[Multichapter] Please be MINE Again #3

PLEASE BE MINE AGAIN Part 3

by : Matsuyama Retha

Genre : Romance, (Hard) Violence, Fluff

Rating : NC-17 *masih aman kok*

Cast : Hirano Sho (Mr. KING), Matsumoto Reina (OC), Nakamura Kaito (Travis Japan), Kawago Hina (Nogizaka46), Koichi Goseki (A.B.C-Z) as Hirano Goseki, Kikuchi Moa (BABYMETAL) as Hirano Moa, Totsuka Shota (A.B.C-Z) as Matsumoto Shota, Matsumoto Kota (Johnny’s Jr.)

Part 2 HERE

16229957_1232232140205688_1652411126_o_%e5%89%af%e6%9c%ac

“Reina-neechan!!!”

 

Suara panik seorang gadis belia kini menggema ketika seseorang yang disebut namanya itu tidak merespon. Hal itu pun justru membuat gadis belia ini lebih panik dimana kejadian beberapa saat yang lalu sangat-sangat tidak bisa dimaafkan.

 

Gadis belia itu, Hirano Moa, perlahan menangis ketika seorang gadis yang dipanggilnya ‘Reina-neechan’ itu tak segera merespon panggilannya itu. Seorang gadis yang merupakan calon kakak iparnya itu, yang diketahui namanya Matsumoto Reina, sangat menyayangi Moa layaknya kasih sayang seorang ibu pada anaknya.

 

Masih terlarut dalam tangisan, tanpa sadar tubuh Reina sedikit memberikan respon sehingga Moa terkejut dibuatnya. Ada perasaan lega yang menjalar dihatinya.

 

“Neechan!! Daijoubu?”

“G-gomen ne Moa-chan. Hontou ni daijoubu.” Jawab Reina pelan dan terseyum lemah.

“Ma-maafkan Sho-niichan, Neechan. Hontou ni …” mengingat kesalahan kakak kandung Moa yang bernama Hirano Sho itu, ia meminta maaf pada Reina.

“Iie yo, Moa-chan. Umm, sekarang kita mulai masak yuk. Kamu pasti sudah lapar.” Reina pun segera berdiri secara perlahan yang otomatis dibantu oleh Moa.

“Ta-tapi Neechan … Neechan harus diobati dulu luka-lukanya.”

“Wakatta.”

 

Setelah menyetujui permintaan Moa untuk mengobati luka sayatan di tubuh Reina akibat menerima sabetan secara tak langsung dari Sho, pada akhirnya Moa pun bergegas menuju ke kotak P3K untuk mengambil obat merah.

 

Sempat terpikir olehnya bahwa ia harus menyiapkan banyak sekali obat untuk mengobati luka Reina ketika dirinya mendapat jatah pukulan atau sabetan dari Sho.

 

“Ittai!!”

“Ah, gomen ne Reina-nee. Perih sekali ya?”

“Un. Ta-tapi masih bisa ditahan kok.”

“Tahan sedikit ya Neechan.”

 

Kegiatan pemberian obat merah pada luka sayatan di tubuh Reina pun telah selesai beberapa menit kemudian. Pada akhirnya Moa mulai mengembalikan obat merah ke tempat asalnya sementara Reina berjalan (sedikit) tertatih menuju ke ruang tamu dimana ia masih meninggalkan barang belanjaannya disana untuk dibawa ke dapur. Moa yang menyadarinya pun segera membantu membawakannya.

 

“Biar aku saja yang membawanya, Neechan.” Ucap Moa sembari mengambil alih barang belanjaan yang dibawa Reina. “Arigatou.”

 

.

.

 

Kegiatan memasak untuk makan siang pun telah selesai, Reina dan Moa pun juga sudah meletakkan dua macam masakan kesukaan Moa dan Sho ke atas meja makan.

 

Tanpa disadari oleh Reina dan Moa, Sho datang menghampiri dengan raut wajah tak bisa diartikan.

 

“Ah Sho-kun maa …”

“Lewat 30 menit dari waktu jam makan siang. Kau ini lambat sekali!” protes Sho tanpa memandang wajah Reina sedikitpun.

“Niichan!! Kau ini sudah membuat Reina-nee seperti ini, terus bilang dia lambat lagi! Ini semua gara-gara Niichan tahu!!” protes Moa yang tak terima dengan hinaan kakaknya pada Reina.

 

BRAAKK

 

“Kau tak perlu ikut campur, Moa!!” tiba-tiba saja Reina dan Moa dikejutkan dengan gebrakan meja yang dilakukan oleh Sho.

“Sudah Sho-kun. Jangan marah dengan adikmu sendiri. Aku minta maaf kalau aku terlambat menyiapkannya.” Reina pun berinisiatif untuk meredakan amarah Sho dengan meminta maaf.

“Sudahlah!” Sho pun dengan wajah angkuh langsung mengambil kursi di dekat meja makan.

 

Tanpa disuruh Reina langsung mengambil nasi dan meletakkan diatas piring Sho dan kemudian mengambil dua macam lauk.

 

“Moa-chan makan juga ya.” Suruh Reina yang segera dijawab dengan sekali anggukan.

“Nee-chan juga sekalian makan.”

“Neechan nanti saja makannya. Kalian saja duluan.”

 

Setelah selesai mengambilkan nasi dengan dua macam lauk pada Sho, Reina dengan cepat mengambil langkah untuk menjauh dari ruang makan, namun suara Sho menghentikan langkahnya.

 

“Kau harus makan sekarang, Reina. Ini sudah lewat jam makan siang.” Ucap Sho yang membuat Reina terpana. Begitu pula dengan Moa yang duduk dihadapannya.

“A-aku nanti saja, Sho-kun. Kalian makan saja duluan.”

“Tidak! Aku bilang sekarang ya sekarang!” hardik Sho yang membuat Reina langsung bergidik ngeri.

“Wakatta.” Mau tidak mau Reina pada akhirnya menurut perkataan Sho. Dirinya takut sekali jika harus menghadapi amarah Sho yang terlewat mengerikan itu.

“Bagus. Aku tak suka namanya penolakan!” ucap Sho sembari Reina berjalan menuju ke tempat Moa duduk dan mengambil tempat disebelahnya.

“Mou Niichan!!!”

“Daijoubu Moa-chan.” Reina terseyum letih kearah Moa.

 

Sementara Sho tak menggubrisnya sama sekali dan tetap melanjutkan makannya.

 

.

 

Malam hari pun telah tiba dan menggantikan cerah menjadi gelap yang penuh bertaburan bintang di angkasa. Memberikan sebuah pemandangan manis bagi setiap orang yang melihatnya. Terlebih hari itu adalah malam minggu dimana banyak sekali masyarakat Negeri Sakura ini menikmati harinya dengan kegiatan hiburan.

 

Namun tidak untuk Matsumoto Reina yang hanya menetap di kediaman keluarga Hirano tanpa pergi ke suatu tempat yang disukainya layaknya anak muda zaman sekarang. Namun hal ini tak masalah baginya asal bisa bersama dengan orang yang sangat dicintainya sejak dahulu, Hirano Sho, sudah seperti pergi berlibur ke tempat yang disukainya.

 

Pada saat ini, hanya Reina dan Sho yang dirumah, sementara adik Sho, Hirano Moa, sedang pergi menikmati malam minggu bersama kawan-kawannya. Bahkan sebelum kepergiannya, Reina berpesan untuk hati-hati dan Moa menurutinya. Baginya, Reina seperti ibu yang sangat perhatian pada anaknya dan tidak terlalu mengekang karena sebuah kepercayaan.

 

Ya, seperti biasa Reina-lah yang selalu menyiapkan makan disaat pagi, siang, ataupun malam. Saat ini, Moa tak membantunya jadilah ia bekerja sendirian. Hal itu pun tak dipusingkan oleh Reina sendiri.

 

“Sebaiknya aku membuat makanan kesukaan Sho-kun saja. Meat and Nureokaki. Semoga saja dia suka.” Gumam Reina dan segera mempersiapkan bahan dan alat untuk memasak. “Untung saja tadi bisa membeli bahan untuk membuat Nureokaki.”

 

Setelah selesai menyiapkan bahan dan alat untuk memasak, mulailah Reina meracik-racik dari bumbu-bumbu, sayuran, hingga daging. Dalam hal ini, Reina telaten dan cekatan jikalau tentang memasak. Tak salah ‘kan Papa Sho memilihnya untuk menjadi istri Sho kelak, eh? Hanya saja Sho yang tak peka dengan Reina (abaikan yang ini XD)

 

Suara nyaring antara perpaduan spatula dan juga wajan berukuran sedang kini menggema di seluruh penjuru dapur itu sehingga tanpa disadari oleh Reina, Sho memperhatikannya dengan wajah yang sangat sulit diartikan. Berada jauh dari lubuk hati Sho, entah mengapa merasa sakit ketika mengingat dirinya yang menyiksa Reina tadi siang. Tapi otak jenius Sho menentang itu semua seolah dirinya tak bersalah dengan melakukan semuanya itu.

 

Terlalu sibuk dengan perdebatan hati dan pikiran, Reina yang masih sibuk dengan kegiatan memasak dalam posisi membelakangi Sho, dirinya terkejut ketika membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Sho. Itu bukan niatnya untuk membalikkan tubuh, hanya saja saat itu ia ingin mengambil botol merica yang letaknya berada dibelakangnya.

 

“Sho-kun?”

“Hn.”

“Apa kau membutuhkan sesuatu?”

“Ya. Aku membutuhkanmu untuk memuaskanku malam ini.”

 

Pergerakan kedua tangan Reina terhenti mendadak ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sho. Wajahnya shock sekaligus takut.

 

“A-apa m- … ah!”

 

Belum pula Reina membalikkan badannya, Sho sudah memeluknya dari belakang. Hal seperti ini tak biasa didapat oleh Reina ketika Sho tiba-tiba berubah seperti itu. Masih dengan wajah shocknya, Sho pun membenamkan kepalanya di bahu Reina yang sedikit terbuka sehingga Reina merasakan sensasi geli.

 

“Sho-kun … a-ano …”

“Malam ini puaskan diriku jika kau ingin aku berhenti membencimu.”

“A-apa? M-memuaskanmu? Ta-tapi …”

“Hentikan kegiatan memasakmu itu! Kutahu kau sedang memasak makanan kesukaanku, deshou?”

“Un. D-demo, kau harus makan dulu.”

“Tidak. Aku hanya ingin memakanmu.”

“D-dame yo! Ah!”

 

Dengan sengaja Sho mengecup leher jenjang Reina sampai menimbulkan bekas kemerahan disana. Setelahnya Sho membalikkan tubuh Reina untuk menghadap kearahnya. Tampaklah raut wajah Reina yang ketakutan disana. Tapi, Sho tak mempedulikan itu semua dan justru semakin memojokkan Reina hingga punggung Reina menyentuh tembok dapur. (Untunglah sebelumnya Reina sudah menyempatkan diri untuk mematikan kompor).

 

CHUU

 

Mata Reina membulat tatkala Sho mencium bibirnya tanpa ada paksaan seperti biasanya. Ciuman yang lembut dan memabukkan. Bahkan, otak cerdas Reina seolah berhenti bekerja dan digantikan dengan isi hatinya itu. Jika boleh jujur, Reina sangat mengharapkan ini terjadi.

 

Tak lama kemudian Reina benar-benar dibuat mabuk oleh ciuman Sho dimana lidahnya memaksakan untuk masuk kedalam bibir Reina dan mengobrak-abrik seluruh isinya.

 

Di sela-sela ciuman mereka, Reina pun merasa kekurangan oksigen dan berusaha untuk menghentikan Sho sesaat. “C-chotto … a-aku kehabisan nafas. Hhh.”

“Hn.” Hanya itulah jawaban yang sangat singkat dari Sho.

 

Sebenarnya dirinya pun juga kehabisan nafas sehingga memberikan kesempatan pada Reina untuk mengambil banyak oksigen sebelum ia menyerangnya kembali.

 

“Sudah?”

 

DEG

 

Baiklah. Ini sangat langka bagi Reina dimana Sho bertanya padanya. Tak seperti biasa yang suka sekali memerintah bahkan memaksa. Tapi meskipun begitu, amarah Sho bisa datang kapan saja jika Reina tak menurutinya.

 

“I-iya.” Jawab Reina dengan malu-malu.

“Bagus.”

 

CHU

 

Kembalilah Sho melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti karena kehabisan nafas. Ciuman Sho benar-benar memabukkan Reina tatkala baru kali ini ia merasakan ciuman lembut yang diberikan Sho padanya.

 

Semakin lama ciuman mereka semakin panas sehingga Reina melupakan bahwa dirinya masih harus menyiapkan makan malam untuknya dan Sho. Mengapa Moa tidak? Itu karena dirinya sudah berkata pada Reina untuk tidak perlu memasakkan makanan sebab dirinya akan pergi makan-makan bersama teman-temannya.

 

BRUK BRUK

 

Ciuman panas itu terus berlanjut hingga tanpa mereka berdua sadari sudah berada di ruang keluarga. Suasana disana hening dan hanya suara dentingan jam dinding yang menemani ciuman panas mereka, tapi kedua manusia beda gender ini hanya saling mendengar desahan yang tertahan.

 

“Mnnhhh. Sho-kunhh…”

“Ssstt”

 

Sho tanpa segan-segan memberanikan dirinya untuk menyentuh tubuh sensitif Reina yang terbilang cukup menggoda itu. Terlebih pada bagian dadanya yang cukup ditangan kekarnya. Diremasnya dada Reina, namun Sho tak meninggalkan ciuman panasnya pada Reina.

 

“D-dame Sho-kunnhh”

“Urusai sshhh.”

 

Kegiatan pun terus berlanjut hingga Reina terus mendesah tertahan tiada henti. Tanpa sadar, suara bel rumah berbunyi sehingga membuat kegiatan panas mereka terhenti.

 

“Shit!! Siapa yang mengganggu hah!!”

“B-biar aku yang membukanya.”

“Tidak! Urusan kita belum selesai.”

“Sebentar saja, Sho-kun. Kau makan dulu ya.”

 

Dengan cepat Reina merapikan diri dan setelahnya berlari menuju ke ambang pintu yang berada di depan sana.

 

“Konbanwa, Reina-san.”

“Kaito-kun? K-kenapa kau kemari?”

 

Setelah pintu terbuka, tampaklah seorang pria tinggi dengan rambut kecoklatan berdiri disana. Pria itu bernama Nakamura Kaito.

 

“Ano, sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi jalan-jalan.”

“Eh? J-jalan-jalan? Etto … sebenarnya …”

 

Tanpa disadari oleh mereka, Sho sudah berdiri di belakang Reina dengan tangan kiri yang memeluk pinggangnya itu. Sontak hal itu membuat Reina terkejut dan tidak diketahui oleh Kaito.

 

“Maaf, tapi aku ada urusan dengannya.” Ujar Sho cuek.

“Memangnya apa urusanmu dengannya?” tanya Kaito tak mau kalah.

“Bukan urusanmu!”

“Tentu saja urusanku baka!”

“Dia milikku, jadi kau tak berhak atasnya!”

“Seenaknya saja kau! Kau itu bukan siapa-siapanya Reina, jadi jangan halangi dia untuk pergi!”

 

Reina yang mulai memiliki firasat buruk akan kedua pria itu pun segera menengahi mereka. Di sisi lain, sesungguhnya ia tak suka moment langka dari Hirano Sho yang sangat lembut padanya itu akan sia-sia saja hanya karena kehadiran Nakamura Kaito itu. Namun bagaimanapun juga Reina tak ingin membuat Sho semakin marah padanya.

 

“Kumohon kalian berhentilah bertengkar! Bagaimana kalau ada tetangga yang dengar?”

“Biarkan saja! Aku tak peduli Reina-san.”

“Kaito-kun!! Kumohon jangan buat keributan disini! Bisakah kau pulang? Aku memang ada urusan dengan Sho-kun saat ini.”

 

Mendengar penuturan yang diucapkan Reina itu berhasil membuat Sho menyeringai. Dia merasa bahwa dirinya menang melawan Kaito. Baiklah, aura Sho memang benar-benar tidak bisa ditolak oleh gadis manapun.

 

“Kau dengar sendiri, kan? Kami berdua masih ada urusan. Jadi, kau bisa kembali pulang.” Ucap Sho sembari tersenyum licik.

 

Tangan kekarnya pun masih setia bertengger di pinggang Reina. Bahkan tangan itu sampai mengangkat baju yang dikenakan oleh Reina sehingga tampaklah kulit mulusnya. Reina sendiri merasakan sensasi geli, namun ia sembunyikan agar tak ketahuan oleh Kaito. Hanya menahan sensasi geli itulah yang dapat dilakukannya.

 

“Wakatta. Jika terjadi sesuatu, kabari aku Reina-san.”

“Un.”

 

Kaito pun dengan berat hati meninggalkan mereka berdua. Ya, sekarang ini dia sedang patah hati. Padahal ia ingin mengungkapkan isi hatinya pada Reina. Sepertinya ditolak duluan sebelum mengucapkannya.

 

“Gomen ne, Sho-kun. A-aku tak berniat mengganggu kegiatanmu tadi.”

“Iie yo. Terpenting aku ingin melanjutkannya lagi.”

“Eh? Ta-tapi kau makan dulu, Sho-kun. Nanti sakit loh.”

“Tidak! Aku ingin memakanmu saat ini juga.”

“Umnnnhhh”

 

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Sho langsung menerjang bibir Reina dan melumatnya sedikit cepat namun dalam tempo lembut. Tangan Reina secara otomatis menutup pintu dan kemudian melingkar ke leher Sho.

 

Reina akui ciuman Sho benar-benar memabukkannya.

 

Baiklah. Otak cerdas Reina benar-benar lenyap dalam sekejap saat itu juga akibat ciuman panas nan memabukkan dari Sho. Entah mengapa hati Reina seolah ragu akan suatu hal.

 

Apakah Sho sudah mulai membalas cintanya? Atau sekedar hawa nafsu saja?

 

“Chotto, Sho-kun.” Reina pun menghentikan kegiatan Sho.

“Apa lagi?” tanya Sho malas.

“A-aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa itu?”

“Kau sejauh ini, apakah … ” mulailah Reina yang tampak menimbang-nimbang antara ingin mengucapkannya atau tidak.

“Cepat katakan!” perintah Sho yang tidak sabaran itu.

“Apakah kau sudah mulai untuk menerima cintaku? K-karena … kita tidak bisa melakukan ini jika kau tidak mencintaiku.”

 

BRAKKK

 

“CK. TENTU SAJA AKU TIDAK MENCINTAI GADIS SEPERTIMU!”

 

DEG

 

Kalimat itu benar-benar membuat hati Reina kembali sakit. Jadi, Sho melakukan itu semua hanya sekedar hawa nafsu dan bukan sekedar cinta. Memang inilah kenyataan pahit yang selalu diterima Reina.

 

Mencintainya tapi dia tidak mencintai dirinya. Cinta sepihak.

 

“J-jadi …”

“CK. Sudah kukatakan sebelumnya kan? Kau ini hanya pelampiasanku untuk balas dendam! Kau sudah membunuh Mamaku! Jadi aku tak sudi mencintai gadis pembunuh sepertimu.”

 

BRUK

 

“Ittai.” Tanpa belas kasihan, Reina pun jatuh tersungkur akibat Sho mendorongnya terlalu keras.

“Kau tahu? Padahal aku mati-matian ingin menghamilimu, tapi selalu saja gagal! Argghhh!!”

“Kenapa … kau ingin sekali melakukannya Sho-kun? Hiks ..”

“Aku tak ingin mengulang ucapan yang sama!”

 

Tanpa rasa peduli lagi, Sho meninggalkan Reina sendirian disana. Diambilnya sebuah jaket yang terletak di gantungan dan pergi keluar rumah. Bersamaan dengan itu, seorang gadis belia masuk kedalam rumah.

 

“Oneechan!!!”

“Ara … Moa-chan sudah pulang?”

 

Ya, gadis belia itu adalah Hirano Moa.

 

“Iya. Tapi, Oneechan kenapa? Apa Sho-niichan berulah lagi?”

“Tidak apa, Moa-chan. Kau sudah makan ‘kan?”

“Sudah. Lalu Reina-nee?”

 

Hanya sebuah gelengan kepala sajalah sebagai jawabannya dan itu cukup membuat Moa paham.

 

“Sho-kun juga belum, tapi dia pergi begitu saja.”

“Souka. Kalau begitu Reina-nee makan dulu.”

“Wakatta.”

 

Pada akhirnya Reina pun kembali ke dapur untuk menyelesaikan tugas yang sempat tertunda. Setelahnya, ia pun mulai makan malam tanpa Sho yang seharusnya ikut makan bersamanya.

 

.

.

 

Malam semakin larut dan Sho belum pulang sejak jam makan malam. Hal itu membuat Reina gelisah bukan main. Sudah jam setengah 12 malam dan Sho tak kunjung pulang.

 

“Sho-kun … kau dimana?”

“Are? Reina-nee belum tidur?” Moa pun datang menghampiri tanpa diketahui oleh Reina.

“Un. Menunggu kakakmu yang tak kunjung pulang, Moa-chan.”

“Sho-niichan wa baka! Kemana sih dia jam segini?”

“Sudahlah Moa-chan. Sebaiknya kamu tidur saja ya.”

 

BRAAKKK

 

Belum lama Moa menuruti perkataan Reina, sebuah suara yang asalnya dari pintu luar mengejutkan mereka berdua. Ternyata …

 

“Sho-kun!!”

“Sho-niichan!!!

 

TBC~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s