[Multichapter] MONSTER (#3)

MONSTER

MONSTER11

Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 3)
Cast :
Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Taiga berlari masuk aula, dia langsung mendorong keras Hagiya dan menarik Miyuki ke dekatnya, “beraninya kau menyentuh adikku!” Taiga menggertak marah, dia akan meninju Hagiya tapi beberapa orang langsung menahannya.

“Astaga, Kyomoto-Kun, tahan emosimu!” Kai berusaha menahan Taiga, “dia sudah menolong Miyuki-Chan!”

“Kau harusnya berterimakasih dia tidak meninggalkan adikmu sendirian di kelasnya tadi!” sahut Haru, “Oi, Jesse! Bantu aku menahan temanmu ini!”

Jinguji menyeruak maju, dia langsung meninju muka Taiga. “Kau memang tidak tahu terima kasih,” geramnya, “kalau Hagiya tidak menolong adikmu, dia sudah mati sekarang.” Jinguji menatap Hagiya yang terdiam, dia berkata, “Sudah kubilang, kau biarkan saja dia disana! Kau tidak mau mendengarkanku!”

“Jadi kau menyesal sudah membantunya? Kau menyesal sudah menolongnya?” sahut Jesse.

“Kalau dia tidak marah-marah tidak jelas, Jinguji tidak akan mengatakan hal itu,” Yugo menyahut dari jauh, “sadarlah, temanmu itu yang tidak bisa mengontrol emosinya.”

“Tidak ada yang bertanya pendapatmu,” sahut Kishi.

Yugo menatap Kishi, dia berkata, “Bicaralah yang sopan kepada seniormu, Kishi Yuta. Apa perlu aku memberimu pelajaran tata krama?”

Jinguji mendengus, dia menoleh dan langsung menarik Chika kearahnya. “Jangan berdekatan dengan mereka, kau bisa terluka nanti,” ucap Jinguji dingin, dia langsung melangkah pergi dengan menarik Chika bersama Kishi. Hagiya menatap Taiga yang memberi tatapan benci kepadanya, dia memberi salam dan berlalu menyusul yang lain.

Taiga menghela napas, dia menoleh dan berkata, “Aran, Reo, bawa Miyuki.” Taiga melangkah dan duduk di bangku penonton, Haru, Kai, dan Jesse duduk di dekatnya.

“Ayolah, Taiga,” ucap Haru, “sebenarnya ada apa denganmu? Kau ada masalah apa dengan mereka sampai kau selalu mencari masalah dengan mereka?”

“Aku tidak mencari masalah! Mereka yang mencari masalah denganku!” sahut Taiga, “aku…”

“Jadi menolong adikmu kau anggap mencari masalah? Kau punya otak atau tidak, hah?” sahut Kai, “dia menolong adikmu. Bayangkan saja, ada monster-monster aneh yang entah muncul dari planet mana menyerang sekolah kita. Kau pikir apa yang akan terjadi kepada Miyuki kalau Hagiya tidak menolongnya, hah?”

“Kau sama saja dengan Kaede,” ucap Haru, “kau membenci seseorang dan selalu beranggapan kalau dia mencari masalah denganmu. Menyebalkan.”

“Kau tidak mengerti masalahnya, Miyazaki,” ucap Juri, “kalau kau mengerti kau tidak akan mengucapkan hal tadi.”

Haru mendengus, dia berdiri dan menatap Juri dengan kesal. “Kau selalu mengatakan aku tidak mengerti, aku tidak tahu,” ucapnya, “ayolah, Tanaka. Bagaimana aku bisa mengerti kalau tidak ada yang menjelaskan kepadaku apa masalah kalian? Kaede selalu memintaku menjauhi Hokuto, Hokuto selalu memperingatkanku agar tidak terlalu dekat dengan Taiga, dan aku tidak bisa mengobrol dengan Chika karena Kishi selalu menyamakanku dengan kalian. Sebenarnya ada apa ini?”

Shori menatap Haru yang terlihat sedang adu argumen dengan Juri. “Jadi… Matsumura-Kun dan Kyomoto-Kun masih bermusuhan sampai sekarang?” tanya Shori. Ryosuke mengangguk, dia mengerang pelan dan berkata, “Mereka itu ibarat air dan minyak. Ada di tempat yang sama, tapi tidak pernah bisa menyatu.”

“Kasihan Haru-Chan,” sambung Yuto, “dia berteman dengan dua orang yang bermusuhan.” Yuto menoleh, dia beranjak dan menyodorkan botol minum kepada Haru yang mendekat bersama Kai.

“Aku tidak mengerti bagaimana otak mereka bekerja,” Haru mengomel, “kenapa mereka selalu bertengkar karena masalah sepele?” Haru meneguk minumannya, dia menghela napas. “Sial sekali diriku, harus ada diantara mereka.”

“Aku juga tidak bisa terlalu dekat dengan Jinguji-Kun karena dia selalu menganggapku bagian dari kalian,” gumam Kai.

Haru tersedak, dia menatap kaget Kai. “Wo, wo, wo,” Haru menginterupsi, “jadi maksudmu kau menyesal berteman denganku? Kau menyesal berada di dekatku dan menyalahkanku karena Jinguji menganggapmu sama seperti yang lain?” Haru akan mengomel, tapi Inoo langsung menggeplak kepala gadis itu dengan papan alas menulis.

“Senpai!” Haru memekik, dia berusaha membalas Inoo yang dengan apik menangkis pukulannya. “Kenapa jadi kau yang marah-marah?” sahut Inoo, “sudahlah, kelihatannya suasana sudah membaik, kita keluar dan membereskan sisa-sisa kekacauan,” Inoo melangkah keluar aula bersama beberapa murid lain.

Haru menatap Kai yang juga menatapnya kesal, dia mendengus dan melangkah menjauh. Shori menatap Kai, dia tersenyum dan menepuk bahu gadis itu. “Kau pasti baru mengenal Haru-Chan, sou darou?” tanyanya, dia terkekeh dan berkata, “jangan diambil hati. Haru-Chan memang begitu kalau sedang kesal. Aku akan mencoba bicara dengannya nanti.”

“Tidak usah,” sahut Kai, “yang ada dia nanti semakin kesal.”

Shori tersenyum dan menggeleng. “Aku berteman dengannya sejak kecil,” ucapnya, “tenang saja, aku tahu persis bagaimana menghadapinya. Jaa.” Shori mengacak pelan rambut Kai, dia berjalan meninggalkan gadis itu. Senyum di wajah Shori perlahan lenyap, dia menatap tajam kearah pintu aula. “Kau semakin mirip mereka, ne, Haru-Chan,” gumamnya, “mengesankan.”

Hokuto, Myuto, dan Shintaro diam mengamati Shori yang berjalan keluar aula.

“Siapa dia?” tanya Shintaro, “aku tidak pernah melihatnya.”

“Dia sahabat masa kecil Haru-Chan,” jawab Hokuto, “aku, dia, Haru-Chan, dan Kyomoto sekelas saat masih di pre-school,” Hokuto menghela napas, dia menatap tajam kearah pintu aula, “Apa yang dilakukannya disini?” gumam Hokuto, “kenapa kemunculannya mendadak sekali?”

“Aku tidak akan membiarkannya mendekati Miyazaki,” ucap Myuto.

Shintaro memutar bola matanya, dia menatap Myuto dan menyahut, “Bukan saatnya memikirkan urusan cinta, Morita-San. Kau ini malah memikirkan hal-hal sepele seperti itu.”

“Bukan itu maksudku,” balas Myuto cepat, “maksudku, dia sepertinya bukan orang baik. Bagaimana kalau ternyata dia berhubungan dengan semua ini hah?”

“Myuto benar,” sahut Hokuto, “sebaiknya kita tidak membiarkan Haru-Chan terlalu dekat dengan Shori,” Hokuto menghela napas panjang, dia bergumam, “Dia terlalu gelap. Lebih gelap dari sebelumnya.”

***

Hagiya berjalan keluar kelas, dia menyandangkan tasnya di bahu dan menggulung lengan seragamnya. Hagiya lelah sekali, dia dan beberapa temannya yang tidak terluka harus membersihkan kekacauan yang ditimbulkan monster-monster itu. Hagiya heran, darimana datangnya mereka? Siapa yang mengirim mereka kemari? Berbagai pertanyaan muncul di benak Hagiya. Dia merasa semua ini seakan sudah terencana sebelumnya. ‘Mungkin aku harus mulai belajar mengendalikan roh lagi,’ batin Hagiya, ‘kalau tidak, aku tidak akan bisa membantu Jinguji dan Kishi mengalahkan monster-monster itu.’ Hagiya mengerang pelan, dia meregangkan tangannya dan mendesah lega. Lupakan soal roh, tubuh Hagiya sudah memprotes ingin segera beristirahat.

“Ano…”

Hagiya menoleh, dia berhenti menatap Miyuki. “Kyomoto-San, kau sedang apa disini?” tanya Hagiya, dia celingukan waswas kalau Taiga melihatnya berbicara dengan Miyuki.

Miyuki mendekat perlahan, dia berucap, “Terimakasih sudah menolongku tadi. Dan… maafkan Nii-San, dia bicara terlalu kasar.” Miyuki membungkuk, dia kembali mengucapkan terima kasih kepada Hagiya.

Hagiya terdiam, dia kemudian tersenyum, “Aku senang bisa menolongmu,” ucapnya, “tidak usah berterima kasih. Asal kau baik-baik saja, itu sudah cukup untukku.”

Miyuki berdiri, menatap Hagiya yang tersenyum, “Baiklah, aku pulang dulu,” ucap Hagiya, “sampai ketemu besok, Kyomoto-san,” Hagiya memberi salam, dia berjalan meninggalkan Miyuki.

Miyuki termangu menatap kepergian Hagiya, dia perlahan memegang dadanya. Jantungnya berdegup kencang sekali setiap kali berhadapan dengan Hagiya. Tangannya halus, senyumnya juga menunjukkan dia tidak memusuhi siapapun. ‘Kalau saja kau bukan dari golongan cenayang itu, mungkin Nii-San akan membiarkanku berdekatan denganmu,’ batin Miyuki.

Shoki berlari masuk perpustakaan, dia celingukan mencari Chiru. “Oi, Nishinoya,” panggil Shoki, “kau dimana? Nishinoya Chiru.” Shoki akan melangkah, dia menoleh mendengar suara buku bergeser di rak bagian novel. Shoki melangkah mendekati lokasi, dia menengok dan bernapas lega melihat Chiru ada disana sedang membaca buku. “Oi, kau ini membuatku panik saja,” ucap Shoki, dia mendekat dan menyentuh pundak Chiru, “sudah aman, ayo kita…”

“Monster.”

Shoki terpaku, dia menatap heran Chiru. Shoki terkejut melihat Chiru tampak pucat, matanya berwarna putih dan menatapnya marah. “Kalian monster,” geram Chiru, “kalian harus musnah. Tidak ada tempat untuk kalian disini.”

Shoki terkejut bukan main. Apa-apaan ini? Suara Chiru sangat berbeda, seakan-akan dia bukan Chiru yang sebenarnya. Shoki diam, detik berikutnya dia tersadar itu memang bukan Chiru. “Siapa kau dan apa yang kau lakukan kepada Chiru?” ujar Shoki tegas, dia menatap waspada sosok mirip Chiru di depannya.

Sosok itu tertawa, suaranya menggema di seluruh perpustakaan. “Dia sudah mati,” ucapnya, “manusia bodoh itu bersikap sok kuat dengan berusaha melindungi makhluk sepertimu. Kalau saja dia tidak memihakmu, mungkin aku akan membiarkannya hidup.”

Shoki terkejut mendengar ucapan itu, dia menggeram dan langsung melayangkan cakarnya kearah sosok itu. Persetan dia mirip Chiru, dia bukan Chiru. “Beraninya kau menyentuh Chiru!” teriak Shoki, dia terus melayangkan cakarnya, “aku tidak akan memaafkanmu!” Shoki berusaha menyerang sosok itu, beberapa kali cakaran dan tinjunya mengenai sosok itu tapi dia masih cukup kuat untuk bertahan dan menghindari serangan-serangan Shoki.

“Wah, wah,” ejek sosok itu, “sepertinya ada kisah cinta terlarang disini. Si Pemburu mencintai mangsanya. Kisah cinta yang klasik, eh?” Sosok itu tertawa keras, dia mengayunkan tangannya menghempaskan Shoki hingga dia menabrak rak buku di belakangnya.

Shoki terbatuk, dia berdiri agak sempoyongan dan menatap marah sosok itu. Setengah dari diri Shoki menyesal meninggalkan Chiru sendirian, harusnya dia membawa Chiru dan mengamankannya di aula bersama yang lain. Andai saja Shoki tidak egois, tidak takut rahasianya sebagai Yahagi terbongkar, Chiru masih hidup sampai sekarang.

“Kenapa kau diam saja?” sosok itu kembali mengejek, “kau menyesal? Kau merasa bersalah sudah membunuh manusia yang kau cintai?” Sosok itu tergelak, dia seakan puas melihat Shoki terlihat lemah. “Jangan khawatir, Tuan, dia sudah nyaman di dunia roh,” ucapnya, “mungkin dia mengutukmu darisana.”

Shoki tersadar, dia menatap kaget sosok itu. “Kau… kau Haguro,” ucapnya tercengang.

Sosok itu tersenyum licik menatap Shoki. “Kau kaget? Kenapa, kau takut berhadapan denganku?” tanyanya, “bagus, kau takut saja. Jadi aku bisa menghabisimu tanpa perlawanan.” Sosok itu berlari, dia menerjang Shoki dan melayangkan pukulannya namun Shoki langsung mendorong sosok itu menjauh. “Kau mau melemahkanku dengan berwujud seperti Chiru, hm?” ucap Shoki, “maaf, Nona, atau Tuan atau siapalah kau. Kami, Yahagi tidak akan termakan tipuan seperti itu. Siapapun dia, apapun wujudnya kalau berusaha menjatuhkan kami, tidak akan kami toleransi.” Shoki menggeram, dia menerjang sosok itu dan langsung meninjunya sekeras mungkin.

Sosok itu bangkit, dia menatap tajam Shoki yang sudah bersiap akan menyerangnya lagi. Sosok itu menghempaskan meja kearah Shoki, dia berlari dan melayangkan cakarnya.

“Berhenti.”

Shoki tersentak kaget, dia menatap heran sosok itu. Kenapa dia berhenti? Sosok itu membelalakkan mata, sekujur tubuhnya gemetar. “Berhenti,” sebuah suara terdengar, “kau tidak akan kubiarkan melukai Morohoshi-Kun.”

Shoki tertegun, dia mendengar suara Chiru. Tapi dimana dia? Shoki menatap sosok itu, dia tersadar yang berdiri di depannya adalah Chiru. Chiru yang dia kenal, yang dengan bodohnya dia tinggalkan tadi tanpa perlindungan. Shoki baru menyadari bahwa Chiru belum mati, dia dirasuki roh milik Haguro. Chiru akan benar-benar mati kalau dia nekat menghancurkan sosok itu. “Kenapa kau bisa bangun?” sosok itu menggeram, dia berusaha mengendalikan tubuh Chiru, “kenapa kau bisa mengendalikan tubuhmu?”

“Ini tubuhku, sudah jelas aku punya kuasa penuh mengendalikannya,” suara Chiru kembali terdengar. Jujur saja Shoki sedikit awkward dengan situasi ini, dia melihat Chiru berbicara dengan sosok yang juga bersemayam di tubuhnya. Seperti monolog sebuah drama panggung. Chiru menatap Shoki, dia berkata, “Lakukan saja seperti seharusnya. Jangan sampai sosok ini malah mengalahkanmu.”

“Bagaimana bisa aku mengalahkannya sedangkan dia masih menguasai tubuhmu?!” teriak Shoki, “yang ada aku malah membunuhmu nanti!”

“Minggir!”

Shoki menoleh, dia segera menyingkir saat Reo berlari menerjang Chiru dan mencekik kuat gadis itu. Chiru tercekat, tangannya berusaha keras melepaskan cekikan Reo. Shoki melihat sosok lain terhempas keluar dari tubuh Chiru, wujudnya mengerikan dengan jubah berwarna putih dan tanduk besar di kepalaya. “Cepat musnahkan dia sebelum dia menjadi roh seutuhnya!” teriak Reo. Shoki mengangguk, dia menerjang sosok itu dan menghancurkannya dengan tinjunya.

Lengkingan keras terdengar memekakkan telinga bersamaan dengan leburnya sosok itu menjadi kabut tipis yang menghilang begitu saja. Shoki menoleh, dia langsung menahan tubuh Chiru yang terjatuh lemas. “Chiru, bangunlah,” ucap Shoki, “jangan memejamkan matamu. Kau harus tetap bangun.”

“Morohoshi…kun…” suara Chiru terdengar lemah, matanya setengah terbuka.

Shoki lega mendengar suara Chiru, dia menggendong gadis itu. Shoki menoleh, dia baru akan bicara saat Reo menyela, “Aku tidak menolongmu. Aku menolong Nishinoya-senpai. Dia sudah baik mau mengajariku biologi, jadi aku berhutan budi kepadanya.” Reo berdehem, dia melangkah meninggalkan Shoki yang termanggu.

“Percaya diri sekali dia,” gumam Shoki, “siapa juga yang mau berterima kasih?” Shoki berteriak, “Aku tadi mau memprotesmu karena mencekik Chiru terlalu keras, dasar bodoh!” Shoki menghela napas, dia segera membawa Chiru keluar dari perpustakaan.

Semoga nanti Chiru tidak trauma datang kemari.

***

Jesse membuka pintu, dia melangkah masuk bersama Juri dan Aran yang membawa sekantung makanan dan minuman.

“Senpai, makanlah dulu,” ucap Aran, “biar aku yang menjaga Hideyoshi Senpai.”

Yasui menggeleng, tangannya masih menggenggam erat tangan Sora yang belum siuman.

“Senpai, kalau kau tidak makan kau bisa sakit,” ucap Juri, “setidaknya isi perutmu.”

“Tanaka-Kun benar,” ucap Jesse, “kalau kau sakit, kau tidak bisa menjaga Hideyoshi Senpai, kan?” Jesse memegang bahu Yasui yang terlihat tidak bersemangat, dia meneruskan, “bukannya kalau kau lemah, kau tidak bisa membalas dendam kepada Haguro yang menyerang Hideyoshi Senpai?”

Yasui menoleh, dia menatap Jesse.

“Benar sekali kata Lewis Senpai,” sahut Aran, “kalau Senpai lemah, bagaimana bisa membalas dendam?” Aran menatap Sora, dia berkata, “Tapi… kenapa mereka menyerang manusia?”

“Bukannya memang selalu begitu?” sahut Juri, “sejak ribuan tahun lalu mereka tidak berubah kan?”

Aran menghela napas, dia menatap Juri dan membalas, “Senpai, Haguro itu kelompok cenayang yang melindungi manusia. Logikanya, mereka adalah manusia juga. Kalau sejak awal mereka melindungi manusia, kenapa sekarang mereka malah menyerang manusia?”

Yasui mengerutkan dahinya. Ada benarnya juga ucapan Aran, dia baru menyadarinya sekarang. Haguro adalah manusia, pada dasarnya mereka adalah manusia murni yang diberi kemampuan berinteraksi dengan dunia roh. Lalu untuk apa mereka mengendalikan roh dan menyerang manusia? Kalau sejak awal Haguro ditakdirkan melindungi manusia dan memusnahkan monster seperti Yahagi dan Nogumi, lalu kenapa mereka tidak langsung mengarahkan sasaran kepada mereka? Kenapa malah menyerang manusia yang tidak tahu apa-apa? Yasui menatap Sora, dia mempererat genggaman tangannya. ‘Aku akan membalas dendam, Sora,’ batinnya, ‘jangan khawatir. Bertahanlah.’

“Senpai!”

Yasui menoleh kaget, dia cengo melihat Haru masuk bersama Ryosuke, Shori, dan Yuto. Inoo dan Kai menyusul dibelakang bersama Kaede yang tampak sweatdrop melihat kelakuan empat orang itu. “Bagaimana keadaan Hideyoshi Senpai?” tanya Haru panik, dia menatap khawatir Sora, “dia tidak terluka parah, kan?”

“Lukanya sedikit parah, tapi dia baik-baik saja,” jawab Yasui, “apa yang kalian lakukan disini? Dan kenapa wartawan buletin sekolah juga ikut?”

“Kami hanya ingin melihat keadaan Hideyoshi Senpai,” jawab Yuto, “kami tidak mencari berita, kok. Kami sudah mendapatkannya tadi saat serangan.”

Jesse dan Juri saling pandang, mereka hanya menghela napas. “Kalian masih sempat, ya, mencari berita untuk dimuat di buletin sekolah,” komentar Juri.

Inoo mendekat, dia menyentuh kaki Sora. “Kasihan sekali Hideyoshi-san,” ucapnya, “dia pasti tidak menyangka hari ini akan terjadi seumur hidupnya.”

“Dan tidak akan melupakannya, tentu saja,” sambung Ryosuke, dia menatap Yasui, “Senpai, seperti apa wujud monster yang menyerang Hideyoshi Senpai?”

“Oi, kau bilang kau tidak sedang mencari berita,” sahut Aran.

Ryosuke terkekeh sambil menggaruk tengkuknya. “Sepertinya aku berubah pikiran,” ucapnya sambil terkikik.

Ngek.

Yang lain menghela napas melihat Ryosuke, “Yang jelas dia jelek sekali,” jawab Yasui, “aku tidak terlalu memperhatikan saat itu, tapi seingatku makhluk itu bertaring besar seperti gading gajah dan cakarnya seperti kaki burung unta.”

Kaede diam, matanya lurus menatap Shori yang mengobrol pelan bersama Kai dan Jesse. Dahi Kaede berkerut, dia merasakan sesuatu yang ganjil dengan Shori. ‘Sepertinya aku pernah melihat anak seperti dia,’ batin Kaede, ‘auranya… gelap sekali.’ Kaede mengalihkan pandangannya kepada Haru yang ikut berdiksusi bersama yang lain, dia kembali membatin, ‘Kenapa aku merasa kalau Shori bukan teman yang baik untuk Haru-Chan, ya? Dia… dia kelihatan berbeda dari yang lain.’

Shori melirik sekilas kearah Kaede, dia tahu gadis itu memperhatikannya dengan intens sejak tadi. Shori menghela napas, dia tersenyum kecil dan kembali mengobrol dengan Kai dan Jesse.

***

“Ada banyak nyawa yang melayang dari serangan mendadak itu, ya?”

“Jangan ditanya, kau sudah tahu jawabannya.”

“Tapi kau menyerang mereka. Kalau dia tahu dia akan mengamuk nanti.”

“Ck, mana aku tahu kalau akhirnya mereka juga diserang?”

“Sudah jangan ribut. Yang penting kita buat dulu mereka kebakaran jenggot.

Tiga orang itu berdiri di depan SMA Irigaharu yang dibatasi garis polisi. “Ohisashiburi, Irigaharu.”

***

To Be Continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s