[Multichapter] TWISTED (#6)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Shintaro memandang Kouchi dan Yua dari luar kamar, benar-benar merasa lega. “Untung saja aku cepat memanggil Kouchi-senpai.” gumam Shintaro.

Saat melihat Yua jatuh untuk ketiga kali di depan matanya, tidak ada hal lain dalam pikiran Shintaro selain memanggil kakak Yua secepatnya. Shintaro yakin kalau hanya Kouchi yang bisa mencegah Yua lepas kendali seperti malam itu.

“Aku benci mengakuinya, tapi hubungan mereka tidak seperti kakak-adik biasa. Sebaiknya aku benar-benar menyerah tentang Yua.”

“Memang begitu kan seharusnya?” Shintaro menoleh ke arah Hokuto yang sudah berdiri di sebelahnya.

“Matsumura-senpai sendiri bagaimana? Bukannya senpai juga menyukai Yua?” akhirnya Shintaro berani menanyakannya secara langsung! Selama ini, Shintaro sangat yakin kalau Hokuto juga mencintai Yua seperti dirinya. Oleh karena itu, dalam situasi seperti ini, meski sedikit jahat, Shintaro ingin mencari teman sakit hati.

Bukannya menjawab, Hokuto malah tertawa. Shintaro keheranan melihatnya. “Ternyata benar kata Sora. Semua mengira aku menyukai Yua!” Shintaro mengerutkan dahi mendengar kata-kata Hokuto. Eh?

“Kalian salah paham. Aku tidak pernah mempunyai perasaan apa-apa kepada Yua. Aku hanya menjalankan tugasku untuk melindunginya.” Jelas Hokuto begitu berhasil menghentikan tawanya.

Chise mendengar semuanya! Ya, sekarang Chise tahu kalau Hokuto tidak benar-benar mencintai Yua seperti dugaannya. Benar kata Jesse, kalau Jesse mempunyai banyak waktu di sisi Yua, maka dia juga akan melakukan hal yang sama. Jadi, selama ini Hokuto bersikap seperti itu karena merasa bertanggung jawab melindungi Yua.

Chise merasa genggaman Jesse menguat, hampir meremas telapak tangan kanannya. Seolah memberikan sinyal kalau dia tidak akan membiarkan Chise kembali untuk menyukai Hokuto setelah mengetahui kenyataan itu. Chise pura-pura mengabaikannya, meskipun dalam hati merasa senang karena Jesse begitu menginginkannya.

“Apa yang terjadi pada Yua?” tanya Chise, menyadarkan Hokuto dan Shintaro akan kehadirannya.

Sekali lagi, Shintaro menjelaskan tentang kejadian sebelum Yua kehilangan kesadaran kepada Jesse dan Chise.

“Jadi, Yua menjadi histeris setelah mendengar kalau Sora menyukai Yugo lalu kehilangan kesadaran? Yua juga mengatakan kalau Sora harus dengan Hokuto?” Jesse mengulangi penjelasan Shintaro. “Kurang lebih seperti itu.”

“Di mana Sora sekarang?” tanya Jesse. Chise juga merasa aneh tidak melihat Juri bersama mereka. Jangan-jangan?

“Sora sedang menyelesaikan urusannya dengan Juri semalam.” Jawaban dari Hokuto sukses membuat Chise lemas. Kalau saja Jesse tidak sedang menggenggam tangannya, mungkin Chise akan lari ke tempat Juri dan Sora.

“Bagaimana reaksi Sora setelah mendengarnya?” tanya Jesse lagi. Kali ini pandangannya fokus menatap Hokuto. “Sora dan kamu?”

“Sora tidak mengatakan apa-apa. Dia kan sedang tidak mau bicara denganku. Tadi setelah menghubungimu, dia memaksa Juri untuk pergi dengannya.” Entah kenapa, lidah Hokuto terasa kelu saat mengucapkannya. Jesse terdiam.

“Baiklah nanti akan kutanya Sora sendiri. Sekarang aku harus berada di sisi Yugo.” Jesse berjalan ke tempat Kouchi dan Yua, membawa Chise untuk mengikutinya dan masih tidak melepaskan genggaman tangan mereka.

“Untung Juri tidak melihatnya.” Gumam Hokuto dan Shintaro bersamaan. Keduanya terkekeh sambil saling berpandangan. Ih, jijik. Buru-buru Shintaro mengalihkan pandangan dan bersiap meninggalkan Hokuto.

“Kamu mau ke mana?” tanya Hokuto.

“Menjemput Chika. Dia sudah perjalanan pulang dengan Taiga.” Jangan ikut! Jangan ikut! tambah Shintaro dalam hati. Dia masih merinding mengingat pandangan Hokuto barusan, kalau mengingat bagaimana dekatnya Hokuto dengan Yua tapi ternyata dia tidak punya perasaan apa-apa. Matsumura-senpai bukan gay, kan? pikiran itu tidak bisa untuk tidak terbesit di benak Shintaro.

“Kenapa mereka tidak langsung pulang ke sini bersama saja? Toh kalau Taiga mau pulang ke rumah, di rumah tidak ada orang sama sekali.”

Oh iya, kenapa aku tidak kepikiran? Tapi aku tidak mau di sini berdua dengan Matsumura-senpai. Pikiranku masih belum jernih. “Aku sekalian belanja makan malam untuk kita semua. Semakin banyak yang belanja, semakin baik kan?”

“Ya sudah. Hati-hati.”

Fiuh, untung saja Matsumura-senpai tidak curiga. Kenapa aku jadi merasa bersalah karena sudah berpikiran tidak-tidak tentangnya? Ah, sudahlah.

*****

“Kamu baik-baik saja, Sora?” Juri mengkhawatirkan gadis yang masih tertunduk di hadapannya. Sudah hampir satu jam lebih Juri menemani gadis itu di sebuah taman dekat rumah Shintaro, tanpa suara.

“Juri, maafkan aku atas kejadian semalam karena tiba-tiba menciummu. Tapi aku akan bertanggung jawab atas perbuatanku itu, aku mau menjadi pacarmu.”

“HAH?!” Juri hampir terjungkal mendengar pernyataan Sora. Kenapa juga gadis itu harus bertanggung jawab hanya karena sebuah ciuman. “Kamu gila ya?”

Sora hanya cengengesan melihat tampang shocked Juri dan memamerkan gigi putih yang tersusun rapi, cantik sekali. “Aku mau jadi pacarmu.” Sora mengulangi ucapannya.

“Jangan bercanda, Sora! Apa kamu sudah menyerah dengan Kouchi?”

“Iya, aku menyerah. Sudah seharusnya aku menyerah sejak lama. Tapi aku masih saja keras kepala. Tapi setelah menyadari kenyataan, aku memang seharusnya menyerah, kan?” Sora memandang Juri. “Aku mau menjadi pacarmu. Karena itu akan membuatku melupakan Yugo. Kamu akan membantuku kan, Juri?”

“Tapi…”

“Seperti saat Jesse menemukan Chise. Sejak mereka bertemu, Jesse bisa benar-benar melupakan perasaannya pada Yugo. Karena itu, aku ingin mencoba menjalaninya denganmu.” lanjut Sora.

“Jesse dan Kouchi?” Juri tidak percaya dengan yang baru didengarnya! “Berarti Jesse tidak serius dengan Chise?”

“Kamu bodoh ya? Sudah kukatakan kalau sejak bertemu Chise, Jesse bisa melupakan Yugo! Perasaan Jesse ke Yugo hanya rasa sayang yang berlebih saja. Kamu tahu sendiri kalau mereka selalu bersama sejak kecil dan Jesse tidak mempunyai waktu untuk mengenal orang lain. Bahkan saat dia mengetahui perasaanku yang menyukai Yugo, dia tidak merasa tersaingi. Karena kami sama-sama tahu, Yugo tidak akan melihat ke arah kami selain ke Yua saja.”

“Dia serius mencintai Chise.” tambah Sora sebelum Juri sempat menyelanya.

Dada Juri rasanya sakit sekali saat mendengar kalimat terakhir Sora. Jesse sangat mencintainya, sampai-sampai bisa melupakan seseorang yang sejak dulu sudah didambakannya. Sedangkan aku, malah menyia-nyiakannya.

“Kenapa harus aku?” Sora mengangkat sebelah alisnya, mengkode Juri untuk memperjelas pertanyaannya. “Kenapa harus aku yang menjadi pacarmu? Kenapa bukan Matsumura? Bukannya Yua menginginkanmu untuk bersamanya?”

“Karena aku membencinya. Aku tidak mungkin pacaran dengan orang yang kubenci, kan? Kalau tentang Yua, tenang saja. Dia akan baik-baik saja selama aku tidak lagi menyukai kakaknya. Yua akan bahagia saat mendengar kita pacaran, aku bisa memastikannya.” Sora mengatakannya dengan sangat tegas, membuat Juri tidak berani menyangkalnya.

Bukan itu masalahnya, Sora. Tapi aku tahu orang yang kamu cintai sebenarnya adalah Matsumura dan begitupun sebaliknya. Egomu terlalu besar untuk mengakuinya. Sedangkan perasaan Matsumura, aku tidak berhak untuk mengatakannya. Apa yang harus kulakukan?

“Kenapa kamu diam saja? Masa’ kamu perlu waktu untuk menjawabnya? Kayak cewek saja!” cibir Sora melihat Juri tidak kunjung mengeluarkan suara.

“Aku…” belum sempat Juri menjawab, bibir Sora sudah mengunci bibirnya. Dengan lembut Sora menarik bibirnya dan sekali lagi menempelkan di bibir Juri. Meskipun bibir yang sama, Juri merasakan sensasi berbeda dari ciuman Sora sebelumnya.

“Oh, ternyata begini rasanya ciuman. Aku baru pertama kali melakukannya.” Sora terkekeh setelah melepaskan ciumannya. “Semalam aku melakukannya waktu mabuk, jadi tidak tahu bagaimana sensasinya. Apa seperti ini aku melakukannya?”

“Bukan.” Juri kembali menempelkan bibirnya, kali ini dia yang berinisiatif melumat bibir Sora. Sora meronta sesaat, tapi saat Juri mulai mengurangi intensitas lumatan dan mulai mengulum bibirnya dengan lembut, Sora menikmatinya.

Juri benci mengakuinya, tapi dia juga sangat menginginkan Sora. Mungkin saat ini perasaannya masih tertuju pada Chise. Tapi saat Sora menciumnya semalam, Juri merasa tidak ingin menyerahkan ciuman itu kepada orang lain, bahkan ke Hokuto sekalipun. Karena itu, saat Sora menciumnya untuk kedua kali hari ini, Juri ingin sedikit mengakui perasaannya.

“Aku akan membantumu.” kata Juri saat melepas ciumannya.

“Dengan ini, maka Hideyoshi Sora resmi menjadi pacar Tanaka Juri.” Sora memeluk Juri dengan sekuat tenaga. Sora tahu, perasaannya ke Kouchi belum hilang sepenuhnya. Tapi setidaknya sekarang dia sudah mempunyai Juri yang akan selalu membantunya.

Juri ragu-ragu membalas pelukan Sora, dia tidak mengerti apa yang sudah dia lakukan. Kekecewaan pada diri sendiri yang merasa kalah dari Jesse karena lebih mencintai Chise, malah membuatnya merebut Sora dari Hokuto. Maafkan aku, Matsumura.

*****

Diam-diam Taiga memperhatikan Chika yang tertidur bersandar di pundaknya. Wajah polosnya, terlihat lucu saat dia tertidur. Tidak kaku dan seolah tahu semuanya. Ya, begitulah kesan pertama yang Taiga lihat tentang Chika. Tapi yang membuatnya terkejut, sejak pertama kali bertemu, gadis itu terus-terusan menunjukkan rasa suka kepadanya.

Taiga tahu, tidak seharusnya dia terlibat dalam urusan percintaan sebelum menyelesaikan misinya. Apalagi Taiga tidak ingin menyeret Chika ke dalam misi yang berbahaya dan membuat gadis itu memilih antara dia atau teman-temannya.

Apa yang harus kulakukan, Chika? Bukannya kamu tahu semuanya? Kenapa kamu diam saja? Beritahu aku, Chika!

Drrt drrt, ponsel Chika bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Shintaro. Karena tidak ingin membangunkan Chika, Taiga mengangkatnya.

“Shin-kun, ada apa?”

“Taiga? Chika mana?”

“Dia masih tidur. Aku tidak enak mau membangunkannya. Katakan saja, nanti akan kusampaikan.” Taiga berkata dengan suara sepelan mungkin agar tidak membangunkan Chika.

“Kalian sudah sampai mana? Aku akan menjemput kalian. Kita belanja dulu karena semua orang akan makan malam di rumahku.”

“Semua orang? Di rumahmu? Kok tumben? Apa terjadi sesuatu?” Taiga mempunyai feeling kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi.

“Aku tidak bisa menceritakannya di telepon. Tinggal berapa stasiun lagi?”

“Ini sudah menuju pemberhentian terakhir. Baiklah, aku akan membangunkan Chika dulu.”

“Oke, katakan pada Chika aku menunggu di tempat biasa.” Shintaro mengakhiri teleponnya. Taiga mulai membangunkan Chika.

“Ada apa?” tanya Chika setelah berhasil mengumpulkan nyawa, begitu melihat wajah khawatir Taiga.

“Sepertinya terjadi sesuatu di rumah.” “Apa?” Chika menegakkan tubuh, memperhatikan Taiga dengan jelas untuk memastikan tidak salah lihat ekspresi khawatir Taiga.

“Entahlah, Shin-kun belum mengatakannya. Dia hanya mengatakan kalau kita akan makan malam di rumah kalian sehingga kita harus menemaninya belanja dulu setelah ini.”

“Shin-chan jemput kita?” tanya Chika sedikit kesal, karena berpikir Shintaro sengaja mengurangi jatahnya untuk bersama Taiga hari ini.

“Iya. Dia menunggu kita di tempat biasa.” jawab Taiga sambil menahan tawa. Chika yang tidak bisa menyembunyikan perasaannya, gadis seperti itu lah yang Taiga suka.

Begitu sampai di stasiun, keduanya langsung menuju ke tempat Shintaro menunggu. Shintaro tampak sangat lega melihat Chika baik-baik saja.

“Taiga tidak melakukan apa-apa, kan?” tanya Shintaro memastikan.

“Shin-chaaan!!!” Chika memukul Shintaro sekeras-kerasnya, meskipun dia tahu pemuda itu tidak akan merasa kesakitan sama sekali karena pukulan tangan kecilnya. Shintaro dan Taiga malah tertawa.

“Jarang-jarang melihat sisi Chika-san yang manja.” komentar Taiga yang berhasil menghias wajah Chika dengan semburat merah.

“Apa sih.” Chika membuang muka. “Ngomong-ngomong Shin, di rumah terjadi apa? Kata Taiga, semua akan makan malam di rumah kita?”

“Aaa, jam diskon sebentar lagi habis!! Sebaiknya kita cepat belanja!!” Shintaro tidak mendengarkan pertanyaan Chika dan menarik keduanya untuk pergi ke swalayan langganan mereka.

Sudah dua kali Shintaro menghindari pertanyaan yang sama, membuat Taiga semakin curiga dan berburuk sangka. Taiga mencoba menghubungi Juri dan Sora, tapi tidak ada jawaban. Sedangkan yang lainnya, Taiga tidak memiliki kontak mereka.

Yua! Apa aku harus menghubungi Yua? Tapi…

“Taiga jangan bengong, dong! Bantu bawa yang ini.” Chika menyodorkan sekantong plastik sayuran untuk dibawa Taiga, membuat Taiga memasukkan ponsel dan mengurungkan niat menghubungi Yua.

Sampai akhirnya mereka sampai di kediaman Morimoto, Taiga dan Chika masih belum mengetahui kejadian yang sebenarnya. Bahkan kalau dilihat dari keadaan semua orang, memang seperti tidak terjadi apa-apa. Lengkap, tidak berkurang satupun. Bahkan ada Chise juga.

“Mama-papa mana, Shin?” tanya Chika karena tidak melihat papa dan mama Shintaro di antara teman-temannya.

“Semalam mereka ada urusan mendadak dan baru akan pulang besok pagi. Mereka baik-baik saja kok.” Shintaro tahu, Chika mengkhawatirkan keadaan orang tuanya karena dia belum sempat menjelaskan kejadian sebenarnya.

“Jadi, sebenarnya ada apa ini? Tumben kalian makan malam di sini!” Chika sudah tidak bisa lagi membendung rasa keingintahuannya.

“Maaf Chika, aku sengaja melarang Shin untuk memberitahumu sebelum kamu dan Taiga sampai rumah. Aku tahu kamu akan langsung lari pulang kalau sampai mengetahuinya.”

“APA YANG TERJADI?” Chika tidak mampu meredam emosinya saat mendengar penjelasan Yua. Pasti sudah terjadi sesuatu!

“Tenangkan dirimu Chika. Yua tadi sempat pingsan lagi. Tapi lihat, sekarang Yua sudah baik-baik saja.” Hokuto mendekati Chika, mencoba menenangkannya. Chika melepaskan pegangan Hokuto dan berlari ke arah Yua, memastikan sahabatnya itu baik-baik saja.

“Kamu benar tidak apa-apa? Ada yang terluka?”

“Aku tidak apa-apa, Chika. Selama nii-chan ada di sisi-ku, tidak akan terjadi apa-apa padaku.” Chika menghela napas lega. Tangannya mengelus lembut pipi Yua.

“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu juga, Yua.”

*****

“Kau tidak apa-apa?”

“Saya baik-baik saja.”

“Jangan paksakan dirimu, aku tahu kau terluka tapi sekuat tenaga menyembunyikannya.”

“Maafkan saya. Saya memang tidak berguna dalam melindungi Yua-sama.”

“Yua? Sudah kukatakan, kau tidak akan bisa melindunginya. Hanya aku yang bisa melindunginya. Kau tidak perlu merasa terluka karena tidak bisa melakukannya!” “Tapi, bukan itu yang kutanyakan. Kau mencoba mengalihkan pembicaraan ya?”

“Maaf Kouchi-sama, saya tidak bermaksud…”

“Kau baik-baik saja Juri merebut Sora, Matsumura?”

Deg. Hokuto sebenarnya sedang tidak ingin membahasnya, tapi dia tidak bisa berbohong kepada Kouchi atas nama keluarganya. Ya, keluarga Matsumura sudah selama 4 generasi merupakan pelayan keluarga Kouchi yang paling setia.

“Saya akan selalu mendukung keputusan Sora. Bagi saya, yang terpenting Sora bahagia.”

“Kau selalu saja seperti itu, Matsumura. Dulu saat kau tahu Sora menyukaiku, kau juga membiarkannya. Meskipun tahu kalau aku tidak mungkin membalas perasaannya, kau tidak pernah bermaksud merebut hatinya.”

“Karena bagi saya, saat ini prioritas saya adalah keselamatan Yua-sama. Meskipun saya tidak bisa melakukan apa-apa, saya akan selalu mengawasinya. Tidak ada waktu bagi saya untuk memperhatikan Sora Jadi biarkan Juri menggantikan posisi saya untuk sementara. Lagipula, saya percaya kata-kata Chika.”

“Chika…” Kouchi menggumamkan nama Chika sambil menghela napas panjang.

Kouchi ingat betul, dulu Hokuto memohon kepadanya untuk mengijinkan Juri tinggal di rumah mereka karena Chika yang memintanya. Saat itu adalah kali pertama Kouchi melihat Hokuto mempercayai orang lain selain dirinya. Kouchi sebenarnya ingin mengetahui hubungan apa sebenarnya di antara Hokuto dan Chika, tapi selalu berakhir dengan mengurungkan niatnya.

Chika tidak mempunyai nama keluarga, jangan-jangan dia satu-satunya keluarga Hokuto yang tersisa? Pikiran itu berulang kali menghantuinya, tapi tidak pernah keluar dari mulutnya. Keluarga Matsumura selalu tewas karena melindungi keluarganya. Bahkan kejadian beberapa dekade silam yang mengakibatkan meninggalnya semua klan Matsumura dan menyisakan ayah Hokuto saja, menimbulkan trauma dan rasa bersalah yang sangat besar bagi keluarga Kouchi. Tapi karena ikatan antara ayahnya dan ayah Hokuto yang sangat dalam, ayah Hokuto memutuskan untuk tetap mengabdi sampai akhir hayat dan mengutus putranya melanjutkan misinya. Karena itu, Kouchi tidak mau mengorek-korek tentang cerita yang akan membuka luka lama.

“Aku tidak tahu apa yang dikatakan Chika padamu, tapi aku juga akan percaya selama kau percaya. Lagipula aku sudah menyayanginya seperti adikku sendiri.”

“Terima kasih, Tuan.”

*****

Chise menyambar tasnya lalu berjalan ke arah meja Yua. “Chika dan Shintaro sudah menunggu di depan, aku pulang dulu ya.” Yua mengangguk lalu cepat-cepat memasukkan seluruh barang dan pergi menemui kedua sahabatnya.

“Chise tidak pulang bareng kita lagi?” tanya Shintaro memandangi punggung Chise yang berjalan mendahului mereka, sedikitpun tidak menoleh dan menunggung untuk pulang bersama seperti biasa.

“Bahkan sampai gerbang pun dia tidak mau terlihat bersama kita.” imbuh Chika.

“Hei, jangan gitu dong! Kita harus memberikan waktu untuk Chise. Kalian tahu kan kenapa dia seperti itu.” Yua tidak bisa untuk tidak meninggikan suaranya. Sejujurnya Yua juga sedang berusaha keras menerima alasan Chise menjauhi mereka meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak suka.

“Kenapa di saat seperti ini Jesse-kun malah harus kembali bekerja sih?” Shintaro mengutuk Jesse dalam hati. “Di saat seperti ini, harusnya dia berada di sisi Chise dan membuat Chise tidak memikirkan tentang Juri dan Hideyoshi-senpai, kan?”

“Kenapa kamu malah menyalahkan Jesse-senpai? Harusnya kamu kasih tahu sahabatmu itu untuk tidak bermain-main dengan perasaan Chise seenaknya!!” sambar Chika membalas komentar Shintaro.

“Sahabatku? Bukannya kamu yang lebih dekat dengannya daripada kita? Kamu beritahu sendiri saja sana!”

“Aku sudah putus persahabatan dengannya! Aku membencinya!”

Yua memandangi kedua sahabatnya yang sedang berdebat tentang hubungan Juri dan Sora. Meskipun Yua tidak suka Chise jadi menjauhinya, tapi tidak ada alasan baginya untuk membenci hubungan Juri-Sora. Mungkin saja selama ini Juri menyimpan perasaan terhadap Sora dan tidak diketahuinya. Makanya, Juri tidak pernah melihat ke arah Chise sama sekali, kan? Juri lebih menyukai tipe yang dewasa seperti Sora-nee. Yua tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Eh? Yua refleks menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa.

“Ada apa?” tanya Chika menghampiri Yua.

“Bukan apa-apa. Hanya perasaanku saja. Ayo cepat, Hoku dan Juri sudah menunggu kita!” Yua berlari mendahului Shintaro dan Chika, membuat keduanyanya mengejarnya.

Sesampainya di depan rumah Yua, Chika merasa sangat berat untuk melangkahkan kaki untuk pulang ke rumahnya sendiri. Ada hal yang beberapa hari ini mengganggu pikirannya dan membuatnya tidak tenang.

“Yua, apa malam ini aku boleh menginap di sini?” akhirnya Chika mengatakannya.

“Tidak! Kamu menginap karena ingin bertemu Taiga, kan? Aku tidak mengijinkannya!” Shintaro memandang galak Chika.

“Tapi sudah beberapa hari aku tidak bisa menghubunginya. Sejak malam itu, Taiga jarang pulang ke rumah. Iya kan, Yua? Aku punya feeling kalau malam ini aku menginap, aku pasti bisa bertemu dengannya. Aku ingin bicara dengannya.”

“Kamu sudah gila ya, Chika? Kamu itu perempuan! Mau apa malam-malam menyergap seorang pria di rumahnya? Aku rasa papa-mama tidak pernah mengajarimu…”

“Jangan bawa-bawa papa-mama!” potong Chika. “Lagipula aku menginap di rumah Yua dan tidur bersamanya. Kenapa kamu mempermasalahkannya, Shin? Bukannya selama ini aku sudah sering menginap?”

“Tapi sekarang beda.” Shintaro memelankan suaranya. Dalam hati dia berbisik, Ada apa denganku? Benar kata Chika, dia sudah biasa menginap di rumah Yua. Tapi kenapa sekarang aku melarangnya?

“Kalian tidak capek ya bertengkar terus?” Yua mulai bersuara. “Sudahlah Shin, biarkan Chika menginap. Kalau kalian pulang bersama, aku tidak bisa menjamin kalian tidak akan bertengkar lagi.”

“Lihat, Yua sudah mengijinkanku! Ayo kita masuk Yua!” Chika menarik Yua, meninggalkan Shintaro yang masih terdiam melihat keduanya masuk ke rumah.

“Terserah kalian saja lah!”

“Akhir-akhir ini Shin-chan memang sangat menyebalkan!” Chika melemparkan badannya ke tempat tidur Yua. Sambil menatap langit-langit kamar Yua, Chika sedang menyusun kata-kata.

“Wajar saja dia mengkhawatirkanmu, Chika. Kalian kan selalu bersama dari kecil sudah seperti saudara. Aku yakin, nii-chan kalau tahu aku sedang tergila-gila dengan seorang cowok pasti juga melakukan hal yang sama. Itu karena mereka menyayangi kita, kan?” Yua masih akan merebahkan badan saat Chika tiba-tiba terduduk dan menatapnya dalam.

“Ada apa?”

“Kamu sedang menutupi sesuatu dariku, kan?” tebak Chika dengan tatapan tegas, membuat Yua tidak bisa memungkiri dan mengangguk juga. “Apa? Ceritalah!”

“Aku tidak yakin, tapi aku rasa ada yang selalu mengawasiku.” Chika memasang wajah serius saat Yua mulai bercerita. “Sudah sejak lama aku merasakannya. Tapi akhir-akhir ini aku merasa kalau orang yang mengawasiku itu semakin berani mendekatiku.” Suara Yua tercekat saat mengatakannya, tersirat ketakutan yang berusaha keras ditutupi.

“Kalau takut, tunjukanlah padaku Yua. Kamu tidak perlu menutupinya di depanku.” Chika mengelus tangan Yua, berangsur-angsur sentuhannya berhasil menenangkan Yua.

“Aku takut, tapi di sisi lain aku tidak mau mengakui kalau aku takut dengan hal yang cuma aku bisa merasakannya. Aku tidak yakin Chika! Mungkin saja ini halusinasiku saja, atau mungkin aku terbawa mimpi burukku selama ini ke dunia nyata? Setiap kali aku merasa di awasi, aku mencoba mencari-cari siapa sebenarnya orang yang mengawasiku. Tapi saat aku menoleh, tidak ada siapa-siapa. Makanya aku tidak bisa cerita ke siapa-siapa.”

“Bodoh!” sebuah toyoran mendarat indah di kepala Yua. “Kenapa kamu malah memukulku?” Yua mengaduh.

“Yang namanya orang mengawasi itu pasti sembunyi-sembunyi, kalau tidak sembunyi itu namanya melihat, memandang, menonton dan sebagainya, pokoknya yang obyeknya secara sadar sedang diperhatikan. Harusnya kamu menceritakan hal sepenting ini ke Kouchi-senpai, Yua! Dia pasti mengkhawatirkanmu tapi tidak berani bertanya sebelum kamu menceritakannya.”

“Tapi aku tidak mau membuat nii-chan semakin khawatir lagi, Chika! Kamu tahu kan, akhir-akhir ini banyak hal yang tidak kupahami sedang terjadi padaku. Dua kali pingsan, satu kali diculik, mimpi buruk sepanjang malam… aku tidak mau membuat nii-chan semakin mengkhawatirkanku.”

Tanpa sadar Chika meremas tangan Yua. Yua bisa merasakan emosi Chika yang tidak seperti biasanya. Saat dia ingin bertanya ‘ada apa?’, Chika memalingkan wajah dan berkata, “Aku akan mengakhirinya.”

Eh? Yua tidak yakin Chika mengatakan apa karena suaranya terlalu pelan. “Apa?”

“Tenang saja, Yua. Aku tidak akan menceritakannya ke siapa-siapa. Kamu bisa mempercayaiku seperti biasa.” Chika mengepalkan tangan dan memukulkannya ke dada, tanda sumpah mereka. “Sekarang ke dapur yuk? Kita masak buat makan malam. Siapa tahu Taiga pulang malam ini, kan?” senyum lebar Chika mampu mengalihkan rasa penasaran Yua yang sempat melintas tergantikan dengan pertanyaan lain yang sudah lama dipendamnya.

“Ngomong-ngomong Chika, kamu belum cerita padaku tentang apa saja yang kalian lakukan selama di tempat tinggal Taiga yang lama?!”

“RAHASIA.” Chika sengaja menghindari pertanyaan Yua dan berlari ke dapur lebih dulu. “Dasar.”

*****

“Akhirnya kamu pulang juga, Taiga.” Taiga hampir terjungkal saat sebuah suara mengagetkannya.

“Chika-san, sedang apa di sini?” tanya Taiga sambil membenarkan posisi, dia hendak mengambil benda yang terjatuh di sebelahnya, tapi didahului Chika.

“Kamu tidak memerlukan ini.” Chika menyita benda itu dari Taiga.

“Kamu tidak tahu benda apa itu, Chika-san. Tolong kembalikan.” Taiga mengulurkan tangan, berharap Chika akan mengembalikan benda miliknya kalau dia meminta baik-baik. Tapi sayang, harapannya sia-sia.

“Tidak. Kamu bukannya tidak pulang, tapi kamu selalu pulang dan mengawasi Yua dari sini. Aku betul kan, Taiga?” Chika mulai berbicara hal-hal yang tidak saling berhubungan.

“Apa yang sedang kamu bicarakan, Chika-san? Saya tidak mengerti. Sekarang tolong kembalikan benda itu dulu.” Taiga berusaha merebut benda miliknya dari Chika, tapi gadis itu sukses menghindarinya.

“Benda ini?” Chika mensejajarkan benda itu dengan wajahnya, mencoba mengamati benda apa sebenarnya. “Jadi benda ini yang membuat kekuatan Yua melemah? Lalu kamu berusaha menculiknya sekali lagi, Taiga?”

Raut wajah Taiga berubah, dia tahu sudah salah dia mengira Chika tidak mengetahui apa-apa.

“Kenapa? Kamu kaget aku tahu kalau kamu yang menculik Yua dulu?”

Benar, dia sudah tahu ternyata. Taiga membisu tanpa kata-kata.

“Bahkan aku tahu tujuanmu datang ke rumah ini untuk apa, Taiga. Kamu datang untuk melenyapkan Yua. Iya, kan?” Taiga masih terdiam. Hembusan angin dari beranda menambah suasana mencekam di antara mereka.

“Aku tidak akan membiarkan kamu melakukannya. Karena itu tujuanku ada di sini, di sisimu, Taiga.” Senyum mengembang di wajah Chika, senyum yang disukai Taiga. Tapi untuk malam ini saja, Taiga malah ngeri melihatnya.

“Kamu siapa?”

 

to be continued…

 

HAYOOOOO, CHIKA SIAPA?

CHIKA ITU SAYA *kicked

Masih bingung sama ceritanya ya? Sebenarnya next chap sudah masuk inti cerita. Tapi berhubung author takut alurnya kejauhan, boleh kok ada kritik dan saran dulu sebagai bahan acuan.

Yoroshiku ~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s