[Minichapter] Servant of EVIL part 2

Servant of Evil cover

SERVANT OF EVIL

Author: yamariena/Arina

Genre: family, drama, fantasy

Rating: PG-17

Main Cast: Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Yamamoto Mizuki

Malam sudah beranjak semakin larut saat Arina mendengar ketukan dari pintu kamarnya. Gadis itu tersenyum melihat sosok Reader kecil yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu dan memandangnya.

“Arina-san, aku sudah menyikat gigiku!” lapornya.

“Benarkah? Baiklah kita langsung saja ke kamarmu.” Arina mendekati si Reader lalu menggandeng tangannya.

Sesampainya di kamar si Reader kecil langsung naik ke tempat tidurnya, dan menanti Arina yang duduk di sisinya seperti biasa.

“Apa kau ingin melanjutkan cerita yang kemarin?”

“Kau ingin aku melanjutkannya?” si Reader mengangguk dengan antusias.

Arina mengangguk dan tersenyum lebar, “baiklah, aku akan melanjutkan ceritanya.”

 

=*=

Pada jaman dahulu kala ada seorang Ratu muda

Dia memerintah sebuah kerajaan dengan sangat egois

Jika dia menginginkan sesuatu, maka dia bisa mendapatkannya dengan mudah

Meskipun itu membuat rakyatnya sangat menderita.

=*=

 

“Naikkan saja upeti dari rakyat!”

Beberapa menteri terlihat saling berpandangan dengan heran namun tidak sedikit terlihat tersenyum puas mendengar titah dari Ratu muda mereka.

“Apa maksud Yang Mulia Ratu?” tanya salah seorang menteri.

Sang Ratu memandang dingin dari singgasananya, “Kau mengatakan bahwa kita kekurangan bahan pangan, bukan? Kenapa tidak kau naikkan saja pajak yang harus diserahkan oleh petani kepada kita?”

Sang menteri yang melapor terkesiap saat mendengar titah yang diberikan padanya. Bagaimana mungkin sang Ratu memerintahkan untuknya menaikkan pajak bagi para petani, sedangkan negeri sedang mengalami musim kemarau saat itu.

“Sekretaris Kerajaan? Bagaimana menurutmu? Bukankah keputusanku ini benar?” sang Ratu beralih pada satu pria yang duduk tidak jauh dari tempatnya.

“Menurut hamba, keputusan Yang Mulia Ratu sudah sangat tepat!” seulas senyuman licik terbit di wajah sang Sekretaris Kerajaan, berikut beberapa menteri lainnya yang juga menggumam hal yang sama.

“Maafkan saya Yang Mulia Ratu,” seru sang Menteri lagi, dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung sang Ratu, “Saat ini, upeti yang harus dibayarkan oleh rakyat sudah sangat tinggi. Apalagi saat ini sedang musim kemarau, saya rasa sangat tidak benar untuk menaikkan lagi pajak dari rakyat, Yang Mulia.”

“Jadi menurutmu keputusanku salah, tuan Menteri?” Sang Ratu sedikit meninggikan suaranya, membuat sang Menteri sedikit kecut di tempatnya. “Jadi menurutmu aku kurang bijaksana sebagai Ratu? Aku hanya memberikan solusi akan masalah yang terjadi di negeri kita, tuan menteri. Apa keputusanku terlalu tiran untukmu?”

Sang Menteri menghela nafas untuk menenangkan diri. Memaklumi bahwa sang Ratu masih sangat muda, masih butuh lebih banyak bimbingan. Maka sang menteri memantapkan hati untuk mengangkat kepalanya dan memandang sang Ratu dengan tegas.

“Bukan seperti itu maksud saya Yang Mulia Ratu, saya yakin Yang Mulia akan bisa memutuskan lebih bijaksana lagi. Saya hanya ingin Yang Mulia lebih memikirkan para rakyat kebanyakan yang sangat menderita.” Seru sang Menteri.

“Lalu, apa usulanmu?” sang Ratu muda terlihat tidak goyah dan kini berbalik menantang menteri tersebut.

“Yang Mulia, menurut saya pajak yang dipungut oleh beberapa pejabat dan menteri yang terlalu banyak yang harus disalahkan. Yang Mulia harus lebih bijaksana untuk menentukan pajak siapa yang harus ditambah.”

“Lancang sekali kau!” Sekretaris Kerajaan mengumpat pada sang menteri yang justru memandangnya dengan tajam.

Sang Ratu memberikan isyarat agar semua yang ada di dalam aula utama itu diam. Lalu Ia memandang tajam pada sang menteri dan menyunggingkan seulas senyuman miring padanya.

“Pejabat istana? Bagaimana jika kita mulai dari dirimu, tuan menteri?” ujar sang Ratu. Sang Menteri terlihat menyerit bingung. Namun, “Pengawal!! Masuk ke dalam!!” serunya keras.

Beberapa pengawal yang menjaga di luar aula pun masuk ke dalam ruangan, sang Ratu lalu memberi titah untuk menangkap sang Menteri dan membawanya ke dalam penjara.

“Menteri, kau dan seluruh keluargamu akan di usir dari kerajaan. Lalu hartamu akan di rampas, seperti katamu untuk membayar pajak negara.” seru sang Ratu dengan tenang.

“Yang Mulia! Yang Mulia tidak bisa melakukan ini pada saya!! Yang Mulia!” sang Menteri terus meronta dari cengkraman para penjaga.

Hingga satu kesempatan, pria itu berhasil lolos dan merampas serta pedang sang penjaga yang berada didekatnya. Sang Menteri lalu berjalan dengan cepat, ingin menghunuskan pedang tersebut pada sang Ratu. Tetapi niatnya patah saat sebilah pedang lain menghalangi pedangnya, menepisnya hingga terpelanting ke lantai. Satu sabetan menggores tepat di betis sang Menteri membuatnya langsung jatuh berlutut tepat di hadapan sang Ratu.

Menteri itu pun berteriak kesakitan. Wajahnya terangkat untuk melihat siapapun sosok yang menghentikan tindakannya.

Di hadapannya kini berdiri dengan tegak seorang pemuda bertopeng separuh yang sedang mengacungkan pedang tepat di dekat lehernya. Satu pergerakan yang salah, lehernya akan tersayat.

“Jangan pernah meletakkan tangan kotormu pada Yang Mulia Ratu!” seru sosok itu dengan dingin.

Sang Menteri mendapati aura mencengkam yang sama menguar dari pemuda itu, seperti saatnya berhadapan dengan sang Ratu. Seolah-olah Ia sedang berhadapan dengan dua orang iblis keji disaat yang bersamaan. Sang Menteri bergidik saat mendapati sebuah ide terlintas di pikirannya mengenai sosok pemuda bertopeng separuh ini.

Disebutkan bahwa sang Ratu memiliki seorang pengawal pribadi yang sangat mengerikan. Kekuatannya mampu menyaingi satu pasukan. Benar-benar sosok yang sangat berbahaya, dan kemungkinan besar sosok itu adalah yang sekarang sedang berdiri didepannya.

Tidak ada lagi tanda-tanda perlawanan dari sang Menteri, para pengawal kembali menjalankan tugasnya dan membawa pria itu dari sana. Tepat saat itu sang pemuda bertopeng berbalik menghadap pada sang Ratu yang masih duduk di singgasananya. Pemuda itu menyarungkan kembali pedang di tangannya lalu menunduk singkat pada sang Ratu.

“Silahkan, Yang Mulia!” ujarnya.

Sang Ratu lalu bangkit dari posisinya dan mulai berjalan keluar dari ruangan itu diikuti oleh si pemuda bertopeng. Tidak ada satupun dari para penghuni aula utama yang terlihat bangkit dari tempatnya hingga sang Ratu dan sang pemuda menghilang dari balik pintu.

“Hikaru, siapkan Jackson’s Earl Grey untuk cemilan sore ini!” seru sang Ratu.

Pemuda bertopeng itu tersenyum dan kembali menunduk pada punggung sang Ratu yang berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri, “Baik, Yang Mulia!”

 

=*=

 

Setahun sebelumnya,

Hikaru duduk di dalam sebuah kereta yang membawa persediaan ke katedral ibukota. Hari ini sudah hari kedua dari perjalanan panjang yang harus di tempuhnya. Masih ada sisa beberapa jam lagi hingga dia tiba di ibukota.

Masih jelas dalam ingatannya saat dia memutuskan untuk pergi ke ibukota setelah mendengar penjelasan dari bibi Miharu akan jati dirinya. Meskipun berat, tetapi wanita paruh baya tersebut harus merelakan keputusan Hikaru untuk pergi dan menghadapi takdir hidupnya.

Perbekalanpun di siapkan. Hingga tiba di hari saat dia akan berangkat. Menurut petunjuk dari sang ibu, kereta yang akan ditumpanginya ini akan membawanya tiba di sebuah katedral besar di ibukota. Dari sanalah, nanti Ia akan mulai memikirkan caranya untuk dapat masuk ke dalam istana.

Tak lupa, Miharu memberikan sebuah topeng separuh wajah berwarna hitam pada Hikaru. Pemuda itu menerimanya dengan bingung, namun Miharu tersenyum dan menjelaskan.

“Wajahmu dan Yang Mulia Putri sangat mirip. Jika identitasmu terbongkar bahkan sebelum kau berhasil masuk ke istana, bukankah itu akan buruk?” serunya.

Hikaru tersenyum dan memeluk Miharu untuk terakhir kalinya sebelum dia keluar dari rumah. Dengan topeng yang sudah tersampir di wajahnya.

“Anak muda, kita sudah sampai!” lamunan Hikaru buyar dengan panggilan dari sang kusir kuda.

Pemuda itu lalu turun dari dalam kereta, membantu sang kusir yang mulai menurunkan barang-barang yang dimuatnya. Beberapa biarawati dan petugas dari katedral terlihat keluar dan ikut membantu mereka membawakan muatan tersebut ke dalam gudang penyimpanan.

Ding! Dong! Ding! Dong!

Hikaru terdiam sesaat mendengar dentangan bel katedral yang bergema. Pemuda itu menduga bahkan suara bel tersebut mungkin mampu terdengar hingga ke penjuru ibukota.

“Aku juga mengaguminya saat pertama kali mendengar bel itu berdentang. Tetapi entah kenapa dentangnya kali ini terasa berbeda, tapi mungkin ini hanya perasaanku saja.” Hiaru tersenyum mendengar ucapan sang kusir yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya dan ikut memandang ke arah yang sama.

“Apakah ini sudah semuanya, tuan?” tanya Hikaru saat menurunkan karung gandum terakhir yang harus di angkutnya.

Sang kusir mengangguk dan menepuk pundak Hikaru, “Sudah. Terima kasih atas kerja kerasmu, anak muda.” Ucapnya.

Hikaru tersenyum dan mengangguk, “Saya yang harus berterima kasih atas tumpangannya, tuan. Anda sungguh baik hati,”

Hikaru lalu berpamitan dengan sang kusir lalu mulai berjalan sambil menyandang tas bekalnya. Namun Ia terhenti sesaat ketika tiba tepat di depan pintu masuk katedral tersebut. Seperti merasakan sebuah dorongan untuknya masuk.

Pemuda itu lalu berjalan masuk ke dalam katedral. Sedikit takjub dengan interior katedral tersebut yang sangat mewah. Sepertinya ini adalah katedral yang diceritakan oleh bibi Miharu padanya, katedral terbesar di ibukota. Tempat pembabtisan keturunan bangsawan bahkan keluarga kerajaan. Bahkan tempat penobatan Raja dan Ratu terdahulu, ayah dan ibunya.

“Pertama kalinya ku melihatmu, wahai anak muda. Apakah kau pengembara?” Hikaru menoleh dan mendapati seorang pastur berjalan menghampirinya.

Pemuda itu tersenyum dan menunduk singkat pada sang pastur. “Benar, saya adalah pengembara father. Tempat ini sangat indah untuk sekedar di lalui tanpa di singgahi.”

Sang pastur berjalan mendekat pada Hikaru. Terlihat menyerit sesaat saat memandang pada wajahnya. Perlahan pria itu menipiskan bibirnya dan menepuk singkat pundak Hikaru.

“Berhati-hatilah, anakku. Aku melihat bahaya selalu mendekat kearahmu. Aku hanya berharap semoga Tuhan selalu menyertai langkahmu, anakku.” Sang pastur lalu membentuk pola salib dengan tangannya sebelum berjalan meninggalkan Hikaru.

Hikaru tersenyum miris mengiringi kepergian sang pastur. Hikaru mendekat pada altar lalu berlutut dan mulai membentuk pola salib yang sama sebelum menyatukan kedua tangannya di depan dada dan mulai berdoa.

Tidak lama, Hikaru sudah kembali berada di luar katedral. Memutuskan untuk berkeliling dan melihat-lihat kota kelahirannya yang tak pernah dia kenali.

Namun, tiba-tiba…

Hikaru melihat sebuah kereta diserang oleh beberapa orang. Melihat ukiran di kereta tersebut, sepertinya pemiliknya adalah seorang bangsawan. Hikaru melihat sesosok wanita sedang di seret oleh beberapa orang dan sisanya melumpuhkan sang kusir.

Sedikit berdecak, pemuda itu lalu menghampiri para bandit tersebut. Hikaru lalu mengayunkan pedangnya, memberikan luka sayatan yang mampu melumpuhkan, hingga untuk berdiri dan berbalik menyerangpun mereka tidak lagi bisa. Tidak butuh waktu lama, para bandit tersebut sudah berhasil Ia lumpuhkan.

Hikaru lalu berjalan mendekati wanita yang tadi diseret oleh bandit tersebut, terlihat ketakutan saat mendapati seorang bertopeng mendekat padanya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hikaru sekedar memastikan.

“A-aku b-ba-baik…” setelah melihat senyuman dari bibir Hikaru meski hanya sebelahnya saja, barulah wanita itu terlihat sedikit lega.

“Kusir, bukakan pintu!” sebuah suara lain dari dalam kereta mengalihkan perhatian Hikaru dan wanita itu.

Sang kusir yang sedang terluka itu, sedikit tertatih mendekat pada pintu kereta yang dibawanya dan membuka pintu itu sesuai permintaan sang pemilik suara.

Sesosok gadis muda turun dari kereta itu dan menghampiri keduanya. Hikaru terkesiap untuk ke sekian kalinya hari itu. Sepertinya tidak butuh waktu lama bagi Tuhan untuk mengabulkan doanya.

Sosok itu, gadis yang kini berdiri tepat di hadapannya, baik surai maupun wajahnya, tidak salah lagi sosok itu adalah yang ingin Ia temui. Sosok yang sangat mirip dengannya. Saudarinya.

“Siapa namamu, wahai pemuda bertopeng?” tanya gadis itu.

Ingin sekali Hikaru menghambur dan memeluk sosok itu. Namun saat gadis itu menyebutkan topeng yang sedang digunakannya, Hikaru bagaikan disadarkan dengan tujuan kedatangannya ke tempat ini. Pemuda itu mengangguk dan membungkuk singkat di tempatnya.

Gadis itu datang tidak membawa pengawalan ketat dan hanya membawa dua orang pelayan bersamanya. Mungkin saja dia sedang pergi diam-diam dari istana dan menyamar sebagai seorang bangsawan biasa. Maka Hikaru pun tidak di posisi dimana dia bisa membuka penyamarannya juga sebagai seorang pengembara dan tidak mengenali sosok itu.

“Nama saya adalah Hikaru, dan saya adalah seorang pengembara.” ucapnya.

Gadis itu tersenyum, terdiam sesaat seperti berpikir akan sesuatu di tempatnya. Sebelum akhirnya Ia berujar.

“Hikaru sang pengembara, maukah kau menjadi salah satu pelayanku?” tanya gadis itu tiba-tiba.

“Y-Yang M-Mulia?!” sang wanita terkesiap mendengar ucapan majikannya yang tiba-tiba itu.

Namun gadis itu seperti tidak peduli dan masih menatap lurus pada Hikaru, yang sepertinya juga terlihat terkejut.

“Seperti yang kau lihat, dua pelayan yang ku bawa terluka. Akan sulit bagiku untuk pulang dalam keadaan seperti ini. Aku lihat kau memiliki kemampuan bela diri yang sangat hebat, kau bisa mengawalku sampai aku pulang nanti. Setelah itu kita bisa mencarikanmu posisi yang bagus saat tiba di rumah nanti. Atau jika kau menolak untuk bekerja hingga seterusnya, setidaknya hanya sampai aku pulang saja. Aku akan membayarmu nanti.”

Hikaru terdiam sesaat. Memandang baik pada gadis di hadapannya dan dua orang pelayan di sisinya yang terlihat ragu, namun sepertinya tidak bisa membantah apapun yang sudah diputuskan oleh majikannya.

Hikaru tersenyum dengan lebar dan kali ini berlutut di hadapan gadis itu. Sepertinya takdir memang sedang berpihak padanya malam itu.

“Sungguh kehormatan bagi saya bisa melayani anda, nona. Saya, Hikaru mengucap sumpah setia pada anda.” Ucapnya.

Gadis itu tersenyum dengan lebar lalu meminta Hikaru untuk berdiri dari posisinya.

“Hikaru, mulai sekarang aku adalah tuanmu. Namaku Mizuki, dan aku adalah Putri Mahkota negeri ini!”

=*=

 

“Cemilan pendamping untuk hari ini saya sudah menyiapkan Orchard Fruits Pie, Yang Mulia.” Hikaru meletakkan piring berisi sepotong kue di atas meja tepat di hadapan sang Ratu.

Gadis itu memotong sedikit kue itu dengan garpu dan menyuapnya ke mulutnya sendiri.

“Hmmmp~ seperti biasa Hikaru, semua terasa lezat.” Hikaru tersenyum mendengar pujian sang Ratu padanya.

Saat-saat yang menyenangkan untuk Hikaru setidaknya sekali dalam sehari adalah saat ini, saat cemilan sore. Disaat sang Ratu dan dirinya bersama dan tidak di ganggu oleh siapapun. Di hari biasa, sang Ratu akan minta diceritakan tentang keadaan di luar kerajaan. Seperti saat Hikaru menceritakan tentang desa tempatnya tinggal selama ini, sang Ratu mendengarnya dan terlihat sangat antusias.

Hanya disaat seperti ini sajalah, untuk sesaat saja, Hikaru merasa dekat dengan saudarinya sendiri. Dia bisa menceritakan banyak hal dengan saudarinya, begitu juga dengan gadis itu yang terkadang berkeluh kesah padanya. Hanya disaat ini, mereka terasa bagai saudara yang nyata.

Tetapi setelah saat cemilan sore berakhir, Ia harus menerima bahwa semuanya kembali seperti sedia kala. Hikaru dengan statusnya sebagai seorang pelayan, dan Mizuki adalah majikannya sekaligus sang Ratu negeri itu.

Ada alasan kenapa Hikaru tidak langsung mengatakan siapa dirinya pada Mizuki adalah karena keadaan kerajaan saat ini.

Selama 16 tahun ini, ternyata Mizuki hidup seorang diri di dalam istana. Penyerangan waktu itu, selain menewaskan sang Ratu ternyata juga menewaskan sang Raja. Selama beberapa tahun kerajaan di pimpin oleh Sekretaris Kerajaan yang di dukung oleh beberapa menteri. Mizuki di biarkan hidup dan di asuh untuk dijadikan Ratu boneka bagi para bangsawan licik tersebut.

Mizuki di besarkan dengan ajaran yang salah. Sang Ratu tumbuh menjadi sosok gadis yang egois.

Maka, tujuan utama dari Hikaru setelah masuk ke Istana adalah mencari cara untuk menggulingkan para bangsawan serta Sekretaris Kerajaan yang selalu berperan penting di balik layar. Namun, siapalah dirinya. Ia tidak memiliki dukungan yang memadai untuk menyelamatkan sang saudari.

Karena itu, hal yang bisa dia lakukan untuk sementara adalah selalu berada di sisi saudarinya untuk melindunginya dari mereka.

“Hikaru, bagaimana dengan persiapan untuk minggu depan?” tanya sang Ratu padanya.

Hikaru tersenyum, “Semua sudah hampir selesai, Yang Mulia. Tukang jahit kerajaan akan mengantarkan gaun anda dalam waktu dekat ini. Jika tidak ada halangan, empat hari lagi kita sudah bisa berangkat, Yang Mulia.”

Mizuki meletakkan cangkir teh kembali ke tatanan piringnya dan mengangguk mengerti. Gadis itu lalu memandang penuh minat pada Hikaru yang tengah mengisi kembali cangkirnya yang hampir kosong.

“Ngomong-ngomong dengan pesta topeng, kenapa kau selalu menolak saat aku memintamu untuk melepaskan topeng itu?”

Hikaru mendadak terdiam di tempatnya. Namun pemuda itu kembali menguasai dirinya lalu tersenyum pada sang Ratu yang masih memandangnya penuh minat.

“Maafkan saya, Yang Mulia Ratu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, dibalik topeng ini ada bekas luka yang hamba sangat malu untuk diperlihatkan pada siapapun.” Maafkan aku, saudariku. Aku terpaksa berbohong padamu.

“Apakah sangat parah? Sampai kau tidak bisa menunjukkannya bahkan padaku?” sang Ratu terlihat tidak menyerah.

Hikaru menipiskan bibirnya, “Bekas luka ini sangat mengerikan. Hamba takut Yang Mulia nantinya akan merasa jijik dan mengusir saya dari Istana ini. Bahkan saya juga tidak memiliki muka untuk tetap berada di kerjaan ini lagi.”

Sang Ratu mengerucutkan bibir lalu menghela nafas menyerah, “Baiklah, aku akan tetap bersabar sampai tiba saatnya topeng itu akan terbuka sendiri.” serunya lagi.

Tidak akan lama lagi. Aku berjanji padamu, aku akan memberikan kebebasan padamu dari semua ini. Saat itu tiba, tidak akan ada lagi topeng dan kebohongan padamu.

“Hikaru, kapan-kapan buatkan lagi pie ini ya.”

Hikaru tersenyum dan membungkuk, “Titahmu adalah perintah untukku, Yang Mulia!”

 

=*=

(Pada suatu hari hiduplah seorang Ratu,

saudariku yang imut

Dia memerintah dari awal

Di sebuah kerajaan yang biadab dan kejam)

=*=

 

Arina menghentikan ceritanya saat dia mendengar dengkuran halus di sisinya. 

“Tertidur? Apakah ceritaku sangat membosankan ya?” gumamnya.

Gadis itu tersenyum dan merapikan letak selimut Reader kecil lalu memberikan kecupan selamat malam seperti biasanya.

“Mimpi indah Reader kesayanganku,”

Arina lalu mematikan lampu kamar itu dan berjalan keluar dengan hati-hati, agar tidak membangunkan sang Reader kesayangannya dari mimpi indah.

*****

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s