[Minichapter] Servant of Evil Last part

Servant of Evil cover

 

SERVANT OF EVIL

Author: yamariena/Arina

Genre: family, drama, fantasy, angst

Rating: PG-17

Main Cast: Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Yamamoto Mizuki

Support: Inoo Kei, Chinen Yuri (Hey!Say!JUMP)

BACKSOUND

“Arina-san, kau sedang apa?”

Arina tersenyum sambil melepas headphone dari kepalanya lalu menoleh pada sang reader yang memandangnya dengan penasaran.

“Aku sedang mengunduh lagu yang akan mengiringi ceritaku untukmu.” Ucap Arina.

Sang reader memiringkan kepalanya sejenak, “Cerita? Apa cerita tentang Ratu kembar itu?” tanyanya dengan tatapan yang berbinar.

Arina mengangguk dan tertawa kecil saat Ia melihat reader kecil yang melompat dengan riang.

“Nah, sekarang naik ke tempat tidur. Aku akan memutar lagunya dan melanjutkan cerita waktu itu.” ujar Arina.

Sang Reader menurut dan naik ke tempat tidur. Arina menekan tombol putar dan mengaturnya agar mengulang lagu yang sama setelahnya.

“Judul lagunya apa, Arina-san?” tanya sang reader dengan penasaran.

“hem? Judul lagunya… Daughter of Evil, Servant of Evil, dan Regret Message dari Vocaloid, Kagamine Rin dan Len.”

“Wah? Ada 3 lagu?”

Arina mengangguk, “Benar. Ada 3 lagu kali ini.” gadis itu lalu duduk di tempat nya, di sisi sang reader. “Nah, ayo kita lanjutkan ceritanya!”

 

=*=

(Sang Ratu tiran harus di lengserkan,

dan prajurit pun pergi menuju padanya

Seorang ksatria berzirah merah memimpin pergerakan tersebut

Orang-orang pun bersatu, berkumpul dari seluruh penjuru negeri

Pengawal sang Ratu pun dengan mudah di jatuhkan

Tanpa melakukan perlawanan yang berarti

Akhirnya kerajaanpun di jatuhkan

Kepemimpinan sang Ratu pun mencapai akhir

Sang Ratu tiran yang manis pun akhirnya di tangkap dan di tahan)

=*=

 

Tuhan menciptakan alam semesta serta makhluk hidup yang menjadi penghuninya. Hewan, tumbuhan, serta manusia yang diharapkan belajar untuk mengelola, merawat, dan menjaga semua ciptaan dari Sang Maha Pencipta.

Meski manusia mendapatkan banyak nikmat dan anugrah dari Yang Kuasa, tetapi mereka juga diberikan ujian serta cobaan yang membuat mereka belajar dan bersyukur pada-Nya. Yang mana jika mereka mampu melewati ujian dan cobaan tersebut, mereka akan menjadi pribadi yang kuat, dewasa, serta mampu di andalkan.

Terlahir dari rahim seorang Ratu dari sebuah Kerajaan besar, meski begitu tidak sekalipun seorang Hikaru menikmati segala hal yang seharusnya bisa dia nikmati sejak lahir. Kasih sayang kedua orang tua, harta yang berlimpah, gelar dan tahta, juga kasih sayang dari seorang saudari yang Ia miliki.

Pengorbanan.

Sejak dilahirkan, Hikaru sudah diajarkan tentang pengorbanan yang besar dalam hidup.

Kedua orang tuanya mengorbankan nyawa agar kedua anaknya bisa selamat dan hidup. Sang pelayan harus mengorbankan hidupnya serta waktunya dan keinginannya untuk membawa Hikaru kembali pada saudarinya demi keselamatannya bayi tersebut, lalu membawanya jauh dari tempat tinggalnya.

Hikaru sendiri, meski Ia sudah kembali dan berdiri di sisi sang saudari, Ia kembali harus mengorbankan Identitasnya demi menjaga saudarinya dari para menteri yang memperalat sang saudari. Menjadikan gadis itu seorang Ratu boneka yang bebas mereka hasut.

Untuk pertama kali dalam hidupnya, saat Hikaru bisa jatuh cinta, Ia harus kembali berkorban demi keinginan dan sumpah pada saudarinya. Dengan tangannya sendiri dia harus merenggut nyawa CIntanya dengan pedangnya.

Lalu kini, disinilah Ia. Ketika Ia bisa menjamin keselamatan saudarinya, meski Ia kembali pada tempat seharusnya Ia berada, meski hanya 24 jam dia dapat menggunakan Identitas sebenarnya, meski hanya sekejap. Tetapi butuh pengorbanan besar untuk hal ini. Nyawa dan kerajaannya.

Hikaru memandang pada cahaya rembulan yang mengintip dari jendela di balik jeruji besi tempatnya berada saat ini. Duduk di atas sebuah dipan yang dingin menusuk karena udara malam yang sama sekali tidak bersahabat. Kerlipan bintang-bintang diatas sana menggoda, membuai harapan jika saja Ia bisa dibebaskan dari pekat dan dinginnya malam ini.

Perlahan pemuda itu mendengar langkah kaki yang mendekat pada tempatnya berada. Semakin lama semakin dekat hingga sepertinya berhenti tepat di depan pintu jerujinya. Hikaru menoleh dan mendapati sosok pemuda berzirah biru berdiri disana, tengah mengusir dua pengawal yang berjaga di dekat sel Hikaru untuk menjauh sejenak.

“Selamat malam pangeran. Ada apakah gerangan anda repot-repot datang ke tempat yang tidak layak di waktu malam seperti ini?” sapa Hikaru masih duduk di tempatnya. Entah karena memang tidak peduli atau karena alasan rantai yang melingkar di kedua kakinya kini.

“Ada yang ingin ku bicarakan padamu. Sepertinya kau tidak ingin ada orang lain tau akan ini, karena aku sudah menyuruh para penjaga untuk menjauh. Seharusnya kau bisa menjawab pertanyaanku dengan jelas sekarang, karena jika tidak maka ku pastikan semua yang kau lakukan akan sia-sia.” ujar  Pangeran Kei.

Hikaru memandang lurus pada sosok pemuda itu yang juga sedang memandangnya lurus tanpa keraguan, seolah menegaskan akan apa yang baru saja Ia ucapkan.

“Bertanyalah apa saja, pangeran!” seru Hikaru kemudian.

“Apakah Ratu memang terlahir sebagai anak kembar?” Pangeran Kei langsung bertanya setelah mendapat sinyal tersebut.

Hikaru diam sesaat kemudian mengangguk, “Benar. Tetapi Ratu tidak mengetahui bahwa Ia kembar sampai sebelum sore ini.”

“Apakah itu alasanmu mengenakan topeng selama ini?” tanya Pangeran Kei lagi.

“Seperti katamu, Pangeran. Seorang Pelayan tidak mungkin seenaknya merebut tahta sang Ratu begitu saja atau berharap bisa berdiri sejajar dengannya. Hanya ada satu tempat untuk satu tahta.” Jawab Hikaru.

Pangeran Kei terdiam sesaat, lalu memandang Hikaru kali ini dengan tatapan yang lebih lunak dibanding sebelumnya.

“Apakah kau yakin jika kau melakukan ini, Ia akan sadar akan kesalahannya? Apakah dengan mengorbankan dirimu sendiri, kau bisa memadamkan kegelapan yang telah menyelimuti hatinya?” tanya sang pemuda berzirah biru.

Hikaru mendengus dan tertawa kecil, “Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku tidak bersalah, Pangeran? Apakah kau lupa jika darah yang mengalir di nadiku sama halnya juga mengalir di nadi sang Ratu? Jika kalian mengatakan bahwa Ia iblis, aku juga sama.” ujarnya. Lalu Hikaru mengeraskan rahangnya, “Di dunia ini, akulah yang paling mengerti bagaimana Ia. Kami adalah satu yang terpisah. Jika satu harus mati, maka yang satu harus hidup demi yang lainnya. Apakah kau tau jika kematian selalu membayang sejak saat kami dilahirkan kedunia ini?”

Pangeran Kei lalu menghembuskan nafasnya dengan berat. “Aku masih menganggap bahwa ini salah. Tetapi terserah padamu saja, semoga keberuntungan selalu menyertaimu.” Pemuda itu kemudian berbalik menjauhi jeruji besi yang mengurung Hikaru.

Namun…

“Pangeran, apa kau mau mendengar satu permintaan egoisku yang terakhir?” seru Hikaru kemudian.

Pangeran Kei menghentikan langkahnya, memutar tubuhnya sedikit sehingga Ia bisa melihat pada sosok Hikaru di dalam sana.

“Cukupkan sampai disini saja. Biarkan ini menjadi akhirnya. Ku titipkan rakyat Ratu Mizuki padamu, Pangeran Kei.” Hikaru tersenyum pada pemuda itu.

Sang Pangeran kembali berbalik dan melangkah menjauh disusul dengan para penjaga yang kembali ke tempatnya sepeninggal sang Pangeran.

“Bodoh!” ujar sang Pangeran Kei.

 

=*=

 

~Hari Penghakiman~

Ding! Dong! Ding! Dong!

“Saat hakim menduduki kursinya, yang tersembunyi akan terungkap. Semua akan diadili. Apakah yang akan dikatakan oleh diriku yang malang? Siapakah yang akan menjadi pembelaku? Ketika yang adil pun merasa tidak yakin.” (Hymne Latin, Liber Usualis)

Bel katedral utama terus berbunyi, nyanyian hymne dari katedral mengalun, mengiringi sebuah kereta yang berjalan menuju alun-alun kota, membawa sang penguasa lalim pada tempat penghakiman. Bahkan saat Ia dibawa keluar dari dalam kereta, menuju panggung kematian yang siap menerimanya dengan tangan terbuka.

Gaun putih sederhana membalut tubuh sang terdakwa yang sudah berdiri tepat di depan sebuah guillotine dengan seorang algojo yang siap melaksanakan tugasnya hari itu.

Sosok itu tersenyum dan berjalan mendekat pada guillotine sendiri, tanpa sedikitpun ketakutan di matanya. Ia lalu menatap pada kerumunan rakyat di hadapannya kini. Rakyat yang seharusnya Ia pimpin di posisi yang dimilikinya dalam waktu kurang dari 24 jam ini. Rakyat yang seharusnya Ia lindungi dengan segenap jiwanya.

Hingga matanya menangkap pada satu titik di depan sana. Sosok dengan surai hazel yang tertutup dengan tudung dari jubah gelap. Ia mengenali jubah dan pakaian itu, tentu saja Ia langsung mengenali sosok yang mengenakannya di sana.

“Kau bisa mengatakan kalimat terakhir sebelum hukuman berlangsung pada seluruh rakyatmu.” Ujar Yuri yang berada tidak jauh dari tempatnya sekarang.

Hikaru memejamkan matanya untuk merasakan hembusan angin terakhir kalinya, pemuda itu membuka matanya dan memandang lurus pada kerumunan rakyatnya.

“Para Rakyat Kerajaan Selatan yang aku cintai, aku berdiri disini untuk menyambut kematian yang sudah diberikan padaku sebagai hukuman akan apa yang sudah aku lakukan di masa lalu. Tidak ada bantahan ataupun pembelaan yang akan ku katakan, karena memang inilah yang sepantasnya. Bayaran akan semua perbuatan yang telah ku lakukan.” Hikaru memandang lurus pada satu titik yang tertutup akan jubahnya. Namun Ia yakin bahwa orang itu memandang padanya dan mendengarnya dengan jelas.

“Untuk pertama kalinya aku merasakan cinta dalam hidupku. Tetapi sepertinya keegoisan menguasai hatiku lebih besar dibanding cinta itu sendiri. Lalu karena cinta yang kurasakan, aku merenggut sebuah nyawa dan menghancurkan sebuah kerajaan. Karena cintaku yang egois aku merenggut cinta dari diriku sendiri. Karena cintaku yang egois, aku harus menerima bahwa aku tidak menerima apapun dan justru kehilangan segalanya.” Hikaru lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dada dan memejamkan matanya sekali lagi.

“Untuk terakhir kalinya, aku mendoakan kesejahteraan Rakyat Selatan setelah ini. Juga kesehatan dan kemakmuran pada Pangeran Kei dari Kerajaan Utara yang akan mengambil alih. Aku percaya beliau akan memimpin kalian lebih baik dan membawa kesejahteraan dan kemakmuran untuk negeri ini. Pada semua yang menyayangiku dan yang aku sayangi, semoga kebahagiaan terus bersama kalian setelah ini.”

Pangeran Kei lalu berjalan maju ke depan dan memandang pada seluruh rakyat yang membanjiri alun-alun kota, terlihat beberapa menangis namun tidak sedikit juga yang menghujat. Namun saat pemuda itu memberi isyarat, keriuhan yang terjadi pun menghilang sejenak.

“Penguasa kerajaan selatan, dinyatakan bersalah karena telah mengambil nyawa dari ribuan nyawa tidak bersalah di Kerajaan Barat serta membinasakan seluruh keluarga Kerajaan Barat. Untuk kesalahan yang telah diperbuatnya, maka Ia akan dijatuhi hukuman mati dihadapan seluruh rakyatnya sendiri, mengingatkan akan kekejaman yang telah dilakukan oleh sang Penguasa!” Pangeran Kei kemudian menoleh pada algojo, “Silahkan lakukan tugasmu!”

 

(Meskipun seluruh dunia berbalik menjadi musuh bagimu

Namun satu hal yang harus kau tau

Aku disini ada untuk menjagamu

Karena itu tersenyumlah dan hiduplah dengan bahagia)

 

Dan… guillotine itupun menyelesaikan tugasnya.

=*=

 

Epilog

“Mizuki, Mizuki,” seorang gadis bersurai Hazel menoleh pada seorang anak kecil yang berlari mendekat padanya.

Gadis itu tersenyum dan membungkuk, mensejajarkan posisinya dengan si gadis kecil yang sudah berdiri tepat di hadapannya.

“Mizuki, Rin membawa yang kau minta.” Gadis kecil itu menunjukkan isi kantong yang dibawanya dengan riang.

“Terima kasih, Rin. Kau memang yang terbaik,” ujar si gadis bersurai hazel itu sambil mengacak rambut si gadis kecil, membuat sang gadis kecil tertawa dengan lucu.

“Kalau begitu, Rin kembali dulu. Nanti ibu bingung mencari Rin.” Gadis kecil itupun berlari keluar dari pondok sang gadis bersurai hazel, membuat kesunyian kembali menemaninya.

Gadis itu lalu meraih secarik kertas yang telah Ia tulis lalu memasukkannya pada sebuah botol kosong dengan sebuah tutup sumbat gabus. Gadis itu tersenyum lalu berjalan keluar dari pondok kecilnya dan mendapati hamparan lautan yang luas menyambutnya.

Sang Surya terlihat sudah hampir kembali pada peraduannya. Langit biru pun telah berganti menjadi jingga dan menghangat. Mizuki berjalan menuju bibir pantai. Memandang lurus pada sang surya yang mulai terlihat tenggelam di seberang lautan.

 

(Bunga kekejaman yang gugur menyedihkan dalam warna yang begitu indah.

Gadis yang bahkan sedikitpun tidak ingin menoleh pada rakyatnya yang berujar,

“Ah, dia benar-benar gadis iblis”)

 

Mizuki tersenyum pahit di tempatnya. Setiap mengingat hal itu selalu saja dadanya terasa sangat sesak dan bulir keristal itu lolos membasahi pipinya.

Mengingat bagaimana begitu bodohnya Ia di masa lalu. Membiarkan emosi dan keegoisan menguasai dirinya, dan akhirnya hatinya sendiri menggelap. Segala hal yang Ia miliki kini terlepas begitu saja dalam sekejap mata.

“Penguasa tiran, gadis iblis!” begitulah rakyatnya sendiri memanggilnya.

Tetapi beban itu telah ditanggung oleh orang lain demi dirinya. Karena orang itu Ia kini bisa hidup dengan layak, diterima dan berbaur dalam masyarakat, menjalani kehidupan barunya dengan baik. Semua karena orang itu.

 

(Kau selalu melakukan segalanya untukku, tidak peduli apapun permintaanku

Namun aku selalu bersikap egois hingga selalu menyulitkanmu

Sekarang kau kini tidak lagi berada di sisiku untuk mengabulkan keinginanku

Karena itu aku membiarkan lautan untuk mengabulkan permintaanku ini)

 

Hikaru.

Satu sosok yang tiba-tiba saja muncul di hadapanku. Menyerang kawanan perampok dan menyelamatkan nyawaku. Karena itu aku berhutang nyawa padanya. Aku ingin membalasnya dengan membuatnya terus berada di sisiku. Memberinya kehidupan dan pekerjaan yang layak.

Hikaru tidak selalu berada di sisiku. Menghiburku. Menjadi pendengar yang baik setiap keluh kesahku. Bahkan selalu mengabulkan semua permintaanku.

Tetapi keegoisanku sendiri merusaknya.

Sosok yang selama ini selalu setia di sisiku, ternyata adalah saudaraku sendiri. Orang yang ternyata selama ini terlahir dari rahim yang sama. Juga memiliki darah yang sama mengalir dalam nadinya.

Dan keegoisanku membuatnya menghilang dari sisiku.

 

(Harapan kecilku kini dibawa oleh air mata dan rasa penyesalan

Menyadari akan adanya satu dosa

Namun sayangnya semua sudah terlambat untuk dimaafkan)

 

Mizuki menutup matanya sejenak. Membiarkan saja bulir-bulir itu jatuh dan membasahi pipinya. Gadis itu membisikkan sebuah harapan pada botol kecil yang berisikan sebuah kertas. Perlahan gadis itu membuka matanya dan memandang lurus pada lautan.

Gadis itu lalu melemparkan botol harapan itu sejauh yang Ia bisa. Botol itu pun hanyut di bawa oleh arus laut dan tergulung dalam ombak hingga tak terlihat lagi.

Mizuki masih berdiri di tempatnya. Ujung gaun gadis itu sudah basah oleh air laut yang semakin naik karena pasang. Sang Surya pun terlihat sudah kembali sempurna ke dalam peraduannya, meninggalkan langit yang mulai kelam dengan bintang-bintang yang mulai berkelip menghiasi atas sana.

“Mizuki, apa kau mau kuberi tahu sebuah rahasia? Orang-orang disini percaya, jika mengucapkan sebuah harapan dengan sungguh-sungguh pada lautan, maka harapan itu akan terkabul. Caranya, harapan itu dituliskan dan di masukkan dalam sebuah botol dan biarkan lautan yang membawanya.” Rin kecil menatap Mizuki dengan berbinar.

 

=*=

(Jika kita bisa terlahir kembali ke dunia ini

Kuharap kita bisa bertemu kembali)

=*=

 

“…dan Mizuki pun melanjutkan hidupnya. Mencari kebahagiaan melalui pengorbanan yang diberikan oleh saudara kembarnya. Tamat.”

“Huwaaaaaaaaaaaaa T_____________T”

Arina terkejut menatap sang reader yang menangis dengan keras. Gadis itu harus menepuk pundak sang reader yang masih sesegukan di tempatnya.

“Daijoubu? Kenapa menangis sekeras itu?” tanya Arina.

“Hiks … kau jahat, Arina-san… aku tidak suka dengan akhirnya. Hikaru sangat menyedihkan… dia berkorban banyak hal, dan sampai akhir pun dia tidak menemukan kebahagiaan… hiks.”

“Siapa bilang Hikaru tidak bahagia?” sang Reader yang masih sesegukan menoleh pada Arina, “Hikaru menemukan kebahagiaannya dengan memilih mengorbankan nyawanya sendiri. Kebahagiaan bagi Hikaru adalah melihat saudarinya, orang yang paling dia kasihi di dunia, baik-baik saja.”

“Hiks… tapi… Pangeran itu juga melakukan hal yang sama bukan? Dia lebih memilih untuk menghukum Hikaru… bukankah itu artinya dia pangeran yang jahat… hiks?”

Arina tersenyum dan membelai sang reader, “Kau tau pepatah, ‘mata di balas dengan mata’? Jika semua manusia di dunia menuruti pepatah tersebut, maka seluruh dunia akan di penuhi dengan orang buta. Tetapi tetap, semua perbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapatkan balasannya. Entah itu perbuatan baik ataupun perbuatan jahat. Sang Pangeran sudah memberikan pilihan tetapi Hikaru sendiri yang memilih pada kematian sebagai penebusan dari dosa-dosanya.”

“Hiks… tetap saja aku tidak suka dengan akhirnya!” Arina hanya tersenyum pada sang reader yang terlihat kesal.

“Baiklah. Maafkan aku, reader kesayanganku. Lain kali aku akan membuat cerita yang lebih baik lagi dari ini. Jangan marah lagi ya?” meski masih mengerucutkan bibirnya, sang reader mengangguk dengan pelan. Arina pun tersenyum.

“Nah, sekarang kau tidur ya. Sebelum tidur jangan lupa berdoa. Doakan juga agar Mizuki dan Hikaru bisa terlahir kembali dan bisa bertemu lagi, serta mendapatkan akhir yang bahagia.” Sang Reader mengangguk dengan bersemangat sembari Arina merapikan selimut pada tubuhnya.

“Mimpi yang indah reader kesayanganku.”

 

=TAMAT=

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s