[Minichapter] Servant of Evil part 3

Servant of Evil cover

SERVANT OF EVIL

Author: yamariena/Arina

Genre: family, drama, fantasy

Rating: PG-17

Main Cast: Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Yamamoto Mizuki

Support: Inoo Kei, Takaki Yuya (Hey!Say!JUMP); Taira Yuna; Kanagawa Miki (OC)

“Arina-san, Kau sibuk?”

Arina menoleh dan mendapati sang Reader memandang kearahnya dari tangga. Arina tersenyum dan menggeleng lalu mengecilkan suara televisi yang sedang di tontonnya.

Sang reader kecil lalu berjalan riang mendekat dan duduk si sofa tepat di sisinya.

“Ada apa reader kesayanganku?” tanya Arina kemudian.

“Kau mau melanjutkan cerita waktu itu?” Arina tersenyum lalu menyentil gemas hidung sang reader yang mengerucutkan bibirnya.

“Terakhir kali ku bercerita, kau tertidur bukan? Masih mau di lanjutkan?” si Reader menggaruk kepalanya masih cemberut.

“Aku kecapean. Pagi hari aku ulangan dan itu menguras tenagaku sangat banyak. Ayolah Arina-san, lanjutkan lagi ceritanya!”

“Baiklah, baiklah!” seru Arina. “Jadi… sampai mana kita kemarin…”

=*=

“Jamuan minum teh akan di adakan pukul 3 sore. Setelah itu anda harus bersiap-siap untuk pesta dansa malam ini.” Hikaru membacakan jadwal sang Ratu yang terlihat duduk dengan bosan memandang ke luar jendela kamarnya.

“Membosankan sekali harus bertemu dengan semuanya. Perintahkan saja agar teh ku dibawa ke kamar. Aku tidak akan ikut jamuan minum teh di taman istana.” Hikaru ingin menegur tingkah Ratu yang tidak sepantasnya.

Tetapi pemuda itu urung saat melihat raut kelelahan di wajah saudarinya itu. Hikaru menghembuskan nafas pelan lalu membungkuk sopan.

“Akan saya laksanakan, Yang Mulia,” Hikaru lalu pamit sejenak untuk mengabari bagian dapur.
Tetapi saat pemuda itu baru mencapai pintu, panggilan Mizuki kembali menghentikannya.

“Setelah ini aku membebaskanmu hingga pesta dansa dimulai. Kau bisa beristirahat sejenak sore ini.” Hikaru ingin protes tetapi raut wajah Mizuki seperti tidak ingin dibantah. Sekali lagi pemuda itu memilih untuk mengalah dan mengabulkannya.

Hikaru berkunjug terlebih dahulu ke dapur untuk mengabarkan pada para pelayan berkenaan dengan permintaan Ratunya. Berikutnya pemuda itu menghampiri seorang pria yang Ia kenali sebagai asisten kepercayaan Pangeran muda negeri itu untuk mengabari perihal yang sama, yang telah mengundang Ia dan sang Ratu, Pangeran Kei.

Namun…

Tanpa sengaja, Ia bertabrakan dengan seorang pelayan wanita dan membuatnya terjatuh di lantai.

“Oh maafkan saya, saya sedikit terburu-buru dan tidak melihat anda lewat.” Hikaru mengulurkan tangannya dan membantu gadis pelayan itu untuk bangkit.

“Tidak, ini salahku juga tidak melihat jalan.” ujar si gadis pelayan terlihat tidak enak hati.

“Miki, kemana saja? Aku mencarimu dari tadi!” seorang gadis bergaun hijau terlihat menghampiri si gadis pelayan tadi.

Hikaru sedikit tertegun melihat gadis itu. Selanjutnya si gadis juga memandang padanya dengan tatapan bertanya, sedikit bergidik mungkin memandang wajah Hikaru yang tertutup topeng.

“Apa yang sedang terjadi disini?” tanyanya pada si pelayan wanita.

“Maafkan saya Tuan Putri, saya dan tuan pelayan ini tidak sengaja bertabrakan. Ia membantu saya untuk berdiri karena sempat terjatuh.” jelas si pelayan.

“Oh ya Tuhan. Maafkan kecerobohan pelayan saya,” ujar si gadis bergaun hijau sambil memandang Hikaru dengan menyesal.

Hikaru menggeleng dan tersenyum pada gadis itu, “Tidak, ini salah saya yang buru-buru dan tidak melihat jalan.”

“Anda terlalu baik, tuan pelayan.” Hikaru menggeleng dan tersenyum dengan lebar.

“Saya Yuna, Putri dari kerajaan Barat, lalu dia adalah pelayan pribadi saya, Miki.” gadis bergaun hijau tersebut memperkenalkan dirinya.

Hikaru menyambut perkenalkan kembali dirinya. Senyuman tak luput dari wajahnya. Merasa gembira karena untuk pertama kalinya Ia bertemu dengan seorang gadis yang begitu mempesona.

Tetapi Hikaru mendadak teringat akan urusannya yang belum tuntas. Pemuda itu, meski sedikit tidak rela, buru-buru berpamitan pada keduanya dan pergi dari sana.

Ingin segera menyelesaikan tugasnya sebelum Ia setidaknya bisa menemukan kesempatan untuk berkenalan lebih jauh dengan sang Tuan Putri, mungkin di suatu hari nanti dia bisa bertemu lagi dengan kesempatan yang berbeda.

=*=

(Saat aku berkunjung ke negara tetangga

Aku melihat seorang gadis dengan rambut hijau

Suara dan senyuman lembut yang dimilikinya

Membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama)

=*=

Mizuki tersenyum keheranan melihat sosok Hikaru yang terus tersenyum, sejak pemuda itu menjemputnya di kamar untuk acara pesta dansa.

“Apakah ada hal yang menyenangkan terjadi, Hikaru?” tanya Mizuki.

Hikaru mengangkat kepalanya, tersenyum lembut pada sang Ratu. “Yang Mulia benar, saya bertemu dengan orang seseorang yang menarik hati saya.”

Mendengar itu, Mizuki menghentikan langkahnya. Memberi tatapan penuh minat pada penjelas Hikaru.

“Wah, aku tidak menyangka. Jadi siapa gadis spesial ini, Hikaru?” Mizuki melihat Hikaru sedikit salah tingkah mendengar permintaannya, dan entah kenapa itu membuatnya tersenyum geli.

“Nanti akan saya kenalkan, Yang Mulia. Dia sepertinya salah satu dari tamu undangan di pesta dansa ini.” ucap Hikaru.

Mizuki tersenyum lebar dan mengangguk, “Baiklah aku akan menantikannya,”

“Silahkan, Yang Mulia!” Hikaru tersenyum sipu sambil mengulurkan satu topeng pesta untuk Mizuki. Gadis itu menerimanya dan mengenakan topeng itu di wajahnya.

Beberapa langkah selanjutnya mereka tiba di depan pintu aula pesta. Dua orang pengawal membuka pintu saat mereka berdua melangkah mendekat. Hikaru berjalan di belakang Mizuki yang menyapa dan di sapa oleh beberapa orang-orang.

Mizuki sedikit bingung saat beberapa orang terlihat bingung saat melihatnya dan Hikaru mendekat dan menyapa. Tetapi Mizuki tidak mempedulikannya karena mereka juga tidak ingin mengungkitnya sama sekali. Berarti itu memang bukan satu hal yang penting.

Setengah jam bersosialisasi, Mizuki merasakan sedikit penat. Gadis itu memutuskan untuk menjauhkan diri sejenak dari keramaian. Hikaru mengantar sang Ratu ke balkon untuk menghirup udara bebas sejenak.

“Saya permisi untuk mengambil minum, Yang Mulia!” Mizuki mengangguk dan Hikaru kembali melangkah masuk ke dalam ruang pesta.

Mizuki bersandar pada balkon sambil melihat pemandangan kerajaan tersebut. Kerajaan yang sedang Ia kunjungi bisa dikatakan sangat indah, suasananya sangat tenang. Berbeda dengan kerajaannya yang saat ini sedang bergejolak. Selain untuk menghadiri pesta dansa, Mizuki mendapatkan tugas lain untuk mengajak kerajaan ini bersekutu dengan kerjaannya.

“Tidak bergabung dengan yang lain, nona?” lamunan Mizuki buyar oleh panggilan seseorang.

Gadis itu menoleh ke asal suara, dan mendapati seorang pemuda dengan pakaian pangeran berwarna biru berdiri tidak jauh darinya. Untuk sekejap saja, Mizuki merasakan sedikit sulit bernapas saat matanya bertatapan langsung dengan pemuda yang memanggilnya tersebut.

Pemuda itu tidak mengenakan topengnya sama sekali, dan sinar purnama malam itu membuat Mizuki dapat melihat dengan jelas sang pemuda bersurai kelam yang tersenyum padanya ini.

“Ku pastikan kau adalah seorang gadis bangsawan yang sedikit pemalu, dan berada di kerumunan orang-orang bukanlah merupakan kesukaanmu.” Ucap sang pemuda sambil tersenyum miring.

Mizuki sedikit berdehem dan tersenyum tipis, “Sayangnya sepertinya dugaanmu salah, aku bukan seorang gadis yang anti sosial tapi adalah seorang Ratu Muda.” serunya.

“Ah, maafkan kelancanganku, Yang Mulia. Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?” ujar pemuda tersebut sambil membungkuk dengan sopan di hadapan Mizuki.

Mizuki melebarkan senyumnya dan menggeleng, “Tidak apa-apa, aku tidak mempermasalahkannya. Kalau boleh ku tau, siapa namamu?” tanyanya.

“Betapa tidak sopannya aku, maaf terlambat memperkenalkan diri. Saya adalah Kei, Putra Mahkota kerajaan Selatan.” pupil Mizuki melebar lalu gadis itu menunduk hormat sebagai salam pada pemuda tersebut, “Maafkan saya tidak mengenali anda, pangeran. Saya Mizuki, Ratu dari kerajaan Utara. Selamat ulang tahun ke 17 saya ucapkan untuk Yang Mulia Pangeran Kei.”

Pangeran itu tertawa dan menyuruh Mizuki bangkit dari posisinya, “Tidak apa-apa, Yang Mulia. Anda tidak perlu memikirkannya.” Ucap sang pangeran, “Ngomong-ngomong, terima kasih atas ucapannya Yang Mulia Ratu Mizuki.” Mizuki tersenyum sipu dan menunduk.

“Yang Mulia, maafkan keterlambatan saya!” Mizuki menoleh pada sosok yang baru saja datang menghampirinya, Hikaru.

Mizuki menggeleng pada Hikaru lalu menoleh kembali pada sosok pangeran Kei. Namun gadis itu sedikit urung saat melihat sang pangeran juga memberikan tatapan yang sama seperti yang lain saat melihat Ia dan Hikaru bersama.

“Ada apa, Yang Mulia Pangeran?” tanya Mizuki.

“Ah, maafkan ketidak sopanan saya Yang Mulia.” Hikaru lalu membungkuk sopan pada Kei.

Senyuman sumringah tiba-tiba tercetak di wajah sang Pangeran Muda. “Ini mengejutkan. Belum pernah aku menyaksikan hal ini sebelumnya. Apakah kalian kem….”

Ucapan sang Pangeran terpotong saat seorang pelayan datang memanggil sang Pangeran Muda. “Maafkan aku, sepertinya aku sudah harus kembali ke dalam. Kalian berdua silahkan untuk menikmati pestanya. Kalau begitu, aku permisi dulu.” Sang Pangeran Muda lalu berjalan masuk mengikuti langkah pelayannya.

Mizuki mengikuti langkah sang Pangeran hingga hilang kembali ke dalam kerumunan tamu undangan.

“Hem, apakah kedatangan saya mengganggu pembicaraan anda Yang Mulia?” tegur Hikaru sedikit merasa bersalah.

Mizuki memandang padanya dan mendapati Hikaru memandangnya sedikit salah tingkah. Gadis itu tertawa geli lalu menggeleng.

“Tidak usah di pikirkan, ayo masuk!” ucap Mizuki.

Keduanya kembali berjalan masuk ke dalam aula pesta dan bergabung kembali dalam kerumunan para tamu. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan dan keriuhan di aula pesta mendadak senyap. Seluruh tatapan tertuju pada satu titik, yakni di tangga masuk utama.

Disana berdiri sang Raja serta Putra Mahkota kerajaan Utara, sosok pemuda berjubah biru yang tadi Mizuki temui. Mizuki tersenyum melihat betapa tampannya sang Pangeran Mahkota yang berhasil mencuri hatinya itu. Dalam hati, sang Ratu berpikir untuk mengikat persekutuan kerajaan dari sekedar perjanjian biasa menjadi ikatan pernikahan. Bukankah mereka akhirnya bisa menyatukan negara mereka? Keuntungan dua belah pihak bisa di dapat dalam hal ini bukan?

God save the King! Long Live King Yuya!” terdengar sorakan saat sang Raja mengambil satu langkah ke depan untuk berbicara.

“Selamat malam dan selamat datang para kepada Yang Terhormat, tamu undangan, para Raja, Ratu serta Pangeran dan Putri dari kerajaan sahabat. Selamat datang para Rakyat kerajaan Utara. Malam yang berbahagia ini, Putraku, sang Pangeran Mahkota genap mencapai usia 17 tahun, usia kedewasaan bagi para pemuda di negeri kita. Semoga sang Pangeran senantiasa diberikan kesehatan dan kemakmuran.” Seru sang Raja.

God Save the Prince!” seru para tamu bersamaan.

Sang Raja kembali tersenyum sumringah di tempatnya, “ Pada kesempatan berbahagia ini. Izinkan saya untuk mengumumkan satu hal yang paling membahagiakan lagi. Yakni, saya akan mengumumkan tunangan sang Pangeran.” Bak tersambar petir, ulas senyuman di wajah Mizuki mendadak lenyap tertelan keterkejutan.

“Seorang Putri dari kerajaan Barat, segera akan menjadi pendamping Pangeran sekaligus menjadi Putri Mahkota negeri ini. Semuanya mari kita sambut, Putri Yuna.” ujar sang Raja.

Mizuki merasakan ketegangan yang sama seperti yang dirasakannya, tatkala seorang Putri dalam balutan gaun hijau melangkah naik dan berdiri bersisian dengan Pangeran Kei di atas sana. Mizuki merasakan hatinya pecah menjadi kepingan kecil tatkala melihat Pangeran muda yang telah mencuri hatinya tersenyum lembut pada sang putri bergaun hijau itu. Meraih tangannya, lalu berjalan maju sejajar dengan sang Raja yang juga terlihat bahagia.

Beraninya mereka tersenyum seperti itu? Beraninya mereka bahagia diatas penderitaanku? Beraninya gadis itu merebut Pangeranku?!

“Hikaru, ayo pergi dari sini!” desis Mizuki tajam.

“Y..Yang Mulia?!” Hikaru sedikit tergagap, namun Mizuki telah berjalan lebih dahulu dan Ia terpaksa mengikuti sang Ratu.

Hikaru masih sempat berbalik dan menatap sendu tiga orang diatas sana, namun dia segera berbalik kembali mengejar Ratunya yang sudah berjalan lebih dahulu dengan cepat.

God save the Princess! Long Live King Yuya! Long Live Prince Kei! Long Live Princess Yuna!

=*=

(Sang Ratu tiran pun jatuh cinta,

pada seorang pemuda biru dari negeri seberang

Tetapi sayang dalam sekejap mata,

sang pemuda direnggut oleh sang gadis hijau dari negeri tetangga)

=*=

“Aku tidak peduli!!!” bentak sang Ratu sambil melempar vas bunga di sisinya, membuat benda itu pecah berantakan di tengah aula utama, dihadapan para menteri.

Para menteri terkejut dengan perubahan sang Ratu yang tiba-tiba. Sang Ratu tidak biasanya bersikap seperti itu pada mereka. Ratu mereka pasti selalu bertanya pada Sekretaris Kerajaan setiap akan memutuskan sesuatu, namun tidak kali ini.

Para menteri, bahkan Sekretaris Kerajaan sekalipun harus menelan ludah dengan susah payah saat berhadapan dengan tatapan dingin sang Ratu di hadapan mereka sekarang. Ratu muda mereka berubah semakin tiran seakan tidak lagi memiliki hati.

“T..tapi Y..Yang M..Mulia, K-Kera-jaan Barat a-adalah p-pemasok ga-gandum terbesar di kerajaan kita.” Seru salah satu Menteri di sisi Kiri.

Sang Ratu lalu memberikan tatapan menusuknya pada pria itu dan membuatnya bungkam seketika.

“Kau mendengarku tadi, menteri. Aku tidak peduli. Atau kau ingin lupa dengan kejadian terakhir kali saat ada yang membantah perintahku!” menteri tersebut merasa seakan sebuah batu tersangkut di tenggorokannya. Ratunya saat ini sangat menakutkan dan dia tidak tau apa yang membuat sang Ratu berubah menjadi semakin kejam seperti ini.

“Persiapkan saja segalanya, dan aku ingin semuanya segera menjadi milikku segera!” segera setelah berkata seperti itu, Ratu Muda itu pun bangkit dari singgasananya keluar dari aula utama.

Setelah sang Ratu menghilang dari pintu, seakan udara berat yang memenuhi ruangan itu menguap seketika. Para menteri lalu mengambil nafas dalam-dalam meski belum ada satupun yang beranjak dari tempatnya.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Ratu, Sekretaris Kerjaan?” tanya sang Menteri Kiri.

Pria yang Ia ajak bicara hanya bisa menggeleng, “Entahlah. Ratu Mizuki sudah seperti itu sejak Ia kembali dari Kerajaan Utara?”

“Sesuatu pasti terjadi pada Ratu selama Ia berada di Kerajaan Utara.” Seru Menteri yang lain.

Terdengar helaan nafas berat dari semua orang yang ada disana. Kemudian suasana pun berubah hening, sampai salah satu dari mereka berujar.

“Sekarang, apa yang akan kita lakukan?”

=*=

(Sang Ratu jatuh dalam kegelapan hatinya yang cemburu

Lalu memerintahkan para menterinya

Meminta dengan suaranya yang dalam

“Hancurkan negeri sang putri Hijau”)

=*=

“Yang Mulia…” Mizuki sama sekali tidak menjawab panggilan Hikaru di luar pintu kamarnya.

Terdengar isakan tangis sayup dari dalam kamar sang Ratu. Untuk kesekian kalinya, Hikaru menghela nafas berat. Ratu sudah seperti ini sejak kembali dari pesta dansa waktu itu. Sejak mendengar pertunangan Pangeran Kei dan Putri Yuna, senyuman di wajahnya pun mendadak lenyap. Berganti dengan tatapan datar sedingin es di depan banyak orang, dan sendu saat Ia sendiri.

Hikaru tidak tau bagaimana cara menghibur saudarinya. Saat Ia sendiri juga merasakan hal yang sama. Saat Ia juga harus merasakan patah hati yang sama.

Tetapi Hikaru harus kuat. Sebagai seorang pria, dan juga sebagai satu-satunya sandaran yang dimiliki oleh Mizuki, Ia tidak boleh goyah. Ada kalanya Ia harus mengorbankan perasaannya sendiri demi kebahagiaan saudarinya. Apapun agar Mizuki bisa tersenyum kembali.

“Baiklah!” Hikaru menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kuat.

Mizuki harus kembali seperti semula.

“Yang Mulia, saya izin untuk masuk!” ujar Hikaru.

Perlahan tangan pemuda itu memutar knop pintu lalu mendorongnya kearah dalam. Pemuda itu mendapati suasana kamar temaram dan terdengar isakan tangis dari balik peraduan sang Ratu. Perlahan Hikaru mendekati peraduan sang Ratu dan mendapati sang saudari berbaring dengan posisi terlungkup, bahunya bergetar seiring dengan isakan yang terdengar.

Hikaru lalu mendekat tempat tidur sang Ratu dan mengulurkan tangannya ke kepala sang Ratu dan mengelusnya dengan lembut.

“Yang Mulia…” panggilnya.

Sang Ratu terlihat tidak keberatan dengan sentuhan Hikaru. Gadis itu malah semakin mendekat pada Hikaru yang sudah duduk di sisi tempat tidur, lalu menangis dengan kencang. Hikaru hanya berdiam sambil terus mengelus puncak kepala sang saudari berharap itu akan menenangkannya.

“Hiks… Hikaru, bagaimana bisa mereka tersenyum seperti itu? hiks… bagaimana mungkin mereka bisa bahagia seperti itu diatas penderitaanku? Mereka… sangat kejam hiks…” keluh Mizuki padanya.

Hikaru masih mengelus lembut puncak kepala saudarinya dengan sayang.

“Apa yang bisa ku lakukan untuk menghentikan tangismu itu?” gumam Hikaru.

Gumaman itu rupanya menarik perhatian dari Mizuki. Sang Ratu lalu mengangkat kepalanya dan memandang pada Hikaru dengan wajahnya yang sembab.

“K-kau …” Hikaru tersenyum dari balik topengnya, menatap sang Ratu dengan lembut.

“Adakah yang bisa ku lakukan untuk membuat perasaanmu lebih baik, Yang Mulia?” tanya pemuda itu.

Mizuki menatapnya sejenak lalu balik bertanya, “Kau akan melakukan apapun yang ku minta? Benar apapun?”

Hikaru mengangguk, lalu meletakkan tangannya di puncak kepala Mizuki. “Apapun itu jika bisa membuat senyuman kembali hadir di wajahmu, aku akan melakukannya. Aku bersumpah padamu!”

“Kalau begitu, maukah kau memberikanku kepala Putri Yuna?”

=*=

Teng! Teng! Teng!

Suara jam besar di ruangan tengah menghentikan cerita Arina. Tidak terasa malam sudah semakin larut. Arina lalu tersenyum pada sang Reader kecil yang masih menatapnya dengan raut penasaran.

“Sudah saatnya kau tidur reader kesayanganku.” Arina tersenyum melihat sang reader mengerucutkan bibirnya tidak rela.

“Aku masih belum puas. Ratu Mizuki sungguh kejam sampai meminta kepala Putri Yuna hanya karena Ia cemburu. Apakah Hikaru akan mengabulkannya?” ujar sang reader.

“Kita akan mengetahuinya di lain hari. Tapi bukan malam ini. Sekarang kau butuh tidur readerku sayang!” Arina kembali menjawil hidung sang reader.

“Baiklah… selamat malam Arina-san!” dengan malas-malasan sang reader turun dari sofa dan berjalan kembali ke tangga.

“Selamat malam juga untukmu, mimpi indah ya reader kesayanganku!” ucap Arina.

*****

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s