[Multichapter] MONSTER (#1)

MONSTER

MONSTER11
Author : Veve Octavia
Genre : Fantasy, Romance, Friendship
Type : Multichapter (chap 1)
Cast :
Love-tune; SixTONES; Jinguji Yuta, Kishi Yuta (Prince); Nakajima Yuto, Yamada Ryosuke, Inoo Kei (Hey! Say! JUMP); Miyazaki Haru, Yanase Kai, Kyomoto Miyuki, Konno Chika, Yasui Kaede, Hideyoshi Sora, Nishinoya Chiru (OC)

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata monster?

Setiap orang memiliki pengertian berbeda soal monster. Bagi anak-anak, monster adalah makhluk mengerikan bergigi tajam dan bertubuh besar seperti yang biasa mereka lihat di televisi. Bagi remaja, monster adalah guru killer yang senantiasa memberikan mereka tugas setiap hari dan tugas tambahan bila tugas utama tidak diselesaikan tepat waktu. Bagi karyawan, monster adalah bos mereka yang selalu member tugas sangat banyak sehingga tidak ada waktu bagi mereka bahkan untuk sekedar meregangkan tubuh. Bagi para istri, monster tentu saja mertua mereka yang cerewet dan selalu ikut campur. Ah, abaikan yang terakhir. Itu hanya curahan hati biasa dari para perempuan yang memiliki fobia terhadap mertua.

Tapi, ada tiga jenis monster yang hidup di dunia ini. Monster yang nyata, bukan sekedar khayalan anak-anak. Dan kisah monster ini berkembang di kotaku.

Ada satu legenda yang berkembang disini. Legenda itu mengisahkan permusuhan dari tiga kubu monster yang berbeda. Menurut legenda, ribuan tahun lalu mereka hidup tenang tanpa perselisihan. Mereka memang tidak akur, tapi mereka juga tidak bertarung satu sama lain. Tiga kelompok ini hidup berbaur dengan manusia, bahkan manusia tidak menyadari kalau mereka adalah monster. Wujud mereka sama seperti manusia kebanyakan, jadi wajar kalau tidak ada yang mengenali mereka.

Kelompok pertama adalah Yahagi. Kelompok ini adalah monster pemakan jantung. Awalnya mereka memakan jantung manusia, tapi pada akhirnya mereka memakan jantung hewan sebagai gantinya. Yahagi sempat menjadi momok untuk manusia, sampai akhirnya mereka bersumpah tidak akan membunuh manusia lagi. Rata-rata Yahagi memiliki tenaga yang kuat, satu pukulan saja bisa meremukkan tulang lawannya. Kebanyakan dari mereka tinggal di hutan, sebagian lagi hidup berbaur dengan manusia dan hidup normal bersama ‘mangsa’ mereka.

Yang kedua adalah Nogumi. Mereka adalah vampir, makanan mereka tentu saja darah manusia. Tapi berbeda dengan vampir lain, mereka juga memakan daging manusia seperti kanibal. Kelompok Nogumi berwujud manusia juga, hanya saja kulit mereka terlalu bercahaya untuk ukuran manusia normal. Kulit mereka sangat halus dan putih, orang-orang menjuluki mereka sebagai Dewa. Nogumi tidak terlalu berbaur dengan manusia, mereka lebih senang menyendiri dan tinggal di kaki bukit.

Yang ketiga, adalah Haguro. Menurut legenda, mereka adalah kelompok cenayang. Agak bingung juga, dari sisi mana cenayang disebut monster? Bukannya cenayang justru pengusir roh jahat atau siluman? Bagi manusia, mungkin mereka tidak berbahaya, tapi bagi Yahagi dan Nogumi tidak. Haguro seperti pencabut nyawa untuk mereka. Haguro memiliki kekuatan mengendalikan dunia roh, apalagi sebagian dari mereka dipercaya menjaga Gerbang Putih, portal antar dimensi dunia manusia dan dunia roh. Diantara tiga kelompok monster, Haguro memiliki wujud yang sangat manusia. Toh pada dasarnya mereka memang manusia.

Selama ribuan tahun, tidak ada konflik diantara mereka bertiga. Tiga kelompok ini saling berjanji tidak akan menyerang kelompok lain kecuali mereka berulah. Yahagi diberi wilayah di utara, dimana hutan disana sangat luas dan banyak hewan liar yang bisa mereka makan. Nogumi memilih wilayah di dekat kaki bukit tempat asal mereka, dan Haguro menetap di pusat kota, mengawasi dua kelompok monster itu.

Tidak ada yang terjadi, sampai malam itu datang.

Sebuah desa diserang. Banyak yang tewas dalam serangan itu. Manusia kembali dihantui rasa takut, mereka menyangka kelompok Yahagi dan Nogumi yang menyerang desa itu. Orang-orang mendesak Haguro untuk memusnahkan mereka, tapi Haguro tidak melakukannya karena tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Yahagi dan Nogumi yang menyerang mereka.

Suasana menjadi kacau. Serangan-serangan kembali bermunculan di desa lain, dan itu semakin meresahkan Haguro. Sebagian dari mereka menemui kelompok Yahagi, sebagian lagi menuju kaki bukit menemui kelompok Nogumi. Dua kelompok itu bersumpah tidak menyerang siapapun, mereka bersikeras tidak melanggar perjanjian yang sudah disepakati.

Hingga suatu malam permusuhan mereka kembali terjadi.

Satu anggota Yahagi menyerang anggota Haguro, dan anggota Nogumi mengonfrontasi kelompok Yahagi. Menurut legenda yang menyebar, seorang anggota Yahagi tewas ditangan Haguro, dan satu anggota Nogumi dibunuh oleh anggota Yahagi. Haguro sendiri kehilangan satu anggota mereka, dan itu akibat ulah kelompok Nogumi. Sejak hari itu, mereka kembali bermusuhan dan bersumpah akan saling menghabisi. Tidak ada yang tahu bagaimana kejadian sebenarnya, dan bagaimana akhir dari kisah ini.

Sejak hari itu, tiga kelompok ini seakan hilang ditelan bumi. Tidak ada serangan-serangan lagi bersamaan dengan hilangnya tiga kubu ini. Ada yang mengatakan, Dewa sudah mengurung mereka semua. Ada pula yang mengatakan mereka bersembunyi sementara waktu dan akan muncul kembali suatu hari nanti. Dari yang kudengar, sampai sekarang mereka masih hidup dan masih berbaur diantara manusia-manusia lainnya.

Tinggal menunggu waktu sampai tiga monster ini kembali dan menuntaskan masalah mereka.

***

Haru berhenti, dia menoleh dan tertawa melihat Kai terengah-engah mengikutinya. “Kau itu pelan sedikit, dong,” protes Kai, “jalannya menanjak tuh.” Kai berhenti, dia terengah-engah dan berpegangan pada tiang listrik di dekatnya.

Haru menghela napas, dia berjalan dan menepuk bahu Kai. “Semangat, dong,” ucap Haru, “mendapatkan hati Jinguji masih lebih sulit daripada berlari di tanjakan.” Haru tergelak dan langsung menghindari pukulan Kai.

“Apa hubungannya mendapatkan hati Jinguji dengan berlari di tanjakan, hah?!” sentak Kai kesal, dia berjalan meninggalkan Haru sambil menggerutu tidak jelas.

Haru dan Kai melangkah menuju sekolah mereka. Agak mengesalkan bersekolah di SMA yang lokasinya di kaki bukit. Setiap hari harus melewati jalan yang menanjak. Kalau saat pulang sekolah, sih, enak, karena jalanannya menurun. Yang menyebalkan kalau berangkat. Belum sampai sekolah sudah capek duluan. Yang ada di kelas tidak akan konsentrasi dan pasti memilih tidur atau melarikan diri ke Ruang Kesehatan dengan alasan tidak enak badan.

Alasan klasik.

Haru dan Kai baru melangkah masuk lobi sekolah saat sebuah meja terlempar kearah mereka. “Awas!” Haru langsung mendorong Kai menghindari meja itu, dia sendiri hampir tertimpa meja kalau tidak cepat-cepat menghindar. Haru menoleh, dia melihat suasana sangat riuh di depannya. Terlihat Taiga dan Hokuto berhadapan, keduanya saling melempar tatapan benci. Haru langsung menolong Kai berdiri. “Daijoubu?” tanyanya, dia membantu Kai membersihkan debu yang menempel di rok seragamnya. Haru dan Kai langsung mendekati seorang gadis yang berdiri diantara kerumunan. “Oi, Chika-Chan,” sahut Haru, “kenapa lagi dengan mereka?”

“Entahlah,” Chika menjawab, “aku baru keluar dari toilet saat mereka tiba-tiba bertengkar.” Chika menghela napas, dia menatap Kai. “Kau baik-baik saja, Yanase-San?” tanyanya.

Kai mengangguk, dia tersenyum menggumamkan terimakasih. Haru menatap kearah Taiga dan Hokuto. Entah apa masalahnya, tapi dua orang ini tidak pernah akur. Sejak kecil sampai detik ini. Pasti ada saja yang mereka permasalahkan.

“Berani sekali kau menggoda adikku Miyuki,” Taiga menggeram, “kau sudah kuperingatkan untuk tidak mendekatinya!”

“Aku? Mendekati anak kecil seperti dia? Kau bergurau, ya?” balas Hokuto dengan senyum remeh, “lagipula adikmu yang sengaja mencari perhatianku. Dia selalu mendekati dan menyapaku sok ramah.”

“Kurang ajar kau!” Taiga melayangkan tinjunya ke wajah Hokuto hingga dia terjatuh. Beberapa siswa memekik, Hokuto berdiri dan segera melayangkan tinju balasan kepada Taiga. Suasana kembali riuh, beberapa siswa memilih menghindari area itu. Chika gusar, dia baru akan melangkah saat sebuah tangan menahannya.

Chika menoleh, dia melihat Jinguji dan Yuta entah sejak kapan ada di dekatnya. “Jangan ikut campur urusan mereka, Konno-San,” ucap Jinguji, “diam dan lihat saja apa yang terjadi.”

“Tapi….”

“Kau bisa terluka kalau ada di dekat mereka, Chika-Chan,” sela Yuta, dia menatap datar kearah Taiga dan Hokuto.

“Kishi-Kun benar,” sahut Kai, “kau tidak lihat bagaimana mereka saling menghajar begitu? Kau bisa kena juga kalau nekat memisahkan mereka.” Kai menatap beberapa siswa di dekatnya, dia berkata, “Kenapa tidak ada yang memanggil guru?! Kalau terus begini, mereka akan mati karena berkelahi!”

Taiga menendang perut Hokuto, dia mencengkeram kerah seragam pemuda itu dan meninju mukanya berkali-kali. “Kalau aku melihatmu mengganggu adikku, aku bersumpah akan membunuhmu!” teriaknya marah.

Taiga akan memukul, Hokuto langsung mendorong Taiga dan meninju perut pemuda itu. “Kau bahkan tidak kuat seperti diriku, dasar arogan,” ejek Hokuto, dia mencengkeram kerah seragam Taiga dan berbisik, “Apa yang bisa kau lakukan tanpa darah, hm? Kau akan mati lemas tanpa makananmu itu, dasar lintah.”

“Menyingkir dari Taiga, kau manusia rakus.”

Suasana mendadak sunyi. Hokuto menoleh, dia menatap sinis beberapa orang yang berjalan menghampirinya. Haru melengos mendengar hinaan Jesse untuk Hokuto, kedengarannya menyakitkan sekali. Manusia rakus, hinaan apa itu? “Ini peringatan terakhir untukmu, Matsumura,” ucap Jesse, “kalau kau berani mengganggu Miyuki-Chan, aku bersumpah akan mematahkan lehermu.”

Chika melirik, dia lega melihat Hokuto melepaskan cengkeraman tangannya dari Taiga. “Aku belum selesai,” ucap Hokuto geram, dia langsung menyingkir dari sana.

Jesse diam, dia langsung membantu Taiga berdiri. “Kau baik-baik saja, sobat?” tanya Jesse. Taiga diam saja, dia langsung mendekati Miyuki, adiknya yang berdiri dibelakang Jesse. “Sudah kubilang kau tidak boleh berdekatan dengannya, Miyuki!” sentak Taiga, “ada apa denganmu?! Aku sudah mengingatkanmu berkali-kali, tapi kau tidak pernah mendengarkan!”

Haru melihat Jinguji langsung membawa Chika pergi bersama Yuta. Haru menghela napas, dia mendekati Taiga dan menggeplak kepala pemuda itu. “Kalau kau sekeras itu, Miyuki-Chan tidak akan mau mendengarkanmu, baka,” ucap Haru, “lagipula apa salahnya kalau Miyuki-Chan berteman dengan Matsumura-Kun? Kalau kau membencinya, itu urusanmu dengannya, jangan mempengaruhi Miyuki-Chan agar membencinya juga.”

“Tidak sesederhana itu, Haru-Chan!” balas Taiga, “kau tidak mengerti!”

“Ya bagaimana aku akan mengerti kalau kau tidak menjelaskan?!” balas Haru.

“WOI!” Kai dan Kaede menginterupsi. Taiga dan Haru diam, mereka menatap kesal ke arah dua gadis itu. “Kenapa jadi kalian yang bertengkar?” sahut Kaede, “sudahlah, masalah sudah selesai. Haru-Chan, maafkan aku, tapi kau tidak akan mengerti apa-apa sekalipun kami menjelaskan panjang lebar kepadamu. Miyuki-Chan, ada baiknya kau menurut saja daripada kakakmu terus mengumbar emosi di sini. Lihat itu, sudah berapa meja yang rusak gara-gara kalian? Dan kau, Taiga…” Kaede menunjuk hidung Taiga, yang langsung ditangkis oleh pemuda itu, “… kumohon jangan terlalu keras kepada Miyuki-Chan.”

“Ikkou,” ucap Jesse, dia tersenyum sekilas kepada Haru dan Kai sebelum melangkah pergi bersama Taiga. Miyuki menghela napas, dia berbalik dan mengikuti Jesse dan Taiga. Kai menghela napas, dia menatap Kaede yang terdiam menatap meja yang rusak di depannya.

Kai tahu, ada yang dipikirkan Kaede. “Ayo ke kelas,” suara Haru mengejutkan Kai dan membuyarkan lamunan Kaede, “aku masih harus mempersiapkan materi untuk presentasi Analisis Sastra.”

“Ah, kau benar juga,” ucap Kaede, “ikkou.” Kaede tersenyum, dia menggandeng tangan Haru dan Kai menuju kelas. Kai menoleh, dia menatap meja yang rusak itu lalu kembali menatap Kaede yang sekarang bercanda bersama Haru. Apanya yang tidak sederhana? Kenapa Taiga mengatakan permusuhannya dengan Hokuto tidak sesederhana itu? Kai menghela napas, dia berlari menyusul dua temannya yang sudah jauh di depan.

Seseorang muncul dari balik loker, dia menatap kearah tiga gadis itu lalu beralih menatap meja yang rusak di dekatnya. Dia tersenyum kecil, matanya berkilat semangat melihat meja itu dan berlalu darisana.

***

“Mereka bertengkar lagi?”

Kai mengangguk menanggapi pertanyaan Sora, dia melahap rotinya dan berkata, “Masalah sepele sebenarnya. Entah siapa yang salah, tapi Kyomoto-Kun marah karena merasa Matsumura-Kun mendekati adiknya. Matsumura-Kun sendiri mengatakan dia tidak mendekati Miyuki-Chan, jadi… yah, aku tidak tahu siapa yang salah.” Kai menoleh, dia merangkul Miyuki yang terus menunduk. “Sudah, jangan dipikirkan,” ucap Kai menghibur, “kau itu adiknya, masa kau tidak tahu bagaimana menghadapi kakakmu itu?”

“Masalahnya adalah, kau sudah diperingatkan berkali-kali, Miyuki-Chan,” sahut Kaede, “kau harusnya tahu kalau Taiga pasti akan marah kalau kau berdekatan dengan Matsumura itu.”

“Aku tidak mendekatinya,” sahut Miyuki, “aku dan dia hanya mengobrol saja. Lagipula, apa salahnya kalau…”

“Pokoknya tidak ada lagi cerita kau berdekatan dengan dia,” sela Kaede, “aku begini karena aku tidak mau kau kena marah lagi.”

“Kau berlebihan, Yasui,” komentar Haru.

“Sudah kubilang jangan memanggilku Yasui!” sahut Kaede, “itu panggilan kakakku!”

“Namamu siapa?” tanya Haru sambil menatap Kaede.

“Yasui Kaede.”

“Berarti aku tidak salah, kan, memanggilmu Yasui?”

Krik.

Yang lain tertawa mendengar ucapan cuek Haru, sementara Kaede hanya cengo menanggapi temannya ini. “Oi, aku ingin bercerita,” ucap Chiru, dia baru akan bercerita saat Kaede menyela, “Jadi bagaimana hubunganmu dengan Morohoshi Senpai? Apa kalian sudah berciuman?”

Sora tersedak minumannya, sementara Haru berhenti mengunyah roti dan menatap kearah Kaede dengan bahasa pertanyaanmu-terlalu-to-the-point-Nona.

Chiru mendadak salah tingkah, dia berkata, “Tentu saja tidak! Maksudku… kami ini cuma teman, mana mungkin berciuman? Dasar kau ini.” Chiru menghela napas, dia menatap yang lain dan berkata, “Aku hanya ingin mengatakan kalau tadi aku bertemu dengan Morita-Kun, dan dia menitipkan salam untukmu, Haru-Chan.”

Kali ini Haru yang tersedak, dia langsung menatap Chiru yang tersenyum sambil menggerak-gerakkan alisnya naik turun.

“Morita… Morita yang mana?” tanya Haru bingung, dia menatap yang lain. “Hideyoshi Senpai, Morita itu yang mana?”

“Kau tidak tahu Morita Myuto?” tanya Kai, “dia yang selalu bersama Hokku, masa kau lupa?”

Haru mengingat-ingat, dia terkikik dan berkata, “Oh, anak itu. Ya, ya.” Haru kembali melahap rotinya, yang lain cengo melihat Haru yang seakan cuek dengan titipan salam Myuto. Kaede menghela napas, dia berkata, “Kenapa kalian bisa jatuh cinta dengan mereka, ya? Apa bagusnya mereka?”

“Sebenarnya ada apa denganmu, sih, Kaede-Chan?” sahut Sora, “kelihatannya kau tidak suka sekali dengan mereka.”

“Mereka itu memang satu geng, dan aku paham kalau kakakmu dan teman-temannya bermusuhan dengan mereka,” sahut Kai, “tapi kau, kan, tidak ada urusan dengan mereka. Jangan ikut campur, ah.” “Sou,” ucap Chiru, “jangan mencampuri urusan laki-laki, kita senang-senang saja disini.”

“Chika-Chan, ayo bergabung.”

Kaede menoleh, dia menatap Haru yang melambaikan tangan kearah seseorang. Kaede menoleh, dia menatap Chika yang berdiri di kejauhan sambil membawa nampan makanan. Chika tersenyum, dia baru akan melangkah mendekat saat Jinguji tiba-tiba muncul dan menariknya menjauh. “Kau jangan berharap Konno akan bergabung dengan kita,” ucap Kaede, “selama ada Jinguji, dia tidak akan pernah membiarkan Konno bergabung dengan kita.” “Kudengar dia dan Morita-Kun bermusuhan, ya,” ucap Chiru, “eh itu benar tidak, sih?”

“Yaampun, Chiru-Chan, jangan bergosip terus,” Sora memprotes, “sudahlah, kita mengobrol yang lain saja.”

Miyuki melirik, dia memandang kearah Jinguji dan yang lain. Dia tersenyum kecil melihat Hagiya, seniornya ada disana. Hagiya tampak asyik mengobrol dengan Jinguji dan Yuta Kishi, sesekali dia tampak beradu mulut dengan Chika. Sekilas Hagiya menatapnya, Miyuki agak terkejut melihat Hagiya tersenyum kecil kearahnya. Senyum itu untuk siapa? Untuk Miyuki, atau untuk Chika yang kebetulan memang sedang mengobrol dengannya?

***

Taiga meringis, dia menghela napas dan mendongak menatap langit jingga. Hari sudah sore, bel tanda pelajaran berakhir baru saja berbunyi. Setelah perkelahian tadi, Taiga tidak berminat mengikuti kelas apapun. Lagipula, aneh kalau dia ikut kelas dalam keadaan babak belur. Kalau Hokuto kan memang tidak punya malu, dia tetap akan masuk kelas sekalipun penampilannya acak-acakan.

Ah.

Taiga mendengus kesal mengingat nama Hokuto. Dia masih kesal karena pertengkarannya diinterupsi Jesse. ‘Kupastikan aku akan membunuhnya nanti,’ batin Taiga kesal, ‘akan kubuat manusia rakus itu memohon ampun dan menyembah kakiku.’ Taiga kembali meringis, dia memegang rahangnya yang memar dan berdenyut. Sial, sakit sekali pukulannya. Sepertinya besok dia harus memakai masker ke sekolah. Memar seperti ini tidak akan hilang dalam waktu sehari dua hari. Pasti makan waktu sampai seminggu.

“Ini.”

Taiga terkejut, dia menoleh dan menatap kaget seseorang yang menyodorkan minuman kearahnya. “Oh, kau,” ucap Taiga, “Konno Chika.”

“Waaahh, kau tahu namaku ternyata,” Chika duduk di sebelah Taiga, “padahal kita berbeda kelas, ya. Sugoii.”

Taiga mendengus pelan. Get real, siapa yang tidak kenal dengan Konno Chika, Si Anak Populer di sekolah?

“Kau baik-baik saja, Kyomoto-San?” tanya Chika khawatir, “sepertinya Matsumura-Kun memukulmu terlalu keras tadi.”

“Ck, aku tidak lemah, Konno-San,” sahut Taiga, “pukulan seperti ini tidak ada apa-apanya untukku.” Taiga meringis pelan, dia tersentak kaget saat Chika menempelkan saputangan ke pipinya yang memar.

“Ck, jangan sok kuat. Jelas-jelas kau kesakitan,” ucap Chika, “sana pulang, obati luka-lukamu.”

Taiga diam saja. Kenapa Chika ini mendekatinya tanpa dosa, seakan dia tidak mengerti apa-apa? Memangnya dia tidak tahu ceritanya? Chika tersenyum, dia beranjak dan berlari menjauh. “Sampai ketemu besok, Kyomoto-san,” ucapnya sambil melambaikan tangan, dia tersenyum dan menjauh. Taiga diam menatap Chika, dia merasa ada gejolak aneh di dadanya. ‘Aneh,’ batinnya, ‘ini tidak mungkin. Dia… dia…’ Taiga menunduk, dia mengambil saputangan milik Chika. Taiga menghela napas panjang, dia beranjak dan melompat ke bawah gedung.

*

“Serangan misterius, hm?”

“Apa?”

“Ck, dasar bodoh. Kau tidak membaca berita?”

“Apa menurutmu mereka pelakunya?”

“Kau yakin? Maksudku, ini sudah ribuan tahun. Itu Cuma legenda biasa.”

Kei menyesap kopinya, dia menghela napas dan menatap sebuah artikel tentang serangan misterius di kota, “Akhirnya mereka datang lagi,” ucap Kei, “kita lihat siapa yang akhirnya akan kalah.”

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s