[Multichapter] Flavor Of Love (#4)

Flavor Of Love

FOL4
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 4)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^


“Selamat datang, Lewis-sama,” Jesse tersenyum setelah menyerahkan jaketnya kepada penyambut tamu dan membenarkan letak dasinya. Ia tidak tau apakah dasi ini cocok, asal saja mengambilnya karena sudah telat.

Malam ini Jesse diundang oleh sebuah hotel ternama untuk ulang tahun mereka yang ke dua puluh. Belum selama hotel milik keluarga Jesse, namun mereka cukup sukses di dunia perhotelan. Jesse memandang keseluruhan tamu, sepertinya orang-orang yang biasa ia temui datang semua, termasuk Ayah dan ibunya.

“Hey, Yah!” Jesse mendekati Ayahnya, yang sedang memandangi penyanyi wanita di atas panggung, sementara ibunya ada di meja sebelah berbicara dengan teman-teman arisannya.

“Jesse! Mana Chise? Aneh melihatmu tanpa Chise,” ungkap Ayahnya sambil terkekeh.

Jesse pun setengah mati ingin tau dimana keberadaan gadis itu sekarang, “Ia tidak bisa datang malam ini,”

“Pantas saja dasimu miring begitu,” kali ini Ibunya yang berbicara, wanita paruh baya itu mengulurkan tangannya dan membenarkan letak dasi Jesse, “Ini juga tidak cocok, kau benar-benar harus ditatar soal fashion,” ucap Ibunya.

Jesse tidak pernah harus memilih bajunya sendiri karena biasanya Chise yang memilihkan, sepatu, jas, bahkan hingga pakaian dalamnya. Suasana pesta malam ini cukup menyenangkan, banyak makanan dan minuman setidaknya untuk memenuhi perutnya dan bagian kosong yang kini memenuhi dirinya. Entah kenapa ia sangat sedih, namun tidak berani menelepon Chise. Ia pasti tidak akan digubris.

“Jesse! Kemari!” itu suara Ayah. Jesse segera mengambil segelas sampanye dan mendekati orang tuanya, “Suzuki-san bilang sudah lama dia tidak bertemu denganmu!” Suzuki Akito adalah pemilik beberapa perusahaan travel, di sebelahnya berdiri seorang gadis yang tersenyum kepadanya, “Rumi-chan juga sudah lama ya tidak di Jepang?” tanya Ayahnya.

Rumi mengangguk, “Iya Paman, aku baru pulang setelah sekolah di Inggris,” jelasnya.

“Anakmu ini sudah besar ya!” Suzuki-san menepuk pelan bahu Jesse.

Jesse hanya mengangguk-angguk sebagai jawaban, mereka berdiri cukup lama untuk membicarakan beberapa hal.

“Mau ikut minum denganku?” tanya Rumi pada Jesse, lalu detik berikutnya Rumi merangkul lengan Jesse, “Boleh ya, Paman?” Rumi bertanya kepada Ayah Jesse.

“Tentu saja!”

Rumi membawa Jesse ke arah bar dengan sedikit menyeretnya, Jesse sedang tidak ada tenaga untuk melawan, lagipula ini kan hanya minum. Ini adalah bagian paling tidak ia senangi jika tidak bersama Chise.

“Mana Chise-chan?” tanya Rumi, dia memang kenal Chise walaupun tidak dekat. Seingatnya Chise sekolah di Amerika saat mereka SMP, dan sejak itu dia tidak pernah bertemu lagi dengan Chise, dia hanya mendengar kalau Jesse akhirnya mendapatkan cinta Chise, itulah juga yang melatar belakangi alasan Rumi melarikan diri ke Inggris.

“Kami hanya sedang sedikit sama-sama sibuk,” jawab Jesse, lalu menoleh pada bartender, “Whiskey,” ia butuh asupan yang lebih kuat daripada sekedar bir atau sampanye.

“Kau tau aku masih belum menyerah soal dirimu,” kata Rumi, meneguk champagnenya lalu tersenyum kepada Jesse, pria itu hanya menatap Rumi dengan pandangan datar.

“Rumi…” Jesse ingat saat Rumi menyatakan cintanya, Jesse tidak bisa menerima Rumi selain karena gadis itu sudah seperti adiknya sendiri, Jesse sudah bertekad untuk menunggu Chise, bahkan menyusulnya selepas SMA tapi malah gadis itu yang kembali ke Jepang.

“Bagaimana kalau kita bersenang-senang saja malam ini?” Rumi menyodorkan segelas whiskey baru dihadapan Jesse, pria itu tidak menjawab, masih larut dengan pikirannya sendiri.

***

Saat Shintaro membuka matanya, ia bisa merasakan kepalanya sakit bukan main. Pasti karena ia minum terlalu banyak kemarin sore, bahkan hingga malam hari. Ia merasakan geliat seseorang di dekapannya, sambil bertanya-tanya mengapa Ruiko bisa ada di sini, barulah ia sadar bahwa yang ada di dekapannya adalah Reina.

“Kau baik-baik saja?” tanya Shintaro, ketika Reina membuka matanya, terlihat malu dan sama pusingnya dengan dirinya.

“Kepalaku sakit,” ucap Reina lirih.

Shintaro kembali merebahkan kepalanya ke belakang, ia ingin beranjak, namun godaan untuk kembali tidur lebih besar. Apalagi Reina membuatnya sangat hangat dan nyaman.

“Biar aku buatkan kopi,” Reina beranjak dari kasur, “Shintaro-kun, terima kasih sudah memelukku semalam.”

Belum sempat Shintaro menjawab, Reina keluar dari kamarnya. Pria itu hanya bisa memandangi pintu sekat yang membatasi kamarnya dan ruang lainnya di apartemen kecil ini, dan ketika Shintaro bermaksud untuk tidur kembali, tiba-tiba terdengar teriakan Reina. Shintaro mengurungkan niatnya dan segera keluar.

“Ada ap…” kalimat Shintaro tertahan, Ruiko berdiri di pintu masuk, “Ruiko-san,”

Reina mematung di tempatnya, sementara Ruiko memandangi keduanya dengan pandangan setengah marah, setengah jijik. Ia menoleh ke arah Shintaro, “Jadi kau berani membawa wanita lain untuk bersenang-senang?”

“Maaf, nyonya, kau salah paham…” Reina tampak gugup, “lebih baik aku pergi!” dengan gerakan terburu-buru Reina mengambil cardigannya yang ia jatuhkan di dekat sofa ketika minum semalam, tasnya dan mengambil jaket serta sepatunya di pintu masuk, lalu keluar dari apartemen milik Shintaro.

Belum pernah ia merasa semalu ini sebelumnya, selama ini dia selalu berhasil menghindar dari istri Yuma dan baru kali ini dia merasa malu apalagi kemungkinan besar tadi itu adalah pacar Shintaro. Tapi, jika itu pacarnya, kenapa terlihat terlalu jauh umurnya dengan Shintaro? Atau itu kakaknya? Reina memakai sepatunya, cardigannya dan jaketnya setelah masuk ke lift.

“Dingin,” keluh Reina ketika ia merasakan angin musim dingin menerpa tubuhnya. Ia lupa mengambil syalnya tadi.

“Nagatsuma-san!”

Reina menoleh dan Shintaro berlari menghampirinya, “Maafkan tadi agak kacau,” katanya, lalu tangannya terulur, ia membawakan syal milik Reina.

“Tidak apa-apa. Kurasa aku lupa bertanya apakah kau sudah punya pacar atau belum,” jawabnya, mengambil syalnya dan melilitkan di lehernya, “tapi terima kasih membawakan syalku. Dingin sekali disini.”

“Nagatsuma-san, mau minum kopi dulu sebelum pulang?”

“Pacarmu bagaimana?”

Shintaro menggeleng, “Aku sudah bilang akan beli makanan dulu di luar,” melihat Reina tidak menolak, Shintaro membelikan kopi di mesin penjual otomatis.

Arigatou,” Reina segera menghangatkan jari-jarinya dengan kaleng kopi yang cukup hangat.

“Apartemen itu milik Ruiko-san,” ujar Shintaro memulai ceritanya, “Kau tidak bodoh Nagatsuma-san, kalaupun jika kau bodoh, maka aku juga bodoh,”

Reina melirik ke arah Shintaro, “Maksudmu?”

“Aku mengerti bagaimana rasanya ingin lepas dari seseorang, namun kau masih punya harapan bahwa orang itu akan berubah, kau yakin walaupun itu hanya sedikit saja bahwa orang itu akan meninggalkan pasangan resminya, memilih kita dan akhirnya hidup bersama dengan kita,” Shintaro menatap Reina. Perlahan Reina menyadarinya, jika begitu, maksud Shintaro adalah mereka memiliki cerita yang mirip?

“Aku juga hanya selingkuhan Ruiko-san.”

“Hah? Maksudmu?” Reina hampir saja tersedak kopi hangatnya ketika melihat Shintaro sama sekali tak bercanda.

“Ruiko-san yang kau lihat tadi adalah pemilik apartemen, sekaligus kekasihku dan istri orang lain,” ucap Shintaro dengan tenangnya. Ia masih menyesap kopinya dengan senyum yang ramah.

Reina tidak yakin harus bereaksi seperti apa kali ini. Ia hanya terus menyesap kopinya sambil melirik sekilas kepada Shintaro, “Sudah lama?” errr, pertanyaan yang sangat awkward baru saja ia lontarkan kepada bawahannya di kantor, yang kebetulan tau masa lalunya yang kelam, yang kebetulan semalam suntuk memeluknya. Fakta terakhir mau tak mau membuatnya malu dan sesaat Reina merasakan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Reina, dia masih muda dan dia selingkuhan orang!! Hardiknya pada diri sendiri.

“Hampir lima tahun, kurasa, dan selama itu pula ia menjanjikan soal meninggalkan suaminya. Bisa kau tebak, itu tidak pernah terjadi, hahaha,” mungkin Shintaro menertawakan dirinya sendiri untuk menelan rasa sakit hatinya, “Baiklah, hati-hati di jalan, Nagatsuma-san!” kata Shintaro sebelum meninggalkan Reina yang hanya bisa menatap punggung Shintaro yang menjauh darinya.

“Ku harap kau tidak ada maksud merebutnya dariku,” kini Reina benar-benar menumpahkan kopinya, untung saja hanya kena ujung roknya dan sudah tidak terlalu panas.

“Kau…?”

“Benar, aku Ruiko, dan Shin-chan adalah milikku,” pagi hari minggu ini benar-benar rusak dengan kedatangan seorang wanita full make up yang datang dengan sepatu hak tinggi dan mantel dengan bulu yang err… berlebihan.

Tanpa mengatakan apa-apa Reina melewati Ruiko namun wanita itu menarik mantel milik Reina, “Berani-beraninya kau?!”

“Kalau begitu ini harus jadi pertandingan yang adil. Aku juga tidak akan melepaskan Shin-chan!” entah darimana kata-kata itu berasal. Padahal Shintaro hanyalah bawahannya.

Wajak ber make up tebal itu terlihat kesal, “Dia tidak akan memilihmu! Aku sudah bersamanya selama lima tahun!”

Kali ini Reina tertawa terbahak-bahak, “Lihat saja nanti?!!”

Reina melangkah dengan percaya diri melewati Ruiko, dengan seribu pertanyaan di benaknya sendiri. Buat apa ia melakukan ini semua? Padahal Shintaro hanyalah anak kemarin sore yang muncul di kantornya dan kebetulan menjadi anak buahnya. Mungkin karena kisah percintaan mereka mirip, Reina tidak bisa tinggal diam melihat Shintaro dipermainkan oleh Ruiko. Ya, pasti karena itu! Reina meyakinkan dirinya sendiri, ini hanya karena simpati bukan karena ia menyukai Shintaro.

***

Saat Chise terbangun, ia mencium wangi yang sangat harum. Apakah ini di rumah? Ayah sedang memasak? Aduh baunya enak sekali membuat perutnya yang keroncongan ikut berbunyi. Setengah tertidur, Chise mengambil mantelnya dan mengikuti wangi keju yang khas, sesaat Chise baru sadar kalau wangi itu keluar dari kamar yang tepat berada di bawahnya.

“Aku lapar,” bisik Chise menatap ke bawah dengan perasaan nelangsa. Terima kasih kepada Hokuto, sehingga Chise belum sempat membeli makanan apapun karena baru sempat memindahkan barang di malam hari. Bahkan Chise harus tidur dikelilingi oleh kardus-kardus tak tertata rapi.

Karena jika dibiarkan terus rasanya perutnya akan segera melakukan konser, Chise kembali ke dalam dan mengambil dompetnya, setidaknya ia bisa beli onigiri di toko 24 jam. Saat Chise melangkah ke bawah, pintu kamar bawah terbuka dan hampir saja membuat Chise melompat karena kaget.

“Aarrgghh!!”

Gomenasai,” pria itu menunduk, “Eh? Nagisawa-saaann?!”

“Kyomoto-san?!!”

.

“Jadi kau sekarang tinggal disini juga?” tanya Taiga.

Chise akhirnya berkesempatan untuk mencicipi makanan wangi yang membuatnya terbangun pagi ini, “Iya, baru semalam pindah. Kita ketemu terus, ya!” ucapnya menunggu Taiga menghidangkan apapun nama makanan itu, “tadi ini apa namanya?”

Gratin Dauphionis,” jawab Taiga, dengan logat Prancis yang sempurna.

“Wanginya enak sekali!! Aku sampai terbangun karena wangi masakanmu!”

“Aku belajar beberapa masakan di Prancis, padahal dulu aku sama sekali tidak bisa memasak, tapi karena tinggal sendirian aku terpaksa belajar masak.”

Mata Chise membulat, “Ah souka! Taiga-san tinggal di Prancis, ya? Berapa lama?” selanjutnya ia menyendokkan makanan itu, dan ia langsung merasakan keju yang meleleh di mulutnya. Alamat dietnya pasti gagal, ia ingin makan lagi dan lagi.

“Dua tahun, untuk belajar arsitektur,” jawab Taiga.

“Ah! Aku pernah ke Prancis! Tiga tahun lalu, eh, empat tahun yang lalu,”

“Oh, ya?”

Chise mengangguk-angguk bersemangat, “Liburan musim dingin kalau tak salah, aku ikut Jesse seminar sih, lalu aku kabur saat dia seminar! Hahahaha,”

“Jesse?”

Seakan sadar ia terlalu banyak bicara, Chise tersenyum dengan canggung, “Gomen, itu… mantan pacarku,”

Taiga mengangguk mengerti, siapa ya pacar Jesse waktu itu? Jangan-jangan Chise? Berapa banyak sih orang berna Jesse di Jepang? Tapi Taiga tidak mau meperpanjang, mungkin hanya perasaannya saja, “Baiklah. Sepertinya ini pembicaraan yang terlalu berat untuk pagi hari,” ucap Taiga sambil ikut menyantap makan paginya, “Kopi atau teh?”

“Aduh, aku jadi merepotkan, Kyomoto-san, tidak perlu,”

“Sekali-sekali tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai hadiah perkenalan tetangga baru,” ucap Taiga.

“Kopi saja kalau begitu, maaf merepotkan,”

“Lagipula kau kan bosku sekarang,” mengingat Chise membayar Taiga sebagai arsitek untuk kafe barunya.

Chise hanya tersenyum mendengarnya, “Ngomong-ngomong, ini krim kejunya enak sekali, mungkin bisa dijual di kafeku nanti!”

Taiga menghampirinya dan menyimpan secangkir kopi di hadapan Chise, “Aku belajar dari temanku di sana, dia sekarang malah sudah ada di Jepang membuka restoran prancis di daerah Shibuya.”

Sesaat keduanya hanya menikmati kopi dan sarapannya, mata Chise kemudian tertumbuk pada sebuah majalah pencarian pekerjaan. Kalau dipikir-pikir ia sedang mencari pekerjaan. Setelah lepas dari Jesse, ia tak mau menyusahkan ayahnya. Mungkin ini saatnya ia bekerja, walaupun hanya paruh waktu hingga kafe nya bisa menghasilkan uang untuknya.

“Kyomoto-san, boleh aku pinjam majalahnya?” Chise menunjuk pada majalah itu.

Taiga mengangguk, “Boleh saja, tapi itu edisi lama loh, aku tak yakin masih ada lowongan tersisa, hahaha.”

“Sayang sekali, aku sedang butuh pekerjaan,” gumam Chise.

“Ah! Full time? Baito?”

“Baito saja, aku masih banyak urusan dengan kafe, kan,” jelas Chise.

“Aku bisa mengenalkanmu pada seorang temanku. Dia yang mengajariku memasak ini,” Taiga menunjuk pada sarapan mereka pagi ini, “kebetulan ia sedang mencari pelayan baru. Bagaimana?”

Chise mengangguk dengan semangat, apapun pekerjaannya kali ini ia harus mandiri, ia akan mencoba mandiri dan tidak akan meminta sepeserpun dari Jesse atau Ayah. Terutama Ayah karena sudah membantunya untuk mendirikan kafe, ia tidak bisa meminta lagi untuk kebutuhannya sehari-hari.

“Baiklah. Aku minta nomormu, nanti aku hubungi lagi.”

“YATTA!! Arigatou Kyomoto-san! Pasti kau adalah dewa penolong yang Tuhan kirimkan untukku!!”

Taiga hanya bisa tertawa mendengarnya. Pagi ini tiba-tiba saja menjadi spesial baginya. Senyuman Chise, kopi, masakan prancis dan pagi hari adalah kombinasi sempurna untuk memulai hari minggunya.

***

Rasanya sudah berhari-hari lamanya Kouchi tidak merasakan tidur nyenyak. Ketika bangun dan melihat jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, ia tiba-tiba merasa sangat senang. Setelah shift berkepanjangan, akhirnya ia bisa tidur dengan nyenyak. Ia mengintip isi kulkas dan baru sadar sudah lama sekali ia tak berbelanja karena kebanyakan ia hidup di Rumah Sakit, makan roti atau makanan siap saji. Ketika ia melihat makanan apa yang bisa ia buat, ia malah menemukan hampir semua bahan makanannya sudah kadaluarsa.

Ia malas beres-beres untuk pergi ke kafe atau sekedar ke kedai ramen. Maka Kouchi memutuskan untuk berangkat memakai piyama nya, well, kalau kaos dan sweat pants bisa dibilang piyama, untuk ke toko 24 jam, membeli makanannya.

Kalau dipikir-pikir hidupnya setelah menjadi dokter adalah menjaga orang lain agar tidak sakit, sementara itu membuat dirinya sendiri sakit. Hidupnya tentang laporan, rumah sakit, pasien, bisa-bisa ia ikutan sakit sebentar lagi.

.

“Ah! Kou-chan!!”

Kouchi yang sedang asyik memilih mie instan mana yang akan dia beli, menoleh, mendapati Seika sedang berbelanja di tempat yang sama.

“Bagaimana kondisi Ayah?” tanya Kouchi sambil masih bingung untuk makan siang ini.

Seika menatap Kouchi, “Beberapa hari lagi akan operasi pengangkatan sebagian paru-parunya.”

Kouchi mengangguk-angguk, sebenarnya dia sudah tau karena kebetulan Kouchi di daulat untuk ikut mengoperasi, “Setelah itu kemoterapi, kan?”

“Tentu saja Kou-chan lebih tau tahapannya!” ucap Seika dengan semangat.

Mitsumiya Seika masih seperti yang dulu. Bersemangat, dengan pipi chubby nya yang selalu ia keluhkan itu bereri-seri ketika tersenyum. Sudah berapa lama ia tak melihat Seika sedekat ini?

“Mana Yukari-chan?” tanya Kouchi karena melihat Seika sendirian tidak bersama Yukari.

Seika tersenyum, “Aku hanya keluar sebentar untuk membeli makanan, jadi Yukari bisa sendirian di rumah.”

“Souka,” Kouchi melihat keranjang belanjaan Seika.

“Kau mau makan di rumahku? Hari ini aku bikin kare!”

.

“Mama, siapa om ini?” Yukari bertanya dan mendekati Kouchi yang duduk di ruang tengah mereka, dan Yukari duduk di sebelah Kouchi, menatapnya dengan seksama.

Seika masih sibuk di dapur dengan kare nya, hanya menjawab singat, “Namanya om Kouchi, sayang, dia teman Mama,”

“Halo Kouchi-jichan! Aku Yukari,” ucapnya mengulurkan tangan mungilnya. Kouchi menyambutnya dan tersenyum dengan tulus.

“Kouchi Yugo desu, yoroshiku ne, Yukari-chan,”

Yukari mengangguk-angguk bersemangat, “Om!! Om!! Lihat aku gambar apa?!” Yukari mengeluarkan buku gambarnya, membuka halaman demi halaman, dan ia berhenti pada satu gambar yang menunjukkan satu anak kecil, satu wanita dewasa, dan ada satu gambar pria yang hanya digambarkan kepalanya saja dengan gambar hati mengelilinginya.

“Gambar apa ini?”

“Ini aku,” katanya menunjuk pada gambar anak kecil, “Ini Mama,” kali ini pada gambar wanita dewasa, “Dan ini Papa, kalau Papa datang, Yukari ingin menunjukkannya pada Papa.”

Kouchi maklum, mungkin karena Papa dan Mamanya sudah bercerai, maka Yukari merindukan sosok Papanya.

“Yukari… sudah jangan mengganggu Om Kouchi, ya,”

“Tidak apa-apa kok,” malah kini Kouchi mengangkat tubuh mungil Yukari dan memangkunya.

“Ayo kita makan siang?!” seru Seika dan Yukari yang bersemangat mengangguk-angguk di pangkuan Kouchi.

Punya anak kecil tidak buruk juga, ucap Kouchi dalam hati.

***

Ketika Chika membuka pintu mansion berwarna abu-abu itu, ia hanya mendapati ruangan yang rapi yang tidak berpenghuni, “Halo? Kou-chan?” ia mencoba memanggil si empunya rumah, namun hasilnya nihil. Ia tidak menemukan siapapun di dalam.

Langkah Chika langsung menuju ke kamar pria itu, namun tidak juga ditemukan sosok itu. Chika menghela napas ketika melihat ponsel pria itu tersimpan manis di atas kasur. Lagi-lagi Kouchi lupa membawa ponselnya. Pantas saja Kouchi tidak mengangkat telepon darinya, Kouchi selalu bilang kalau ia benci harus berurusan dengan ponsel saat liburan. Karena di hari jaga, saat Kouchi ingin jalan-jalan, terkadang ponselnya berdering mengingatkan dirinya untuk segera kembali ke Rumah Sakit. Chika jadi ingat sesuatu, pandangannya beralih ke laci di sebelah tempat tidur Kouchi, dia menariknya, dan benar saja foto Kouchi dan Seika masih ada di sana, belum berpindah sejak beberapa bulan lalu. Selama ini, walaupun Chika secara terang-terangan menyatakan ketertarikan dan cintanya kepada Kouchi, namun pria itu selalu bilang bahwa ia belum mau mempunyai hubungan yang terlalu serius. Chika sebenarnya mengerti, karena Kouchi adalah penerus tunggal dari Kouchi Hospital, sebuah Rumah Sakit swasta di Kanazawa, membuatnya harus belajar lebih ekstra dari yang lain, Kouchi selalu bilang ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya, dan sejurus dengan itu, selama masa kuliah Chika tidak pernah melihat Kouchi berkencan selain dengan Seika, namun setelah wanita itu meninggalkannya, Kouchi praktis hanya lebih sering menghabiskan waktunya di perpustakaan untuk belajar. Tapi Chika mulai curiga, mungkin Kouchi menolak Chika bukan hanya karena alasan klasik ingin membanggakan orang tuanya, tapi juga karena Seika, bahwa pria itu belum sepenuhnya melupakan cinta pertamanya.

“Chika??” terdengar suara pintu terbuka dan langkah Kouchi masuk ke dalam mansion.

Chika segera berlari ke pintu depan, memamerkan deretan giginya yang putih, “Okaeri!!

“Sudah lama?” tanya Kouchi yang membawa beberapa kantong kresek belanjaan dan mulai memasukkan bahan-bahan makanan yang ia beli sepulang dari rumah Seika tadi.

Chika menggeleng, “Baru ko, terima kasih karena kuncimu aku tak perlu menunggu di luar!” ucapnya yang kini duduk di meja makan mungil yang langsung menghadap ke dapur, ia memperhatikan Kouchi yang lalu lalang di depannya. Kouchi sebenarnya tidak memberikan kunci cadangannya kepada Chika, melainkan gadis itu sendiri yang mengambilnya saat tempo hari makan di rumah Kouchi.

“Tumben seorang Kouchi Yugo keluar saat libur. Biasanya kau masih di atas kasur hingga keesokan harinya,” kata Chika yang kini mengambil satu butir coklat yang disodorkan oleh Kouchi beberapa detik sebelumnya.

Kouchi berdehem, “Aku harus. Bahan makananku habis dan aku kelaparan.”

Chika mengangguk-angguk mengerti, “Padahal aku kesini mau mengajakmu makan, aku meneleponmu namun ternyata kau tidak membawa ponselmu, terpaksa aku ke sini untuk memastikan kau masih hidup,” ucapnya dan mengambil satu butir coklat lagi.

Dengan nada santai Kouchi menjawab, “Ya sudah ayo makan. Kau yang masak ya? Lagipula aku tadi makan siang ko, sekarang sudah hampir malam,” kata Kouchi.

“Masak? Makan diluar saja yuuu,”

Kouchi menggeleng, “Tidak! Aku malas keluar lagi nih,” pria itu mengitari meja makan, “Masak sana! Aku mandi dulu! Hehehe,”

“Ihhh kau belum mandi dari pagi? Kau tau berapa banyak kuman yang kau bawa sekarang?!!” seru Chika histeris.

“Tentu saja, dokter Konno!” Kouchi lalu mengejar Chika yang menghindar dari jangkauan Kouchi, pria itu menangkap lengan Chika dan memeluknya dari belakang, “Hahaha kutularkan semua kuman-kuman ini!”

“Kyaaaaa!!!” Chika mendorong Kouchi yang masih terbahak-bahak sambil masuk ke dalam kamar mandi.

Apakah Kouchi tak menyadari bahwa perbuatannya tadi membuat jantungnya hampir copot? Apakah dia tidak tau bahwa semua ini membuatnya berharap lagi? Chika mendesah dan menuju dapur untuk memasakkan sesuatu untuk pria tak sensitif itu. Huft! Kenapa pula Chika masih bisa mencintai Kouchi setelah beberapa tahun ini tanpa jawaban?

***

Untuk kali ini Hikari tidak ingin cepat-cepat pulang. Ia hanya bilang pada suaminya bahwa ia sedang ingin menyendiri, dan inilah sekarang Hikari berjalan di sekitaran Harajuku, tidak jelas apa yang ia cari. Sejak pagi ia melihat nomor Chise menghubunginya, seperti dugaan Hikari, pasti Hokuto sudah menghubungi sahabatnya itu, meminta Chise untuk berbicara dengannya.

Ia tak punya tenaga untuk berbicara pada siapapun. Seharian ini ia menonton dua film sekaligus di bioskop, lalu makan di restoran mahal, belum lagi ia membeli beberapa baju yang sebenarnya belum ia butuhkan. Hikari butuh pelarian. Hikari memutuskan untuk naik bis, ia mungkin butuh sedikit perubahan suasana, sejak tadi ia berada di keramaian namun hatinya sama sekali tidak merasa senang.

Ketika turun, Hikari melangkah ke dalam sebuah bar, mungkin sedikit minuman beralkohol akan membuatnya lebih tenang. Duduk di meja bar, menatap ke arah botol warna-warni di hadapannya, merasa hampa.

“Aku tak menyangka seorang Nagisawa Hikari bisa ada di sini,”

“Jesse?!”

Lewis Jesse, kekasih Chise, ralat mantan kekasih Chise, kini duduk di sebelahnya.

“Ngapain ke sini? Mencari Hoku?” tanya Jesse.

Ah! Hikari lupa ini bar langganan Jesse dan Hokuto, sepertinya Hokuto pernah menceritakannya kepada Hikari. Ia akhirnya menggeleng, “Tidak. Hanya untuk minum,” kata Hikari menjawab pertanyaan Jesse.

“Kau? Minum? Bukankah kau harusnya menjaga kesehatanmu, or something… kata Hoku kalian mencoba punya bayi,” kata Jesse lagi.

“Mungkin sekarang Hokkun tidak mau lagi,”

“Dia tau?”

Ada yang belum Hikari ceritakan pada Hokuto, bahkan pada Chise. Sebenarnya Jesse tau penyakit Hikari jauh sebelum ini. Tapi baik Jesse atau Hikari tidak memberitahu Chise atau Hokuto sekalipun, karena ada satu hal lagi yang tak mungkin diceritakan.

Hikari mengagguk sebagai jawaban atas pertanyaan Jesse.

“Dia akan menerimanya, aku yakin,”

“Tapi dia akan berhenti berusaha untuk punya anak, Jesse, karena itu membahayakanku,” ungkap Hikari, kini ia menyesap minuman beralkohol itu dengan sekali tenggak dan meminta lagi pada si bartender.

Jesse mendesah, “Yah, kedengaran benar-benar seperti Hokuto,”

“Kau sendiri, kenapa terima saja diputuskan oleh Chise?” kini sesi pertanyaan beralih pada Jesse.

“Kau tau? Dia yang cerita?”

Hikari hanya mengangguk.

“Aku belum menyerah, kau tau aku tidak akan menyerah,” suara Jesse begitu yakin, dan Hikari pun setuju. Seorang Jesse bukanlah pria yang mudah menyerah. Karena jika ia menyerah, saat pertama kali ia meminta Chise menjadi kekasihnya dan Chise menolaknya, pasti Jesse sudah menyerah dan mungkin mencari gadis lain.

“Lebih baik kau mengangkat teleponmu,” ucap Jesse, namun ketika pria itu menoleh, Hikari kelihatannya sudah lumayan mabuk dan tertidur.

Jesse menarik ponsel Hikari yang ada di atas meja.

Chise-chan calling

Moshi-moshi, Chise?”

“Hah? Jesse?” ada sedikit perasaan senang karena pertama, Chise masih mengenali suaranya, dan kedua, Chise masih memanggilnya Jesse.

Setelah larut sebentar dengan perasaannya, Jesse akhirnya menjelaskan keadaan Hikari dan akhirnya sepakat untuk membawa Hikari ke mansion milik Chise dulu. Chise bilang ia akan segera ke sana sementara Jesse membawa Hikari.

.

Arigatou, Jesse,” kini Hikari sudah tertidur, sementara Jesse menunggu di sofa ruang TV.

“Tidak masalah, ia terlihat cukup tertekan,”

“Yeah. Ada beberapa masalah sepertinya, dengan Hokuto-kun,” kata Chise.

Jesse menatap Chise. Gadis itu duduk di sebelahnya, dan dengan satu gerakan tangannya saja ia bisa mendekap Chise, namun Jesse hanya mematung, menatap Chise-nya, dengan perasaan campur aduk yang sulit ia jelaskan.

“Kau terlihat baik-baik saja,” ujar Jesse ketika Chise menyimpan segelas air mineral di hadapannya.

Sofa ini masih sama.

Ruangan ini juga.

Hanya situasinya yang berbeda.

Apakah Chise sama sekali tidak mengerti? Jesse tidak akan pernah baik-baik saja tanpa dirinya. Namun, egonya sebagai pria membuatnya hanya mengangkat bahu untuk menjawab pernyataan Chise tadi.

“Kau juga,”

Chise tersenyum, “Yah, aku baik-baik saja,”

Kenapa Chise bisa tersenyum sepertinya tidak ada apa-apa?

“Kalau begitu, aku pulang dulu,”

Chise mengangguk, “Hati-hati di jalan ya,”

Jesse butuh lebih dari sekedar ucapan hati-hati di jalan dari Chise. Ia butuh pelukan Chise, ia butuh senyuman Chise, ia butuh Chise memarahinya setiap ia telat bangun atau lupa makan atau salah pakai dasi.

“Ah ya! Jesse!!”

Secercah harapan timbul di hati Jesse, mungkin saja Chise menyadari kebodohannya dan meminta Jesse untuk kembali bersamanya.

“Bisa tolong beri tahu Hokuto-kun? Sepertinya dia akan sangat cemas istrinya tidak pulang,”

Jesse mengangguk. Dia butuh lebih banyak alkohol sepertinya untuk melupakan malam ini.

***

To Be Continue~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s