[Multichapter] MONSTER (#4)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 4)
Cast :
Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Haru berjalan menuruni tangga, dia melangkah menuju ruang makan. Haru mengambil ramen instan untuk sarapan, membuatnya sembari membaca materi untuk ujian. Beginilah nasib anak SMA yang hidup sendiri tanpa orangtua. Makan seadanya, seenaknya. Yang penting perut terisi. Sejak orangtua Haru meninggal dua tahun lalu, Haru hidup sendiri. Sebenarnya ada paman dan bibinya yang berniat mengasuhnya, tapi itu artinya dia harus pindah. Haru tidak suka beradaptasi dengan lingkungan baru, jadi dia menolak dan memilih hidup sendiri. Toh, dia tidak benar-benar sendiri. Orangtua Sora berbaik hati mengurus keperluannya, setiap dua hari sekali mereka datang mengecek Haru.

“Haru-Chan, dimana shampoo yang baru kubeli kemarin?”

Haru menengok, dia balas berteriak, “Di meja dekat wastafel. Kau buta, ya, sampai tidak melihat botol shampoo sebesar itu?” Haru menghela napas, dia geleng-geleng kepala dan kembali menyiapkan sarapan. Ya, sekarang dia tidak sendiri. Ada Shori yang tinggal bersamanya. Lumayan, jadi Haru tidak menonton televisi sendirian seperti orang bodoh di malam hari.

“Wah, ramen.”

Haru memekik kaget, dia langsung memukul keras kepala Shori yang tiba-tiba ada di dekatnya. Rambutnya basah, handuk kecil melingkar di lehernya. “Aw! Kau ini kenapa senang sekali memukul kepalaku, sih?!” Shori berniat membalas Haru, tapi gadis itu segera menangkis pukulan Shori.

“Kau yang apa-apaan, muncul seenaknya seperti hantu!” balas Haru, “eh, kau tadi bertanya dimana shampoo, kenapa sekarang sudah selesai mandi? Kau cepat sekali kalau mandi.”

“Memangnya kau, sikat gigi saja makan waktu setengah jam,” balas Shori, dia terkekeh dan berlari menghindar saat Haru memukul lengannya. Haru berdecak, dia tertawa saja dan membuat teh. Haru senang Shori kembali kemari. Haru menghela napas, dia teringat kejadian beberapa hari lalu. Haru merasa Hokuto dan Taiga tidak bersikap ramah kepada Shori. Mungkin itu karena mereka sudah lama tidak bertemu, tapi tetap saja Haru merasa aneh. Dua orang itu seakan menjaga jarak dengan Shori, padahal dulu mereka bertiga bisa dibilang akrab.

Apa terjadi sesuatu, ya?

“Kenapa Kyomoto-Kun dan Matsumura-Kun tidak menyambut kedatanganku, ya?”

Haru berjengit kaget, dia sampai menubruk meja makan. Haru terbelalak menatap Shori yang lagi-lagi muncul di belakangnya secara mendadak. “Kau merasa tidak kalau sikap mereka aneh sekali?” tanya Shori, “mereka seperti… tidak menyukai kedatanganku. Apa jangan-jangan selama ini mereka membenciku, ya?” Shori menatap Haru, dia meneruskan, “Aku berbuat salah, ya, kepada mereka?”

Haru berdecak, dia duduk dan mulai menyantap ramennya. “Kau terlalu berlebihan,” komentar Haru, “mungkin itu karena kalian sudah lama tidak bertemu. Kalau Taiga, dia kan memang sejak dulu tidak begitu akrab dengan yang lain. Hokuto… yah, agak aneh memang dia tidak terlalu antusias dengan kedatanganmu, tapi kurasa itu karena dia memang sudah lama tidak bertemu denganmu dan dia sudah asyik dengan teman-temannya yang sekarang.” Haru menatap Shori, dia meneruskan, “Jangan terlalu diambil serius. Lama-lama mereka juga akan kembali akrab denganmu.” Haru tersenyum, dia kembali menyantap ramennya. “Makan ramenmu, nanti dingin,” sahut Haru disela kunyahannya.

Shori mengangguk, dia duduk di depan Haru dan mulai menyantap ramen instan. Selama beberapa saat mereka diam, sibuk dengan makanan mereka. Haru beranjak, dia akan mencuci tangan saat telepon berdering. “Siapa menelepon pagi-pagi begini?” gumam Haru, dia segera menjawab panggilan yang masuk. “Hai, Miyazaki disini,” sahut Haru.

‘Haru-chan, apa kau di rumah?’ sebuah suara menyahut.

Haru mengerutkan dahi, dia menjawab, “Aku di rumah, kok. Memangnya ada apa, Paman Hideyoshi?”

“Jangan keluar rumah. Bahaya.”

“Hm?” Haru keheranan, dia menyingkap tirai jendela dan terbelalak melihat orang-orang berlarian sambil berteriak di luar rumahnya. Pantas saja daritadi Haru mendengar suara ramai, dia kira itu hanya suara tetangga sebelah yang memang sering sekali mengadakan jamuan bersama koleganya. “Paman, apa yang terjadi?” tanya Haru, “apa… apa ada monster lagi?”

‘Sepertinya begitu,’ jawab Paman Hideyoshi, ‘apapun yang terjadi, jangan keluar rumah. Sembunyi saja di kamar, di lemari, atau dimanapun. Kau mengerti? Aku akan kesana sebentar lagi.’

Haru akan menjawab, dia berdecak saat telepon sudah terputus dan menatap panik keluar jendela. “Apa yang harus kulakukan?” gumam Haru panik, dia segera kembali ke ruang makan. “Ada monster lagi diluar,” sahut Haru gelisah, “bagaimana ini? Bagaimana kalau nanti mereka menyerang rumah sakit dan melukai Hideyoshi Senpai?”

“Disaat seperti ini kau seharusnya mengkhawatirkan dirimu sendiri, Haru-Chan,” ucap Shori, “sudah ada banyak orang yang menjaga Hideyoshi-san, sedangkan kau sendirian. Bagaimana kalau kau justru yang terluka?”

“Aku baik-baik saja!” Haru akan berlari keluar, tapi Shori langsung menariknya dan bersembunyi di kamar Haru di lantai atas.

“Kumohon dengarkan aku, Haru-Chan,” ucap Shori, “aku tidak mau kau terluka. Kau lihat sendiri bagaimana monster-monster itu menyerang sekolah beberapa hari lalu.” Shori menggenggam  tangan Haru, dia menatap memohon kepada gadis itu, “Kumohon.”

Brak!

“Haru-chan!”

“Haru-chan, dimana kau?!”

“Miyazaki!”

“Miyazaki-San!”

Haru menengok, dia akan beranjak keluar tapi Shori menahannya. “Astaga, Shori, itu Hokuto dan Taiga!” sahut Haru, dia mulai tidak sabar.

Shori berdecak, dia tetap menahan Haru. “Ada banyak monster berkeliaran,” dia memberi alasan, “bagaimana kalau ternyata itu monster yang menyamar sebagai mereka dan menjebakmu? Kau bisa terluka nanti, Haru-Chan.”

“Monster itu kan tidak ada urusan denganku,” sahut Haru, “kau pikir kita saling mengenal sampai mereka tahu siapa saja yang dekat denganku? Sekarang minggir, aku mau menemui mereka.” Haru mendorong Shori dan berlari keluar kamar. Shori berdecak kesal, dia akhirnya berlari mengikuti Haru.

Haru menuruni tangga, Hokuto yang melihatnya langsung berlari memeluk gadis itu. “Astaga, kemana saja kau?” tanya Hokuto panik, “kenapa kau tidak menjawab panggilanku?”

“Kau tidak terluka, kan?” Taiga ikut bertanya, “tidak ada monster yang masuk kemari, kan?” Taiga menoleh, dia menatap Shori yang muncul dari lantai atas. “Apa yang kau lakukan disini, Sato-Kun?” tanya Taiga ketus.

“Eh? Aku belum memberitahu kalian kalau Shori tinggal denganku?” sahut Haru.

.

.

.

.

Taiga, Hokuto, Jesse, dan Myuto terbelalak menatap Haru yang menatap mereka dengan bahasa apa-aku-salah-mengucapkan-sesuatu.

“Apa yang ada di otakmu?!” sentak Taiga, “kau tinggal serumah dengan laki-laki yang tidak sedarah denganmu!”

“Kau bahkan tidak mengijinkan Hideyoshi-san tinggal disini, tapi kau malah serumah dengan Sato-kun,” Hokuto memijit keningnya, “aku tidak mengerti isi otakmu, Haru-Chan.”

“Kalau Hideyoshi-san, kan, masih punya orangtua yang tinggal disini,” Haru beralasan, “beda dengan Shori. Dia kan jauh dari orangtuanya, lagipula dia kan teman masa kecil kita, apa salahnya kalau dia tinggal disini?” Haru menatap Jesse dan Myuto, dia sedikit merasa aneh saat bertatapan sekilas dengan Myuto. Tentu saja aneh, mengingat beberapa hari lalu dia menitipkan salam melalui Chiru.

“Sudahlah, yang penting Miyazaki-San aman,” sahut Jesse, dia menengok keluar dan berkata, “setidaknya disini aman. Kau jangan keluar rumah sampai keadaan a…”

BRAK!

“Sudah tidak aman lagi,” Jesse mengakhiri kalimatnya. Myuto berdecak, dia langsung meraih Haru dan membawa gadis itu keluar rumah. “Tunggu!” Haru berteriak, dia akan kembali saat sebuah ledakan menghancurkan sebagian rumahnya.

“SHORI!” Haru berteriak, “Morita-Kun, mereka semua masih didalam!” Haru tersandung-sandung, dia berusaha melepaskan diri tapi Myuto terlalu kuat mencengkeram lengannya.

Myuto berhenti di belokan sebuah gang sempit, dia setengah mendorong Haru dan berkata, “Sembunyilah di rumah kecil itu. Kau aman disana.”

“Tapi…”

“Jangan keluar sampai aku memanggilmu, Miyazaki,” sela Myuto.

Eh.

Haru terdiam, dia termangu menatap Myuto yang juga menatapnya. Myuto berbalik, dia berlari dan menghilang di belokan. Haru diam beberapa saat, ucapan Myuto mengingatkannya kepada Ibu. Haru mendesis, dia menahan rasa sakit yang mendadak muncul di kepalanya. Haru menoleh, dia berlari masuk ke sebuah rumah yang dimaksud Myuto. Haru duduk di dekat pintu, menunggu Myuto memanggilnya.

Kalau Myuto memanggilnya.

***

Jinguji mengintip, dia mengamati keadaan yang sudah kacau. “Yang aku bingung, kenapa semua serangan ini terkesan bertubi-tubi?” suara Kishi terdengar, “maksudku, itu semua monster milik Yahagi dan Nogumi. Mereka mau perang disini, begitu?”

Jinguji diam saja, dia melangkah keluar dari persembunyiannya dan mengeluarkan busur dan panah. Tidak ada satu orangpun disana, hanya ada beberapa jasad yang tergeletak dan suasana yang seperti kota mati di film-film. “Kishi-Kun, periksa keadaan di sebelah sana,” ucap Jinguji, “dan… lho, dimana Chika dan Hagiya?”

Chika mengintip, dia terkikik melihat Jinguji dan Kishi kelihatan kebingungan. “Biarkan saja mereka memeriksa kondisi di sebelah sini,” ucap Chika, “ayo, Hagiya. Kita cek keadaan di tempat lain.” Chika akan berlari saat Hagiya menahannya.

“Ano… kau keberatan tidak kalau mengecek keadaan di tempat lain sendirian?” tanya Hagiya ragu, “aku… aku…”

“Semoga saja Kyomoto-san tidak terluka,” sela Chika. Dia tahu, Hagiya pasti mengkhawatirkan Miyuki, si bungsu keluarga Kyomoto itu. Hagiya tersenyum, dia mengangguk dan langsung berlari meninggalkan Chika. Chika menghela napas, dia mengerling sejenak kearah Jinguji lalu berlari menjauhi lokasi. Chika tidak mengerti kenapa Jinguji begitu memusuhi Taiga dan yang lainnya. Dia tahu, orang-orang itu bukan manusia normal. Mereka keturunan monster-monster musuh Haguro, Yahagi dan Nogumi. Tapi masa permusuhan masih berlangsung sampai sekarang? Lagipula tidak ada yang tahu bagaimana awal permusuhan terjadi, kenapa keturunannya ikut-ikutan bentrok?

Pikiran mereka sulit dimengerti.

Chika berjalan menuju area pertokoan. Ada banyak anggota kepolisian disana, sibuk mendata dan menginterogasi orang-orang disana. Suasana memang sangat kacau, ada banyak mayat berjajar di satu sisi pertokoan. Chika menoleh, dia mendekati seorang gadis kecil yang menangis disamping seorang wanita yang tidak berdaya. “Apa yang terjadi dengannya?” tanya Chika khawatir.

Gadis cilik itu menoleh, dia memeluk Chika dan menangis seraya berkata, “Ibuku diserang. Ibuku diserang monster.”

Chika terkejut mendengar pernyataan gadis itu, dia memeluk dan menenangkannya. “Jangan khawatir,” ucap Chika, “aku akan mengobati ibumu.” Chika mengeluarkan sebuah botol kecil, dia memberikannya kepada gadis kecil itu dan berkata, “Ini adalah ramuan untuk mengobati semua luka. Kecuali luka karena cinta.”

Ngek.

Chika terkekeh saja melihat ekspresi kebingungan gadis itu. “Abaikan kata-kata terakhir,” ucapnya, “berikan ini kepada ibumu. Semoga saja bisa sembuh.” Chika memberikan ramuan itu, gadis itu menerimanya dan memberikannya kepada Sang Ibu. Chika menghela napas, dia tiba-tiba terdiam dan mengerutkan dahi. Hidung Chika menangkap bau monster Yahagi, Chika langsung menoleh mencari kalau-kalau ada monster. Chika berdiri dan menyiapkan belatinya, matanya menatap awas kesegala arah. Ada orang terluka disini, Chika harus melindunginya.

“Ne, onee-san.”

Chika menoleh, dia terbelalak kaget melihat gadis kecil tadi berdiri dan menatapnya dingin. Tangannya entah bagaimana caranya berubah menjadi cakar tajam yang mengerikan. “Terimakasih sudah mengobati ibuku,” ucapnya sambil menyeringai, “sekarang, apa aku boleh memakanmu?”

Chika menoleh, dia perlahan mundur melihat wanita yang tadi terluka sudah tampak sehat dan… mengerikan. Matanya tampak buas menatap Chika seperti serigala menatap mangsanya. ‘Yahagi,’ batin Chika, dia melirik kearah lain dengan panik, ‘astaga, bagaimana bisa aku tidak tahu kalau mereka monster? Chika bodoh.’ Chika menarik napas panjang, dia langsung berlari menghindar. Chika memang sudah berlatih beladiri dan belajar cara menghadapi monster, tapi tetap saja praktek di lapangan selalu berbeda jauh dengan teori yang dipelajari didalam kelas, kan? Chika bukan Jinguji yang sudah pernah menghadapi monster sendirian, atau Kishi yang memang dari kelas petarung. Chika dan Hagiya berasal dari kelas yang sama, yaitu kelas pengobatan.

“Akh!” Chika terhempas kuat, dia meringis kesakitan. Chika berusaha bangkit, menghindari dua monster itu.

“Cepat juga larinya,” ucap wanita itu, dia langsung mencengkeram leher Chika, “tapi ayam tidak bisa berlari secepat harimau.” Wanita itu mengendus tubuh Chika, dia tergelak dan menoleh kearah gadis cilik itu. “Haguro,” teriaknya, “dia bangsa cenayang itu!” Wanita itu menatap bengis Chika yang kesakitan, dia menggeram, “Kalian bangsa yang sudah menghancurkan bangsaku.”

Chika meringis, dia menyesal sudah kabur dari Jinguji. Kalau saja dia tidak melarikan diri, dia masih aman bersama Jinguji dan Kishi. ‘Gomen ne, minna,’ batin Chika sambil menitikkan airmata, ‘maafkan aku. Aku janji tidak akan melarikan diri lagi.’

“LEPASKAN CHIKA ATAU KUHANCURKAN TUBUHMU!”

***

Kaede menghela napas, dia bingung harus memilih bunga yang mana. Ada banyak bunga yang bagus disini, walaupun tidak sebagus di toko bunga langganannya. Tapi, sekarang toko bunga langganannya sedang direnovasi setelah terkena serangan monster dua hari lalu. Kaede mengambil setangkai bunga mawar, dia lalu meletakkannya kembali. “Aku harus membeli bunga apa?” erangnya, “dasar Nii-San, kenapa dia tidak membeli bunga sendiri saja?” Kaede diam sejenak, detik berikutnya dia tersadar. “Ooooh, aku tahu,” gumamnya, “dia pasti sengaja menyuruhku membeli bunga karena ingin berduaan dengan Hideyoshi Senpai. Ck, awas saja dia. Akan kubalas nanti.”

“Kau niat membeli bunga atau menggerutu soal kakakmu?”

Kaede terkejut, dia menoleh dan menatap kaget Sanada yang entah sejak kapan berdiri di dekatnya. Sanada menatapnya tenang, dia mengambil seikat bunga krisan berwarna putih dan menyerahkannya kepada Kaede yang memberi tatapan permusuhan kepadanya. “Untuk orang sakit, biasanya dibawakan bunga ini,” ucap Sanada, “atau bawakan saja bunga kesukaan si pasien.”

“Tidak usah mengajariku!” sentak Kaede, “gara-gara bangsamu, toko bunga langgananku di renovasi! Dasar makhluk barbar!”

Sanada diam saja, dia melangkah pergi meninggalkan Kaede. Kaede berdecih, dia melangkah masuk menuju kasir untuk membayar bunga pilihannya. Kaede menoleh, dia diam menatap Sanada yang menjauh. Ada sebersit perasaan bersalah di dirinya membentak Sanada seperti itu. Apalagi Sanada, kan, kakak kelasnya. Bagaimana kalau nanti dia dendam dan menyerang Kaede saat dia lengah?

Sanada berhenti melangkah, dia menoleh kearah toko bunga yang tadi. “Dia itu anak perempuan, tapi suaranya keras seperti anak laki-laki,” gumam Sanada, “jangan-jangan di lehernya ada toa, makanya suaranya sekeras itu.” Sanada berjalan sambil bersiul, dia berniat menjenguk Chiru. Menurut Shoki, Chiru sudah diperbolehkan pulang. Tentu saja, Chiru tidak terluka parah seperti Sora, dia hanya shock. Mungkin akan lebih shock lagi kalau dia tahu keadaan sahabatnya itu.

Hm?

Sanada berhenti, dia berbalik dan mengerutkan dahi menatap seseorang yang berjalan melewatinya barusan. Cukup lama Sanada diam, dia fokus memperhatikan orang berjaket hitam itu. ‘Kenapa aku merasa aneh dengan orang itu?’ batin Sanada, ‘auranya… gelap sekali.’ Sanada perlahan kembali melangkah, dia beberapa kali menoleh sebelum akhirnya memilih mengabaikan orang itu.

***

Kai berjalan pelan di koridor sekolah. Suasana sekolah sepi, hanya ada sebagian murid saja di sekolah. Karena serangan misterius beberapa hari lalu, sekolah mengalami kerusakan yang cukup parah. Sebagian kelas, terutama kelas para senior berganti jadwal menjadi siang hari, sementara pagi hari dipakai untuk murid tahun pertama dan sebagian murid tahun kedua. Haru dan Kaede tidak datang, Miyuki juga tidak terlihat sejak tadi. Kai mendengar rumah Haru hancur karena serangan di kota dua hari lalu, dia ingin menjenguk Haru tapi tidak pernah terlaksana. Kai masih takut menemui Haru, apalagi beberapa hari lalu dia membuat Haru marah.

“Yanase-san.”

Kai menoleh, dia berhenti menatap Jinguji yang berjalan kearahnya bersama Kishi. Kai memberi salam, dia gugup menatap Jinguji.

“Terima kasih sudah membawa Chika pulang ke rumah,” ucap Jinguji, “aku berhutang kepadamu.”

“Kalau saja kau tidak lewat sana, mungkin kami tidak tahu kalau Chika diserang,” sambung Kishi, “Terima kasih.”

Kai mengangguk, jujur saja dia gugup. Ini pertama kalinya Jinguji mengajaknya bicara, biasanya dia hanya menatap Kai sinis.

“Bisakah kau menjelaskan apa yang terjadi?” tanya Jinguji.

“Aku mendengar suara-suara di lorong, kupikir ada yang butuh bantuan jadi aku kesana,” Kai menjawab, “saat aku sampai, aku menemukan Konno-San sudah tergeletak di sisi lorong.” Kai menatap Jinguji dan Kishi, dia bertanya, “Sebenarnya ada apa ini? Belakangan ini sering sekali ada serangan seperti ini.”

“Kau tidak usah khawatir,” sahut Kishi, “ini hanya serangan biasa. Daerah lain juga mengalaminya, benar kan?” Kishi menatap Jinguji dan pemuda itu mengangguk saja.

“Baiklah, aku harus pergi,” ucap Jinguji, “jaa!” Jinguji mengangguk singkat, dia dan Kishi melangkah menjauhi Kai.

Kai terpana menatap Jinguji, dia menghela napas dan berpegangan kepada dinding. Lututnya lemas seketika, jadi seperti ini ya berhadapan dengan orang yang disuka. Lebih menegangkan daripada menghadapi kepala sekolah.

“Yanase-san.”

Kai langsung menegakkan tubuhnya, dia menatap kaget Jinguji yang menatapnya. “Jaga dirimu,” ucap Jinguji, dia kembali berjalan menjauhi Kai.

Kai mengangguk, dia menampar pipinya beberapa kali, “Jinguji,” gumamnya, Kai memekik kegirangan. Dia berlari, tidak sabar rasanya Kai ingin bertemu teman-temannya. Mereka harus mendengar ini, mereka harus tahu kalau Jinguji mengajaknya berbicara untuk pertama kalinya. Kai berlari, dia bernyanyi dengan perasaan bahagia.

“Monster-monster itu akan beraksi lagi nanti malam.”

Kai berhenti, dia menoleh kearah sebuah ruangan yang setengah terbuka. Dahi Kai berkerut heran, suara siapa itu? Monster? Kai mendekat perlahan, dia mengintip dan melihat ada dua orang disana. Satu membelakangi pintu, tapi dia mengenakan seragam SMA Inokura. Satu orang lagi tertutup tubuh orang pertama, tapi sepertinya dia bukan murid sekolah ini. “Aku tidak mengerti, kenapa kau belum juga bergerak?” sebuah suara terdengar, “kau kemari untuk membantu kami, kan?”

“Beri aku waktu sedikit lagi,” ucap orang yang membelakangi pintu, “aku tidak bisa bergerak mendadak. Mereka akan mencurigaiku.”

“Ck, kalau kau tidak segera menjalankan rencanamu, jangan memprotes kalau nanti keadaan tidak sesuai dengan rencana kita,” suara tadi kembali terdengar, “kita membutuhkan kekuatan tambahan untuk memusnahkan mereka.”

“Bagaimana dengan Haguro itu?” suara lain menyahut.

“Dia bukan masalah besar,” sahut suara pertama.

Kai mengerutkan dahi bingung. Haguro? Apa itu? Kai sedikit mendekat, dia penasaran dengan sosok yang memakai seragam itu. Siapa dia? Kai merasa mengenal sosok itu, tapi karena wajahnya tidak terlihat dia tidak bisa memastikan.

“Yanase?”

Kai tersentak kaget, dia sampai terjungkal dan menabrak pintu ruangan itu. Ryosuke berdiri di dekatnya, dahinya berkerut heran. “Kau mengintip apa? Itu, kan, ruangan kosong,” sahut Ryosuke, dia terkesiap dan berkata, “Ada adegan XXX ya? Mana aku mau lihat,” Ryosuke membuka pintu, dia mengerang dan berkata, “Tidak ada apa-apa disini, Yanase-san,” Ryosuke menatap kesal Kai yang cengo, dia menggerutu tidak jelas.

“Kau saja yang berlebihan,” sahut Kai, “aku hanya… ne, aku seperti melihat ada seseorang di ruangan itu. Saat aku mengintip, ada dua orang disana. Satu mengenakan seragam sekolah ini, satunya lagi tidak. Tapi aku tidak melihat wajah mereka. Saat kau membuka pintu, mereka sudah tidak ada.”

“WAH ITU HANTU!”

Gubrak!

Ryosuke dan Kai terjungkal kaget, mereka menoleh dan memberi tatapan horor kepada Yuto yang entah sejak kapan ada dibelakang Kai. “Ne, ne, ne,” Yuto mendekat dengan memasang wajah antusias, “apa mereka memiliki kaki? Apa mereka tembus pandang? Ini bisa jadi artikel menarik di buletin sekolah. Yang lain pasti tertarik dengan topik yang berkaitan dengan hantu atau semacamnya, kan?” Yuto menatap Kai yang keheranan dengan antusiasmenya, dia bertanya, “Mereka tembus pandang dan tidak memiliki kaki, kan?”

“Kalau soal mereka memiliki kaki atau tidak, aku tidak tahu,” jawab Kai, “tapi mereka tidak tembus pandang.”

Yuto memekik kegirangan, Ryosuke langsung menggeplak kepalanya dan berkata, “Kau berisik, tahu tidak!” Ryosuke berdecak, dia berkata, “Tapi memang ada kisah hantu di sekitar sini, kan. Kudengar beberapa tahun lalu, ada pembunuhan di salah satu ruangan disini. Seorang murid membunuh kakaknya yang seorang guru, lalu bunuh diri. Karena arwah mereka mengganggu, kudengar akhirnya ruangan itu dikosongkan,” Ryosuke menengok keluar ruangan, dia berkata, “Masalahnya ada tiga ruangan yang dikosongkan disini. Jadi salah satunya pasti yang berisi arwah itu.”

Ming.

Kai, Yuto, dan Ryosuke saling pandang, mereka bergidik ngeri dan cepat-cepat berlari meninggalkan ruangan itu. “Aku akan mengajak Inoo Senpai mencari berita disini!” pekik Yuto. Kai yang mendengarnya hanya geleng-geleng kepala, dia merasa Yuto itu idiot. Kenapa dia harus seantusias itu mencari berita soal hantu? Apa yang menarik dari kisah mistis seperti itu?

Shori muncul dari belokan koridor, dia menatap kearah Ryosuke, Yuto, dan Kai yang berlari menuju gedung utama. Shori menoleh kearah koridor yang tampak kosong itu, dia kembali menatap tiga orang itu dan berjalan santai menjauhi lokasi.

***

Taiga berlari, dia menarik tangannya dan berhenti sambil menatap kesal Miyuki. “Kau ini apa-apaan sih?!” sahut Taiga, “kenapa kau membawaku ke wilayah cenayang sial itu?! Aku pergi saja!” Taiga berbalik, dia akan pergi tapi Miyuki menarik kerah bajunya.

“Nii-San, aku mau menjenguk Konno Senpai,” Miyuki merajuk, “aku mengenalnya, kata Ibu, kan, kita wajib menjenguk kenalan kita yang sakit.”

“Tapi itu tidak berlaku untuk kalangan diluar kalangan kita,” sahut Taiga, “lagipula, apa urusanku kalau dia sakit? Mau dia sakit, mau dia mati sekalipun aku tidak akan peduli.”

Miyuki menatap Taiga, dia tersenyum. “Kau itu sedarah denganku, Nii-San,” ucap Miyuki, “kau tidak bisa berbohong kepadaku.” Miyuki mencubit pipi Taiga dan menariknya. “Kau khawatir dengan Konno Senpai, sou darou?”

Uruse!” Taiga menyentakkan tangan Miyuki. Taiga tidak mengerti kenapa dia merasa khawatir dengan keadaan Chika. Mendengar Chika diserang, sesaat Taiga merasa dia ingin berlari melihat keadaan gadis aneh itu. Tapi masalahnya, dia masih harus membereskan kekacauan di rumah Haru. Taiga juga tidak paham kenapa dia memikirkan keadaan Chika semalaman. Padahal seharusnya dia memikirkan keadaan Haru, sahabatnya.

Aneh.

“Hanya sekali,” suara Miyuki membuyarkan lamunan Taiga, “setelah ini Nii-San tidak perlu menemuinya. Aku hanya meminta Nii-San menemaniku karena kalau aku kesana sendirian, mereka bisa melukaiku.”

“Sudah tahu begitu kenapa kau masih nekat kesana, hah?” sahut Taiga, “sudahlah, ayo kita pulang saja.” Taiga menarik tangan Miyuki, dia melangkah menjauhi lokasi. Kadang Taiga merasa adiknya ini sangat aneh. Dia tahu Haguro dan Nogumi bermusuhan, tapi dia nekat berdekatan dengan mereka. Tapi kalau sudah berdekatan, dia takut dilukai. Benar-benar membingungkan. Taiga dan Miyuki berhenti saat melihat Hagiya berjalan kearah mereka.

“Kyomoto-San?” Hagiya memberi salam kepada Taiga dan Miyuki, “apa yang kalian lakukan disini?”

“Kami ingin menjenguk Konno Senpai,” jawab Miyuki, “tapi… sepertinya tidak ada orang disana.”

Hagiya menatap Taiga, dia jujur saja agak takut dengan laki-laki ini. “Chika ada di dalam,” jawab Hagiya tersenyum, “masuklah. Tidak apa-apa.”

“Kau tidak menaruh jebakan anti-Nogumi di gerbang rumahmu, kan?” tanya Taiga sambil memicing curiga.

Hagiya terkekeh, dia menggeleng, “Tidak ada yang mau repot-repot memasang hal-hal seperti itu,” ujarnya, “bahkan Kishi-Kun tidak mau melakukannya,” Hagiya berjalan lebih dulu.

Miyuki menatap Taiga yang kini menghela napas dan akhirnya berjalan mengikuti Hagiya. Baiklah, Taiga menjenguk Chika hanya karena mereka satu sekolah. Hanya karena itu, bukan karena alasan lain.

Hagiya membuka pintu, dia berjalan masuk dan menoleh kearah Taiga dan Miyuki. “Kamar Chika ada di lantai dua,” ujar Hagiya, “masuk saja, aku akan membuat minuman.” Hagiya tersenyum, dia melangkah meninggalkan dua bersaudara itu. Miyuki tersenyum, dia menatap Taiga yang masih memberi tatapan penuh kebencian kepada Hagiya dan menghela napas.

“Mereka tidak seburuk yang kau pikirkan, Nii-San,” ucap Miyuki, “kita bahkan tidak tahu apa Haguro dan Nogumi benar-benar bermusuhan di masa lalu.”

“Tetap saja mereka itu berbahaya,” desis Taiga.

Miyuki menghela napas, dia lantas menarik Taiga menuju kamar Chika. Miyuki berdiri di depan sebuah pintu, dia mengetuknya perlahan. “Konno senpai,” sahut Miyuki, “ini aku, Kyomoto Miyuki dari kelas 1-3. Apa aku boleh masuk?”

“Masuklah. Pintu tidak dikunci, kok.”

Miyuki membuka pintu, dia melangkah dan tersenyum kepada Chika yang menyambutnya ramah. Taiga menatap lengan Chika yang terbalut perban, dia penasaran siapa yang menyerang Chika waktu itu. ‘Akan kuhabisi monster itu,’ batin Taiga geram, detik berikutnya dia mengerjapkan mata dan membatin, ‘Kenapa aku harus repot-repot membalas dendam? Memang dia siapaku?’

“Nii-San.”

Taiga menoleh kaget, dia berdehem dan bertanya, “Bagaimana keadaanmu? Sepertinya lukamu cukup parah.”

Chika tersenyum cerah, dia menjawab, “Aku baik-baik saja. Lukanya cukup lebar di lenganku, tapi Hagiya sudah memberikan obat. Butuh waktu seminggu sampai lukanya tertutup sempurna.” Chika membenarkan posisi duduknya, dia menatap Taiga dan berkata, “Terima kasih sudah menolongku waktu itu.”

Taiga mengerutkan dahinya heran, sementara Miyuki menatap kaget Taiga. “Hah?” Taiga tidak mengerti dengan ucapan Chika.

Chika mengangguk, dia menjawab, “Kau yang menolongku waktu itu, kan? Waktu aku diserang, kau yang menolongku, kan?”

Oi, chotto,” Taiga menginterupsi, “kau ini bicara apa? Aku tidak mengerti.”

“Konno senpai,” Miyuki menyahut, “hari itu, Nii-San bersama Matsumura senpai ada di rumah Miyazaki senpai. Kau tidak salah orang, kan?”

Chika menatap Taiga tidak mengerti, Taiga juga menatap Chika bingung. “Kalau bukan kau, lalu siapa yang menolongku?” tanya Chika, berusaha mengingat-ingat kejadian itu. Seseorang menolongnya, menghancurkan monster itu hingga tidak berbentuk lagi. Chika terlalu kesakitan saat itu sampai dia tidak mengenali siapa yang menolongnya. Chika hanya mengingat orang itu bertubuh tegap.

Seperti Taiga.

Pintu terbuka. Mereka menoleh, Chika lantas memekik senang dan mengulurkan sebelah tangannya kepada seseorang yang berjalan masuk dan memeluknya. “Chika-chan, kenapa kau seperti ini?” orang itu panik, “siapa yang melukaimu, biar kuhajar dia.” Chika hanya tersenyum dan menggeleng. “Sudah, jangan khawatir,” ucap Chika, “aku baik-baik saja. Kapan kau datang, kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau datang?”

“Tadinya aku ingin memberimu kejutan, malah aku yang terkejut melihat keadaanmu,” jawab orang itu terkekeh. Dia menoleh, senyumnya perlahan pudar melihat Taiga yang melongo menatapnya. “Kau…”

“Shigeoka-Kun?”

***

To Be Continue~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s