[Multichapter] MONSTER (#2)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 2)
Cast :
Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Shintaro membuka pintu, dia melangkah dan duduk di sebelah Hokuto.

“Ada serangan di dekat rumah sakit,” ucap Yugo, “korbannya ada tiga orang. Luka mereka cukup parah, bahkan ada yang hampir kehabisan darah.”

“Tidak salah lagi, itu pasti kelompok Nogumi,” ucap Shintaro, “siapa lagi yang doyan darah seperti lintah kalau bukan mereka?”

“Aku setuju dengan ucapanmu, Shin,” sahut Hokuto, “tidak salah lagi, pasti mereka.”

“Bagaimana kalau bukan?” Hokuto dan Shintaro menoleh kearah Shoki, “Bagaimana kalau ternyata bukan mereka?” sahut Shoki, “masalahnya… ada anak panah bersegel Haguro juga disana.”

Sanada tertawa singkat. “Siapa yang tahu kalau mereka ternyata bekerjasama?” sahut Sanada, “tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kan?” Sanada berdiri, dia melangkah dan menatap keluar jendela, “Yang jelas, kita tidak akan membiarkan dua kelompok itu menghabisi kita,” ucap Sanada, “semua terjadi karena mereka.”

“Atau sebenarnya manusia sendiri yang mengacau,” sahut Yugo, “sejak ribuan tahun lalu, mereka menganggap kita monster. Mungkin ini cara mereka memusnahkan kita. Mereka menyerang sesama manusia, dan menjadikan kita sebagai kambing hitam.”

“Haguro juga kelompok manusia,” sahut Shintaro, “cenayang itu manusia, kan? Berarti mereka terlibat.”

“Kau itu juga manusia,” gumam Myuto.

“Maaf, aku bukan manusia biasa, yang akan melakukan tindakan licik untuk menjatuhkan lawan,” ucap Shintaro.

Sanada menghela napas, dia menoleh dan menatap Hokuto. “Oi, jelaskan apa yang terjadi tadi di sekolah,” ucap Sanada, “kau ini, berapa kali harus kukatakan, jangan mendekati Kyomoto itu. Kenapa kau tidak mau mendengar, sih?”

“Dan berapa kali harus kukatakan kalau aku tidak mendekatinya?” balas Hokuto, “dia yang tiba-tiba datang dan mengajakku berbicara. Kalau aku sendirian, aku bisa menghindarinya. Masalahnya aku bersama manusia-manusia lemah itu, mereka akan berpikir macam-macam kalau aku menghindari mereka.”

“Sudahlah, aku tidak mau lagi mendengar kau berdekatan dengan Nogumi itu,” ucap Sanada, “kita jangan pernah berhubungan dengan mereka, apapun alasannya. Mereka sudah menjatuhkan harga diri kelompok kita.”

“Kuharap tidak ada yang memperbarui kisah Romeo Dan Juliet disini,” ucap Myuto cuek, “kisah cinta terlarang dari dua kubu yang berseteru. Picisan sekali.”

“Bagaimana denganmu, hah?” sahut Yugo, “kau jatuh cinta dengan Miyazaki itu.”

Semua mata langsung tertuju kepada Myuto yang melongo menatap Yugo. “Dia manusia biasa, Kouchi-San,” ujar Myuto, dia lantas menggerutu tidak jelas dan meneruskan, “lagipula siapa yang jatuh cinta dengannya? Jangan menyebar fitnah, ya.”

“Ya, kau tidak jatuh cinta dengannya,” komentar Yugo, “kau hanya menitipkan salam untuknya melalui Chiru. Kalian sekelas, untuk apa bertitip salam melalui orang lain? Mengobrol saja kan cukup. Sok drama sekali kau ini.”

Hokuto dan Shintaro menahan tawa, sementara Sanada hanya cengo sambil memasang ekspresi aneh.

“Tetap saja,” Shintaro mengerang, “Miyazaki-San berteman dengan mereka, bukan dengan kita. Yah, aku bisa kan menganggapnya musuh?” Shintaro menoleh, dia menatap Myuto yang mendelik kearahnya, “Lho, kenapa kau melotot begitu? Aku salah apa?” tanya Shintaro.

Sanada menghela napas, dia mendadak tersadar sesuatu dan menatap sekeliling. “Lho? Kemana perginya Shoki?” tanya Sanada, “bukannya dia tadi masih disini?”

***

Yasui berjalan menyusuri area pertokoan, dia setengah bersiul. Udara malam sejuk sekali, Yasui menghirup udara dalam-dalam dan menghembuskannya. Sejuk sekali, lumayan untuk menyegarkan pikiran. Apalagi bau darah dari manusia-manusia di sekitarnya, benar-benar manis. Yasui jadi ingin mencicipinya sedikit saja.

Eh.

Yasui berhenti, dia menatap orang-orang yang lewat di sekitarnya. Orang-orang ini tampak biasa, mereka juga melewati Yasui tanpa takut. Ribuan tahun lalu, leluhurnya masih dikenali sebagai Nogumi, kelompok penghisap darah yang dikagumi sekaligus ditakuti. Zaman sudah berubah, sekarang bahkan tidak ada yang menyadari kehadiran Yasui. Kalau kata Taiga, itu karena dia sudah sangat manusia. Berbeda dengan Taiga yang masih berkulit putih, cukup mencolok disini. Atau Jesse yang bertubuh tinggi, wajar saja karena dia juga blasteran Amerika-Jepang.  Yasui menghela napas, dia kembali berjalan. Kaede pasti menunggunya, atau mungkin menunggu ramen yang dibawanya.

“Kyaaaa!”

Yasui menoleh, dia segera berlari saat melihat seorang perempuan dikerumuni sekelompok laki-laki. “Apa yang kalian lakukan?!” teriak Yasui, dia menoleh dan kaget melihat perempuan itu adalah Sora, teman sekolahnya.

“Yasui-San!” Sora langsung berlindung dibalik punggung Yasui. Yasui menatap tajam orang-orang itu.

“Ck, kalian menghadapi satu perempuan saja harus ramai-ramai,” komentar Yasui, “payah.”

“Jangan mencampuri urusan kami!” sentak satu orang berkepala pelontos, dia maju sambil melayangkan pukulannya. Yasui menangkis pukulan itu, dia dengan keras menendang laki-laki itu sampai terguling menabrak tumpukan kayu di dekatnya. Yang lain, bahkan Sora melongo tidak percaya, Sora menoleh dan tercengang melihat Yasui masih kelihatan tenang seakan tidak terjadi apa-apa.

Yasui mendekat, dia menunduk dan berbisik kepada orang itu, “Sekali lagi kau berani mengganggu kekasihku, aku pastikan untuk memulangkan tulang-tulangmu ke rumah orangtuamu.”

Sora mengerutkan dahi, dia keheranan melihat orang-orang itu ketakutan melihat Yasui dan berlari darisana.

Yasui menoleh, dia tersenyum dan berjalan kearah Sora. “Kau baik-baik saja, Hideyoshi-San?” tanyanya, “apa yang kau lakukan malam-malam begini?”

“Aku baru saja pulang dari rumah Haru-Chan,” jawab Sora, “ano… terimakasih sudah menolongku. Apa yang kau lakukan sampai mereka ketakutan tadi?”

“Hm? Oh, aku hanya mengancam akan melaporkan mereka ke polisi dan sedikit berbohong mengatakan kalau aku adalah anak dari salah satu anggota kepolisian,” jawab Yasui, dia terkekeh. “Mari, kuantar kau sampai rumah.”

“Ah, tidak usah,” Sora menolak, “aku masih harus berbelanja.”

“Malam-malam begini?” tanya Yasui.

Sora mengangguk. “Aku tinggal sendiri, sepulang sekolah aku bekerja paruh waktu,” Sora menjelaskan, “jadi aku berbelanja sepulang kerja.” Sora melihat kantung plastik bawaan Yasui, dia bertanya, “Kau juga baru berbelanja?”

Yasui menatap bawaannya, dia tersenyum dan menjawab, “Hanya makanan ringan. Kaede memintaku membelikan ramen instan tadi.” Yasui diam sejenak, dia kemudian bertanya, “Kau benar-benar tidak mau diantar?”

Sora menggeleng, dia tersenyum. “Jaa ne, Yasui-San,” ucap Sora sambil melambaikan tangan. Yasui tersenyum, dia mengangguk pelan. Yasui memandangi Sora yang berjalan menjauh, dia tersenyum kecil. Bau darah Sora manis sekali, tidak terlalu tajam. Baunya lembut, seperti orangnya.

Hah?

Yasui mengerjapkan mata, dia menatap jam tangannya dan memekik. “Acara favoritku!” pekiknya, dia buru-buru berlari pulang. Berjaya sekali Kaede, dia pasti sedang menguasai remote televisi sekarang.

Sora berhenti, dia berbalik menatap kearah jalanan yang tadi dilaluinya. Sora diam beberapa saat, dia lantas tersenyum dan kembali berjalan. Sora tersenyum mengingat bagaimana tadi Yasui menolongnya, manis sekali. Dia kelihatannya biasa-biasa saja, tapi mampu mengalahkan sekelompok preman amatiran.

“Ano…”

Sora berhenti, dia menoleh. Seorang laki-laki bertubuh jangkung berdiri di dekatnya, wajahnya imut-imut seperti anak SMP. “Maaf, apa kau tahu alamat ini?” tanya laki-laki itu sambil menunjukkan selembar kertas.

Sora membaca tulisan di kertas itu, dia memekik pelan. “Ah, ini rumah Haru-Chan,” ucapnya, dia menatap laki-laki itu dan berkata, “Kau lurus saja kesana, lalu belok kiri dan ikuti saja jalannya. Tidak jauh, kok, darisini.” Sora menatap laki-laki itu, dia bertanya, “Kau siapanya Haru-Chan?”

“Aku teman lamanya,” jawab laki-laki itu, “terimakasih. Sampai jumpa.” Laki-laki itu segera berlari meninggalkan Sora. Sora menghela napas, dia kembali berjalan menuju swalayan.

Laki-laki itu berhenti, dia berbalik menatap Sora yang sudah jauh. “Tidak kusangka, Haru-Chan berteman dengan orang seperti dia,” gumamnya, dia tersenyum kecil dan segera berlalu darisana.

***

“YUTO, KEMARI KAU DASAR KECOA!”

Suasana kelas mendadak riuh karena teriakan Kai, dia melemparkan segala rupa barang kearah Yuto yang tergelak puas. “Aku tidak akan mengampunimu, dasar mesum!” teriak Kai, “berani sekali kau mengintip dari bawah meja!” “Aku tidak sengaja,” Yuto membela diri, “itu kecelakaan, percayalah kepadaku.”

Hokuto menghela napas, dia geleng-geleng saja dan kembali membaca buku. Dia sudah sangat terbiasa mendengar teriakan Kai, sangat terbiasa sampai dia tidak akan terganggu meskipun dia sedang tidur di kelas. Kaede menghela napas, dia memilih menatap keluar jendela dan menikmati pemandangan. Haru belum datang, sedangkan Taiga masih mengurus organisasi siswa bersama Jesse.

Hokuto masih serius membaca buku, mendadak dia tegang dan menoleh ke arah pintu kelas. “Haru-Chan, Yuto mengintipku!” Kai mengadu kepada Haru yang baru masuk kelas. Bukan, Hokuto tidak ada urusan dengan Haru. Dahinya berkerut menatap seorang laki-laki yang berjalan di dekat gadis itu. Hokuto menatap Myuto yang meliriknya, dia lalu kembali menatap laki-laki itu.

“Oi, Haru-Chan,” Hokuto memanggil, “siapa yang dibelakangmu itu?”

Haru menoleh, dia menarik laki-laki itu dan merangkulnya. “Dia Sato Shori,” jawab Haru tersenyum, “dia teman lamaku. Mulai sekarang, dia adalah teman sekelas kita.” Haru tersenyum, dia mengajak Shori duduk di bangku belakang.

Hokuto menatap sinis Shori, dia kembali menatap Myuto yang terlihat kesal melihat Haru memeluk Shori dan berbincang akrab dengan pemuda itu. “Bukan saatnya untuk cemburu, Myuto,” sahut Hokuto pelan, “lagipula kau bukan pacarnya, apa yang kau harapkan?”

“Uruse,” sahut Myuto, dia mendengus dan beranjak meninggalkan kelas.

Hokuto baru akan menyusul saat dia mendengar Kaede terkikik. “Yang seperti itu dibilang kuat, ya?” ejeknya, “baru melihat Haru-Chan bersama orang lain saja langsung ngambek begitu. Payah.” Kaede tertawa, dia mendadak terdiam saat Hokuto mendekatkan wajahnya ke wajah Kaede dengan memasang seulas senyum.

“Jangan sampai tawamu tadi menjadi tawa terakhirmu, Nona,” bisik Hokuto, “aku tidak akan pandang bulu saat menghabisi siapapun. Tidak peduli kau lemah, kau perempuan, atau apapun.” Hokuto tersenyum kecil, dia lantas menatap sinis Kaede dan beranjak meninggalkan kelas.

“Ne, kau murid baru darimana asalmu?” tanya Kai, dia menatap penasaran Shori.

Shori tersenyum, dia menjawab, “Aku berasal dari Osaka. Sebenarnya aku dulu tinggal disini saat masih anak-anak, tapi ayahku pindah tugas ke Osaka, jadi aku disana.” Shori menoleh kearah Haru, dia bertanya, “Ne, Haru-Chan, apa kau mendengar soal serangan misterius di dekat rumah sakit dua hari lalu?”

“Aku mendengarnya,” jawab Haru, “jadi topik utama sampai sekarang. Jangan khawatir, itu hanya perampokan biasa.” Haru menghela napas, dia menoleh kearah Shori. “Memangnya kenapa?” tanya Haru.

“Tidak, aku hanya agak waswas,” jawab Shori, “kau tahu, ibuku sempat tidak mengijinkanku kembali kemari karena rumor serangan itu.” Shori berdehem, dia menatap kearah Haru. “Apa menurutmu tiga monster yang menjadi legenda itu benar-benar ada?”

Haru tertawa, dia menoyor kepala Shori dan berkata, “Apa yang kau harapkan, hah? Siluman terbang kesana kemari menebar teror, dan monster-monster yang menggeram seperti zombie? Ayolah, kau tidak hidup di dunia film.”

“Tidak ada yang seperti itu disini,” sahut Kai, “kalau ada, sudah daridulu kota ini hancur, ne, Haru-Chan?” Kai menjentikkan jari kearah Haru yang mengacungkan jempol.

Shori terkekeh, dia menatap sekeliling kelas. “Kelasmu ini sangat damai, ya,” komentarnya, “kelihatannya kelasmu tenang-tenang saja.”

“Tenang kalau dua manusia rakus itu tidak berulah,” Kaede berkomentar.

Haru mendesis, dia menggeplak kepala Kaede. “Jangan mempengaruhi dia untuk sepikiran denganmu, Yasui,” ucap Haru, dia langsung menambahkan sebelum Kaede memprotes, “namamu Yasui Kaede, jadi tidak usah protes kalau aku memanggilmu dengan nama keluargamu.”

BLAM!

“Kyaaaaaa!”

Haru dan yang lain terkejut mendengar suara ledakan keras dari luar. “Ya ampun, kenapa mereka tidak bisa diam sedikit saja?!” Kaede kesal, “tidak bisa, ya, sehari saja tidak membuat keributan?!” Kaede berlari keluar, disusul yang lain. Haru, Kai, dan Shori baru akan menyusul saat Yuto muncul bersama Inoo dan Ryosuke.

“Jangan keluar, berbahaya!” sahut Yuto, “ada zombie di luar!” “Kalian sembunyi saja di kelas!” sahut Ryosuke panik, “kunci pintunya, tutup tirai kelas dan jang… lho, Sato-Kun? Kau sedang apa disini?” Ryosuke agak kaget melihat Shori di dekatnya.

“Nanti saja reuninya,” ucap Inoo, “kita harus mengamankan yang lain dulu.” Inoo akan pergi, tapi Kai menahannya. “Kau disini saja bersama kami,” ucap Kai, “apa yang akan kau lakukan, bertindak seperti pahlawan dan melindungi yang lain?”

“Kai benar,” ucap Haru, “kau bisa terluka, Senpai.”

Pintu kelas terbuka. Jinguji masuk bersama Kishi Yuta, dia berkata, “Jangan disini, mereka sudah di koridor lantai dua.”

“Kalian sebaiknya sembunyi di tempat lain,” sahut Yuta menyambung, “ayo, aku akan membawa kalian ke tempat yang lebih aman.” Yuta berlari keluar kelas, Haru berdecak dan berlari mengikuti Yuta bersama yang lain.

Jinguji menatap Kai, dia berkata, “Daijoubu. Tidak akan terjadi apa-apa. Sekarang, sebaiknya kita pergi dulu.” Jinguji meraih tangan Kai, dia mengajak gadis itu menyingkir dari kelas.

“Miyuki!” Taiga berlari menembus kerumunan, dia sangat panik tidak menemukan adiknya di kelas. Kemana Miyuki? Taiga berbelok, dia menggeram dan mengeluarkan cakarnya menghancurkan tubuh satu monster di depannya. “Jangan menghalangi jalanku!” sentaknya, Taiga kembali berlari dan berteriak memanggil-manggil Miyuki. “Miyuki, dimana kau?! Miyuki!” teriaknya panik. Bagaimana ini, Miyuki bisa terluka. Kekuatannya belum sempurna, dan dia masih sangat manusia. Nogumi yang membawa perasaan manusia tidak akan bisa menggunakan kekuatannya dengan maksimal.

Hm?

Taiga berhenti, dia menoleh kearah laboratorium sains. Taiga langsung menjeblak masuk, dia melihat laboratorium masih tertata rapi. “Miyuki, Miyuki apa kau disini?” sahut Taiga, dia memeriksa semua sudut, “Miyuki, jawab aku. Kau ada di… WAAAA!” Taiga terkejut melihat sebuah senjata teracung kearahnya. Taiga menoleh, dia cengo menatap Chika yang mengacungkan senjata kearahnya.

“Siapa kau?” tanya Chika, dia menatap tajam Taiga, “kau pasti menyamar menjadi Kyomoto-San, kan? Enyah kau, monster!”

Krik.

“Heh, ini aku!” Taiga menjatuhkan senjata Chika kesal. Chika menatap Taiga, dia langsung memegang pipi pemuda itu.

“Astaga, kau Kyomoto-San,” ucapnya, dia lalu bernapas lega, “yokatta, kukira kau monster.”

‘Aku memang monster, dasar bodoh,’ batin Taiga. “Kau melihat adikku?” tanya Taiga, “dan apa yang kau lakukan disini sendiri?”

“Aku ini Haguro, sejak kecil diajari untuk tidak takut dengan apapun,” balas Chika tersenyum, “ah, kau mencari adikmu, ya. Jangan khawatir, Miyuki-chan sudah aman. Hagiya tadi membawanya pergi.” Chika terdiam, dia mengerutkan dahi menatap Taiga yang membelalakkan matanya. “Kau kenapa?” tanya Chika.

“Hagiya?”

***

Shoki mengintip, dia menoleh kearah Chiru yang tampak khawatir dan berkata, “Diamlah disini. Jangan keluar sampai aku menjemputmu, kau dengar?”

“Tunggu, kau mau kemana?” tanya Chiru, “kau mau meninggalkanku disini sendirian?”

“Tunggu saja,” jawab Shoki, “aku akan segera kembali.” Shoki tersenyum, dia berlari keluar perpustakaan. Shoki melihat keadaan sudah sangat kacau, banyak murid terluka di hadapannya. “Nogumi, hm?” Shoki bergumam, “kalian kelompok lintah, aku tidak akan membiarkan kalian mengacau disini.” Shoki berlari, dia menghancurkan satu monster dengan tinjunya. “Jangan mengacau disini, Tuan,” ucap Shoki, dia menoleh dan menghabisi sekelompok monster di hadapannya. Shoki menikmati raungan monster itu, rasanya menyenangkan sekali.

Yasui berlari sambil menggandeng Kaede, dia memasukkan adiknya itu ke sebuah ruangan. “Kau diam disini, jangan kemana-mana,” ucap Yasui, dia akan pergi saat Kaede menahannya. “Yaampun apa lagi?” Yasui mulai gusar, dia menatap Kaede yang menataonya khawatir. “Kembalilah tanpa luka,” ucap Kaede.

Yasui menghela napas, dia menepuk pelan kepala Kaede dan berlari meninggalkan adiknya itu. Yasui tahu Kaede bisa menjaga dirinya sendiri, dia kan kuat. Lagipula dia juga memegang sabuk hitam karate, aneh kalau dia tidak bisa menjaga dirinya sendiri. Yasui menoleh, dia terbelalak melihat satu monster meraung menyerang seorang murid. “Haguro,” geramnya, Yasui berlari dan langsung merobek leher monster itu dengan cakarnya. Monster itu meraung keras, dia terhuyung dengan asap putih keluar dari lehernya yang terluka. Yasui mendekat, dia meraih leher monster itu dan mematahkannya dengan kuat.

Yasui menoleh, dia terkejut dan segera menghampiri murid yang merintih kesakitan itu. Yasui mendesis, dia meringis melihat luka di kaki murid itu. “Kau baik-baik saja, Nona?” tanya Yasui, “bertahanlah.”

“Yasui…”

Yasui menoleh, dia terbelalak dan langsung memapah gadis itu. “Astaga, Hideyoshi-San!” Yasui segera menggendong Sora yang sudah lemas, “Hideyoshi-San, bertahanlah!” Yasui berlari kembali ke ruangan tempat Kaede bersembunyi, dia menjeblak masuk.

“Astaga, Hideyoshi-Senpai!” Kaede memekik, “Nii-San, apa yang terjadi?!”

“Dia diserang,” jawab Yasui, “obati dia, aku akan segera kembali.” Yasui berlari keluar ruangan, dia menutup pintu dan menggeram marah. “Beraninya kalian melukai manusia yang tidak bisa apa-apa,” geramnya, “akan kuhabisi kalian semua, dasat pengkhianat.”

BRAK!

Yasui menoleh kaget, dia tercengang melihat Sanada berdiri di depannya dengan tinju mengarah ke satu monster yang hancur.

Sanada menoleh, dia menatap datar Yasui. “Baka,” ucapnya, “kau tidak waspada. Bukannya adikmu memintamu kembali tanpa luka?” Sanada mendengus, dia berlari meninggalkan Yasui yang masih terdiam. Yasui berdecih, darahnya bergejolak marah sudah ditolong oleh seorang Yahagi. Yasui menatap tajam Sanada yang menjauh, dia berlari menjauhi lokasi.

***

“Wah, menarik juga. Serangannya benar-benar mematikan.”

“Bodoh. Mereka malah menyerang manusia yang tidak tahu apa-apa.”

“Ck, siapa yang peduli? Anggap saja kita memberi mereka makan.”

“Terserah, yang jelas setelah ini kita tidak akan menjadi sekedar legenda. Kita akan menunjukkan eksistensi kita di dunia ini.”

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s