[Multichapter] Seven Colors (#6)

Seven Colors

sevencolors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 6)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Tidak tau lagi bagaimana mengungkapkan perasaannya kepada Kaede sekarang ini, Sanada merasa tidak berdaya karena setelah malam itu wanita yang kini sedang memimpin rapat semester itu tidak menjauhinya, tapi juga tidak memberinya kesempatan untuk mengukuhkan hubungan mereka. Seakan-akan Kaede ingin mengisyaratkan bahwa semua yang terjadi malam itu, just stay there, tidak akan lagi terjadi di kemudian hari. Malam-malam Sanada merasa sakit setiap mengingat sentuhan Kaede malam itu, betapa memabukkannya ciuman mereka hingga ia masih bisa mengingatnya dengan sangat jelas, tapi Kaede kembali menjadi Yasui Kaede yang dulu. Dingin, sulit dijangkau, dan yang paling penting mereka hanya teman satu pekerjaan, tidak lebih.

“Bagaimana menurut kalian? festival ini kan setiap tahun diadakan, apa yang bisa membuat tahun ini akan lebih sukses dari tahun lalu?” tanya Kaede, “Sanada-sensei, punya ide?”

Sanada menatap Kaede, dan menggeleng lemah, dia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun sekarang, kecuali memikirkan Kaede tentu saja.

“Bagaimana kalau khusus di tahun ini, kita adakan acara kontes, seperti itu apa sih… American’s Got Talent!! Dan semua kelas harus berpartisipasi mengajukan satu atau dua kandidat mereka. Di acara puncak, mereka akan di vote oleh semua siswa dan ditampilkan sebagai salah satu pengisi acara,” Sanada menoleh ke arah Hazuki yang sedang berbicara dengan bersemangat, matanya kembali ke Kaede dan wanita itu terdiam, bahkan saat serius saja wajah Kaede sangat can… shit! Sanada menggerutu, ini benar-benar tidak sehat untuk jiwanya.

“Ide bagus Kirie-sensei! Kalau begitu kau bersedia jadi ketua jurinya?”

Hazuki mengangguk, “Tapi aku butuh bantuan kalian semua.”

“Tentu saja, ide bagus,” Kaede tersenyum, “Okay selanjutnya….” Kaede membuka lagi agenda yang sejak tadi ia pegang, menelusuri daftar apa saja yang harus mereka rapatkan hari ini.

Butuh hampir dua jam kemudian sampai semua agenda rapat selesai mereka bicarakan. Kaede menutup rapat itu, berterima kasih karena para guru sudah bersedia meluangkan waktu mereka di hari sabtu seperti sekarang, padahal seharusnya mereka bisa melewatkan waktunya dengan keluarga mereka. Rapat ini memang rutin dilakukan hanya enam bulan sekali, saat banyak event akan dilaksanakan di sekolah.

Sanada berjalan terhuyung ke kamar mandi khusus guru, mencuci mukanya berkali-kali, fokus bodoh!! Fokus!! Serunya, menggerutu memang tidak menyelesaikan masalah, ia tau.

“Ya Tuhan!!” Sanada mendadak gagu ketika melihat siapa yang ada di hadapannya, jarak mereka dekat sekali karena saat Sanada keluar kamar mandi tadi Kaede memang membuka pintunya dan mereka pun sukses bertabrakan, “Sanada-sensei!!” serunya.

Tanpa pikir panjang Sanada menarik Kaede ke dalam kamar mandi, menutup pintu yang ada di belakang Kaede dengan cepat. Untuk beberapa menit Kaede yang masih shock, menahan napas ketika jarak mereka hampir tidak ada, tubuh mereka merapat satu sama lain.

“Sanada-sensei, ini sekolah,” bisik Kaede, khawatir masih ada guru di luar sana, ini bisa jadi masalah besar.

“Jelaskan padaku kenapa belakangan ini kau selalu menghindariku?” Sanada juga ternyata sadar ini masih di sekolah karena pria itu juga berbisik-bisik, “Kaede!”

“Ugh, hmm…” mata Kaede terlihat tidak fokus, pastinya sedang memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan sekarang.

“Lihat aku!” suara Sanada boleh pelan, tapi ketegasan yang ada di dalam nada suara itu membuat Kaede tidak bisa melawan, mata mereka memandang satu sama lain, “Jawab aku!”

Kaede menggigit bibir bawahnya, jarak yang terlalu dekat membuatnya hampir sesak napas, “Pertama-tama Sanada-sensei, lebih baik kita tidak bicara di sini,” bisik Kaede, menekankan kata sensei agar Sanada sadar bahwa mereka seharusnya segera keluar dari kamar mandi sempit itu.

“Janji kau tidak akan kabur?”

Kaede mengangguk, “Kita ke makan siang saja ya, bagaimana?” Sanada akhirnya mengangguk, “Oke sekarang Sanada-sensei, kau keluar duluan ya, aku akan keluar dari tempat ini beberapa menit lagi,” ucap Kaede tenang.

Akhirnya Sanada menurut, keluar dari kamar mandi dan menunggu Kaede di luar.

***

Dua puluh, dua puluh satu, Reo menghitung dalam hati, bola yang berhasil ia masukkan ke dalam ring. Ini hari sabtu dan dia sedang berlatih dengan tim basket sekolah. Walaupun sejatinya Reo sudah kelas tiga dan nyaris kehidupannya sebagai atlit sekolah akan segera dipensiunkan, tapi dia masih senang berlatih setidaknya untuk melegakan pikirannya dari hal-hal semacam ‘kuliah di mana?’ atau ‘Harusnya kamu masuk kedokteran juga’, dll.  Musim panas ini adalah kesempatan terakhirnya untuk bermain sebagai anggota tim.

Reo berhenti dan mengatur napasnya, latihan sudah selesai satu jam yang lalu tapi dia masih betah di lapangan basket. Setelah membereskan bola, mengembalikannya ke gudang dan menguncinya, Reo keluar dari lapangan basket, kakinya menuju ke ruang guru untuk mengembalikan kunci. Seingatnya hari ini ada rapat di sekolah, jadi di ruang guru pasti bukan hanya ada Ueda-sensei, guru olahraganya yang juga pelatih klub basket, tapi guru yang lain juga pasti ada di sana.

Ojamashimasu,” Reo membuka pintu, mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Ueda-sensei yang ternyata sedang berbincang dengan guru yang lain.

Sensei, ini kuncinya,” kata Reo ketika sudah dihadapan Ueda, “bolanya sudah kubersihkan dan kusimpan di gudang,” jelas Reo, Ueda Tatsuya ini adalah jenis guru yang tidak mau melihat ruangan kotor atau bola basket kotor, dia bisa naik pitam dan ngomel-ngomel, jadi Reo menjelaskannya dengan gamblang.

Wakatta, arigatou Nagatsuma!!”

Reo tidak menemukan sosok Kaede di sana, dimana ya wanita itu? Padahal jarang sekali saat latihan begini ada guru-guru juga di sekolah.

“Belum pulang?” Reo berbalik menatap Aoi yang berjalan ke arahnya dengan membawa dua botol air minum, “Nih… karena aku baik aku bawain juga buat kamu!” seru Aoi sambil mendekat ke arah Reo, mereka ada di lorong sekolah, Reo mneyerah mencari keberadaan Kaede, “Kukira kau sudha pulang, tadi aku ke lapangan basket,” jelas Aoi.

“Tempat latihan tertutup untuk umum, tau!”

“Tapi kan latihannya sudah selesai!” protes Aoi, menyerahkan satu botol air mineral kepada Reo, entah kenapa Aoi merasa perlu berterima kasih setelah kejadian tempo hari di klinik sekolah. Kebetulan hari ini Aoi juga ada kumpul klub jurnalistik sebelum liburan musim panas.

Sankyu,” ucap Reo, meneguk setengah botol tanpa jeda setelahnya.

“Ah Yasui-sensei lagi-lagi pulang dengan Yuma-kun,” ucap Aoi, matanya menatap ke arah bawah, Kaede dan Sanada memang sedang berjalan bersama, mata Reo ikut melihat ke bawah.

“Mereka pacaran?” tanya Reo kaget.

Aoi menggeleng, “Tidak tau, tapi kemarin-kemarin aku mendengar Yuma-kun curhat soal wanita kepada Aika-chan, dan kudengar nama Yasui-sensei disebut,” jelasnya.

Reo terdiam, tau sih ini harusnya bukan sesuatu yang mengagetkan, toh tidak pernah ada peraturan sesama guru dilarang punya hubungan, tapi rasanya Reo tidak rela, ya?

“Akhirnya aku mengerti Aoi,” ucap Reo.

“Mengerti apa?” dahi Aoi berkerut menatap Reo.

“Kenapa kamu merasa sedih, ternyata sesakit ini ya ditolak secara tidak langsung oleh orang yang kita sukai?”

Aoi tersenyum, menepuk punggung Reo, “Senang punya teman seperjuangan? Ahahaha,”

“Kalau begitu kita buka klub baru saja,” Aoi diam menunggu respon selanjutnya, “klub patah hati,” lanjutnya.

Mau tak mau Aoi tergelak, selalu ada bahan tertawaan ketika bersama Reo, dan setidaknya dia bisa sedikit melupakan rasa sakit hatinya.

***

Baru kali ini Hagiya merasa gugup saat akan bertemu seorang wanita, padahal mereka hanya akan minum teh bersama, mungkin ke toko perabotan seperti yang sudah Hagiya bayangkan di dalam otaknya. Kemana saja asal bisa jalan dengan wanita ini.

“Yo! Ngelamun?” Hagiya menoleh, melihat kepala Akane yang muncul di sela-sela pintu kamar Hagiya.

“Ngapain?!” seru Hagiya sewot, lamunannya terganggu dengan kedatangan Akane.

“Pinjam charger ponsel dooonngg~ Sanada-kun sedang tidak ada di rumah, Aika menghilang sejak kemarin sore dan Aoi, entahlah dia kemana,” kata Akane, masuk ke kamar Hagiya seenaknya dan mengambil charger yang masih tercolok di atas meja belajar pemuda itu, “Sankyu Keigo!!”

Chargermu ke mana?” tanya Hagiya saat Akane sudah hampir keluar dari kamarnya.

“Tertinggal di sekolah, hehehe, ke mana? Kencan?” sepertinya Akane mengurungkan niatnya untuk keluar dan beralih menggoda Hagiya saja.

“Kuharap begitu,” karena kemarin, saat Hazuki menjemput Kenichi, Hagiya akhirnya berani menagih ‘hutang’ Hazuki untuk mau minum teh bersama, dan wanita itu pun setuju.

“Semoga berhasil ya Keigo!! Aku pinjam chargermu yaaa!!” Akane melambaikan charger itu sebelum akhirnya benar-benar menghilang di balik pintu. Hagiya kembali merapikan cardigannya, menatap sekilas ke arah kaca dan akhirnya memutuskan sudah saatnya dia berangkat.

Hagiya sengaja memilih kafe yang dekat dengan stasiun karena Hazuki bilang kalau dia akan rapat di tempatnya mengajar sebelum bertemu dengan Hagiya, dan kebetulan kafe inilah yang dekat dengan rumah kediaman Sanada, dan tidak begitu jauh dari stasiun sehingga Hazuki hanya perlu melewati satu stasiun hingga sampai di sana. Kafe ini pemiliknya adalah teman Hagiya, turun temurun dan memiliki dekorasi yang sangat vintage namun bersih dan nyaman, selain kopinya yang juara, Hagiya suka cheese cake di sini yang selalu fresh setiap harinya.

“Hagiya-san?” Hagiya menoleh dan hampir tersedak karena ketauan melamun. Hazuki begitu cantik dengan blus dan rok selututnya, eh? Tapi di mana Kenichi? “Gomen ne, aku mau mengabarimu kalau Ken-chan tidak bisa ikut, tapi aku lupa kalau aku tidak punya nomor teleponmu! Ahahaa,” Hazuki membuka jaketnya, dan duduk di hadapan Hagiya, “Sudah lama?”

Hagiya menggeleng, “Memangnya Ken-chan kemana, Kirie-san?”

Hazuki menghela napas, “Karena tadi aku rapat dulu, aku menitipkannya pada Kentaro, maksudku mantan suamiku, lalu ternyata mereka malah pergi jalan-jalan. Eh, tidak apa-apa kan jadinya malah berdua gini,” katanya, dengan wajah sedikit menyesal.

Tentu saja Hagiya menggeleng, ini jauh dari ekspektasinya, dia malah senang bisa berduaan dengan Hazuki, “Tentu saja tidak apa-apa!” mudah-mudahan wajahnya tidak terlihat terlalu senang sekarang.

Yokatta, hmm..” pandangan Hazuki beralih ke menu, “es capucinno deh, kuenya apa ya…”

Cheese cake di sini enak loh Kirie-san,” ucap Hagiya bersemangat.

“Benarkah? Kalau begitu cheese cake saja!” Hazuki sudah akan beranjak ketika Hagiya berinisiatif untuk memesankan dan mengambilkan makanan Hazuki sampai terhidang di hadapan mereka.

Arigatou!!” dan saat Hazuki tersenyum, lagi-lagi Hagiya merasa ikut senang.

Kalau boleh jujur Hagiya sebenarnya sudah sangat lama ingin berkenalan dengan Hazuki. Waktu itu Hazuki di toko buku adalah pemandangan yang ia lihat dengan seksama dan sesungguhnya dia ingin mendekati Hazuki, berkenalan dengannya, walaupun waktu itu Hagiya belum tau kalau Hazuki sudah punya anak. Saat mereka akhirnya bertemu lagi di depan sekolah pun Hagiya sudah hampir ingat tapi karena biasanya Hazuki datang ke Toko Buku Yamazaki memakai pakaian kasual, dia tidak menyadari bahwa itu Hazuki hingga beberapa kali melihat Hazuki, apalagi Hagiya tidak pernah memperhitungkan bahwa gadis yang dia perhatikan sedang tertawa sambil membaca manga atau novel itu adalah wanita yang sama saat mengantar Kenichi waktu itu. Bukannya shock, Hagiya justru mendapati dirinya makin tertarik kepada Hazuki walaupun dia sempat berpikir mungkin saja Hazuki dan Yasui-san masih menikah, maka saat mendengar bahwa Hazuki sudah sendiri, tanpa pikir panjang Hagiya mengajak Hazuki untuk berkenalan lebih jauh.

“Hagiya-sensei, eh Hagiya-san, tinggal dekat sini? Temanku juga tinggal dekat sini, namanya Sanada,” kata Hazuki, memanggil Hagiya kembali dari lamunannya.

Hagiya terkekeh, membuat Hazuki menatap pemuda itu dengan bingung, “Aku tinggal di rumah Sanada,” jelas Hagiya.

“Eh?!” Hazuki yang sedang bengong tiba-tiba tersenyum, “Ah iya Sanada pernah cerita dia membuat rumahnya menjadi share house! Waaaa aku tidak menyangka!”

“Aku dan Akane-sensei juga tinggal di sana, selain itu ada dua gadis lagi yang tinggal di sana.”

Souka, pasti ramai sekali ya,” Hazuki berujar sambil membayangkannya, Hagiya hanya mengangguk sebagai jawaban, “Rumahku juga ramai sih, walaupun hanya ada satu Ken-chan!” katanya terkekeh sendiri membayangkan kelakuan anak semata wayangnya yang terkadang ajaib itu, yah turunan bapaknya, oops bisa-bisanya Hazuki memikirkan Yasui di saat seperti ini!

Hazuki sedikit terkejut dengan perbincangan dirinya dengan Hagiya, padahal dia cukup tidak yakin kalau mereka bisa berbincang-bincang dengan lancar seperti ini. Hazuki pikir ini hanya akan jadi acara minum teh yang membosankan, tapi lihatlah sudah hampir satu jam mereka berbincang macam-macam.

“Dari sini Kirie-san masih ada waktu, kan?” tanya Hagiya, pemuda itu melihat ke arah jam tangannya.

“Tentu saja, Ken-chan kalau sudah diculik Ayahnya bisa sampai malam!” jawab Hazuki.

“Kalau begitu, tidak keberatan kan menemaniku ke toko alat rumah tangga dekat sini?”

Hazuki mengangkat jempolnya, “Wah ide bagus! Aku juga mungkin membutuhkan beberapa peralatan rumah!”

Padahal niat Hagiya hanya agar bisa lebih berlama-lama lagi dengan Hazuki, dan mungkin di akhir hari ini Hagiya akan bisa mendapatkan nomor telepon Hazuki.

***

Mansion mewah ini berada tepat di pusat kota Tokyo. Aika bahkan tidak mau memikirkan berapa harga sewanya, atau harga belinya, dia menikmati pemandangan kota Tokyo yang hari ini sedang cerah, hampir-hampir bisa melihat keseluruhan kota dengan kaca sebesar ini tentu saja.

“Sorry lama,” Aika merasakan ada tangan mampir di bahunya, sejak tadi pemuda itu menerima telepon dari seseorang hampir sepuluh menit lamanya, “Ayahku telepon, aku harus sedikit berdebat dulu dengannya,” ucapnya lagi.

Aika menggeleng, “Tidak apa-apa, toh aku juga tidak ada kerjaan lain, ah ya Aran-kun, maaf meneleponmu hari minggu begini,” Aika berkata sambil melepaskan diri dari Aran.

Sudah dua minggu ini Sanada Yuma terlihat lain dari biasanya. Aika menyadarinya karena dia selalu memerhatikan Sanada dari dekat, dan malam kemarin, Sanada sedikit mabuk setelah meneguk hampir lima kaleng bir sambil menikmati malam di halaman belakang rumah. Angin musim panas sudah mulai datang, dan memang menghabiskan malam di luar untuk melegakan pikiran bukan ide yang buruk. Aika menghampiri Sanada, berusaha mengorek alasan Sanada begitu terlihat depresi belakangan ini dan kenyataan itu keluar dari mulut Sanada, bahwa pria itu menyukai seseorang dan dirinya sedang bingung karena wanita itu tidak meresponnya. Setelah seharian merasa tak berdaya entah kenapa Aika merasa butuh orang yang bisa menghiburnya dan secara impulsif diapun menelepon Aran ketika pemuda itu memintanya untuk datang saja ke mansionnya.

“Tidak apa-apa, aku memang sedang tidak ingin kemana-mana juga sih, tidak apa-apa kan ngobrolnya di sini saja?” saat Aran mengatakan kata ‘ngobrol’ Aika bisa melihat mata pemuda itu mengerling seakan itu adalah kode rahasia di antara mereka, dan daripada merespon Aika memilih duduk di sofa yang sengaja diarahkan keluar jendela, sofa ini hanya untuk satu orang, terbuat dari bahan kulit berwarna coklat terang yang terlihat super empuk, benar saja ketika bokong Aika mendarat di atasnya, ia langsung merasakan kenyamanannya, “Kenapa sofanya menghadap ke jendela?” tanya Aika akhirnya.

“Aku suka melihat keluar, daripada menonton TV,” ungkap Aran, dan tak lama setelahnya pemuda itu berdiri di hadapan Aika, menghalangi pemandangan, “Aku mau duduk juga,” rengeknya.

“Ih! Di bawah aja!!” seru Aika, tak rela. Namun alih-alih menurut, Aran menarik tangan Aika hingga gadis itu terpaksa berdiri dan gerakan selanjutnya Aran duduk di atas sofa itu, tersenyum penuh kemenangan, baru saja mulut Aika mau protes, ia merasakan tangan Aran kembali menariknya, kali ini pinggulnya berhasil ditarik membuat Aika kaget dan tubuhnya mendarat mulus di atas paha Aran yang hanya menggunakan celana pendek. Ini benar-benar diluar kendalinya, apalagi Aika merasakan tangan Aran melingkar posesif di pinggangnya, Aika tidak punya pilihan selain membiarkan Aran memeluknya dan punggungnya menempel pada dada Aran. Sedekat ini, secara fisik, tapi tidak secara emosional, “Aku berat,” protes Aika.

“Ini bukan pertama kali kau ada di atasku,” ucapan Aran menggodanya, memberikan efek tidak baik pada jantung Aika, “Dan kau tidak berat,” tambah Aran.

Ada kalanya Aika menyadari bahwa alasan wanita-wanita yang dekat dengan Aran membiarkan hubungan mereka tidak jelas, tapi masih terus mencari Aran, karena pemuda ini begitu memabukkan. Caranya memperlakukan wanita jelas berpengalaman dan membuat wanita merasa spesial, Aika tidak bisa membayangkan berapa banyak wanita yang akhirnya harus sakit hati karena memendam perasaan pada Aran. Karena itulah Aika memutuskan seberapa dekatpun dengan Aran, dia tidak mau terbawa suasana, ini hanya kontak fisik, tidak lebih.

“Aika-chan sedang patah hati lagi?” suara Aran langsung mampir di telinga Aika, membuat bulu kuduknya meremang.

Aika menggeleng namun Aran meresponnya dengan tawa renyah, “Baiklah aku akan percaya,”

Dari nada suaranya saja Aika tau kalau ia ketahuan berbohong maka Aika memutuskan untuk menceritakan semuanya, “Padahal aku belum pernah menyatakan cintaku tapi sudah ditolak berkali-kali oleh sikap Yuma-kun,” keluh Aika pada akhirnya setelah selesai menceritakan masalahnya.

Tangan Aran meraih tangan gadis itu, meremasnya pelan seakan ingin memberikan kekuatan, “Kita main game yuk!” ucap Aran.

Game?” sepertinya Aran tidak fokus dengan apa yang mereka bicarakan sekarang, kenapa tiba-tiba membicarakan soal game?

“Aku akan jadi pacarmu dan kau harus bersedia datang ke rumahku untuk mengaku sebagai pacar slash hampir tunanganku, bagaimana?”

Aika mencoba mencerna cepat apa yang dimaksud oleh Aran, “Kok kayaknya kamu menang banyak, aku cuma dapet ‘pura-pura pacar’ sih?!” protesnya.

“Menang banyak dong kamu bisa pamer wajah gantengku sama banyak orang, dan aku gak bakalan sama orang lain, untuk sementara aku ekslusif milik Kimura Aika, kau juga bisa meperkenalkan aku sebagai pacarmu di depan Yuma-kun mu itu, dou?” Aika mencibir walaupun memang tidak bisa ia bantah kalau Aran memang tampan.

“Jadi kamu butuh tameng mendatangi Ayahmu ya? Apa itu yang tadi beliau bicarakan di telepon?” Aika masih harus ingat kalau Ayah Aran adalah bos besarnya, dia harus menyebutnya dengan sopan.

Aran mengangguk sambil membenamkan wajahnya di leher Aika, “Malam ini aku akan bertemu so-called-fiancee ku, jadi akan lebih mudah menolak kan kalau aku punya calon istri yang lain?”

Aika tidak melihat ada ketidak untungan bagi dirinya di sini, “Kau bilang ini permainan, apa aturannya?”

“Yang jatuh cinta duluan yang kalah,” kata Aran, “Kalau sampai kita jatuh cinta, pihak yang kalah harus mau memenuhi permintaan yang menang, dan kalau salah satu pihak tidak membalas perasaan pihak yang kalah, kita akan berpisah, tidak boleh ada kontak lagi setelahnya.”

“Kenapa aku merasa ini bukan kali pertama kau melakukannya?” kata Aika, mulai kegerahan karena Aran tidak berhenti mengecup lehernya, benar-benar merusak konsentrasinya, “Lagipula bukankah ini sangat old-school atau kamu kebanyakan nonton drama? Menolak pertunangan tidak perlu melibatkan wanita lain!” seru Aika, tangannya menahan wajah Arah dari lehernya.

“Ini bukan pertama kali, dan aku malas menjelaskan pada Ayah kenapa aku tidak mau bertunangan. Bagaimana? Jelas?”

“Jadi kau pernah pura-pura pacaran dengan orang lain?” Aika mendadak berjengit ketika Aran menarik tangannya dan mengigit pelan leher Aika.

“Aku selalu pura-pura pacaran, kan? Jadi aku pasti menang karena kamu yang akan kalah!”

“Pede amat sih,” Aika mulai tidak tenang, “Stop! Hey Stop!!” napas Aika tersengal, “Kita kan hanya ngobrol.”

“Serius deh Aika, ini rumahku dan kau bilang hanya ngobrol? Itu hanya akan terjadi kalau,” Aran berdehem, “satu, kau saudara perempuanku, dua kau laki-laki,” dan dengan gerakan yang sangat luwes Aran mengangkat tubuh Aika seperti seorang putri, “Masih ada waktu sampai makan malam,” gumamnya, tidak memberikan ruang untuk Aika protes karena selanjutnya bibir mereka sudah sibuk satu sama lain.

***

“Ken-chan mau yang mana? Yang ini?” Yasui mengangkat sebuah mainan berbentuk kereta api, “Yang ini?” Yasui Kenichi masih saja menggeleng, “Bagaimana kalau yang ini?” Yasui memperlihatkan mainan berbentuk mobil balap.

“Aku mau buku saja, Pa…” kata Kenichi, “Bulan kemarin Mama baru membelikan aku mainan,” Yasui kadang merasa Kenichi sangat penurut dan ini berarti Hazuki berhasil mendidiknya dengan baik.

“Baiklah kalau begitu kita ke toko buku, bagaimana?” tawar Yasui dan Kenichi langsung mengangguk dengan bersemangat, yah keturunan ibunya banget sih, rutuk Yasui dalam hati, dia pun menggandeng tangan Kenichi ke arah toko buku yang terletak tak jauh dari toko mainan tadi, mereka sedang ada di sebuah pusat perbelanjaan.

Saat Yasui melangkah ke dalam ruangan ber AC itu matanya langsung memindai kira-kira dimanakah tempat buku anak-anak berada, ia pun mengikuti langkah Kenichi yang sudah menarik-narik tangannya, pantas saja Kenichi bersemangat untuk membeli buku, sepertinya bocah ini sudah sering ke sini, mungkin dengan Hazuki, “Pelan-pelan Ken-chaann!!” Yasui mencoba membendung langkah bersemangat anak laki-lakinya itu, tapi Kenichi sama sekali tidak mendengarkan.

BRUK!

“Ah! Gomen!” seru Kenichi, dan Yasui melihat seorang wanita jatuh tersungkur di hadapan mereka.

“Eh? Itou-kun?” Akina menengadah, masih beraduh-aduh karena buku-buku yang cukup berat itu menimpa dirinya saat ditabrak tadi.

“Yasui-san?!”

.

Sebagai permintaan maaf Yasui membawakan buku-buku Akina dan mengajak gadis itu minum teh di sebuah kafe yang terletak di sebrang toko buku setelah menunggu Kenichi membeli beberapa buku cerita anak juga.

“Tak disangka kita bisa bertemu di sini,” ucap Yasui, “Bacaanmu berat juga ya,” kata Yasui memandangi buku-buku yang dibawa oleh Akina tadi.

“Buku pengetahuannya hanya satu ini, Yasui-san,” Akina memperlihatkan satu buku bersampul coklat, mengenai manajerial perkantoran, “yang lain buku fiksi, hehehe.”

Yasui tersenyum, “Benar juga, ah, aku sudah baca buku ini,” Yasui mengambil sebuah buku berjudul Burn, karya Kato Shigeaki.

Mata Akina membulat, “Benarkah? Aku kelewatan waktu itu, malah baca karya Kato-sensei yang lain dulu, makanya baru sekarang aku membeli Burn,” ucapnya, tak sangka Yasui juga suka membaca karya fiksi macam novel.

“Hazuki yang memaksaku sih, katanya bagus, jadi aku ikut baca juga, hahaha,”

“Hazuki itu….”

“Mamanya Ken-chan,” jawab Kenichi yang duduk di sebrang Akina.

Akina tersenyum pada Kenichi, “Iya Mamanya Ken-chan, ya?” bocah itu langsung mengangguk-angguk bersemangat.

“Keberatan tidak kalau aku tinggal sebentar ke toilet? Titip Ken-chan sebentar, ya?” Yasui beranjak, dijawab anggukan oleh Akina.

Pria itu melenggang ke arah toilet, yang ia tau berada di sisi lain gedung pusat perbelanjaan ini, ia menatap ke atas, mencari petunjuk papan pemberitahuan ke mana arah toilet, dan segera berbelok ke kiri ketika melihat tanda panahnya.

Eh? Hazuki? Langkah Yasui terhenti, dan entah kenapa dia merasa harus bersembunyi. Hazuki bersama, eh? Bukannya itu gurunya Ken-chan?! Sudah lama sekali, hingga Yasui tidak ingat terakhir kali dia melihat senyum Hazuki selebar dan semanis itu, beberapa tahun belakangan ini yang bisa ia lakukan hanyalah membuat wanita itu menangis atau marah.

***

“Gak kurang jauh kita mainnya?” Ruika mengedarkan pandangannya ke lautan lepas yang terhampar di hadapannya. Morita Myuto berhasil ‘menculiknya’ dan membawanya naik ke kapal pesiar di Yokohama, sekedar bersenang-senang dengan puluhan tamu lainnya.

“Masih kurang jauh?” tanya Myuto, menyodorkan segelas champagne pada Ruika, yang disambut dengan senang oleh Ruika.

“Memangnya mau ke mana?”

Myuto menerawang, “Mungkin Hawaii?”

Ruika terkekeh, “Dasar gila!”

Alih-alih merasa tersinggung Myuto malah ikut tertawa, “Nah gitu dong, senyum, lagipula aku membawamu ke sini karena Ibuku memberikan dua tiketnya kemarin, dan Ayahku mendadak harus pergi ke luar negri jadi tiket kapal pesiar ini tidak ada yang pakai, Ibuku tidak mau pergi sendirian,” kata Myuto menjelaskan.

“Oohhh,” bibir Ruika membulat sebagai jawaban, “Sankyu.”

Myuto menunjukkan ibu jarinya, “Tak masalah, aku kan juga tidak punya teman untuk datang ke sini, kalau sendirian terlalu menyedihkan.”

Sejak hari Akane datang menemuinya Ruika masih menghindar dari Shoki. Hatinya masih belum mau untuk mempersilahkan Shoki membela dirinya sendiri. Terakhir kali Ruika mengangkat telepon Shoki ia menjelaskan bahwa ia masih ingin sendirian, memikirkan semuanya, tebakannya Akane belum memberi tahu perihal kejadian mereka bertemu dan Ruika meminta Shoki untuk menjauhi Akane, karena Shoki sama sekali tidak membahasnya.

Myuto bilang Ruika harusnya lebih percaya pada Shoki, tapi firasatnya berkata lain. Entah kenapa Ruika merasa sebenarnya Shoki juga menyukai Akane, tapi pria itu tidak menyadarinya, hanya butuh waktu sampai pria itu mengenali perasaannya sendiri dan mungkin benar-benar meninggalkannya. Perasaan tidak aman dan nyaman seperti itu membuatnya tidak tenang, Ruika tau Shoki bukan tipe peselingkuh, kemungkinan besar Shoki akan mencoba menutupi perasaannya walaupun dia sadar soal perasaannya kepada Akane, tapi apa Ruika cukup tega membiarkannya? Seumur hidup bersama dengan orang yang tidak benar-benar mencintaimu? Bukankah itu lebih dari menyedihkan?

“Melamun terus…” bisik Myuto, dan Ruika hampir menampar pemuda yang kini berjarak dekat sekali dengannya.

“Huh!! Jauh-jauh sana!!” Ruika mendorong bahu Myuto yang langsung tergelak, menggoda Ruika memang selalu menyenangkan.

“Mau dengar cerita sedih?” Ruika melihat Myuto mengatakannya sambil matanya menatap ke arah laut lepas Yokohama, Ruika tidak menjawab membiarkan pemuda itu melanjutkan, “Aku pernah jatuh cinta pada seorang wanita, aku bertemu dengannya saat aku rutin ke Odaiba, namanya Miyazaki Haru,”

Waktu itu umurnya belum genap lima belas, dia baru saja pindah ke Tokyo tapi orang tuanya sering bolak-balik ke Odaiba karena harus merintis beberapa usaha di sana dengan seorang teman bisnis mereka. Myuto terkadang ikut, menemani orang tuanya, dan kalau bahasa orang tuanya ‘belajar bisnis sejak muda’. Mereka bertemu di sebuah toko kelontong, milik keluarga Miyazaki. Sejak bertemu dan merasa tertarik, Myuto selalu memaksa untuk ikut ke Odaiba, alasannya dia benar-benar ingin belajar bisnis, padahal ingin bertemu dengan Haru, hampir enam bulan berlalu, mereka sering bercanda bahkan Myuto mengajak Haru makan di luar atau sekedar melihat-lihat di sekitaran sana, sampai Haru tiba-tiba menghilang. Benar-benar menghilang.

“Menghilang? Bagaimana bisa?” seru Ruika.

“Haru-chan pergi ke luar negri dan sejak itu aku tidak tau kabarnya, aku mencoba mengorek informasi tapi keluarganya tetap tidak mau memberitahu aku, dan sejak saat itu aku tau kalau perasaan yang tidak tersampaikan itu lebih sakit, kita tidak akan pernah tau bagaimana respon orang itu, aku tidak tau apakah Haru-chan juga suka padaku? Atau akan menolakku? Tapi karena aku tidak pernah menyatakannya, aku tidak tau,”

Ruika terdiam, dia mulai tau kemana arah pembicaraan ini.

“Aku tau kau tidak mau langsung bicara pada Morohoshi-san, tapi kalau ini berlanjut terus, dia tidak tau perasaanmu dari mulutmu sendiri dan ketidak jelasan hubungan kalian juga akan berlanjut, padahal kalian sebelumnya tidak ada masalah dengan keberadaan Hayakawa-san, kan?”

“Tapi… dia… mulai menyebalkan! Aku sudah pernah bilang pada Shoki untuk menjaga jarak!”

“Tapi kau tidak tau kebenarannya dari penjelasan Shoki sendiri! Biarkan dia membela dirinya dulu, saat kau tetap tidak bisa menerima, barulah kamu bertindak!” seru Myuto lagi. Dibalik semua kecuekan Myuto, Ruika tidak pernah tau kalau pemuda ini bisa berkata seperti itu, “Yah kalau kau sampai putus dengan Morohoshi-san, nanti aku yang lamar kamu deh!” kata Myuto bermaksud menggoda Ruika.

No thanks!!

Myuto tergelak, “Jadi, sepulang dari sini kamu harus bicara dengan dia ya?” seakan terhipnotis, Ruika mengangguk.

***

To Be Continue~

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Seven Colors (#6)

  1. dindobidari

    Anskfkfkndkdkdidjhdvjd baru mulai udah dibikin amsnzndnjcjfbfbfjhdb 😱 galaaaawwww…. kok aku ikut kebawa galaw ya gegara sanada galaw 😂 ngga habis pikir kok bisa sih kaede bersikap sedatar gitu setelah melewati malam panas yang indah itu.. *woi* teganyaaaaaaa 😂
    eh betewe ada ueda sensei.. ternyata emang bener ya, kemarin ffku dikomen tentang ueda sensei everywhere, dan memang ueda sensei beneran everywhere.. aku baru ngeh, bener juga ya 😅
    Reo.. reo kamu sama aoi aja deh mending, seumuran.. kalo ngarepin yg udah jadi sensei mah beban hidupnya udah berat, susah kamu ngimbanginnya 😂
    Hmm.. gimana ya.. fuwafuwa sih.. hazu hagi.. kok nyenengin ya.. 🙈 tapi masih tersimpan juga harapan untuk yasu hazu  kembali.. apapun deh yg penting semua bahagiya 🙈
    Iiiiiiiihhh kok aku juga suka sih sama aran aika 😂 game of love.. complicated. kalo yg aku suka baca di komik biasanya yg macam begini menyakitkan 😂
    Waaaa mamih endorse novelnya mas 😍😍 *gakkkk
    myuuuu.. mau dong diajak naik kapal pesiar……. 🙈

    Reply
  2. hanazuki00

    Baru bacaaa yaampun 😢

    Hagi-Hazuki-Yasui eaaaah abis ini jadinya Hagiyas wkwkw

    Kaede Sanada uuuh kirain mau anu anu di kamar mandi sekolah ternyataaa begitu doanh ih. Reo suka kaede ya mih? Awawawwww ayoo lebih agresiflaah jangan jadi anak polos nanti disuruh push up sama ueda sense 😁

    Aika aran.. hmm skrg aku tau knapa banyak wanita mau sama aran www. Aku juga mau! 😁
    Kok nanggung mih anu anu nya dipotong aih errr

    Shoki ngga muncul 😭

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s