[Multichapter] MONSTER (#6)

MONSTER

MONSTER11

Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 6)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

“Aku harus membawanya. Tidak ada pilihan lain.”

“Kau tidak akan membawanya kemana-mana.”

“Lalu kau akan membiarkannya menjalani hidup seperti ini?”

“Itu lebih baik daripada harus mengubahnya menjadi seperti bayanganmu.”

“Aku tidak suka berdebat, Bung.”

Haru membuka mata, dia terbangun dan menatap kesal ke arah pintu. Siapa, sih, yang tanpa ijin bertengkar di rumahnya? Seenaknya sekali, memangnya ini tempat umum? Haru beranjak, dengan mata memicing kesal dia melangkah keluar kamar menuju lantai bawah. Hari sudah malam, sepertinya Haru tidur seharian tadi. Haru menuruni tangga, dia menoleh dan mengerutkan dahi melihat tidak ada orang disana. Haru melangkah, dia berhenti dan menoleh kearah ruang tamu. Mata Haru terbelalak melihat ruang tengah sudah penuh darah, menggenang dan terciprat ke segala arah. Dua tubuh tergeletak tak berdaya di lantai, tubuh mereka terkoyak mengerikan.

“Papa!” Haru menjerit, dia ingin sekali berlari namun kakinya seakan membeku. Dia tidak tahan, dadanya terasa perih melihat pemandangan mengerikan ini didepannya. Haru menoleh, dia melihat ibunya merintih pelan. “Mama,” Haru memanggil, “Mama!” Haru menjerit histeris, dia memejamkan mata rapat-rapat. Kenapa dia harus melihat semua ini lagi? Susah payah Haru berusaha melupakan semuanya, tapi kenapa muncul lagi?”

“Aku menemukanmu.”

Haru membuka mata, dia menoleh dan terkejut melihat sosok didepannya. Sosok itu terlihat mengerikan, dengan mata memerah dan cakar yang tajam di kedua tangannya seakan siap menghancurkan tubuh Haru sekali cakar. Haru tercekat, dia bahkan tidak bisa menggerakkan jari tangannya sedikitpun. Sosok itu sangat dikenalnya, Haru bahkan tidak mengerti kenapa dia muncul dengan wujud mengerikan seperti itu. “Aku menemukanmu,” desisnya, dia menyeringai dan berlari menerjang Haru.

“Haru-Chan!”

Haru menjerit, dia tersentak dan seketika terbangun dengan napas memburu. Haru menoleh, dia menghela napas lega menyadari itu hanya mimpi. “Haru-chan, kau baik-baik saja?” Haru menoleh, dia menatap Myuto yang duduk didekatnya dengan wajah panik.

“Aku… aku mimpi buruk,” ucap Haru, dia masih berusaha mengatur napasnya. Myuto memberikan botol minum, Haru langsung menegaknya hingga dia tersedak.

“Pelan-pelan,” ucap Myuto, dia memijit pelan tengkuk Haru. Haru menghela napas panjang, dia bersandar di dinding. Dia memijit keningnya yang berdenyut, berusaha keras melupakan mimpi buruknya itu.

Haru menoleh, dia menatap Myuto dan bertanya, “Morita-Kun, apa yang kau lakukan disini?”

“Ano… Matsumura-kun memintaku menengokmu,” ucap Myuto, “dia sedang mencari Yanase-San bersama yang lain, jadi dia tidak sempat kemari,” Myuto menghela napas, dia meneruskan, “Gomen ne, Miyazaki-san. Aku tidak bisa menepati janjiku. Kau memintaku menjaga Yanase-San, tapi aku tidak melakukannya.”

“Kau tidak salah, Morita-kun,” ucap Haru pelan, “aku seharusnya memberitahumu jam keberangkatan Kai.”

Keduanya terdiam, tenggelam dalam kesunyian dan pikiran masing-masing. “Morita-kun,” panggil Haru pelan. Myuto menoleh, dia menatap Haru yang mendongak menatap atap kamarnya. “Apa aku sudah berterimakasih kepadamu karena sudah menolongku?” tanya Haru.

Myuto terbatuk pelan, dia lalu berkata, “Kenapa kau berterimakasih? Itu sudah kewajibanku mengamankanmu, kan?”

“Kewajiban?” Haru menatap Myuto, “maksudnya?”

Myuto diam, Haru menangkap gelagat aneh dari pemuda itu. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu. “Ano… ah, aku membawakanmu makanan,” ucap Myuto, dia menunjukkan kotak makan yang dibawanya, “ada sup ayam dan cumi goreng tepung. Aku membuatnya sendiri, lho. Kau harus mencobanya.”

Haru diam, dia memperhatikan Myuto yang melangkah keluar kamarnya. ‘Apa yang kau sembunyikan, Morita-kun?’ batin Haru, ‘kenapa kau aneh sekali?’ Haru menghela napas, dia beranjak dan melangkah keluar kamar. Haru berhenti, dia menatap anak tangga didepannya. Entah kenapa anak tangga itu terlihat mengerikan sekarang. Haru mendesis, dia memejamkan mata menahan denyut yang menyiksa kepalanya lagi. Haru menghela napas, dia perlahan membuka mata. Pikiran Haru terbawa pada sosok di mimpinya barusan. Pertanda apa yang disampaikan lewat mimpi itu?

Dan kenapa Shori muncul dengan wujud mengerikan begitu?

***

Taiga mendengus kesal, dia melangkah mengikuti Miyuki. Taiga benar-benar tidak mengerti, kenapa Miyuki senang sekali berdekatan dengan Hagiya itu. Sudah tahu mereka tidak dari golongan yang sama, tapi tetap saja dia ingin berdekatan dengan Hagiya. Miyuki selalu berpendapat bahwa cinta itu tidak memandang golongan, tapi bagi Taiga itu hanya mitos yang sering dibuat nyata di drama televise favorit Miyuki dan Kaede. Dua golongan berbeda, sudah jelas pola pikirnya berbeda. Kalau segalanya sudah berbeda, mana bisa bersatu? Bahkan meskipun mereka saling mencintai, pada akhirnya akan berpisah karena perbedaan itu, kan?

Menjijikkan.

“Kyomoto-kun.”

Taiga berjengit kaget, dia menatap Chika yang entah sejak kapan ada di dekatnya. Chika tersenyum, dia duduk didekat Taiga. Taiga berdehem, dia sedikit bergeser menjaga jarak dengan Chika. “Kulihat kau sudah sembuh,” Taiga berbasa-basi, “sudah tidak memakai perban lagi.”

“Oh, Hagiya-kun yang mengobatiku,” jawab Chika, “dia, kan, dari kelas pengobatan. Dia ahli soal obat dan ramuan,” Chika tersenyum, dia menoleh kearah Taiga yang meliriknya sinis. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku,” jawab Chika.

“Jangan berharap!” sahut Taiga ketus, “kenapa aku harus memperhatikanmu, hah?!” Taiga mendengus, dia menggerutu sendiri. Taiga melirik, dia melihat Chika diam menatap ke arah sungai. Taiga juga menatap ke arah yang sama, sesekali dia menoleh kearah Miyuki dan Hagiya yang mengobrol tak jauh darinya. Taiga diam sejenak, dia menoleh dan berucap, “Sepertinya kau sangat akrab dengan Shigeoka-kun,” ucap Taiga.

“Dia, kan, sepupuku, tentu saja aku dekat dengannya,” ucap Chika.

Taiga mengangguk. “Kau… menurutmu seperti apa dia?” tanya Taiga.

“Dia itu sangat dewasa dan selalu bersikap seperti pemimpin,” ucap Chika, “dia bisa berbaur dengan siapa saja. Aku bahkan terkejut dia berteman akrab denganmu.” Chika menoleh, dia menatap Taiga dan berkata, “Kau adalah Nogumi, dan dia Haguro. Kau bisa berteman dengannya, tapi kenapa tidak denganku dan yang lain?”

‘Kalau sejak awal aku tahu dia Haguro, aku tidak sudi berteman dengannya,’ batin Taiga. Taiga seketika teringat ucapan Hokuto, yang mengatakan Daiki juga memiliki aura Nogumi. Kenapa Taiga tidak merasakannya? Dan bagaimana mungkin dia memiliki aura Haguro dan Nogumi? Taiga tersadar sesuatu, dia menatap Chika. “Apa kau pernah bertemu dengan orangtua Shigeoka-kun?” tanya Taiga. Taiga berharap jawaban Chika ini yang akan memberinya petunjuk dan mungkin sama dengan dugaannya sekarang.

“Aku tidak pernah bertemu ibunya,” ucap Chika, “lagipula aku tidak berani. Kata Jinguji-kun, ibu Daiki galak sekali.” Chika terkekeh, dia menatap Taiga yang menghela napas. “Memangnya ada apa?” tanya Chika.

“Tidak apa-apa,” jawab Taiga, dia menghela napas dan kembali menatap kearah sungai. Benar dugaannya, Chika tidak tahu soal ini.

“Jujur saja sampai sekarang aku penasaran dengan orang yang menolongku waktu itu,” ucap Chika, “kalau bukan kau, lalu siapa?”

“Mana aku tahu,” jawab Taiga cuek. Dia menghela napas, matanya fokus menatap aliran sungai. Di hatinya, ada letupan aneh yang muncul. Sedikit aneh, tapi entah kenapa dia merasa bahagia. Taiga tidak mengerti apa yang membuatnya bahagia, padahal dia tidak melakukan apa-apa dan tidak menemukan sesuatu yang disukainya.

Miyuki menoleh, dia menghela napas dan kembali menatap kearah sungai. “Lihatlah, Senpai,” ucap Miyuki, “Nii-san itu benar-benar tsundere. Dia sebenarnya menyukai Konno Senpai, aku tahu itu. Tapi dia berbohong kepadaku. Cih.”

Hagiya yang mendengar ucapan Miyuki terkekeh saja, “dia adalah seorang Nogumi, pasti sulit baginya mengakui bahwa dia menyukai seseorang dari pihak musuh,” ucap Hagiya.

Dia menghela napas dan menunduk, Miyuki menjadi sedih mendengar ucapan Hagiya. “Kau benar,” ucap Miyuki, “mencintai seseorang yang berasal dari pihak musuh membuat kita selalu serba salah.”

Hagiya menatap Miyuki. “Aku… sudah lama menyukai Senpai,” ucap Miyuki pelan, “tapi aku adalah Nogumi dan kau seorang Haguro. Dunia kita berbeda, dan Senpai melihat sendiri bagaimana Nii-san selalu melarangku berdekatan dengan kalian.” Miyuki menghela napas, dia terkejut merasakan sebuah tangan menepuk kepalanya.

Miyuki menoleh, dia termangu melihat Hagiya menepuk kepalanya sambil tersenyum.  “Aku senang mendengarnya,” ucap Hagiya, “terima kasih sudah menyukaiku.”

“Senpai…” Miyuki termangu, dia mendadak gugup saat Hagiya mendekatkan wajahnya kearah Miyuki. Apa Hagiya ingin menciumnya? Miyuki memejamkan mata rapat-rapat, jantungnya berdegup kencang sekali. Jangan sampai Hagiya menyadarinya, itu akan sangat memalukan.

“Hoi.”

Miyuki memekik, dia membuka mata dan terkejut melihat Taiga sudah ada diantara mereka. Mata Taiga melirik sadis kearah Hagiya, dia menggeram, “Kau kuijinkan bertemu adikku, tidak berarti kau sembarangan menciumnya!” Taiga mencengkeram kerah baju Hagiya.

Miyuki memekik dan berusaha memisahkan keduanya. “Nii-san, jangan bertengkar disini,” ucap Miyuki, “berhentilah. Nii-san.”

“Kyomoto-Kun, berhentilah,” Chika menarik tangan Taiga dari Hagiya, “tidak bisakah kau membiarkan mereka berdua saja?”

“Dia akan mencium Miyuki!” sahut Taiga.

“Memangnya kenapa? Mereka saling mencintai, kan?” sahut Chika.

“Tapi…” Taiga berhenti bicara saat Chika menangkup pipinya dan mengarahkan wajahnya berhadapan dengan wajah Chika. Taiga terdiam, dia menatap wajah Chika yang cukup dekat dengannya sekarang. Wajah Chika tampak imut, tidak seperti anak SMA kebanyakan yang memoles wajah mereka dengan make up berlapis. Chika sangat polos, kulitnya halus dan bersih dari jerawat. Matanya juga terlihat cerah, membuatnya terlihat manis.

Eh.

“Lepaskan aku!” Taiga langsung menepis tangan Chika, dia mendengus kesal.

Chika menghela napas, dia berujar, “Memangnya kenapa kalau Hagiya-Kun mencium adikmu? Hagiya-kun bukan virus yang akan menularkan penyakit mematikan kepada Miyuki-Chan.” Chika menghela napas lagi, dia menyeret Taiga menjauh sebelum pemuda itu membuka mulutnya. “Silahkan lanjutkan proses ciuman pertama kalian,” Chika setengah berteriak, dia tergelak dan berlari menjauh sambil menyeret Taiga.

Hagiya dan Miyuki saling pandang, mereka lantas tertawa bersama. “Anak itu benar-benar tidak tahu malu,” ucap Hagiya.

***

Jinguji berhenti, dia menghela napas dan menoleh ke sekeliling. Sampai sekarang dia belum menemukan Kai, dia bahkan tidak melihat Inoo di sekolah. “Apa yang harus kulakukan?” gumam Jinguji. Dia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Yang ada di pikirannya hanya bagaimana cara menemukan dan menyelamatkan Kai. Inoo bisa mengendalikan roh hitam, bagaimana kalau dia melukai Kai?

“Jinguji!”

Jinguji menoleh, dia menatap cemas Kishi yang berlari mendekat bersama Daiki. “Aku baru saja mendatangi rumah Inoo Senpai,” ucap Kishi, “tetangga disana mengatakan dia tidak pulang beberapa hari ini.”

“Kurasa Inoo menyembunyikan Yanase-San di dunia roh,” ucap Daiki, “aku akan kesana dan mengembalikannya kemari.”

“Aku yang akan melakukannya,” ucap Jinguji, “aku yang akan membawa Yanase-san kembali kemari.” Jinguji baru akan melangkah saat Daiki menahannya. “Kau masih belum bisa berinteraksi dengan dunia roh sejauh itu, Jinguji Yuta,” ucap Daiki, “kemampuanmu masih sebatas memanggil mereka.” Daiki menghela napas, dia tersenyum dan berkata, “Aku yang akan melakukannya. Aku seorang Haguro, apa salahnya kalau aku membantu?”

“Tidak usah repot-repot.”

Semua menoleh. Jinguji terkejut melihat Inoo melangkah santai kearah mereka. Senyum khasnya terukir di wajah cantiknya, tapi bagi Jinguji senyuman itu terlihat seperti senyuman iblis yang lolos dari neraka. “Kembalikan Yanase-san,” ucap Jinguji geram, “dia sama sekali tidak berhubungan dengan semua ini!”

“Dia mendengarkan terlalu banyak, Jinguji,” ucap Inoo, “aku benci dengan orang yang senang menguping. Menyebalkan.” Inoo tersenyum, dia meneruskan, “Jangan khawatir. Dia sudah bersenang-senang di dunia roh. Dia memiliki banyak teman disana.”

Jinguji menggeram, dia berlari dan meninju muka Inoo. “Aku tidak peduli dengan dendam atau apapun!” sentaknya, “tapi jangan melibatkan Yanase-san! Dia tidak tahu apa-apa!” Jinguji melayangkan tinjunya, tapi Inoo langsung menghempaskannya hingga menghantam pohon.

“Maaf, tapi dia sendiri yang melibatkan dirinya dalam masalah ini,” ucap Inoo, senyum manisnya lenyap. Kini wajahnya berubah menjadi dingin dan kejam, dia melirik kearah Kishi yang siap menembakkan anak panahnya, lalu beralih kearah Daiki yang tampak waspada. “Aku akan memusnahkan kalian semua,” ucapnya dingin, “kalian yang menolak membalas dendam atas kematian orangtuaku, kalian yang membunuh orangtuaku, semua akan musnah.”

“Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang Haguro?”

Inoo menoleh, menatap sinis Jesse yang mendekat bersama Yasui, Kaede, Reo, dan Juri. “Kau hanya golongan cenayang yang kebetulan bisa mengendalikan roh,” ucap Jesse, “kau mau menghabisi kami, yang kau anggap menghabisi orangtuamu? Coba saja kalau kau bisa.”

“Aku sama sekali tidak menyangka kau adalah Haguro, Senpai,” ucap Kaede, “kembalikan Kai. Dia tidak tahu apa-apa.”

“Berisik,” ucap Inoo, dia mengeluarkan bola hitam dari sakunya dan sekejap saja kabut hitam muncul disekitarnya. “Hancurkan mereka,” desis Inoo.

Yasui langsung mendorong Kaede, dia menghindari kabut yang berusaha menyelimutinya. Kishi mengarahkan anak panahnya, dia meleburkan segumpal kabut yang hendak menyerang Reo. Jinguji bangkit, dia menatap Daiki yang bahkan tidak bergerak sama sekali. “Lakukan sesuatu!” ucap Jinguji, dia mengguncang tubuh Daiki yang langsung tersadar dari lamunannya, dia langsung menggunakan roh putihnya meleburkan beberapa roh hitam yang mengejar Kaede.

Inoo tergelak puas melihat Jesse dan yang lain terlihat berusaha menghindari roh hitamnya. “Kalian tidak bisa melakukan apapun, hm?” ucap Inoo meremehkan, “kita lihat apa yang bisa kalian lakukan untuk menghindari roh hitamku.”

Jinguji berdecak, dia berlari dan merampas bola hitam itu dari tangan Inoo. “Aku akan menghancurkan bola terkutuk ini,” ucap Jinguji, dia baru akan mengucapkan mantra saat Inoo menerjang dan mencekiknya.

“Tidak ada yang bisa kau lakukan, bodoh,” ucap Inoo, “kau hanya orang lemah.”

Blam!

Inoo menoleh, matanya terbelalak melihat roh hitamnya melebur dan lenyap. Daiki menoleh, dia terkesiap melihat seorang pria berdiri sambil membidikkan anak panah kearah Inoo. “Kembalikan saja gadis itu, dan aku akan melepaskanmu,” ucap pria itu tenang. Dia melangkah mendekati Inoo yang terlihat tegang. “Jangan membuatku bertindak lebih dari ini,” bisik pria itu.

Inoo berdecak, dia menjentikkan jarinya dan hilang begitu saja.

“Oi! Kembalikan Kai!” Kaede menjerit, dia berteriak kesal dan menghentakkan kakinya. Jinguji menghela napas, dia dan yang lainnya menatap pria itu tidak percaya. Pria itu member salam, detik berikutnya dia menghilang.

“Sekarang apa?” tanya Kishi. Jinguji diam saja, dia melangkah pergi.

Daiki menatap yang lain, dia tersenyum dan berkata, “Terima kasih sudah mau membantu kami. Kami permisi.” Daiki memberi salam, dia berlari menyusul Jinguji bersama Kishi.

“Aku tidak menyangka roh hitam sekuat itu,” ucap Juri, dia menoleh kearah Reo. “Kau baik-baik saja?” tanyanya. Reo mengangguk saja, dia meringis kesakitan karena jatuh menghantam pembatas jalan.

“Ayo,” ucap Jesse, dia melangkah pergi diikuti yang lain.

Kaede menatap Yasui yang masih diam, dia menepuk pelan bahu kakaknya itu sebelum melangkah. Yasui menatap jalan yang dilalui Jinguji, dia perlahan melangkah mengikuti yang lain. Dahi Yasui berkerut, dia masih tidak paham dengan situasi yang barusaja dihadapinya.

Bagaimana caranya Paman Hideyoshi melakukan itu semua?

***

Shoki melangkah, dia menghela napas dan tersenyum kepada Chiru. “Maaf membuatmu menunggu,” ucap Shoki, “aku masih membantu Sanada Senpai mengerjakan beberapa tugas.” Shoki menggandeng tangan Chiru, dia bertanya, “Kau tidak marah, kan?”

Chiru menggeleng. Mereka berjalan, Chiru menghela napas dan melihat sekeliling. “Sangat tenang, ya,” ucap Chiru, “kalau melihat suasana yang tenang seperti ini, rasanya aku ingin sekali memakan monster-monster yang menyerang kota belakangan ini.” Chiru terkekeh pelan, Shoki hanya tersenyum dan menanggapi, “Jangan memakan monster. Menurut ajaran Buddha, sifatmu akan sama seperti apa yang kau makan.”

Chiru berhenti, dia menatap Shoki. “Jadi kalau aku makan monster sifatku akan sama seperti monster itu?” tanyanya. Shoki mengangguk, Chiru menghela napas dan berkata, “Kalau begitu aku mau makan malaikat saja, jadi sifatku bisa sebaik malaikat.”

Krik.

Shoki cengo mendengar ucapan Chiru. “Kau ada-ada saja,” ucap Shoki, “kau tidak perlu menjadi malaikat atau apapun. Cukup jadi diri sendiri, jadilah Nishinoya Chiru yang biasanya.” Shoki menatap Chiru yang memperhatikannya. “Aku tidak ingin Chiru yang seperti malaikat,” ucap Shoki, “aku hanya ingin Chiru. Hanya Chiru.”

Chiru diam, dia tersenyum dan mengangguk. Mereka kembali berjalan, Shoki mempererat genggaman tangannya. “Aku jadi penasaran,” ucap Chiru, “ne, Morohoshi-Kun. Menurutmu apa legenda monster itu benar-benar ada?” Chiru berhenti, dia menatap Shoki. Chiru mengerutkan dahi melihat Shoki kelihatan tegang. “Morohoshi-Kun, kau kenapa?” tanya Chiru.

Shoki menggeleng, dia tersenyum dan menatap Chiru. “Ne, Chiru-chan,” ucap Shoki, “menurutmu bagaimana kalau monster seperti Yahagi, Nogumi, dan Haguro itu benar-benar ada?”

Chiru diam, dia kelihatan berpikir. “Maksudmu seperti yang di legenda itu?” balas Chiru, “um… asalkan mereka tidak mengganggu manusia kurasa tidak akan jadi masalah.”

“Lalu bagaimana kalau ternyata salah satu orang yang kau kenal adalah salah satu dari tiga monster itu?” Shoki kembali bertanya.

“Aku tetap akan berteman dengannya. Yah, mungkin aku akan sedikit menjaga jarak pada awalnya, tapi kurasa aku akan kembali menjalin hubungan akrab dengannya seperti semula,” jawab Chiru, “dan menganggap kalau dia adalah manusia biasa.” Chiru menatap Shoki yang kelihatan lesu. “Memangnya kenapa?” tanya Chiru.

Shoki menghela napas panjang, dia menatap Chiru yang juga menatapnya. “Aku…” ucap Shoki pelan, “aku adalah…”

“Morohoshi-kun!”

Shoki berhenti bicara, dia menoleh dan melihat Shintaro berlari bersama Hokuto dan Sanada. “Ini gawat,” ucap Shintaro terengah, “benar-benar gawat!”

“Apanya yang gawat? Myuto menghancurkan pemotong rumput lagi?” tanya Shoki asal.

“Kouchi-kun,” ucap Sanada, “aku menemukannya! Dia di hutan belakang sekolah, dia terluka parah dan sekarang Morita-kun membawanya ke rumah sakit!”

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s