[Multichapter] Seven Colors (#5)

Seven Colors

sevencolors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 5)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

“Gak mau bilang makasih sama aku?” Ruika yang sedang menatap pemandangan gedung-gedung Tokyo yang ramai itu hanya melirik kepada Myuto yang memberikan secangkir kopi susu kepadanya.

“Makasih Myuto…” ucap Ruika sambil tersenyum sinis.

“Makasih Myuto ganteng… harusnya gitu,”

“Kata Ayah aku gak boleh bohong,” kata Ruika, mendadak ingin tertawa padahal tadi suasana hatinya lagi-lagi buruk karena kesal ponselnya berbunyi terus sejak kemarin, dengan nama yang sama, Morohoshi Shoki.

“Sialan!” Myuto duduk di sebelah Ruika, ikut menikmati pemandangan di depan mereka, “Angkat aja telponnya, kalau kau tidak mau mendengarkan penjelasannya maka masalah kalian juga tidak akan selesai-selesai,” kata Myuto.

“Aku masih belum mau bicara dengannya, aku belum bisa memaafkannya,”

Myuto mafhum, sejak kemarin pun saat Ruika meneleponnya malam-malam sambil menangis, Myuto tau kalau kali ini Ruika sedang sangat emosi dan kalau dia bertemu dengan Shoki, entah apa yang akan terjadi dengan hubungan keduanya.

Malam minggu kemarin seorang Ruika meneleponnya, menangis tak jelas, tanpa menjelaskan apapun.

“Ruika?! Hey!! Jawab aku! Kamu di mana?!” seru Myuto yang mengangkat telepon di tengah malam dari seorang Yasutaka Ruika, tapi gadis itu sama sekali tidak mau bicara apa yang sedang terjadi pada dirinya, “Ruika?!!”

“Hiks… aku… hiks… huhuhu,” isakan demi isakan terus terdengar.

“Kamu di mana?!!” dan setelah beberapa menit akhirnya Ruika bilang kalau dia ada di stasiun yang tak jauh dari apartemennya, tak ambil pusing Myuto bergegas menghampiri Ruika.

Saat Myuto sampai, Ruika terlihat sedang minum bir, menatap lalu lalang kereta bawah tanah nyaris tak berkedip. Wajahnya pun terlihat sangat sedih membuat Myuto khawatir saja.

“Minum bir sendirian di stasiun, kamu cari masalah? Hmm?” Myuto duduk di sebelah Ruika, dan gadis itu mengambilkan sekaleng bir dan menyerahkannya ke tangan Myuto, “Ruika? Kau baik-baik saja?” Ruika mengangguk tapi air matanya tiba-tiba saja jatuh, gadis itu segera menghapusnya dengan telapak tangannya. Myuto menyenggol pelan bahu Ruika, “Karaoke yuk? Gimana?”

Walaupun masih terlihat sedih Ruika pun mengangguk. Myuto menarik lengan Ruika, membawanya keluar dari stasiun di mana mobilnya di parkir. Tanpa harus bertanya sebenarnya Myuto tau, ini pasti masalah Shoki. Apa lagi yang bisa membuat Ruika terlihat sesedih ini selain Shoki? Ruika pernah bilang kalau dia sebenarnya tidak pernah berpikir akan bisa jatuh cinta pada Shoki, dan ternyata sekarang gadis itu jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria itu.

Karaoke ternyata sedikit efektif membuat perasaan Ruika lebih baik. Gadis itu bernyanyi sambil berteriak dan menangis, sementara Myuto hanya bisa ikut menemani gadis itu, berteriak hingga puas dan matanya sembab.

“Myuto…” Ruika mengambil segelas bir, lalu duduk menghampiri Myuto setelah capek berteriak dengan lagu Vkei, “Egois tidak kalau aku sampai meminta Shoki tidak mengindahkan Akane lagi?”

Myuto menatap Ruika, “Kalau aku jadi Shoki, aku pasti akan mafhum dan tidak akan membuat gadisku sendiri merasa tidak nyaman karena aku berteman dekat dengan gadis lain. Tapi Ruika, aku rasa kamu perlu memikirkan, rasa cemburu ini datang dari mana, kamu merasa terancam dengan keberadaan Akane karena kamu tidak percaya diri atau justru Shoki yang memperlihatkan gelagat lebih perhatian pada gadis itu?”

Dan Ruika pun kembali menangis, kali ini menyandarkan wajahnya ke bahu Myuto. Pemuda itu secara otomatis menarik tangan Ruika, membelainya pelan, tak punya kata-kata untuk menghibur gadis itu.

***

“Itou-kun, siang ini kau menemaniku meeting ke tempat klien ya?” Akina yang sedang mengerjakan laporan yang diminta Yasui tadi pagi, langsung menoleh menatap Yasui.

“Ah iya Yasui-san!”

“Yasutaka-kun dan Morita ada meeting internal jadi aku akan mengajakmu kali ini. Anggap saja untuk pengalaman, ya?” Akina langsung mengangguk. Sedikit tersanjung karena diantara anak magang, dirinyalah yang diminta oleh Yasui.

Anou Kimura-san,” Aika yang terlihat sedang melamun langsung menoleh ke arah Akina, terlihat sedikit kaget, “Eh maaf aku mengagetkanmu ya? Ini… masih ada sedikit laporan yang harus dibuat, bisa bantu aku setelah makan siang nanti? Aku harus ikut meeting dengan Yasui-san,” kata Akina, karena Yasui-san bilang tadi pagi laporan ini harus selesai hari ini juga.

“Tentu saja, tugasku hampir selesai kok,” Aika tersenyum, “Semoga berhasil ya Itou-san!” Akina mengangguk, memerhatikan seharian ini baik Aika maupun Aran sama sekali tidak menyapa satu sama lain, padahal biasanya mereka terlihat selalu berbicara, atau bertengkar.

“Aran!… aku mau bicara denganmu nanti saat makan siang,” kata Aika, tepat di sebelah meja Aran dan terdengar jelas oleh Akina, yang ikut melihat ke arah pemuda itu sekarang, “Uhmmm… sebentar aja ko soalnya aku mau makan dengan Itou-san, iya kan?” Aika menolehkan mukanya ke arah Akina, dan memberi kode untuk mengatakan iya. Lalu Akina pun mengangguk canggung.

“Oke,” jawab Aran, dan berlalu sambil membawa beberapa berkas ke ruang fotokopi.

“Maaf ya Itou-san, jadi ikut-ikutan aku repotkan,” kata Aika saat ia yakin Aran tak bisa mendengarnya.

Akina menggeleng, “Tidak apa-apa ko Kimura-san, gak repot kok,”

“Nanti makan siang bareng beneran deh ya, hari ini Itou-san pergi sama Yasui-san, kan?”

Sambil mengangguk Akina melihat kotak bekalnya yang kemungkinan tidak akan tersentuh karena Yasui sudah mengirimkan e-mail kalau mereka akan makan siang dengan klien mereka, “Hey! Kenapa melamun?” Akina sontak menoleh dan melihat Myuto berdiri di sebelah kubikelnya, “Kau baik-baik saja?”

Anou… Myuto-kun, ini buatmu saja,” Akina mengambil kotak bekalnya dan menyerahkannya kepada Myuto, “Aku harus meeting di luar. Sayang sekali kan kalau tidak dimakan,” ucap Akina.

Maji de?!! Waaaa Lucky! Arigatou Aki-chan!!” Myuto terlihat sumringah, “Aku sudah lama tidak makan makanan rumahan, biasanya beli saja,”

“Syukurlah kalau Myuto-kun senang, lain kali aku bikinkan khusus untukmu deh!”

Myuto kembali tersenyum, “Yoroshiku ne Aki-chan!”

“Itou-kun! Ayo berangkat!” baik Myuto maupun Akina segera menoleh dan melihat Yasui sudah membawa tasnya. Akina pun segera membereskan tasnya, menyimpan file di sharing folder agar Aika bisa mengaksesnya dan langsung melesat meninggalkan Myuto sambil tersenyum.

“Jadi kau kenal Morita?” Yasui menanyakannya sambil menyetir di sebelah Akina yang duduk di bangku  penumpang.

“Ya, Myuto-kun, maksudku Morita-san dulu satu sekolah dasar denganku, kebetulan dia kakak kelasku,” jawab Akina singkat.

Yasui terlihat tersenyum, “Hebat juga ya masih ingat dengan kakak kelas waktu sekolah dasar. Atau kalian dulu dekat?”

Akina mengangguk, “Rumah kami dulu berdekatan dan Morita-san selalu mengantarku pulang ke rumah sampai kami lulus SD, tapi saat SMP, Morita-san dan keluarganya pindah ke Tokyo, sejak saat itu aku tidak pernah bertemu dengannya sampai masuk ke kantor ini,”

Souka, pantas saja kalian langsung terlihat akrab,”

Anou Yasui-kachou, aku kemarin belum sempat mengatakan terima kasih kepada Ken-chan,”

“Terima kasih?”

“Iya, sebenarnya aku sedikit lupa dengan wajah Natsumi-chan karena sudah lama tidak bertemu. Untung saja Kenichi-kun menunjuk keberadaan Natsumi,” ujar Akina, mengingat kemarin Yasui dan keluarganya keburu kabur, “Saat mau berterima kasih, Yasui-san dan keluarga sudah berangkat lagi,”

“Nanti aku sampaikan pada Ken-chan. Kemarin aku harus mengantar mereka makan siang dan belanja, begitulah, mumpung aku bisa berlama-lama dengan Ken-chan,” saat mengatakannya Yasui tersenyum kepada Akina, yang tiba-tiba terlihat bingung, “Aku sudah bercerai dengan istriku, jadi kami hanya bertemu untuk keperluan Ken-chan,” jujur saja saat mengatakannya pikiran Yasui kembali ke malam kemarin saat dirinya tanpa sadar hampir saja mencium Hazuki. Perasaan spontan itu tiba-tiba muncul saat menatap Hazuki di jarak yang terlalu dekat.

“Eh? Gomen, aku tidak tau,” ternyata Yasui-san sudah bercerai, pantas saja tidak pernah menggunakan cincin nikah, pikir Akina.

“Jangan kaget gitu, mukamu yang bengong itu lucu, Itou-kun!”

“Eh? Hmm.. maaf,” duh, Yasui-san ini senang sekali membuatnya serba salah.

***

Saat Aoi membuka matanya, ia langsung menatap langit-langit berwarna putih bersih. Sebenarnya ini dimana? Ia mengerjapkan matanya sesaat, ketika kaget melihat Reo yang tengah asik bermain dengan gadgetnya di samping ranjang yang sedang ia tiduri, dan saat sadar itulah hantaman sakit di keningnya pun kini kembali terasa.

“Kamu… ngapain di sini?!” seru Aoi, menunjuk ke arah Reo.

“Yo! Saito! Kalau mau melamun jangan di lapangan olahraga! Lihat keningmu ini sampai memar!” tangan Reo langsung mampir di kening Aoi, dengan kompresan berisi es yang ternyata tadi terjatuh saat Aoi mencoba bangun dari tidurnya, “Jangan banyak gerak, kamu pasti masih pusing!” tangan Reo masih betah di atas kening Aoi, membuat gadis itu terpaksa mencubit tangan Reo untuk mengenyahkannya, “Aduh! Galak banget sih, padahal aku cape-cape bawa kamu ke sini!”

Akhirnya Aoi ingat, tadi saat pelajaran olahraga mereka sedang bermain voli dan Aoi harusnya ikut bermain namun karena pikirannya sedang kacau, ia melamun dan terkena hantaman bola voli tepat di keningnya. Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

“Nagatsuma… kau yang membawaku ke sini?” tanya Aoi, ia kembali berbaring sambil memegangi kompresan di atas keningnya, Reo mengangguk, “Makasih ya,”

“Cium dong kalo makasih doang gak afdol,” Reo menunjuk ke pipinya, dibalas oleh cibiran dari mulut Aoi.

“Minta cium sama fansmu saja sana! Kan banyak!?” dan mendengar itu Reo hanya tertawa.

“Sebenarnya kamu ngelamunin apa sampai tidak lihat ada bola voli nyasar ke keningmu?” Reo sudah kembali duduk, kali ini ia menggeser kursi plastik yang sejak tadi ia duduki mendekat ke kepala Aoi, sehingga kini wajah Reo sangat dekat dengan wajah Aoi.

Aoi menutup matanya, tidak mau bercerita bagaimana canggungnya dia pagi ini ketika bertemu dengan Hagiya lagi. Seharian saat hari minggu Aoi tidak keluar kamar, hanya beberapa kali mengambil makanan saat tidak ada orang. Aika bahkan sampai menanyakan apakah dirinya sakit. Pagi ini dia bertemu, bertatap muka lagi dengan Hagiya dan Aoi bisa merasakan aura canggung menguar diantara mereka. Bahkan Hagiya terlihat bersalah, satu-satunya ekspresi yang tidak ingin Aoi lihat.

“Saito… jangan tiba-tiba diem dong, kamu benar-benar tidak apa-apa?”

Sesaat Aoi menggeleng, tapi rasa sakit di hatinya jujur saja semakin terasa, karena setelah ia berangkat sekolah pagi ini Hagiya mengirimkan sebuah pesan melalui aplikasi chat, ‘Akan kuanggap tidak terjadi apa-apa diantara kita ya Aoi-chan. Kamu sudah seperti adikku sendiri, aku tidak bisa menyukaimu lebih dari itu,’ Aoi terisak pelan, air matanya pun kembali mengalir padahal sudah mati-matian dia coba tahan.

“Aduh Saito! Kenapa tiba-tiba menangis? Aoi? Aoi?!” Reo mengguncang bahu gadis itu beberapa kali yang masih saja terisak pelan, bahkan kini mengigit bibirnya mencoba meredam emosi dalam dirinya. Saat terisak itulah tangan Reo mengambil kompresan yang sedang ia pegang, menyingkirkannya, dan menarik tubuh Aoi hingga terduduk, gadis itu sesaat terdiam karena kali ini Reo tidak menggodanya seperti biasa, tapi memeluknya, “Menangislah…”

Tangis Aoi kembali meruak, setelah menahannya kini tangisnya tidak bisa lagi ia bendung.

***

Selama jam istirahat, bahkan sekarang saat anak-anak sudah tidur siang, Shoki masih mencoba menelepon ponsel Ruika dan hasilnya tetap nihil. Tidak ada jawaban sama sekali, bahkan di sepuluh menit terakhir, ponsel Ruika sepertinya mati total. Ia sudah mengirim pesan, bahkan chat diseluruh aplikasi yang ada, dan tetap saja tidak ada jawaban. Ruika benar-benar marah. Itu kesimpulan yang bisa Shoki pikirkan sekarang.

“Hagiya-sensei, aku ke belakang dulu, tolong jaga anak-anak ya,” kata Shoki, keluar dari tempat anak-anak tidur siang dan menyelinap ke belakang, ia butuh nikotin, satu batang rokok tidak akan membunuhnya sekarang.

Shoki masuk ke gudang belakang, menyalakan rokoknya dan duduk sambil masih menatap ponselnya dengan nanar, tidak ada tanda kehidupan, layarnya hanya berkedap kedip seperti biasa, menampilkan fotonya bersama Ruika beberapa bulan lalu saat mereka liburan ke Disney Sea. Saat itu akhir tahun dan Ruika menagih janji mereka pergi bersama yang akhirnya disanggupi oleh Shoki.

Ponselnya tiba-tiba berbunyi, ia menatapnya sekilas ternyata Akane yang meneleponnya.

“Ya Akane-chan?”

“Shoki-kun, di mana?”

“Aku sedang menyepi sebentar. Ada apa? Ada sesuatu di kelas?” tanya Shoki, semalam Akane akhirnya pulang ke rumah kediaman Sanada, beberapa kali meminta maaf padanya padahal memang bukan sepenuhnya kesalahan Akane.

Semalam Shoki memang berjanji pada Akane akan menjemput gadis itu mengingat ia baru saja mengalami peristiwa yang cukup hebat dan karena itulah Shoki membawa Akane ke apartemennya terlebih dahulu karena itulah kebiasaannya, ia akan pulang, mandi dan pergi ke apartemen Ruika, namun ternyata Ruika ada di apartemennya, membuatnya cukup kaget.

“Tidak ada apa-apa,” hening sebentar, Shoki menyesap lagi rokoknya, setelah ini dijamin dia harus ganti baju sebelum bertemu dengan anak-anak lagi, “Shoki-kun baik-baik saja?” Akane terdengar berdehem di seberang sana.

“Aku baik-baik saja Akane-chan, jangan mengkhawatirkan aku, kau makan siang duluan saja,” Akane memang biasanya makan siang bersamanya.

Wakarimashita, Shoki-kun, sekali lagi aku minta maaf,” Shoki hanya berdehem, sebagai jawaban dan menutup sambungan telepon itu, apa harus mengambil langkah ekstrem hingga meninggalkan pekerjaan ini dan menerima tawaran ayah Ruika bekerja di perusahaannya? Shoki memang belum cerita pada siapapun, termasuk Ruika sendiri, bahwa Ayah Ruika menemuinya dan meminta dirinya meninggalkan TK, bekerja di perusahaan milik Ayah Ruika lalu dalam beberapa tahun Ayah bilang dirinya pasti sudah bisa menempati posisi setidaknya sama dengan kakak Ruika yang juga bekerja di sana sebagai wakil CEO, dan semuanya akan lebih mudah untuk pernikahan keduanya. Apalagi latar belakang Shoki yang tidak jelas karena besar di panti asuhan mengharuskan Shoki untuk memikirkan hal itu, agar dirinya bisa ‘sederajat’ dengan Ruika saat pernikahan mereka nanti.

Kenapa hidupnya tidak bisa sederhana saja? Kenapa jatuh cinta pada Yasutaka Ruika harus serumit ini?

***

Mata Hagiya terbuka lagi, ia mengucek lagi matanya, mencoba untuk fokus karena sedari tadi menunggui anak-anak tidur tapi dirinya sendiri hampir tertidur beberapa kali karena sedang sedikit flu. Kepalanya agak berat sejak semalam, dan ia pun memutuskan untuk menggunakan masker agar anak-anak tidak ikut tertular penyakitnya. Shoki juga sudah mengingatkan dirinya untuk segera mengambil istirahat jika flunya tak kunjung reda dan Hagiya pun setuju. Bisa gawat kalau anak-anak tertular dirinya.

Sekali lagi pandangan Hagiya menyebar menatap wajah polos anak-anak yang tertidur pulas, bahkan ada yang bergerak-gerak tak bisa diam, membuatnya tersenyum. Tapi mata Hagiya berhenti di salah satu futon yang terlihat kosong. Hagiya kaget setengah mati dan segera berlari ke ruang guru.

Anou… anou…” Hagiya menatap sebagian guru yang ada di ruangan yang sedang tidak menunggui anak didiknya tidur.

“Ada apa Keigo-sensei?” tanya Satoko, guru yang bertanggung jawab di kelas Mawar.

“Itu…. itu…. Ken-chan, maksudku Yasui Kenichi tidak ada di tempat tidurnya?!”

“Kau sudah mencarinya ke kamar mandi!?” tanya Akane yang segera menutup bekalnya, menghampiri Hagiya.

“Sudah! Aku bahkan sudah ke pekarangan dan tidak menemukannya!!!” seru Hagiya panik.

“Oke sebentar,” kata Satoko mencoba tidak ikut panik, “Ehm… Akane-sensei, bisa hubungi Shoki-sensei? Dia dimana?”

“Aku akan meneleponnya!” seru Akane, menyambar ponselnya dan menghubungi Shoki lagi.

“Oke, sekarang Keigo kau keluar cari Ken-chan, aku dan Nora-sensei juga akan mencarinya, kalau dalam dua puluh menit Ken-chan belum ditemukan, kau harus segera menghubungi orang tuanya!” kata Satoko, berjalan ke arah pintu, Hagiya pun ikut keluar dari ruangan.

“Shoki-sensei bilang dia akan segera mencari Ken-chan juga!” seru Akane sebelum ketiga guru itu berlari keluar. Yang lain tidak boleh ikut keluar karena ada anak-anak lain yang harus mereka jaga.

Langkah Hagiya terburu-buru, terus saja matanya mencari ke segala arah, dan masih belum menemukan sosok Kenichi. Dia panik, ini salahnya karena tertidur selama menjaga anak-anak tidur. Harusnya dia tidak boleh lengah, kalau tau akan ada kejadian seperti ini, lebih baik dirinya izin mengajar daripada membuat seorang anak hilang. Sudah hampir sepuluh menit, dia berjalan sudah agak jauh dari TK, tapi sama sekali belum menemukan bocah itu, rasa bersalah terus menggerogoti hatinya, terlebih lagi Shoki sudah memberinya ultimatum untuk menjaga anak-anak, dirinya malah lengah.

“Ken-chaaannn!!” mata Hagiya menangkap sesosok anak kecil yang memakai piyama, berjalan keluar dari sebuah toko makanan, tak ambil pusing ia segera berlari menghampiri Kenichi, “Ken-chan!! Ya ampun!!! Kamu… kamu….” Hagiya sesak napas, ditambah dengan flu nya yang membuat dirinya makin sesak.

“Keigo-sensei!” seru anak itu dengan wajah sumringah sambil melambaikan tangannya dengan bersemangat, “Aku beli ini untuk Mama!” Kenichi memperlihatkan sebuah kantong kresek putih, “Kemarin aku tanya katanya kalau sudah sore pudingnya sudah habis, jadi aku ke sini saat siang hari!” jelasnya, masih terlihat sumringah, Hagiya tak tau harus bersikap bagaimana, sungguh hampir saja dia marah, tapi melihat kepolosan Kenichi, Hagiya mati kutu.

“Lain kali, kalau mau keluar kamu harus bilang pada sensei ya, tidak boleh berjalan keluar sendirian!” seru Hagiya, menarik tubuh Kenichi ke dalam pelukannya, sungguh ia sangat lega sekarang.

Kenichi mengangguk cepat, “Kau tau, kalau Ken-chan hilang nanti Mama dan Papa Kenichi akan sangat khawatir, mereka akan menangis karena Ken-chan tidak bersama mereka, jadi lain kali tidak boleh keluar kelas tanpa bilang pada sensei ya,” ucap Hagiya, mereka berjalan beriringan dengan tangan Kenichi berpegangan erat pada tangan Hagiya, “Mengerti?” dan bocah itu lagi-lagi hanya mengangguk. Langkah keduanya terhenti ketika melihat sesosok wanita yang terlihat sedang menangis di depan ruangan guru.

“Mama?” ucap Kenichi, wanita yang dipanggil Mama itu menoleh dan berlari menghambur kepada Kenichi.

“Ken-chaaannn!!” Hazuki rasanya ingin kembali menangis ketika kini anak semata wayangnya itu kembali di pelukannya. Ia hampir pingsan ketika Shoki meneleponnya dan berkata bahwa Kenichi hilang saat tidur siang, ia segera meninggalkan sekolah, beruntung Kaede segera memberikan izin bahkan mengantar dirinya ke TK Himawari, “Ken-chaaannn!!” tangis Hazuki sama sekali belum bisa berhenti sejak tadi.

“Mama jangan menangis,” Kenichi pun terisak pelan karena kaget melihat Mamanya menangis histeris, “Maafkan aku, hiks, hiks,

“Ken-chan jangan buat Mama jantungan, mama tidak bisa hidup tanpa Ken-chan… hiks,”

Hagiya yang melihat drama di depannya ini merasa bersalah karena semua ini terjadi karena dirinya lalai, “Kirie-san, aku benar-benar minta maaf, ini semua salahku!!” seru Hagiya, kepalanya menunduk dalam karena merasa benar-benar bersalah.

Hazuki beranjak setelah memeluk Kenichi, “Terima kasih Hagiya-sensei, sudah menemukan Ken-chan!” air matanya masih mengalir, tapi bibir Hazuki menyunggingkan sebuah senyuman yang sama sekali tidak terlihat sinis atau marah, dia benar-benar lega Hagiya bisa menemukan anaknya.

Hagiya menatap Hazuki dengan pandangan kaget, “Eh?”

Arigatou,” ucap Hazuki lagi, kini tersenyum dengan manisnya, dan entah kenapa Hagiya merasa tiba-tiba dirinya mendapatkan jackpot karena bisa melihat senyum Hazuki yang tulus kala itu.

Hagiya mengantarkan Hazuki ke pintu depan setelah Kenichi masuk kembali ke kelas dengan Shoki, beberapa saat hanya langkah keduanya yang terdengar hingga ke halaman depan TK Himawari, di sana ada Kaede di dalam mobil menunggu Hazuki.

“Kirie-san, sekali lagi aku minta maaf,” kata Hagiya, masih tersisa sedikit rasa bersalah di hatinya.

“Sudahlah Hagiya-san, tidak perlu meminta maaf terus!” ucap Hazuki, “kalau begitu aku pulang dulu, nanti sore Yasui, maksudku manatan suamiku yang akan menjemput Ken-chan,”

Mantan suami? Sebantar, jadi Hazuki sudah tidak bersama dengan suaminya lagi? Otak Hagiya berpikir cepat, berarti Hazuki masih single?

Anou… Kirie-san!” Hagiya memanggil Hazuki yang sudah beberapa langkah di depannya, Hazuki menoleh, “Apakah boleh, aku mengajak Kirie-san minum teh kapan-kapan?”

Hazuki tertegun, menatap wajah Hagiya yang benar-benar terlihat serius, “Kenapa?”

Saat ini Hazuki ingin terkekeh karena wajah serius itu berubah jadi salah tingkah, “Itu… hmm… sebagai permintaan maafku, dengan Ken-chan juga,” ucap pemuda itu cepat.

“Tentu saja, Hagiya-sensei! Aku pergi dulu,” lalu beberapa saat kemudian Hazuki kembali menoleh, “Hagiya-sensei!!” Hagiya otomatis kembali menatap Hazuki, “Cepat sembuh ya!” dan sebagai bonus Hazuki kembali menghadiahkan sebuah senyuman manis kepada Hagiya, membuat pemuda itu kembali kelimpungan karena jantungnya kini tak lagi kompromi dengan logikanya, berdetak kencang sekali.

***

“Stop!! Stop!! Aran!!” Aika sedikit berbisik menahan tubuh Aran yang masih berusaha mendekat padanya, “Aku cuma mau ngobrol!!” ucapnya lagi, masih setengah berbisik.

Aran terlihat heran, “Oh, baiklah… maaf, kupikir… ahahaha,” di sekeliling mereka kini hanya ada alat-alat tulis kantor, tidak ada siapa-siapa, “Kalau begitu kenapa gak di pantry aja kalau hanya mau ngobrol? Kau mengajakku ke sini kupikir…”

“Jangan mikir aneh-aneh deh! Lagian ini masih jam kerja!!” seru Aika, mulai habis akal menghadapi Aran yang semena-mena.

“Jadi kalau bukan jam kerja, kau tidak keberatan?” wajah Aran berubah menjadi kembali menyebalkan, Aika kembali mendorong Aran menjauh.

“Jangan mimpi!!”

“Apa harus sedikit mabuk untuk membuatmu ramah kepadaku? Kalau sedang sadar, kau terlalu sulit untuk didekati,” kata Aran, kata-kata itu sukses membuat Aika menerawang kepada kejadian beberapa malam yang lalu.

“Itu yang mau kubicarakan, kuharap, kau jagan salah paham, itu hanya…” Aika mencoba mencari padanan kata yang pas untuk menjelaskan keadaannya malam itu, “aku hanya…. hmmm… kesepian,” eh? Benarkah? Aika mencoba mencerna kata-kata itu, tapi memang itu yang ia rasakan saat dengan impulsifnya menerima ajakan Aran ke hotel.

Aika melihat Aran kini duduk di meja yang ada di dekat mereka, “Kesepian? Hmmm,” pemuda itu mengangguk-angguk, “Oke, kalau begitu kau boleh menemuiku saat kau kesepian, deal?”

“Hah?! Tunggu sebentar, maksudku aku tidak akan melakukan hal itu lagi, dan semuanya hanya salah paham, dan kita anggap apa yang terjadi kemarin, hanyalah kekhilafan, okay?” Aika mulai gelisah karena Aran sama sekali tidak terlihat terganggu dengan apa yang mereka bicarakan, bahwa Aran memang sama-sama melakukannya di bawah kesadaran total bahwa mereka memang hanya sekedar melampiaskan kesepain mereka berdua, tidak lebih.

“Baiklah kalau itu yang kau mau,” Aran tersenyum, “Tapi aku bilang aku tidak keberatan jika Aika-chan masih mencariku saat kesepian, okay?” melihat wajah Aika yang berubah merah padam, Aran terkekeh, “Untuk menceritakan kesedihanmu tentu saja,” wajah Aika berubah total menjadi serba salah karena merasa tertangkap basah memikirkan hal lain di otaknya, “So, can I get my last kiss?

“Kisu?” eh? Dan sebelum Aika mencerna apa yang sedang terjadi, Aran menarik pinggangnya, tubuh mereka melekat satu sama lain sedangkan bibir keduanya juga sudah bertautan, menyumblim jadi satu. Aran menghisap pelan bibir bawah Aika yang tanpa sadar membalas ciuman Aran, “Aran…” napas Aika satu-satu saat akhirnya Aran melepaskan ciumannya.

“Aku tau kau akan menghubungiku lagi, hahaha, selamat makan siang, Aika-chan,” sebelum beranjak meninggalkan Aika, pemuda yang Aika sebut kurang ajar itu mengecup pelan dahi Aika dan meninggalkan gadis itu masih dalam keadaan shock.

***

Apartemen ini terasa sepi ketika Sanada melangkahkan kakinya ke dalam, punggung Kaede menjauh ke arah dapur sementara Sanada mengambil sebuah sendal yang ada di pintu masuk. Sebelum akhirnya dia mengikuti langkah Kaede, jelas sekali apartemen ini jarang ditinggali.

“Ini… apartemenmu?” tanya Sanada, setelah dirinya duduk di sofa dan Kaede mengambilkannya secangkir kopi, Kaede mengangguk.

“Ayah membelikannya saat aku mulai bekerja, tapi aku lebih suka di rumah, karena di sini aku sendirian,” jawab Kaede.

Walaupun tidak terlalu besar, hanya ada satu kamar, satu ruangan tengah dan dapur juga kamar mandi yang terletak di pojok, apartemen ini terasa nyaman, dan sangat rapi. Tapi Sanada memperhatikan memang rumah keluarga Yasui pun selalu terlihat rapi, mungkin karena adanya Kaede di sana.

“Lalu? Apartemen ini tidak kau jual saja?”

Kaede menggeleng, “Aku kadang butuh sendiri.”

“Tapi sekarang kau tidak sendirian,” ucap Sanada, menatap ke mata Kaede langsung, “Kau baik-baik saja?”

Tadi, di sekolah setelah kehebohan yang dibuat Hazuki karena Kenichi hilang, Kaede mengajak Sanada untuk makan malam bersama, kata Kaede dia ingin mengucapkan terima kasih karena sudah menemaninya malam itu bahkan sampai Kaede terlelap, Sanada masih duduk di sebelah ranjang milik Kaede, menggenggam erat tangannya.

“Menurutmu?” tanya Kaede, “Apa aku baik-baik saja?”

Mata mereka kembali bertemu, Sanada menggeleng, “Tidak, kau tidak baik-baik saja, masih bingung soal kemarin?”

Kaede terdiam, seakan tidak ingin menjawab pertanyaan Sanada, ia hanya menatap pria itu.

“Oh iya, terima kasih ya traktirannya, padahal tidak perlu seperti itu, aku tidak merasa direpotkan kok,” kata Sanada, ia tau bahwa Kaede tidak ingin menjawab pertanyaannya, dan bahwa itu berarti iya, Kaede masih bingung dengan kejadian kemarin.

“Sanada-san,” Sanada menatap Kaede yang berdiri di hadapannya, dengan gerakan sangat pelan Kaede menarik tangan Sanada, membuat pria itu berdiri di hadapannya, “Aku mau menciummu apa boleh?”

Wajah Sanada terlihat benar-benar kaget, “Kaede-san!!” namun Sanada mendekatkan dirinya saat wajah Kaede sudah semakin dekat dengannya, dan ketika bibir mereka bertemu Sanada mengecup pelan bibir Kaede, entah sudah berapa lama Kaede tidak mendapatkan perasaan seperti ini, selama ini baginya cinta itu bullshit, hanya cerita dongeng anak-anak yang menceritakan perasaan cinta antar lawan jenis dan bisa bertahan selamanya, Kaede tidak tau perasaan apa yang sekarang ia alami dengan Sanada.

Kaede merasakan tangan Sanada merangkul pinggangnya dan menarik tubuh Kaede lebih dekat, Kaede merasa dirinya melayang tentu saja karena Sanada mengangkat tubuh Kaede ke udara, perbedaan tinggi mereka walaupun tidak begitu jauh tapi lebih nyaman dengan posisi Kaede berada di pelukan Sanada seperti ini, dengan kaki Kaede melingkar posesif di tubuh Sanada, napas mereka semakin memburu sejalan dengan ciuman mereka yang tak kunjung berakhir, Sanada melepaskan ciumannya, “Kau yakin?” sejurus kemudian Sanada menatap Kaede dengan wajah serius, “Aku serius, Kaede, kau yakin?”

Satu anggukan, namun wajah Kaede terlihat tidak yakin.

“Lebih baik berhenti sekarang,” kata Sanada, “Aku laki-laki normal, lebih dari ini aku bisa saja memaksamu untuk melakukannya denganku,” ucapnya lagi, menurunkan tubuh Kaede dari dekapannya, “dan kau tidak akan bisa menolak karena tenagaku pasti lebih besar darimu,” bibir Kaede masih terkunci rapat, tubuhnya mematung ketika Sanada merengkuh belakang kepalanya, namun bibir Sanada tidak mampir di bibirnya tapi di pipinya, “Kaede-san, lebih baik kau istirahat.”

Baru saja Sanada berniat mengambil jasnya yang tadi dibuka paksa oleh Kaede, tangan wanita itu menarik lengan Sanada, aku tidak yakin, tapi aku yakin akan merasa merana sekali jika tidak melakukan ini sekarang, Kaede menarik kemeja Sanada, melumat bibirnya dengan tidak sabaran. Bibir Sanada pindah ke lehernya, memberikan jejak-jejak kecupan sensual yang sudah lama sekali tidak Kaede rasakan, “Daisuki da,” bisikan pelan itu tidak bisa Kaede balas, dia tidak bisa menjawabnya sekarang, dia tidak yakin perasaan apa ini?

Apakah dia juga suka pada Sanada? Atau ia mencari sesuatu untuk menutupi kesedihan dan kebingungannya? Kaede berhenti berpikir ketika Sanada mengangkat tubuhnya ke kamar, ia tidak ingin berpikir lagi setidaknya untuk malam ini.

***

Saat Ruika keluar dari kantor, waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh, persiapan proyek ini memang cukup mepet sehingga dirinya dan sebagian anggota proyek ini harus lembur.

“Tunggu di sini saja, aku ambil mobil dulu!” kata Myuto, dan Ruika pun menurut, menunggu Myuto yang berjanji untuk mengantarnya pulang malam ini.

Sambil menunggu, Ruika menyalakan ponselnya yang sejak siang tadi sengaja ia matikan karena Shoki belum menyerah untuk meneleponnya, atau mengiriminya teks dan chat, sehingga ia akhirnya mematikan ponselnya karena masih belum ingin berbicara dengan Shoki.

Anou, Yasutaka-san?” hampir saja ponselnya terlempar ketika mendengar suara itu, seketika ia tambah kaget ketika melihat siapa yang ada di hadapannya, “Bisa kita bicara sebentar?”

Tanpa menjawab, Ruika mengangguk, “Di sini saja, aku sudah mau pulang,” ucapnya, berusaha tenang walaupun sebenarnya ingin sekali mengomel.

“Aku tau Yasutaka-san pasti sedang marah, padaku terutama, tapi, tolong jangan salahkan Shoki-kun, dia hanya membantuku dan saat kemarin ke apartemennya, Shoki-kun berencana ke apartemen Yasutaka-san, namun dia harus kembali dulu ke sana, dan karena Shoki-kun…”

“Tidak perlu menjelaskannya, aku tau kebiasaannya, dan walaupun dia menjemputmu harusnya dia mengabari aku terlebih dahulu,” ucap Ruika memotong pembicaraan Akane, yang berdiri di hadapannya menggunakan mantel padahal ini musim panas, “Aku tidak tau hubungan Hayakawa-san dengan Shoki itu apa, tapi aku mulai tidak nyaman dengan hal itu!”

“Kami hanya teman, dan…”

“Besar bersama di panti asuhan yang sama,” Ruika mendesah, “Ya.. ya.. ya… aku tau, tapi kurasa aku sudah bosan mentolerirnya dan selama ada kamu, hubunganku dengan Shoki tidak akan tenang!” habis sudah kesabaran Ruika.

Akane yang merasa dirinya terpojok belum bisa menjawab, hari ini memang tanpa sepengetahuan Shoki dia ke kantor Ruika dengan maksud meminta maaf karena Shoki terlihat stress sekali seharian ini, dia jadi merasa bersalah.

“Kau menyukai Shoki, kan?” suara Ruika sedingin es, menuduh dan tanpa basa-basi.

Akane menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya, Ruika pasti sedang sangat marah dan jika dia ikut emosi maka masalah ini tidak akan pernah selesai, “Aku menyukainya,” jawab Akane pelan, “Tapi Shoki-kun sudah menolakku, dan memilihmu, kami hanya teman dan dia sudah seperti kakakku sendiri.”

Ruika mencibir, “Anggap saja aku percaya, kalau begitu jauhi Shoki, demi orang yang kau cintai, bisa kan?” raut wajah Akane langsung terlihat kaget, “Kalau tidak bisa, aku saja yang mundur, bilang pada Shoki, syaratku hanya satu, dia harus menjauhimu,” Ruika meninggalkan Akane dan masuk ke mobil Myuto yang sejak tadi sudah menunggunya.

“Ruika, kau baik-baik saja?” tanya Myuto, namun gadis itu tidak menjawab, memalingkan mukanya ke arah jendela karena air matanya sudah mengkhianatinya lagi, ia kembali menangisi kisah cintanya, dia mungkin terdengar jahat dan egois, tapi hanya itu yang bisa membuatnya merasa tenang bersama Shoki, jika saja Hayakawa Akane benar-benar menghilang dari hidup Shoki, selamanya.

***

To Be Continued.

I know i knoooowwww kelamaan yaaa… semoga minggu depan udah next chap. Doakan author moody an ini yaaa

COMMENTS ARE LOVE…

Komen kalian selalu bikin author-author di sini semangat loohh.. makanya komen yaaaa.. atau like… kan kalian baik semua.. kiss kiss.. muah! wwww

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Seven Colors (#5)

  1. hanazuki00

    Mamiiih baru bacaaaaa 😢
    Myuti everywhereee aku kok tiba tiba males liat myuto yaaa ah sertinya efek 2 grup yg fansnya lg berantem itu /eh
    Tp ini kyknya banyak myutonya sihhahaha

    Ruikaaaa ruika kasian tp kok jahat juga sama Akane. Kl aku jadi akane dah ku tantangin aja tuh Ruika, bukan jauhi shoki tp malah makin anu ke Shoki

    Aoi yg sebelumnya ditolak Hagi yaaa? Terus Hagiya ketemu Hazuki dimana sih penasara kok tiba tiba disenyumin Hazuki doang jd gitu. Keren amat si Hazuki wkwkw berasa janda kembang /eh

    Yasui mau ninggalin Kenchan demi mamah baru? Apa nau balik ke Hazuki? Ayoo kasian Ken, mending balik aja sama Hazuki yaaa

    Kaede khilaf wkwkw lanhut nanggung amat khilafnya mih 😂

    Part6 ditunggu loh miiiih ❤❤❤

    Reply
  2. dindobidari

    Eww lama ngga baca jadi ngga inget gimana ruika bisa akrab sama myuto ya 😂😂 kudu baca lagi dari awal kaya’nya 😂😂 tapi chemistry’nya cukup oke sih.. jadian gih.. 🙈 *dibuang* terus itu maksudnya mereka berdua meetinh internal itu sesi galaw apa ya.. 🙈🙈 *dibuang lagi*
    Terus aku suka chemistry’nya aika aran juga wahaha.. semacam mereka itu saling ngga ada rasa, tapi juga saling butuh wahaha 🙈 tapi dibilang temen juga engga.. complicated yg main hati (?)
    Terus Aoiiiiii 😭😭😭 *pukpuk* menangislah sampe puas……. setelah itu berdiri dan berjalan lagi.. 😢 ganbare ❤
    Betewe kok tadi aku jahat ya nyuruh ruika myuto jadian 😂 padahal mestinya ruika dan shoki saling berjuang ya.. sayang toh udah tunangan juga tinggal nikah 😢 tapi memang sih hukum kehidupan, ketika seseorang menemukan belahan jiwanya, mau tidak mau mestinya sahabat lawan jenisnya harus tahu posisi 😢 karena akibatnya ya gitu deh 😢
    EH HAGI EH TERTARIK SAMA HAZUKI HWAAA…. jadi penasaran 🙈
    AHAJJSJDYFHDJFKKDJDVDSMDKHD NAJSJSBBXJKSJSHDDDK DJJDJX SKJXJDJDNZDJ  *pasti tahu ini kenapa*
    Oh my heart 😍😍😍😍😍😍😍

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s