[Multichapter] Seven Colors (#7)

Seven Colors

sevencolors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 7)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

“Kenapa kau terlihat gugup?” Aika menatap Aran yang duduk di sebelahnya, “Bukankah kau sudah biasa?”

Aran terkekeh, “Tentu saja tidak. Ini pertama kalinya aku akan bertemu dengannya,” kata pemuda itu, membenarkan letak dasinya lalu turun dari mobil, membantu Aika turun juga karena agak kesulitan dengan sepatu hak tingginya. Sore tadi Aran menyeret Aika ke salon, membelikannya gaun yang tidak begitu mewah karena toh ini bukan acara yang terlalu formal, lalu memaksa Aika untuk memakai sepatu hak tinggi.

Halaman rumah bertuliskan ‘Yasui’ ini cukup luas, Aika memindai matanya ke segala arah, rumah ini khas rumah Jepang namun mewah, dominasi warna-warna yang lembut pun terasa nyaman dilihat. Aika menebak keluarga ‘Yasui’ ini pasti orang yang cukup terpandang, mengingat anaknya bahkan dijodohkan dengan anak Presiden Abe. Tarikan lembut di tangan Aika membuat gadis itu menoleh, langkahnya mendekati pintu masuk, dan tak butuh lama mereka sudah masuk, seoarang pelayan berpakaian kimono membukakan pintu rumah itu.

“Selamat datang Abe-sama,” sapanya, dan Aran mengangguk, menggandeng Aika hingga mereka masuk ke sebuah ruangan.

Manik mata Aika membulat tak percaya saat menangkap satu sosok yang seharusnya tidak di sini, setidaknya begitulah menurutnya, “Yuma-kun…” bisik Aika lirih, tangannya secara refleks menahan lengan Aran untuk bergerak maju, pemuda itu menoleh, terlihat sedikit kebingungan karena langkah Aika terhenti.

“Ah ini dia putraku sudah datang!” belum sempat Aika menjelaskan, Abe-san menghampiri Aran dan dirinya, “Ini Yasui-san, putraku, namanya Aran,” jelasnya.

Seorang laki-laki paruh baya yang dipanggil Yasui-san pun menghampiri mereka, berkenalan basa-basi dengan keduanya walaupun fokus Aika tidak bisa berpindah, matanya masih mengikuti gerakan laki-laki yang sejak tadi mencuri perhatiannya. Detik itu pula mata mereka bertemu, Sanada akhirnya menyadari kalau Aika ada di sana, mungkin karena make up yang lebih tebal dari biasanya, Sanada tidak mengenalinya.

“Dan ini anak bungsuku, Kaede.”

DEG.

KAEDE.

Namanya Kaede, jadi ini wanita yang diceritakan Sanada tempo hari, jadi ini wanita yang membuat Sanada tampak seperti zombie berhari-hari, membuat pria itu bad mood terus menerus.

“Ah sayang sekali ya, perjodohan ini tidak mulus sepertinya, mengingat anakmu sudah punya pacar!” seru Abe-san kepada Yasui-san yang kemudian hanya tertawa.

“Anak gadisku ini tidak pernah bercerita padaku, tau-tau membawa pacarnya, tapi bukankah anakmu juga membawa pacarnya ke sini?!” seru Yasui-san, aura kompetitif dan tidak nyaman menguar diantara keduanya.

“Ah ini staff kita di kantor kan, Aran? Hanya staff mu, kan?” tanya Abe-san, padahal kenyataannya anak laki-lakinya ini pun juga ‘hanya’ staff, setidaknya sekarang.

“Bukan Ayah, ini Kimura Aika, dia pacarku,” jelas Aran, sangat santai, jelas sekali Abe-san juga tidak menyukai hal ini.

Makan malam berjalan lancar, Yasui ini ternyata adalah pemilik turun temurun dari Sakura Gakuin, sebuah sekolah yang sudah tersohor di sana juga memiliki banyak bisnis berhubungan dengan percetakan dan sekolah, Sanada memang mengajar di sana juga jadi jelaslah dimana mereka berdua bertemu. Setelah selesai makan malam, kedua pria paruh baya itu pun mengobrol di ruangan terpisah, membicarakan bisnis dan kerja sama yang akan mereka jalin selanjutnya. Walaupun tidak ada kesan memaksa, tapi keduanya sepakat bahwa anak-anak mereka ‘belum siap’ untuk dijodohkan, entahlah mungkin menunggu baik Kaede atau Aran putus dengan pacar-pacar keduanya.

“Jadi Aika-chan sudah punya pacar, kok gak pernah cerita?” Sanada menghampiri Aika yang duduk di area terbuka di samping ruang makan itu, dirinya butuh oksigen. Memerhatikan setiap gerakan Kaede malam ini sudah siap membunuhnya perlahan. Wanita ini sangat cekatan, feminim, bahkan makanan yang tersaji di hadapan mereka tadi adalah hasil karya Kaede, pintar masak, dan pastinya pintar jika mengingat sekarang Kaede adalah Kepala Guru di Sakura Gakuin.

“Uhmmm… Yuma-kun juga…” kalimatnya menggantung, tak mampu meneruskan.

Sanada hanya tersenyum simpul, “Abe-kun ini… orang baik?”

“Menurutmu?”

“Tentu saja kuharap begitu. Aika-chan sudah seperti adikku sendiri, aku berharap orang yang bersamamu adalah orang yang tepat, orang yang baik,” ucap Sanada, menatap Aika sambil tersenyum.

Souka.”

“Kenapa? Kau tidak enak badan?” Yuma memerhatikan wajah Aika yang terlihat kurang sehat, namun Aika menggeleng, kerongkongannya tercekat, air matanya sudah siap jatuh dari pelupuk matanya, mati-matian dia berusaha membendung gelombang keinginan untuk berteriak dan menangis saat ini juga.

“Sana…da-kun…” Kaede muncul dari pintu ruangan sebelah, “Gomen, aku mengganggu ya?” direspon dengan gelengan dari Sanada, “Anou, bisa antar aku ke Rumah Sakit? Ini darurat!!” Kaede terlihat tak sabar.

“Ada apa?!” Sanada langsung berdiri menghampiri Kaede.

“Keponakanku masuk Rumah Sakit. Ayo!”

Tanpa berkata apa-apa lagi Kaede dan Sanada berlalu dari sana, dan detik berikutnya air mata Aika mengkhianatinya, mengalir ke pipi, dirinya hanya bisa tertunduk dan terisak pelan.

Gomen ne, Aika-chan, aku sama sekali tidak tau soal ini,” Aran kini duduk di samping Aika, menarik lembut bahu gadis itu mendekat padanya, “Menangislah…” bisik pemuda itu.

“Kenapa rasanya sesakit ini? Hiks… padahal.. hiks… Yuma-kun bukan siapa-siapa, aku.. hiks..”

“Tentu saja dia orang yang penting untukmu, tapi Aika-chan harus tau, tidak ada salahnya mencintai dia, tapi setelah tau kalau Sanada-san memang tidak akan memilihmu, terkadang memang merelakannya adalah hal yang paling baik,” Aran membiarkan Aika merengkuh tubuhnya, menangis sejadi-jadinya.

***

Hazuki kalut saat tadi Yasui meneleponnya ketika dia sudah ada di perjalanan pulang bersama Hagiya. Ia segera turun dari bis, dan Hagiya pun memberhentikan taksi, ikut bersama Hazuki menuju ke Rumah Sakit.

“Tenang… jangan panik,” tanpa segan menarik tangan Hazuki, menggenggamnya, ia tau kalau itu yang dibutuhkan Hazuki sekarang.

Tiba-tiba saja Yasui meneleponnya, menceritakan bahwa sepertinya Kenichi salah makan sesuatu dan tiba-tiba alerginya kambuh. Kenichi memang alergi dengan udang, terkadang walaupun porsinya sedikit, anak semata wayangnya itu bisa kesulitan napas, dan sekarang membuatnya panik  setengah mati. Beruntunglah Yasui segera melarikan Kenichi ke Rumah Sakit, tapi sampai sekarang belum ada update lagi mengenai kondisi Kenichi.

Dua puluh menit yang terasa begitu panjang, akhirnya taksi itu sampai di Rumah Sakit yang tadi di informasikan oleh Yasui. Tanpa menoleh lagi Hazuki turun dan langsung berlari ke bangsal gawat darurat, di sana sudah ada Yasui dan seorang gadis yang Hazuki tidak kenal.

“Ken-chan mana?!!” seru Hazuki, ia tak sempat menoleh tapi sepertinya Hagiya juga sudah menyusulnya ke dalam.

“Dia baik-baik saja, tenang Hazuki!!” Yasui menyentuh bahu Hazuki, berusaha menenangkannya, napas Hazuki satu-satu itu jelas sekali terlihat panik.

“Bagaimana bisa kau membuatnya makan udang!! Sudah kubilang kan!! Kamu tidak pernah mendengarkan aku!!” seru Hazuki kalut, Yasui sama sekali tidak ikut marah, dia menarik napasnya karena tau semakin dibantah maka Hazuki akan semakin marah.

Anou… Kirie-san, anou… gomen… sebenarnya ini salahku…” gadis yang sejak tadi berdiri di sebelah Yasui itu terlihat takut, matanya merah seperti habis menangis.

Yasui menoleh, menatap gadis itu dan menggeleng, “Tidak ini salahku. Sudahlah… Ken-chan sudah baik-baik saja, okay? Sebentar lagi dia sudah boleh pulang,” jelas Yasui.

Hazuki meminta Yasui mengantarnya ke bilik dimana Kenichi berbaring, ternyata anaknya itu sudah terlelap, mungkin karena pengaruh obat. Begitu melihat ruam-ruam akibat alerginya sudah sangat berkurang, Hazuki merasa agak tenang, ternyata benar Kenichi nya sudah baik-baik saja.

“Mama…” Kenichi ternyata terbangun, lalu segera duduk dan memeluk Mamanya, dan Hazuki hanya menepuk-nepuk pelan tubuh Kenichi, bersyukur bocah ini baik-baik saja.

“Aku antar Itou-kun pulang dulu, kau tunggu di sini sampai aku kembali,” kata Yasui.

“Sebenarnya apa yang terjadi?!” bisik Hazuki ketika keduanya sudah kembali keluar dari bilik rawat dan Yasui mengajaknya bicara berdua.

“Aku lupa bilang pada Itou-kun kalau Ken-chan ada alergi udang, lalu aku ke kamar mandi, dan saat kembali aku tidak melihat ada tanda-tanda aneh dengan Ken-chan. Setelahnya kita jalan-jalan di sekitar Mall, dan alergi Ken-chan kambuh. Itou-kun bilang tadi Ken-chan merengek minta ebi tempura miliknya dan tanpa curiga dia pun memberikannya,” jelas Yasui.

“Ugh!!” Hazuki tidak bisa marah karena ini bukan kesengajaan, tapi murni sebuah kecelakaan, “Memangnya siapa sih dia? Pacar barumu?!” seru Hazuki.

Yasui menggeleng, “Ayolah Hazuki, dia itu anak buahku di kantor dan kami tidak sengaja bertemu!” Hazuki memutar bola matanya, melemparkan pandangan ‘kayak-aku-percaya-saja’ kepada Yasui, “Kau sendiri ngapain kencan sama gurunya Ken-chan?!” balas Yasui.

“Kenapa? Kau cemburu?!”

“Hazuki!!”

“Yasui-san,” Hazuki mengatakannya dengan cara yang dramatis, “ingat kan perjanjian kita? Tidak boleh mengenalkan pacar pada Ken-chan sampai kita yakin dan akan menikah dengan orang itu!” Hazuki berujar, mengingatkan perjanjian mereka saat pisah dulu. Bahwa Kenichi tidak boleh diperkenalkan dengan pasangan baru mereka sampai mereka yakin dengan pasangan baru itu.

“Ya makanya aku bilang juga Itou-kun itu hanya anak buahku!!” Yasui kadang gemas dengan keras kepalanya seorang Hazuki. Keduanya masih saling menatap tidak mau kalah.

Nii-chan!!” Hazuki menoleh, melihat Kaede berjalan ke arah mereka, “Ken-chan baik-baik saja?!”

“Loh? Sanada-kun?” seru Hagiya.

“Eh? Hagiya? Ngapain di sini?!” seru Sanada.

“Aku… ehmm… menemani Kirie-san,” jawab Hagiya, sedikit bingung dengan keadaan ini.

Seorang dokter menghampiri mereka, menjelaskan bahwa Kenichi baik-baik saja dan boleh segera pulang.

“Kalau begitu aku urus administrasinya dulu,” kata Yasui.

“Begini saja, aku yang akan mengantar Hazuki dan Kenichi pulang, nii-chan urus administrasi saja, dan antar pulang temanmu,” kata Kaede menoleh ke arah Akina yang mematung di sebelah mereka.

“Ah kau benar… okay kalau begitu, tolong ya!”

***

“Yasui-san, aku…. minta maaf,” tentu saja ini semua karena kecerobohannya, Kenichi sampai harus masuk ruang gawat darurat, ia merasa sangat bersalah.

Yasui yang menyetir di sebelah Akina pun tersenyum, “Tidak perlu minta maaf. Ini kan hanya karena aku lupa memberi taumu, sudahlah… Ken-chan juga kan yang merengek padamu.”

Akina menunduk, rasanya benar-benar tidak enak, apalagi melihat Mamanya Kenichi yang sampai marah tadi. Bisa saja kejadian ini berubah fatal, kan?

Sesaat Yasui hanya terdiam, “Baiklah sebagai penebusan dosamu, bagaimana kalau kau traktir aku makan?”

“Eh?” Akina menoleh, menatap Yasui yang juga sedang menatapnya.

“Bagaimana? Di sana saja…” Yasui menunjuk sebuah restoran siap saji yang berada tak jauh dari mobil Yasui berhenti, “Okay?”

Akhirnya Akina mengangguk. Setuju juga karena saking paniknya tadi rasanya tenaganya terkuras dan walaupun waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, rasanya dia memang lapar lagi. Mobil Yasui menepi, mereka pun turun dan masuk ke restoran ayam siap saji itu. Setelah memesan dan membayar, keduanya makan sambil berhadapan, untuk sesaat baik Yasui maupun Akina tidak mengucapkan apa-apa.

“Tidak perlu terus-terusan cemberut begitu. Ken-chan sudah baik-baik saja, okay?” akhirnya setelah beberapa saat Yasui berkata, masih menyunggingkan senyumnya menenangkan Akina.

Tak disangka Akina malah menangis, air matanya meleleh, tangis yang sejak tadi dia tahan pun kelauar seluruhnya, Akina terisak-isak pelan, mencoba berhenti tapi perasaan takut bercampur lega kini menguar ke seluruh tubuhnya, ia butuh menangis, menumpahkan segalanya.

Yasui tidak protes, ia tau sebenarnya Akina sudah ingin menangis sejak tadi maka yang dilakukannya adalah pindah, duduk di sebelah Akina dan menyentuh bahu gadis itu, menepuk-nepuknya pelan, tidak ada kata terucap, tapi gerakan pelan dan lembut itu bisa menenangkan Akina yang masih terus terisak setelahnya.

.

.

“Yasui-san, terima kasih sudah mengantarku pulang!” seru Akina, setelah makan Yasui langsung mengantar Akina pulang ke apartemennya.

Oyasuminasai,” Yasui berkata saat Akina sudah turun dari mobilnya, Yasui menutup jendela mobil dan berlalu dari apartemen itu.

Yasui menoleh ketika melihat sebuah tas karton di belakang jok mobil, “Ah, bukunya Itou-kun ketinggalan,” gumam Yasui. Namun setelah menimbang-nimbang akhirnya dia memutuskan untuk kembali ke apartemen tadi dan menelepon gadis itu, memberitahukan soal bukunya.

Anou Itou-kun, moshi-moshi?

“Eh? Yasui-san! Hai!

“Ah syukurlah kau belum tidur. Aku ada di depan gedung apartemenmu. Buku-bukumu tertinggal di mobilku,” kata Yasui, ia memastikan gadis itu masih bangun karena sudah cukup lama ia meninggalkan tempat itu sampai sadar kalau buku-buku itu ada di jok belakang.

“Ya ampun! Sumimasen deshita!

“Buka pintu depannya ya, kamarmu nomor berapa?” tanya Yasui lagi.

“Biar aku yang turun Yasui-san!” Akina terdengar sedikit kaget karena Yasui repot-repot membawakan bukunya.

“Tidak apa-apa, toh aku sudah di depan pintu,” tak lama pintu depan terbuka, Yasui menaiki lift yang menuju ke lantai tiga dimana kamar Akina berada. Tak butuh waktu lama sampai ia sampai dan akhirnya berada di depan kamar Akina.

Pintu berwarna biru itu terbuka, dilihatnya rambut Akina masih basah, sepertinya gadis itu baru saja mandi. Baru kali ini Yasui melihat Akina tanpa make up, memakai celana training dan kaos kebesaran, menyembunyikan tubuh kecil gadis itu.

“Duh.. aku benar-benar minta maaf. Hari ini sepertinya aku terus merepotkanmu,” ucap Akina salah tingkah, “Lebih baik Yasui-san masuk dulu, biar kubuatkan teh.”

Karena tidak mau membuat Akina semakin merasa bersalah, Yasui menyanggupi, masuk dan mungkin minum teh dulu sebelum pulang, “Ojamashimasu,” sesaat setelah masuk Yasui langsung teringat dengan apartemen lamanya, sebesar ini, dengan hanya ada satu ruangan dan dapur yang berada tepat di pintu masuk, juga sebuah kamar mandi kecil, sementara makan, tidur, baca, dan kegiatan lainnya harus dilakukan di satu tempat itu. Sebuah keajaiban dirinya dan Hazuki bisa bertahan seperti itu hampir setahun lamanya, dengan Kenichi yang masih sering terbangun di malam hari, sampai dirinya bisa menyewa apartemen yang lebih besar, yang sekarang ditempati oleh Hazuki dan Kenichi.

“Maaf Yasui-san, hanya ada ini,” Akina menyodorkan secangkir teh, dan sekaleng biskuit rasa coklat lalu duduk di hadapan Yasui.

“Terima kasih Itou-kun,” Yasui menyesap tehnya, tersenyum kepada Akina, “Tinggal sendirian di sini?”

Akina mengangguk, “Orang tuaku di Ibaraki, Yasui-san, jadi yaaa… karena aku kuliah di sini, aku harus rela tinggal sendirian,” jawabnya, ia merasakan air di rambutnya mulai menetes ke bajunya dan ini tidak baik, bisa-bisa dia masuk angin.

Souka. Lebih baik kau keringkan dulu rambutmu, nanti masuk angin loh,” ucap Yasui, melihat ekspresi Akina yang sedang mencoba menjauhkan tetesan air dari rambutnya, tapi Akina menggeleng. Gerakan Yasui selanjutnya membuat Akina tertegun karena pria itu beranjak, mengambil handuk yang ada di dekat Akina dan menyampirkan handuk itu di kepalanya, menggosok-gosokkannya agar rambutnya sedikit cepat kering.

“Eh… Yasui-san… uhmm.. tidak perlu,” ucapnya gugup.

Yasui terkekeh, “Nanti Itou-kun sakit,” saat mengatakannya pria itu melihat langsung ke wajah Akina yang kini jaraknya cukup dekat, tangannya masih di atas kepala Akina, “Yabai,” bisik Yasui, matanya terpaku pada bibir Akina yang terlihat ranum, mungkin efek air panas atau bahkan efek Akina kini mengigit bibirnya dan detik selanjutnya Akina sendiri tidak tau harus melakukan apa karena Yasui mendekat, ketika sadar bibir mereka menempel satu sama lain. Akina berjengit kaget, mundur beberapa sentimeter tapi Yasui kembali mendekat dan Akina yang kaget mundur lalu kehilangan keseimbangan, punggungnya menyentuh langsung karpet yang ada di belakangnya sementara Yasui ikut terjatuh di atasnya.

“Ya Tuhan! Gomen!!” Yasui buru-buru melepaskan diri, dan membantu Akina bangun, “Anou… Itou-kun, maafkan aku…” Yasui mendadak gagu, bibirnya kelu, kenapa juga dia tiba-tiba mencium anak buahnya sendiri?! Ya, Akina memang cukup menarik untuknya, berkali-kali dia mendapati matanya sering memerhatikan Akina, bahkan saat sedang di kantor sekalipun.

Akina menggeleng, wajahnya terasa panas, bibirnya juga sama-sama tidak bisa mengatakan apapun.

Yasui menyentuh bahu Akina, “Itou-kun, kamu baik-baik saja, kan?” gadis itu akhirnya mengangguk, menunduk karena tidak mampu menatap Yasui.

***

“Hagiya-san, gomen ya sampai harus turun dan mengantar ke dalam,” kata Hazuki, tadi Kenichi memang digendong oleh Hagiya dan saat mereka turun, Kenichi merengek tidak mau lepas dari gurunya itu sehingga terpaksa Hagiya ikut turun demi Kenichi, meminta Sanada dan Kaede pulang saja duluan.

“Tidak apa-apa,” Hagiya tersenyum, bocah itu akhirnya tertidur pulas setelah Hagiya menemaninya tidur sambil memeluknya.

Hazuki menyimpan secangkir teh di hadapan Hagiya yang kini duduk di ruang tengah apartemennya, “Hanya ada teh, karena punya anak kecil, aku sudah lama tidak beli bir kalengan,” ucapnya.

“Tidak apa-apa, teh cukup kok,” Hagiya tersenyum, menyesap teh hangat itu.

“Aduh sudah malam sekali, pasti kereta terakhir sudah lewat, uhmmm… kubayarkan taksi saja ya? Jadi…”

“Kalau aku bermalam di sini, Kirie-san keberatan tidak? Besok juga minggu, kan? Aku bisa pulang besok pagi,” kata-kata Hagiya memotong kalimat Hazuki.

Hazuki tertegun. Eh? Tapi kan, “Eh?”

“Aku bisa tidur di sofa, atau Kirie-san keberatan?”

“Tidak sih, hanya saja, aku tidak tau harus menjawab apa, haha,” Hazuki terkekeh, mendapati dirinya merasa gugup, terutama ketika Hagiya ikut terkekeh, kalau diperhatikan ternyata senyum Hagiya cukup manis, hush! Kamu mikir apa sih, Hazuki?! Hardiknya pada diri sendiri.

“Ini bukan ending kencan yang aku pikirkan,” kata Hagiya, “Aku pikir malam ini setelah mengantar Kirie-san pulang ke rumah, aku bisa….” kalimat Hagiya menggantung, Hazuki menatapnya, “meminta nomor teleponmu,” ucap Hagiya mengacungkan ponselnya, “Aku bahkan mereka kejadian itu berkali-kali di kepalaku, hahaha, bodoh ya?”

Hazuki meraih ponsel itu, mengetikkan nomor teleponnya, “Ini… lain kali aku yang akan traktir Hagiya-san, terutama karena hari ini aku merasa merepotkanmu,” ucap Hazuki, mengulurkan ponsel itu kembali pada pemiliknya, Hagiya terdiam sesaat, menatap Hazuki yang kini tersenyum ke arahnya.

“Kirie-san, aku tau ini terlalu cepat,” saat mengambil ponselnya, Hagiya meraih tangan Hazuki dan menggenggamnya.

Senyum Hazuki memudar, berganti dengan wajah kebingungan.

“Maukah Kirie-san menikah denganku?”

***

Semuanya masih sama seperti yang diingat Shoki sejak ia meninggalkan rumah ini saat usianya baru menginjak delapan belas. Tidak ada yang keberatan ia tinggal di sana terus, apalagi dia membantu kegiatan operasional secara sukarela selama tidak mengganggu sekolah dan kerja paruh waktunya. Tapi dia ingin hidup mandiri, mencari kehidupan yang lebih layak di luar sana, apalagi rumah ini cukup terpencil dan jauh dari kota, maka saat lulus SMA, Shoki memutuskan untuk benar-benar lepas dari tempat ini.

“Berat tidak?” Shoki menoleh, menatap Akane yang membawa sebuah tas besar berisi makanan, dia sendiri juga membawa dua tas di tangannya. Akane menggeleng.

Hisashiburiiii!!” Akane sendiri menyusulnya keluar dari rumah Yatim Piatu ini dua tahun setelah Shoki keluar, sama seperti Shoki, Akane keluar setelah lulus SMA. Tadi Shoki meneleponnya, mengajaknya ke panti karena mereka sudah lama sekali tidak ke sana dan Shoki merasa harus menenangkan diri setelah semua yang terjadi diantara dirinya dan Ruika, gadisnya itu sama sekali belum mau mneghubunginya.

Keduanya masuk dan langsung disuguhi pemandangan yang familiar, ruangan-ruangan di sini tampak lebih tua tapi tetap bersih dan terawat.

Ojamashimasu,” terdengar riuh suara anak-anak di satu ruangan, pasti itu di ruang bermain, biasanya mereka menghabiskan waktu di sana terutama saat akhir pekan seperti ini. Langkah keduanya menuju ke ruangan itu, saat membuka pintunya semua anak langsung menhambur ke arah Shoki dan Akane, ribut mengambil oleh-oleh yang mereka bawa.

“Shoki-kun! Hisashiburi!!” seorang paruh baya mendekatinya, Shoki sudah menganggapnya ibu sendiri.

Shoki memeluknya, bergantian dengan Akane, “Ibu sehat?”

“Sehat tentu saja! Anak-anakku ini sudah lama sekali ya tidak ke sini, tidak kangen sama ibu?” katanya, mencubit pipi Shoki dan Akane, “Kalian sendiri sehat?”

Setelah mengobrol beberapa saat, Shoki membantu Ibu melakukan beberapa persiapan untuk makan siang sementara Akane menemani anak-anak lain bermain.

“Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Ibu, walaupun Shoki sudah lama tidak datang tapi setidaknya seminggu atau dua minggu sekali Shoki menyempatkan untuk menelepon ke tempat ini, memastikan semuanya baik-baik saja.

“Baik, aku betah mengajar anak-anak,” ucap Shoki, padahal hatinya sedang terbebani dengan kemungkinan untuk menyanggupi permintaan Ayah Ruika.

“Baguslah kalau kau betah, Akane-chan sekarang ikut bekerja di sana juga, jadi kalian bisa saling menjaga ya,” sejak kecil Ibu tau kalau Shoki dan Akane tidak bisa dipisahkan, gadis itu menempel pada Shoki sejak hari pertama masuk ke panti. Berbeda dengan Shoki yang ditinggalkan sejak lahir, Akane diantar petugas dinas sosial saat usianya sudah hampir dua tahun, sampai sekarang baik Shoki maupun Akane tidak pernah diberi tahu alasannya, kenapa Akane dibawa kesana, pastilah ada masalah di dalam keluarga Akane.

Shoki mengangguk sebagai jawaban, tidak ingin memperpanjang obrolan mengenai Akane dan dirinya, Shoki membawa makanan ke ruang makan, menatanya, beberapa kali hingga semuanya siap. Baru saat itu memanggil anak-anak untuk segera makan.

Saat anak-anak makan, Shoki menyepi ke halaman belakang, dia belum lapar dan ingin sedikit menyepi, menatap hamparan padang rumput di belakang gedung panti yang tidak jauh dari sana ada sebuah gereja yang dulu sering ia datangi bersama Akane.

“Hey, tidak makan siang?” Akane menghampirinya, duduk di kursi yang langsung menghadap ke arah padang rumput.

“Belum lapar. Kau sendiri?”

Akane tersenyum, “Nanti saja setelah Shoki-kun makan juga,” ucapnya.

“Ingat tidak pertama kali main dekat danau itu Akane-chan hampir tercebur, untung saja aku sedang bersamamu, hahaha,” Akane sempat tidak mau bermain selama beberapa bulan setelah masuk ke panti. Shoki ingat dirinya membujuk Akane setiap hari, mendekatinya pelan-pelan sehingga gadis itu akhirnya bisa kembali ceria, sejak saat itulah Akane selalu bersama dengan Shoki.

Akane ikut tertawa, “Itu semua kan karena Shoki-kun!” serunya, aku mengejar Shoki-kun dan kehilangan keseimbangan!” protes Akane.

Keduanya larut dalam nostalgia, banyak sekali yang terjadi diantara mereka berdua. Separuh hidupnya sudah dihabiskan bersama dan membuat mereka memilik ikatan yang tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata, lebih dari saudara kandung sekalipun.

“Shoki-kun, mulai sekarang sebaiknya Shoki-kun lebih memperhatikan Yasutaka-san, tidak perlu mengkhawatirkan aku lagi, aku akan baik-baik saja,” ucap Akane.

Shoki menoleh, menatap Akane, “Kau aneh sekali! Ada apa sih?”

Akane menggeleng, “Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin Shoki-kun tidak perlu mengkhawatirkan aku. Makanya aku setuju ikut ke sini karena aku ingin mengatakan ini padamu. Yasutaka-san sangat menyayangimu, dan aku tidak mau hubungan kalian rusak hanya karena aku. Aku juga tau kalau Shoki-kun mencintai Yasutaka-san. Jadi selain urusan sekolah, kita tidak perlu bertemu sering-sering,” Akane menarik napasnya, “sekarang aku bertemu banyak orang baik. Ada Aika-chan, Sanada-kun, Keigo-chan, Aoi-chan, jadi sudah ada yang menjagaku, Shoki-kun lebih baik fokus kepada Yasutaka-san saja.”

“Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal ini? Hmm?”

“Sudah saatnya aku tidak bergantung lagi kepadamu,” Akane tersenyum, “Lebih baik kita makan yuk! Nanti dicari Ibu loh!” setelah mengatakannya Akane beranjak meninggalkan Shoki, membuat pria itu bertanya-tanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa Akane tiba-tiba berkata seperti itu?

***

To Be Continue

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Seven Colors (#7)

  1. dindobidari

    Pura2 sih emang aika aran, tapi bikin kyun 🙈 terus aku kaget masaaaaaa aran mau dijodohin sama aran 😂😂😂😂 oemjiiii
    Terus terungkaplah siapa yang yang bikin sanada jadi zombie berhari2.. sepertinya aku mendengar suara retakan, mana sanada ngga peka pula sama perasaannya aika 😂
    Next is.. awkward moment 😂 yasui bawa cewe, ketemu hazuki bawa cowo wahaha. Mana ada sanada dateng, ketemu hagi, dunia begitu sempit..
    Kaya’nya yasui masih suka nostalgia deh sama masa lalunya bareng hazuki, bahkan masuk kamarnya akina inget masa lalu wahaha. Jadi aku ngga percaya kalo dia nyangkut sama akina, itu cuma terbawa suasana aja.. yakin deh 😂
    Mmm.. that “sanada dan kaede pulang saja duluan” berasa kaya’ udah nikah 😍 *eh
    EH KAGET, MALAH HAGI YANG NGELAMAR DULUAN
    Shoki tidak peka dasar shoki tidak pekaaaaaaaaaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s