[Multichapter] Flavor Of Love (#3)

Flavor Of Love

FOL2
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 3)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Cuaca dingin menusuk hingga ke pori-porinya, namun Nagatsuma-san belum juga muncul dan Shintaro mulai tidak sabaran. Ia mengambil beberapa koin dan berjalan menuju ke mesin penjual otomatis, memilih sebuah teh hangat untuk menunggu Nagatsuma-san datang.

Hingga sepuluh menit kemudian barulah Nagatsuma-san muncul. Shintaro hampir tersedak ketika melihat Nagatsuma-san yang biasa ia lihat dengan setelan kantoran kini terlihat modis dan cantik.

“Sudah menunggu lama?” tanya Nagatsu— biarlah Shintaro ingin memanggilnya Reina sekarang.

Shintaro menggeleng, “Tidak, baru sebentar ko,”

“Baiklah, ayo masuk,”

Ketika memasuki ruangan pameran yang serba putih itu, Shintaro langsung terkesima dengan lukisan-lukisan yang menggantung di hadapannya. Sangat indah, dan menurutnya pasti bernilai seni tinggi. Shintaro sudah lama mengangumi karya milik Sanada Yuma. Namun beliau sempat vakum sekitar tiga tahun lalu, dan baru memulai kembali karyanya di tahun ini.

“Ini indah sekali,” ucap Shintaro ketika mereka memasuki area selanjutnya, sebuah lukisan dengan judul ‘Letting Go’, lukisan wanita yang digambarkan dari figur belakang yang wajahnya hanya terlihat bagian profil pinggirnya saja karena sedang menengok ke kanan.

“Jadi, kau memutuskan untuk datang?” Shintaro menoleh, dan mendapati Sanada-san, mendekati mereka berdua. Shintaro tau karena sudah sering melihat fotonya di majalah.

Reina menatap Sanada-san, “Kau berhasil kembali, Yuma,”

Yuma? Tunggu sebentar. Reina kenal dengan Sanada-san? Shintaro jadi sedikit bingung melihat keduanya seperti teman tapi juga musuh.

Sanada-san tampak tersenyum, ia kemudian berdiri tepat di depan lukisan yang sedang Shintaro lihat, “Ini adalah pemandangan terakhirku saat kau meninggalkan aku, Reina,”

WHAATTT?! Jadi lukisan ini adalah lukisan untuk Reina?! Otak Shintaro semakin bingung dibuatnya. Apa hubungan keduanya?

“Meninggalkanmu? Tidak salah dengar? Sudahlah. Aku tidak mau berdebat, pacarku menunggu, omong-omong, ini Morimoto Shintaro,” Reina berjalan kearahnya, menggamit tangan Shintaro, “Pacarku,”

Belum sempat Sanada-san bereaksi, Reina menarik Shintaro ke ruangan lainnya, menjauh dari ruangan itu. Shintaro bisa merasakan amarah dari Reina ketika mereka berjalan cepat melewati ruangan-ruangan dan bergerak menaiki tangga, entah sudah berapa lantai hingga Reina bergerak ke balkon.

“Ide buruk!! Ide buruukkk!!” ucap Reina yang kini terlihat frustasi.

Shintaro tak mampu memberikan nasehat apapun, ia hanya mematung melihat Reina.

“Kalau kau mau bertanya siapa Sanada Yuma?” BINGO! Memang itu yang sedang dipikirkan Shintaro, “Dia adalah bajingan, tidak berperikemanusiaan, kurang ajar, pria sialaaannn!!” beruntung tidak ada orang lain di situ.

“Aku berkorban banyak untuknya,” ucap Reina penuh amarah, “Aku sempat berhenti kuliah karena aku ingin pergi dengannya, aku membiayainya untuk hobi menggambar, aku… aku… bahkan aku harus bertengkar dengan orang tuaku!! Dan lihat apa yang ia berikan sekarang? Dia berhenti jadi pacarku, dan setahun kemudian dia menikah dengan anak bosnya, hebat kan?”

Shintaro menelan ludah. Reina tampak siap meledak sekarang juga.

“Sudahlah, maafkan aku, ayo kita pergi saja. Kita ke bar langgananku!” Reina menarik lengan Shintaro tanpa menunggu jawaban pria itu.

***

Hari sabtu ini dimanfaatkan oleh Chise untuk memindahkan barang-barangnya ke apartemen barunya. Ya, dia bohong pada Hikari bahwa ia akan pindah ke rumah Ayah. Sebenarnya Chise belum bilang pada Ayah mengenai dirinya yang sudah memutuskan hubungan dengan Jesse. Ia tidak sanggup memberi tau Ayah. Ia pasti kecewa. Karena itu, Chise menyewa sebuah apartemen kecil yang kebetulan berada dekat dengan daerahnya membangun bisnis kafe barunya. Ia meminjam uang Ayah untuk kafe dan sebagian ia gunakan untuk menyewa apartemen ini.

Ayah bertanya kenapa ia meminjam uang padanya? Ayah tau, Jesse tidak akan segan memberikan uang untuk kafe milik putrinya, namun Chise bilang ini akan jadi milik pribadi dan ia tak ingin Jesse ikut campur tangan, beruntung Ayah setuju saja.

Chise memasukkan semua barang-barang pribadinya ke kotak-kotak kardus yang sudah ia persiapkan, buku-bukunya dan bajunya sudah duluan mendarat di apartemennya, sekarang hanya barang-barang pribadinya yang belum sempat terbawa. Ia berkeliling mansion mewah itu sekali lagi. Mansion ini terletak di tengah kota dengan pemandangan yang jika dilihat malam hari sangatlah indah karena kerlap kerlip lampu kota Tokyo. Mansion yang penuh kenangan bersama Jesse.

Mata Chise menatap dapur, dimana ia sering memasak untuk Jesse sementara pria itu duduk di meja makan, memperhatikan setiap gerakan Chise sambil tersenyum. Lalu matanya beralih ke balkon, tempat dimana mereka berdua menghabiskan waktu untuk bercanda atau sekedar berpegangan tangan dan berpelukan menikmati malam. Chise melangkah ke dalam kamar, inilah tempat dimana semua kenangan indah berkumpul menjadi kenangan yang sepertinya mustahil bisa dilupakannya. Air matanya jatuh lagi, ia merindukan Jesse-nya, namun mana bisa ia mundur setelah semua ini dilakukannya?

Ia pun segera keluar, namun menemukan sofa biru dengan corak bunga-bunga kecil, Chise ingat dia harus bertengkar dulu dengan Jesse sebelum akhirnya Jesse memperbolehkan Chise membelinya. Sofa dimana Chise sering memeluk Jesse, dan mendengarkan keluh kesah kekasihnya itu hingga jauh malam. Sofa dimana mereka menonton film yang sama berulang-ulang hingga Jesse lebih sering ketiduran daripada menontonnya.

Chise mengelap matanya yang sudah basah itu. Ia merindukan Jesse hingga rasanya hatinya sakit sekali, tak mudah untuk melupakan pria yang sudah menghabiskan waktu bersama hampir seluruh hidupnya. Jesse yang pada umur delapan tahun melamarnya, dan Jesse yang menciumnya pertama kali saat pemuda itu dengan sengaja mengunjungi Chise di Amerika saat liburan musim panas.

Masih segar dalam ingatan Chise saat itu umurnya 14 tahun, masih SMP. Tiba-tiba Jesse datang ke tempatnya menghabiskan musim panasnya di Amerika, di sebuah peternakan milik sekolah, “Chise-chan senang sekolah di Amerika?”

Chise mengangguk, “Tentu saja! Aku suka disini aku banyak teman,”

“Termasuk teman laki-laki? Chise-chan punya pacar?”

Tentu saja gadis itu langsung menggeleng, sekolah Chise adalah sekolah khusus putri. Mana mungkin dia punya pacar? Walaupun sebagian temannya berkencan dengan murid pria dari sekolah lain, tapi Chise sama sekali belum tertarik.

“Chise-chan,” panggil Jesse lirih, dan saat Chise menoleh, Jesse mendekat hingga sudah sampai ke taraf ‘radius cium’, begitu Ashley, teman Chise di Amerika, menyebutnya.

Secara refleks Chise menutup matanya dan bibir Jesse benar-benar sudah menyentuh bibirnya, menekan lembut pada bibir Chise yang debaran jantungnya saat itu sudah mengalahkan suara mercon tahun baru. Beberapa detik kemudian Jesse melepaskan ciuman amatirnya itu, saat Chise membuka matanya wajah Jesse terlihat merah padam, ia pun sama gugupnya dengan Chise.

“Itu….”

“Aku menyukai Chise, kamu tidak boleh menyukai pria lain ya!” daripada permintaan, perkataan Jesse bisa dibilang perintah.

Tahun-tahun selanjutnya di Amerika, Chise mendapati dirinya tidak bisa tertarik kepada pria lain. Maka saat ia ditawari untuk melanjutkan kuliah di Amerika atau negara lain, ia menolak dan memilih pulang untuk memulai hubungannya dengan Jesse secara benar. Bukan hubungan jarak jauh dan mengandalkan e-mail atau telepon sebagai perantara.

Chise melangkah ke dapur, membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan untuk memasak omurice, “Last meal here,” ucapnya lirih.

***

Juri memandangi tubuh Rumi yang bergelung di sampingnya, Juri ingat pertama kali dia memutuskan berpacaran dengan Rumi adalah ketika sore itu Rumi bercerita kalau Jesse ‘menolak’nya secara halus. Juri baru saja keluar dari ruang ganti ketika melihat Rumi menangis di sebuah ruangan kelas.

“Suzuki-san?” Juri menghampiri Rumi, matanya bengkak, pandangannya kosong.

“Juri-kun, jadi pacarku mau tidak?”

Baru kali itu dirinya di ‘tembak’ secara langsung oleh seorang gadis, padahal Juri tau persis Rumi menyukai Jesse. Well, siapa sih yang tidak suka pada Jesse? Blasteran, pewaris Lewis Corp.? Tapi lebih dari itu Juri tau pasti kalau Rumi dan Jesse sudah bersama sejak kecil dan Rumi terang-terangan menampakkan pada dunia bahwa dirinya menyukai Jesse.

Juri saat itu terdiam, dan detik berikutnya Rumi menciumnya, dan sejak saat itu Juri mendadak terkenal karena bisa menggaet Suzuki Rumi, gadis paling cantik dan paling kaya di sekolahnya. Gadis yang dipercaya hanya bisa ditaklukan oleh pria sekelas Jesse, memilih Juri sebagai pacarnya apalagi Rumi tidak menutupi bahwa dirinya lah yang meminta Juri jadi pacarnya. Dalam perjalanannya Rumi mengaku dirinya ditolak oleh Jesse dan begitulah hubungan mereka berlangsung hingga Rumi memutuskan untuk bersekolah di luar negri.

Juri membenarkan letak selimut Rumi lalu beranjak untuk mengambil sekotak susu dari lemari pendingin, kebiasaannya minum susu itu langsung dari kotaknya.

“Jorok ih!” terdengar seruan dari belakang kepalanya, menghasilkan kekagetan dan susu vanilla itu pun tumpah di sekujur tubuhnya.

“Duh Rumi!! Lihat nih jadi berantakan!” dan gadis itu hanya terkekeh, mengambil susu itu dan ikut minum langsung dari kotaknya. Merasa tidak nyaman dengan pakaian yang basah, Juri membuka kaosnya, berjalan ke pantry untuk menukar kaosnya yang basah.

“Hari ini ke Rumah Sakit tidak?” tanya Rumi dari jauh, sepertinya gadis itu sudah menemukan makanan paginya, sekotak brownies yang Juri beli semalam dan belum tersentuh sama sekali olehnya.

“Kayaknya sih,” Juri menatap jam dinding, ini akhir minggu dan sebenarnya dia dapat libur hari ini, tapi termasuk on call duty, jadi saat genting dia bisa saja di telepon untuk segera ke Rumah Sakit.

“Tidak mau temani aku jalan saja?” tanya Rumi, mulutnya belepotan selai coklat, Juri menghampiri Rumi, mengelap sudut bibir gadis itu, “antar ke hotel juga ambil barang-barangku!!”

“Memangnya Rumi-chan mau tinggal di mana? Kembali ke rumah?” tanya Juri.

Rumi terlihat berpikir, “Gak ah! Aku tinggal di sini saja dengan Juri-kun!”

“Ngaco!!” seru Juri cepat.

Mata Rumi membulat, “Ah! Ternyata Juri-kun sudah ada gadis yang disukai ya? Sampai bisa menolakku loh!” kata Rumi lalu terkekeh melihat ekspresi wajah Juri yang terlihat salah tingkah, “Kenalkan padaku dong!!”

Dengan tegas Juri menggeleng, “Nanti kau cerita yang aneh-aneh lagi! Sudah sana mandi ayo aku antar ke hotel!” Juri mendengar Rumi mengomel, “Ngomong-ngomong, kenapa kau pulang?”

“Aku dengar Jesse dan Chise sudah putus,” ucapnya enteng, “tak peduli sedikit apapun celahnya, aku akan mencoba merebut kembali Jesse!”

***

“Kau yakin mau pindah?” tanya Ibunya yang kini ikut sibuk memasukkan beberapa keperluan Taiga ke dalam sebuah kardus.

“Sudah kubilang, rumah ini terlalu jauh dari kantorku, bu,” ucap Taiga lalu melipat beberapa baju, “Lagipula aku sudah seharusnya keluar dari rumah ini, aku sudah dua puluh lima,”

“Kau ada di Prancis selama dua tahun, makanya ibu senang sekali kau tinggal disini setelah pulang,” ucap Ibunya masih tak rela anak semata wayangnya itu harus pindah lagi dari rumah.

Taiga  terkekeh, “Aku akan pulang sesering mungkin, oke?”

“Sudah semua?” tanya Ibu mengalihkan pembicaraan, melihat kamar Taiga-nya kini semakin terlihat kosong.

Taiga mengangguk dan mengambil solatip untuk merekatkan semua kardus-kardusnya.

“Kau yakin tidak usah diantar oleh Ayah atau Ibu?” tanya Ibunya.

Taiga menggeleng, “Masuk ke mobilku, ko bu,” ia pun mulai mengangkat kardus-kardusnya dibantu Ibu.

“Sering-sering pulang ya!!” seru Ibu sebelum Taiga membawa mobilnya keluar dari parkiran rumah menuju apartemennya yang baru.

Apartemen ini hanyalah sebuah bangunan sederhana yang terdiri dari tiga tingkat dan berisikan dua belas apartemen kecil yang kamarnya hanya terdiri dari satu ruangan depan, satu kamar, satu dapur dan satu kamar mandi.

Apartemen milik Taiga terdapat di lantai satu, kamar nomor empat. Bukan ia tak sanggup menyewa apartemen yang lebih luas, namun untuk saat ini memang ia hanya butuh tempat untuk tidur dan mengerjakan rancangannya, lagipula hampir seluruh waktunya ia habiskan di studio kantornya belakangan ini. Selain itu ia juga ingin menyimpan uang lebih banyak.

Ia memarkir mobilnya dan mengeluarkan kardus-kardus yang berisikan barang-barangnya. Sekali jalan ia membawa dua kardus. Cukup berat, sepertinya ia membawa kardus buku-buku arsitekturnya.

“Penghuni baru ya?” tanya seseorang, Taiga menoleh dan melihat seorang wanita hendak masuk ke dalam apartemen di sebelahnya dengan seorang gadis kecil di sebelahnya.

“Aku Mitsumiya Seika, dan kau?”

“Kyomoto Taiga, mohon bantuannya, putrimu?” tanya Taiga kepada Seika.

Seika mengangguk, “Ayo perkenalkan dirimu,” ucapnya kepada gadis kecil itu.

“Yukari desu!!” kata gadis itu.

Taiga menunduk sekilas, “Halo Yukari-chan!”

“Butuh bantuan?” Seika melihat Taiga mencoba membuka kunci pintu dengan tangannya sambil mengangkat dua buah kardus besar.

“Kalau tidak merepotkan, Mitsumiya-san,” kata Taiga, Seika pun langsung mengambil kunci di tangan Taiga dan membukakan pintu untuk pria itu, “Arigatou gozaimasu, Mitsumiya-san.”

Seika segera menunduk dan masuk ke apartemennya sendiri. Taiga memasukkan sisa kardusnya ke dalam kamar sebelum membereskan semuanya. Karena tidak banyak juga barang yang ia bawa, hanya satu jam waktu yang ia butuhkan untuk membuat ruangan ini akhirnya layak huni.

“Yosh! Ayo kita beli makan!” Taiga mengambil jaketnya dan keluar dari apartemennya, saatnya ia membeli bahan makanannya sendiri, seperti di Paris dulu.

***

“Kenapa tiba-tiba memintaku kesini?” Chise heran ketika nomor Hokuto muncul di ponselnya sore ini. Padahal ia baru saja selesai memasak, baru makan beberapa sendok saja di mansion, namun Hokuto memaksanya untuk bertemu.

“Duduk,” wajah Hokuto masam, ia terlihat serius, benar-benar bukan Hokuto yang biasanya.

Chise menurut, ia duduk di meja bar itu, Hokuto tampaknya minum di siang bolong yang artinya ini pasti masalah besar, bukan masalah biasa-biasa. Chise memesan teh saja, ia sedang tidak ingin mabuk.

“Kenapa tidak memberitahuku?”

Terus terang saja, Chise tidak mengerti arah pembicaraan ini. Memangnya apa yang ia sembunyikan? Kenyataan bahwa ia dan Jesse putus? Tapi kenapa Hokuto harus marah?

“Maksudmu…”

“Hikari pernah kena leukimia,”

Oh! Sial kuadrat. Pasti karena kemarin mereka ke dokter, tentu saja ini masalah Hikari. Siapa lagi yang bisa membuat seorang Hokuto hancur begini selain istrinya sendiri?

Chise mendesah, bingung harus memulai dari mana, “Itu waktu dia umur sembilan tahun, Hoku, dan dia sudah dapat transplantasi sumsum tulang belakang, ia sudah melewati lima tahun tanpa gangguan apapun, maka bisa dibilang ia sudah sembuh,”

“Aku suaminya, aku suaminya, Chise! Apakah itu bukan hal penting untuk diceritakan padaku?!” Hokuto sudah mulai naik pitam, dan tiba-tiba saja Chise berharap bahwa ada Jesse disini yang bisa mengendalikan Hokuto.

“Hikari yang tidak ingin ini semua diceritakan pada siapapun, bukan hanya kamu, Jesse pun tidak pernah aku ceritakan soal ini,” jelas Chise, membuat Hokuto terdiam.

“Tapi, aku….”

“Kenyataan bahwa presentase kemungkinan dia hamil sangat kecil, kan?”

Hokuto mengangguk. Karena proses kemoterapi yang dijalani oleh Hikari, dan obat-obatan yang harus diminumnya setiap hari, membuat hormon Hikari terganggu dan karena itulah kemungkinannya untuk hamil sangat kecil. Tentu saja tidak mustahil, tapi itu presentasenya sangat kecil.

“Hikari bilang apa?” tanya Chise.

Sore itu, sepulang dari dokter Hokuto langsung mengkonfirmasi apa yang dikatakan oleh dokter. Ia tidak tau bahwa Hikari mengidap penyakit separah itu semasa kecilnya. Hikari memang kurus dan lemah, ia sering mengeluh cepat capek, dan Hokuto pikir itu biasa saja untuk ukuran perempuan. Beberapa kali sempat Hokuto meminta istrinya itu untuk berobat, namun Hikari bilang ia sudah diberi vitamin oleh dokter pribadinya. Tentu saja itu bukan vitamin, melainkan obat-obatan yang harus diminumnya untuk mencegah kanker darah itu kembali muncul.

Gomen,” Hikari bercucuran air mata, “Inilah kenapa aku mengajakmu ke dokter, Hokkun, aku tak mampu mengatakannya sendiri kepadamu.”

Hokuto masih bungkam, ia bahkan tidak mampu untuk sekedar menenangkan Hikari karena dirinya masih terlalu shock.

“Kenapa tidak memberi tahuku?”

Masih dengan suara parau, Hikari menjelaskan, “Karena aku sudah sembuh, Hokkun, sumsum donorku bekerja dengan baik, mungkin karena ini punya Taku, dan aku dinyatakan sembuh saat aku berumur empat belas! Belum ada tanda-tanda kondisiku akan berubah parah, aku beberapa kali ingin memberitahumu, namun… buat apa? Kejadiannya sudah lewat, itu adalah pengalaman buruk untukku dan keluargaku,” Hikari semakin terisak-isak, “Menjalani kemoterapi berbulan-bulan, keluar masuk rumah sakit bukanlah pengalaman menarik yang bisa diceritakan!”

“Kau tahu kalau hamil bisa berakibat buruk pada dirimu? Bisa mengaktifkan sel kankermu? Bisa…”

“Aku tau! Aku tau semuanya!! Aku pun sudah mencari tau semuanya!!” Hikari semakin terdengar histeris, “Tapi aku mau hamil!! Aku ingin merasakan hal yang sama seperti wanita lainnya!! Aku ingin punya anak denganmu!! Aku ingin membuat Ibumu bahagia, Ibu menanyakannya setiap hari setelah kita menikah setahun, aku bisa apa?!!” kini Hikari menutup mukanya sambil terisak-isak hebat, segala perasaannya bercampur aduk jadi satu.

Hokuto mendekati istrinya itu, menariknya, mengundang Hikari ke dalam pelukannya, “Maafkan aku, maafkan aku,” pria itu tak punya kata-kata lain yang bisa dia utarakan selain permintaan maaf.

“Aku ingin punya anak, Hokkun!!” serunya sambil masih menutupi mukanya.

“Aku mengerti Hikari…”

Tidak, ia tidak mengerti. Jika harus mengorbankan nyawa Hikari, ia tidak sanggup membayangkannya. Sebesar apapun keinginan Hikari, jika itu berbahaya maka Hokuto akan lebih senang dibenci oleh Hikari daripada harus mengorbankan nyawa wanita yang paling ia cintai itu.

“Hikari masih ingin punya anak, dan itu berarti lebih banyak obat yang ia minum,” ucap Hokuto akhirnya menjawab pertanyaan Chise.

Chise mengangguk mengerti, “Aku akan coba bicara dengannya,”

Arigatou, Chise.”

***

Okaeri,” saat mengatakannya Shintaro merasa aneh, ia jarang sekali mengatakan okaeri saat pulang dan masuk ke rumahnya, namun karena ada Reina di dalam, ia merasa harus mengatakannya.

“Tadaima Shin-chan!!” seru Reina dari dalam.

Shintaro meletakkan belanjaan yang diminta oleh Reina. Tiga bungkus keripik kentang, berkaleng-kaleng soda dan bir. Setelah marah-marah sepanjang jalan, Reina meminta pulang ke apartemen Shintaro. Lalu sebelum mereka masuk, Reina meminta Shintaro untuk berbelanja. Benar-benar situasi yang aneh.

Arigatouuu!!” Reina membuka satu bungkus keripik kentang dan duduk di sofa, memindahkan channel TV seperti berada di rumahnya sendiri.

Shintaro tau, ini cara Reina menyembunyikan rasa sedihnya. Walaupun Shintaro belum mendengar semuanya, setidaknya ia bisa menyimpulkan bahwa ada masa lalu yang tidak baik antara Reina dan Sanada-san.

“Kau tidak akan bertanya?” Reina menggeser bungkus keripiknya pada Shintaro, namun pemuda itu tidak bereaksi.

“Sanada Yuma adalah teman satu SMA ku, kami berpacaran sejak kelas dua, setelah kuliah Yuma memutuskan untuk serius dengan dunia seni, dan aku pun membantunya. Ia berhenti kuliah, mencari pekerjaan apa saja yang bisa membelikannya alat gambar, aku pun mulai membantunya, aku bahkan sempat cuti kuliah karena memutuskan untuk bekerja penuh waktu demi alat-alat gambarnya yang tidak murah,” Reina membuka satu kaleng bir dan meminum setengahnya dalam sekali tenggak, “Aku ingat, pertama kali Yuma menang kontes, aku senang sekali. Yuma pun menyuruhku untuk melanjutkan kuliahku, kami mulai bermimpi bahwa Yuma dan Reina dapat hidup bersama dengan bahagia hanya dengan modal menggambar saja,” Reina tertawa, “Lalu sebulan kemudian, Yuma bilang…. ia harus menikahi anak calon bosnya demi membuat sebuah pameran tunggal.”

Shintaro melihat mata Reina mulai basah, maka ia mengambilkan sekotak tisu, “dan lebih bodohnya, aku membiarkannya, dan untuk beberapa tahun aku menjadi selingkuhannya,”

“Eh?”

“Hahaha, iya, dia akan menemuiku beberapa kali seminggu, tidur denganku, lalu pulang ke istrinya setelah itu, bodoh kan? Aku begitu mencintainya dan menunggu Yuma meninggalkan istrinya, pada akhirnya aku tidak tahan lagi dan memutuskan meninggalkannya,” Reina menarik nafas panjang, “Ia tak akan bisa melepaskan kehidupannya yang sudah nyaman itu, keliling dunia, menggambar tanpa perlu khawatir dengan biaya. Pada akhirnya, akulah yang bodoh bisa terus mempercayainya, beberapa kali aku tergoda untuk kembali bersamanya, dia itu cinta pertamaku, dulunya adalah sahabat dekatku.”

Shintaro tak yakin harus melakukan apa, maka ia membuka kaleng bir juga, meminum isinya dengan cepat. Jika Reina mendengar ceritanya, mungkin dia juga akan bilang kalau Shintaro adalah orang bodoh.

Souka.”

“Kau sudah dengar semuanya, begitulah cerita wanita bodoh dengan kekasihnya,” lalu Reina tertawa terbahak-bahak seperti mencari cara untuk menghentikan air matanya.

“HAAAIII!! Bahasan beratnya sudahi dulu!! Ayo kita minuuummm!!” Reina mengangkat gelasnya, “Cheerrsss!!”

Keduanya minum banyak sekali. Shintaro sudah lupa ia membuka kaleng ke berapa, dan ketika mereka sadar, hanya sisa dua kaleng.

“Sudah habis? Huhuhu,”

“Lebih baik berhenti, Nagatsuma-san,” tentu saja Reina minum lebih banyak. Karena sekarang wanita itu terlihat sangat mabuk.

“Mou… Shin-chan, jangan panggil aku Nagatsuma-san, Nagatsuma-san, tidak enak di dengar!! Panggil aku Reina! Reina!!” katanya sambil menepuk nepuk bahu Shintaro, yang dijawab dengan anggukan kecil oleh Shintaro, “Aku ngantuukkk…” Reina memejamkan matanya dan bersandar pada bahu Shintaro yang duduk di sebelahnya.

“Nagatsuma-san, kau mau aku antar pulang?”

Reina menggeleng, “Tidak mau pulaaannggg!! Aku tidak mau pulaaanngg!!”

Shintaro membiarkan Reina bersandar, ketika perlahan tubuh Reina hampir jatuh, sepertinya Reina benar-benar tertidur. Shintaro mengangkat tubuh Reina, yang mungil, ia tak percaya wanita ini empat tahun lebih tua darinya. Sama sekali tak terlihat tua, Shintaro merebahkan tubuh Reina di atas kasurnya.

“Tidurlah,” Shintaro meninggalkan Reina untuk membersihkan sofa dan meja dari kaleng-kaleng bir yang sudah mereka minum seharian ini. Shintaro melihat ke arah jam di atas televisinya, jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.

Gerakan Shintaro tertahan ketika mendengar suara tangis dari dalam kamarnya. Ia segera memeriksa apakah Reina baik-baik saja, dan melihat wanita itu bersimbah air mata.

“Nagatsuma-san, kau baik-baik saja?”

“Shin-chan… kau bisa memelukku?” Reina terlihat sangat sedih, Shintaro tidak mampu menolaknya. Ia pun naik ke ranjang dan menarik tubuh Reina ke dalam pelukannya.

“Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Shintaro.

Reina tidak menjawab dan hanya terus memeluk Shintaro dengan erat.

***

Langkah Chika terhenti ketika melihat Seika yang ada di tempat main anak-anak. Wanita itu sepertinya sedang menunggui anaknya bermain di dalam. Tatapan mereka beradu, Seika menyunggingkan senyumnya, disambut oleh senyuman balasan oleh Chika. Sepertinya Chika pernah melihat Seika, tapi tak yakin dimana. Bukan baru-baru saja ketika bersinggungan soal Ayahnya Seika, tapi jauh sebelum Seika ke sini, Chika mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan wanita ini.

Konbanwa Konno-sensei,” sapa Seika.

Chika mendekati Seika, “Konbanwa, Yukari-chan sedang di dalam?” Seika mengangguk sebagai jawaban.

“Biasalah, belum mau pulang, padahal sudah malam,” kata Seika.

Mereka pun mengobrol hal-hal remeh seperti apakah Chika jaga malam, dan sebagainya. Chika menilai wanita yang kini sedang bercerita bahwa dia jauh-jauh dari Sendai itu adalah wanita yang cukup menyenangkan.

“Jaga malam itu bikin ngantuk tidak sih, sensei?” tanya Seika.

Chika terkekeh, “Tentu saja, besok pagi aku pasti terlihat seperti zombie, hahaha,” Seika ikut tertawa setelahnya, “Aku… sepertinya pernah bertemu dengan Mitsumiya-san, tapi dimana ya?” daripada penasaran, Chika lebih baik bertanya walaupun belum tentu Seika juga ingat dengannya.

“Mungkin di kampus, kalau Konno-sensei satu kampus dengan Kouchi-sensei!” jelas Seika.

“Kampus? Eh? Mitsumiya-san satu kampus dengan Kou-chan.. maksudku Kouchi-sensei?!” loh? Sebentar? Jadi mereka saling kenal???

Chika, Kouchi dan Juri memang baru dekat setelah melakukan tugas di tahun kedua kuliah, sementara sebelumnya Chika hanya sering melihatnya lalu lalang di sekitaran kampus atau di kelas, bersama dengan Juri. Sementara dirinya mahasiswi yang cukup sibuk dengan kuliah dan kerjanya, Kouchi terkenal karena kepintarannya, sehingga jarang sekali dia berinteraksi dengan Kouchi hanya sekedar ­menyapa sesekali jika berpapasan.

Seika mengangguk, “Tapi aku tidak melanjutkan kuliahku karena Ayah ku sakit dan terpaksa pulang ke Sendai,” tambahnya.

Ah! Pantas saja wajah Seika tidak asing, ternyata mereka pasti pernah bertemu di kampus, berarti tidak satu jurusan dengannya tapi sempat beberapa kali melihatnya.

Are?! Di sini kau rupanya!” baik Seika dan Chika segera menoleh, ternyata Kouchi yang menghampiri mereka, “Ponselmu!! Kemana ponselmu?!” seru Kouchi gemas.

Chika mencari ponsel internalnya dan tidak menemukan di saku baju dinasnya, “Ah!! Ketinggalan di jas! Duh! Maafkan aku!!”

“Aduh Chika baka! Ya sudah ayo ikut cepat!!”

Gomen Mitsumiya-san, aku harus pergi!” Chika dan Kouchi beranjak dari tempat itu.

Gomen ­Seika, aku pergi dulu!! Nanti kita ngobrol lagi!!”

Seika tersenyum, “Ganbatte ne sensei-tachi!!” serunya bersamaan dengan langkah Chika dan Kouchi yang semakin cepat menjauh.

SEIKA? SEIKA?! Chika masih mencoba mengingat ketika ia tersadar dimana pernah melihat Seika. Bukan di kampus, tapi di apartemen Kouchi. Beberapa bulan lalu ketika Chika membantu Kouchi pindahan, Chika menemukan foto itu masih ada dan tersimpan dengan pigura yang sudah berdebu, tapi ketika Chika menanyakannya Kouchi hanya jawab, “Itu Seika,” begitulah walaupun tidak dipajang, foto Seika dengan Kouchi tidak boleh dibuang oleh si empunya.

Itu Seika. Cinta pertama Kouchi.

***

To Be Continue~

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Flavor Of Love (#3)

  1. hanazuki00

    Cinta pertama itu… menyakitkan yaaa :”)

    Shintaro selalu jadi bronyu deh yaa dari tante-tante sampe senior beda 4 tahun. Udah sama Reina ajaa… tuh udah minta dipeluk, abis ini minta diapain?
    Kasian banget kamu nak selalu jadi orang penghilang kesedihan tante-tante. :””

    HIKARI LEUKIMIAA…. AAAAAAAAAAAAAAAAA NANGIS BAGIAN INI NANGIIIIS :”(
    HOKUTO YANG TABAH YA KAMU NAAAK… KALIAN PASTI BISA PUNYA ANAK KOOOK… itu Hikari udah nyiapin nama anaknya, jadi tolong dukung Hikari sekuat tenagamu :”( :”( 😦

    btw, mih kenapa perasaan nama charamu dari kemaren hampir sama mlulu sih, Reika, Chika,Seiya kalo nggak fokus bisa ketuker hahaha sama kayak Airin Ayaka Aika >// GANBARUMI!!! Biarkan Juri bahagia dengan yang lain. Rebut Jesse palingkan hatinya *wooy

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s