaannya.

“Ajak yang lain saja.” Kataku datar. Aku benar-benar malas meladeninya.

Sho pun ikut terdiam. Yang bisa kudengar hanya suara deru motor yang melaju dengan kecepatan tinggi. Lalu Sho membelokkan motornya ke arah kiri sesuai arahanku.

“Turunkan aku di sini saja.” Kataku pada Sho ketika kami melewati sebuah tikungan.

“Yang mana rumahmu?” dia bertanya sambil mengedarkan pandangannya ke semua arah.

“Di sana.” Aku menunjuk sebuah tanjakan tepat di depan kami.

“Aku antar sampai depan rumah.”

“Tidak usah!” cegahku.

Sho terdiam beberapa saat, sepertinya cukup tahu diri untuk tidak masuk terlalu jauh ke ranah privasiku.

“…terimakasih sudah mengantarku.”

“Tidak apa-apa,” katanya. “Aku juga minta maaf karena temanku berbuat yang tidak baik padamu tadi.”

Aku ingin sekali bertanya apakah pria yang tampak seperti preman itu adalah temannya. Tapi, kutahan diriku. Aku tidak ingin dia berpikiran bahwa aku ingin tahu tentangnya. Tapi karena hal itu, kesanku terhadap Sho perlahan berubah. Apakah dia anak baik-baik?

Karena merasa tidak ada lagi yang perlu kukatakan, aku berjalan menaiki tanjakan. Di sebelah kiri tanjakan itulah rumahku. Selain tidak ingin membiarkan Sho tahu dimana rumahku, aku juga tidak bisa membayangkan apa jadinya jika ayah melihat aku diantar pulang oleh laki-laki yang tidak dikenalnya.

“Kogure!” Sho memanggil ketika aku sudah berjalan cukup jauh darinya.

Aku menoleh.

“Sampai ketemu besok di sekolah!”

Aku kembali berjalan tanpa merespon. Lalu kudengar suara motor mulai dinyalakan dan terdengar semakin jauh melaju di belakangku.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s