[Minichapter] Servant of Evil part 4

Servant of Evil cover

 

SERVANT OF EVIL

Author: yamariena/Arina

Genre: family, drama, fantasy

Rating: PG-17

Main Cast: Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Yamamoto Mizuki

Support: Inoo Kei, Chinen Yuri (Hey!Say!JUMP); Taira Yuna

“Arina-san,”

Arina tersenyum memandang sang reader yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarnya dengan menggemaskan. Gadis itu berjalan mendekati sang reader.

“Aku tau apa yang kau ingingkan. Jadi, ayo sekarang kita ke kamarmu!”

Sang reader tersenyum dan berlari terlebih dahulu menuju kamarnya sendiri lalu naik ke atas tempat tidur. Arina membantu sang reader dengan selimutnya. Gadis itu lalu mengambil tempat duduk seperti biasa, di sisi sang reader.

“Baiklah… kita lanjutkan ceritanya…”

=*=

(Rumah-rumah bersatu dalam abu

Banyak kehidupan seketika terenggut

Teriakan pilu dari rakyat yang putus asa

Diabaikan begitu saja oleh sang Ratu)

=*=

“Perajurit kanan pergi ke timur, Prajurit kiri ke barat, dan sisanya ikut aku!”

Setelah perintah diberikan, kuda-kuda para prajurit pun memacu membelah malam. Prajurit Kerajaan Selatan bertemankan obor memasuki Kerajaan Barat dari tiga penjuru. Di garis depan, terdapat seorang ksatria bertopeng yang menjadi Jendral dari penyerangan tersebut.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara jeritan dari beberapa penjuru. Cahaya jingga dan asap kelabu mulai mewarnai kegelapan malam dari setiap penjuru seiring dengan derap langkah kuda yang terpacu menuju Utara.

“Cari sang Putri Yuna!” satu kalimat itu berputar di kepala sang ksatria bertopeng.

Hingga mereka tiba tepat di gerbang utama Istana Kerajaan Barat. Sang ksatria bertopeng lalu mengeluarkan pedangnya dan mulai menyayat siapapun yang menghalangi jalannya. Tidak ada satupun prajurit Kerajaan Barat yang selamat saat berhadapan dengan sang ksatria bertopeng yang memaksa masuk ke dalam Istana.

Seiring langkahnya masuk, prajurit terus menghadang namun ayunan pedang sang ksatria bertopeng terlalu cepat untuk mereka tangkis. Anyir darah mewarnai pekatnya malam itu di Kerajaan Barat. Sang ksatria bertopeng terus masuk ke dalam Istana, menjelajah setiap sudut mencari sosok Putri Kerajaan.

Hingga tiba sang ksatria di menara tertinggi Istana itu. Kini sang ksatria bertopeng tiba tepat di depan sebuah kamar dan dalam sedetik kamar itu pun terbuka.

Seorang gadis bersurai legam berdiri tepat di hadapannya kini. Gadis itu memandang lurus pada sang ksatria bertopeng dengan tatapan terkejut. Namun sang ksatria seakan telah membekukan hatinya. Sang ksatria lalu mengarahkan pedangnya pada sang gadis dan berhenti tepat di samping leher sang gadis.

“Kau… bukankan pelayan yang ku temui di Kerajaan Utara?” sang Putri bersuara dengan tenang.

Sang ksatria memuji sikap sang putri saat itu. Meski di keadaan genting seperti ini pun, sang gadis tidak terlihat ketakutan sama sekali.

“Aku ingin kau ikut denganku ke halaman sekarang!” seru sang ksatria datar.

Sang putri tersenyum, menyisipkan helaian rambutnya ke belakang telinga dan menatap sang ksatria dengan lurus.

“Bagaimana jika aku menolak?” seru sang Putri.

“Aku tetap akan membawamu!” sang ksatria lalu berajalan ke punggung sang Putri.

Putri bersurai legam itu terlihat tidak melawan sama sekali. Sang ksatria lalu mengikat tangan sang Putri lalu membawanya bersama turun hingga ke halaman Istana.

Sang Putri tidak hentinya memandang pada sang ksatria bertopeng dan tangannya yang bergetar memegang tubuh sang Putri agar tidak kabur.

Sang Putri teringat akan ucapan kekasihnya akan kerajaan Selatan. Meski belum pasti, tetapi kekasihnya sang Pangeran Utara berujar jika Ratu kerajaan Selatan dan sang pelayan pribadi memiliki wajah yang serupa. Besar kemungkinan mereka adalah saudara kembar. Apakah…

“Apakah ini perintah sang Ratu kerajaan Selatan, saudari kembarmu?” sang ksatria menghentikan langkahnya seketika.

Kepalanya langsung menoleh pada sang Putri yang juga tengah menatap padanya. Seulas senyuman lembut kembali terbit di wajah sang putri, seakan senang bahwa tebakannya memang benar. Kekasihnya juga benar.

“Bagaimana mungkin saudara dari sang Ratu berakhir menjadi seorang pelayan? Apakah wajahmu cacat atau semacamnya hingga kau di buang dari istana?” tanya sang Putri bersurai legam.

“Banyak hal yang terjadi, terutama saat takdir bermain dengan kehidupan. Kau tidak akan mengerti.” Ucap sang ksatria bertopeng.

“Apakah penyerangan ini adalah perintah dari sang Ratu?” Putri itu kembali bertanya.

Sang ksatria mengalihkan tatapannya ke depan dan mulai membawa sang Putri kembali berjalan menuruni menara, namun Ia tetap menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban samar.

“Bagi seorang pelayan, sumpah setia pada tuannya adalah hal yang terpenting melebihi hidupnya sendiri. Dan bagi seorang saudara, senyuman sang saudari adalah segalanya.”

Sang putri tersenyum miris mendengar jawaban sang ksatria bertopeng. “Saat yang terkasih berada di dekatnya, mampu mengorbankan apapun bahkan nyawanya sendiri. Tetapi sang Ratu seakan buta hatinya hingga Ia memaksa yang terkasih menyerahkan diri pada Iblis.” Seru sang Putri lagi. “Sepertinya sang Ratu masih belum tau bahwa kau adalah saudaranya, ksatria bertopeng.”

Keheningan kembali menyapa keduanya seiring langkah kaki mereka menuruni satu per satu anak tangga. Sesaat kemudian mereka tiba di halaman Istana yang sudah penuh oleh beberapa anggota kerajaan yang lain.

Sang Putri bersurai legam memandang sedih tubuh kedua orang tuanya yang sudah terbaring tak bernyawa di hadapannya. Beberapa pelayan kepercayaannya juga terlihat menangis sembari menunggu sang maut menjemput.

Sang Putri kini dipaksa untuk berlutut di halaman, berhadapan langsung dengan sang ksatria bertopeng yang kembali mengacungkan pedang di lehernya. Sang Putri mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada sang ksatria.

Tertegun.

Sang Putri dapat melihat dengan jelas bulir Kristal itu jatuh dari kelopak mata sang ksatria di hadapannya. Sang Putri tersenyum dan menggeleng pelan. Seakan berkata pada sang ksatria untuk tidak menangis.

“Putri Yuna dari Kerajaan Barat, atas nama Ratu Mizuki dari Kerajaan Selatan aku mengambil nyawamu!”

Sang Putri bersurai legam itu memejamkan matanya dan menunduk. Sedetik kemudian, terdengar suara pedang beradu menembus daging. Darah segar membasahi gaun hijau sang Putri. Sang ksatria berlutut lalu mendekap tubuh sang Putri dan berbisik di telinganya.

“Beristirahatlah dalam damai, Putri. Mohon jangan pernah memafkan perbuatanku!”

Lalu sang ksatria menarik kembali pedangnya. Tubuh sang putri pun luruh dan jatuh di tanah. Sang ksatria bertopeng perlahan berdiri dan mengangkat pedangnya ke atas. Lalu terdengar sorakan kegembiraan atas kemenangan dari prajurit di sekelilingnya. Kontras dengan sang ksatria yang hanya diam di tempatnya memandang lurus tepat pada tubuh sang Putri yang sudah dia Ia hilangkan. Bulir-bulir Kristal luruh jatuh dari kelopak matanya.

Sang ksatria menangis dalam diam.

=*=

(Namun jika inilah keinginan sang Ratu

agar gadis itu menghilang dari dunia ini

Maka aku akan mengabulkannya

Tetapi mengapa air mata ini tak berhenti)

=*=

Pusara pualam menjadi saksi dalam kebisuan, sumpah seorang ksatria berzirah merah dalam hening. Sebuket lily putih di letakkan diatas pusara pualam. Miki. Satu nama tertulis diatas pusara pualam tersebut.

Sang ksatria berzirah merah lalu bangkit dari posisinya berlutut di depan pusara. Mengayunkan langkah dengan tangan menggenggam erat pedang yang masih setia dalam sarungnya dan tersampir di pinggang sang ksatria. Terlalu kuat hingga buku tangannya memutih.

Langkahnya terhenti tatkala bertemu dengan seorang berzirah biru yang juga baru bangkit setelah berlutut di depan sebuah pusara pualam putih, lebih besar dan lebih indah dari pusara yang baru saja Ia kunjungi. Yuna, adalah nama yang tertulis diatas sebuah kalimat sederhana.

Incentem in stagulum pace” (latin: terbaring diselimuti kedamaian)

Sang pemuda berzirah merah membungkuk singkat di hadapan pusara putih dan memberikan sebuah penghormatan.

“Yuri,” panggil sang pemuda berzirah biru pada ksatria merah.

Kedua saling bertatapan dan Yuri memberikan anggukan singkat pada sang pemuda berzirah biru, “Semua sudah saya siapkan, Yang Mulia. Tiga battalion prajurit siap untuk bertempur dibawah perintah anda!” ujarnya.

Pemuda berzirah biru mengangguk lalu berjalan lebih dulu di hadapan sang ksatria merah. “Kita berangkat menuju Kerajaan Selatan!”

Ksatria merah dapat melihat buku jari sang Pangeran juga memutih karena menggenggam pedangnya terlalu erat. Mereka diliputi kekesalan, dikuasai oleh amarah tentu saja. Dua orang terpenting bagi mereka berdua dirampas begitu saja oleh seorang Ratu tiran dalam waktu satu malam. Seperti kata mereka, satu mata untuk satu mata.

Rakyat tak bersalah yang menjadi korban oleh keinginan egois sang Ratu, akankah sang Ratu akan membayarnya dengan harga yang sama?

Sang ksatria merah lalu teringat akan satu sajak kuno yang pernah diajarkan oleh gurunya,

…Næs hie ðære manfordædlan symbel ymbsæton ac on mergenne be yðlafe sweordum aswefede ymb brontne lade ne letton. Beorht beacen godes… (Old English Poem: Beowulf 562-570a)

“Those sinful creatures had no fill of rejoicing that they consumed me, assembled at feast at the sea bottom; rather, in the morning, wounded by blades they lay up on the shore, put to sleep by swords,
so that never after did they hinder sailors
in their course on the sea. The light came from the east, the bright beacon of God.”

=*=

“Sebagai pendamping teh sore ini, sudah saya siapkan Brioche, Yang Mulia.” Hikaru meletakkan sepiring tepat di hadapan sang Ratu.

Senyuman polos sang Ratu kembali pada akhirnya.

Malam itu Hikaru pulang bersama prajurit yang tersisa ke kerajaan, sang Ratu menyambutnya. Hikaru menyerahkan lambang kehormatan kerajaan yang ada di gaun Putri pada sang Ratu. Tentu saja senyuman kembali terbit di wajah sang Ratu yang langsung memeluknya dengan erat.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, saudarinya memeluknya.

Seharusnya Ia bahagia. Seharusnya Ia senang. Saudarinya memeluknya saat itu.

Tetapi entah kenapa yang Ia rasakan justru rasa sakit. Seolah hatinya ingin meledak saat itu juga. Terlalu sakit seakan mencengkram dirinya dari dalam.

Sejak itu, sang Ratu kembali pada sosoknya yang biasa. Tersenyum, tertawa, memerintah kerajaan seperti biasa. Para menteri tidak tau diri itu kembali memanfaatkan Ratunya seperti biasa.

Hanya Hikaru yang sedikit berbeda. Saat senyum di wajah saudarinya kembali, justru senyum di wajahnya lah yang menghilang. Sang pelayan terlihat semakin menyeramkan dibanding biasanya. Bahkan para prajurit terlihat tidak ingin dekat-dekat dengan sang pelayan yang berada dalam kondisi hati tidak baik itu.

“Hikaru? Kenapa kau terlihat murung?” Hikaru tersadarkan oleh panggilan sang Ratu padanya.

Pemuda itu mengangkat kepalanya dan buru-buru menggeleng dan tersenyum tipis. Melihat sang pelayan tersenyum, sang Ratu ikut tersenyum sambil menyesap teh sorenya.

“Yang Mulia ingin saya buatkan apa untuk makan malam nanti?” tanya Hikaru.

“Kau ingin membuatkan ku makan malam?” sang Ratu terlihat tertarik setelah mendengar pertanyaan Hikaru padanya.

Sang pelayan mengangguk. Sang Ratu terlihat sumringah dan mulai memikirkan sesuatu, “Hem… bagaimana jika daging panggang?” ujar sang Ratu.

“Eh? Hanya daging panggang?” sang Ratu mengangguk dengan antusias.

“Aku sangat suka daging, terutama daging panggang. Bagaimana? Kau bisa membuatkan daging panggang yang sangat lezat untukku?”

Hikaru menunduk dengan sopan, “Titahmu adalah kewajiban bagiku, Yang Mulia.” Serunya.

Tiba-tiba saja pintu kamar sang Ratu terbuka tanpa izin. Dua pasang mata yang ada di dalam memandang terkejut kearah pintu masuk.

“Lancang sekali kau masuk tanpa izin!” hardik sang Ratu tidak suka.

Prajurit itu lalu buru-buru menunduk tepat di depan kaki sang Ratu dan Hikaru, “Ampuni ketidaksopanan saya, Yang Mulia. Tetapi ada berita penting yang harus segera saya sampaikan.” ujar prajurit itu.

“Bicaralah,” titah Hikaru langsung.

Prajurit tersebut mengangkat kepalanya pada Hikaru dan memandang pemuda itu dengan raut kecemasan, “Maafkan saya, tetapi… perbatasan kerajaan sedang di serang. Dipimpin langsung oleh pangeran Kerajaan Utara yang membawa serta 7 battalion prajurit baik dari kerajaan Utara maupun kerajaan sekutu!”

Baik Hikaru maupun sang Ratu terkejut mendengar berita tersebut. Sang Ratu terenyak di tempatnya. Tubuh gadis itu mendadak menggigil luar biasa. Sang Ratu memeluk dirinya sendiri dan memeluk tubuhnya dengan erat dan menggumam kalimat yang sama.

“Aku tidak salah… mereka yang salah… semua bukan salahku!”

“Yang Mulia!” Hikaru menyentuh pundak sang Ratu dan memanggilnya dengan keras.

Sang Ratu mengangkat kepalanya. Hati Hikaru mencelos tatkala melihat tatapan nanar itu tertuju padanya.

“Yang Mulia tenang saja, saya akan melakukan sesuatu untuk menahan mereka. Kupastikan tidak akan ada apapun yang terjadi padamu, Yang Mulia!” seru Hikaru.

 

(Tidak lama lagi negeri akan segera berakhir

Akan jatuh di tangan rakyat yang murka

Mereka bilang inilah hukuman yang setimpal

Biarlah aku yang menanggung beban tersebut untukmu)

 

Pemuda itu lalu beralih pada si prajurit. Keduanya segera berlari keluar dari kamar Ratu menuju ruang prajurit kerajaan yang tersisa. Sang prajurit yang tadi bersamanya langsung menjelaskan gambaran pergerakan musuh yang sudah Ia dapatkan.

Hikaru mendengarkan sambil berpikir sebuah siasat. Tiba-tiba Ia menyadari sesuatu yang ganjil di ruangan tersebut. pemuda itu melihat ke sekeliling, memandang satu persatu para prajurit yang ada di ruangan itu dan akhirnya menyadari keganjilan yang Ia rasakan.

“Dimana Sekretaris Kerajaan dan para Menteri?” tanya Hikaru.

Para prajurit terlihat saling berpandangan dalam bingung, namun prajurit yang tadi memanggil Hikaru berdehem dan membuat perhatian semuanya tertuju pada dirinya.

“Mereka semua ketakutan dan telah melarikan diri terlebih dahulu.” Serunya.

Hikaru menggeram dengan kesal. Bagaimana mungkin para pria itu justru lari dari tanggung jawabnya disaat genting seperti ini? lalu dengan egoisnya pergi menyelamatkan diri sendiri.

“Seharusnya sudah sejak lama mereka diberi pelajaran!” desis Hikaru.

Pemuda itu lalu memandang ke perkamen yang terbentang diatas meja. Hikaru lalu mulai menjelaskan taktik yang terpikirkan olehnya dalam waktu singkat tadi. Hanya strategi pengamanan diri seadanya, dengan jumlah prajurit seadanya.

“dan siapa namamu?” tanya Hikaru pada prajurit tersebut.

“Ryosuke, tuan!” jawabnya.

Hikaru mengangguk dan menepuk pundak prajurit tersebut, “Aku serahkan komando strategi ini padamu. Aku akan mengurus sesuatu yang lebih penting, terutama mengamankan posisi Yang Mulia Ratu!”

“Baik, tuan! Saya laksanakan!” ucap prajurit tersebut.

Setelahnya Hikaru segera berlari dari tempat itu, masuk kembali ke dalam kastil. Tetapi kali ini pemuda itu tidak pergi ke menara tempat peraduan sang Ratu berada. Hikaru berlari kearah sebaliknya, menuju kediaman para pengkhianat.

Hikaru mengeluarkan pedang dari sarung di pinggangnya. Dengan kasar pemuda itu membuka satu persatu pintu kamar tempat sang menteri itu tinggal.

“A… apa yang k-kau l-laku-kan d-disini?!” Hikaru menggeram saat melihat seorang menteri sedang memasukkan harta benda yang Ia dapat dari istana ke dalam sebuah tas, lalu terlihat terkejut menyadari sosok Hikaru masuk ke kamarnya.

Tatapan Hikaru berubah menjadi dingin. Bagaikan angin, sang ksatria kini sudah berada tepat di hadapan si menteri. Bilah tajam pedangnya tersampir tepat di leher pria itu. Hanya satu gerakan kecil, sebuah sayatan akan terbuat jelas disana.

“Kau ingin kabur dengan harta kerajaan? Kau pikir aku akan membiarkannya begitu saja?” dan dalam satu gerakan sayatan itupun terbuat.

Pria itu lalu ambruk di lantai sambil mengejang, darah segar menyembur dari bekas sayatan di lehernya. Memutus dengan tepat pembuluh darah pria itu, dan detik berikutnya pria itupun sudah kehilangan nyawanya.

“Seharusnya dari dulu ku lakukan ini!” Hikaru berjalan keluar dari kamar itu dan menuju pintu lain.

Terdengar jeritan dari beberapa kamar saat Hikaru melakukan hal yang sama, namun tidak sedikit juga dari mereka berusaha melawannya. Tetapi sia-sia saja. Hikaru dengan mudanya mengenai titik vital mereka dan segera setelah itu mereka pun kehilangan nyawa.

Terutama saat ini,

Sosok tubuh Sekretaris Kerajaan ambruk tepat dibawah kaki Hikaru. Pria itu menggeleng ketakutan berhadapan dengan sorot mata dingin yang dimiliki sang malaikat pencabut nyawa di hadapannya saat ini.

Gumaman meminta pengampunan terus terucap dari bibirnya tatkala bilah tajam itu semakin dekat pada tubuhnya.

“Ampuni aku, aku akan melakukan apapun tetapi tolong jangan membunuhku!”

“Begitukah?” tanya Hikaru dan disambut dengan anggukan bersama raut wajah ketakutan dari sosok tak berdaya tersebut. “Lalu, bagaimana dengan wanita tak berdaya yang kau bunuh meskipun Ia tetap meminta pengampunan? Meskipun Ia sedang kesakitan karena dipaksa bergerak padahal baru saja melahirkan?” tanya Hikaru dingin.

Mata sang pria membulat terkejut. Tidak percaya jika pemuda di hadapannya ini membawa kembali kenangan silam dimana Ia dan beberapa menteri melakukan kudeta pada kerajan. Membunuh keluarga kerajaan dan menyisakan sang bayi perempuan yang mereka didik dan manfaatkan ketika dewasa.

“S-s-s-siapa k-k-kau?”

Hikaru memiringkan bibirnya dan memandang lurus pada pria itu.

“Taukah kau bahwa sebenarnya Ratu saat itu melahirkan sepasang anak kembar? Sang Putra yang lahir kemudian dibawa oleh pelayan setia sang Ratu yang menyaksikan saat majikannya dibunuh dengan keji tepat di depan matanya?” Hikaru lalu menghunuskan pedangnya tepat di jantung pria itu yang memandangnya dengan terkejut. Namun pemuda itu hanya memandang datar pada sosok itu dan berucap kemudian, “Benar, akulah anak laki-laki itu, saudara kembar Ratu boneka kesayangan kalian.”

Hikaru lalu menarik pedangnya dengan cepat dan detik itu juga sang Sekretaris Kerajaan menghembuskan nafas terakhirnya.

Ding! Dong! Ding! Dong!

Hikaru melirik melalui jendela kamar pada pemandangan kota sana. Dentang lonceng berbunyi yang menandakan hari beranjak malam telah berbunyi. Namun kali ini bunyi itu juga menjadi sebuah pertanda kegaduhan yang sedang terjadi.

Pintu masuk Kota kini sudah di trobos. Dalam hitungan beberapa menit saja, pasukan itu akan segera menyerang ke dalam Istana.

Hikaru lalu berjalan keluar dari kamar tersebut. Berjalan menuju kamarnya dan mengambil sepasang pakaian ganti dan sebuah jubah dari sana. Lalu perlahan pemuda itu berjalan menuju peraduang sang Ratu di menara tertinggi.

“Yang Mulia,” panggilnya saat masuk ke dalam ruangan tersebut.

Namun sosok yang dipanggilnya tidak terlihat dimanapun. Hikaru mencari ke setiap sudut kamar dan mendapati sosok itu sedang duduk meringkuk di sattu sudut kamar dan memeluk dirinya sendiri dengan ketakutan. Perlahan pemuda itu berjalan menghampirinya.

“Yang Mulia,”

“Tidak! Aku tidak salah… yang salah mereka! Mereka yang mengakibatkan ini…” gadis itu masih bergumam dengan ketakutan.

“Yang Mulia?”

“Hikaru!” gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap Hikaru dengan nanar, “Mereka yang salah, bukan? Mereka yang membuatku memilih jalan ini. Jika saja Pangeran Kei tidak memilihnya. Pangeran itu bukan yang sudah membuatku jadi seperti ini?! Ini salahnya!”

“Yang Mulia, tenangkan dirimu!” Hikaru berlutu pada ke dua kakinya dan menyentuh pundak sang Ratu.

“Benar! Pangeran itu yang salah. Karena dia aku terpaksa memilih jalan ini. Karena dia aku harus menghabisi Putri itu. Pangeran itu yang membuat aku melakukannya!”

“MIZUKI!” sang Ratu terdiam saat mendengar namanya dipanggil dengan nada tinggi oleh pemuda disampingnya.

Hikaru lalu meletakkan kedua tangannya di pipi gadis itu, dan menatap matanya dengan lurus.

“Tidak akan terjadi apapun denganmu. Ku pastikan mereka tidak akan bisa menyentuhmu sama sekali. Aku sudah berjanji bukan bahwa aku akan selalu melindungimu?” Hikaru dapat melihat airmata luruh di pelupuk mata gadis itu.

Hikaru mengusapnya dengan kedua jempolnya dan tersenyum menenangkan. Pemuda itu lalu meletakkan pakaian yang tadi Ia ambil di kamarnya ke pangkuan sang Ratu.

“Segera ganti pakaianmu dengan ini. Sudah tidak ada waktu lagi. Lakukan saja karena hanya ini caranya agar kau bisa selamat.” Hikaru lalu menarik tangan gadis itu dan membawanya ke kamar ganti.

Saat gadis itu sedang berganti pakaian, Hikaru berjalan menuju lemari pakaian sang Ratu lalu mengambil sebuah pakaian dari sana. Pemuda itupun ikut berganti dengan pakaian yang barusaja Ia ambil dari sana.

 

(“Gantilah pakaianmu dengan pakaianku,

Lakukanlah lalu segera pergi dari sini.

Jangan khawatir karena kita sang kembar.

Takkan ada satupun yang menyadarinya”)

 

Beberapa saat kemudian. Mizuki keluar dari kamar ganti, sudah berganti dengan pakaian yang diberikan oleh Hikaru padanya. Namun matanya melebar tatkala melihat sesosok bertopeng mengenakan gaunnya di dalam kamar.

“Hi…karu?” si Pemuda berbalik dan tersenyum saat melihat rupa gadis itu sekarang.

Perlahan pemuda itu mendekat, menarik Mizuki mendekat padanya. Lalu menarik gadis itu ke dekat perapian kamar. Hikaru mendekatkan telinganya sambil meraba dinding dari perapian tersebut.

“Kalau tidak salah……… ah, disini!” Hikaru lalu menekan satu bata di dinding tersebut dan langsung masuk ke dalam dinding.

Lalu sebuah tuas terlihat disana. Hikaru memutarnya dan kini terlihatlah sebuah pintu rahasia. Pemuda itu menoleh pada sosok Mizuki yang masih diam ditempatnya seolah takjub dengan apa yang sedang dilakukan pemuda itu.

“Masuklah ke dalam. Tempat ini langsung terhubung dengan bagian belakang Istana, tepat dekat pintu keluar di belakang. Kau akan selamat,” seru Hikaru.

“Eh? Bagaimana kau tau?” Hikaru terdiam sesaat.

Maniknya terpaku tepat pada wajah Mizuki yang juga sedang memandang lurus kepadanya.

“Aku pernah mendengarnya dari seseorang.” Ucap Hikaru, “Sekarang, pergilah. Selamatkan dirimu secepatnya, sebelum mereka masuk ke dalam Istana.” Lanjut pemuda itu lagi.

“Lalu kau bagaimana? Apa… apa kau bermaksud menyamar menjadi diriku?” Hikaru tidak menggeleng ataupun mengangguk. Tetapi Mizuki tau bahwa pemuda tersebut bermaksud melakukannya. “Jangan bodoh Hikaru! Tidak mungkin mereka tidak menyadarinya bahwa kau bukan diriku!!”

“Yang Mulia, ingin mendengar satu cerita?” Mizuki terdiam di tempatnya. Sesaat merasa keheranan dengan sikap tenang yang sedang ditunjukkan pemuda bertopeng itu padanya.

“Pada suatu malam, ada seorang Ratu yang melahirkan pewaris tahta bagi kerajaannya. Malang tak terelak, malam itu kerjaan mendapatkan serangan kudeta dari menterinya sendiri. Sang Raja terpaksa harus meninggalkan Ratu dan putri pertama mereka demi menyelamatkan istana. Tetapi siapa sangka, sang Ratu kembali berteriak dan melahirkan putranya beberapa saat setelah sang Raja pergi dari kamar. Benar. Ratu itu melahirkan sepasang pewaris kembar.”

Hikaru tersenyum sendu, mengangkat tangannya ke belakang kepalanya dan melepas ikatan pada topengnya. Benda itu pun dibuka. Untuk pertama kalinya, Mizuki dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa di balik topeng tersebut. Tanpa sadar, tangan sang Ratu terangkat ke mulutnya sendiri dan bulir-bulir bening mulai menggenangi pelupuk matanya.

“Meski baru saja melahirkan, sang Ratu terpaksa dibawa melalui jalan rahasia di kamar demi menyelamatkan diri. Tetapi beliau hanya sanggup berjalan hingga di hutan belakang istana. Sang Ratu pun beristirahat sambil menggendong putrinya di balik pepohonan, sedangkan sang pelayan sambil menggendong bayi satunya ingin mencari pertolongan untuk sang Ratu. Sayang, takdir berkata lain. Para pengkhianat menemukan sosok sang Ratu dan langsung menghabisi nyawanya saat itu juga. Namun memaafkan sosok sang bayi perempuan mungil yang berada dalam dekapan sang Ratu dan memutuskan untuk merawatnya, menjadikannya seorang pewaris dari kerajaannya sendiri dengan dibayangi oleh perintah sang pengkhianat yang mencari keuntungan.”

Hikaru menarik nafas panjang. Satu tangannya meraih wajah Mizuki dan membelainya dengan lembut.

“H…hika…ru” isak Mizuki seketika.

Tiba-tiba terdengar teriakan dan seruan dari sekeliling istana. Hikaru tersenyum sekali lagi pada Mizuki yang menatapnya nanar. Kepala gadis itu menggeleng kuat seakan tau apa yang akan dilakukan Hikaru saat itu juga.

“Larilah!” Dalam sekejap pemuda itu mendorong Mizuki masuk ke dalam jalan rahasia tersebut lalu langsung menutup tempat itu kembali.

Mengabaikan teriakan Mizuki yang panik dan terus meminta agar Hikaru membuka kembali pintu tersebut.

“Mizuki, cepat pergi dari sana!! Larilah secepat yang kau bisa!!” ujar Hikaru dari balik dinding.

“Hikaru! Mari pergi bersama! Ayo kita lari bersama-sama!!” Hikaru masih ditempatnya, menyentuh tembok yang kini memisahkan dirinya dan saudarinya.

“Jangan bergerak dan menyerahlah, Ratu Mizuki!!” Pintu kamar pun terbuka paksa. Hikaru masih dengan posisi membelakangi, menegakkan punggungnya seketika.

Dua orang pemuda dengan zirah perang berwarna biru dan merah mengacungkan pedang pada Hikaru yang berdiri dengan tenang di tempatnya.

“Ratu tiran. Kerajaanmu telah jatuh, seluruh prajurit telah gugur. Menyerahlah!” seru pemuda dengan zirah merah.

Hikaru membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan mereka berdua. Tidak terlihat sama sekali raut ketakutan dimatanya. Pemuda dengan zirah biru menyerit memandang sosok di hadapannya saat ini. Sosok dengan rupa yang sama dengan yang pernah Ia temui, namun entah mengapa Ia merasa asing.

“Berapa harga nyawa dan kerajaanku untukmu, wahai pangeran?” tanya Hikaru kemudian.

“Hahaha… lucu sekali. Apa kau berniat meminta pembelaan? Setelah yang kau lakukan pada Kerajaan Barat?!” sang pemuda berzirah merah terlihat menggeram dan memandang Hikaru dengan ganas.

Pemuda berzirah biru yang tak lain adalah Pangeran Kei terkejut mendengar suara yang keluar dari sosok itu. Suaranya hampir mirip dengan gadis yang terakhir kali Ia temui malam itu, hampir tetapi tidak sama. Suara sosok yang sedang berada di hadapannya ini sedikit berat, seperti suara…… laki-laki?

KEMBAR?!

Benar!! Bukankah sang Ratu dan pelayannya kembar?!

“Apa aku tidak bisa meminta sedikit pembelaan atas nama para rakyatku, Pangeran?” Hikaru bertanya dengan tenang.

“Ck..” Yuri, sang pemuda berzirah merah itu berdecak dengan kesal. Kakinya melangkah semakin dekat dan meletakkan pedangnya tepat di leher Hikaru yang sama sekali tidak terlihat gentar di tempatnya.

“Kau sendiri?! Apa kau memikirkan para rakyat tidak bersalah di Kerajaan Barat saat kau memerintahkan penyerbuan itu?! Bukankah kau hampir membumi hanguskan seluruh Kerajaan Barat?!” serunya geram.

“Yuri! Tenanglah!” Pangeran Kei menyentuh pundak sang pemuda berzirah merah. Matanya memandang lurus pada sosok di depannya yang juga sedang menoleh padanya. “Apa yang kau inginkan?” tanyanya.

“Pangeran! Kenapa…” Pangeran Kei memberi isyarat pada Yuri untuk berhenti.

“Hentikan eksekusi pada rakyat kerajaan Selatan. Sebagai gantinya kau bisa mengambil nyawaku juga pemerintahan seluruh negeri ini.” ucap Hikaru.

“Aku memang berniat untuk mengambil nyawa orang yang bertanggung jawab akan insiden di Kerajaaan Barat. Tapi sepertinya orang itu bukanlah dirimu, aku benar bukan?”

Hikaru menipiskan bibirnya, seakan ketenangannya tidak terganggu sama sekali dengan pertanyaan pemuda itu padanya.

“Anda bicara apa tepatnya, Yang Mulia Pangeran?”

“Ratu Kerajaan Selatan bukankan terlahir sebagai anak kem….”

“Aku adalah Penguasa dari Kerajaan Selatan ini!!” Hikaru langsung memotong kata-kata dari Pangeran Kei sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan kalimatnya dan menyebutkan kenyataan kelahirannya. “Pewaris dari Kerajaan Selatan ini, penyebab terjadi insiden dan yang sepenuhnya bertanggung jawab akan semua yang terjadi di Kerajaan Barat adalah aku. Apalagi yang kau ragukan Yang Mulia Pangeran?!”

Keduanya saling bertukar tatapan, seakan Hikaru memberikan isyarat agar sang Pangeran menghentikan apapun yang sedang berkecamuk dalam hatinya, memberi isyarat agar sang Pangeran tidak mengungkit lagi akan kenyataan akan kelahiran yang sebenarnya. Karena jika itu terjadi, maka sia-sia saja semuanya. Mizuki tidak akan selamat.

“Pangeran,” panggil Yuri yang masih keheranan dengan perubahan sikap pada Pangeran Kei.

Pangeran itu menghela nafas dan mendengus sinis, “Yuri, bawa dia ke penjara dan kurung dia. Besok Ia akan di eksekusi tepat di depan rakyatnya sendiri!”

“Tapi, Yang Mulia. Kenapa tidak di lakukan saja saat ini juga?!” Yuri sedikit tidak terima dengan keputusan dari Pangeran berzirah biru itu. Tentu saja, rakyat di Kerajaan Barat langsung di eksekusi di tempat oleh sang iblis, kenapa mereka harus menunggu hingga esok hari.

“Lalu apa bedanya kita dengan mereka jika kita melakukan hal yang sama?” seru Pangeran Kei lagi, “Rakyatnya setidaknya berhak tau apa alasan semua ini terjadi pada kerajaan mereka. Para rakyat negeri ini bisa melihat apa yang dilakukan oleh penguasa mereka.”

Pangeran Kei lalu melangkah keluar dari kamar itu. Yuri menghela nafas lalu menurunkan pedangnya. Mengikat lengan Hikaru tanpa perlawanan sedikit pun yang Ia berikan, lalu membawanya ke penjara bawah tanah.

Hikaru hanya menurut dan mengeraskan hatinya saat melihat hampir seluruh penghuni dari Istana yang Ia kenal sudah tergeletak, mengorbankan nyawa mereka untuk mengamankan kastil itu. Termasuk prajurit yang tadi Ia beri mandat untuk menggantikannya memimpin pasukan.

 

(Akulah sang Putri dan engkau sang buruan

Sepasang kembar malang yang dipisahkan oleh takdir

Jika mereka memanggilmu ‘sang tiran’

Aku juga menanggungnya karena kita berbagi darah yang sama)

=*=

 

“Hiks… hiks…”

Arina menoleh kesamping dan mendapati sang reader sudah berlinang air mata. Gadis itu tersenyum dan mengusap pipi sang reader kecil.

“Hee? Kenapa menangis reader kesayanganku?” seru Arina.

“Aku tidak suka. Kenapa Hikaru harus mengorbankan dirinya sendiri untuk Mizuki? Padahal Mizuki sudah begitu jahat padanya.” tanya sang reader kecil.

Arina tersenyum dan membawa sang reader ke dekapannya, “Euhm… mungkin karena Hikaru sangat mencintai Mizuki, satu-satunya keluarga yang masih Ia miliki di dunia ini. Bukankah cinta sejati itu seperti itu, rela melakukan apa saja untuk orang yang dicintai meski harus mengorbankan dirinya sendiri?”

“Lalu bagaimana dengan Mizuki? Apakah dia akan melakukan hal yang sama untuk Hikaru?”

Arina mencubit gemas hidung sang reader, “Bagaimana jika kita menyimpan jawabannya untuk lain hari?”

“Arina curaaaannngg~ selalu saja membuatku penasaran seperti ini.” Arina tertawa melihat sang reader yang mengerucutkan bibirnya dengan kesal.

“Sudah, sudah. Malam sudah semakin larut dan sudah saatnya tidur.” Arina lalu bangkit dan merapikan selimut sang reader. Gadis itu lalu berjalan ke dekat pintu dan menggelapkan kamar sang reader agar Ia bisa tidur. “Mimpi indah, reader kesayanganku!”

=*=

Bersambung…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s