[Minichapter] Servant of EVIL part 1

Servant of Evil cover

 

SERVANT OF EVIL

Author: yamariena/Arina

Genre: family, drama, fantasy

Rating: PG-17

Main Cast: Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Yamamoto Mizuki

Support: Yabu Kouta (Hey!Say!JUMP); Sato Miharu (OC)

“Arina-san,”

Arina yang sedang sibuk di meja kerjanya berbalik menatap sang Reader kecil yang sedang memanggilnya di depan pintu. Arina tersenyum lembut dan memanggil si Reader kecil agar mendekatinya.

“Tidak bisa tidur lagi?” si Reader kecil mengangguk.

Arina lalu membimbing si Reader kecil kembali ke kamarnya sendiri, lalu naik ke atas tempat tidur.

“Arina-san, ceritakan sesuatu!”

Langkah Arina untuk kembali ke kamarnya sendiri terhenti oleh si Reader kecil.
Arina menghela nafas lalu ikut naik ke tempat tidur Reader kecil
dan duduk bersandar di kepala tempat tidur.

“Hanya satu cerita lalu janji kau akan tidur?” Reader kecil mengangguk dengan antusias.

“Baiklah… cerita apa ya” Arina terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya dia tersenyum saat menemukan sebuah ide.

“Nah, pada suatu hari…………………………….

 

=*=

Ding! Dong! Ding! Dong!

Bel dari katedral besar kota berdentang dengan nyaring. Suara bel itu terdengar hampir diseluruh penjuru negeri. Dentang bel senja itu terdengar berbeda dibanding biasanya. Dentangan kali ini membuat ketegangan di istana semakin menjadi. Sang Raja berjalan bolak balik dibalik pintu peraduannya.

Dari balik pintu terdengar jerit kesakitan dari sang Ratu yang sedang berjuang melawan maut untuk melahirkan sang pewaris yang sudah lama mereka nantikan.

Tiba-tiba saja saja sang Ratu menjerit keras, hampir saja membuat sang Raja jatuh pingsan di tempat jika saja dia tidak mendengar suara tangis bayi detik berikutnya.

Sang Raja langsung menerobos masuk ke dalam, mendapati tabib istana sedang menggendong seorang bayi yang masih merah ke arah bak mandi yang telah di siapkan untuk membasuh sang bayi.

“Selamat Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu melahirkan seorang putri”

“Anakku,” seru sang Raja saat melihat bayi mungilnya yang sedang di mandikan.

Ding!Dong!Ding!Dong

“Y-Yang M-Mulia” sang Raja berjalan mendekati Ratu yang memanggilnya dengan lemah.

Raja lalu menciumi wajah sang Ratu dengan sayang sambil mengucapkan terima kasih juga rasa syukur pada Tuhan berkali-kali.

Sang tabib lalu menyerahkan sang bayi ke pangkuan sang Ratu. Sang Raja mengucapkan terima kasih kepada tabib tersebut dan memberikan sekantung kepingan emas kepada sang tabib sebagai tanda syukur.

Tepat saat itu pelayan kesayangan sang Ratu masuk ke dalam kamar. Tergopoh-gopoh menghampiri Raja dan Ratu dengan raut wajah yang sangat khawatir.

“Miharu, lihatlah. Ratu melahirkan seorang putri yang sangat cantik.” Raja luput dari raut kekhawatiran si pelayan dan masih terlihat bahagia melihat bayi mungilnya.

“Ada apa Miharu?” tapi ternyata sang Ratu menyadarinya.

“Y-Yang M-Mulia, p-para menteri m-melakukan k-kudeta!” jelas raut gugup saat si pelayan melaporkan situasi yang sedang terjadi di istana.

Pupil sang Raja melebar, sang Ratu memeluk bayinya dengan erat. Sang Raja terlihat sangat murka lalu berjalan keluar dari kamar. Tetapi terlebih dahulu memberi perintah agar Miharu menjaga sang Ratu dan bayi mereka yang baru lahir.

“Aaarrrgghhhh~” tepat setelah sang Raja menghilang dari balik pintu, sang Ratu menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.

“Y-Yang M-Mulia R-Ratu!!” dengan panik sang pelayan mendekati sang Ratu lalu dan mengambil alih sang bayi.

Si pelayan sedikit menyerit karena sang Ratu menjerit kesakitan sambil memegang perutnya. Si Pelayan melihat ke balik selimut sang Ratu untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pupilnya seketika melebar saat melihat masih ada sebentuk kepala bayi yang akan keluar.

“B-bayi?! Y-Yang M-Mulia a-kan m-mela-hirkan l-lagi?” si Pelayan terlihat semakin gugup.

“Miharu!!” si Pelayan sedikit terkejut mendengar nada keras dari sang Ratu padanya, “K-kau… b-bantu… dia keluar!! B-bantu aku… m-melahirkan!!” titah sang Ratu.

Si Pelayan terlihat sangat takut dan menggeleng dengan kuat. Namun sang Ratu menggenggam dengan erat tangannya dan menatap dengan memohon. Si pelayan tau bahwa saat itu bukan waktu yang tepat untuk memanggil kembali tabib dan meninggalkan Ratu sendirian.

Si Pelayan kemudian membulatkan tekadnya, meletakkan bayi yang tadi di gendongnya ke sisi Ratu dan beralih untuk mengeluarkan bayi yang satunya.

Ding!Dong!Ding!Dong

Teriakan, dentingan pedang, dan lautan darah memenuhi lapangan istana. Di depan pasukan berdirilah sang Raja, mengayunkan pedangnya menebas setiap perajurit maupun para menteri yang berkhianat.

Sementara itu jerit penuh kepiluan dari sang Ratu yang kembali harus merenggang nyawa untuk menyelamatkan satu bayi lagi dari rahimnya. Beberapa saat kemudian tangisan bayi kembali terdengar menggema di kamar. Bayi kemerahan yang masih bersimbah darah berakhir dalam pelukan si Pelayan kepercayaan Ratu, yang terduduk kelelahan di lantai tempatnya tadi berdiri.

“Y-Yang Mulia… anda melahirkan seorang Putra!”

Si Pelayan lalu beralih ke bak mandi untuk membersihkan si bayi laki-laki. Lalu membaringkannya di sisi sang Ratu, bersebelahan dengan bayi perempuan yang terlihat sudah tertidur dengan nyenyak.

“Y-Yang… M-Mulia… pasti senang… dia m-mendapatkan Putra Mahkota!” si Pelayan tersenyum bahagia memandang sang Ratu dan memandang kedua bayi kembar tersebut bergantian.

Tiba-tiba terdengar suara ribut dari luar. Lalu pintu terbuka dan terlihat sang Panglima masuk ke dalam kamar Ratu.

“Yang Mulia! Yang Mulia harus bersembunyi. Para pengkhianat sudah mulai memasuki istana!” mata Jendral melihat pada dua bayi yang berada di sisi Ratu, matanya melebar mendapati bahwa Ratu melahirkan anak kembar.

“Miharu, bantu aku membawa anak-anakku!”

Si Pelayan mengangguk. Sang Ratu dengan tertatih, di bimbing oleh panglima sambil menggendong satu bayi dan si Pelayan menggendong kembarannya. Mereka pergi melalui pintu rahasia dari kamar Ratu, yang hanya di ketahui oleh keluarga kerajaan dan orang yang dipercaya Raja.

Ketiganya tiba di pintu belakang istana. Baru saja mereka ingin menuju pintu gerbang belakang, ada beberapa perajurit berhasil mengejar mereka.

“Yang Mulia! Pergilah lebih dahulu, saya akan menahan mereka disini!” Panglima sudah mengeluarkan pedang dari sarungnya. Si Pelayan mendekati Ratu dan membantunya memapahnya hingga keluar dari gerbang. Hutan belantara kini menyambut mereka.

Namun…

“Y-Yang M-Mulia! A-anda… ber-darah…” pupil si Pelayan melebar saat melihat darah merembes di kaki sang Ratu.

Si Pelayan lalu memapah Ratu untuk bersembunyi dan beristirahat di balik pepohonan yang tertutup dedaunan yang rimbun.

“S-saya a-akan men-cari b-bantuan! Y-Yang Mu-lia beristirahatlah l-lebih d-dulu,” ujar si Pelayan.

Si Pelayan berlari sambil mendekap erat satu bayi di pelukannya. Mencari setidaknya ada benda yang bisa digunakannya untuk membawa sang Ratu dan dua bayinya. Tetapi baru beberapa langkah menjauh, terdengar rangkaian derap langkah kuda yang mendekat.

Si Pelayan langsung bersembunyi di balik pepohonan. Juga tertutup daun-daun rimbun. Malam itu, si Pelayan menjadi saksi teriakan pilu dari sang Ratu saat bilah logam tajam merobek perutnya. Si Pelayan menahan suara tangisannya sendiri agar tidak terdengar saat menyaksikan itu semua, terutama saat dia mendengar suara tangisan bayi dari si kembar. Saat itu si kembar dalam gendongan si Pelayan mulai bergerak dengan gelisah.

“T-To-long j-ja-jangan m-mena-ngis…” desis si Pelayan pada bayi di dekapannya.

Tepat saat itu derap langkah kuda pun menjauh dari sana. Tidak ada lagi terdengar suara tangisan atau apapun. Si Pelayan terdiam beberapa saat di tempatnya sambil meyakinkan bahwa situasi disana sudah sangat aman.

Perlahan, si Pelayan berjalan mendekati tempat tadi dia meninggalkan sang Ratu. Si Pelayan terkesiap saat melihat jasad sang Ratu berada disana. Si Pelayan terduduk di sisi sang Ratu dan menangis dengan keras. Saat itu juga si bayi mungil di gendongannya ikut menangis. Si Pelayan memeluk si bayi, mendekapnya untuk mendiamkan bayi mungil itu.

“Suatu saat akan ku pastikan kau kembali pada tempatmu!” bisik sang Pelayan pada si bayi mungil.

 

=*=

(Terlahir di dalam dunia yang penuh harapan

Kita diberkahi dengan dentang bel gereja

Demi keegoisan orang dewasa di sekitar kita

Masa depan kita terbagi jadi dua)

=*=

 

16 Tahun kemudian

Suara dentingan dua logam beradu beberapa kali. Seorang pemuda bersurai hazel menyeringai melihat lawannya berada dalam posisi sulit untuk berdiri, meskipun saat itu dia sedang mencobanya. Lalu detik berikutnya sosok itu sudah roboh di posisi terngkurap.

Give up!” suara tawa pemuda bersurai hazel itu menggema saat Ia berjalan mendekati lawannya dan mengulurkan tangannya, menawarkan bantuan.

“Cepat kali kau sudah jatuh, Kouta!”

“Aku bukan monster seperti kau, Hikaru! Bagaimana mungkin kau bisa menguasai teknik pedang itu dalam waktu seminggu?!”

Pemuda bersurai hazel yang di panggil Hikaru itu tertawa sambil berjalan mendekati sahabatnya, Kouta. Mengulurkan tangannya dan membantu pemuda itu untuk berdiri.

Saat itu terdengar suara ribut, orang-orang terlihat berlarian seakan tertarik pada sesuatu. Hikaru dan Kouta terlihat berpandangan bingung menatap keributan itu.

“Ah, sepertinya rombongan sudah tiba!” ujar Kouta.

Hikaru memandang bingung pada sahabatnya itu sesaat, sebelum sekelebat ingatan muncul di kepalanya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan jantungnya kini berdetak sangat cepat saat kenyataan itu berputar di kepalanya.

“Kau mau ikut?” Kouta bertanya sambil menyentuh pundaknya, membuat lamunannya buyar seketika.

Hikaru menggeleng dan tersenyum tipis, “Kau saja, aku kembali saja atau bibi akan mencariku.” Kouta mengangguk.

Pemuda itu mengerti akan maksud dari Hikaru saat itu, dan membiarkan saja sahabatnya yang mulai berjalan menjauhinya. “Sampaikan salamku untuk bibi Miharu!” ucapnya.

Hikaru berjalan melewati beberapa pondok sebelum tiba di depan sebuah pondok lainnya. Membuka pagar kayu yang sudah hampir lapuk, disambut dengan hamparan jalan setapak dan kiri-kanan dipenuhi dengan kebun bunga yang sangat terawat. Hikaru berjalan hingga ke undakan tertinggi dan membuka pintu pondok tersebut.

“Bibi, aku pulang!” serunya.

Seorang wanita paruh baya terlihat baru saja meletakkan semangkuk sup krim jamur di atas meja, tersenyum saat mendapati sosok Hikaru yang datang.

“Sudah pulang?” Hikaru mengangguk sambil meletakkan bilah pedang dari pinggangnya di sisi tempat duduknya, lalu duduk di tempat yang sudah disediakan.

“Ayo kita makan!” Miharu ikut duduk di sisi lain meja makan segi empat tua itu dan mulai makan, begitu juga dengan Hikaru.

Saat mereka mulai makan masih terdengar suara gaduh dari arah luar. Ternyata mampu menarik perhatian dari Miharu hingga wanita itu harus menjulurkan kepalanya untuk melihat ke luar jendela. Tetapi sepertinya tidak berhasil, dan wanita itu memutuskan untuk menyerah. Kini Ia ganti memandang satu sosok pemuda di hadapannya dengan tatapan bertanya.

Sedangkan pemuda yang di maksud, lebih memilih untuk melanjutkan makannya sendiri.

“Hikaru, apa kau tau sedang ada apa di luar?” tanya Miharu.

Hikaru mengangkat wajahnya dan menjawab dengan acuh, “Entahlah, tapi kata Kouta mungkin itu iringan kerajaan yang tiba.”

Miharu terlihat terkesiap di tempatnya. Sendok sup wanita itu terjatuh dan dentingannya menarik perhatian Hikaru padanya seketika. Hikaru baru saja akan berdiri untuk mengambil sendok baru, Miharu menahan tangan pemuda itu.

“Ada apa bibi?” tanya Hikaru penasaran.

“Iringan kerajaan…… apa kau tau siapa saja yang datang?” Miharu bertanya dengan nanar pada Hikaru.

Hikaru menyerit bingung akan sikap Miharu yang mendadak berubah, tapi dia menjawab pertanyaan tersebut. “Menurut kabar, Putri Mahkota dan Sekretaris Kerajaan, lalu beberapa pengawal dan pelayan. Tapi kenapa dengan itu, bibi?” ganti Hikaru yang bertanya.

Miharu terlihat bimbang di tempatnya. Tubuh wanita itu bergetar dengan hebat, terdiam seperti memikirkan sesuatu. Sesaat kemudian, Miharu mengangkat kepalanya dan memandang lurus pada Hikaru.

“S-sudah saatnya kau mendengar ini…” ucap Miharu sedikit bergetar, “A-aku tidak tau ada urusan apa mereka bisa sampai ke desa ini. Tetapi mungkin ini sudah takdirmu dan sekarang saatnya kau tau kebenaran ini, Hikaru.”

“Bibi, ada apa sebenar…” ucapan Hikaru terputus saat Miharu memberi isyarat untuknya diam.

“Dengarkan saja apa yang akan ku katakan, setelah itu keputusan ada di tanganmu” ucap wanita itu.

 

*****

Miharu tidak tau bagaimana yang terjadi di kerajaan. Si Pelayan hanya ingin memastikan bahwa nyawa tuan mudanya selamat. Hingga suatu saat nanti, sang tuan muda yang akan kembali ke tempatnya seharusnya. Sambil menggendong bayi mungil itu, Miharu terus berlari ke dalam hutan hingga Ia melihat cahaya redup dari sebuah katedral.

Miharu memutuskan untuk masuk ke dalam katedral itu, untuk menemukan kehangatan dari dinginnya malam, setidaknya hingga pagi menjelang.

Di dalam katedral, sang bayi mungil mendadak menangis. Miharu menduga bayi itu sedang lapar, tetapi dia tidak membawa apapun untuk sekedar meredakan rasa haus sang bayi. Maka dia hanya menggendongnya sembari berharap sang bayi akan tenang dan tertidur.

Tetapi rupanya tangisan itu menarik perhatian dari pastur katedral itu. Perlahan pastur itu berjalan mendekat pada Miharu.

“Ada apa?” tegurnya pada Miharu.

“A-ah, maaf father, bisakah kami berteduh di sini hanya sampai pagi tiba? Kami baru saja tertimpa kemalangan, dan bayi ini baru saja kehilangan orang tuanya, padahal dia baru saja lahir…” ucap Miharu memohon.

“Ah, kasihan sekali. Kemarilah nak, ayo ikut ke kebelakang. Sepertinya para biarawati bisa menyediakan beberapa keperluan untuk kalian berdua.” Ujar sang pastur sambil membimbing keduanya.

Mereka berdua dibawa dan dirawat dengan baik oleh beberapa biarawati katedral. Sang bayi juga sudah mendapatkan susu dan kembali tertidur dengan pulas di dekapan Miharu. Melihat situasi sudah terkendali, sang pastur kembali mendekat pada Miharu dan mengajaknya bicara.

“S-saya Miharu, b-bayi ini a-adalah anak dari majikan saya. Kami baru saja diserang oleh orang yang tidak dikenal saat kembali dari rumah sakit. Majikan saya tewas, dan saya berhasil melarikan diri meskipun tadi kami sempat di kejar.” Miharu sengaja menceritakan cerita bohong pada sang pastur, tidak ingin ketahuan akan identitas sang bayi yang sebenarnya adalah Putra Mahkota. Bisa saja suatu hal buruk kembali akan menyerang sang bayi jika dia menceritakan yang sebenarnya.

“Kalau boleh tau dimana kediaman orang tuanya?” tanya sang pastur.

Miharu sedikit gelagapan, bingung untuk menjawab pertanyaan tersebut. Akhirnya dia menunduk dan terdiam sambil berpikir.

“Kau tidak mau menjawabnya?” tegur sang pastur lagi.

“Bukan begitu, father,” Miharu mengutuk mulutnya sendiri yang tidak henti berkata kebohongan meski sedang berada di katedral, “S-saya hanya takut, mungkin saja orang-orang itu adalah suruhan kerabat bayi ini sendiri. Saya… hanya ingin dia selamat, seperti keinginan nyonya.”

Sang pastur tersenyum ramah, “Aku punya ladang, cabang dari katedral ini di kampung halamanku. Kalau kau bersedia, aku bisa mengurus kepindahan kalian berdua kesana. Kalian bisa mulai hidup baru disana.” tawar sang pastur.

Miharu mengangkat kepalanya, tanpa pikir panjang lagi wanita itu menyetujui tawaran sang pastur. Disaat seperti ini, berada jauh dari jangkauan orang kerajaan sepertinya adalah pilihan yang tepat. Atas bantuan sang pastur, keesokan paginya Miharu diantar sang pastur menemui seorang kusir yang bertugas membawa perbekalan di katedral dari ladang tempat Miharu akan pergi.

Saat sedang mengatur beberapa barang yang akan dibawanya, Miharu melihat beberapa biarawati berkumpul di dekat sang pastur.

“Benarkah itu?” tanya sang pastur pada para biarawati.

Miharu mendengar percakapan berikutnya dalam diam dan perasaan yang campur aduk.

“Yang Mulia Ratu melahirkan seorang Putri Mahkota, tetapi kabarnya Ratu meninggal saat melahirkan. Iringan kerajaan akan tiba untuk melakukan pembabtisan pada Putri Mahkota.”

Father, terima kasih banyak atas bantuan anda,” Miharu menunduk pada sang pastur, tidak ingin berlama-lama berada disana.

“Jaga dirimu, anakku. Terutama Hikaru, sekarang dia adalah tanggung jawabmu, anakku.” Miharu memandang sosok bayi yang tertidur dalam dekapannya.

Mereka memutuskan untuk memberi nama bayi itu Hikaru, dengan harapan bahwa sang bayi akan menjadi cahaya meski kehidupannya kedepan akan sulit.

Miharu lalu naik ke dalam kereta, lalu sang kusir mulai menjalankan kuda yang menarik kereta itu. Baru beberapa langkah mereka berjalan, iringan kerajaan mulai tiba di katedral yang mereka tinggalkan. Miharu memandang nanar pada iringan kerajaan lalu beralih pada bayi di dekapannya dan tersenyum dengan sedih.

 

*****

“…meski aku tau saudarimu masih hidup, tetapi aku tidak yakin dengan keselamatan ayahmu. Aku juga tidak melihat sosoknya di iringan kerajaan saat itu. Maka saat itu aku yakin bahwa membawamu jauh adalah keputusan yang benar saat itu. Maafkan keputusan egoisku ini, Hikaru. Maafkan wanita di depanmu ini,”

Hikaru terenyak di tempatnya. Kenyataan akan masa lalu, jati dirinya, semuanya terlalu tiba-tiba. Sampai dia sendiri tidak yakin harus berkata apa. Tetapi satu hal yang pasti, wanita di depannya ini tidak salah sama sekali. Bibi Miharunya tidak salah. Justru wanita ini telah menyelamatkan hidupnya dan memberikannya kehidupan kedua. Jika wanita ini tidak membawanya kabur, dia sendiri tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.

Hikaru beranjak dari tempatnya, lalu berlutut di hadapan Miharu yang sudah berlinang air mata. Pemuda itu mengulurkan sebelah tangannya lagi dan menghapus air mata wanita yang sudah membesarkannya selama ini.

“Bibi, justru aku sangat berterima kasih padamu. Jika kau tidak membawaku kabur, mungkin saat ini aku tidak ada di dunia ini lagi.” ucapnya tulus. Miharu memeluk erat sosok Hikaru.

Saat ini Hikaru sedikit memahami akan detak jantungnya yang selalu berdetak dengan berbeda saat Putri Mahkota di sebutkan padanya, mereka memiliki ikatan yang sangat erat. Darah yang sama, sembilan bulan berada di rahim yang sama, bahkan mungkin berbagi ari-ari yang sama. Mereka adalah satu, dan entah kenapa dia merasa rindu dengan belahan dirinya yang lain itu.

Putri Mahkota, saudari kembarnya.

 

=*=

(Engkaulah sang putri, akulah sang pelayan

Kita sang kembar, dipisahkan takdir yang kejam

Namun ku akan selalu melindungimu

Apapun yang kau inginkan, menjadi egois sekalipun)

=*=

 

“Mengantuk?” Arina tersenyum melihat Reader yang menguap kelelahan.

Si Reader mengangguk namun dia memaksakan matanya untuk tetap terbuka. Membuat wajahnya semakin lucu dan menggemaskan.

“Bagaimana Hikaru? Apa dia bertemu dengan saudara kembarnya?”

“Mari kita simpan untuk part selanjutnya. Sekarang saatnya kau beristirahat Reader kecil,” Arina mencubit gemas hidung sang Reader yang mulai manyun.

“Aku janji kita akan melanjutkan ceritanya lagi. Tapi tidak malam ini, saat untuk membuka mata saja kau sudah sangat kesulitan.” Reader mengangguk mengalah.

Arina membantu si Reader kecil masuk ke dalam selimutnya lalu memberikan kecupan selamat malam, “Mimpi indah Reader kesayanganku,” ujarnya lalu mematikan lampu meja di nakas Reader kecil.

Reader kecil mulai memejamkan matanya dan Arina lalu keluar dari kamar dan membiarkan si Reader untuk tidur dengan lelap.

 

TBC

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s