[Multichapter] MONSTER (#7)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 7)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Kaede berlari kencang mengikuti Haru, dia berdecak kesal. Kaede paling benci rumah sakit, bau obat dan darah selalu menusuk-nusuk hidungnya. Kaede harus mati-matian menahan diri tidak menghabiskan darah itu. Meskipun dia selalu berhubungan dengan manusia, tetap saja Kaede seorang Nogumi. Naluri monsternya kadang lebih mendominasi. Mereka berbelok, Haru segera mendekati Hokuto yang mondar mandir didepan ICU. “Bagaimana keadaannya?” tanya Haru, dia menengok kearah ICU.

“Dokter masih menanganinya,” ucap Myuto, “lukanya benar-benar parah. Aku tidak mengerti bagaimana dia mendapatkan semua luka itu.”

“Kalau dari bekas luka, sepertinya itu Nogumi,” ucap Shintaro, dia melirik kearah Kaede yang melotot kearahnya. Hokuto berdehem, dia cepat-cepat membawa Haru menyingkir darisana. “Nogumi? Kenapa Morimoto-Kun menyebut-nyebut monster legenda itu?” tanya Haru bingung.

Hokuto terkekeh, dia membalas, “Dia mengira serangan aneh ini berasal dari mereka. Ayolah, Shin masih anak-anak. Dia terlalu termakan dongeng.” Hokuto terkekeh, dia mendesis kesal kepada Shintaro. Dasar, hampir saja kelepasan bicara.

“Apa maksudmu menuduh Nogumi, hah?” sahut Kaede, “kau pikir kami selicik itu menyerang tanpa aba-aba?” Kaede akan maju, dia berhenti saat Myuto melangkah kearahnya.

“Ini rumah sakit, Yasui-San,” ucap Myuto, “tidak bisakah kau bersikap baik?”

“Tapi… aku tidak yakin,” ucap Sanada.

Yang lain menoleh, “Ada bekas pukulan juga, dan biasanya pukulan sekuat itu hanya bisa dilakukan oleh Yahagi,” ucap Sanada, dia menghela napas dan menatap lurus kearah pintu ICU yang masih tertutup. “Apa yang terjadi?” gumamnya.

“Mungkin ada dua orang yang menyerangnya,” sahut Shoki, “kudengar ada banyak Yahagi dan Nogumi menyerang kota, kan? Mungkin itu salah satu dari mereka.”

“Apapun pendapat kita, jawaban pastinya hanya ada di Kouchi Senpai,” ucap Shintaro.

Kaede menoleh, dia melihat Sanada terlihat sangat risau. Sanada mungkin masih terlihat tenang, seperti biasanya. Tapi sorot matanya jelas memperlihatkan kalau dia memikirkan sesuatu. Kaede melangkah pelan, dia berdiri di samping pemuda itu. “Kakakku juga sering mengalami stress karena masalah-masalah yang dihadapi Nogumi,” ucap Kaede, “biasanya dia akan bercerita kepadaku atau kepada Jesse-kun untuk melepaskan beban pikirannya,” Kaede menoleh kearah Sanada yang menatapnya, dia bertanya, “Apa kau tidak punya teman yang bisa diajak berbagi?”

Sanada menghela napas, dia beranjak dan melangkah meninggalkan Kaede.

“Ha? Apa-apaan sikap seperti itu?” Kaede bergumam, dia kesal sekali diabaikan oleh Sanada. “Oi! Kau mau kemana?” Kaede berdecak, dia berlari mengikuti Sanada. Kaede mendadak berhenti, dia mengerutkan dahi dan menoleh. “Kenapa aku mengikutinya?” gumam Kaede, dia menghela napas dan akhirnya kembali berjalan mengikuti Sanada. Toh dia juga tidak melakukan apa-apa di ICU.

Kaede terus berjalan mengikuti Sanada, mereka berhenti di halaman samping rumah sakit. Kaede mendekat perlahan, dia kemudian duduk disamping Sanada. Jujur saja Kaede merasa canggung, ini pertama kalinya dia duduk bersebelahan dengan seorang Yahagi.

“Kau benar, kadang kita harus bercerita kepada seseorang untuk melepaskan beban pikiran,” Sanada membuka suara, “tapi aku tidak bisa melakukannya. Bukannya aku tidak punya teman, tapi aku merasa tidak bisa bercerita apapun kepada mereka.”

“Kenapa begitu?” tanya Kaede.

Sanada tersenyum, dia menunduk. “Aku ditunjuk menjadi pemimpin untuk generasi baru Yahagi sehari setelah ulangtahunku yang kesepuluh,” ucap Sanada, “sejak saat itu, aku tahu aku tidak bisa lagi bermain-main.” Sanada menghela napas panjang, dia mendongak menatap langit malam. “Sebagai seorang pemimpin, aku harus memastikan semua orang di kelompokku baik-baik saja,” ucapnya pelan, “bukan membebani mereka dengan masalah-masalahku.”

Kaede terdiam, dia menatap Sanada yang tampak tenang memperhatikan langit malam. Kaede ingat bagaimana Yasui menjadi sangat pendiam saat dia terkena masalah, dan hal yang sama juga diucapkan kakaknya itu. Persis seperti yang diucapkan Sanada barusan. “Tapi akan lebih baik kalau kau bercerita walaupun hanya sedikit,” ucap Kaede, “setidaknya mereka mengerti apa masalahmu dan tidak akan menambah beban pikiranmu.”

Sanada tidak menjawab, Kaede akhirnya diam dan mengamati orang-orang yang berlalu lalang didekatnya. “Aku berpikir siapa otak dibalik semua serangan ini,” suara Sanada mengalihkan perhatian Kaede, “maksudku, apa tujuannya menyerang kota ini? Dan Inoo… aaaah, aku bahkan tidak menyangka dia itu seorang Haguro. Semua ini sangat rumit untukku.”

Kaede mengangguk paham. Ya, semua menjadi sangat rumit. Bahkan Yasui sempat menjadi emosional sejak serangan-serangan ini terjadi. “Kau jangan khawatir,” ucap Kaede, “setelah Kouchi Senpai siuman, kita akan tahu siapa yang memimpin semua serangan ini. Lalu kita habisi mereka.”

“Hah? Kita?” Sanada menatap Kaede.

Kaede diam sejenak, dia buru-buru menambahkan, “Maksudku Nogumi, dan Yahagi kalau mau membantu. K… kalau hanya kau dan aku jelas kita akan kalah.” Kaede menghela napas, dia buru-buru berlari meninggalkan Sanada yang melongo.

“Ya aku tahu maksudnya itu Nogumi dan Yahagi,” gumam Sanada, “maksudnya, sejak kapan kau mau bekerjasama dengan Yahagi?” Sanada menghela napas, dia beranjak dan melangkah kembali ke ICU.

***

Yasui menghela napas, dia menoleh memperhatikan dekorasi ruang tamu rumah Sora. Manis sekali, sederhana dan tidak terlalu banyak hiasan. Ada beberapa pigura terpajang, menampilkan foto keluarga Hideyoshi. Yasui tersenyum melihat foto Sora yang mengenakan seragam SMP, dia tampak manis dengan rambut dikuncir dua.

Yasui menoleh, dia berdiri dan memberi salam kepada Tuan Hideyoshi. “Kau lama menunggu, hm?” tanya pria itu ramah, dia mempersilahkan Yasui duduk, “Maaf memanggilmu kemari pagi-pagi,” ucap Tuan Hideyoshi, “kau tidak sedang sibuk, kan?”

“Sama sekali tidak,” jawab Yasui. Entah kenapa dia menjadi gugup sekarang. Bagaimana kalau Tuan Hideyoshi tahu kalau dia menyukai Sora? Tuan Hideyoshi dikenal sebagai seorang pria yang sangat protektif dengan keluarganya. Bukan tidak mungkin dia akan melarang Sora berhubungan dengan Yasui. Tak berapa lama, Sora muncul bersama Nyonya Hideyoshi. Yasui tersenyum kecil, dia mengagumi Sora yang terlihat semakin cantik.

“Nah,” Tuan Hideyoshi berbicara, “semua sudah ada disini. Jadi aku akan mulai.” Tuan Hideyoshi berdehem sejenak, dia lalu berucap, “Aku hanya ingin memberitahu kalau aku… aku adalah seorang Nogumi.”

Yasui terbatuk kaget, dia melongo menatap Tuan Hideyoshi yang tampak tenang. Sora menatap kaget ayahnya, sementara Nyonya Hideyoshi hanya diam. Sepertinya wanita itu sudah tahu semuanya, toh dia seorang istri. Konyol kalau seorang istri tidak tahu identitas suaminya. “Chotto,” Sora menatap bingung Tuan Hideyoshi, “Ayah, apa maksudmu?”

Tuan Hideyoshi menghela napas, dia menatap Sora dan berkata, “Saat kau masih anak-anak, aku sering menceritakan soal legenda tiga monster itu, kan?” Sora mengangguk perlahan, Tuan Hideyoshi tersenyum dan melanjutkan, “Sebenarnya saat itu aku memperkenalkanmu dengan tiga monster itu. Kau adalah bagian dari Nogumi, penting bagimu mengetahui kisah bangsamu, kan?”

“Tapi kenapa kau tidak memberitahu sejak awal?” tanya Sora.

“Ayahmu ingin kau hidup normal, Sora-chan,” kali ini Nyonya Hideyoshi bersuara, “ayahmu ingin kau menikmati masa remajamu tanpa beban. Lagipula, ini sudah jaman modern. Siapa yang mengira akan ada serangan seperti ini?”

“Kukira dengan membiarkanmu hidup normal, semua akan baik-baik saja,” ucap Tuan Hideyoshi, “tapi saat kau terluka parah waktu itu, aku merasa membuat kesalahan yang besar. Andai saja kau tahu siapa dirimu, kau pasti bisa melindungi dirimu sendiri, kan?”

Sora menunduk, dia tidak mampu berkata apa-apa. Yasui sendiri juga diam, dia bingung menghadapi situasi didepannya. Setengah dari dirinya merasa bodoh karena tidak bisa merasakan aura Nogumi di diri Sora dan Tuan Hideyoshi.

“Lalu sekarang kenapa kau memberitahuku, Ayah?” tanya Sora.

“Tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mau mengulangi kesalahan yang sama, anakku,” ucap Tuan Hideyoshi, “aku tidak mau kau kembali terluka. Kau adalah Nogumi, kau bisa melindungi dirimu sendiri. Dan kau juga bisa melindungi teman-temanmu yang manusia itu, kan?”

“Tapi, Ayah,” ucap Sora, “bagaimana jika mereka tahu aku adalah Nogumi? Mereka pasti akan menjauhiku.”

“Maksudmu Yahagi? Kau tenang saja, mereka tidak akan sebodoh itu melukai perempuan,” ucap Tuan Hideyoshi. Dia menatap Yasui, lalu berkata, “Kau adalah pemimpin Nogumi. Tolong jaga putriku, aku mengandalkanmu,” Tuan Hideyoshi membungkuk, Yasui balas membungkuk dan menatap Sora yang menatapnya kaget.

Wajar, selama ini Sora tidak akan menyangka kalau orang-orang disekitarnya adalah monster. “Siapa saja selain kita berdua yang merupakan seorang Nogumi?” tanya Sora.

“Aku, adikku, Jesse-Kun, Tanaka-Kun, Nagatsuma-Kun, Abe-Kun, dan Kyomoto bersaudara,” jawab Yasui.

“Sanada-Kun?” tanya Sora.

“Oh, dia Yahagi,” jawab Yasui.

Sora menahan napasnya. Yasui tahu, Sora memang cukup dekat dengan Sanada. Hal itu yang membuat Yasui jadi sebal sendiri setiap kali melihat Sanada. Selain karena dia seorang Yahagi, dia dekat dengan Sora.

“Sanada-Kun pasti tidak akan mau dekat denganku lagi,” ucap Sora lesu.

Tuan Hideyoshi terkekeh, dia berkata, “Sanada-Kun tidak akan memusuhimu, kau jangan khawatir. Dia sejak awal sudah tahu kau adalah bagian Nogumi, tapi dia masih berteman denganmu, kan?”

“Ano…” Yasui menginterupsi, “kalau boleh saya bertanya, bagaimana cara Paman mengalahkan Inoo kemarin?”

“Memanahnya, memangnya kau tidak lihat?” tanya Tuan Hideyoshi.

“Oi, kenapa malah membahas Inoo-Kun?” tanya Sora.

“Dia adalah Haguro, dan dia terlibat dalam penyerangan di kota beberapa hari ini,” jawab Tuan Hideyoshi tenang. Yasui yang melihatnya sedikit merasa aneh. Bagaimana bisa Tuan Hideyoshi menceritakan semua ini tanpa beban? Belum satu jam Sora menerima kenyataan dirinya bukan manusia murni, tapi Tuan Hideyoshi bercerita seakan Sora sudah mengetahui identitas aslinya sejak lama. Lama-lama Yasui ngeri sendiri berdekatan dengan Tuan Hideyoshi, “Sora, kau tidak usah memikirkan soal Inoo,” ucap Tuan Hideyoshi, “tugasmu hanya menjaga teman-temanmu. Oh, dan jangan lupa, jaga Haru-chan. Kau tahu anak itu dekat dengan kelompok Nogumi, aku takut dia menjadi korban juga.”

Sora mengangguk. Tuan Hideyoshi menghela napas, dia beranjak meninggalkan ruang tengah diikuti Sang Istri. Sora bertatapan dengan Yasui, mereka terdiam cukup lama sebelum akhirnya tertawa. “Astaga, aku sama sekali tidak menyangka aku adalah monster,” ucap Sora, “dan ternyata semua temanku adalah monster. Mengerikan, ya.”

“Tapi menurutku, kau sama sekali tidak terlihat seperti monster,” ucap Yasui, “kau lebih mirip malaikat.”

“Hah?” Sora menatap Yasui.

Yasui terbelalak, dia buru-buru meninggalkan Sora yang melongo. “Yasui-San,” Sora mengejar, “Yasui-San, tunggu.” Sora menghela napas, dia berhenti dan hanya menatap Yasui dari pagar rumahnya. Sora tersenyum, dia berbalik dan melangkah masuk rumah.

***

“Haru! Haru-chan! Haru-chan, bangun!”

Haru mengerang, dia membuka mata dan menendang Shori. “Haru-chan, bangun,” Shori menarik Haru bangkit dari tidurnya, “kau harus bangun!”

“Ini Hari Minggu, Shori!” Haru menyentakkan tangan Shori, dia baru akan berbaring saat Shori menahannya dan kembali menariknya. “Kau harus bangun!” ucap Shori, “Yanase-san ada disini!”

Haru membuka mata, dia mendorong Shori dan berlari kebawah. Haru berhenti, dia memekik dan langsung menghampiri Kai yang lemas di sofa ruang tengah. “Kai!” Haru menepuk-nepuk pipi Kai, “Kai, bangunlah! Kai!” Haru menatap Shori yang terdiam didekat tangga, dia berteriak, “Lakukan sesuatu, Shori!”

Shori terkejut, dia mengangguk dan berlari menuju dapur. Haru menatap Kai, dia teringat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya. Haru menggigiti kuku jarinya, dia gelisah sekali.

‘Miyazaki-San?’ sebuah suara menyahut.

“Jinguji-kun, Kai adadirumahkusekarangcepatkemariinidarurat!” sahut Haru.

‘Hah? Chotto, kau bicara apa?’ Jinguji bertanya bingung.

“Jinguji-Kun, Kai ada di rumahku sekarang. Cepat kemari, ini darurat,” ucap Haru mengulangi kalimatnya.

‘Apa?! Baiklah aku akan segera kesana!’ Jinguji langsung memutus sambungan telepon, Haru menghela napas dan kembali mencoba membangunkan Kai.

Shori muncul membawa sebaskom air dan kompres, dia membantu mengompres dahi Kai. “Aku baru saja dari swalayan saat melihatnya pingsan didepan pagar rumah,” ucap Shori, “apa menurutmu dia melarikan diri dari Inoo Senpai dan berniat bersembunyi disini?”

“Mana aku tahu,” ucap Haru. Dia menoleh dan langsung berlari mendengar pintu diketuk. Tak lama, Haru kembali bersama Jinguji, Kishi, dan seorang laki-laki lain.

“Yanase-San,” Jinguji langsung mendekati Kai, terlihat jelas kelegaan di wajahnya melihat Kai tidak terluka. Jinguji menatap Haru dan Shori, dia bertanya, “Bagaimana dia bisa ada disini?” tanya Jinguji.

“Aku menemukannya pingsan di depan,” jawab Shori, “haruskah kita membawanya ke rumah sakit?”

“Ide bagus,” sahut Kishi, “kita bawa saja dia ke rumah sakit. Aku akan mencari taksi.” Kishi baru akan melangkah saat laki-laki itu menahannya.

“Bagaimana kalau kita bawa saja dia ke kuil?” dia mengusulkan, “Hagiya-Kun dan Chika-Chan, kan, ahli obat-obatan. Biar mereka saja yang merawat gadis ini.”

Jinguji diam, dia menghela napas dan berkata, “Aku yang akan merawatnya.” Jinguji menatap Haru, dia berkata, “Tolong beritahu orangtua Yanase-san kalau putrinya ada di kuil. Aku akan menjaganya.” Jinguji menatap Kai. “Aku bertanggungjawab atas apa yang terjadi kepadanya,” gumam Jinguji. Dia menggendong Kai, lalu melangkah keluar rumah.

“Kami permisi,” ucap Kishi, dia memberi salam dan berjalan menyusul Jinguji. Laki-laki itu juga berjalan keluar, dia mengerling sekilas kearah Shori.

Shori menatap Haru, dia berkata, “Tunggu sebentar. Aku pergi dulu.” Shori tersenyum, dia lantas berlari keluar, “Nozomu Kotaki,” ucap Shori, “apa yang kau lakukan disini?”

Nozomu menoleh, dia tersenyum menatap Shori. “Aku membujuknya untuk melepaskan gadis itu,” jawabnya, “kenapa? Ada masalah dengan itu?” Nozomu mendekati Shori, dia berkata, “Maaf, tapi aku masih punya hati nurani. Aku tidak tega melihat anak manusia berlama-lama di dunia roh. Makanya aku membujuknya.”

“Apa yang kau janjikan kepada Inoo Senpai?” tanya Shori.

“Aku tidak menjanjikan apa-apa,” ucap Nozomu, dia terkekeh dan menepuk pelan bahu Shori lalu melangkah pergi. Shori diam, dia tahu ada yang disembunyikan laki-laki itu.

Nozomu, Shori benci pemuda itu. “Penjilat,” gumamnya, dia mendengus dan berbalik kembali ke rumah.

Shori berhenti saat melihat Haru berdiri didepannya. “Ada apa?” tanya Shori, “kau membutuhkan sesuatu?”

Haru diam saja, pikirannya kembali terbawa pada mimpinya waktu itu. Kenapa Shori harus muncul di mimpinya dan berwujud monster? Dan kenapa dia seakan menjadi pembunuh orangtuanya? “Ano…” Haru melangkah maju, “maukah kau membantuku? Aku akan pergi ke taman hiburan dengan Morita-Kun akhir pekan nanti, menurutmu pakaian seperti apa yang harus kupakai?”

Eh.

Shori melongo, dia tidak percaya dengan pendengarannya. “Kau… kau akan kencan?” tanyanya. Mendengar itu, Haru langsung berkata, “Bukan kencan. Kami hanya akan pergi ke taman hiburan.”

“Ya itu namanya kencan,” sahut Shori.

“Bukan kencan,” Haru ngotot.

Shori terkekeh, dia mendorong Haru masuk rumah. “Aku akan memilihkan pakaian yang bagus untukmu,” ucapnya, “ah, bagaimana kalau kau memakai baju milik ibumu? Aku ingat dulu ibumu pernah memakai baju yang bagus sekali. Kau masih menyimpannya?”

Haru mengangguk saja. Shori tersenyum, dia perlahan diam menatap Haru yang membongkar isi lemari ibunya. Dia memperhatikan Haru yang terlihat senang. ‘Kita lihat, apa kau masih bisa senang saat kau tahu orang-orang disekitarmu bukan manusia biasa,’ batin Shori.

***

Taiga melangkah pelan, dia berhenti dan menghela napas panjang melihat Daiki duduk di tepian jembatan. “Aku tidak mengerti bagaimana caramu menyembunyikan semua ini dari mereka,” ucap Taiga sambil mendekati Daiki, “astaga, aku bahkan tidak menyangka kau adalah darah campuran. Haguro dan Nogumi, bagaimana bisa orangtuamu bersatu?” Taiga berdecih, Daiki hanya terkekeh mendengarnya.

“Setidaknya, itulah bukti bahwa dunia yang berbeda tidak akan menjadi masalah besar saat cinta datang,” ucap Daiki puitis.

“Tapi aku berani bertaruh mereka tidak tahu soal ini,” ucap Taiga.

Daiki menghela napas, dia tersenyum kecil. “Aku mewarisi kemampuan ibuku, menyembunyikan aura Nogumiku saat bersama Haguro,” ucap Daiki, “tapi semua darah campuran bisa melakukannya. Mereka bisa mengatur aura mereka, dan itulah yang kulakukan.” Daiki menatap Taiga. “Kau tahu, kisah cinta orangtuaku seperti Romeo And Juliet, ditentang karena permusuhan antar keluarga.”

Taiga diam saja. Jelas saja ditentang, mereka berbeda dunia. “Tapi sudah banyak darah campuran di dunia ini, jadi sekarang pernikahan mereka tidak lagi ditentang,” ucap Daiki, “toh aku sudah lahir. Mau diapakan lagi? Memaksa mereka untuk bercerai?”

“Tapi kenapa kau tidak menunjukkan aura Nogumimu kepadaku?” tanya Taiga.

“Aku mengenal betul dirimu, Kyomoto,” ucap Daiki, “kau adalah anak kebanggaan keluarga. Si Anak Idealis yang menjunjung tinggi tradisi Nogumi. Kau bahkan menunjukkan ketidaksukaanmu kepada mereka sejak lama. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksimu kalau kau tahu aku darah campuran sejak dulu.”

“Aku mengira kau adalah manusia,” ucap Taiga lagi.

“Memang itu yang kuharapkan,” ucap Daiki, “kadang aku merasa lebih baik orang menganggap aku manusia biasa. Tapi, menjadi darah campuran tidak terlalu buruk. Kau tahu, aku bisa lebih kuat dari kalian.” Daiki terkekeh, dia mengerling jahil kearah Taiga yang melotot kearahnya. “Jangan terlalu serius,” ucap Daiki lagi, “nah, kau memanggilku hanya untuk protes soal itu?”

“Sebenarnya…” Taiga diam, dia perlahan menggigit bibirnya. Ada gejolak aneh di diri Taiga. Sebagian dirinya menolak untuk bergerak, tapi sebagian dirinya terus memaksanya untuk maju. Daiki diam, dia menunggu Taiga bicara. Taiga menghela napas, dia berkata, “Tidak jadi, deh. Aku harus menjemput Miyuki-chan. Dia bisa kabur bersama Haguro itu kalau aku terlambat menjemputnya.”

Taiga melangkah pergi, Daiki menghela napas panjang dan berujar, “Kau tidak akan bisa semudah itu mendekati Chika-Chan.”

Taiga mendadak berhenti, matanya terbelalak mendengar ucapan Daiki. “Kau tidak akan semudah itu mendekati Chika-chan,” ucap Daiki, “jangan berharap terlalu banyak, Kyomoto. Dunia kalian berbeda.” Daiki melangkah meninggalkan Taiga.

Taiga berbalik dan berkata keras, “Orangtuamu bisa bersatu sekalipun mereka berbeda.”

“Tapi anak idealis sepertimu tidak akan pernah bisa bersatu dengan Chika-chan,” Daiki membalas, dia lalu bergumam, “sebaiknya kau pikirkan saja bagaimana melindungi adik dan kelompokmu. Ada banyak serangan di kota, kau tidak mungkin diam saja, kan?”

Taiga mengerutkan dahi, dia menatap Daiki yang menjauhinya. Kenapa dia malah membahas soal serangan? Taiga mendengus kesal, dia berbalik dan berlari meninggalkan tempat itu.

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s