[Multichapter] Flavor Of Love (#2)

Flavor Of Love

UHWIW
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 2)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring  : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Taiga membawa tasnya, mengambil gulungan designnya dan berjalan mengikuti manajernya keluar kantor. Siang ini mereka akan bertemu dengan  klien mereka yang istimewa itu.

“Dengarkan aku Taiga-kun, klien ini penting, kau dengar? Penting!!” ucapnya ketika mereka sudah ada di dalam taksi. Taiga mengagguk saja, tidak ingin berkomentar.

“Dia adalah anak teman lamaku, ketika Ayahnya meneleponku, aku sangat senang dan langsung mengiyakan permintaannya, hahaha,”

Taiga mendesah, dan itu melibatkan dirinya yang harus begadang dua hari dan mencari ide instan yang paling ia benci.

“Paris, ketika mendengarnya hanya namamu yang muncul di otakku. Taiga-kun tinggal di sana dua tahun, kan?”

Dengan enggan ia hanya menggangguk, berharap basa-basi manajernya ini segera berakhir. Sudah setengah jam perjalanan akhirnya mereka sampai di suatu kafe, Taiga baru menyadari bahwa ini adalah Happytos, dan dua malam yang lalu ia baru saja ke tempat yang sama.

Saat masuk, seorang wanita dengan rambut panjang dan baju terusan elegan berwarna peach lembut menyambut mereka.

Konnichiwa, Nagisawa Chise desu,” sepertinya Taiga pernah mendengar namanya, tapi ia lupa dimana.

“Inagaki Goro, dan ini designernya, Kyomoto Taiga,”

“Mohon bantuannya,” ucap Taiga sambil menunduk dan menyerahkan kartu namanya.

Tidak disangka pertemuan itu cukup singkat. Chise cukup puas dengan design yang dibuat oleh Taiga, bahkan ia bilang ingin ikut dalam pembuatan kafenya. Karena ini adalah kafe pertamanya. Taiga pun mengiyakan dan berjanji akan memberikan rencana selanjutnya.

“Kau tahu Taiga-kun, Ayahnya Nagisawa Chise adalah kepala koki di hotel The Royal. Kau tau kan The Royal hotel?”

“Tentu saja,” karena pemiliknya adalah temanku, tambah Taiga dalam hati.

“Aku dan Nagisawa-san sudah berteman sejak kami masih kecil. Hingga sekarang pun kami masih sering bertemu, kadang-kadang aku ke tempatnya bekerja, makanannya enak sekali loh!” dan sepanjang perjalanan pulang ke kantor pun Inagaki-san sama sekali tidak bisa menutup mulutnya, menceritakan masa lalunya dengan Nagisawa-san.

Taiga segera ke mejanya ketika pulang, dan terkaget ketika Shintaro mendekatinya, memberinya segelas kopi.

“Shin-chan?!”

“Taigaaa!!”

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Taiga bingung.

Shintaro terkekeh, “Gomen na, aku berbohong pada semuanya. Sebenarnya, aku hanya punya kerja sampingan dan tidak punya bisnis apa-apa,” akunya.

Taiga mengangguk-angguk, “Jadi, kau pegawai baru?”

“Hanya magang kok. Berharap bisa jadi pegawai tetap suatu hari,” tiba-tiba terdengar sahutan Nagatsuma-san dari kejauhan yang memanggil Shintaro, “Jya, boss memanggil. Hehe, jya ne!”

***

Ruangan itu masih sepi ketika Juri melenggang masuk. Berkas berserakan, begitu pula dengan beberapa cangkir kopi, bekas ramen cup dan lain sebagainya. Di sofa seorang Chika tertidur lelap hanya dilindungi oleh sehelai jas putih miliknya.

Juri tersenyum, menatap polosnya gadis itu ketika tidur memang selalu menyenangkan. Dulu sekali, saat mereka masih di kampus, Juri sering mengabadikan wajah Chika yang tertidur di ponselnya. Entah kenapa Konno Chika ini mudah sekali tertidur terutama saat pelajaran umum seperti bahasa inggris atau apapun itu. Ketika bangun gadis itu selalu membela diri bahwa dia harus bekerja paruh waktu hingga jauh malam sehingga waktu tidurnya terkuras apalagi tugas di jurusan kedokteran tentulah tidak main-main banyaknya.

Juri menghampiri meja di hadapan Chika, membuang gelas kertas yang sudah kosong dan membereskan dokumen-dokumen yang berserakan, menutup buku-buku tebal yang juga terbuka, penuh dengan tempelan sana-sini sebagai catatan bagi Chika sendiri.

Gerakan Juri terhenti karena Chika menggeliat, mungkin sedikit terganggu dengan adanya Juri yang lalu-lalang, ia menunduk, membenarkan letak jas yang menutupi tubuh Chika, membelai pelan kening gadis itu, “Shhhtt~ tidur lagi saja, masih ada satu jam,” bisiknya, Chika ternyata hanya mengubah posisinya lalu napasnya terdengar kembali teratur.

Setelah bebenah akhirnya Juri memutuskan untuk mengganti bajunya dengan baju tugas, ia pun masuk ke ruang ganti, membiarkan Chika yang masih terlelap.

DUK!

Suaranya cukup nyaring, Juri mengintip keadaan di luar ternyata Chika terbangun karena suara Kouchi yang masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa.

“Kou-chan!! Berisik!” seru Chika, mengucek matanya yang masih setengah terbuka.

Ohayou!” Kouchi menghampiri Chika, menyentil dahi gadis itu, “Bangun!! Wah kopi.. lucky!!” seru Kouchi mengambil kopi yang tadi disiapkan Juri untuk Chika di atas meja.

“Memang kopinya gak dingin?” tanya Chika, seingatnya meja ini semalam berantakan karena dia belajar semalaman.

“Masih anget kok! Loh? Kirain kamu yang bikin?” tanya Kouchi bingung.

“Sudahlah! Aku juga sudah kebanyakan minum kopi, bikin jus dulu deh!” seru Chika lalu menguap, tepat di hadapan Kouchi yang langsung disambut cubitan di pipi gadis itu.

“Gosok gigi sanaaa!!” protes Kouchi, dan Chika malah semakin bersemangat menggoda Kouchi yang menghindari Chika, “Mana ada yang mau menikahimu kalau begini caranya?!” seru Kouchi ketika Chika menjauh darinya.

“Kan Kou-chan yang harus bertanggung jawab menikahi aku!!” balas Chika.

Sementara itu Juri hanya bisa menghela napasnya, kenapa susah sekali membuatmu melihat ke arahku, Chika? Pertemanan Chika, Juri dan Kouchi memang dimulai sejak kuliah dulu, praktis mereka sering sekali bersama, selama ini pun Juri tau kalau Chika menyukai Kouchi, tapi Kouchi tidak pernah benar-benar menanggapinya.

***

“Chise-chan kalau sudah besar kita akan menikah di sana!” telunjuk Jesse yang baru berumur delapan tahun itu mengarah pada sebuah bangunan sederhana di pinggir pantai, saat itu mereka sedang berlibur ke Okinawa, sebuah perjalanan wajib setiap tahunnya bersama dengan keluarga Lewis.

Untuk musim panas kali ini, keluarga Nagisawa pun diajak, sebagai hadiah karena kesetiaan Nagisawa-san pada perusahaan Lewis sejak hotel pertama dibangun.

Bangunan itu sederhana dengan cat berwarna putih dengan kusen berwarna coklat lembut, hanya ada satu menara yang tidak begitu tinggi, saat Chise melangkah ke dalam, ruangan ini tampak sangat kental dengan nuansa Eropa.

“Ini bangunan apa?” Chise kecil takjub dengan suasana yang sangat hangat di dalam ruangan ini, seakan-akan Chise dapat merasakan betapa rumah ini dipenuhi oleh kebahagiaan.

“Ini adalah rumah yang dibangun kakekku untuk nenekku! Kau tahu Chise, nenekku sangat suka Eropa, kau tahu kan dia bahkan menghabiskan masa tuanya di Inggris?” Chise mengangguk, nenek dan kakek Jesse memang kini tinggal di Inggris, “Dulu sekali, kakekku tidak mampu membawa nenek ke Eropa karena dia sangat sibuk, sehingga akhirnya ia membangun rumah ini untuk nenek,” Jesse menjelaskannya sambil menunjukkan sebuah foto, di dalamnya ada sepasang muda mudi dengan balutan kimono.

“Ini kakek nenekmu?” tanya Chise dengan mata berbinar, ia sendiri belum pernah bertemu dengan neneknya karena neneknya meninggal sebelum ia dilahirkan.

Jesse mengangguk dengan bersemangat, “Mereka keren, kan?! Kelak aku ingin seperti mereka! Menikah karena cinta, menghabiskan waktu berdua hingga maut memisahkan!”

Chise menatap Jesse dengan takjub, “Iya… perceraian itu menyakitkan,” Chise kecil yang baru saja harus menghadapi perceraian orang tuanya beberapa bulan yang lalu itu pun tiba-tiba meneteskan air mata. Ayahnya yang seorang koki hotel, dan ibunya yang bekerja di sebuah bank sangat sibuk dan hampir tidak pernah bertemu, lama kelamaan pertengkaran semakin sering terjadi dan akhirnya Ibu Chise mantap meninggalkan Ayahnya dan dirinya.

“Kalau nanti kau menikah, kau lebih baik di rumah saja seperti Ibuku!” Jesse menghapus air mata Chise dengan tangan mungilnya, “Kata Ayah, istri itu sudah seharusnya ada di rumah,”

Chise belum mengerti apa maksudnya namun mengangguk mengiyakan pernyataan Jesse saat itu.

Jika ingat musim panas itu, Chise rasanya ingin sekali cepat-cepat menikah. Namun sekarang, keadaanya berbeda dan ia hanya bisa menangis mengingat bahwa hubungannya dengan Jesse sudah tinggal sejarah.

Siang ini Chise kembali berada di depan hotel Lewis, ia membawa sebuah kotak besar yang isinya merupakan barang-barang milik Jesse yang ada di mansionnya dan sudah bersiap dengan kenyataan paling pahit : Jesse akan menolak untuk bertemu dengannya.

“Anou… Lewis-san ada di ruangan?” Chise mendekati lobby, dan langsung disambut oleh sebagian besar pegawai di sana. Chise selalu ada di sana, sering sekali berkeliaran di sebelah Jesse selama bertahun-tahun, maka tidak heran kalau pegawai hotel pasti mengenalnya.

“Nagisawa-sama, Lewis-sama ada di ruangan, mari saya antar,” seorang pegawai mengambil kotak yang dibawa Chise dan mengantarnya ke ruangan Jesse walaupun sebenarnya tidak perlu karena tentu saja Chise ingat dimana letaknya.

“Arigatou, Hatori-san,” ucap Chise ketika mereka sudah di depan ruangan Jesse. Dengan sedikit gugup Chise mengetuk pintu dan Jesse pun berteriak untuk mempersilahkan mereka masuk.

“Jesse,” pria yang sedang menunduk di meja kerjanya pun tersentak.

“Ini saya simpan di meja, Nagisawa-sama,” Hatori masuk dan menyimpan kotak hijau itu di atas meja, setelahnya ia pamit kepada Jesse dan Chise.

Ruangan kerja Jesse masih sama dalam ingatan Chise. Meja kayu, kursi dari bahan kulit, dan satu set meja tamu lengkap dengan kursi medium dan kursi besar di depannya. Sofa yang penuh kenangan, dimana Chise sering sekali menunggu Jesse selesai kerja dengan berbaring di situ dan tidak jarang tertidur sehingga Jesse harus menggendongnya ke mobil. Jesse tidak pernah protes jika ia tertidur, ia hanya menyelimuti Chise dengan jas pada awalnya, hingga Jesse membawa selimut kecil untuk menutupi tubuh gadis itu.

“Chise!” seperti slow motion di dalam kepala Chise, Jesse bergerak ke arahnya dan menarik Chise ke dalam dekapannya, “Baka! Kenapa tidak mengangkat telepon dan kau menghilang dari mansion?!” berarti Jesse mencarinya.

Dalam hati Chise terus menguatkan hatinya, jangan sampai membalas pelukannya, jangan menangis Chise, kau di sini sebagai orang yang mematahkan hatinya, jangan sampai kau menangis!

“Aku akan pindah dari mansion minggu ini, dan ini kunci mobil serta semua barangmu yang tertinggal di mansionku,” Chise melepaskan dekapan Jesse.

“Kau mengembalikan semuanya? Tapi itu hadiah, Chise,” ya, suara Jesse memang terdengar frustasi. Baru kali ini Chise-nya tidak mau mendengarkannya.

“Aku tidak lagi berhak atas hadiah hadiah itu, terlalu mahal,”

Pada ulang tahun Chise yang ke dua puluh, Jesse memberinya mansion dan umur dua puluh empat tahun lalu, Jesse membelikannya mobil karena ia makin sibuk dan sulit menjemput kekasihnya itu.

“Tapi…”

“Kumohon, aku butuh waktu untuk tidak memikirkan semua ini, oke?”

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku,” Jesse menahan tangan Chise yang sudah berbalik untuk meninggalkan ruangan, “Kenapa kamu ingin putus?”

Chise menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. Ia sudah berjanji untuk melewati semuanya ini dengan tenang dan tidak terpancing emosi. Karena saat ini yang berbahaya adalah air matanya yang tidak lama lagi akan jatuh.

“Aku sudah menjawabnya, kan?” Chise melepaskan cengkraman tangan Jesse, “Aku sudah tidak mencintaimu lagi.”

Dan saat Chise sampai di halte bis, ia pun menangis meraung-raung seperti biasa. Mungkin sekarang Jesse sudah membencinya. Kalaupun iya, ini pasti jalan yang terbaik.

***

Kanpai untuk Morimoto-kuuunnn!” seluruh pegawai ikut merayakan kedatangan Shintaro malam itu di bar langganan Inagaki-san.

“Jadi merepotkan,” Shintaro hanya bisa tersenyum kepada sepuluh orang yang ada di tempat itu.

Ya. Perusahaan kecil memang, tapi mereka justru terkenal karena ke ekslusifan dan walaupun dikerjakan oleh enam arsitek dan empat orang desainer interior, mereka sudah membangun banyak gedung di Jepang. Shintaro tidak tau bahwa Taiga ternyata salah satu arsitek mereka.

“Jadi, Taiga-kun dan Morimoto-kun saling kenal?” tanya Reiko, salah seorang interior desainer.

Shintaro mengangguk, “Kami teman satu tim basket!”

“Eeehh? Taiga-kun bisa main basket?” seru Reiko tidak percaya.

“Tentu saja aku bisa main basket!” Taiga protes kemampuannya diragukan.

“Tapi Kyomo-chan lebih sering duduk di bangku cadangan!” seloroh Shintaro.

“Urusai!” balas Taiga, disambut gelak tawa semua orang.

Taiga pikir mungkin sebaiknya dia menyingkir sebentar untuk menghindari olok-olok temannya. Ia menuju meja bar untuk memesan wiski saat pendangannya tertumbuk kepada orang yang baru saja ia temui siang tadi.

Anou, Nagisawa-san?” Taiga mendekati tempat duduk wanita itu dan kaget ketika ia menoleh, matanya bengkak dan wajahnya terlihat sangat sedih.

“Eh?” Chise terlihat senang karena ia tersenyum pada Taiga dan detik berikutnya Chise menelungkupkan wajahnya ke meja bar, “Huhuhu… aku patah hati… kau tau kan? Broken heart, broken heart,” Taiga tau Chise sudah mabuk berat.

Taiga menemani Chise mabuk yang setengah jam kemudian sudah tertidur di meja bar.

“Kyomoto-san, kupikir sekarang kau harus mengantarnya pulang,” ucap si bartender di belakang mejanya. Taiga hanya mengangguk dan memapah Chise setelah berpamitan kepada teman-temannya.

“Okay, Nagisawa-san, bisa aku tau dimana rumahmu?” tanya Taiga ketika mereka sudah di dalam taksi, dan tidak ada tanda-tanda Chise akan terbangun. Ia tidak bisa bertanya dimana rumah orang tuanya kepada Inagaki-san karena tidak mungkin memulangkan Chise dalam keadaan mabuk berat seperti ini.

“Okay, aku tidak punya pilihan,” Taiga pun menyebutkan alamat rumahnya.

***

“Hey kau!!” Rumi menunjuk hidung Jesse yang baru saja memutuskan untuk pulang, badannya letih, terlebih lagi pikirannya kalut.

“Rumi?? Ya ampun! Kau sudah pulang?”

Rumi mengangguk kegirangan, menghampiri sahabatnya itu. Sebenarnya Rumi datang tadi siang, tapi dilihatnya Jesse sedang ada urusan dengan Chise, jadi Rumi mengurungkan niatnya dan memilih untuk beristirahat di hotel ini, toh dia juga baru landing dan langsung berkeliaran di Tokyo.

“Menginap di sini?” tanya Jesse bingung.

“Hebat sekali Mr. CEO, hotelmu memang keren!” seru Rumi.

Arigatou, senang mendengarnya dari pelangganku,” Jesse terkekeh, “Tidak pulang ke rumahmu?”

Sambil menggeleng Rumi berjalan ke arah restoran hotel, Jesse mengikutinya, “Tidak ah! Pulang juga gak ada siapa-siapa, besok-besok saja. Aku pulang juga tidak bilang Ayah.”

“Sebentar. Kau tau aku di sini dari mana?” karena seingat Jesse terakhir dia bertemu Rumi, dirinya masih bekerja di hotel utama, belum di tempat yang sekarang.

“Paman yang memberi tahuku. Aku ke hotel utama dan katanya kau sudah membuka cabang baru, terpaksa aku ke sini untuk mencarimu!”

Jesse memerhatikan gadis dihadapannya ini sama sekali tidak berubah. Praktis dirinya dan Rumi selalu bersama sejak mereka masih balita. Jesse sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Tahun terakhir di SMA Rumi memutuskan untuk sekolah di luar, entah karena alasan apa, katanya bosan dengan Jepang lalu menghilang, tidak memberi kabar kepadanya atau bahkan kepada teman-temannya yang lain.

“Ah itu dia datang! Hey!!” Rumi melambaikan tangan ke arah di belakang kepala Jesse sehingga pria itu harus menoleh untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Juri, membawa jas dokternya berjalan ke arah mereka.

“Hey! Eh ada Jesse, hahaha.”

“Kalian janjian?” tanya Jesse bingung.

“Iya, aku ada janji dengan Juri-kun, bye bye bee Jesse-sama!! Kau tidak boleh ikut aku mau pacaran!” Rumi menggandeng  tangan Juri yang belum sempat mengobrol dengan Jesse.

Jya! Have Fun!!

Ada satu rahasia yang hanya diketahui oleh Juri. Sebenarnya Rumi menyukai Jesse, tapi perlahan namun pasti Rumi harus mengakui kekalahannya dari Chise karena Jesse tak bisa berpaling ke orang lain, saat itulah Juri mendampingi Rumi dan merekapun berpacaran walaupun hanya sebatas status saja.

“Kita mau ke mana?” tanya Juri, merasakan tangan Rumi yang erat melingkar di lengannya, “Kau baik-baik saja?”

Rumi menggeleng, dia tidak baik-baik saja, Jesse masih tidak bisa berpaling ke arahnya, “Ke mana saja, aku mau mabuk!” serunya.

***

Saat Shintaro pulang malam kemarin, ia tidak menemukan Ruiko di apartemennya. Shintaro ingin menelepon tapi beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk, Ruiko mengabari bahwa suaminya pulang lebih cepat.

“Ah! Cincin milik Ruiko,” gumam Shintaro memperhatikan sebuah cincin yang tergeletak begitu saja di atas meja rias Ruiko.

Shintaro masih punya waktu beberapa jam sebelum masuk kerja. Dia bangun terlalu pagi, tidak seperti biasanya. Mungkin ia sudah terbiasa tidur dengan Ruiko di sampingnya sehingga rasanya ada yang hilang ketika Ruiko tidak ada di sini.

Ia memutuskan untuk menelepon Ruiko terlebih dahulu. Lama hanya suara sambungan telepon hingga akhirnya telepon tersebut diangkat.

Moshi-moshi?

“Ruiko….”

“Uhm? Iya? Sebentar sayang, aku harus mengangkat telepon ini,” pasti suaminya sedang di dekatnya, “Shin-chan, jangan menelepon jika aku sedang di rumah, mengerti?”

“Cincinmu tertinggal di atas meja rias,”

“Nanti aku ambil. Biarkan saja di situ, aku harus pergi,” terdengar teleponnya dijauhkan saat ia mendengar suara manja Ruiko, “Iya sayang, jadi kapan kita ke Madrid? Minggu ini atau minggu depan?”

Shintaro segera menutup teleponnya, tidak cukup buruk pagi ini ia harus mendengar Ruiko bermanis-manis dengan suaminya. Ia segera bersiap dan memutuskan untuk berhenti di Starbuck sebelum ke kantor. Ia butuh pencerahan, paling tidak segelas kopi yang bukan kopi instan.

“Are? Morimoto-kun?!”

“Nagatsuma-san?!! Ohayou gozaimasu!!” ternyata Reina yang menyapanya, ia tidak tau kalau bosnya itu tinggal di sekitar sini juga.

“Jadi kau tipe black coffee juga? Kupikir kau suka yang lebih manis,” kata Reina lalu duduk di hadapan Shintaro.

“Sedang butuh kafein,” jelas Shintaro, “Anou, aku tidak tau Nagatsuma-san tinggal di sekitar sini juga,”

“Yeah, begitulah. Dunia sempit, kan?” ujar Reina lalu menyesap kopinya.

“Ne, Morimoto-kun,”

“Ya?”

“Sabtu ini kau ada acara?” tanya Reina tiba-tiba.

Shintaro menggeleng, Ruiko tidak pernah bisa bersamanya di hari sabtu. Ruiko harus perawatan, atau menemani suaminya.

“Mau temani aku ke pameran ini?” Reina memberikan sebuah tiket pameran lukisan, judulnya Sanada Reborn, ini adalah salah satu pelukis terkenal yang sudah vakum beberapa tahun dan akhirnya muncul kembali.

“Wow! Aku suka karya-karya Sanada-sensei!” Shintaro tidak bisa menyembunyikan suaranya yang kelewat senang.

“Baguslah, kalau begitu kau bisa temani aku,”

“Hai!”

“Morimoto-kun manis juga ya, hahaha, ayo lebih baik kita berangkat sekarang,” Reina menunjuk pada jam tangannya, tinggal tiga puluh menit sebelum jam kerja dimulai. Shintaro menggangguk dan mengikuti Reina yang berjalan di hadapannya.

Jika ia tidak bersama Ruiko, ia pasti suka pada Reina. Shintaro tidak mengecek umur Reina, tapi berbeda dengan Ruiko yang selalu full make-up, Reina lebih natural. Dan Shintaro suka rambut ikal Reina yang berwarna hitam, sangat natural.

“Jangan melihatku seperti itu, kau bisa jatuh cinta loh!” ujar Reina lalu tertawa memperhatikan ekspresi Shintaro yang terlihat kaget.

***

Pagi ini mungkin bukan pagi yang baik untuk seorang Nagisawa Chise. Dengan kepala yang sakit seperti habis dipukuli, matanya pun terasa berat. Chise mulai sadar ketika menatap langit-langit dan menyadari kalau ini bukan mansionnya. Chise memegangi kepalanya, saat ia menoleh, di sofa terbaring seorang pria.

‘Aku tidak… aku tidak, kan?’ Chise mengecek tubuhnya dan menyadari masih berpakaian lengkap. Chise segera lega, berarti ia tidak melakukan hal bodoh karena mabuk semalam.

Chise beranjak dari ranjang empuk itu dan mendekati pria yang tengah tertidur itu. Oh! Ini Kyomoto Taiga, arsitek yang akan membantunya membangun kafe barunya. Belum sempat Chise mengingat kenapa ada Kyomoto Taiga disini, pria itu terbangun, Chise mundur dan terantuk meja samping ranjang.

“Ouch!” hebat sekali, sekarang Chise merasa lebih pusing.

“Nagisawa-san! Kau baik-baik saja?”

Chise mengangguk cepat, “Aku baik-baik saja, Kyomoto-san. Maaf kalau boleh tau, kenapa kita ada di hotel?” Jelas sekali ini adalah love hotel, dan Chise tidak mengerti mengapa Taiga membawanya ke sini.

“Maafkan aku Nagisawa-san. Aku sebenarnya akan membawamu ke rumahku, tapi bukankah aneh jika aku membawa seorang gadis mabuk ke rumahku, maksudku aku masih tinggal di rumah orang tuaku,”

“Oh, baiklah,” tentu saja akan sangat canggung jika ia terbangun d rumah orang tua seorang Kyomoto Taiga.

“Maka aku tidak punya pilihan lain,” jelak Taiga lalu ia membungkuk, “Maafkan aku, Nagisawa-san!!”

“Sudahlah, ini juga salahku karena mabuk semalam, terima kasih sudah membawaku kemari.”

Taiga mengantar Chise pulang ke mansionnya sebelum ia harus kembali ke kantor.

“Kau mabuk hebat sekali, Nagisawa-san,”

“Apa aku mengatakan hal-hal aneh?” Chise tau persis bahwa ia tidak terkontrol selama mabuk. Ia jarang mabuk, dan jika mabuk, Jesse selalu bilang Chise seperti orang gila.

“Kau berteriak sepanjang perjalanan ke hotel,” ucap Taiga sambil terkekeh, “dan kau bilang kau patah hati, kau juga menangis,”

Chise hanya bisa tertawa miris, ia pasti jelek sekali semalam, “Yah, aku baru saja putus dengan pacarku.”

Taiga tidak berani bertanya, ia hanya mengangguk tandanya ia mengerti mengapa Chise begitu terlihat sedih.

“Baiklah, sudah sampai. Terima kasih Kyomoto-san. Hubungi aku mengenai kafeku, ya?” Chise turun di sebuah bangunan mansion setelah itu segera meluncur ke lantai empat puluh.

Chise menekan belnya, menunggu beberapa menit sebelum akhirnya pintu dibuka, “Hokuto?! Belum berangkat?”

“Aku baru akan berangkat, Chise, dan kau bau alkohol!” seru Hokuto yang sudah menenteng tas kerjanya.

“Terima kasih,” Chise tersenyum dan segera masuk ke dalam mansion itu, “Hikariiii!!”

Hikari berlari ke depan dan memeluk sepupunya itu, “Chise-chaann!”

“Baiklah, aku berangkat dulu!” ucap Hokuto, “Ittekimasu!

Itterashaaaiii!!” jawab Hikari dan Chise bersamaan.

Thanks for the breakfast!” ucap Chise dengan mulut penuh waffle setelah Hikari memintanya duduk di meja makan.

“Sama-sama,” Hikari maklum Chise sering menggunakan bahasa Inggris karena masa sekolah Chise sejak SMP hingga SMA dihabiskan di Amerika, setelah itu ia kembali untuk kuliah.

“Jadi kau mabuk, dan bangun di hotel dengan orang yang tidak kau kenal? Bukankah itu bodoh?!” seru Hikari.

Chise mengangguk, “Super bodoh. Well, aku kenal dia sih, dia adalah arsitek yang akan mengerjakan proyek kafe ku, kau tau?”

“Tapi, aku tau kau Chise. Kau tidak akan mabuk kecuali ada hal yang sangat mengganggumu. Jesse?” tanya Hikari hati-hati.

Well, yeah, aku putus dengan Jesse,”

“Haaahh?! Kenapa? Ada apa dengan kalian? Maksudku, minggu kemarin kita baru double date dan tidak ada apa-apa dengan kalian!!” Hikari kaget sekali karena mengetahui kalau Jesse sangat mencintai Chise, begitupun sebaliknya.

“Aku tidak yakin kalau aku adalah wanita yang pantas untuk mendampingi Jesse,” mata Chise terlihat menerawang, “Dia baik sekali, dia manis sekali, dia tidak pernah lupa tanggal jadian kami, tapi aku tidak bisa mentolerir waktu kerjanya. Sementara dia menginginkan aku untuk diam di rumah, jadi istri yang baik.”

Hikari mengerenyit, “Ada yang salah dengan itu?”

“Tentu saja ada. Aku masih punya banyak mimpi. Jesse memberiku segalanya walaupun aku tidak meminta, ia melimpahiku dengan harta, ia memberiku hidup yang nyaman walaupun kami bahkan belum menikah. Lalu di satu titik aku merasa hampa, apa aku hanya akan begini seumur hidupku? Tidak bekerja, shopping sepanjang hari?” ucap Chise yang kemudian menyesap kopinya, “Selain itu pekerjaan Jesse yang di atas kertas senin sampai jumat dan pada kenyataannya senin sampai minggu, aku rasa hubungan kami tidak berjalan lancar. Aku merasa lebih sering kesepian walaupun kami sedang bersama. Jesse tidak pernah tidak mengangkat teleponnya walaupun kami sedang berkencan apabila itu dari kantornya, sabtu dan minggu kami penuh dengan bertemu relasi-relasinya, kupikir sudah saatnya aku mencari mimpiku dan Jesse mencari mimpinya sebelum kami benar-benar memutuskan untuk bersama lagi, atau menemukan orang lain.”

Hikari mendesah, “Jesse sudah melamarmu sejak kalian masih umur delapan tahun, Chise, apa itu tidak berarti bahwa Jesse mencintaimu? dan kupikir tidak ada salahnya Jesse memberimu segalanya, kalian akan menikah juga kan pada akhirnya? Maksudku, Jesse tidak mungkin selingkuh atau semacamnya. Dia terlalu mencintaimu!”

“Aku sudah mengembalikan semuanya. Mansion, mobil, walaupun aku tidak bisa mengembalikan semua uang yang sudah ia berikan, setidaknya barang-barang beharga itu sudah ku kembalikan.”

“Kau gila!”

“Ya, aku gila dan aku rasa aku sekarang merasa sangat….” Chise mencari kata yang tepat, “Bebas!”

Hikari tidak tau kalau Chise merasa se tertekan ini selama bersama Jesse. Bagaimanapun Jesse adalah satu-satunya pria yang Hikari tau dicintai sepupunya itu. Bahkan Hikari harus rela setiap hari mendengar nama Jesse saat mereka akhirnya resmi pacaran, di awal mereka masuk kuliah. Tapi Hikari pun tau bahwa Jesse adalah pria yang tegas dan sangat pemaksa jika ia menginginkan sesuatu. Entah ada apa, tapi kemungkinan ada sesuatu dibalik ini semua.

“Baiklah, aku dan Hokuto akan ke dokter siang ini, jadi kau mau disini saja?”

“Dokter? Kau…. hamil?” tanya Chise.

Hikari menggeleng, “Belum, kami akan minta treatment IVF atau apapun agar aku cepat hamil,” jawab Hikari.

Chise mengangguk mengerti, “Boleh aku numpang tidur dulu? Dan pinjam baju setelah itu aku akan pulang ke mansion untuk membawa bajuku ke rumah Ayah,” jelasnya lagi.

Wakatta, aku mau cuci baju dulu, lebih baik kau pakai salah satu baju tidurku sana!” Hikari beranjak dan menuju ke belakang sementara Chise mengambil baju tidur dan berakhir di ranjang kamar tamu.

Tapi tidak untuk tidur, Chise hanya berbaring dengan air mata terus mengaliri pipinya, dan bantal milik Hikari, mungkin dia akan kena marah sehabis ini. Tapi dia sedang tidak peduli kalau wajahnya bengkak karena terlalu banyak menangis.

***

Tidak bisa berpikir jernih, tapi Jesse tau ia banyak sekali meeting dan pekerjaan hari ini. Ia tidak bisa menunda beberapa meeting yang sangat penting itu.

“Hana, bawakan aku kopi lagi,” Jesse menghubungi skretarisnya melalui intercom.

“Iya pak,”

Beberapa saat kemudian pintu ruangannya terbuka namun yang muncul malah Hokuto, dengan segelas kopi di tangannya, “Kopimu, pak bos,” Hokuto menyimpannya di hadapan Jesse.

“Jangan panggil aku…”

“Baiklah-baiklah. Jesse, jadi yang membuatmu minum kopi di gelas ketiga ini padahal ini masih jam 10 pagi, Chise?” tanya Hokuto lalu duduk di hadapan Jesse.

“Kita putus dan aku bahkan tidak tau apa alasannya. Bukankah itu aneh?”

“Banyak spekulasi di luar sana, karena kau sekarang jadi trending topic di sosial media,” ucap Hokuto yang kini menunjukkan layar ponselnya pada Jesse, “Lewis Jesse single lagi? Kau pasti akan jadi incaran di pesta-pesta,”

Jesse mendesah, “Aku benar-benar tidak tertarik, Hoku,” ucapnya lalu menutupi mukanya, “Apakah aku terlalu cepat memintanya menikah?”

“Kau melamarnya?!” seru Hokuto kaget.

“Sebenarnya iya. Minggu lalu saat kami makan malam di The Royal, dan saat itu dia bilang ingin memikirkannya terlebih dahulu. Lalu tiba-tiba, dia bilang tidak mencintaiku lagi. Siapa yang percaya alasan macam itu?!” seru Jesse yang tidak bisa menutupi kekesalannya.

“Tapi kalian sudah pacaran berapa taun? Enam tahun?”

“Tujuh tahun,” jawab Jesse cepat.

“Apa dia bosan padamu?”

Jesse melemparkan sebuah bantal yang ia pakai untuk bersandar pada Hokuto, “Mana mungkin?!”

“Mungkin dia mulai sadar kalau kau itu tukang ngorok dan tukang kentut, hahaha,”

Jesse melotot, “Baka!!

“Hahaha. Aku bercanda, sudahlah, mungkin Chise butuh ruang sebentar untuk memikirkan semuanya. Semuanya akan baik-baik saja, aku yakin,”

“Semoga saja.”

“Ngomong-ngomong, aku ke sini untuk minta izin. Aku sudah ada janji dengan dokter. Hikari ingin kami berkonsultasi, kau tau, bayi,” ucapnya setengah hati.

Wakatta, kembali sebelum jam dua.Kita ada meeting jam dua,” kata Jesse.

“Siap bos! Cerialah! Cari wanita, bersenang-senang!!” kata Hokuto sambil meninggalkan ruangan Jesse.

Tidak semudah itu. Jesse tidak pernah memikirkan bagaimana hidupnya tanpa Chise. Seumur hidup, sejak dirinya berkenalan dengan Chise pada umur delapan tahun, ia selalu tau bahwa Chise adalah orang yang paling tepat untuknya. Ketika Chise memutuskan untuk sekolah di Amerika, Jesse sempat tidak terima namun akhirnya mengizinkan dengan serentetan pesan dan teror telepon di setiap harinya. Hidupnya selalu tentang Chise, gadis itu adalah inspirasi dan sumber kebahagiannya, dan tiba-tiba saja sumber kebahagiannya pergi? Bagaimana ia bisa melanjutkan hidupnya?

***

Seika masuk ke kamar Ayahnya, wajah pria berumur tujuh puluh tahun itu terlihat letih. Ia mencium pipi Ayahnya, mereka sudah merencanakan operasi pengangkatan kanker minggu depan.

“Seika, lebih baik tidak usah operasi segala. Semuanya terlalu mahal!” ucap Ayahnya sesaat setelah Seika duduk di sebelah ranjang.

Seika menggeleng cepat, “Tidak Ayah! Sudah kubilang aku akan mengusahakan apa saja agar Ayah sembuh!”

“Tapi… kau yakin?”

Seika mengangguk cepat, “Sudahlah. Yukari bilang kakek cepat sembuh, ia ingin main di lumpur lagi bersamamu,” Yukari dititipkan di penitipan yang ada di lantai dasar Rumah Sakit.

Ayah hanya tersenyum, selama ini Seika selalu bersyukur karena ia punya Ayah seperti Ayahnya. Tidak pernah sekalipun Ayah marah walaupun Seika pulang dalam keadaan hamil, Seika menangis meraung-raung dan tak pernah sekalipun Ayahnya marah. Ia hanya terus menjaga Seika dan Yukari. Inilah yang bisa ia lakukan untuk Ayahnya, menyelamatkannya dari penyakit ini.

“Kau tidak boleh meninggalkan Yukari terlalu lama, Seika, dan ini sudah jam makan siang!” Ayahnya mengingatkan ketika Seika sedang membereskan pakaian Ayah.

“Baiklah. Kau harus menghabiskan makananmu,”

“Dan aku tidak akan lupa makan obat. Lagipula dokter tidak pernah berhenti memperingatkan aku!” ucap Ayah lalu terkekeh pelan.

Seika mencium kening Ayah dan beranjak keluar untuk menjemput Yukari sebelum gadis kecil itu berbuat onar. Ia tadi meninggalkan Yukari di pusat Ibu dan anak, mata Seika mencari sosok gadis mungilnya, dan matanya tertumbuk pada seorang pria yang sedang membacakan sesuatu pada Yukari.

“Ya ampun!! HOKUTO!!”

Hokuto menemukan gadis kecil itu menangis tadi, ia jatuh terpeleset saat bermain perosotan dan karena Hikari belum muncul, ia merasa iba dan mendekati gadis kecil yang ternyata bernama Yukari itu.

“Seika!! Astagaaa!!” Hokuto kaget setengah mati menyaksikan Seika menghampirinya.

Mitsumiya Seika. Gadis yang selalu ada bersamanya sejak mereka masih belajar berjalan atau mengeja huruf ABCD. Seika adalah gadis yang tinggal tepat di sebelah rumahnya di Sendai. Mereka bahkan sekolah di tempat yang sama sejak TK hingga SMP, saat SMA keluarga Hokuto pindah ke Tokyo, dan mereka masih berhubungan lewat e-mail atau telepon hingga Hokuto menjadi sibuk begitu pula Seika, namun mereka sempat bertukar pesan ketika Seika di Tokyo, namun tiba-tiba Seika menghilang, tak pernah membalas satupun pesan dari Hokuto.

Seika memeluk Hokuto, sepertinya terlalu lama mereka tak bertemu, dan membuat Seika setengah mati merindukan sahabatnya itu. Hokuto membalas pelukan Seika tak kalah eratnya. Gadis ini sudah Hokuto anggap sebagai adiknya, walaupun secara teknis Seika lebih tua darinya beberapa bulan saja.

“Mama, Mama, ini Papa?” Yukari menarik-narik rok Seika, yang disambut tawa Seika dan wajah bingung Hokuto.

“Bukan Yukari sayang, ini Paman Hokuto, dia teman Mama,”

“Tunggu sebentar Seika,” nada suara Hokuto berubah panik, “Anak? Kau punya anak dan tidak memberitahuku?! Kapan kau menikah?!”

“Lebih baik kau tenang sedikit. Orang-orang memperhatikanmu!” kata Seika, dan Hokuto pun mengangguk.

Seika membiarkan Yukari bermain dengan anak sebayanya lagi, dan duduk di dekat ruang tunggu bersama Hokuto.

“Aku harus mulai dari mana?” tanya Seika melihat bahwa Hokuto tidak akan melepaskan Seika tanpa penjelasan detail dari keseluruhan hidupnya.

“Mulai dari… kapan kau menikah? Dan saat kau menikah tidakkah menurutmu penting untuk memberitahu sahabatmu ini. Satu-satunya sahabatmu ini ke pernikahanmu?”

Seika tertawa, “Hokkun, aku tidak yakin aku bisa menceritakan hal itu sekarang, pasti akan panjang sekali dan kita butuh waktu lebih lama,” hanya ada dua orang yang memanggilnya ‘Hokkun’, Seika dan sekarang Hikari.

“Aku bisa duduk disini dan mendengarkanmu,”

“Kurasa tidak.”

Hokuto mengerenyitkan dahinya, “Kenapa?”

“Seseorang terus memperhatikanmu,” Seika menunjuk seorang wanita yang berjalan ke arahnya dan Hokuto.

“Oh ya!! Hikari!! Kemari!!”

Hikari bingung kenapa suaminya malah berbicara dengan seorang wanita yang bahkan tidak ia kenal.

“Hai?”

“Namaku Mitsumiya Seika,” kata Seika memperkenalkan diri.

Oh! Hikari baru ingat. Ini adalah Seika-nya Hokuto. Ia tidak menyangka gadis itu, well, sekarang wanita itu benar-benar ada. Hokuto selalu bercerita ia punya seorang sahabat perempuan yang kebetulan tinggal di sebelah rumahnya. Pergi ke sekolah bersama setiap hari, makan bekal makan siang bersama, ke festival kembang api di Sendai bersama, bahkan mungkin Hikari mulai curiga Seika adalah cinta pertamanya Hokuto, yang mungkin tidak disadari pria itu.

“Matsumura Hikari,” ucap Hikari dengan senyuman yang harus ia tunjukkan walaupun ia tak merasa ingin tersenyum.

“Lihat Hokkun… kau pun menikah dan tidak memberitahuku! Jadi kita impas!” seru Seika ketika menyadari sahabatnya itu ternyata menggunakan cincin di jari manis tangan kirinya.

Hokuto memajukan bibir bawahnya, merasa kesal, “Tapi aku memberi tahumu lewat e-mail!! Kau bahkan tidak menjawabnya!!” protes Hokuto.

Seika hanya bisa tersenyum, “Kalau begitu aku lebih baik kembali ke ruangan Ayah,”

“Ayah sakit?”

Hikari mengerenyit karena Hokuto memanggil Ayah Seika seperti Ayahnya sendiri. Hikari melihat Seika mengangguk.

“Sei-chan!! Ini… hubungi aku nanti!” seru Hokuto seraya menyerahkan sebuah kartu nama kepada Seika sebelum akhirnya wanita itu menghilang sambil menggendong Yukari.

***

To Be Continue

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Flavor Of Love (#2)

  1. dindobidari

    Iga wahaha.. dia beruntung kliennya ngga rewel.. langka 😂 coba kalo udah bikinnya waktunya sempit, rewel pula. Wahaha.. bersyukurlah 😂
    Juri.. kacian 😢 udah jones, ngga dipekain pula.. eh aslinya peka sih, cuma chikanya yg ngga mau 😂 semoga segera ketemu jodoh..
    Aaaaaaaaaaaaaaaaaaa 😂😂😂 waaaaaaaaaa 😂😂😂😂 enjess punya semuanya tapi ditinggalin.. 😢 tau begini mending hidup sebagai orang biasa aja tapi ngga ditinggalin 😢
    Iga kekurusan kalo basket bisa patah2 XD
    Nganuuu.. life is so complicated 😂😂 jess pacalan sama chise terus putus, chika seneng sama kouchi tapi kochi biasa, juri seneng sama chika tapi chikanya engga, jadi pacalan sama rumi, itupun cuma status, dan saling tau tentang rumi yg selalu patah hati karena jess.. terus shintaro terjerumus ke pelukan istri orang.. eta terangkanlah.. 😂
    ANSBJXJXXDJDKFKDKKDJ SANADA REBORN 😍😍 A~SJSZNNDJDJDCHXNXLDJ JSJDNDKXNKXHFX JDKDNXNXKFLFNCKFLKFJ DJDKKDKDJ DBDNKCJFKFMCKFNDKXKJFJJ

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s