[Minichapter] Bridges of Regret Part #2 END

Bridges of Regret
By: kyomochii
Genre: Fantasy, Friendship, Supranatural
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kikuchi Fuma (Sexy Zone); Ichigo Yua, Konno Chika, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

189126

Keesokan harinya di sekolah, hari-hari Shintaro kembali seperti biasa, tidak ada teman yang mengajaknya bicara. Bahkan kejadian kemarin saat sepulang sekolah, saat Yua dan teman-temannya menyapanya dan mengajak pulang bersama, Shintaro seperti sedang bermimpi saja membayangkannya.

“Shin…” Shintaro melihat Yua berusaha menyapanya, tapi Chise dan Chika buru-buru mencegahnya. ‘Kau bisa dimarahi orang tuamu kalau dekat-dekat dengannya lagi.’ Meski jauh, Shintaro dapat dengan jelas mendengarnya. Shintaro hanya menghela napas, mencoba memakluminya.

Meski teman-temannya sudah menjauhinya, beberapa kali, Shintaro tidak sengaja memergoki Fuma dan Chika meletakkan minuman ke dalam tasnya setelah pelajaran olahraga. Bahkan Chise juga dengan terang-terangan menawarkan diri mengantarnya ke ruang kesehatan saat dia sakit perut di kelas dengan alasan dia adalah petugas piket dan bertanggung jawab mengantarnya. Meski hanya berasumsi kalau teman-temannya masih peduli, Shintaro merasa senang sendiri.

Sampai suatu hari, datanglah hari di mana Yua harus pindah sekolah. Sejak saat itu, semuanya benar-benar berubah. Fuma, Chika dan Chise benar-benar seperti orang lain yang tidak pernah mengenalnya.

“Kikuchi-kun.” Shintaro mencoba bicara dengan Fuma saat keduanya tinggal berdua saja di ruang ganti setelah pelajaran olahraga.

“Ku mohon jangan bicara padaku. Aku tidak mau orang tuaku memindahkanku juga. Aku masih ingin tiap hari bertengkar dengan Chika, aku juga ingin tiap hari bisa menjahili Chise. Dan suatu hari nanti, aku ingin bertemu Yua lagi.”

Deg.

Kalau saja Yua tidak pernah menyapaku, kalau saja Yua tidak pernah mengajakku pulang bersama, mungkin mereka akan baik-baik saja dan terus bersama. Semua terjadi karena aku masuk ke dalam kehidupan mereka. Apa sebaiknya aku tidak pernah ada dalam kehidupan mereka? Diam-diam Shintaro merutuk dirinya sendiri.

Karena terus memikirkan kesalahannya, akhirnya Shintaro memilih untuk mengakhiri hidupnya. Selama ini, dia tidak pernah punya teman untuk cerita, bahkan dia tidak terlalu terbuka dengan kakaknya. Sehingga mengakhiri hidup ada pilihan terbaik baginya, Shintaro bisa melupakan semua beban yang ditanggung selama hidupnya.

*

Tapi ternyata melupakan teman-temannya tidak semudah yang dibayangkan Shintaro. Setelah mencapai alam akhirat pun, Shintaro masih terbayang-bayang keempat temannya. Bagaimana keadaan mereka saat kepergiannya? Apa mereka merasa kehilangan dirinya?

Tidak mungkin, kan? Meskipun mereka menjauhiku karena orang tua mereka, tapi mereka tulus ingin berteman denganku. Benarkan Yua? Fuma? Chise? Chika? Tapi bagaimana kalau mereka hanya terpaksa berteman denganku karena Yua? Makanya saat Yua pergi, mereka kembali menjauhiku? Aku harus mencari tahu, atau aku tidak akan tenang untuk menjalani kehidupanku selanjutnya.

“Arwah nomor 7685, di kehidupan selanjutnya kau akan menjadi seekor Gorila. Silahkan masuk ke ruangan nomor 5 untuk proses reinkarnasi Anda.” Sebuah suara membuyarkan lamunan Shintaro tentang teman-temannya, nomor yang dipanggil adalah nomor miliknya.

Di dalam ruangan, selama menuju proses reinkarnasi, kenangan-kenangan tentang kehidupan sebelumnya mulai dilucuti. Shintaro perlahan melihat wajah Yua lalu beberapa detik kemudian tidak mampu lagi mengingatnya.

Eh? Apa aku akan kehilangan kenangan tentang mereka semua? Tidak! Aku tidak mau melupakan mereka sebelum tahu perasaan mereka yang sebenarnya!

Shintaro menolak proses penghilangan ingatan, membuat petugas akhirat dengan sekuat tenaga menahannya. Tapi karena Shintaro sudah berubah menjadi wujud Gorila, kekuatannya tidak ada tandingannya sehingga dia berhasil kabur dan memencet tombol kembali ke dunia.

Sayangnya, sebagian dari ingatannya tadi sudah berhasil dihilangkan, sehingga dia tidak tahu tempat asalnya dulu dan ke mana harus mencari teman-temannya. Shintaro terus berkelana untuk mencari teman-temannya tapi tidak ketemu juga. Apalagi dengan wujud Gorilanya, Shintaro hanya bisa mencari tiap malam saja, dari satu sekolah ke sekolah lain kalau-kalau melihat nama teman-temannya di daftar sekolah itu.

Sudah hampir seluruh sekolah se-Jepang didatangi Shintaro, tapi Shintaro tak kunjung menemukan nama teman-temannya.

“Kikuchi Fuma, Nagisawa Chise, Konno Chika.” Shintaro menelusuri tulisan demi tulisan, tapi nihil hasilnya!! “Arrrrgh, ini sudah sekolah dasar terakhir yang kudatangi kan? Oh bukan, bahkan aku sudah dua kali ke sekolah ini. Tapi tetap saja tidak bisa menemukan nama mereka!! Sial!”

Shintaro kembali ke hutan untuk menyembunyikan dirinya. Dia benar-benar tidak tahu bagaimana lagi untuk menemukan teman-temannya dan sekali lagi mencoba mengakhiri nyawanya. Tapi ternyata usahanya sia-sia. Dalam wujud baru ini, Shintaro sadar kalau dia bukan bagian dari kehidupan ini ataupun kehidupan selanjutnya, sehingga dia tidak bisa kembali sebelum menyelesaikan misinya. “Aku terjebak! Apa yang harus kulakukan?”

Akhirnya Shintaro memutuskan untuk berkelana. Kalau jodoh, pasti ketemu juga, begitu pikir Shintaro. Sampai suatu ketika dia tiba di suatu daerah yang mempunyai jembatan yang sangat indah. Shintaro melihat hiasan-hiasan bintang di sana. Bahkan Shintaro juga bisa melihat bekas teru-teru bozu digantung di sana. Shintaro tertawa.

“Jadi kangen Ryuu-nii. Dia suka sekali membuat teru-teru bozu warna-warni.”

Saat Shintaro sedang asyik mengamati, tiba-tiba saja seorang gadis datang membawa hiasan bintang. Tidak lama kemudian, kedua teman perempuannya juga datang dan membantunya menghias jembatan. Setelah tiga gadis itu hampir menyelesaikan prakarya mereka, seorang pemuda datang sambil membawa bunga.

“Kenapa harus aku yang membeli bunga? Memalukan saja! Harusnya kalian cewek yang beli tahu!” gerutu pemuda tadi, lalu ketiga teman perempuannya tertawa.

“Sudahlah Fuu­-kun jangan ngomel mulu! Nanti cepat tua lho.”

“Iya iya! Kalau bukan hari ini, aku pasti sudah membalasmu Chii-sama!” Lalu keempatnya tertawa. Melihat keempat remaja itu, entah kenapa mengingatkan Shintaro kepada teman-temannya.

“Mungkin kalau mereka sudah dewasa, akan terlihat seperti mereka ya? Dua anak yang sedang bertengkar itu mengingatkanku pada Fuma dan Chika.” gumam Shintaro yang diam-diam mengamati.

Sejak hari itu, entah kenapa Shintaro tidak ingin meninggalkan jembatan itu. Dia berharap keempat remaja tadi akan datang lagi. Tapi harapannya tak kunjung jadi nyata, sudah hampir setahunan Shintaro tidak pernah melihat mereka muncul lagi.

Tahun berikutnya Shintaro hanya melihat seorang gadis datang sendiri. Begitu juga tahun-tahun berikutnya. Suatu ketika, tidak tahu mengapa gadis itu datang dan menangis tersedu-sedu. Karena penasaran, tanpa sadar Shintaro berjalan mendekatinya. Shintaro hendak berbalik saat gadis itu menoleh kepadanya, dia baru teringat kalau wujudnya seorang Gorila. Tapi tiba-tiba gadis itu memanggilnya.

“Shin-chan?”

Eh? Shintaro menghentikan langkahnya. Bagaimana gadis itu bisa mengenalinya?”

“Apa kau benar Shin-chan?” gadis itu mengulangi pertanyaannya.

“Tidakkah kau lihat aku seorang Gorila? Apa kau tidak takut padaku?” tanya Shintaro mencoba memastikan apakah gadis itu benar-benar bisa melihatnya.

“Sekilas aku memang melihatmu sebagai Gorila. Tapi saat mendengar suaramu, aku bisa melihat wujudmu yang sebenarnya. Kau benar-benar Shin-chan­!” Gadis itu berlari dan memeluknya. Shintaro tertegun, jujur dia tidak mengenal gadis itu siapa.

“Kau pasti tidak lagi mengenaliku ya?” entah kenapa gadis itu bisa membaca pikirannya, Shintaro hanya diam saja.

“Aku Yua, apa kau mengingatku?” Shintaro berusaha mengingatnya, tapi nama itu tidak juga muncul dalam bayangannya.

“Sepertinya ingatan tentangmu terhapus, maafkan aku.” Shintaro menceritakan bagaimana dia bisa kembali ke dunia, begitu juga gadis itu menceritakan tentang waktu yang sudah dilaluinya setelah kematian Shintaro.

“Maafkan aku, Shin. Padahal kau juga ingin bertemu dengan Fuma dan yang lainnya, tapi mereka sekarang sudah sibuk dengan kehidupan mereka dan tidak ada waktu hanya untuk memperingati hari kematianmu.” Gadis itu kembali menangis tersedu-sedu.

“Jadi, sekarang usiamu berapa Yua?” Shintaro masih tidak percaya kalau gadis yang sekarang di depannya memang benar salah satu dari teman masa kecilnya.

“Tahun ini usiaku sudah 23. Sudah 13 tahun sejak kejadian hari itu, tapi masih saja aku tidak bisa melupakannya. Aku benar-benar menyesal sudah meninggalkanmu dulu.”

Sekali lagi, gadis itu mulai menceritakan kisah masa kecil mereka, mengisi kenangan yang sempat terhapuskan dari ingatan Shintaro, membuat Shintaro menyadari kalau ternyata bukan hanya asumsinya, tapi teman-temannya memang benar-benar tulus ingin berteman dengannya. Hanya saja saat itu, keegoisan orang dewasa sudah menghancurkan masa depan mereka.

“Sudahlah, Yua. Aku sudah tidak apa-apa. Aku tidak pernah menyalahkan Fuma dan yang lainnya. Kamu juga, mulailah hidupmu dengan bahagia. Mungkin setelah ini aku juga akan bisa kembali ke akhirat dan melanjutkan ke kehidupanku selanjutnya.” Begitulah harapan Shintaro, tapi pada kenyataannya dia masih terikat di dunia.

Bahkan sejak hari itu, Yua tidak pernah datang lagi mengunjunginya, keesokan hari bahkan di tahun berikutnya. Shintaro tulus ingin mendoakan kebahagiaannya, tapi tidak bisa dipungkiri ada sedikit rasa kecewa dan ingin tahu apa yang membuat Yua melupakannya.

Untuk mengobati rasa penasarannya, Shintaro memutuskan untuk kembali ke Kota. Dia berhasil mengingat beberapa tempat yang pernah dikunjunginya semasa hidupnya dulu setelah Yua menceritakan kalau di jembatan itu lah Shintaro memutuskan mengakhiri hidupnya, yang artinya Kota ini merupakan Kota kelahirannya.

Malam itu, Shintaro memutuskan untuk jalan-jalan ke Kota, suasana Kota masih sangat ramai tidak seperti harapannya, sehingga Shintaro hendak mengurungkan niatnya saja. Tapi saat Shintaro hendak berbalik kembali ke jembatan, dia tidak sengaja melihat Fuma, Chise dan Chika di sebuah gereja.

“Ya, itu mereka! Aku tidak mungkin salah mengenali mereka kali ini!” Shintaro mencoba mendekati. Dia yakin kalau Yua pasti sudah menceritakan tentang dirinya, sehingga dia berencana untuk menyapa mereka.

Belum sempat Shintaro memanggil, seorang warga melihatnya dan meneriakinya dan berhasil membuat kepanikan seluruh Kota. Saat orang-orang sedang mengepungnya, Shintaro memperhatikan ekspresi Fuma, Chise dan Chika yang tampak ketakutan melihatnya.

Apa Yua belum cerita? batin Shintaro, lagi-lagi merasa kecewa. Dia sepertinya terlalu mengharapkan hal besar dilakukan Yua untuknya, sedari dulu. Tapi pada akhirnya Yua tidak pernah menyelesaikan apa yang sudah dimulainya dan meninggalkan Shintaro sendirian lagi pada akhirnya.

“Apa yang harus kita lakukan padanya?” tanya seorang warga.

“Bunuh saja! Jangan biarkan dia mengganggu upacara pemakaman nona Yua.”

EH? PEMAKAMAN YUA? Shintaro tanpa sadar mengerang sekuatnya, membuat para warga semakin ketakutan. Sepertinya, tidak semua orang bisa mendengarnya. Hanya orang-orang tertentu saja yang sudah memiliki ikatan dengannya.

“YUAAAAA” mendengar Yua akan dimakamkan, Shintaro malah memaksa untuk menerobos masuk ke gereja untuk melihat jasad Yua untuk terakhir kalinya. Itu kah sebabnya ada Fuma, Chise dan Chika di sana?

“Apa kau mendengar ada yang meneriakkan nama Yua, Fuu?” tanya Chika kepada Fuma.

“Kupikir aku salah dengar.” Fuma berhenti mengorek telinganya.

“Aku juga mendengarnya.” Chise ikut nimbrung di percakapan kedua sahabatnya. “Tapi suaranya…, ah tidak mungkin kan?” Chise menepis asumsinya sendiri.

“Tapi setidaknya mereka bisa bertemu lagi di alam sana. Yua tidak perlu lagi mengkhawatirkannya dan merasa bersalah, kan? Aku yakin Shintaro sudah memaafkan kita. Lagipula, dulu bukan murni kesalahan kita tapi kesalahan orang tua kita.”

“Aku benci pikaranmu yang menyalahkan orang tua kita, Chika. Tapi aku juga tidak sepenuhnya menyangkalnya. Kita hanya bisa mendoakan untuk kebahagiaan mereka di alam sana.”

“Aminn.” Chise dan Chika mengamini doa Fuma.

 

Back to the real time

“Malam itu warga mencoba membunuhku. Tapi karena aku tahu kalau aku tidak bisa mati dan tidak mau membuat warga semakin ketakutan, makanya aku kembali ke jembatan ini. Menjaganya, untuk mengenang Yua.” Gorila mengakhiri ceritanya.

“Jadi sebenarnya kau tidak pernah berubah menjadi makhluk yang sangat menyeramkan seperti di mitos itu?” tanya Juri kehabisan kata-kata. Gorila tertawa.

“Itu hanya karangan warga saja agar tidak ada seorang pun yang berani mendekat ke sini. Mereka terlalu takut padaku, makanya tidak membiarkan keturunanya sedikit pun mendekatiku.”

“Sudah berapa lama kau di sini?” tanya Yugo.

“Sudah sejak puluhan tahun mungkin, aku lupa tidak menghitungnya. Lagipula tidak ada yang datang ke sini sejak kematian Yua.”

“Jadi kau benar-benar masih anak kecil? Pantas saja suaramu seperti itu.” Jesse ikut berkomentar, tapi diabaikan oleh yang lainnya.

“Apa yang menyebabkan kematian Yua?” tanya Hokuto.

“Sebenarnya setelah hari itu aku pernah beberapa kali pergi ke Kota lagi dan mencari tahu penyebab kematian Yua. Setelah bertahun-tahun aku mengumpulkan informasi yang simpang siur, aku akhirnya mengetahui kalau ternyata dia sudah lama sakit dan tidak diperbolehkan keluar rumah. Yua hanya pergi setahun sekali ke jembatan untuk memperingati hari kematianku. Karena itu Fuma dan yang lainnya tidak pernah datang lagi sebenarnya agar Yua berhenti melakukannya.” Gorila membuat jeda.

“Pada akhirnya aku tahu kalau teman-temanku dulu benar-benar tulus ingin berteman denganku. Tapi karena aku tidak pernah bertanya ataupun mengungkapkan perasaanku, akhirnya aku menyesal tidak pernah mengetahuinya sampai kematianku. Walaupun aku bisa kembali untuk mencari tahu kenyataannya, wujudku tak lagi sama. Bahkan teman-temanku tidak lagi mengenaliku. Karena itu Taiga, sebelum menyesal, ungkapkan apa yang ada di hatimu.” Gorila memandang Taiga tajam berharap pemuda itu dapat menangkap maksud dari ceritanya.

“Kenapa kalian melihatku seolah aku akan bunuh diri juga sih?” Taiga mengitarkan pandangan ke teman-temannya yang juga menatapnya tajam.

“Jangan salah sangka, aku bukannya mau bunuh diri seperti Gorila. Hanya saja…” Taiga masih menggantung kata-katanya, ragu akan melanjutkan, tapi kemudian Gorila memberi kode ‘apa aku saja yang cerita?’

“Tidak, biar aku yang mengatakannya sendiri.” Taiga membuang napas, lalu mulai bicara lagi. “Aku dapat beasiswa ke luar Negeri dari tempat les vokalku. Aku berencana mengambilnya karena itu impianku dan orang tuaku. Tapi aku takut kalau mengambilnya, aku menghancurkan impian kita untuk debut bersama. Selama ini sudah impian kita berlima kalau nanti di perguruan tinggi, band kita akan mulai mewujudkan mimpi. Tapi kalau aku pergi, impian kita akan musnah. Makanya, aku tidak bisa mengatakannya.” Akhirnya Taiga berhasil mengatakannya. Tapi dia masih takut menatap mata teman-temannya dan memilih tetap menundukkan kepala.

Bletak. Lagi-lagi Hokuto memukul kepalanya.

“Kenapa sih kau suka sekali memukul kepalaku, Hoku?” tanya Taiga sambil meringis dan mengelus-elus kepalanya.

“Karena kau bodoh, makanya aku ingin memukulmu.” Jawab Hokuto sarkas seperti biasa.

“Masalah beasiswamu, sebenarnya kami sudah mengetahuinya. Papamu cerita ke papaku dan aku sudah mendiskusikan dengan yang lainnya.” Taiga menatap Hokuto tidak percaya. Sejak kapan kalian mengetahuinya?

“Kau benar, kita memang punya impian untuk debut bersama. Tapi kami juga sadar kalau kemampuan kami masih jauh di bawah rata-rata. Karena itu, pergilah Taiga. Raih impianmu! Selama kau pergi, kami akan terus mengasah kemampuan dan membuktikan padamu kelak kita memang pantas untuk debut bersama. Mari kita raih impian kita setelahnya!” kata Hokuto mantap. Tidak ada sedikitpun keraguan dari pancaran matanya. Taiga benar-benar tidak sanggup berkata-kata. Sebenarnya, jauh di lubuk hatinya dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan mereka. Taiga tidak bisa membayangkan selama beberapa tahun tidak ada teman-temannya di sampingnya.

“Benar kata Hokuto, pergilah Taiga. Kami akan menunggumu.” Ucap Juri diikuti Jesse dan Yugo yang tidak mau kalah ingin menyemangati Taiga juga.

Akhirnya Taiga benar-benar pergi meninggalkan teman-temannya. Jesse dan Yugo memilih melanjutkan kuliah di luar Kota. Juri tidak kuliah, demi mengembangkan kemampuan rap dan bass nya, Juri sengaja mengikuti kakaknya yang sudah punya grup sendiri tour keliling Jepang. Sedangkan Hokuto, dia mengasah kemampuan keyboard dan vokalnya bersama orang tua Taiga.

Sudah bertahun-tahun juga, tidak ada yang mengunjungi Gorila sesering dulu. Hanya sesekali Hokuto membawakan makanan untuknya atau Jesse dan Yugo setiap kali mereka pulang ke rumah. Sedangkan Taiga dan Juri, hampir tidak pernah.

“Kenapa aku jadi merasa kesepian seperti ini ya? Apa karena aku sudah terbiasa dengan mereka? Kalau sampai mereka melupakanku juga dan berhenti datang ke sini, apa yang harus kulakukan? Aku sudah bosan terus-terusan hidup seperti ini.” tanpa sadar air mata sudah membasahi bulu wajah Gorila. Rasa kesepian dan takut kehilangan yang teramat kembali menghantuinya. “Bagaimana caranya aku bisa pergi ke kehidupan selanjutnya?”

*

“Ah, mimpi itu lagi.” Hokuto terbangun dari tidurnya, dia meraba-raba mencari ponselnya. Hokuto hendak menghubungi Taiga saat nama pemuda itu sudah muncul di layar ponsel miliknya.

“Heh, aku masih tidur!” kata Hokuto berbohong, sengaja ingin membuat Taiga merasa tidak enak.

“Hoku, aku akan pulang akhir pekan ini dengan Juri. Kau hubungi Yugo dan Jesse ya. Kita harus melakukan itu secepatnya.” Kata Taiga terlihat tergesa-gesa.

Mendengar nama Juri disebut, Hokuto membisu seketika. Ngapain dia di sana?

“Moshi moshi, Hoku? Apa kau mendengarku? Jangan-jangan kau tidur lagi? Ouch,” Terdengar teriakan Taiga di seberang sana, Hokuto tidak bisa untuk tidak berpikiran macam-macam.

“Kau sedang apa?”

“Hah? Aku sedang bikin sarapan. Kau tahu, di sini sudah jam sembilan. Dan Juri datang dengan beberapa teman, aku benar-benar kerepotan. Kau tahu sendiri aku belum pernah terbiasa dengan urusan dapur. Tapi kalau aku membelikan mereka semua sarapan, aku harus mengeluarkan berapa banyak uang? Hidupku di sini miskin sekali, aku benar-benar kangen Jepang!”

Mendengar penjelasan Taiga, Hokuto bisa bernapas lega. Ternyata Juri tidak datang sendiri, syukurlah.

“Heh, lagi-lagi kau membiarkanku ngoceh sendiri. Yasudah, kututup teleponnya. Aku akan segera pulang.” Taiga sudah mengakhiri percakapan pagi mereka (?) Di Jepang masih petang sih.

Tanpa buang waktu, Hokuto mengirimkan pesan ke Yugo dan Jesse mengabarkan tentang kepulangan Taiga dan Juri di akhir pekan sehingga keduanya juga harus menyempatkan untuk pulang.

Di akhir pekan yang dinantikan, akhirnya mereka berlima berkumpul lagi. Sesuai rencana, mereka akan pergi mengunjungi Gorila. Anehnya, saat tiba di jembatan, bukannya senang melihat teman-temannya datang, Gorila malah kembali ke sifatnya semula, sebelum dia mengenal mereka, acuh dan cenderung pemarah.

“Jangan bilang kalau dia sudah jadi Gorila sepenuhnya?” Yugo menatap Gorila ngeri. Dia pernah mempelajari kalau sifat asli Gorila sangat benci diganggu manusia. Bagaimana kalau Gorila menyerang mereka? Karena selama ini mereka tahu Gorila tidak pernah menyerang mereka karena dalam diri Gorila masih bersemayam roh Shintaro.

“Kau masih Shintaro, kan? Aku bisa melihat dari mata hijaumu. Tidak ada Gorila normal yang berwarna hijau sepertimu.” ucap Taiga mencoba membongkar penyamaran Gorila. Selama ini Taiga sedikit-sedikit mempelajari tentang Gorila di waktu senggangnya, entah kenapa hal itu benar-benar menarik perhatiannya.

“Ada apa kalian kembali? Kalian harus menjalani kehidupan kalian sendiri!” kata Gorila akhirnya.

“Kau mau pergi ya?” “Apa kau mau pergi tanpa pamitan ke kita?” “Bukannya kita teman?” tanya Jesse dan Juri bergantian. Gorila malah diam.

Hokuto mendekat dan menyelipkan sebuah bintang ke tangan Gorila, Gorila memandanginya keheranan.

“Kau tahu, kenapa Yua sangat menyukai bintang?” Gorila membelalakkan matanya, tidak menyangka kalau nama Yua akan kembali di dengarnya.

“Yua?” tanya Gorila mengulangi menyebut nama sahabatnya.

“Sejak kau menceritakan tentang kehidupanmu, entah kenapa aku jadi sering memimpikannya. Akhir-akhir ini aku seperti orang gila karena merasa Yua berbicara padaku dalam mimpi.” Gorila tertegun mendengar penjelasan Hokuto. Bagaimana bisa?

“Apa kau mau mendengar apa yang dikatakan, Yua?” Gorila hanya terdiam.

“Bintang mempunyai 5 sisi, di mana setiap sisinya mewakili diri kalian. Fuma, Shintaro, Chise, Chika dan Yua. Saat kalian bersama, kalian akan bersinar seperti bintang. Tapi sayang, 5 sisi ini sudah kehilangan satu bagiannya sehingga tidak pernah terlihat bersinar. Dan sekarang, 5 sisi bintang ini terwakili oleh kami, Taiga, Jesse, Juri, Yugo dan Hokuto. Sisi bintang ada 5 merupakan lambang persahabatan kita, Shin-chan.” Hokuto menoleh pada Taiga dan menyuruhnya untuk melanjutkan.

“Apapun yang terjadi, kami tidak akan pernah melupakanmu. Saat kami rindu, kami hanya perlu memandangi bintang.” Taiga terhenti. “Hanya satu bintang, bintang yang paling terang. Saat kami melihat bintang itu, sama seperti kami sedang melihatmu yang memperhatikan kami, bukan?” Jesse melanjutkan kata-kata Taiga.

“Ingatlah bintang, bintang yang paling terang seterang persahabatan kita. Selama masih ada bintang, selama itu pula kami akan mengingatmu.” Ucap Yugo. “Karena kau bagaikan sebuah bintang dalam persahabatan kami, kami tidak akan pernah melupakanmu, Shin-chan.” Juri ikut menambahkan.

Tiba-tiba, sebuah cahaya menyelimuti Gorila. Detik berikutnya, Gorila berubah menjadi anak laki-laki, yang mereka yakini merupakan wujud Shintaro yang sebenarnya. Anak itu menangis sejadi-jadinya.

“Aku tahu kata-kata itu keluar dari mulut kalian, tapi entah kenapa aku merasa Yua dan yang lainnya yang mengatakan. Aku benar-benar ingin mendengar kata-kata itu dari mulut mereka.” Anak itu masih terisak-isak.

“Aku tahu, mereka tidak pernah melupakanku seperti kata kalian. Aku senang karena aku tidak pernah dilupakan.” Anak itu mencoba menghentikan tangisannya. “Dengan begini, aku bisa pergi dengan tenang, kan?” Shintaro melihat senyuman di wajah Hokuto dan teman-temannya, sepertinya mereka sudah menyiapkan diri untuk melepas kepergiannya.

“Selamat jalan.” Detik berikutnya, sosok anak kecil Shintaro menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya yang menyelimutinya. Seulas senyuman bahagia tersungging di bibirnya.

Setelah sosok itu sudah benar-benar menghilang, tangis kelimanya pecah. Mereka tahu, sudah berbulan-bulan mereka menyiapkan diri untuk hari itu, sejak Hokuto mendapat pertanda tentang kepergian Shintaro di dalam mimpinya. Semua kata-kata tentang bertemu Yua dalam mimpinya, hanya karangan Hokuto belaka. Mereka ingin Shintaro tenang menuju ke kehidupannya selanjutnya. Tapi tetap saja…

“Kalau aku meninggal, tataplah bintang. Lihatlah, bintang itu tersenyum kan? Itu adalah aku. Tidak sakit kok. Berbahagialah.” Hokuto mengulangi kata-kata Shintaro yang muncul di dalam mimpinya.

“Mulai hari ini, kita akan mengganti nama jembatan ini dari ‘Jembatan Penyesalan’ menjadi ‘Jembatan Persahabatan’. Dan setiap tahun, oh tidak, setiap ada waktu kita akan bersama-sama melihat bintang dari sini, melihat Shintaro.” ucap Yugo, diikuti anggukan keempat sahabatnya.

“Semoga persahabatan kita abadi selamanya. Terima kasih, Shin-chan.”

 

fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s