[Multichapter] TWISTED (#7)

1500683758191

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Kouchi Yugo, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Senyum mengembang di bibir Chika, menambah kecantikan pada wajahnya. Taiga tertegun mengagumi keindahan itu, kalau saja dia tidak ingat kalau Chika sedang berusaha menggagalkan misinya.

“Kamu siapa?” Taiga mengulangi pertanyaannya.

“Aku Chika.” Jawab Chika, tersenyum jahil tampak sengaja menggoda Taiga. Taiga mendengus kesal. Dalam situasi serius begini, masih sempat-sempatnya Chika menggodanya, Apa sih yang dia pikirkan?

“Bagaimana kamu tahu tujuan saya yang sebenarnya? Apa kemarin kamu sengaja ikut saya pulang ke tempat tinggal saya yang lama untuk menyelidikinya?”

“Tanpa melakukannya pun, aku sudah tahu dari awal kalau kamu memang pelakunya. Karena itulah aku di sini untuk mencegahmu.” Jawab Chika santai, tidak mengindahkan tatapan curiga Taiga.

“Mencegahku? Siapa yang memerintahkanmu?” Taiga menatap Chika tajam, gadis itu benar-benar membuatnya gila. Pertama, Chika selalu membuatnya merasa kalau mereka pernah bertemu sebelumnya, padahal selama ini dia tidak pernah meninggalkan lembaga. Jadi mustahil bagi mereka untuk bertemu sebelumnya. Kedua, gadis itu tampak tergila-gila padanya, selalu secara terang-terangan menunjukkan rasa suka padanya. Taiga tidak membencinya, karena selama ini Taiga belum pernah merasakan ada orang yang menyukainya seperti Chika, apalagi Taiga paling menyukai senyum gadis itu. Ketiga, saat dia pikir Chika mendekatinya sebagai gadis biasa, karena cinta, Taiga benar-benar tidak menyangka kalau gadis itu telah mengetahui rahasia terbesar miliknya selama ini. Siapa dia?

“Taiga.”

“Hah? Saya?” Taiga terbatuk, tidak menyangka kalau namanya yang akan keluar dari mulut Chika. “Bagaimana mungkin saya…”

“Bukan Taiga kamu, tapi Taiga yang mengenalku.”

Taiga yakin kalau dia sudah benar-benar gila, apalagi dia menyukai gadis gila yang sekarang sedang berdiri di depannya. Semua yang dikatakan Chika benar-benar tidak masuk akal!

“Aku tahu kamu pasti mengira aku sudah gila. Tapi aku punya sesuatu yang akan membuatmu berpikir yang aku katakan adalah benar.” Chika mengeluarkan sebuah amplop merah dari sakunya.

“Itu…”

“Ya, ini adalah milikmu.”

“Bagaimana kamu mendapatkannya?” Taiga berusaha merebut amplop merah dari Chika, lalu melihat segelnya masih belum terbuka. Fiuh, ungtung saja dia belum membacanya, batin Taiga.

“Karena Taiga yang menyuruhku mengambilnya untuk meyakinkanmu kalau-kalau kamu tidak percaya dengan yang kukatakan.”

Kali ini, mau tidak mau Taiga harus mempercayai Chika. Karena benar, amplop merah itu, tidak pernah ada yang mengetahui keberadaannya selain dirinya sendiri. Tapi bagaimana bisa?

“Ada sebuah kisah yang harus kuceritakan, tapi kita tidak bisa membicarakannya di sini. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat?” Taiga menyetujui ide Chika, lalu keduanya pergi meninggalkan rumah.

“Di tempat ini, biasanya Taiga mengajakku jalan-jalan dan menceritakan kisah hidupnya.” Chika menjelaskan pada Taiga saat keduanya tiba di sebuah bukit tidak jauh dari rumah mereka, menyuguhkan pemandangan indah lampu kota.

“Chika-san, saya benar-benar tidak mengerti dengan Taiga yang kamu maksud. Apa saya mempunyai kembaran atau bagaimana sih? Atau kamu datang dari dunia paralel?” Chika hanya tersenyum mendengar kata-kata Taiga.

“Selama aku bercerita, tolong dengarkan baik-baik, jangan menginterupsinya.” Chika melanjutkan ceritanya.

 

Chika’s Story Mode On

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu Taiga tiba juga. Hari ini dia akan menjalankan misi pertamanya. Dengan penuh semangat Taiga berjalan cepat menuju ruang pertemuan. Taiga melihat ayahnya dan beberapa profesor ternama sudah berdiri di sana. Ada Juri juga.

Jadi aku akan menjalankan misi ini berdua dengan Tanaka? pikir Taiga dalam hati.

Ternyata benar dugaannya, dia menjalankan misi ini berkolaborasi dengan Juri. Dia berperan sebagai pancing, Juri sang eksekusi. Hal ini didasarkan pada kemampuan verbal Taiga yang lebih baik dibanding Juri, sehingga dia cocok untuk mendekati target dan lingkungan. Sedangkan Juri sangat ahli dalam urusan mekanika, sehingga dia akan sangat mudah melenyapkan senjata yang menjadi target mereka.

“Berhati-hatilah Kyomoto, jangan terlalu dekat dengan target, atau kau akan gagal menjalankan misi ini!” Juri mengingatkan Taiga sebelum keduanya berpisah.

“Terima kasih atas nasihatnya, Tanaka. Aku akan berusaha.”

Selanjutnya datanglah hari pertama Taiga tinggal bersama keluarga Kouchi. Sesuai prediksi, Kouchi Yugo adalah seorang pemuda yang baik sekali. Taiga hanya perlu memasang tampang iba di tempat kerja, yang tentu saja sengaja dia pilih untuk masuk di tempat kerja yang sama dengannya, Kouchi langsung menawari Taiga untuk tinggal bersamanya.

“Kouchi-san? Kouchi-san?” Taiga menepuk pundak seorang gadis yang sedang berdiri di depan sebuah rumah besar, kalau menurut peta alamat di tangannya, merupakan kediaman keluarga Kouchi.

“Kouchi Yua-san, bukan?” tanya Taiga sekali lagi untuk memastikan. Gadis itu mengangguk. Taiga sangat senang, akhirnya dengan mudah bisa menemukan targetnya! Kalau dilihat-lihat, dia seperti gadis SMA biasa. Tidak akan ada yang menyangka kalau dia senjata berbahaya.

“Perkenalkan, nama saya Kyomoto Taiga. Saya pegawai baru di kantor yang sama dengan kakak Anda. Kebetulan saya datang dari luar kota dan belum menemukan tempat tinggal tetap. Ketika mengetahui keadaan saya, Kouchi-san berbaik hati menawari saya untuk tinggal di tempat kalian, karena katanya ada beberapa kamar yang disewakan.”

“Oh.” Hanya reaksi itu yang keluar dari mulutnya. Aaah, dingin sekali. Wajar saja sih, dia kan cuma senjata. Pasti tidak punya perasaan dan kehangatan seperti manusia.

“Kamu pasti Kyomoto Taiga, kan? Kami sudah menunggu kedatanganmu.” Sebuah suara laki-laki memecah kecanggungan di antara keduanya. Pemuda itu berjalan mendekat bersama seorang gadis di sebelahnya.

“Aku Matsumura Hokuto, ini Hideyoshi Sora. Kami berdua tinggal di sini juga. Kami akan mengantarmu untuk melihat-lihat kamar barumu.” Taiga berjalan mengikuti Sora, sedangkan Hokuto masih berdiri di dekat Yua. Samar-samar Taiga mendengar percakapan mereka, lalu kalau tidak salah, Taiga melihat Yua tertawa. Eh?

“Mereka berisik ya? Hoku memang suka sekali memanjakan Yua. Yugo juga.” Taiga masih canggung membalas percakapan gadis di depannya. Selama ini, bisa dikatakan dia belum pernah bicara dengan gadis sama sekali, karena di lembaga isinya pria semua.

“Hideyoshi-san…”

“Panggil saja aku Sora. Yoroshiku, Taiga-kun!” Sora memotong kata-kata Taiga.

Eh? Baru pertama kali dalam hidup Taiga ada orang lain yang memanggil nama depannya selain kedua orang tuanya. Perasaan aneh mengusik Taiga, membuatnya sekilas ingin menitikkan air mata. Tapi tentu saja itu akan sangat memalukan kalau dilakukan di depan orang-orang yang baru dikenalnya, bukan? Sekuat tenaga Taiga menahan emosinya.

Ano, Sora-san, yang tinggal di rumah ini ada berapa orang ya?” Pertanyaan basa-basi pertama. Taiga mencoba mencairkan suasana.

“Lima. Yugo, Yua, Hoku, aku dan Taiga.” Taiga mengangguk paham, terus tanya apalagi ya?

“Bagaimana kalian bisa tinggal di sini juga? Ah, maksud saya…” belum sempat Taiga melanjutkan pertanyaannya, Hokuto yang berhasil menyusul mereka langsung menjawabnya.

“Aku dan Sora, kami baru bertemu Kouchi saat SMA. Sejak saat itu kami bersahabat dan tidak pernah meninggalkannya.” jelasnya.

“Wah, berarti saya benar-benar orang yang tidak ada hubungannya sama sekali kalau dibandingkan kalian ya.” Taiga tertawa renyah, malu-malu karena komentarnya.

“Kamu kan teman kantor Yugo. Berarti ada hubungannya mulai sekarang.” hibur Sora mencoba ramah, tersenyum lembut kepada Taiga.

Arigatou.” balas Taiga dengan tatapan penuh makna.

“Nah, ini kamarmu, Taiga-kun.” Sora membukakan kamar Taiga. “Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan panggil kita.”

Ano, apa malam ini bisa menemani saya berbelanja? Umm, kamar ini belum ada lemarinya. Jadi…” Aaarrrgh, aku kenapa sih? kok tiba-tiba begini.

“Aku akan mengantarmu, Kyomoto-kun.” Taiga mendongak, menatap nanar Hokuto yang menjawab ajakannya. “Aku tahu toko furniture yang bagus dan murah. Sekalian aku ada keperluan juga.” Taiga hanya bisa mengangguk pasrah.

*

Malam harinya, saat Taiga dan Hokuto sedang berbelanja, Taiga baru menyadari kalau Hokuto sengaja mengajaknya berbelanja ke tempat dekat Yua dan teman-temannya sedang bermain. Jadi, dia sedang mengawasinya?

Dug, Brak, Kyaaaa. Hokuto dan Taiga menoleh ke arah sumber suara. Yua dan salah seorang temannya menabrak sebuah manekin dan berhasil membuat kehebohan.

“Yua, Chise, Shintaro? Kalian sedang apa di sini?” tanya Hokuto menghampiri ketiganya.

“Kita habis nonton senpai. Senpai sendiri, sedang apa di sini?” Chise berjalan mendekat ke arah Hokuto dan Taiga, sedangkan Shintaro dan Yua masih sibuk meminta maaf pada kepala toko pemilik manekin yang mereka jatuhkan.

“Aku sedang mengantarkan Kyomoto-kun membeli beberapa alat yang dia butuhkan untuk kamar barunya. Apa Yua belum cerita kalau mulai hari ini, rumah kami punya penghuni baru?”

“Oh, sepertinya belum sempat, senpai. Tadi kita langsung nonton dan setelahnya ada kejadian yang tidak terduga.” jelas Chise sambil tertawa. Perhatian Chise beralih pada Taiga yang di sebelah Hokuto.

“Perkenalkan aku Nagisawa Chise, panggil saja Chise dan yang di sana Morimoto Shintaro. Yoroshiku, Taiga-kun.” Chise mengulurkan tangannya.

Eh? Orang kedua yang memanggil namanya, setelah tadi Sora. Untuk pertama kalinya juga, Taiga melihat seseorang mengulurkan tangan kepadanya. Ragu-ragu Taiga menerima uluran tangan Chise. “Kyomoto Taiga desu.”

“Aaaaaa, Chise curang!!! Padahal aku yang tinggal satu rumah dengannya, tapi kenapa kamu yang salaman duluan sama Taiga?” Yua berlari ke arah Chise, meninggalkan Shintaro mengurus sisa dari kesalahannya.

“Kamu kan tinggal satu rumah, kamu bisa salaman kapan saja, Yua!” Chise melepaskan jabat tangan Taiga beralih mencubit pipi Yua.

“Kalau sampai itu terjadi, kamu tahu kalau hidup Kyomoto-kun tidak akan tenang kan nantinya, Chise?!” Hokuto dan Chise tertawa.

“Kenapa?” tanya Taiga dengan polosnya.

“Karena Kouchi-senpai akan membunuhmu karena berani menyentuh adik kesayangannya!” sahut Chise, lalu mereka tertawa semakin terbahak-bahak.

“Astaga, kalian lebay! Orang cuma salaman doang. Taiga, kamu bisa memanggilku Yua. Yoroshiku na.” Yua menjabat tangan Taiga.

Orang ketiga yang memanggilku nama, batin Taiga merasa senang sekali. Taiga ingat betul nasihat Juri untuk tidak terlalu dekat dengan lingkungan target. Tapi… Tidak apa-apa kan kalau sedikit saja aku menikmati ini?

“Yasudah, aku akan mengantarkan Kyomoto-kun mencari barang-barang yang belum terbeli. Kalian kalau sudah tidak ada rencana lagi, langsung pulang ke rumah! Shintaro, antarkan Yua sampai rumah dengan selamat!”

“Siap, senpai!” Taiga melihat sosok Yua dan teman-temannya pergi. Karena merasa Hokuto ingin cepat menyusul Yua, Taiga memutuskan untuk mempercepat belanjanya.

Di perjalanan pulang, tanpa sengaja Taiga dan Hokuto melihat Shintaro sedang berusaha menggendong Yua yang pingsan di jalan. Tanpa menunggu aba-aba keduanya langsung berlari menghampiri mereka.

“Apa yang kamu lakukan?!” Hokuto menarik Yua ke dalam pelukannya, melepas paksa dari pelukan Shintaro.

“Aku bisa jelaskan, senpai. Yang terpenting sekarang, kita bawa Yua pulang dulu.”

Hokuto melirik Yua yang tidak sadarkan diri dalam pelukannya. Tanpa mempedulikan yang lain, Hokuto langsung menggendong Yua dan berlari ke arah rumah.

Apa yang terjadi sebenarnya? Taiga memperhatikan sekeliling, dia merasa ada yang sedang mengawasi mereka.

Setelah memastikan Shintaro berlari mengejar Hokuto dan Yua, Taiga mulai bersuara. “Tanaka, kau ada di sini?” Juri keluar dari semak-semak tidak jauh dari Taiga berdiri.

“Apa kau melihat apa yang terjadi?” tanya Taiga lagi.

“Tanpa aku jelaskan, kau pasti bisa menebak apa yang terjadi, kan? Kita tidak bisa menunggu lagi, kekuatan itu sudah semakin sadar dan berusaha mengambil alih tubuh inangnya.”

Taiga menelan ludah. Dia tidak menyangka kalau harus melakukannya secepat ini. “Apa yang akan kita lakukan?”

“Kita harus melenyapkannya secepatnya, tapi sebelum itu kau harus mendapatkan kepercayaan dari mereka agar mereka tidak mencurigaimu. Aku punya rencana.” Juri mulai menjelaskan rencananya pada Taiga.

“Jadi kau akan menculiknya dan aku yang membantu dalam pencarian dan menemukannya?” Juri mengngguk mantap dengan rencananya.

“Dengan begitu, kau akan lebih mudah dekat dengan mereka.” Taiga paham dengan rencana Juri dan setuju untuk menjalankannya.

Tidak perlu menunggu, Juri menjalankan rencananya keesokan hari. Juri menculik Yua sepulang sekolah saat gadis itu hanya bertiga bersama dua sahabatnya. Rencana Juri hampir gagal karena bukan hanya Yua tapi Chise juga menjadi korban penculikannya. Tapi berkat rencana Juri itu, Taiga berhasil membangun imej sebagai pahlawan yang membantu menemukan keduanya.

*

Dua minggu sudah berlalu sejak kejadian penculikan Yua dan Chise. Setelah merasa aman dan tidak ada yang perlu dicurigai, Kouchi dan yang lainnya mengadakan pesta barbekyu sekaligus penyambutan untuk Taiga. Selama belasan tahun usianya, baru kali ini Taiga merasakan pesta barbekyu.

“Taiga, maaf ya. Gara-gara aku, kita semua jadi terlambat menyambut kedatanganmu.” ucap Yua. Taiga melirik gadis di sebelahnya, yang sedang sibuk memilah-milah bahan makanan yang akan mereka gunakan untuk barbekyu bersama Chise.

“Ini semua bukan salah kamu, Yua-san. Hanya saja, saya datang di saat yang kurang tepat. Yang terpenting, sekarang semuanya sudah kembali seperti seharusnya, kan?” Taiga tersenyum kepada Yua.

“Betul kata Taiga, Yua. Toh, bukan kamu yang merencanakan semua ini terjadi bertepatan dengan kedatangan Taiga. Yang penting hari ini kita senang-senang dan makan sepuasnya!” tambah Chise, bersorak kegirangan.

Taiga melihat Sora berjalan ke arah mereka sambil membawa beberapa tas plastik berisi sayuran di tangannya. “Sini biar kubantu, Sora-san.” Taiga menawarkan bantuan.

“Letakkan di meja itu! Aku akan mengambil air sebentar.” Sora mengulurkan tas plastik di tangannya kepada Taiga dan bersiap berbalik untuk mengambil air, tapi Hokuto mencegahnya. “Biar aku saja yang ambil air.” katanya.

“Bukannya kamu mau membantu Shintaro dan Yugo memasang pemanggang? Aku bisa ambil sendiri airnya.” Sora beranjak meninggalkan mereka. Hokuto dan Taiga berpandangan dengan tatapan, ‘Aku tidak akan membiarkanmu mendekatinya’. Lalu sama-sama membuang muka.

“Hoku, apa kamu bisa membantuku memisahkan daging yang ini?” Yua memanggil Hokuto, meminta bantuannya.

“Pergilah Matsumura, tuan putri memerlukan bantuanmu.” sindir Taiga, sengaja menekankan kalau ‘sebaiknya kau dengan Yua saja’! Hokuto mendengus kesal dan pergi membentu Yua.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan Putri?” tanpa Hokuto sadari, saat mengatakannya, Kouchi sudah berdiri tepat di belakangnya.

Bletak. Kouchi memukul Hokuto dengan spatula. “Awas kalau kau berani macam-macam dengan Yua!”

“Ampun Tuan, saya tidak berani.” Hokuto berlutut, berpose memohon ampunan. Seketika gelak tawa memenuhi halaman.

Suasana hangat yang belum pernah Taiga rasakan. Dia belum pernah merasa sebahagia ini selama tinggal di lembaga, bahkan membayangkan saja tidak pernah. Di sini, taiga mempunyai gadis yang dia suka, teman yang selalu membelanya dan juga teman untuk diajak bertengkar. Bahkan terkadang setiap kali Taiga melihat Yua dari dekat, dia lupa kalau gadis itu bukan manusia. Senyumnya yang hangat, semangatnya yang luar biasa dan selalu bisa memompakan energi positif kepadanya, Taiga benci mengakui kalau dia harus melenyapkan gadis itu pada akhirnya.

“Taiga, kamu menangis?” Taiga menoleh ke Shintaro yang sudah berada di sampingnya. Taiga buru-buru menghapus air mata yang tidak terasa keluar membasahi pipinya.

“Aku cuma terharu, aku selalu merindukan suasana seperti ini.” Shintaro menepuk pundak Taiga sambil mengatakan, “Mulai sekarang kamu akan selalu merasakannya.” Taiga terdiam, tidak berani menjawabnya.

*

“Aku sudah pernah mengingatkanmu, jangan terlalu dekat dengan target atau kau akan gagal menjalankan misi ini.” Taiga menatap Juri yang dengan dingin sedang menertawakannya.

“Berbahagialah di atas penderitaan partner-mu, Tanaka-san!” Cibir Taiga tidak kalah dingin. “Aku tidak akan gagal dalam misi ini, aku sudah berjanji pada Taiki.”

“Bagus kalau begitu. Apa kau yakin akan melakukannya malam ini?”

“Lebih cepat lebih baik, Tanaka. Aku tidak mau terlalu dekat lagi dengan semuanya atau aku tidak akan bisa lepas dari rasa bersalah.”

“Baiklah, kau tahu apa yang harus kau lakukan. Aku akan bersiap pada posisiku. Hubungi aku saat kau sudah siap melakukannya.”

 

Back to The Real Time

“Tunggu dulu, saya tidak tahan untuk tidak menyelanya! Kenapa dalam cerita itu saya melakukan misi ini bersama Tanaka-san? Lalu saya mempunyai perasaan pada Sora-san? Dan orang-orang dalam cerita itu benar-benar tidak cocok dengan kenyataan saat ini!” Taiga berjalan mondar-mandir, mencoba mencerna cerita Chika.

“Kamu itu sebenarnya siapa, Chika-san? Bahkan dalam kisah yang kamu ceritakan, kamu menghilangkan eksistensimu!” Chika tersenyum mendengar Taiga kebingungan.

“Memang kisah yang kuceritakan sedikit berbeda, tapi apa kamu tidak menyadari dari cerita itulah aku tahu kalau kamu akan melenyapkan Yua hari ini? Tanggal 2 Desember.” Taiga bergidik, tebakan Chika tepat sekali. Meskipun banyak hal yang berbeda, tapi inti dari cerita itu sama. Dan Taiga memang bermaksud melenyapkan Yua malam ini.

“Lalu bagaimana kamu menjelaskan kenapa saya yang sekarang melakukan semua ini sendiri?” Taiga berhenti mondar-mandir, kali ini memaksa Chika untuk memandang lurus ke matanya.

“Karena aku mencegah Juri untuk kembali ke lembaga.” Taiga membelalakkan mata, kali ini dia benar-benar ingin tidak mempercayai Chika.

“Kamu mencegahnya? Bagaimana bisa? Apa kamu sudah mengetahuinya dan berusaha mencegahnya? Jangan bercanda Chika-san! Tidak masuk akal!” Taiga menggumamkan kata ‘tidak masuk akal’ berulang kali untuk menenangkan diri dan meyakinkan kalau dia tidak gila.

“Memang itu yang sudah ku lakukan, Taiga. Dan aku melakukan semua itu karena itu adalah keinginanmu, kamu yang menyuruhku untuk mencegah semua ini terjadi pada dirimu.” Chika mengulurkan tangannya, meraih tangan Taiga.

“Kamu lihat amplop ini? Kamu sendiri yang mengatakan kalau tidak ada orang lain yang mengetahuinya selain kamu sendiri, kan? Aku tahu karena kamu yang memberitahuku. Kamu yang di masa depan.”

“Masa depan? Jadi kamu datang dari masa depan?” Taiga menepis tangan Chika. Semua ini benar-benar tidak bisa dipercaya!

“Apa aku boleh melanjutkan ceritaku? Aku akan menjelaskan kenapa kamu menyesal dan menyuruhku untuk mencegahmu melakukan kesalahan.” Taiga masih terdiam, Chika menarik kesimpulan kalau Taiga mengiyakan.

“Ah, tapi sebelum itu, kamu tadi bertanya tentang perasaanmu kepada Hideyoshi-senpai, kan? Aku juga yang mencegahnya.” Taiga berusaha untuk tidak terkesiap, tapi gagal. “Sejak pertama kita bertemu, aku yakin kamu pasti merasa kita sudah pernah bertemu sebelumnya, iya kan?”

Deg. Taiga tidak bisa memungkirinya.

“Aku memanfaatkan rasa penasaranmu dengan menebarkan pesona cintaku. Sehingga kamu tidak akan melirik gadis lain selain diriku.” (author note: jangan hajar Chika!!! lol)

 

Back to The Chika’s Story

Taiga dan Juri berhasil menjalankan misi mereka. Meskipun demikian, Taiga tetap tinggal di rumah keluarga Kouchi dan turut serta dalam pemakaman Yua. Dalam hati Taiga merasa bersalah, tapi dia yakin kalau yang dilakukannya tidak salah demi keselamatan dunia.

“Aku tidak akan pernah meninggalkan sisi Yugo.” Sora bersumpah di depan teman-temannya, lalu berjalan memeluk Kouchi. Dari sanalah Taiga baru menyadari kalau Sora mencintai Kouchi.

“Pupus sudah harapan kita, Kyomoto. Aku tidak akan pernah merebut Sora dari sisi Kouchi, karena sekarang hanya Sora lah yang Kouchi miliki. Kita harus mendukung mereka.” Taiga menoleh ke arah Hokuto yang sedang memandangi Sora dan Kouchi dengan tatapan penuh kehampaan. Ya, Taiga tahu itu.

“Matsumura, sepertinya saya harus pergi untuk beberapa hari. Saya…”

“Pergilah. Kalau jadi kamu, aku juga ingin pergi untuk sementara waktu. Sayangnya aku tidak bisa meninggalkan sisi mereka. Pergilah, Kyomoto. Tapi jangan lupa kembalilah pada kita.”

Setelah mendapat ijin dari Hokuto, Taiga kembali ke lembaga bersama Juri untuk memberikan laporan tentang misi mereka. Karena sudah berhasil menjalankan misi besar, keduanya diberikan hak istimewa untuk meminta satu hal besar untuk dikabulkan.

“Jadi kau memilih untuk tetap tinggal di sana, Kyomoto-san? Sebagai penebusan rasa bersalah?”

“Benar, Profesor. Lagipula tugas dan kewajiban saya di lembaga sudah selesai, bukan? Sudah saatnya saya memilih jalan hidup saya sendiri. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan ilmu yang telah saya miliki, karena itu saya akan membawa Konno untuk menjadi asisten saya.”

“Kau hanya diijinkan meminta satu hal besar, Kyomoto!”

“Saya hanya meminta untuk diijinkan menjalani hidup saya sendiri, Profesor. Dan Konno adalah bagian dari hidup saya, jadi saya harus membawanya.”

Terjadi perdebatan hebat di antara para Profesor kepala, mendiskusikan permintaan Taiga. Hingga akhirnya permintaannya dikabulkan, dengan syarat Taiga sendiri yang meminta ijin pada Profesor Konno untuk membawa anaknya. Taiga pergi ke rumah sakit lembaga yang hampir tidak pernah dikunjunginya. Awalnya Taiga berencana untuk langsung menemui Profesor Konno di bangsal penelitiannya, tapi perhatiannya teralih saat tidak sengaja melihat sosok ayahnya berbicara dengan seseorang di kursi roda.

“Ayah sedang bicara dengan siapa?” karena penasaran, Taiga mencoba mengikuti ayahnya. Samar-samar Taiga berhasil mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Saya tidak salah mempercayai anak Anda, Prof. Kyomoto-kun berhasil menjalankan misinya dengan sangat baik.”

“Terima kasih atas pujiannya. Tapi sayang untuk ke depannya, dia lebih memilih untuk mengembangkan kemampuannya sendiri dibandingkan tinggal di lembaga.” Ayah Taiga terlihat kurang setuju dengan keputusan Taiga.

“Menurut saya, pilihan bagus kalau dia memilih untuk tinggal di rumah saya. Di sana ada laboratorium milik saya yang sudah terbengkalai. Kalau Kyomoto-kun yang menjalankannya, saya yakin akan lebih berguna.”

“Terima kasih banyak, Profesor Kouchi. Saya akan menyampaikan pesan Anda padanya.”

Eh? Profesor Kouchi? Bukannya Profesor Kouchi sudah meninggal? Tidak tidak aku pasti salah dengar.

Daripada mengetahui kenyataan yang tidak mau diakuinya, Taiga memilih untuk segera pergi menemui Profesor Konno dan meminta ijin membawa Taiki. Taiga tahu, suatu hari nanti dia akan menyesali pilihannya saat ini. Tapi Taiga meyakinkan diri kalau pilihannya adalah yang terbaik agar tidak semakin menyakiti Kouchi.

Meminta ijin pada Profesor Konno ternyata tidak sesulit yang dibayangkan Taiga. Setelah mengurus surat-surat kepindahan mereka, Taiga membawa Taiki pulang ke rumah baru mereka.

Sesampainya di rumah Kouchi, Taiga harus menerima kenyataan pahit bahwa ternyata Kouchi memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Kenapaaa? Apa memang ini yang diinginkannya? Taiga menjerit dalam hati. Kenyataan bahwa Profesor Kouchi lah yang menginginkan kematian Yua, membuat Taiga mengutuk Profesor Kouchi yang tidak bisa memprediksi kalau hal ini akan terjadi akibat perbuatannya!

Perasaan bersalah semakin membuat Taiga takut mengungkap jati dirinya. Bahkan saat Sora kehilangan arah karena kematian orang yang paling dicintainya, Taiga memlih menyerah dan meminta Hokuto untuk selalu di sisinya. Taiga memutuskan untuk pergi bersama Taiki dan membuka lembaga penelitian sendiri.

Setelah dua tahun, Hokuto kembali menghubungi Taiga untuk sekali lagi memberikan kabar duka. Sora meninggal saat melahirkan anak mereka. Tanpa membuang waktu, Taiga langsung pergi menemui kedua sahabat lamanya.

“Kamu baik-baik saja?” Taiga tahu, pertanyaannya salah. Sudah jelas kalau Hokuto tidak mungkin baik-baik saja. Apalagi kehilangan orang yang paling dicintainya.

“Sora meninggal dengan senyuman, Taiga. Aku yakin dia sekarang sedang berbahagia karena bisa bertemu lagi dengan Kouchi.”

Bletak. Refleks Taiga memukul kepala Hokuto, karen atidak habis pikir dengan apa yang sudah dikatakannya.

“Kamu bodoh ya, Hoku? Aku tersenyum karena aku bahagia menghabiskan dua tahun bersamamu. Kamu yang membuatku bahagia!” Taiga mencoba memonomane Sora dan berhasil membuat Hokuto tergelak tawa.

“Terima kasih, Taiga. Aku harap Sora benar-benar melalui dua tahun kehidupannya bersamaku dengan bahagia.”

“Tentu saja dia bahagia. Kalau tidak, mana mungkin dia bersikeras melahirkan anak kalian ke dunia sebagai bukti kebahagiaan kalian berdua?” Taiga meninju pelan dada Hokuto untuk menyuntikkan semangat kepadanya.

“Ngomong-ngomong, di mana anakmu?” Taiga memaksa Hokuto untuk mengantarnya menemui anak mereka. Saat melihat bayi perempuan mungil di dalam inkubator, tanpa sadar mengingatkan Taiga pada Yua. Eh?

“Aku berharap dia tumbuh cantik seperti Sora.” Taiga sengaja menyebutkan nama Sora untuk menghapuskan bayangan Yua yang sempat terlintas di benaknya. Selama ini, Taiga masih belum bisa menghapus rasa bersalahnya.

“Apa itu maksudnya? Biasanya anak perempuan lebih mirip ayahnya.” Hokuto tidak mau kalah. Lalu keduanya tertawa.

“Apa kalian sudah memberinya nama?”

“Matsumura Chika, kanji Chi dari pengetahuan dan Ka dari kebaikan, jadi Sora ingin dia tumbuh menjadi gadis yang dipenuhi dengan pengetahuan baik.”

“Tunggu dulu, bukannya kanji itu kalau digabungkan bacanya Tomoka?” sela Taiga.

“Penting ya?” “Tidak penting sih.” “Yasudah, terserah yang punya OC saja!” (author interferes *kicked)

 

Intermezo

“Jadi kamu anak Sora-san dan Matsumura???” Taiga hampir melonjak dari tempatnya duduk, saking tidak percayanya.

“Begitulah.” Jawab Chika santai.

“Apa mereka tahu siapa kamu sebenarnya?”

“Kalau Ayah, dia tahu semuanya dan mempercayaiku begitu saja. Mungkin karena ikatan batin di antara kita. Tapi kalau Hideyoshi-senpai, aku tidak berani memberitahunya. Di satu sisi karena aku tidak mempunyai ingatan tentangnya, sehingga mungkin dia tidak akan percaya kalau aku anaknya. Di sisi lain, aku tidak mungkin cerita kalau dia akan meninggal karena melahirkanku, kan?”

“Benar juga.”

“Sudahlah, aku belum selesai ceritanya. Jangan di sela lagi!”

 

Once more, Back to The Chika’s Story

Taiga membantu Hokuto dalam membesarkan Chika dan mereka memutuskan untuk kembali tinggal bersama, kali ini di rumah Taiga.

Setiap kali melihat Chika, Taiga selalu terbayang sosok Yua dalam diri Chika. Karena dihantui rasa bersalah, akhirnya Taiga menyerah dan mengungkap semua kebenarannya pada Hokuto.

“Maafkan aku, Hokuto. Kamu boleh membenciku seumur hidupmu.” Taiga mengatakan itu tanpa berani memandang wajah Hokuto.

“Sudahlah Taiga, lupakan saja. Aku tahu semua ini terjadi bukan karena keinginanmu. Selama ini kamu pasti juga menderita dihantui rasa bersalah.” Hokuto menepuk pundak Taiga, memeluknya. Tangis Taiga pecah, dia tidak menyangka Hokuto akan memaafkannya. Padahal selama ini dia selalu mimpi buruk kalau membayangkan pengakuannya kepada Hokuto membuat hubungan mereka terpisah.

“Kalau ada cara untuk menebus dosa, aku benar-benar ingin melakukannya. Andai aku tahu kalau aku tidak seharusnya membunuh Yua dan mengakibatkan semua orang menderita, aku benar-benar tidak akan melakukannya. Andai saja ada cara.”

Time leap saja, nii-chan.” Taiga dan Hokuto menoleh secara bersamaan. Taiki sudah berdiri tidak jauh dari tempat mereka berpelukan. Buru-buru Taiga membenarkan posisinya dan sedikit menjaga jarak dari Hokuto agar Taiki tidak berpikir macam-macam tentang mereka.

“Aku baru membaca penelitian Lewis-sensei, dia sedang mengembangkan formula yang bisa membuat kita melompati waktu. Mungkin nii-chan bisa berkonsultasi dengannya.” tambah Taiki, lalu duduk di antara Taiga dan Hokuto sengaja memisahkan keduanya.

“Kamu serius Taiki? Aku akan segera menemuinya! Arigatou.” Taiga menepuk pelan kepala Taiki sebagai tanda terima kasih. Dia tidak membuang-buang waktu dan segera pergi untuk menemui Lewis Alan, ilmuwan yang sedang singgah di lembaga miliknya untuk melakukan penelitian.

Dengan kerja keras mereka, akhirnya formula itu berhasil diselesaikan dalam waktu 10 tahun.

“Bukan waktu yang singkat ya?” Lewis-sensei memandangi hasil karyanya dengan bangga. Hasil karya di luar ekspektasi manusia biasa. Selama bertahun-tahun, Lewis-sensei menguji formula miliknya dengan mengirimkan botol formula dan surat kepada “dirinya” di dimensi waktu yang berbeda sampai akhirnya dia mendapat surat balasan beserta botol formula kosong sebagai bukti keberhasilan penelitiannya.

“Tapi saya pernah sekali mencoba terhadap makhluk hidup. Saya mengirimkan seekor burung, begitu kembali ke dimensi kita hanya tersisa tulang belulangnya. Sehingga saya membuat kesimpulan, formula ini hanya bisa digunakan satu arah terhadap makhluk hidup. Dengan kata lain, tidak mungkin kembali ke dimensi kita. Apa kalian yakin ingin kembali ke masa lalu?”

Taiga mengangguk tanpa ragu. “Setelah 10 tahun penantian, tidak mungkin saya menyia-nyiakannya. Ijinkan saya menggunakan formula itu, sensei.”

“Tentu saja saya akan memberikannya. Tapi apa rencanamu begitu sampai di masa lalu? Bukankan saat kejadian itu umurmu masih 19 tahunan? Apa kamu pikir, seorang anak umur 19 tahun yang baru akan menjalankan misi pertamanya, akan menyerah begitu saja saat ada seorang om-om memperingatkan mereka kalau mereka akan menyesali perbuatannya? Apa kamu sudah memikirkan kemungkinan itu, Kyomoto?”

Taiga tercengang mendengar kata-kata Lewis-sensei. Jujur saja dia tidak pernah memikirkannya. Kenapa aku sebodoh ini?

Lewis-sensei tersenyum melihat ekspresi Taiga, paham kalau pria itu belum memikirkannya. “Tenang saja, aku sudah memikirkannya. Tunggu sebentar.” Lewis-sensei keluar sebentar dari ruang penelitian dan kembali bersama Chika, Jesse dan Hokuto bersamanya. Taiga tidak melirik Taiki di sebelahnya yang sama-sama tidak mengerti apa yang direncanakan Lewis-sensei.

“Jesse dan Chika yang akan pergi ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.” Lagi-lagi, Taiga tercengang mendengar kata-kata Lewis-sensei.

“Tapi sensei, mereka…”

“Saya akan mengirim Chika di mana usia Yua masih seumuran dengannya, jadi Chika akan menjadi sahabat Yua yang selalu menjaganya. Jesse akan mendampingi Chika dan bersahabat dengan Yugo. Begitulah rencananya.”

“Tapi Chika…” Taiga berjalan ke arah Chika dan memeluknya. Ada perasaan berat dan tidak ikhlas kalau harus Chika yang menanggung dosanya.

“Chika tidak apa-apa, Taiga. Kata Ayah, kalau Chika pergi ke masa lalu, Chika bisa bertemu dengan Taiga yang lebih muda dan menikah dengannya. Jadi Chika bisa bahagia. Habis kata Ayah, Taiga yang ini tidak mungkin menikah dengan Chika karena sudah tua.” Taiga mendelik ke arah Hokuto, sempat-sempatnya pria itu meracuni pikiran anaknya sendiri tentang cerita yang tidak-tidak.

“Taiga, kita perlu bicara berdua.” Hokuto memberi kode pada Taiga untuk mengikutinya. Taiga dengan patuh berjalan mengikuti Hokuto tanpa suara. Tapi begitu mereka sudah berdua, Taiga langsung melayangkan tinju ke wajah Hokuto namun berhasil ditangkis.

“Apa maksudmu mengorbankan Chika demi kepentingan kita? Aku tidak akan pernah menyetujuinya!! Kita bisa mencari cara lain, kan?” Emosi Taiga meluap-luap, siap melayangkan tinju lagi ke arah Hokuto, tapi kali ini Hokuto memilih untuk menghindarinya.

“Maafkan aku, Taiga. Sebenarnya, aku juga memiliki sebuah rahasia yang belum pernah kuceritakan.” Taiga tidak menggubris penjelasan Hokuto dan masih berusaha meninjunya sekuat tenaga.

“Keluarga Matsumura dari generasi ke generasi merupakan pelayan keluarga Kouchi yang paling setia. Karena sebuah tragedi, klan Matsumura pernah mengalami pembantaian dan hanya ayahku yang tersisa. Sampai akhir hayatnya, Ayah memilih untuk tetap setia dan mewasiatiku untuk mengabdi juga. Kouchi dan Yua adalah Tuan yang kulayani, Taiga. Tapi aku tidak bisa melindungi mereka.” Taiga menghentikan usahanya meninju Hokuto, kali ini dia menatap wajah Hokuto yang sudah berlinang air mata.

“Bahkan aku tidak memberi kesempatan Chika untuk bisa melayani Tuannya, aku sudah gagal sebagai klan Matsumura.” Hokuto menyeka air mata dengan lengan bajunya.

“Semua ini demi Chika, Taiga. Sebagai klan Matsumura, dia harus menjalankan tugas untuk menjaga tuannya, Yua. Ijinkan Chika berada di sisi Yua.” Taiga tidak bisa berkata-kata. Ini sudah di luar wewenangnya.

“Jangan bilang, kamu tidak rela membiarkan Chika berbahagia dengan Taiga yang lebih muda? Apa kamu ingin memonopoli Chika untuk dirimu sendiri, Taiga? Dasar kamu om-om buaya!” Kali ini tinju Taiga berhasil mengenai tepat di wajah Hokuto. Pria itu memang sudah gila.

“Baiklah, aku akan mengijinkannya. Lagipula kamu ayahnya yang lebih berhak menentukan masa depan anakmu.” Lalu keduanya kembali ke ruangan Chika dan yang lainnya menunggu.

“Saya tahu kamu mengkhawatirkan Chika, tapi tenang saja Jesse akan pergi bersamanya. Dan saya sudah memastikan tidak akan ada dua Jesse di dimensi yang sama. Karena saya sudah memperingatkan diri saya di dimensi itu untuk tidak menikah.” “Jesse, temuilah Ayah di dimensi itu dan berbaktilah padanya. Pasti berat hari-harinya tanpa bisa bersatu dengan ibumu di sana.”

“Baik, Ayah.” jawab Jesse dengan patuh. “Dan jangan lupa belajar! Kalau sudah waktunya, kamu harus memenuhi tugasmu dan masuk ke organisasi pemerintah. Kamu harus mencari tahu cara untuk menyelamatkan Yua dari dalam pemerintahan.” Jesse mengangguk, lalu berjalan ke arah Chika dan menggandeng tangannya.

“Dalam buku ini tertulis semua cerita yang perlu kamu sampaikan pada Taiga, Chika. Simpanlah baik-baik!” Hokuto memberikan sebuah buku harian kepada anaknya, Taiga benar-benar tidak menyangka kalau Hokuto sudah mempersiapkan semuanya.

“Tunggu Chika! Ikutlah Taiga pergi ke lembaga, ambillah sebuah amplop merah di gereja. Benda itu akan membuat Taiga percaya kalau kita pernah bertemu.” Chika mencatat petunjuk Taiga di bagian belakang buku harian yang diberikan ayahnya.

“Baiklah, kami pergi dulu.” Setelah meminum formula, Jesse dan Chika menghilang dari hadapan mereka dan muncul di rumah Lewis-sensei di dimensi yang berbeda.

 

Back to The Real Time

Chika mengakhiri ceritanya. Taiga mengerjapkan mata berulang kali, masih tidak mau percaya. “Kalaupun cerita itu benar, saya yakin pasti banyak yang kamu tambah-tambahi.”

“Ketahuan ya?” Chika malah cengengesan. “Tapi aku serius ingin menikah dengan Taiga.” Taiga sengaja mengabaikannya.

“Saya masih sulit mempercayai ini semua! Amplop merah ini tidak membuktikan apa-apa, bisa saja saya tidak sengaja memberitahumu saat tidur? Kemungkinannya bukan 0%, kan?” Taiga masih bersikeras untuk tidak mempercayai cerita Chika.

“Hanya satu cara untuk membuktikannya. Menunjukkan padamu kalau Profesor Kouchi masih hidup, betul kan?” Taiga memikirkan usul Chika.

Betul juga. Mana mungkin Profesor Kouchi masih hidup, pasti Chika tidak akan bisa membuktikannya.

“Baiklah, buktikan padaku kalau Profesor Kouchi masih hidup.”

“Tentu saja! Karena aku sudah menemukannya.” Chika mengerlingkan mata. Dia belum ingin memberitahu Taiga kalau selama ini Profesor Kouchi sangat dekat dengannya. Ya, Chika sudah pernah bertemu dengannya saat pergi ke lembaga bersama Taiga. Si Pria berbalut perban yang menakutkan.

“Ngomong-ngomong Taiga, sekarang sudah masuk tanggal 3, Happy Birthday ya.” Chika mengecup pipi Taiga sebagai ucapan selamat ulang tahun darinya.

Taiga membeku seketika, ciuman pertama yang diterima dari perempuan selain ibunya. Chika benar-bebar tahu semuanya! Gawat, aku sudah mulai mempercayainya.

 

to be continued…

Advertisements

One thought on “[Multichapter] TWISTED (#7)

  1. rin

    akhhh langsung update,,
    sanyku authornya,,,, love love deh,,,
    huhuhu ga iklas taiga jd jahat,,, tp yahhh mukanya ga cocok jg sih,,, hehhehe,,,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s