[Multichapter] Flavor Of Love (#1)

Flavor Of Love

UHWIW

By. Dinchan
Multichapter (Chapter 1)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Jesse, Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Tanaka Juri (SixTONES); Nagisawa Chise, Konno Chika, Matsumura Hikari, Suzuki Rumi, Nagatsuma Reina, Mitsumiya Seika (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnny’s & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Menguap adalah hal terakhir yang harusnya ia lakukan sekarang, tapi Hokuto tidak bisa melawan terpaan kantuk yang menyerangnya sejak dua puluh menit yang lalu. Jam dinding yang tepat berada di atas buffet sebelah pintu ruangan bosnya menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit, sore, ia masih ada pekerjaan namun akhirnya menyerah dan menutup laptopnya.

Sembari membereskan mejanya, Hokuto mengintip sekilas ke ponselnya. Ada dua pesan, satu dari Hikari, satu lagi dari e-mail yang tidak ia kenal. Hokuto memutuskan untuk membaca pesan pertama dulu, dari istrinya, Hikari. Dari seluruh orang di dunia ini, Hokuto kadang heran mengapa ia bisa menikahi Kirie Hikari, yang sekarang namanya sudah berubah menjadi Matsumura Hikari. Padahal pertemuan mereka benar-benar tidak direncanakan sama sekali.

From : Hikari

Subject : Aku di rumah Ibu

Hubby hubby.. aku di rumah Ibu yaaa ^^

Pulang agak malam, makan di luar dulu ya,

Ibu memintaku untuk makan malam di rumah untuk

Menggantikan anaknya yang jarang pulang, hehe

LOVE YOU ❤

Hikari senang sekali menuliskan ‘HUBBY’ dengan huruf romaji untuk memanggilnya di pesan. Hokuto hanya tertawa kecil, dan membalas singkat bahwa ia akan makan diluar saja. Mungkin dengan Jesse, kalau Jesse tidak sibuk. Hokuto berjalan ke pintu ruangan bertuliskan ‘LEWIS JESSE’. Yah, Jesse Lewis, aka sahabatnya, aka bosnya, aka pemilik perusahaan ini. Lewis Corp. memang bukan seutuhnya milik Jesse seorang, bisa dibilang Jesse adalah penerus perusahaan, namun sekarang ia bertanggung jawab atas hotel ini, hotel milik Ayahnya yang dibebankan kepada Jesse untuk dikelola. Hokuto ikut bekerja dengan Jesse selepas lulus kuliah.

Boss!” Hokuto membuka pintu dan mengintip ke dalam.

Jesse sedang menempelkan ponselnya di telinga, ia mengisyaratkan untuk menunggu kepada Hokuto. Beberapa menit kemudian Jesse mengakhiri pembicaraannya di telepon.

“Yes? Jangan panggil aku Boss,” keluh Jesse.

Padahal Hokuto hanya ingin menggoda sahabatnya itu saja.

“Mau makan malam denganku?”

“Kau mengajakku kencan?” lalu pria berambut coklat terang itu tertawa terbahak-bahak.

“JESSE!”

“Baiklah, aku baru saja akan pulang,” Jesse mengambil jasnya dan tasnya.

“Istrimu keluyuran lagi?”

Hokuto mendesis, “Dia ada di rumahku, dan ibuku memutuskan untuk menculiknya dariku sementara, kau tau kan ibuku sepertinya lebih suka anak perempuan? Dan menemukan menantu seperti Hikari adalah impiannya,” Hokuto berjalan sejajar dengan Jesse, yang kini, tertawa lagi.

“Yeah, dia pasti lebih sayang pada Hikari,” ucap Jesse.

Hokuto kembali mengecek ponselnya dan menemukan sebuah pesan singkat dari teman lamanya, Kyomoto Taiga.

From : Kyomoto Taiga

Subject : (no subject)

Yo! Kita sudah lama tidak bertemu!!

Meet us at Happytos tonight!

P.S : Aku sudah menghubungi Yugo, Shintaro dan Juri!

“Lihat! Taiga mengajak kita makan-makan!” seru Hokuto mengabarkannya kepada Jesse.

“Oh ya?” Jesse mengambil ponsel Hokuto dan membaca pesan tersebut, “So, meet at Happytos!!” Jesse berjalan ke arah mobilnya, Hokuto mengikuti.

“Tadi pagi aku diantar Hikari karena dia akan ke rumah Ibu,” ucap Hokuto ketika Jesse memandangnya aneh.

“Baiklah,”

Nissan R390 itu pun melaju meninggalkan kawasan hotel ke sebuah kafe bernama Happytos. Kafe ini sebenarnya sudah jadi tempat mereka berkumpul sejak SMA hingga kuliah. Pertemanan Jesse Lewis, Matsumura Hokuto, Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Tanaka Juri, dan Morimoto Shintaro sudah terjalin sejak mereka ada di bangku SMA dan tergabung di klub basket sekolah. Hanya butuh dua puluh menit untuk sampai di Happytos, Hokuto dan Jesse pun turun memasuki kafe yang bernuansa hangat seperti di dalam rumah itu. Dekorasi rumahan, dengan sofa dipilih daripada kursi makan dan uniknya, tidak ada sofa yang berwarna sama atau bercorak sama. Semuanya berbeda membuat kafe ini terlihat ramai.

“Yo!” Hokuto berseru ketika melihat Taiga duduk di tempat mereka biasa duduk dahulu, sudah bersama dengan Juri.

Taiga tersenyum dan memeluk kedua sahabatnya itu, “Hisashiburi!!” serunya.

“Shintaro? Yugo?” tanya Jesse ketika akhirnya mereka duduk.

“Kou-chan ada pasien, Shintaro…” Juri menjelaskan, “Aku tidak tau dimana dia,” jelas karena Juri bekerja di tempat yang sama dengan Kouchi, dan pastinya tau dimana pemuda itu sekarang.

“Telat seperti biasa!” sela Jesse.

Ketiga temannya hanya tertawa mendengar seloroh Jesse. Shintaro memang sering telat datang jika mereka janjian untuk makan malam atau sekedar kumpul-kumpul sepulang kuliah dulu.

“Kau sendiri sudah tidak ada pasien?” tanya Jesse kepada Juri yang sama-sama berprofesi dokter, bahkan satu tempat internship dengan Kouchi.

“Aku tidak ikut masuk ruang operasi hari ini, jadi tadi aku duluan,” jawab Juri.

Mereka kadang memang kumpul, walaupun belakangan ini sudah sangat jarang. Tapi untuk Taiga, ini adalah kumpul-kumpulnya yang pertama sejak dua tahun lalu ia berangkat ke Prancis untuk melanjutkan sekolah masternya di bidang arsitektur.

“Kapan kau pulang?” tanya Jesse setelah memesan dua gelas bir untuknya dan Hokuto.

“Sebenarnya sudah dua bulan yang lalu, tapi aku sangat sibuk dengan pekerjaanku sehingga baru sekarang aku sempat mengajak kalian berkumpul,”

“So, bagaimana Paris? Banyak wanita cantik, eh?” tanya Hokuto.

Taiga tergelak, “Banyak sekali yang cantik, bangunannya,”

Gomen ne, pasien menghambatku,” itu suara Yugo, atau kita panggil saja dia dokter Kouchi.

“Yo!” mereka menyambut Kouchi.

“Kau bau Rumah sakit!” sela Jesse.

“Dokter insternship itu memang begini baunya!”

“Hahahaha” disambut tawa kelima temannya.

“Mandi dulu dong sensei!” sela Juri, “Aku gak bau Rumah Sakit tuh!” ungkapnya.

Kouchi tidak mau menanggapi, melemparkan serbet ke muka Juri sebagai balasan. Dia memang tidak sempat mandi, setelah operasi yang melelahkan dia langsung membersihkan diri, ganti baju lalu melesat ke Happytos.

Tiba-tiba ponsel milik Hokuto berbunyi, Hokuto mengangkatnya tanpa melihat namanya, “Moshi-moshi!” ringtone milik Hikari memang sengaja ia bedakan dari orang lain.

Wakatta, besok pagi saja pulangnya,jangan menyetir malam-malam!”

Sepuluh pasang mata melihatnya dan tertawa ketika Hokuto terlihat salah tingkah, “Woooo… jangan menyetir malam-malam, aku sebagai suamimu sangat khawatir,” ucap Jesse mengikuti cara bicara Hokuto yang disambut sahutan dari yang lain.

“Jadi Hokuto sudah menikah, waaaww!” Taiga mengangguk-angguk.

“Aku memintamu untuk pulang kan dua tahun yang lalu?!”

“Ah! Iya benar juga! Aku lupa!” seru Taiga.

Gomen aku telat!” Morimoto Shintaro baru saja bergabung.

“Kau memang selalu telat!” ujar Juri, Shintaro tidak menjawab dan duduk di sebelah Kouchi.

Hokuto menoleh pada Jesse, “Jya.. kapan kau akan menikahi Chise?” tanya Hokuto.

Jesse yang ditodong pertanyaan macam itu tertawa canggung, “Aku dan Chise masih mau memikirkannya nanti, kami masih terlalu muda untuk menikah, benar kan?” Jesse meminta persetujuan Kouchi, Taiga, Shintaro dan Juri.

“Menurutku umur bukan masalah,” jawab Juri,”Kalau aku bisa menemukan cinta sejatiku secepatnya kenapa harus menunggu lagi?”

“Terakhir kali aku bertemu Chise, sepertinya dia galau atau apa.. aku melihatnya menangis di pelukan Hikari.”

“Eh? Istrimu dan pacar Jesse?” mata Shintaro membulat tak percaya.

“Sepupu, mereka sepupu, benar kan?” kali ini Kouchi yang menjawab.

Jesse menatap Hokuto, apakah benar yang dikatakan Hokuto?

Kenapa Chise harus menangis? Apa yang sebenarnya terjadi?

***

Let’s called it simple break up. Dan kau tak harus berurusan lagi denganku,” Chise yakin suaranya tidak bergetar sama sekali. Ia sudah mantap mengatakannya. Walaupun tentu saja bohong. Tidak ada putus cinta yang sederhana, karena ketika Chise pulang, kegiatan putus cinta ini pasti melibatkan air mata, selusin cupcake kesukaannya dan lagu mellow setidaknya untuk seminggu ini. Chise hanya mencoba bersikap seolah-olah ini hanya perpisahan yang memang ia inginkan.

Si pria yang diminta putus di hadapannya tidak memberi respon, mukanya hanya terlihat berkerut dan Chise heran dengan ekspresi seperti itu pun tidak mengurangi sedikitpun ketampanan si pria. Yah, Chise memang jatuh cinta sedalam itu dengan si pria.

“Jesse, aku tidak punya banyak waktu,”

‘Aku harus pulang agar aku bisa menangis sepuasnya,’ tentu saja kalimat tambahan ini hanya dia ucapkan dalam hati.

“Kau mabuk?”

Here they are, si pria bernama lengkap Lewis Jesse ini mungkin blasteran dan dianugerahi wajah tampan, tapi sepertinya lebih sering menganggap ‘bercanda’ semua yang Chise katakan. Termasuk kali ini, walaupun Chise sudah mengatakan dengan jelas bahwa pembicaraan kali ini ‘serius’.

Rambut Chise yang sudah melebihi bahu, hampir menyentuh pinggang itu bergoyang-goyang mengikuti gerakan kepala Chise yang menggeleng lemah.

“Pokonya kita putus,” ucap Chise tanpa merasa perlu berkompromi atas pilihannya kali ini. Dia tak kuat lagi, ini terlalu membuatnya tertekan.

“Tapi aku gak mau,” jawab Jesse kini menyentuh jemari Chise, “Tidak ada alasan untuk kita putus, Chise!” kini suara Jesse terdengar menuntut.

Chise mencoba tidak terpengaruh dengan sentuhan Jesse, walaupun kini rasanya matanya akan menyerah dan mengeluarkan cairan bening yang paling Chise benci diperlihatkan kepada orang lain.

“Aku,” Chise mencoba menatap mata Jesse yang kini terlihat bingung dan, Chise bersumpah ia baru kali ini melihat ekspresi se-sedih ini dari seorang Jesse, “Aku tidak mencintaimu lagi,” selamat Chise, kau pembual hebat! Dan sebelum Jesse menyadari kebohongannya, Chise menarik tangannya dan mengambil tas serta kunci mobilnya dari meja kerja Jesse, “Nanti aku kembalikan semuanya, aku harus pulang,”

Pertemuan Lewis Jesse dan Nagisawa Chise terjadi tujuh belas tahun lalu. Jesse adalah calon penerus tunggal dari LEWIS Corp., sebuah perusahaan besar yang bergerak di bidang perhotelan dan pariwisata, sejak lahir Jesse tidak pernah merasakan kesulitan dalam finansial, hidupnya berkecukupan dan apapun yang ia inginkan selalu dipenuhi. Sebagai calon penerus tunggal, ayahnya tidak menginginkan Jesse menjadi anak yang manja, karena itulah sejak kecil Jesse sudah diajari melayani tamu, dan sejak masuk SMA, Jesse menjalani hidup di dapur hotel, beralih ke room service, dan semuanya harus ia pelajari dari posisi paling rendah.  Hingga sekarang Jesse berhasil menjadi pimpinan di salah satu hotel milik keluarganya.

Sementara itu Nagisawa Chise adalah seorang gadis yang selalu ada di sekitar Jesse sejak kecil. Walaupun tidak bisa dibilang akur, Chise adalah anak kepala koki di hotel milik ayah Jesse.

Chise tidak pernah merasa kurang dengan perhatian Jesse. Sejak mereka memutuskan untuk berpacaran, Jesse adalah pria paling manis dan perhatian. Jesse tidak pernah lupa hari jadi mereka, Jesse tidak pernah membuatnya patah hati, Jesse setia dan selalu mengatakan cinta padanya. Tapi, sejak Jesse diangkat menjadi salah satu pimpinan hotel, Chise sedikit kesulitan menemui Jesse. Bahkan malam-malam ketika Chise harusnya tidur bergelung dipelukan kekasihnya itu, Jesse selalu diganggu oleh masalah hotel, masalah perusahaan yang sedang Jesse bangun. Chise tidak pernah mengeluh sebelumnya, tapi lama kelamaan Chise semakin merasa Jesse menjauh, hati Chise tidak lagi segembira dahulu jika bertemu Jesse. Semakin lama pergaulan Jesse pun semakin meluas. Jesse tidak lagi mengajaknya ke bioskop, taman bermain, atau restoran biasa, weekend nya semakin sering dihabiskan di pesta-pesta ramah tamah dengan klien Jesse, dengan rekanan bisnis Jesse. Awalnya Chise menerima, Chise bangga karena Jesse semakin sukses, tapi karena ini bukanlah dunia yang Chise kenal, gadis itu semakin merasa tidak tenang ketika bersama Jesse, pesta mewah bukanlah hal yang Chise senangi karena ia harus terus tersenyum seolah-olah ia senang, padahal hati Chise selalu merasa kesepian.

***

Tadaima!

Okaeri!!” Hikari berlari ke pintu depan menyambut suami tercintanya pulang.

Dengan cekatan Hikari melepaskan jas, mengambil tas yang dibawa suaminya, dan satu lagi ritual yang tidak pernah ia lewatkan, mencium pipi suaminya. Sebagai balasan, Hokuto selalu mengecup dahi Hikari.

“Malam ini makan kita makan nabe!”

Hokuto tersenyum, inilah yang selalu membuatnya jatuh cinta pada Hikari. Caranya berbicara, caranya tertawa, sepertinya Hokuto tidak akan pernah bosan melihatnya, memandanginya. Hokuto masih mengingatnya dengan jelas, pertama kali ia bertemu dengan Hikari adalah saat Jesse mengajaknya untuk mensurvey lokasi hotel, dan saat itu Chise, yang juga pacar Jesse, tidak sengaja mengajak Hikari. Walaupun pertemuan mereka sangat singkat, entah mengapa Hokuto langsung jatuh cinta pada gadis itu.

“Hikari, aku menyukaimu, kuharap kita bisa berpacaran!” tanggal dua puluh bulan Juli, ditengah-tengah musim panas Hokuto menyatakan cintanya kepada Hikari.

“Tidak mau!”

Baru kali ini Hokuto melihat gadis yang tidak memikirkan jawabannya dan tidak terlihat canggung saat Hokuto menyatakan cintanya. Hikari seperti sudah tahu bahwa Hokuto akan menyatakan cinta.

Lalu sambil tersenyum Hikari berkata, “Kita menikah saja, bagaimana?”

Wajah Hikari saat itu berseri-seri dengan senyum menghiasi wajah cantiknya. Hokuto mengiyakan dan tiga bulan setelah mereka pacaran, Hokuto pun menikah dengan Hikari. Benar-benar pernikahan yang menurut Jesse terburu-buru dan tidak dipikirkan matang-matang. Hokuto hanya menuruti instingnya, dan ia tidak bisa membayangkan kehidupannya tanpa Hikari.

“Eeehh? Nabe? Nanti makannya kebanyakan loh, sudah malam!” ucap Hokuto yang kini menggulung lengan bajunya untuk bersiap-siap makan.

Hikari memiringkan kepalanya, “Aku harus sehat biar bisa hamil, benar kan?!”

Dengan berat hati Hokuto membelai pelan kepala Hikari. Sudah setahun belakangan ini Hikari sangat terobsesi untuk mempunyai anak. Beragam cara ia lakukan bahkan mengikuti tips-tips kesehatan dari internet.

“Ne, Hokkun,” panggil Hikari saat keduanya sedang menunggu nabe mereka matang.

“Uhm?” Hokuto mengambil salah satu jamur kancing dan meletakkannya di mangkok milik Hikari, “Ada apa?”

“Apakah sudah saatnya kita ke dokter kandungan?” Hikari berhenti ketika menatap Hokuto yang terlihat kaget,”Maksudku.. hanya untuk memastikan dan meminta pendapat dokter!” tambah Hikari lagi.

Hokuto akhirnya tersenyum, “Wakatta, ayo lakukan itu, kita ke dokter ya,”

Dengan bersemangat Hikari tersenyum, “Arigatou Hokkun!”

“Jadi, kemarin makan dengan teman-teman SMA mu?” tanya Hikari, mengalihkan pembicaraan.

Hokuto mengangguk, “Bersama Jesse, lalu ada Taiga, kau tahu kan dia waktu di klub basket hanya ikut-ikutan saja! Tidak bisa main basket, sekarang malah jadi arsitek di suatu perusahaan terkenal, dan dia baru saja pulang dari Prancis.”

“Eeehhh… Sugoi!” puji Hikari.

“Lalu ada Kouchi, Shintaro, dan Juri” tambah Hokuto.

Hikari masih menunggu penjelasan dari Hokuto, “Kouchi Yugo kini sudah lulus kedokteran dan menjadi internship di Rumah Sakit Universitasnya, Tanaka Juri juga mengambil jalan yang hampir sama dengan Kouchi, tapi bedanya kalau Kouchi jadi dokter karena Ayahnya, kalau Juri memang keinginannya sendiri,” Hokuto mengunyah sebentar lalu melanjutkan, “Morimoto Shintaro….” Hokuto menggantung kalimatnya, sepertinya tidak banyak yang Shintaro ceritakan malam itu, ia hanya banyak minum dan bersenda gurau, “Dia bilang dia sedang memulai bisnisnya, tapi belum tau apa bisnisnya itu, aneh kan?”

Souka, jya… bagaimana dengan Matsumura Hokuto-kun?” Hikari mengepalkan tangannya dan menyodorkannya di depan mulut Hokuto, seakan-akan dia menyodorkan sebuah mic.

“Matsumura Hokuto hidup bahagia selamanya dengan Hikari-chan,” jawabnya yang disambut senyuman manis dari seorang Hikari.

***

Hari Senin selalu menjadi hari yang terlalu berat untuk dijalani. Terutama senin kali ini untuk seorang Taiga. Semalaman ia bergadang menyelesaikan deadline rancangan sebuah kafe. Sialnya, karena kafe ini milik seorang perempuan yang Taiga ketahui sebagai ‘salah satu klien istimewa’ alias kenalan bosnya, sehingga rancangan ini dibuat sedikit terburu-buru. Taiga paling tidak suka bekerja diburu waktu, tapi bossnya bilang “Kau lah yang terbaik dan bisa mengerjakannya dalam waktu singkat, Kyomoto kan sudah tinggal di Paris selama dua tahun, kumohon!” padahal Taiga hanya mendengar sekilas mengenai kafe ini. Sebuah kafe yang akan dibangun di pinggiran Tokyo, dengan konsep natural dan si pemilik yang katanya menginginkan kafe ini terasa seperti di Paris, bangunannya gaya Eropa abad pertengahan. Dengan riset sedikit asal-asalan, akhirnya jadilah sebuah rancangan awal yang mudah-mudahan dinilai baik dan dapat memuaskan keinginan si pemilik.

“Ini bos,” Taiga sudah habis energi untuk bermanis-manis di hadapan bosnya, terlebih lagi belum ada setetes kafein pun yang mampir di tenggorokannya.

Kyomoto Taiga tanpa kafein itu bagaikan mainan tanpa baterai. Lesu, lemas, dan karena kecerobohannya tertidur pagi ini, ia terlambat berangkat dan Starbuck sudah antri hingga ke pintu keluar. Bukan jenis antrian yang sudi Taiga tunggu di pagi ini.

“Terima kasih Taiga-kun! Aku tahu kau memang yang terbaik!” puji bosnya sambil menepuk bahu Taiga dengan bangga.

Pria itu hanya bisa tersenyum hambar, di otaknya hanya ingin segera ke pantry untuk mengambil kopi.

“Nanti siang kita harus meeting dengan pemilik café,”

Taiga mengacungkan jempolnya dan segera beranjak ke pantry. Ketika satu teguk kafein membasahi  tenggorokannya, akhirnya Taiga bisa merasa sedikit lebih baik.

“Deadline lagi?” punggung Taiga tegak tiba-tiba mendengar suara itu.

Seorang wanita dengan rambut sebahu, polesan make up tipis membuatnya terlihat cantik tapi tidak terlihat berlebihan, dan gaya baju yang sederhana tapi tetap terlihat elegan. Singkatnya wanita ini tentu memberikan efek cukup dramatis terhadap ekspresi seorang Taiga saat ini.

“Begitulah, Nagatsuma-san,” kata Taiga sambil menoleh sekedarnya, dan mengacungkan gelas kopinya ke hadapan Nagatsuma-san, “Aku kembali dulu,” Taiga menunduk sekilas, wanita yang dipanggil Nagatsuma itu pun tersenyum.

“Kau tak perlu repot-repot menghindar, Taiga,” ucap wanita itu, dengan nada bicara sedingin es, “Mari kita lupakan saja apa yang terjadi malam itu,” segera setelah menuangkan kopinya, wanita itu mengangkat gelasnya dan berlalu dari hadapan Taiga.

“Reina-san!” panggil Taiga saat si wanita baru sampai di pintu pantry, “Maafkan aku,” suara Taiga begitu lirih.

Nagatsuma Reina adalah seniornya di perusahaan. Walaupun berbeda umur hampir empat tahun dengannya, Reina tidak kelihatan tua, pipinya masih kencang, wajahnya terawat, mungkin juga karena tubuhnya yang mungil membuatnya masih saja terlihat awet muda.

Reina melambaikan tangannya dan kembali ke mejanya, sedangkan Taiga hanya bisa memandangi punggung wanita itu.

***

Kouchi menguap untuk entah keberapa kali pagi ini. Meja di ruangan dokter internship sudah penuh dengan gelas kopi kosong, untuk Kouchi ini sudah gelas kelimanya. Semalaman berjaga dan dengan dua kasus berat yang harus ia tangani serta laporan yang harus selesai pagi ini.

Ohayou gozaimasu!!” seorang wanita masuk dan menunduk sekilas kepada Kouchi, “Shift malam lagi?”

“Terpaksa,” keluh Kouchi lalu berdiri dan menggeliat pelan, “Laporan dan dua operasi, Chika, kau harus mengalaminya juga,”

“Tentu saja,” ucap Chika dengan nada sarkasme, segera ke belakang untuk berganti pakaian dan kembali beberapa menit setelahnya, Kouchi masih berkutat di depan laptopnya, “Mana Juri? Uhmm.. Tanaka-sensei,” rasanya Chika sulit sekali terbiasa memanggil Juri dengan sebutan Tanaka-sensei.

“Kurasa harusnya dia sudah datang, entahlah, aku baru dari ruangan pasien,” ucap Kouchi, matanya tidak beranjak dari laptop.

Chika duduk di sebelah Kouchi, “Jadi, dokter Kouchi, kapan kau akan mengajakku kencan lagi?”

Kouchi menoleh, “Itu bukan kencan, hanya jalan-jalan,”

Dengan wajah pura-pura kesal Chika memukul pelan bahu Kouchi, “dokter Kouchi jahaaattt,”

Kouchi terkekeh dan beranjak dari sofa, “Aku lapar!! Mau nitip?” Chika menggeleng sebagai jawaban dan Kouchi pun beranjak untuk mengisi perutnya yang belum diisi apapun sejak kemarin siang.

Suasana Rumah Sakit pagi hari selalu lebih ramai dibandingkan siang dan malam hari. Terutama di area lobby dan area pendaftaran. Kouchi selalu senang melihat keramaian macam ini dibandingkan kesunyian di lorong lorong Rumah Sakit ketika malam tiba. Kouchi melangkah masuk ke sebuah mini market yang memang disediakan oleh pihak Rumah Sakit, dan seperti biasa di dalam mini market pun terlihat ramai. Ia sedang mempertimbangkan akan membeli onigiri atau ramen ketika seorang gadis kecil menunjuk ke arah onigiri.

“Mama! Aku mau onigiri!” seorang gadis manis dengan rambut sebahu dan mungkin umurnya sekitar empat atau lima tahun.

“Okay! Sebentar…” mata si ibu bertemu dengan Kouchi, dan seakan terhantam bogem mentah, Kouchi hanya bisa melongo ketika ibu muda itu tersenyum kepadanya, “Kou-chan! Hisashiburi!”

“Sei…ka…” ucap Kouchi lirih.

“Apa kabar?” mereka akhirnya duduk berhadapan di kantin Rumah Sakit.

Seika tersenyum, “Baik-baik saja, Kou-chan sekarang bekerja disini? Sugooiii,”

Kouchi mengangguk, “Itu… anak perempuanmu?” ia menoleh kepada seorang anak perempuan yang kini sedang bermain di salah satu sudut yang memang sengaja disediakan oleh pihak Rumah Sakit.

“Yurika, namanya Mitsumiya Yurika,” Kouchi terkejut, “Karena aku sudah bercerai dengan suamiku makanya aku memberikan nama Ayahku, bukan nama Ayahnya,” jelas Seika.

“Souka, jadi kau sudah bercerai dengan suamimu?”

Seika mengangguk, “Kali ini aku ke Rumah Sakit karena Ayahku sakit. Setelah bekerja terlalu keras akhirnya ia tumbang dan harus masuk Rumah Sakit. Tapi kau tau kan, di Sendai peralatannya tidak lengkap, jadi harus dibawa ke Tokyo,”

“Ayahmu sakit apa?” tanya Kouchi kaget.

“Kanker paru-paru.”

Kouchi hanya bisa mengangguk-angguk dengan perasaan kaget sekaligus kasihan. Kouchi tau pasti bahwa selama ini Seika tinggal dengan Ayahnya sebelum akhirnya ia pindah ke Tokyo. Kouchi ingat pertemuannya dengan Seika di universitas memang cukup aneh. Seika menyapanya di perpustakaan, dan seperti itu saja ia jatuh cinta pada Seika. Selama setahun mereka berkencan hingga tiba-tiba Seika meminta mereka putus, lebih aneh lagi ketika Seika menghilang, teman-temannya bilang Seika kembali ke Sendai karena Ayahnya sakit. Lalu Seika benar-benar hilang dari kampus, ia bahkan tidak menyelesaikan kuliahnya.

“Aku harus ke atas sekarang! Lain kali bertemu lagi ya, Kouchi-sensei!” Kouchi tersentak ketika mendengar suara Seika – yang masih tetap sama – ceria, dan menyenangkan. Seika menggendong Yurika dan menghilang begitu saja dari hadapan Kouchi.

***

Ohayou!” Juri menyimpan stetoskopnya di atas meja, dan duduk di sebelah Chika yang sedang membaca berkas pasien.

“Yo! Dari mana?” tanya Chika tanpa menoleh.

“Dari Emergency Room,” jelas Juri, mengambil tumbler milik Chika di atas meja dan seenaknya meminumnya, “What? Apaan ini?!” seru Juri, hampir saja dia mengeluarkan lagi apa yang sudah dia minum.

“Jus sayuran sensei,” kata Chika, tergelak melihat ekspresi Juri yang benar-benar kaget, “Hidup sehat laaahh… kita kan dokter,” Chika meminum jusnya tanpa ada kesulitan berarti.

“Ah iya, kau akan coba poli anak selanjutnya?” tanya Juri, kini mengambil air putih untuk menetralkan lidahnya yang jadi terasa aneh sekarang.

Mata Chika kini menatap Juri, “Entahlah, aku…”

“Tanya Kouchi dulu, okay, tapi kurasa sudah saatnya kau menentukan hidupmu sendiri, Chika,” Juri menarik kursi Chika sehingga gadis itu menghadapnya, “Maksudku, serius deh, selama ini kau selalu mendengarkan apa yang Kouchi inginkan, tapi bukan apa yang kau inginkan!”

Chika menghela napasnya, “Aku… belum bisa seperti itu, sudahlah aku ambil bagian jaga dulu ya!” mustahil Chika tidak melihat gelagat Juri, ya, pria itu menyukainya, bahkan sejak lama, tapi Chika sendiri tidak bisa memalingkan hatinya untuk saat ini.

Sepeninggal Chika, ponsel Juri berbunyi, ia segera melihatnya dan mengangkat telepon itu, “Ya Rumi-chan? Hmmm?”

“Kau sedang sibuk?” tanya suara di sebrang.

“Tidak juga sih, ada apa?”

“Aku di Tokyo!!” serunya heboh. Juri segera melihat ponselnya, dan sadar kalau Rumi meneleponnya dari aplikasi chat makanya dia tidak segera sadar kalau Rumi sudah pulang.

“APAA?! Serius??”

“YEESS!! Tapi hari ini aku harus mengurus beberapa hal, nanti aku telepon lagi, ya!!” Suzuki Rumi, adalah temannya semasa SMA juga, mereka sempat pacaran beberapa saat tapi lalu putus. Rumi pun memutuskan untuk sekolah ke luar negri selepas SMA dan beberapa bulan lalu, Juri tidak sengaja menemukan profil Rumi di facebook, dia menghubungi gadis itu dan sejak saat itu mereka sering berkomunikasi lewat jejaring sosial walaupun tidak sering.

“Tanaka-sensei! Maaf mengganggu, aku butuh dirimu di sini!” suara Kouchi, Juri mengangguk dan memasukkan ponselnya ke dalam jas dokternya sebelum beranjak menemui Kouchi.

Setidaknya ada Rumi, dia bisa sedikit bersenang-senang, lupakan saja dulu Chika, batin Juri.

***

“Aku harus berangkat baito,” Shintaro beranjak dari tempat tidur, ketika tangannya kembali ditarik oleh seorang wanita.

“Sejam lagi saja,” ucapnya dengan manja.

“Gomen ne, aku harus berangkat sekarang,” Shintaro membelai pelan rambut wanita itu.

“Baiklah, tapi cium dulu,” Shintaro mendesah dan menempelkan bibirnya pada bibir wanita itu secepat kilat.

Sepertinya Shintaro harus segera bersiap-siap jika tidak ingin telat. Ia mencuci mukanya, menggosok giginya dan segera memakai jaketnya.

“Ne, kenapa Shin-chan akhir-akhir ini dingin sekali padaku?”

Shintaro yang sudah berada di ambang pintu pun menoleh, “Ruiko-san, aku benar-benar harus berangkat.”

“Kemana? Jangan bilang baito karena aku tidak akan percaya,”

Shintaro menyimpan tasnya, “Kali ini aku benar-benar mencari pekerjaan,” entah harus merasa bagaimana, memang kali ini dia akan wawancara untuk baito.

Wakatta, sepulang kerja, aku akan tunggu disini,” Ruiko mengatakannya sambil mendekati Shintaro dan tanpa malu-malu mengecup bibir Shintaro.

“Ruiko-san,” Shintaro ingin protes, tapi ia tau bahwa percuma berdebat dengan Ruiko yang sedang keras kepala.

“Suamiku tidak akan pulang sampai minggu depan,”

“Baiklah. Aku berangkat dulu!”

Ya. Seorang Morimoto Shintaro memang hanyalah lelaki tidak tau malu. Menjalin kasih dengan istri orang tentu saja bukan keinginannya. Ia bertemu Yamamoto Ruiko saat ia masih berumur dua puluh tahun. Ia berlibur ke Okinawa dan bertemu Ruiko. Awalnya Shintaro tidak tau bahwa Ruiko sudah bersuami. Ia jatuh cinta, menurutnya Ruiko adalah wanita yang paling bisa mengerti dirinya. Saat kembali ke Tokyo ia masih berhubungan dengan Ruiko yang lebih tua lima belas tahun darinya, Ruiko akhirnya mengakui bahwa sebenarnya ia sudah menikah, tapi ia tidak pernah mencintai suaminya. Ruiko menikah karena desakan orang tuanya.

Jika diingat-ingat, entah sudah berapa kali Shintaro meminta Ruiko meninggalkan suaminya. Shintaro memang hanya seorang pengangguran yang pindah dari satu baito ke baito lainnya. Shintaro belum mapan, tapi ia yakin jika saling mencintai harusnya mereka bisa berjuang bersama. Tapi Ruiko belum bisa mewujudkannya, ia sangat tergantung kepada suaminya dan Ruiko selalu berkilah bahwa orang tuanya akan sakit jika ia sampai bercerai. Karena itulah, Shintaro mulai lelah dengan hubungan ini.

Tidak sampai sejam ia sudah sampai di tempatnya akan baito. Kali ini sebuah perusahaan design dan arsitektur. Shintaro memang tidak kuliah, ia hanya pernah sekolah kejuruan design selepas SMA, tapi ia ingin sekali kuliah design, dan dengan bekerja disini walaupun hanya sebagai staf, ia mungkin bisa menyimpan uang untuk kuliah.

“Morimoto Shintaro-san!” Shintaro masuk dan menunduk sekilas kepada seorang wanita yang terlihat masih muda, dan seorang pria dengan perawakan besar.

“Nama saya Morimoto Shintaro, mohon bimbingannya,”

“Namaku Inagaki Goro,” kata si pria, “Dan ini, Nagatsuma Reina-san, dia akan jadi mentormu,”

Shintaro segera mencatatnya di dalam kepala, jangan sampai ia salah panggil.

“Nagatsuma, ini adalah anak buahmu yang baru, Morimoto-kun tanya apa saja kepada Nagatsuma-san ya!” kata Goro sambil menepuk bahu Shintaro dan berlalu dari hadapan kedua anak buahnya.

“Morimoto-kun! Ikut aku, biar aku jelaskan semuanya sambil berputar berkenalan ya!”

Shintaro mengangguk cepat.

***

To Be Continue

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Flavor Of Love (#1)

  1. hanazuki00

    Awwww matsumura Hikari ❤ wwww
    Tapi hubungan HokuJess lebih bikin degdegan dan salah fokus drpd Hoku-Hikari 😂

    Lalu njesss, kapan kamu dibikin di ff jadi pria lemah miskin dan terbuang sih, kayaknya dia dapet peran bagus mulu. Untung ganteng luh 😪

    Tanaka sensei! Oh plis mamih ku tak kuasa nahan ngekek waktu awalnya baca! Atas keinginan sendiri lagi hahaa

    Tp yg paling bikin degdegan dan penasaran kok malah shintaro yaaa hihi. Awalnya kupikir shin ini jadi kayak anak nakal panggilan tante tante ternyata eh ternyataaaa …. kasian juga temen temennya sukses dia baito doang serabutan 😢

    LAANJUUT MAMIIIH ❤

    Reply
  2. dindobidari

    Ee awalnya kukira hikari itu adeknya eh istrinya 😂 tapi gaya nulis pesannya itu tante dila bangettt.. cuma beda ngga ada typo’nya 🙈
    Hmm.. sayang banget chise sama enjess putus. relationship emang complicated yak, bahkan yg ngga pernah bermasalah pun bisa putus.
    Daaaaan.. yg ketemunya ngga sengaja kaya’ hikari – hoku pun bisa nikah.. dunia ini susah ditebak 🙈
    Iga.. iga mah gitu.. dunia arsitektur ngga ada yg ngga diburu waktu kali.. hidup isinya deadline semua 😂
    Kouchi.. ngenes ya.. ketemu lagi sama mantan yg dulu mutusin dia, eh udah bawa anak. Sedangkan dia sendiri masih jomblo 😂
     Jur jur, jangan sadis lho ya ntar cuma jadiin rumi pelampiasan..
    Jaksxjj%nxnxnkzjdhjdk dek shiiiiiiiinnnnn jangan deket2 tante girangggg….. istri orang itu duh……….

    Reply
  3. pururucchi

    Aku paling ga tahan kalo hokku dapet role udah berkeluarga 😂 lebih kyun gitu
    Juri rivalan sama Kouchi 😋 tapi paling epic emang mantannya Kouchi yg udah punya anak 😂 pasti nusuk banget tuh
    Taiga kayaknya kejar karir dulu yak 😂 dan shin malah bikin shock, tapi jarang2 plotnya kayak gitu 😅
    Jesse? No comment lah, udah perfect 😂

    Ditunggu kelanjutannya ya kak~

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s