[Minichapter] Bridges of Regret Part #1

Bridges of Regret
By: kyomochii
Genre: Fantasy, Friendship, Supranatural
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kikuchi Fuma (Sexy Zone); Ichigo Yua, Konno Chika, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

189126

Di sebuah jembatan di Perfektur Miyazaki, tinggallah seekor Gorila. Dia tidak pernah mengganggu, eh, bukannya tidak pernah tapi memang tidak ada yang pernah berani mengganggunya. Orang-orang sekitar percaya bahwa Gorila itu bukan Gorila biasa. Konon berdasarkan mitos yang beredar, Gorila tersebut merupakan jelmaan seekor siluman yang sudah lama menunggu jembatan itu.

Suatu hari warga pernah mencoba mengusirnya, tapi mereka mundur ketika sang Gorila berubah wujud menjadi makhluk buas yang sangat menyeramkan dan beresiko menghancurkan Kota. Akhirnya mereka membuat perjanjian untuk membiarkan sang Gorila tinggal dan tidak boleh turun ke Kota dengan syarat tidak ada satu orang pun yang berani mengusiknya lagi. Sejak hari itu, tidak ada seorang pun yang berani melintasi jembatan itu, dan orang-orang sering menyebutnya sebagai “Jembatan Penyesalan”, karena hanya orang-orang yang menyesal sudah dilahirkan yang nekat pergi ke sana.

Di sisi lain, di bagian Perfektur Miyazaki, segerombolan anak laki-laki terlihat sedang asyik bermain di halaman sekolah. Beberapa dari mereka sedang membicarakan peliharaan yang mereka punya.

“Sudah kubilang, punyaku paling besar! Kalian tahu kan kalau aku half-Amerika?” seorang anak tampak sibuk meyakinkan teman-temannya.

“Tidak ada hubungannya, Jesse! Aku yakin punyaku yang paling besar, karena aku sudah merawatnya dengan baik!” seorang anak laki-laki sangat kurus mencoba menentang Jesse.

“Tapi aku sudah pernah lihat punya Jesse dan Juri, menurutku punya Jesse memang lebih besar darimu, Juri!”

“Kau diam saja, Yugo! Aku tidak tanya pendapatmu!” Juri membentak Yugo yang berusaha menengahi.

Nee, nee, Taiga, kalau punyamu seberapa?” Juri menghampiri Taiga yang sedang berjalan ke arahnya. Tapi anak laki-laki itu tidak menggubris pertanyaan Juri dan melengos begitu saja.

“Kenapa sih dia?” tanya Juri kepada kedua temannya. Jesse dan Yugo hanya mengangkat bahu bersamaan karena mereka juga tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Taiga.

“Coba kau tanya pada Hokuto! Dia kan tahu segalanya tentang Taiga.” Yugo mengusulkan. Entah kenapa mendengar Yugo mengatakan Hokuto mengetahui segalanya tentang Taiga, Juri kok kesal ya?

“Mal…” belum sempat Juri melanjutkan kalimatnya, Hokuto datang dan Jesse langsung menyerbunya dengan pertanyaan tentang ‘apa yang terjadi pada Taiga?’.

“Biarkan saja. Dia pasti kembali sebelum jam pelajaran kedua. Kalian tahu sendiri Taiga itu rajinnya seperti apa, kan?”

Meskipun tahu kalau Taiga itu tipe anak yang short-tempered alias pemarah, tapi mereka juga tahu kalau Taiga tidak akan meninggalkan sekolah begitu saja. Mau tidak mau, Jesse, Juri dan Yugo hanya mengangguk setuju mendengar jawaban Hokuto dan memutuskan kembali ke kelas mereka.

*

Taiga benar-benar kesal! Ini bukan pertama kali Hokuto tidak membelanya. Di saat beberapa teman sedang mengerjai dan mengatainya seperti perempuan, Hokuto hanya diam saja menyaksikan. Padahal anak itu tahu betul kalau Taiga sangat benci saat ada orang yang mengatainya seperti perempuan.

“Hokuto bakaaaaa!” teriak Taiga di sebuah jembatan yang tidak sengaja dilaluinya.

Sejak tadi Taiga hanya berjalan tanpa arah, bahkan sekarang dia tidak tahu sedang di mana. Tapi selama masih di Miyazaki, Taiga yakin kalau Hokuto pasti akan bisa menemukannya.

Srek Srek. Bunyi dedaunan disibak dari seberang tempat Taiga sedang berdiri.

“Siapa?” mendengar bunyi tadi, bukannya lari, Taiga malah berjalan ke arah sumber suara dan mencari tahu sosok apa di balik semak-semak di depannya.

“Hokuto ya?” masih tidak ada jawaban. Taiga menghentikan langkahnya, tampak sedang berpikir. Mungkin dia sedang berpikir untuk lari saja?

Sebuah sosok besar-hitam keluar dari balik semak-semak tadi. Dengan ekspresi tidak senang, berjalan mendekati Taiga, berharap anak laki-laki itu ketakutan dan lari meninggalkan tempat persinggahannya. Tapi sayang sekali yang terjadi tidak sesuai yang diharapkan.

“Oh, Gorila.” kata Taiga santai, lalu memilih duduk di jembatan dan mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung ke bawah.

“Gorila-san tinggal di sini?” tanya Taiga kepada Gorila. Meskipun tahu tidak akan ada jawaban, tapi Taiga tetap saja bicara. Aku cuma pengen cerita kok, katanya dalam hati.

“Maaf kalau teriakanku tadi mengganggumu. Aku sedang kesal dengan temanku.” Taiga memulai ceritanya.

“Aku tahu kalau tampangku seperti anak perempuan, bahkan tubuhku yang mungil ini membuat banyak orang salah mengira kalau aku memang perempuan. Apalagi mamaku juga senang sekali mendandaniku seperti anak perempuan, aku kesal sekali.” Taiga mengumpat, pandangannya memandang lurus jauh ke sungai di bawah jembatan yang sedang didudukinya. Dia tidak sadar kalau Gorila tadi sedang mengerang dan berusaha menakutinya.

“Tapi aku kuat, aku jago karate, Hokuto tahu itu! Dia tidak penah menang melawanku! Tapi setiap kali ada anak-anak nakal yang mengataiku, dia tidak pernah membelaku dan mengatakan kalau aku lebih kuat darinya. Teman seperti apa itu?!” Taiga meluapkan semua emosi dan berteriak sepuasnya. Masih tidak peduli dengan erangan sang Gorila, dia tetap bercerita.

“Karena kesal, kuhajar semua anak-anak itu dan kutinggalkan begitu saja!”

Selama berjam-jam, meskipun sudah ditakuti seperti apapun, Taiga benar-benar tidak sadar kalau sang Gorila berusaha mengusirnya, dia malah asyik bercerita. Tentang teman-temannya, bahkan tentang keluarganya.

“Wah, tidak kerasa sudah sore ya, Gorila-san!? Tapi bolehkah aku menunggu sebentar lagi? Temanku pasti sebentar lagi menjemputku. Lima menit saja, kay?”

Belum ada lima menit, Taiga melihat Hokuto berlari ke arahnya dengan wajah sangat ketakutan. Meskipun kesal, tapi Taiga senang karena tepat seperti dugaannya kalau Hokuto pasti bisa menemukannya!

“Kau sudah gila ya? Ayo pulang!” Hokuto tiba dengan napas ngos-ngosan dan menarik tangan Taiga dengan paksa. Taiga bingung kenapa Hokuto terlihat sangat ketakutan.

“Aku bisa jalan sendiri! Lepaskan!” Taiga menepis tangan Hokuto yang dengan kekuatan penuh menggenggam pergelangan tangannya. Entah sejak kapan Hokuto menjadi lebih kuat darinya dan Taiga tidak berhasil melepas cengkeraman tangan Hokuto.

“Iya iya aku pulang, tapi biarkan aku pamitan dulu sama Gorila-san dong Hokuto!”

“Kau benar-benar sudah gila ya?” Hokuto membalikkan badannya menghadap Taiga dan meneriakinya tepat di wajah. “Kau tahu itu makhluk apa?!” Hokuto masih meninggikan suara.

“Gorila?” Jawab Taiga, sengaja diucapkannya dengan nada bertanya. Taiga benar-benar tidak mengerti dengan Hokuto bagaimana bisa dia tidak mengenali Gorila?

Hokuto hanya geleng-geleng kepala, dia sudah lelah bertengkar dengan Taiga. Kalau dia bersikeras melarangnya, Hokuto takut kalau Taiga malah memilih untuk tidak pulang bersamanya. Sehingga dengan terpaksa dia mengijinkan Taiga untuk berpamitan kepada sang Gorila, lalu baru pulang setelahnya.

*

Berita tentang keberanian (atau kebodohan?) Taiga sudah menyebar hampir ke seluruh penjuru Sekolah. Sebenarnya kemarin Hokuto tidak menjemputnya seorang diri, tapi bersama Juri, Jesse dan Yugo. Mereka bertiga hanya menunggu di ujung jembatan karena tidak berani bertemu sang Gorila. Setelah mendengar cerita teman-temannya, Taiga baru teringat tentang mitos yang sudah lama beredar di Kotanya.

“Tapi Gorila-san tidak jahat seperti mitos itu kok! Dia baik dan mau mendengarkan ceritaku, kalian mau coba?”

“Hah?” Jesse dan Yugo melongo bersamaan.

“Apa kau belum dengar tentang Sanada, Taiga?” Taiga menggeleng mendengar pertanyaan Juri. Dia tidak tahu banyak tentang Sanada selain dia adalah salah satu anak yang kemarin habis dihajarnya karena mengatainya seperti anak perempuan.

“Ada apa dengan Sanada? Apa dia minta kuhajar lagi?” tanya Taiga dengan ekspresi sedikit menyombongkan diri.

Bletak. Taiga mengaduh, entah kenapa tiba-tiba saja Hokuto memukul kepalanya.

“Gara-gara tidak mau kalah darimu, dia nekat pergi ke jembatan itu. Tidak lama setelahnya dia kembali dengan tampang sangat ketakutan bahkan hampir pingsan. Lalu gara-gara kejadian itu juga, semua orang mengira kita mengarang cerita. Jadi sebaiknya kamu lupakan saja kejadian pergi ke jembatan, Taiga!”

Taiga terdiam mendengar penjelasan Hokuto. Satu persatu dia memperhatikan wajah teman-temannya, tampak setuju dengan Hokuto dan sangat mengkhawatirkannya.

“Aku tidak percaya!” Taiga berteriak tiba-tiba.

“Gorila-san itu baik, tidak seperti yang kalian pikirkan! Aku akan membuktikannya pada kalian!”

“Tapi Taiga…” Jesse mencoba mencegah Taiga untuk mengeluarkan ide aneh, tapi sayang terlambat.

“Sekali saja, ku mohon sekali saja kalian ikut denganku bertemu Gorila-san. Kalau setelah itu dia memang terbukti jahat, aku akan berhenti pergi ke sana. Tapi kalau dia tidak jahat, kalian harus mau berteman dengannya juga!”

Ngek. Taiga seenaknya menganggap keselamatannya sekali dari Gorila sebagai tanda pertemanan di antara mereka. Tapi melihat keseriusan Taiga, Hokuto dan yang lainnya tidak berani menolaknya.

“Baiklah, sekali saja ya?” Hokuto menyetujui kesepakatan di antara mereka. Meskipun dengan ekspresi ogah-ogahan, Juri-Jesse-Yugo mengangguk juga.

“Aku tidak peduli dengan orang lain yang tidak mempercayaiku. Tapi aku tidak mau kalian juga ikut-ikutan seperti itu. Aku sudah menceritakan tentang kalian ke Gorila-san. Dia pasti senang bertemu kalian.” Hokuto, Juri, Jesse dan Yugo hanya bisa menelan ludah dan mengangguk pasrah untuk menyenangkan hati Taiga.

Di akhir pekan, akhirnya lima sekawan itu meluangkan waktu untuk pergi ke jembatan dan menemui sang Gorila. Masih dengan ekspresi ketakutan, Juri, Jesse dan Yugo mengikuti Taiga dan Hokuto dari belakang.

“Gorila-san, ini aku Taiga. Aku datang bersama teman-temanku yang kuceritakan. Oiya, kami juga membawa beberapa makanan untukmu. Kita makan sama-sama ya?” Taiga memanggil Gorila dengan sok akrab. Hokuto berjengit mendengarnya.

Anak ini benar-benar sudah gila, ya? Tidak hanya Hokuto tapi ketiga temannya juga berpikir seperti itu tentang Taiga. Bahkan setelah sang Gorila muncul dengan ekspresi yang menyiratkan kemarahan, mereka pasti akan lari sekencang-kencangnya kalau Taiga tidak memelototi mereka.

Kemarahan Taiga yang beresiko kehilangan ikatan persahabatan di antara mereka lebih mengerikan dibandingkan sekedar rasa takut hanya karena melihat Gorila yang sedang marah.

“Gorila-san, kenalkan ini Hokuto, temanku yang paling menyebalkan. Lalu ini Juri, temanku yang paling ceria. Ini Jesse, si narsis yang selalu membanggakan setengah-Amerika-nya. Dan ini Yugo, mmm, paling apa ya? Paling baik deh, karena selalu ada untuk kami meskipun kami sering membully-nya.” Taiga tertawa, mau tidak mau yang lain ikut tertawa mendengarnya.

Bully tanda sayang kok.” imbuh Jesse mulai berani membaur dengan percakapan Taiga dan Gorila. “Tapi aku bukan narsis, Gorila-san. Aku hanya mengatakan kenyataan.” Jesse berjalan mendekat dan berdiri di sebelah Taiga yang sedang ngobrol dengan Gorila.

Umm, aku tidak pernah merasa di bully kok. Kalian tidak pernah menyakitiku secara fisik maupun perasaan. Aku senang berteman dengan kalian dan Gorila-san?” Yugo mengikuti Jesse dan mereka bertiga mulai membicarakan ini itu dan bertanya apa saja yang sudah Taiga ceritakan kepada Gorila.

Hokuto dan Juri saling berpandangan. Melihat ketiga temannya dengan santai mengobrol di dekat Gorila, mereka merasa ngeri sekaligus tidak percaya kalau ternyata sang Gorila hanya diam saja mendengarkan.

“Sepertinya dia memang benar-benar tidak berbahaya? Sebaiknya kita bergabung dengan mereka.” Juri mengangguk mendengar ajakan Hokuto, lalu mereka bergabung dengan ketiga temannya yang asyik bercerita kepada sang Gorila.

*

Sejak hari itu, entah berlima atau sendiri pun, kelimanya sering menemui Gorila. Mereka bercerita banyak hal, atau iseng-iseng hanya ingin mengganggunya.

“Kalau dipikir-pikir, setelah bertahun-tahun berteman dengan Gorila, aku jadi meragukan mitos tentangnya.” Juri mengangkat sebelah alisnya, “Maksudmu?”

Suatu hari warga pernah mencoba mengusirnya, tapi mereka mundur ketika sang Gorila berubah wujud menjadi makhluk buas yang sangat menyeramkan dan beresiko menghancurkan Kota. Akhirnya mereka membuat perjanjian untuk membiarkan sang Gorila tinggal dan tidak boleh turun ke Kota dengan syarat tidak ada satu orang pun yang berani mengusiknya lagi. Bukannya yang selama ini kita lakukan bisa dibilang mengusiknya? Tapi dia tidak pernah berubah menjadi makhluk yang menyeramkan. Aku jadi penasaran, kenapa mitos itu bisa sampai tersebar.”

“Benar juga ya. Pasti dulu pernah terjadi sesuatu sampai warga takut kepadanya.” Jesse menambahi pendapat Yugo.

Juri hanya mengangguk-angguk mendengar pendapat kedua sahabatnya. “Ngomong-ngomong, kenapa Hokuto sama Taiga lama sekali sih? Mereka masih ngapain aja?”

“Panjang umur, baru diomongin sudah muncul!” ucap Jesse begitu melihat Hokuto berjalan ke arah mereka.

“Apa kalian melihat Taiga?” Hokuto bertanya kepada ketiga temannya.

“Bukannya dia istrimu? Harusnya kau yang lebih tahu! Jangan bilang kalian ada masalah lagi?” tanya Yugo. Hokuto menggeleng, seingatnya dia baik-baik saja dengan Taiga, tidak ada masalah di antara mereka.

“Oi, Juri! Kau mau ke mana?” teriak Hokuto, tapi Juri tidak menjawabnya.

“Sudah jelas kan Taiga ada di mana? Aku juga akan menyusulnya.” Jesse menyambar tasnya, lalu berlari mengejar Juri.

“Sebaiknya kita mengikuti mereka.” tanpa disuruh pun, Hokuto sudah bersiap mengejar kedua temannya. Lalu mereka berempat pergi ke tempat Gorila, di mana mereka yakin Taiga pasti pergi ke sana.

Saat sampai di jembatan, betul sesuai dugaan mereka, Taiga ada di sana. Dia hanya berdiam diri dengan Gorila di sampingnya. Hokuto berjalan cepat menghampirinya. Sebuah bogem mentah dengan indah mampir di kepala Taiga.

“Kau seorang pria, kan? Kalau ada masalah, katakan! Jangan suka menyimpan masalah seperti ini sendiri, seperti perempuan saja!”

KLIK. Tombol penyerangan dalam tubuh Taiga telah diaktifkan. Tidak peduli teman atau lawan, setiap kali ada yang mengatainya seperti perempuan, maka Taiga akan siap menyerang. Taiga membalas bogem Hokuto dengan tendangan dan berhasil membuat pemuda itu tersungkur di jembatan.

Melihat kedua temannya berkelahi, Jesse segera berlari untuk melerai keduanya. “Hentikan! Apa yang kalian lakukan? Bagaimana kalau jembatan ini roboh?”

“Kau diam saja, Jesse! ini urusanku dengan Taiga. Kau sebaiknya menonton saja!” Hokuto melesat melewati Jesse dan kembali membalas pukulan Taiga. Keduanya saling memukul, bahkan bibir Taiga mulai mengeluarkan darah. Kali ini Juri dan Yugo ikut melerai keduanya.

“Dasar perempuan jadi-jadian! Kalau kau mau jadi perempuan, jadi perempuan saja! Wajahmu sudah cantik begitu, kau tinggal mengoperasi kelaminmu saja, kan?” Hokuto masih saja menyulut kemarahan Taiga. Bahkan Jesse dan Juri yang sedari tadi memegangi Taiga tidak mampu menahan kekuatannya. Sekali lagi, Taiga melayangkan bogem ke arah Hokuto. Tapi sayang malah mengenai Yugo yang sengaja memposisikan diri di antara mereka.

“Yugo, kau tidak apa-apa?” Jesse berlari, dengan cekatan memeriksa wajah Yugo, melihat kalau-kalau ada luka di sana.

“Heh, bukannya kau mau memukulku? Kau mengenai target yang salah! Minta maaf!” Hokuto meneriaki Taiga, tapi malah diabaikannya. Tanpa menunggu aba-aba, Hokuto kembali memukulnya. Keduanya kembali berkelahi dengan hebat. Setelah melihat apa yang terjadi pada Yugo, tidak ada satupun yang berani ikut campur dalam perkelahian keduanya.

“Hentikan!!”

Tidak terjadi perubahan. Taiga dan Hokuto masih sibuk berkelahi. Sekali lagi,

“HENTIKAN!!” kelimanya terdiam seketika, mereka seperti mendengar suara.

“Siapa yang teriak barusan?” tanya Taiga kepada Hokuto. Tangannya sudah berada tepat di depan wajah Hokuto dan begitupun sebaliknya, “Kita lanjutkan?” Taiga sudah siap menghantamkan kepalan tangan ke wajah sahabatnya itu saat Gorila berdiri di antara keduanya, mencoba memisahkan.

“Ku mohon hentikan, jangan bertengkar lagi. Kalian sahabat, kan?”

HENING. Tidak ada yang berkata-kata. Tapi dengan begini, akhirnya Taiga dan Hokuto menghentikan perkelahian mereka.

“Gorila-san, kau bisa bicara?” tanya Juri masih terpana.

“Tentu saja! Aku kan dulunya manusia juga.” jawab Gorila.

“Oohhh…” respon kelimanya dengan kompak.

“Terus kenapa selama ini kau diam saja setiap kali kami cerita?” tanya Yugo.

“Aku tidak tertarik dengan cerita kalian, makanya aku diam.” jawab Gorila cuek.

“Terus kenapa sekarang kamu bicara?” tanya Taiga.

“Suaramu seperti anak kecil ya?” imbuh Jesse.

“Apa karena pertengkaran kita?” Hokuto menambahi.

“Kenapa kau jadi gorila?” Juri juga tidak mau kalah untuk bertanya.

“Tunggu dulu! Tanyanya satu-satu dong! Kan kasihan Gorila-san.” Yugo mengingatkan keempat temannya untuk memberi waktu Gorila untuk menjawab pertanyaan mereka satu-satu dulu.

“Aku sudah bosan mendengar perasaan kalian yang saling tidak tersampaikan. Aku tahu kalian saling memikirkan satu sama lain, tapi tidak tahu cara menyampaikannya. Terutama kau Taiga.” Semua pandangan tertuju pada Taiga, “Kalau memang ada yang kau pikirkan, bicarakan dengan sahabat-sahabatmu. Tanya pendapat mereka, atau kau akan menyesal karena tidak mengetahui perasaan mereka sampai akhir.” Taiga menundukkan kepala.

“Aku ada sebuah cerita, dengarkanlah dengan seksama!”

 

Suatu hari di sebuah Sekolah Dasar di Perfektur Miyazaki

“Hei, apa kau lihat? Dia melihat kearahmu! Sepertinya dia menyukaimu, Yua!” Yua melihat ke arah anak laki-laki yang ditunjuk sahabatnya.

“Apa sih, Chika? Kita kan masih kecil, sok ngomongin suka-sukaan!” Yua tidak menggubris candaan Chika. Sahabatnya itu memang kebanyakan membaca shoujo manga.

“Kalian ngomongin siapa sih? Oh, Morimoto? Sebaiknya kalian jangan dekat-dekat dengannya. Ayahku selalu bilang kalau dia bukan berasal dari keluarga baik-baik jadi kita tidak boleh berteman dengannya.” Jelas seorang anak perempuan lagi.

“Kok gitu sih? Kan yang tidak baik orang tuanya, belum tentu anaknya juga sama. Kan kasihan kalau dia tidak punya teman.” Yua memperhatikan anak laki-laki bernama Morimoto itu. Pandangan mereka sempat bertemu, tapi anak laki-laki itu buru-buru membuang pandangannya.

Bletak. Bunyi cukup keras menandakan kepala seseorang sedang dipukul temannya, Yua menoleh ke arah sumber suara.

“Kau masih saja suka membeda-bedakan teman ya, Chise? Kebiasaan buruk itu!” seorang anak laki-laki dengan perawakan kurus menghampiri ketiganya. Anak itu pula yang memukul kepala Chise sampai mukanya merah. Eh?

“Heh, Fuma! Kau itu kan cowok! Jangan seenaknya dong mukul kepala cewek! Kasihan Chise jadi kesakitan.” Chika menyulut api permusuhan kepada Fuma demi membela sahabatnya yang dipukul oleh laki-laki tak berperasaan di depannya itu.

“Yaelah gitu doang. Lagian Chisenya biasa saja tuh habis ku pukul, kenapa kau yang sewot? Jangan-jangan kau suka aku ya?” ejek Fuma, sekaligus menggoda Chika.

“Najis. Lagian kata Yua, kita masih kecil tidak boleh ngomong suka-sukaan.”

“Omonganmu ga sinkron tuh! Mana ada anak kecil yang mengumpat kayak orang dewasa!” mendengar Fuma mengatainya lagi, Chika naik darah.

“Sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar dong! Chise juga sudah tidak apa-apa, kan?” Yua mencoba menengahi kedua temannya.

“Ngomong-ngomong, Fuma. Apa kau kenal dengan Morimoto?” tanya Yua.

“Oh, Shintaro? Aku mengenalnya. Tapi tidak cukup baik sih. Ada apa, Yua?”

“Apa dia selalu sendiri seperti itu? Aku ingin kita berteman dengannya juga.” Yua memandang Shintaro yang sudah selesai membereskan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan kelas.

“Aku ga keberatan sih, asal…” Belum sempat Fuma menyelesaikan kalimatnya, Yua sudah berlari mengejar Shintaro. Ketiga temannya pun mengikutinya.

“Morimoto-kun, tunggu!” Yua memanggil Shintaro. “Apa kau mau kita pulang sama-sama?”

Shintaro memandangi Yua dan teman-temannya dengan tatapan tidak percaya. “Tapi aku kan…, orang tua kalian pasti…, sebaiknya kalian…,” berulang kali Shintaro seperti tidak ingin menyelesaikan kalimatnya.

“Kalau ngomong yang jelas dong, Shin-chan! Yua-sama mengajakmu pulang sama-sama lhoo. Apa kamu mau menolak ajakannya yang tulus ini?” Fuma mencoba bicara dengan Shintaro, sok akrab.

“Dih, jijik. Bisa tidak sih kau itu tidak usah caper di depan Yua?” Lagi-lagi Chika menyulut api permusuhan di antara mereka, lalu keduanya pun mulai bertengkar hebat. Shintaro tertawa melihat pertengkaran keduanya.

“Lihat, Shin-chan tertawa! Dia bukan anak nakal seperti kata ayahmu, Chise!” Yua berteriak histeris saking senangnya. Dia sudah tahu, kalau Shintaro tidak mungkin seperti yang orang-orang duga.

“Oh, maaf aku jadi keceplosan memanggilmu Shin-chan, Morimoto-kun.” Yua mengkoreksi kata-katanya.

“Tidak apa-apa. Kalian boleh memanggilku Shintaro atau Shin-chan.” Kata Shintaro terlewat senang. Karena jangankan diajak pulang bersama atau mempunyai teman, bahkan ada yang mengajaknya bicara selain tentang hal pelajaran saja dia sudah sangat senang!

Sesampainya di jalan dekat rumah, Shintaro berpapasan dengan kakaknya yang juga baru pulang sekolah. Melihat adiknya pulang bersama teman-teman barunya, kakak Shintaro terlihat tidak suka. Karena tidak ingin teman-temannya melihat ekspresi yang ditunjukkan kakaknya, Shintaro meminta teman-temannya untuk segera pulang saja.

“Terima kasih untuk hari ini, semuanya. Kalian cukup mengantarku sampai sini saja. Sampai ketemu besok di sekolah ya.” Shintaro mengakhiri perjalanan pulang sekolah bersama teman-teman barunya dan berlari mengejar kakaknya.

“Ryuu-nii, tunggu!” Shintaro mencoba mensejajari langkah kakaknya. “Kenapa Ryuu-nii terlihat tidak suka?”

“Biasa saja.” Komen Ryutaro singkat.

“Mereka teman-temanku, aku suka mereka, jadi aku ingin Ryuu-nii juga menyukai mereka.” pinta Shintaro dengan tatapan mengiba. Dia tahu, akan sangat sulit menyuruh kakaknya untuk mempercayai orang lain, karena selama ini mereka dibesarkan dengan didikan untuk tidak mudah percaya orang lain selain keluarga.

“Teman? Berapa lama kamu mengenal mereka, hah? Sampai-sampai mengatakan kalau berteman dengan mereka. Jangan terlalu berharap, Shin. Pertemanan hanya akan menyakitimu saja. Bahkan orang tua kita yang dulunya teman, lalu menikah, sekarang saja sudah saling mengkhianati. Kita masih terlalu kecil untuk mendalami arti sebuah pertemanan.” Ryutaro mencoba memberi pengertian kepada adik semata wayangnya itu, dia hanya tidak ingin adiknya terluka karena sebuah pengkhianatan.

“Kenapa Ryuu-nii menyama-nyamakan mereka dengan papa-mama? Kenapa semua orang menyamakan kita dengan papa-mama? Mereka ya mereka, kita ya kita, tidak ada hubungannya dengan papa-mama!!” Shintaro meneriaki kakaknya lalu berlari meninggalkannya.

“Shin!” Ryutaro ingin mengejar Shintaro tapi mengurungkan niatnya. Dia memang tidak ingin adiknya terluka. Tapi bukannya hal yang baik kalau adiknya mempelajari sendiri kalau teman-temannya tidak mungkin bisa berteman tulus dengannya dan memilih tidak mempercayai mereka? Ryutaro pun membiarkan adiknya.

Shintaro berlari tanpa arah, tanpa sadar langkah kakinya membawa ke rumah Yua. Ya, Shintaro tahu rumah Yua. Beberapa kali dia tidak sengaja melihat Yua sepulang sekolah, setiap kali dia ingin pergi ke sungai besar di kompleks perumahannya.

Samar-samar Shintaro mendengar suara marah-marah dari dalam rumah. Karena penasaran, Shintaro memberanikan diri untuk mengupingnya.

“Pokoknya mama tidak mau lagi lihat kamu dekat-dekat dengan anak Morimoto! Mama tidak masalah kamu berteman dengan siapa saja, tapi tolong jangan dengan anak Morimoto. Kamu dengar kan, Yua?” Yua tidak menjawabnya, tapi dari luar Shintaro bisa melihat Yua menganggukkan kepala.

Ternyata Yua sama saja!

*

Lanjut di part selanjutnya ya ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s