[Multichapter] MONSTER (#5)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 5)
Cast : Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

“Shigeoka-Kun?”

Chika menatap bingung dua orang itu. “Kalian saling kenal?” tanyanya.

Taiga mengangguk, dia menatap bingung sosok didepannya ini. Taiga mengenalnya, dia Shigeoka Daiki, teman sekelasnya di tempat bimbingan belajar. “Kau kenal dengan Ch… Konno-san?” tanya Taiga.

“Dia sepupuku,” jawab Chika tersenyum.

Taiga terkejut dan menatap Chika, dia ganti menatap Daiki yang tersenyum. Daiki menoleh, dia lantas tersenyum cerah kepada Miyuki yang menatapnya berbinar. “Astaga, kau Miyuki-chan?” tanya Daiki, “kau sudah besar ternyata. Aku masih ingat dulu kau selalu mengekor Taiga-Kun kemana-mana. Sampai sekarang masih begitu?”

“Lebih tepatnya sekarang Nii-San yang mengikutiku kemanapun,” jawab Miyuki, “astaga, aku tidak mengira kau dan Konno Senpai bersaudara. Itu artinya kau…”

“Ah, aku lupa harus menemui Jinguji,” Daiki menginterupsi Miyuki, “aku permisi dulu.” Daiki melangkah keluar kamar.

Taiga memicingkan mata, dia langsung berlari menyusul Daiki. “Kau tidak pernah memberitahuku kalau kau seorang Haguro, Shigeoka-Kun,” sahut Taiga.

Daiki menoleh, dia tersenyum menatap Taiga dan membalas, “Memang apa perlunya memberitahumu? Tidak masalah seseorang berasal dari klan Haguro, Nogumi, atau Yahagi, kan?”

Taiga diam menatap Daiki, kesunyian menyelimuti keduanya. “Apa kau akan memusuhiku setelah ini?” tanya Daiki. Pertanyaan itu membuat Taiga terhenyak. Daiki tersenyum, dia berkata, “Kau pasti akan membenciku setelah ini, ne, Kyomoto-Kun?”

“Aku tidak tahu,” jawab Taiga pelan. Daiki tersenyum, dia melangkah meninggalkan Taiga yang masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Dia tidak percaya Daiki bagian Haguro, padahal dulu mereka selalu bersama dan dia sudah tahu kebencian Taiga terhadap Haguro. Taiga mendengus, dia mengacak rambutnya kesal dan akhirnya kembali menuju kamar Chika.

***

Shoki berjalan pelan bersama Chiru, dia melirik dan menghela napas melihat wajah Chiru yang terlihat kesal. “Iya, aku minta maaf tidak memberitahumu soal keadaan Hideyoshi-San,” sahut Shoki, “jangan cemberut begitu, dong.”

“Kau seharusnya memberitahuku,” Chiru membalas, “kalau begini aku, kan, terkesan tidak setia kawan. Harusnya aku sudah menjenguknya jauh-jauh hari,” Chiru mempercepat langkahnya, dia kesal sekali dengan Shoki. Kenapa Shoki harus merahasiakan kondisi Sora darinya? Chiru jadi merasa bersalah baru menjenguk Sora tadi, walaupun dia lega kondisi Sora sudah jauh lebih baik.

Shoki menahan Chiru, dia berujar, “Aku tidak memberitahumu karena saat itu kondisimu juga sedang tidak baik, kan? Makanya aku tidak bicara apa-apa.”

“Tapi aku baik-baik saja,” Chiru memprotes.

“Jadi tidak sadar selama tiga hari itu kau sebut baik-baik saja?” balas Shoki.

Chiru terdiam, dia menggeleng pelan. Shoki menghela napas, dia memegang bahu Chiru dan berkata, “Sebelum kau mengkhawatirkan kondisi orang lain, pastikan kondisimu juga baik-baik saja. Kalau kau sendiri terluka, bagaimana kau bisa menjenguknya?” Shoki tersenyum, dia merangkul Chiru dan kembali berjalan. Chiru tersenyum kecil, dia menghela napas dan menatap langit yang tampak cerah.

“Aku masih tidak paham dengan kejadian belakangan ini,” ucap Chiru, “sebenarnya apa yang menyerang kota ini? Datang dari mana monster-monster itu?” Chiru menatap Shoki, dia meneruskan, “Apa legenda itu benar-benar ada?”

Shoki terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Akan sangat aneh kalau dia mengatakan dia adalah salah satu monster legenda itu kepada Chiru. “Kau tahu, aku masih tidak menyangka kau memiliki tenaga sebesar itu untuk menolongku,” ucap Chiru, “itu keren sekali. Tapi, bagaimana kau bisa mengalahkannya?”

“Oh, itu kan karena aku mencintaimu,” Shoki mengeluarkan rayuan recehnya, “bukannya kau pernah mengatakan kalau cinta itu bisa membuat seseorang menjadi kuat?”

“Sora-chan yang mengatakannya,” Chiru mengoreksi.

Shoki terkekeh. Dia harus mengalihkan topik obrolan. Masalahnya bukan karena topiknya, tapi Shoki suka kelepasan bicara kalau sudah membahas soal monster. Bisa kacau kalau dia kelepasan bicara. Nanti Chiru tidak mau berdekatan dengannya lagi.

***

Haru menghela napas, dia menyeka keringatnya dan duduk di beranda. Haru menoleh, dia menatap merana sebagian rumahnya yang hancur karena serangan aneh beberapa hari lalu. Untung cuma bagian kamar mandi dan sebagian dapur yang rusak, tapi gara-gara itu dia harus ke rumah Sora pagi-pagi sekali hanya untuk menumpang mandi. Memalukan sekali, dia merasa sangat miskin.

Haru menghela napas, dia menatap langit yang cerah. Pikiran Haru terbawa pada saat Myuto menyuruhnya sembunyi. Ucapan Myuto sama dengan ucapan ibunya waktu itu, menyuruhnya sembunyi dan tidak keluar sampai dia dipanggil. Haru sempat takut Myuto tidak akan kembali seperti ibunya, tapi ketakutannya tidak terbukti. Myuto kembali dan memanggilnya, entah kenapa dia merasa sangat lega. Haru menunduk, dia meringis merasakan sakit di kepalanya. Rasa sakit itu selalu datang setiap kali dia mengingat kejadian dua tahun lalu, saat orangtuanya tewas karena serangan aneh di rumahnya. Ada gejolak kemarahan di dadanya, ingin sekali dia membalas dendam atas kematian orangtuanya.

Tapi kepada siapa?

“Haru-Chan, kau di dalam?”

Haru menoleh, dia beranjak menatap Hokuto yang masuk bersama Myuto. “Sudah kuduga kau disini,” ucap Hokuto, “kau baik-baik saja?” Hokuto mendekat, dia mendekap Haru erat, memberi tanda bahwa Haru tidak perlu khawatir. “Nanti sore, kita akan mengadakan pesta penyambutan,” Hokuto menjelaskan, “Hideyoshi Senpai akan pulang hari ini. Kau mau ikut?”

“Wah, aku tidak mau ketinggalan,” Haru membalas, “yang lain pasti datang, kan?”

“Kalau mereka jelas datang,” jawab Myuto. Haru sudah paham ‘mereka’ yang dimaksud Myuto. Dia tidak akan mau menyebut nama Taiga dan yang lain.

“Ayahku berkata, dia akan mengirim beberapa anak buahnya untuk memperbaiki rumah ini,” Hokuto berucap, dia menatap Haru dan buru-buru menambahkan, “jangan khawatir soal bayaran, mereka sudah mendapat gaji sendiri.”

“Sepertinya aku selalu merepotkan kalian,” ucap Haru.

Hokuto menatap Myuto, dia lantas tersenyum dan menatap Haru. “Kau adalah bagian dari kami, Haru-chan,” ucap Hokuto, “kau sudah kuanggap saudaraku, jadi apa salahnya kalau aku membantu saudaraku?”

Haru tersenyum, dia mengangguk. “Baiklah, ayo kita menyiapkan penyambutan,” ucap Myuto, “oh iya, kau sudah menjenguk Nishinoya Senpai belum? Eh tapi dia sudah baikan, sih.”

“Hm? Nishinoya Senpai kenapa?” tanya Haru bingung.

Hokuto baru akan menjawab saat pintu terbuka keras. Shintaro berlari, dia memasang wajah panik. “Ini gawat,” ucap Shintaro, “rumah sakit tempat Hideyoshi Senpai dirawat sekarang diserang monster!”

***

Aran terhempas ke dinding, dia terbatuk dan berdiri sambil menahan rasa sakit di punggungnya. Dia memicing menatap seseorang berwajah bengis di depannya. Tangannya membentuk cakar mengerikan, wajahnya jadi terlihat seperti iblis yang kabur dari neraka. “Kudengar Nogumi itu kuat,” ejeknya, suaranya serak dan tidak enak didengar, “ternyata tidak lebih kuat dari bocah berusia 5 tahun. Menggelikan sekali.”

“Brengsek!” Aran menerjang sosok itu, dia mencakar kuat lehernya hingga meninggalkan bekas cakaran yang terbuka lebar. Aran tidak mau lagi bermain-main, dia harus menunjukkan bahwa Nogumi adalah yang terkuat. Aran kembali menerjang monster itu, dia melancarkan serangan-serangan yang sebagian besar tidak terlalu berefek kepadanya. ‘Sial, kalau begini aku yang akan mati kelelahan,’ batin Aran kesal, ‘kenapa dia kuat sekali?’

“Awas!”

Aran terkejut, dia kembali meringis kesakitan. Aran melihat Shintaro berdiri didepannya, dia terengah-engah dan mengepalkan tangannya bersiap meninju monster itu. “Kau pikir kau akan selamat dengan berdiri seperti orang bodoh begitu hah? Baka,” ucap Shintaro, “akan kutunjukkan bagaimana cara mengalahkan monster.” Shintaro berlari, dia meninju monster itu. Shintaro tersenyum melihat sebagian wajah monster itu hancur, tapi senyumnya seketika lenyap saat monster itu berdiri dengan wajah utuh. “Kau… kau ini apa?” gumam Shintaro.

“Aku monster,” jawabnya, dia menyeringai mengerikan dan berlari menerjang kearah Shintaro.

Jesse berlari kencang sambil menggendong Sora di punggungnya. Untung saja dia tepat waktu, kalau tidak Yasui pasti akan memenggal kepalanya karena tidak bisa menjaga Sora. “Lewis-San,” suara Sora menyahut pelan, “apa semua baik-baik saja?”

“Jangan khawatir dengan yang lain, Senpai,” sahut Jesse, “mereka bisa menjaga diri mereka sendiri,” Jesse berbelok, dia berlari melewati gang sempit. Jesse sempat berpikir akan membawa Sora ke rumahnya, tapi dia tahu yang lain sedang menyiapkan pesta kejutan untuk menyambut Sora. Sekarang, yang dia pikirkan hanyalah rumahnya sendiri. Rumahnya agak tersembunyi, jadi pasti aman kalau Sora ada disana.

Jesse berhenti, dia menengok keluar gang memastikan tidak ada monster disana. Jesse menghela napas, dia berlari keluar gang. Baru beberapa meter dia berlari, Jesse mengerem kakinya mendadak saat seseorang muncul didepannya.

“Nogumi,” orang itu menggeram, dia terlihat seperti narapidana yang kabur dari penjara.

Jesse berusaha tenang, dia sedikit takut Sora akan mengerti soal legenda monster-monster itu. “Aku benci Nogumi!” orang itu meraung, dia berlari menerjang Jesse tapi Jesse dengan cepat menghindar.

“Fasten your seatbelt, Senpai,” ucap Jesse, dia menghela napas dan berlari kencang menghindari orang itu.

“Kenapa dia menyebut-nyebut nama Nogumi?!” suara Sora terdengar agak keras, “kenapa dia menyebut-nyebut nama monster yang jadi legenda itu?!”

                ‘Mati aku,’ Jesse membatin panik, dia balas berteriak, “Dia pasti sudah gila, Senpai! Beberapa hari ini, kan, ada serangan aneh di kota! Dia terlalu termakan dongeng itu!”

Tidak ada jawaban dari Sora. Jesse menghela napas lega, dia berbelok dan lega melihat Juri berlari kearahnya. “Biar kuamankan Hideyoshi Senpai,” Juri langsung menggendong Sora di punggungnya, “kau berangkatlah ke rumah Haru-chan, amankan dia.”

“Kenapa bukan Taiga saja yang mengamankannya? Mereka berteman sejak kecil,” sahut Jesse.

“Haruskah aku menjelaskannya kepadamu?” Juri menatap gemas Jesse, ingin sekali dia menjejalkan kepala temannya itu kedalam panci sup. Juri berlari sambil menggendong Sora yang kebingungan. “Tanaka-Kun, apa semua baik-baik saja?” tanya Sora. Juri mengangguk saja, dia terus berlari menuju rumah Jesse.

***

Shori berjalan pelan, dia berhenti kala melihat seseorang berjalan dari arah berlawanan. Shori diam, sementara orang itu tersenyum dan berhenti tepat di depannya. “Kau sudah berhasil menjalankan rencanamu, Sato-Kun?” tanyanya tenang. Shori menghela napas, dia berkata, “Apa aku terlihat sudah menjalankan rencanaku?”

“Belum,” jawab orang itu.

“Ya sudah. Itu jawabannya.”

Orang itu menghela napas, dia berjalan dan duduk di tepi jembatan. “Kudengar kau menyelamatkan Konno Chika dari serangan monster itu,” ucap Shori, “kau ceroboh sekali. Bagaimana kalau dia mengenalimu?”

“Tidak perlu khawatir,” jawab orang itu tenang, “saat itu dia terluka parah dan sudah hampir tidak sadar, jadi kecil kemungkinan dia menyadari keberadaanku, kan?” Dia menatap Shori yang juga menatapnya, mereka diam beberapa saat.

“Jangan menunda lebih lama lagi, Sato-Kun,” ucapnya, “mereka terus menjalankan semua rencana.”

“Aku tahu,” ucap Shori, “aku hanya menunggu waktu yang tepat.”

“Kapan?”

“Jangan mencecarku. Kau ini mirip sekali dengannya.”

Yugo memperhatikan dua orang itu dari kejauhan. ‘Itu Sato-Kun, lalu satunya lagi siapa?’ batinnya. Yugo tahu, mereka seperti membahas sesuatu yang serius. Yugo memicing curiga menatap Shori, dia kemudian berlalu dari lokasi persembunyiannya.

***

“Okaeriiiii!”

Sora terharu melihat sambutan teman-temannya, dia tersenyum senang. Chiru memeluk Sora, dia berkata, “Maaf aku tidak sempat menjengukmu, Sora-chan. Aku senang kau baik-baik saja.” Chiru melepas pelukannya, dia tersenyum kepada Sora. Sora melihat dekorasi rumahnya, dia sudah menduga Haru dan Kaede pasti ikut campur dalam penataan. Ada beberapa balon dan pita yang tidak terpasang sempurna, siapa lagi kalau bukan mereka biangnya.

Sora menatap teman-temannya, dia tidak menangkap sosok Yasui disana, “Kaede-Chan, dimana…”

“Nii-San sedang ada urusan,” jawab Kaede, “tapi dia akan datang kemari, jangan khawatir.”

Sora mengangguk, dia menatap Haru yang berdiri didekat Taiga dan Hokuto, “Aku ikut sedih mendengar rumahmu hancur, Haru-chan,” ucap Sora, “kau tinggal disini saja sampai rumahmu selesai diperbaiki.”

“Yang rusak hanya kamar mandi dan dapur,” sahut Haru, “sudahlah, sekarang waktunya berpesta. Senpai, kan, baru sembuh, jangan memikirkan hal-hal yang aneh.”

“Haru-Chan benar,” ucap Chiru, “ayo berpestaaaaaa.”

Jesse mendorongkan kursi roda Sora. Haru menghela napas, dia duduk di beranda. Dia sangat lega melihat Sora baik-baik saja. Haru menatap ke arah yang lain, dia tidak melihat Shori dan Kai. Kalau Jinguji dan kawan-kawannya, sih, Haru tidak terlalu berharap mereka akan datang. Toh, mereka tidak pernah bergabung dengan yang lain. Tapi melihat Kai tidak muncul, Haru gelisah sendiri. Dia ingat sudah mengatakan hal buruk kepada Kai, pasti Kai marah kepadanya. Shori juga tidak terlihat, dia tidak muncul sejak serangan di rumahnya terjadi. Haru meringis, dia mendesis merasakan kepalanya berdenyut.

“Miyazaki?”

Haru mendongak, dia berdiri dan tersenyum kepada Myuto yang mendekat. “Kau baik-baik saja?” tanyanya, “apa kau tidak enak badan? Ayo, kuantar pulang.” Myuto menarik Haru.

Haru menahan dan menggeleng. “Aku baik-baik saja,” ucapnya. Haru menghela napas, dia menatap Myuto dan mendekat, “Morita-san, aku ingin minta tolong.”

Taiga menatap Haru yang mengobrol bersama Myuto, dia berdecih dan duduk di sofa. Taiga menghela napas, dia masih memikirkan pertemuannya dengan Daiki di rumah Chika. Taiga masih tidak menyangka Daiki adalah bagian dari Haguro, dia tidak mengerti kenapa aura Haguro di diri Daiki tidak terasa sama sekali. Taiga selalu tahu seseorang berasal dari kalangan Yahagi, Nogumi, atau Haguro. Tapi Daiki, Taiga merasa ini kasus yang berbeda.

“Kau sedang ada masalah?”

Taiga menoleh, dia menatap Hokuto yang duduk disebelahnya. Taiga berdecak, dia membuang muka dan menjawab ketus, “Bukan urusanmu. Untuk apa kau bertanya-tanya, hah?”

“Tidak ada undang-undang yang melarangku bertanya,” sahut Hokuto cuek.

Dua orang itu terdiam cukup lama. “Kudengar Abe-San terluka saat serangan di rumah sakit tadi,” ucap Hokuto, “dia baik-baik saja?”

“Untungnya iya,” jawab Taiga, “temanmu yang seperti gorilla itu menolongnya.”

“Namanya Shintaro,” Hokuto mengoreksi.

“Terserah.”

Keduanya kembali diam. Taiga mengawasi Miyuki yang asyik berfoto bersama para gadis, sementara Hokuto memperhatikan Haru yang mengobrol bersama Myuto. “Shigeoka-Kun kembali hari ini,” ucap Taiga, “kau tahu, dia ternyata bagian dari Haguro.” Taiga melirik, dia bisa melihat ekspresi terkejut dari wajah Hokuto. “Aku juga terkejut,” ucap Taiga, “selama ini aku tidak menyangka kalau dia adalah bagian dari Haguro.” Taiga berdecak, dia mengacak rambutnya dan bergumam, “Kenapa aku baru menyadarinya sekarang?”

“Haguro?” sahut Hokuto, dia mengerutkan dahinya heran.

Taiga menatap Hokuto yang menatapnya dengan dahi berkerut. “Ada apa?” tanya Taiga, “kau pasti ingin bertanya….”

“Bagaimana mungkin dia seorang Haguro, sedangkan dia memiliki aura Nogumi yang kuat di dirinya?”

***

Shori berjalan pelan sambil bersiul pelan. Hari ini adalah pesta penyambutan Sora yang sudah keluar dari rumah sakit. Shori sebenarnya ingin datang, tapi dia tidak berani. Masalahnya Haru sudah pasti datang, dia pasti mengomel karena Shori menghilang sejak serangan itu. Shori bergidik ngeri membayangkan wajah marah sahabatnya itu.

“Kau Sato-Kun.”

Shori berhenti, dia menoleh menatap Yugo yang berdiri didekatnya. Yugo mendekat, dia menatap tajam Shori yang mengerutkan dahi. “Kouchi Senpai, kan?” tanya Shori, dia tersenyum dan membungkuk kepada Yugo, “Sato Shori desu. Yoroshi…”

“Apa yang kau rencanakan?” tanya Yugo.

Shori terdiam, dia menatap Yugo. “Sejak awal aku curiga denganmu,” ucap Yugo, “semua serangan ini muncul sejak kau datang kemari.” Yugo menghela napasnya, dia menatap tajam Shori yang masih diam. “Kau ada dibalik semua serangan ini, kan?” ucap Yugo, “bersama temanmu yang kau temui di dekat jembatan itu.”

Shori tersenyum, dia menjawab, “Kau salah sangka, Senpai. Bagaimana bisa aku menjadi penyebab semua serangan ini? Aku bukan manusia berkekuatan super, aku bahkan tidak bisa mematahkan balok kayu di latihan beladiri.” Shori membungkuk, dia tersenyum kepada Yugo dan melangkah pergi meninggalkan pemuda itu.

“Auramu berbeda dari manusia biasa, Sato-Kun.”

Shori berhenti, dia mematung tidak menatap Yugo. “Auramu gelap, tidak sama dengan manusia lainnya,” ucap Yugo, dia mendekati Shori yang masih terdiam dan menyentuh pundaknya, “kau tidak akan bisa membohongiku.”

“Jauhkan tanganmu dariku, Yahagi.”

Yugo mengerutkan dahi, dia baru akan berbicara saat Shori berbalik dan meninjunya. Yugo terhempas menghantam jalan, dia terbatuk dan menatap kaget Shori. “Kau…” Yugo tercekat, dia merasakan nyeri yang hebat di dadanya. Pukulannya kuat seperti seorang Yahagi.

Shori mendekat, dia mengeluarkan cakarnya dan berjongkok di depan Yugo yang terkejut. “Mungkin aku harus memberimu hukuman,” ucap Shori pelan, dia kemudian tersenyum dan meneruskan, “Senpai, menguping pembicaraan orang itu tidak baik, lho.”

***

“Aku berangkaaatt.”

Kai berjalan keluar rumah, dia menghela napas dan berjalan mantap menuju sekolah. Renovasi sekolah berjalan cepat, kalau sesuai perhitungan renovasi akan selesai dua hari lagi. Kai tidak sabar ingin bertemu dengan teman-temannya, mengingat kelas terbagi menjadi dua saat renovasi berlangsung. Kai mengerang pelan, dia menghela napas dan berjalan sambil menikmati hembusan angin sepoi-sepoi.

“Yanase-San.”

Kai menoleh, dia berhenti melihat Jinguji berjalan kearahnya. Kai sedikit heran, biasanya Jinguji selalu bersama Kishi dan Hagiya. “Ayo berangkat bersamaku,” ajak Jinguji, “sebagai ucapan terimakasih karena kau menolong Chika-Chan.”

Kai mengangguk, dia senang sekaligus kecewa. Senang karena Jinguji mulai mau berbicara kepadanya, kecewa karena Jinguji melakukannya karena balas budi. Mereka berjalan berdampingan, namun tidak saling bicara. Kai menghela napas, dia menatap Jinguji yang menatap kearah lain. Kai teringat sesuatu, dia menoleh kembali kearah Jinguji dan bertanya, “Jinguji-san, apa kau tahu soal legenda tiga monster yang terkenal itu?”

Jinguji menoleh, dia mengangguk perlahan. “Ano… aku hanya penasaran apa legenda itu benar-benar ada,” ucap Kai, “kau tahu, beberapa hari lalu aku mendengar ada dua orang berbicara soal rencana dan segala macam. Lalu salah satu dari mereka menyebut-nyebut nama Haguro. Haguro itu… salah satu monster yang di legenda itu, kan?” Kai menatap Jinguji, dia menyadari perubahan ekspresi pemuda itu.

Jinguji menatap serius Kai, dia kelihatan sedang berpikir, “lupakan saja, kau pasti salah dengar,” ucap Jinguji, dia kembali berjalan.

“Kau mau tidak menceritakan legendanya?” tanya Kai.

Jinguji berhenti, dia menatap Kai,“Memangnya kau tidak tahu?” tanyanya.

Kai menggeleng. Jinguji menghela napas, dia memelankan langkahnya dan mulai bercerita. “Ribuan tahun lalu, ada tiga kelompok yang saling bermusuhan. Yang pertama adalah Yahagi. Mereka dikenal sebagai monster yang paling kuat. Sekali pukul, mereka bisa meremukkan tulang, dan mereka suka memakan organ tubuh manusia. Yang kedua, Nogumi. Pada dasarnya mereka seperti vampir, hanya saja mereka tidak abadi. Hanya fisik dan makanan saja yang sama. Mereka minum darah, dan juga memakan daging manusia. Cakaran mereka bisa merobek dagingmu hingga berceceran di tanah.” Jinguji menoleh, dia melihat Kai yang mendengarkan dengan ekspresi tegang. “Kau tidak sedang menonton film horor, Yanase-San,” ucap Jinguji.

Kai mengerjapkan mata, dia terkekeh saja. Jinguji menghela napas lagi, dia meneruskan, “Dan yang terakhir adalah Haguro. Mereka sebenarnya bukan monster, toh mereka manusia. Hanya saja, Haguro bisa berinteraksi dengan dunia roh dan mengendalikan mereka. Haguro juga bisa membuat racun dan obat-obatan. Bagi Yahagi dan Nogumi, Haguro adalah monster. Karena tugas Haguro adalah membasmi mereka.”

“Karena itukah mereka bermusuhan?” tanya Kai.

Jinguji mengangguk, “Haguro membenci Yahagi dan Nogumi yang selalu menyerang manusia, sedangkan Yahagi dan Nogumi saling membenci karena perebutan wilayah dan mangsa. Klasik sekali, kan?”

Kai mengangguk saja.

“Menurut legenda, ada satu kejadian yang cukup besar waktu itu. Ada satu anggota dari Yahagi, Nogumi, dan Haguro yang tewas. Mereka saling menuduh, dan hampir ada perang besar. Pihak Haguro memutuskan untuk memisahkan dua kelompok itu dan memberikan wilayah kepada Yahagi dan Nogumi,” Jinguji meneruskan ceritanya, “dan sejak hari itu tidak ada lagi konflik.”

“Lalu kenapa sekarang ada konflik lagi?” tanya Kai.

“Itu karena…” Jinguji menghentikan ceritanya, dia mengerutkan dahi melihat orang-orang berlarian di depannya, “Ada apa ini?” tanya Jinguji, dia menoleh dan terkejut melihat roh hitam mengganggu orang-orang. Roh-roh itu menghancurkan orang-orang, mengubah mereka menjadi pasir. Jinguji langsung menarik Kai, dia menamengi gadis itu. “Yanase-san, dalam hitungan ketiga kau harus segera lari,” ucap Jinguji, “secepat mungkin. Sembunyilah di rumahmu, tutup semua lubang atau apapun yang menjadi akses masuk ke rumahmu sekecil apapun itu, kau mengerti?”

“Inoo Senpai…”

“Hah?” Jinguji menoleh, dia terkejut melihat Inoo berjalan tenang dari sebuah gang, roh-roh bermunculan dari bola hitam yang dibawanya. Jinguji melihat bola hitam itu, dia tersadar dan menatap Inoo tidak percaya. “Tidak mungkin,” gumamnya, dia mendadak merasa frustrasi, “ini tidak mungkin.”

Inoo berhenti, dia menoleh dan tersenyum menatap Jinguji yang menatapnya waspada. “Ah, Jinguji-Kun,” ucap Inoo, “kau tidak ke sekolah?”

“Inoo Senpai, apa yang kau lakukan disini?” tanya Jinguji, dia berusaha mengendalikan emosinya.

Inoo tertawa, dia terlihat senang, “Apa yang kulakukan? Kukira kau sudah tahu jawabannya,” ucap Inoo, ekspresi wajahnya berubah mengerikan. Kai mengintip, dia ngeri melihat kilat mata Inoo yang terlihat buas. Wajah ramahnya terlihat menyeramkan, seperti psikopat. “Aku harus membalas dendam atas apa yang terjadi kepada keluargaku, Jinguji-Kun,” ucap Inoo, “kalau yang lain tidak bisa melakukannya, aku akan melakukannya sendiri.”

“Kita semua sepakat untuk tidak berperang lagi!” sahut Jinguji.

“Hanya orang lemah yang tidak mau membalas dendam atas kematian keluarga mereka,” balas Inoo, “aku heran kenapa orang selemah kau dijadikan pemimpin untuk Haguro. Ribuan tahun lalu, leluhur keluargaku dibunuh dan tidak ada yang bertindak. Beberapa tahun lalu, ibuku juga tewas karena serangan Nogumi dan kalian masih tidak bertindak. Menyedihkan sekali.”

Kai menatap Jinguji, dia seperti dihempaskan kuat-kuat dari atap gedung tertinggi. Jinguji seorang Haguro, monster yang beberapa saat lalu disebut sebagai legenda. Inoo menengok, dia tersenyum menatap Kai, “Wah, ada manusia disini,” ucap Inoo, “kau mendengarkan terlalu banyak, Yanase-san,” Inoo tersenyum, sekejap dia sudah berada dibelakang Kai dan merangkul gadis itu, “Kita akan berbicara banyak nanti, ne, Yanase-San,” ucap Inoo.

“Jangan sentuh dia!” Jinguji melayangkan tinjunya kearah Inoo.

Inoo menghempaskan Jinguji, dia tersenyum dan berkata, “Jaa ne, Jinguji-Kun.”

“Senpai!” Jinguji akan meraih Kai, tapi Inoo dan Kai menghilang ditelan kabut hitam. “Sial!” Jinguji mengumpat, dia langsung berlari kencang kembali ke rumah.

***

Shori mengintip, dia menghela napas panjang dan mendekat perlahan ke arah Haru yang sibuk membaca buku. “Ano… Haru-Chan…” Shori bersuara pelan, dia berjengit kaget saat Haru mendadak menggebrak meja. Penjaga perpustakaan mengintip, dia mendesis pelan menegur Haru.

Haru membungkuk pelan meminta maaf, dia menatap kesal Shori dan melangkah menjauh. “Haru-Chan, dengarkan aku,” Shori menahan Haru, “aku minta maaf sudah meninggalkanmu dan tidak pulang beberapa hari ini. Aku…”

“Apa kau tidak tahu kalau aku sangat khawatir?” sahut Haru menyela, “aku mengira kau terluka karena serangan itu! Kau tidak menjawab teleponku, tidak membalas pesanku! Apa sulitnya meluangkan waktumu hanya untuk memberitahu keadaanmu hah?!”

“Maafkan aku,” Shori membalas, dia tidak bisa mengucapkan hal lain selain maaf. Haru menghela napas, dia mulai tenang dan tidak tega melihat Shori menunduk lesu.

“Kau sahabat baikku, Shori,” ucap Haru, “kalau kau terluka, aku pasti sangat sedih.”

Shori menatap Haru, dia tersenyum dan mengangguk. “Haru-Chan, aku ingin mengatakan sesuatu,” ucap Shori, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, “aku ingin me…”

“Haru-chan!”

Shori mendesis, dia melirik kesal kearah Kaede dan Miyuki yang berlari kearah mereka dengan wajah panik. “Haru-chan, gawat!” sahut Kaede, dia terbatuk dan meneruskan, “Kai-chan hilang! Dia diculik Inoo Senpai!”

Haru terbatuk kaget mendengar ucapan Kaede, sementara Shori terbelalak kaget. “Apa katamu?!” pekik Haru, dia lantas menutup mulut dan menengok kearah meja penjaga perpustakaan.

“Hagiya Senpai yang memberitahuku tadi,” jawab Miyuki, “dia mengatakan kalau Yanase Senpai dibawa pergi oleh Inoo Senpai.”

“Eh, chotto,” Haru diam sejenak, “untuk apa Inoo Senpai menculik Kai?”

“Yaampun, kenapa kau malah bertanya kepadaku?!” Kaede mulai kesal, “ayo kita pergi! Kita harus mencarinya!” Kaede berlari lebih dulu bersama Miyuki. Haru berdecak, dia lantas ikut berlari meninggalkan perpustakaan. Apa-apaan ini? Kemarin Haru yakin mendengar Myuto berjanji akan menjemput dan menjaga Kai, kenapa jadi begini? Apa pula yang dilakukan Inoo, menculik Kai begitu?

Shori melongo menatap kepergian Haru, dia berdecak dan menggumam, “Merepotkan.”

***

“Kita harus lapor polisi!”

“Kenapa harus Kai?!”

“Dan kenapa harus Inoo Senpai?!”

Sora, Chiru, dan Kaede sangat panik, Chiru dan Kaede bahkan mondar mandir sambil meneriakkan pertanyaan-pertanyaan yang jelas tidak akan bisa dijawab oleh siapapun disana. Miyuki menunggu gelisah, dia beberapa kali berbicara dengan Taiga lewat telepon. Hanya Haru yang masih terlihat tenang, tapi wajahnya jelas terlihat marah. Tadinya para gadis sudah berniat akan mencari Kai, tapi Taiga dan yang lain melarang mereka keluar dari rumah Sora. “Nii-San masih belum menemukan Yanase Senpai,” ucap Miyuki.

“Kuharap dia baik-baik saja,” ujar Sora, “apa yang dipikirkan Inoo-Kun sampai dia menculik Kai?”

Kaede dan Miyuki saling melirik, mereka menghela napas panjang. Bahkan sampai sekarang mereka tidak bisa memahami keadaan ini. Chiru menoleh, dia segera duduk didekat Haru dan menggenggam tangan gadis itu. “Haru-Chan, kau kenapa?” tanya Chiru.

“Aku meminta Morita-Kun menjemput dan menjaga Kai,” Haru bersuara pelan, “aku meminta bantuannya menjaga Kai. Dia berjanji kepadaku, dan dia tidak bisa menepati janjinya.”

Mendengar itu, Kaede berdecak dan berkata, “Sudah kubilang, jangan mempercayai mereka. Tidak ada yang bisa diandalkan dari mereka. Kau seharusnya meminta bantuanku atau meminta bantuan Kyomoto-Kun.”

“Kaede-chan, sekarang bukan saatnya untuk menjelekkan siapapun,” tegur Sora.

“Aku yang seharusnya menjemput Kai,” ucap Haru, “harusnya aku sendiri yang menjaganya.” Haru menunduk, dia bersuara pelan, “Aku yang seharusnya menjemputnya tadi.”

Chiru diam, dia ingat Kai dan Haru tidak saling bicara sejak serangan misterius di sekolah waktu itu. Menurut Shoki, mereka bertengkar karena masalah sepele, tapi menjadi besar karena emosi Haru yang tidak terkendali. “Kau jangan khawatir, Haru-Chan,” ucap Chiru, “Kai baik-baik saja. Jangan khawatir.”

Sementara itu, di kuil Haguro, Jinguji menyiapkan busur panahnya. “Aku tidak menyangka Inoo Senpai masih bagian dari Haguro,” ucap Chika, “kenapa tidak ada seorangpun yang bisa merasakan auranya?”

“Auranya sudah berbeda, Chika-Chan,” ucap Daiki, “dia menyimpan dendam atas kematian ibunya, kan. Tapi masalahnya kenapa manusia biasa yang dia culik? Apa yang dia pikirkan?”

“Apapun itu, aku harus menolong Yanase-San!” sahut Jinguji keras.

Dia akan melangkah saat Daiki menahannya. “Jangan sembarangan bergerak, Jinguji,” ucap Daiki, “kau sendiri yang mengatakan kalau dia membawa bola hitam yang mengeluarkan banyak roh hitam. Kalau kemampuanmu tidak sebanding dirinya, kau justru yang akan kalah.”

“Lalu apa yang harus kulakukan?!” sentak Jinguji frustrasi.

“Aku bisa mengendalikan roh hitam,” ucap Daiki, dia tersenyum, “aku akan membantumu menolong kekasihmu itu.”

“Dia… dia bukan kekasihku,” jawab Jinguji.

“Lho? Tapi kata Chika-Chan kau menyukainya,” ucap Daiki.

Jinguji langsung menoleh kearah Chika yang tersenyum jahil, dia mendengus dan kembali menatap Daiki. “Aku mengandalkanmu, Shigeoka,” ucap Jinguji.

Daiki mengangguk, dia menatap Kishi dan berkata, “Kau dan Jinguji sebaiknya mengalahkan roh-roh hitam yang berkeliaran di jalan. Aku akan menyelamatkan Yanase itu.” Daiki menatap Hagiya dan Chika, dia berkata, “Kalian siapkan obat-obatan saja. Jelas akan berguna nanti.” Daiki menatap Jinguji dan Kishi, mereka bertiga berlari meninggalkan kuil.

“Kau tahu,” ucap Hagiya menatap kearah gerbang kuil, “kadang aku merasa Shigeoka-San lebih pantas menjadi pemimpin ideal Haguro daripada Jinguji-Kun. Setidaknya dia tidak pernah memusuhi siapapun.”

“Kau benar,” ucap Chika, “dia tidak pernah bermusuhan dengan siapapun, dia bahkan berteman akrab dengan Kyomoto-Kun.”

***

Yuto membuka pintu, dia berjalan mendekati Ryosuke yang mengetik artikel untuk buletin sekolah. “Apa yang ada di otak Inoo Senpai? Kenapa dia harus menculik Yanase-San?” ucap Yuto, dia menegak minumannya dan meneruskan, “Inoo Senpai itu tenang, tapi sekali bergerak dia selalu membuat kehebohan.” Yuto menatap Ryosuke, dia mendengus kesal melihat Ryosuke mengabaikannya. “Kau itu mendengarkan tidak, sih?” protesnya.

“Aku belum tuli, Nakajima,” ucap Ryosuke, dia masih fokus mengetik, “bukannya Inoo Senpai selalu begitu? Dia selalu membuat sensasi di semua tindakannya, kan?”

Yuto menghela napas, dia mendongak menatap lampu diatasnya. “Aku penasaran apa motif Inoo Senpai menculik Yanase-San,” ucap Yuto, “dia hanya manusia biasa, dia bahkan tidak pernah melakukan sesuatu yang menjadi pemberitaan atau sensasi apa-apa.”

“Kau mau tahu kenapa Inoo Senpai melakukannya?” tanya Ryosuke.

Yuto menoleh, dia menatap Ryosuke yang mengalihkan pandangannya dari komputer. Ryosuke menghela napas, dia menatap Yuto dan berkata, “Alasannya sederhana. Karena Yanase-San mendengarkan terlalu banyak, bahkan mendengarkan apa yang seharusnya tidak didengarkan.” Ryosuke tersenyum, dia berbalik dan kembali mengetik artikel.

Yuto diam, dia menunduk menatap kaki meja. “Mendengarkan apa yang seharusnya tidak didengarkan,” ucap Yuto, “haaaah, Inoo Senpai itu benar-benar menyeramkan.”

“Jangan tertipu dengan wajah dan keramahan seseorang, Nakajima,” ucap Ryosuke, “Inoo Senpai mungkin terlihat seperti malaikat, tapi dia iblis yang memakai pakaian malaikat.”

Shori bersandar di dinding, dia melirik kearah ruang jurnalis dalam diam. Shori mendengus, dia berjalan menjauhi ruangan itu. “Benar-benar merepotkan,” gumamnya.

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s