[Multichapter] TWISTED (#5)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Belum kelar menghadapi satu masalah, masalah lain sudah menghadang di depan Juri. Kali ini, dia harus disibukkan dengan gadis mabuk di depannya yang mulai bertingkah tidak masuk akal. Kalau dipikir-pikir, kenapa dia tadi menurut saja saat Sora mengajaknya pergi?

Aarrgh, ini semua salah Matsumura. Kenapa dia harus bikin masalah dengan Sora sih?

Beberapa jam lalu,

Juri mondar-mandir di depan kamarnya. Dia berencana menginap di rumah Shintaro satu atau dua malam selama Chika tidak di rumah. Bukannya Juri merasa kasihan pada Shintaro yang merasa kesepian, tapi dia hanya ingin menghindari Jesse, itu saja.

“Juri, melihatmu mondar-mandir seperti itu membuatku pusing!” Juri menoleh ke sumber suara. Sora berdiri tidak jauh darinya, sedang bersandar di tembok.

“Kamu sedang ada masalah?” tambah Sora.

“Aku sedang olahraga kok.” jawab Juri cuek, lalu kembali berjalan ke sana kemari, sambil pura-pura melakukan stretching.

“Baguslah kalau kamu sedang tidak ada masalah. Temani aku keluar, aku sedang ada masalah.” pinta Sora pada Juri dengan nada memaksa.

“Aku tidak bisa. Aku mau ke rumah Shintaro karena Chika sedang pergi dengan Kyomoto. Aku akan menginap di sana untuk sementara.” ucap Juri mengungkapkan rencananya untuk menolak ajakan Sora.

“Kamu sedang ada masalah! Aku bisa melihatnya. Kalau begitu, kamu tidak ada opsi untuk menolak ajakanku! Tenang saja, aku yang akan mentraktirmu. Ayo!” Sora menarik lengan Juri, tidak menghiraukan penolakannya.

Sora mengajak Juri ke sebuah kedai ramen tidak jauh dari kompleks rumah mereka. Juri pernah beberapa kali diajak Hokuto ke sana. Sepertinya, tempat ini memang sudah menjadi langganan mereka sejak SMA.

“Sora-chan, lama sekali kamu tidak pernah ke sini! Oh, kamu yang biasa ke sini dengan Hokuto, kan?” sapa seorang gadis, tampaknya seumuran dengan mereka karena menyapa Sora dengan panggilan akrab. Juri mengangguk, membenarkan tebakan gadis itu.

“Hai, Airin, bagaimana kabarmu?” sapa Sora, membalas sapaan gadis itu.

“Baik. Kalian berdua saja? Hokuto mana? Oh, jangan-jangan kalian pacaran ya? Jadi kamu sudah menyerah sama Yugo nih?” ledek gadis bernama Airin itu. Sora langsung mendelikkan matanya.

“Airin, kita duduk di meja biasa. Tolong bawakan sake tiga botol ya.” Sora buru-buru menarik tangan Juri untuk mengikutinya. Juri masih terdiam tanpa suara.

Selang tidak berapa lama, Airin sudah membawakan tiga botol sake pesanan Sora. “Siapa yang akan meminumnya? Kalau aku tidak salah perhatikan, kamu tidak pernah pesan sake setiap kali ke sini dengan Hokuto, kan?” tanya Airin pada Juri.

“Aku yang akan meminumnya.” sahut Sora dengan nada kesal karena Airin selalu saja ingin tahu dengan semua urusannya. “Tapi kamu kan tidak bisa minum sake, Sora.” balas Airin.

“Sudah berapa lama sejak terakhir kali kamu melihatku minum sake, hah? Sekarang aku sudah dewasa. Aku bisa menghabiskannya.” balas Sora dengan nada seolah mengusir Airin untuk segera pergi dari hadapan mereka.

Seperti memahami usiran Sora, gadis itu pamit pada Juri, “Aku akan kembali bekerja, tolong jaga Sora.” katanya, lalu meninggalkan Juri dan Sora.

“Jangan melihatku seperti itu. Aku tidak bermaksud kasar padanya. Dia pasti tahu kalau aku sedang ada masalah. Jadi jangan khawatir, hubungan kita akan tetap baik-baik saja kok.” jelas Sora, melihat tatapan Juri yang memandangnya tidak setuju sudah berlaku semena-mena pada Airin.

“Kalian kenal dekat?” tanya Juri, Sora menggelengkan kepala. “Tidak cukup dekat. Tapi kami saling mengenal cukup baik.” balasnya. Sora mulai menuangkan sake pertama di gelasnya dan gelas Juri.

“Pasti sangat baik, sampai dia bisa menyadari perasaanmu ke Kouchi. Padahal aku yang sudah cukup lama tinggal denganmu, merasa kaget waktu pertama kali mendengarnya tadi.”

“Dia asal menebak saja.” Sora mengelak kesimpulan yang dibuat Juri.

“Tidak kalau melihat ekspresi dan caramu memperlakukannya setelah dia menanyaimu tentang Kouchi.” Sora terdiam, tahu kalau dia tidak mungkin bisa lagi mengelak dari Juri. Pikirannya terlalu kacau tadi, sampai-sampai dengan bodohnya terpancing kata-kata Airin saat gadis itu menyebut nama Kouchi.

“Katamu, kamu sedang ada masalah. Ceritakan saja kalau itu bisa membantumu merasa lebih baik.” pancing Juri, mencoba merilekskan pikiran Sora. Sebenarnya bohong kalau Juri tidak mengetahui masalah Sora, bahkan bohong juga kalau dia baru mengetahui perasaan Sora pada Kouchi. Juri sudah mengetahuinya sejak beberapa hari lalu saat tidak sengaja mendengar Sora sedang berdebat dengan Hokuto.

“Yang dikatakan Airin benar, aku memang menyukai Yugo.” Sora berhenti sejenak untuk meneguk sake keduanya. “Bahkan setelah aku tahu kalau Yugo tidak akan pernah melihat ke arahku, karena yang ada di pikirannya cuma Yua, aku tetap berharap padanya. Aku mempunyai keyakinan kalau suatu hari dia akan menoleh ke arahku, karena bagaimana pun, Yua cuma adiknya. Iya kan, Juri? Aku benar kan?”

Hik, Sora mulai cegukan.

“Tapi Hoku menyuruhku untuk menyerah… hik. Katanya, aku pantas bahagia dengan orang yang mencintaiku juga hik.” Tiba-tiba Sora tertawa, “Aku tahu dia cuma bercanda. Mana ada orang yang mencintai gadis penuh luka sepertiku?” Tawa Sora berangsur-angsur berubah menjadi isak tangis.

“Aku tidak cantik hik. Aku tahu itu. Luka ini, disebabkan oleh ayahku saat usiaku masih 10 tahun hik. Dia menyulut rokok tepat di dekat bibirku. Sejak saat itu, aku selalu menggunakan masker ke sekolah.” Sora terus berkata sambil sesenggukan dan cegukan.

“Tapi, Yugo adalah orang pertama yang menyuruhku melepas maskerku. Katanya, wajahku cantik apa adanya. Aku tidak akan pernah melupakan hari itu.”

Juri memperhatikan wajah Sora. Selama ini, Juri tidak pernah memperhatikan secara detail, karena keahlian Sora dalam ber-make up sudah tidak diragukan lagi. Meskipun secara samar-samar terlihat banyak bekas luka di wajahnya, baru kali ini Juri menyadari kalau memang sangat banyak bekas luka di sana. Bahkan yang paling parah ada di sekitar bibirnya.

“Tapi kamu memang cantik, Sora.” Juri memuji Sora tulus dari hati. Bahkan dengan banyak luka yang menghias wajahnya, Juri, bukan, pasti semua orang masih akan mengatakan kalau Sora itu sangat cantik.

“Kamu orang kedua yang mengatakannya.” gumam Sora, lalu dia menangis sejadi-jadinya. Juri kebingungan, tidak tahu harus melakukan apa.

“Ada apa?” Airin kembali ke tempat Juri dan Sora, terkejut melihat keadaan Sora yang sangat kacau di depannya.

“Dia sudah minum berapa botol?” tanya Airin.

“Baru tiga gelas kalau tidak salah.” jawab Juri, Airin geleng-geleng kepala.

“Dasar keras kepala! Aku akan menghubungi Hokuto. Kamu tetap temani Sora ya.” Airin pergi meninggalkan Juri dan Sora, lagi, menuju ke tempat resepsionis dan mulai mencoba menghubungi Hokuto. Juri menatap Sora, merasa kasihan.

“Hokuto menyuruhku untuk menyerah karena aku pantas bahagia dengan orang yang mencintaiku juga, katanya.” Sora mengulangi kata-katanya. “Bah. Kayak dia paham tentang cinta saja!” teriak Sora.

“Gadis itu, kamu tahu? Gadis itu.” Sora menunjuk ke segala arah. Tapi Juri tahu, Airin lah gadis yang dimaksud Sora. “Dia menyukai Hoku, tapi Hoku tidak pernah sekalipun melihat ke arahnya! Bahkan sekarang, Chise. Gadis malang itu juga memuja-muja Hoku, seolah dia pria paling sempurna.”

Deg

Nama yang sejak tadi berusaha tidak Juri pikirkan, akhirnya disebut juga oleh Sora. Juri hendak menghentikan Sora, tapi sepertinya percuma. Gadis itu sudah mabuk berat. Juri tidak menyangka, tiga gelas sake saja sudah bisa membuat Sora kehilangan kesadaran sampai seperti ini.

“Apa sih bagusnya Hoku? Dia itu sok tahu, kasar, kamu lihat kan, dia suka sekali memukul kepalaku dan Yua?” Sora memaki-maki Hokuto dalam mabuknya. “Oh, dia melakukan itu karena sayang kan!!? Karena dia sering melakukan itu ke Yua, semua orang mengira kalau dia menyukai Yua. Dia sering juga melakukan itu padaku, berarti dia juga menyukaiku dong? BAAAKAAAA.” Sora tertawa.

Ternyata alam bawah sadarmu lebih bisa menyadari perasaan Matsumura, Sora.

Juri menoleh ke arah pintu, Hokuto dan Yua sudah berdiri di sana, terlihat sangat khawatir. Begitu melihat Juri, keduanya cepat-cepat menghampirinya. Hokuto memandangi Sora, terlihat kasihan, kesal tapi juga sayang tersorot dari pancaran matanya. Perlahan dia berjongkok di sebelah gadis yang dicintainya itu.

“Sora, maafkan aku. Aku sama sekali tidak bermaksud menyakiti hatimu. Kamu bisa memarahiku sepuasnya. Tapi kita pulang dulu, ya?” Hokuto bersiap-siap mengalungkan lengan Sora ke pundaknya saat gadis itu dengan sekuat tenaga tiba-tiba mendorongnya.

“Juri, aku mau sama Juri. Aku benci Hoku.” Sora merengek manja, meminta Juri untuk menggendongnya. Juri dan Hokuto saling berpandangan. Juri berjalan ke arah Sora saat Hokuto mengangguk mengijinkan.

Baru saja Juri mengalungkan sebelah lengan Sora ke pundaknya, lengan Sora satunya sudah melingkari lehernya, memeluknya. Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Sora menempelkan bibirnya di bibir Juri, bukan hanya menempel, tapi Sora melumat bibir Juri tanpa ampun. Juri tidak mampu berbuat apa-apa. Ekspresi kaget mendominasi wajahnya.

“Sora, apa yang kamu lakukan? Sadarlah!” sebuah tamparan mendarat di pipi Sora, berikutnya, lagi-lagi tangis Sora kembali pecah. Dia memandang ke arah Hokuto yang masih mengangkat tangannya, tampak sangat takut kalau Hokuto akan menamparnya untuk kedua kali.

“Hoku, apa yang kamu lakukan?” Yua meraih tangan Hokuto, berusaha menahannya. Hokuto melepaskan genggaman Yua, “Aku tidak akan memukulnya lagi.” bisik Hokuto lirih.

Hokuto berjalan ke arah Sora, menariknya dari Juri dengan paksa. Tidak menghiraukan raungan Sora, Hokuto tetap menahan gadis itu dalam rengkuhannya. “Ayo, kita pulang!”

Juri yang masih tampak shocked mulai berdiri dan berjalan mendahului Hokuto, Sora dan Yua, “Aku akan menginap di rumah Shintaro.” tambah Juri.

Yua hendak mengejar Juri, tapi Hokuto menahannya. “Kita pulang dulu, Yua. Kamu bisa menemuinya besok. Lagipula tidak ada Chika di rumah, kan?” tanpa protes lagi, Yua menuruti Hokuto dan mengekor pulang ke rumah.

*****

Chika menggulingkan tubuh, dia merasakan seseorang sedang berbaring di sebelahnya. Sengaja, dia tidak membuka mata tapi malah melingkarkan tangan ke tubuh itu.

Kapan lagi ada kesempatan memeluk Taiga yang ini? pikir Chika dalam hati. Eh, tapi bukannya Taiga tidur di sofa? Dan lagi, ini tubuhnya terlalu kecil untuk ukuran Taiga. Masa’ sih Taiga sekurus ini?

Perlahan Chika membuka mata, dia melihat seorang pemuda yang usianya tampak tidak terlalu jauh di bawahnya, sekitar 14 atau 15 tahunan, berbaring di sampingnya, sedang memandanginya dengan ekspresi datar. Hah?

“Kamu siapa?” buru-buru Chika bangun dari tidurnya, menjaga jarak dengan pemuda tadi, merasa sangat shocked.

“Seharusnya aku yang bertanya, kamu siapa? Bagaimana bisa ada perempuan di rumah ini, bahkan sampai tidur di kasur nii-chan? Ada hubungan apa kamu dengan nii-chan?” tanya pemuda itu, masih memandangi Chika dengan sinis. Melihat pemuda itu menyebut Taiga “nii-chan” dengan posesifnya, entah kenapa mengingatkan Chika pada Yua dan malah membuatnya ingin tetawa.

Kriet, bunyi pintu dibuka. Taiga masuk dengan membawa nampan berisi susu dan roti.

“Kamu sudah bangun, Chika-san? Ini saya bawakan sarapan untukmu. Maaf ya cuma ini adanya.” kata Taiga ramah, sebelum matanya tertuju pada seseorang di sebelah Chika. “Apa yang kamu lakukan di sini Taiki? Sejak kapan?” seketika Taiga meningggikan suaranya.

“Aku masuk dari semalam. Kupikir nii-chan sudah tidur, jadi aku tidak mau membangunkan dan diam-diam tidur di sebelahmu. Tapi saat nii-chan bangun dan membuka pintu tadi pagi, aku baru sadar kalau bukan nii-chan yang tidur di sebelahku. Makanya, aku menunggunya bangun dan meminta penjelasan darinya.” jawab Taiki masih tanpa ekspresi. “Apa dia pacar nii-chan?” imbuh Taiki.

“Bukan urusanmu! Dia datang bersamaku dan sebaiknya kamu jangan mengganggunya. Sekarang keluarlah!” Taiga menarik Taiki turun dari tempat tidur. Taiki dengan malas-malasan menuruti kakaknya dan berjalan keluar kamar.

“Oh iya, aku lupa mengatakan sesuatu.” Taiki sengaja melambatkan langkahnya, “Dia tadi memelukku karena mengira aku nii-chan. Padahal aku tahu kalian tidak ada hubungan apa-apa. Karena kalau kalian memang pacaran, harusnya kalian tidur seranjang bukannya nii-chan malah tidur di sofa.” Taiki keluar kamar dan menutup pintu di belakangnya.

Chika tahu, wajahnya sekarang pasti sudah sangat merah karena dia merasakan panas yang sangat menyengat di pipi kiri dan kanannya. Chika memalingkan muka, menghindari tatapan Taiga.

“Maafkan sikapnya. Tidak biasanya dia seperti itu. Mungkin karena belum terbiasa dengan adanya perempuan di sini.” jelas Taiga, meminta maaf atas sikap Taiki. Chika menghela napas lega, karena ternyata Taiga tidak mengambil hati kata-kata terakhir yang dikatakan Taiki.

“Aku pernah cerita kan kalau di tempat tinggalku isinya cowok semua?” tanya Taiga mengingatkan Chika pada kejadian saat Yua yang tidak sengaja membuka kamar mandi ketika Taiga mandi. Chika mengangguk, tanda mengingatnya. Taiga menyodorkan nampan di tangannya.

Chika mulai menyantap roti dan meminum susu yang dibawakan Taiga, diam-diam dia memandangi Taiga dengan tatapan mendalam. “Anoo, Taiga. Kenapa kamu mengijinkanku ikut ke tempat tinggal lamamu?” tanya Chika. Taiga membalas tatapan Chika.

“Karena kamu ingin ikut, kan? Lagipula saya tidak keberatan kamu mau mengikuti saya kemana saja.” sahut Taiga.

“Kamu tidak curiga, mungkin saja aku merencanakan sesuatu? Sesuatu yang jahat?” Taiga menaikkan alisnya mendengar pertanyaan Chika.

“Memang kamu ada rencana jahat pada saya? Kalaupun kamu memang mau berbuat jahat pada saya, saya akan dengan senang hati menerimanya.” Taiga mengatakannya sambil terkekeh.

“Dasar maso!” cibir Chika, tidak bisa menahan untuk tidak ikut tertawa.

“Tapi kalau boleh saya bertanya, memangnya kenapa Chika-san ingin ikut saya ke sini?” tanya Taiga akhirnya. Chika tampak memikirkan jawabannya.

“Ummm, mungkin karena penasaran? Aku penasaran saja, di tempat seperti apa Taiga dibesarkan. Bagaimana lingkungan yang membuat seorang pemuda bisa tumbuh setampan ini.” Chika melirik Taiga yang tersenyum sangat manis sedang memandanginya.

Oh, Tuhan. Hentikan waktu saat ini juga! pekik Chika dalam hati saking bahagianya.

“Kamu senang sekali memuji saya, padahal saya belum pernah memujimu sama sekali. Maafkan saya.” ucap Taiga merasa bersalah.

“Tapi kamu tidak pernah menolakku saja, aku sudah bahagia.” balas Chika sekenanya, berhasil membuat Taiga tertawa.

“Ngomong-ngomong, sebentar lagi saya tinggal ya? Mungkin saya akan pergi untuk dua sampai tiga jam.” pamit Taiga. Chika mengangguk, “Tenang saja, aku akan melakukan apapun yang aku suka. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Setelah Taiga pergi meninggalkannya, Chika sudah berencana akan melakukan tur-rumah di tempat tinggal Taiga ini. Ada beberapa tempat yang ingin dikunjunginya, salah satunya gereja.

Saat keluar kamar, Chika tidak melihat siapa-siapa di rumah, bahkan Taiki. Sepertinya mereka mempunyai jadwal kegiatan yang tidak biasa meskipun ini akhir pekan. Semuanya tetap sibuk dengan kegiatan. Chika berjalan santai menuju gereja. Tapi tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah taman dengan beraneka bunga yang belum pernah dilihat Chika sebelumnya.

Kirei!!!” Chika berlari-lari kecil menuju taman itu. Tapi saat berada di antara kerumunan bunga, Chika merasakan sensasi yang sangat familiar.

Eh? Bukan. Ini bukan pertama kali aku melihat bunga-bunga ini. Aku sudah pernah melihatnya sebelumnya di rumah Taiga. Bunga-bunga ini hasil eksperimen Taiki.

“Oh…” Chika membekap mulutnya, karena merasa bersalah sudah melupakan sesuatu yang penting dalam hidupnya.

“Kamu sedang apa di sini, Chika?” Chika menoleh, Taiki sudah berdiri di belakangnya. Chika terkejut karena Taiki menyebut namanya.

“Kamu mengingatku?” tanya Chika penuh harap. Taiki menatap Chika keheranan. “Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya?” Taiki berjalan, sengaja menubrukkan badannya ke bahu Chika.

“Bagaimana kamu tahu namaku?” tanya Chika masih bersikeras.

“Aku tidak tuli. Aku mendengar tadi nii-chan memanggilmu, gadis bodoh.”

Natsukashii!! Sudah lama tidak ada yang memarahiku seperti ini. Chika malah melamun. Taiki gemas melihat Chika yang tidak marah karena sudah dikatai bodoh, malah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.

“Aku tidak tahu apa tujuanmu mendekati nii-chan. Tapi aku akan membunuhmu kalau sampai menghalangi misi yang diberikan kepadanya. Nii-chan sudah mengorbankan banyak hal untuk mencapai tahap ini.”

Belum sempat Chika membalas kata-kata Taiki, seseorang yang tampak mengerikan, pria itu menggunakan kursi roda dan perban hampir membaluti seluruh tubuhnya, menegur Taiki dan memintanya untuk tidak mencurigai Chika macam-macam.

“Maafkan Konno, nak Chika. Dia hanya terlalu posesif terhadap Kyomoto. Meskipun mereka tidak dihubungkan dengan darah, tapi Kyomoto sudah melebihi kakak kandung bagi Konno. Jadi harap dimaklumi dengan kecemburuannya.” pinta pria itu kepada Chika.

Chika tahu ini tidak sopan, tapi dia tidak mempunyai pilihan selain mengangguk tanpa menoleh ke orang yang berbicara. Chika terlalu takut memandang pria itu.

“Iya saya tahu. Saya tidak mempermasalahkannya. Kalau begitu saya permisi dulu.” balas Chika buru-buru, lalu pergi meninggalkan taman bunga menuju gereja.

“Huwaaa, kenapa ada orang seperti itu di sini? Maafkan aku, Tuhan. Aku tidak bermaksud membeda-bedakan orang. Tapi aku sungguh takut dengan penampilannya, meskipun aku tahu dia juga manusia.” Chika berdoa di depan Tuhan dengan napas tersengal-sengal. Setelah cukup lama, akhirnya Chika berhasil menenangkan dirinya.

Chika menoleh ke kanan-kiri, dia menghitung jumlah kursi. Hmmm, jumlahnya sesuai.

“Kalau begitu, kita mulai dari depan. Baris ke-tiga sebelah kanan, kursi ke sembilan.” Chika mulai melangkah sesuai instruksinya.

“Ini kan kursinya?” Chika meraba-raba, dia merasakan sesuatu menempel di tangannya. “Yaks, dasar jorok!” Chika melihat permen karet bekas dikunyah menempel di ujung jarinya.

Setelah membuang permen karet dan membersihkan tangan, Chika kembali meraba-raba bawah kursi tadi. “Ini dia!” Chika menarik sebuah amplop merah, yang tampak sengaja di tempel di sana menggunakan seloptip. Saat Chika hendak membukanya, dia mendengar suara langkah mendekat sehingga buru-buru menyembunyikan diri.

Seorang pria dengan pakaian hitam dan memegang alkitab di tangannya, Chika yakin kalau dia adalah pastur di gereja ini, masuk bersama dengan seseorang yang mendorong pria di kursi roda tadi. Tidak lama, menyusul seorang pria menggunakan jas lab menutup pintu setelah memastikan tidak ada yang mengikuti mereka.

“Profesor Kyomoto, cepat tutup pintunya!” terdengar suara pria berbalut perban tadi mengeluarkan perintah.

Kyomoto? Berarti ayah Taiga?

“Baik.” sahut pria yang menggunakan jas lab dan buru-buru menghampiri yang lainnya.

“Kami perlu membicarakan ini denganmu, Profesor Kyomoto. Apa kamu tahu, apa yang sudah dilakukan anakmu saat ini? Bukannya menjalankan misi dengan benar, dia malah sibuk main cinta-cintaan. Bahkan dia membawa gadis itu ke tempat kita. Aku tidak bisa menjamin kalau dia akan berhasil melakukan misi ini.” Chika memberanikan diri mengintip, ternyata yang berbicara adalah pria yang mendorong pria berbalut perban, entah siapa namanya.

“Tolong percayalah pada anak saya. Saya yakin dia tidak akan pernah mengecewakan saya. Bahkan selama ini, dia tidak pernah mengeluh dan meminta pulang seperti anak-anak lainnya. Saya yakin dia akan mampu menyelesaikan misi ini.” suara Profesor Kyomoto membela anaknya.

“Sekarang kami memberi kesempatan untuk mempercayainya. Tapi kalau terbukti gadis itu akan membuat Kyomoto menggagalkan misinya, kami ingin meminta persetujuanmu untuk melenyapkannya.” kata pria berbalut perban penuh ancaman.

Profesor Kyomoto tampak tercengang. Dia tidak menjawab dan hanya terdiam tanpa suara.

“Saya rasa, Anda tidak mempunyai pilihan, Profesor Kyomoto. Anda tahu kalau ini adalah misi mulia untuk kepentingan seluruh dunia. Kalau anak Anda gagal menjalankan misi ini, berarti anak Anda sudah mengkhianati dunia dan seluruh isinya. Maka anak Anda harus dihukum mati sesuai hukum Agama.” sang Pastur mulai berbicara.

Dengan sangat berat dan suara tercekat, Profesor Kyomoto menundukkan kepala dan berkata, “Saya bersedia kehilangan anak saya apabila dia gagal dalam menjalankan misinya.”

Chika membekap mulutnya erat-erat, berusah menahan diri untuk tidak meneriaki ayah Taiga. Chika tahu, pasti ini juga sangat sulit baginya.

Setelah semua orang pergi, Chika memberanikan diri keluar dari persembunyiannya. Dengan cepat dia kembali ke kamar Taiga.

“Kamu darimana saja? Saya mencarimu kemana-mana. Ayo kita pulang sekarang, urusan saya selesai lebih awal.” Taiga menyambut kedatangan Chika dengan wajah penuh kelegaan.

Chika kaget melihat Taiga sudah kembali ke kamarnya, buru-buru dia menyimpan amplop merah yang diambilnya dari gereja ke dalam saku sebelum Taiga menyadarinya. Sebenarnya, perasaan Chika sedang campur aduk, ada banyak hal yang ingin dia katakan. Tapi untuk saat ini, dia memilih menyetujui ajakan Taiga untuk kembali pulang.

*****

Chise benar-benar tidak habis pikir, kenapa Jesse sangat terburu-buru ingin mengungkapkan perasaannya. Chise tidak menyangka kalau Jesse bahkan tidak memberinya jeda hari.

“Jadi kita mau ke mana?” tanya Chise begitu masuk ke dalam mobil Jesse.

“Sudahlah, kamu ikut saja. Aku yakin kamu pasti suka.” Jawab Jesse dengan percaya diri.

Chise mengalihkan pandangannya, menerawang jauh ke jalanan di depannya. Sejujurnya, pikirannya saat ini masih dipenuhi Juri.

Kalau Jesse-kun mengungkapkan perasaannya lagi hari ini, apa dia akan menyuruhku langsung menjawabnya? Aku tidak membenci Jesse-kun. Tapi, kalau aku menerimanya, bagaimana kalau Juri-kun sebenarnya mempunyai perasaan padaku. Berarti aku membuang kesempatan untuk bisa bersamanya. Tapi kalau aku menolak Jesse-kun dan ternyata Juri-kun tidak mempunyai perasaan apa-apa padaku, aku akan sangat menyesal karena menyia-nyiakan pria sebaik dan sesempurna Jesse-kun!

Jesse melihat Chise yang diam termangu di sebelahnya. Dia tidak menyukai suasana canggung di antara mereka. Jesse mencoba mencari topik pembicaraan yang bisa dipahami oleh Chise juga.

“Oh iya, apa kamu tahu? Semalam ada kejadian besar lho di rumah. Eh, bukan di rumah sih, tapi terjadi sama orang-orang rumah.” kata Jesse, mencoba memecah suasana.

“Apa?” tanya Chise penasaran. Meskipun dia sedikit malas diajak keluar Jesse, tapi dia tidak pernah malas ingin mengetahui apa yang terjadi di rumah mereka. Sebenarnya, Chise pernah minta ke mama untuk mengijinkannya tinggal bersama dengan Yua. Tapi tentu saja, mama tidak memberi ijin karena bagaimana pun Chise adalah anak kandung mama satu-satunya.

“Jadi beberapa hari lalu sepertinya habis ada pertengkaran hebat antara Hokuto dan Sora, aku tidak paham masalah apa tepatnya. Lalu karena masih marah, Sora semalam mengajak Juri keluar. Sora mabuk parah, bahkan sampai mencium Juri di depan Hokuto dan Yua. Sekarang Juri sedang menginap di rumah Shintaro dan tadi aku mengantar Yua untuk menjemputnya.”

“Hideyoshi-senpai mencium Juri-kun? Kok bisa?” tanya Chise naik darah. Chise tahu betul kalau itu ciuman pertama Juri. Seharusnya aku ciuman pertamanya!

“Sora mabuk, Chise. Aku yakin dia tidak menyadarinya. Tapi…”

“Tapi kenapa?”

“Dia seperti sengaja melakukannya di depan Hokuto. Ah, entahlah.”

“Hah?” Chise tidak tahu lagi harus merespon bagaimana. Kenapa semua menjadi sangat sulit untuk dicerna? Bukannya Matsumura-senpai suka Yua? Terus kenapa dia bertengkar dengan Hideyoshi-senpai? Lalu, karena pertengkaran mereka, akhirnya Hideyoshi-senpai mencium Juri-kun di depan Matsumura-senpai, untuk apa? Apa untuk membuatnya cemburu? Jadi Matsumura-senpai tidak menyukai Yua tapi Hideyoshi-senpai? Aaaargh, kenapa rumit sekali???

“Kamu memikirkan apa, Chise?” tanya Jesse kebingungan dengan reaksi Chise.

“Memangnya Jesse-kun tidak pusing dengan hubungan mereka?” mendengar pertanyaan Chise, Jesse malah tertawa.

“Itulah resiko kalau suka menyimpan perasaan terlalu lama. Marahnya ke siapa, yang jadi korban siapa. Makanya, aku tidak mau memendam perasaan. Kalau suka yang bilang suka saja. Belum tentu kalau kita menunda barang satu hari, kita masih mempunyai kesempatan untuk menyatakannya.” Jesse mulai bersabda.

“Kenapa kamu mirip Chika kalau seperti ini?” Chise berdecak.

“Jadi sekarang Yua dan Juri-kun sedang di rumah Shintaro?” Jesse mengangguk, mengiyakan.

 

Di kediaman Morimoto,

“Bangun woi!” Shintaro melemparkan bantal ke wajah Juri. “Mau sampai kapan kamu tidur? Aku tidak akan membiarkanmu menginap lagi kalau kamu tidak menjelaskan apa yang sudah terjadi!”

“Lima menit lagi.” Juri berguling, menyamankan tidurnya.

“Tidak ada lima menit lagi! Kamu harus cerita sekarang!” Shintaro menarik tubuh Juri sampai pemuda itu terduduk, lalu memaksanya bercerita.

“Semalam Sora menciumku.” Jawab Juri masih setengah sadar.

“HAH?” tentu saja Juri tidak terkejut dengan reaksi Shintaro yang berlebihan. Karena selama ini tidak ada dalam kamus Juri kalau dia akan menyerahkan ciuman pertamanya pada Sora.

“Bagaimana bisa?”

“Sora mabuk. Dia semalam mengajakku keluar untuk menghilangkan stress karena habis bertengkar dengan Matsumura.”

“Hideyoshi-senpai dan Matsumura-senpai bertengkar? Tentang apa?”

“Jadi, Matsumura sebenarnya menyukai Sora, tapi dia tidak bisa mengungkapkannya. Karena yang disuka Sora selama ini adalah Kouchi, orang yang sangat dia segani.”

“Jadi benar Sora-nee menyukai nii-chan?” Juri dan Shintaro menoleh ke sumber suara secara bersamaan.

“Yua?” Juri dan Shintaro berbicara bersamaan.

“Tidak. Tidak boleh! Sora-nee harus sama Hoku! Sora-nee tidak boleh menyukai nii-chan! Sora-nee tidak boleh merebut nii-chan dariku!!!” Tiba-tiba Yua berteriak histeris. Detik berikutnya, lagi-lagi Shintaro harus melihat Yua tersungkur di lantai.

“Yua!” Juri dan Shintaro berlari dan segera menggendong gadis itu, memindahkannya ke atas tempat tidur. “Yua sadarlah!” Juri mencoba menepuk-nepuk pipi Yua untuk membangunkannya.

Shintaro terdiam di tepian tempat tidur, memandangi Yua dengan tatapan kosong. Kejadiannya persis seperti hari itu! Sebentar lagi Yua pasti…

“Aku akan menghubungi Kouchi-senpai.” Shintaro dengan cekatan menuju ruang tengah dan segera menghubungi Kouchi. “Senpai, cepatlah ke sini. Keadaan Yua kembali lagi. Kami membutuhkanmu.”

 

Kembali ke tempat Chise dan Jesse

Drrt drrt

Jesse memperhatikan ponselnya, terlihat nomor rumah Shintaro yang menghubungi.

“Siapa?” tanya Chise.

“Kalau dari nomornya, ini rumah Shintaro.” jawab Jesse.

“Angkatlah, siapa tahu penting.” Jesse mengangkatnya.

“Jesse, kumohon kembalilah ke rumah Shintaro sekarang juga!” terdengar suara Sora di seberang sana.

“Apa yang terjadi, Sora? Kenapa kamu juga ada di rumah Shintaro? Apa Yugo juga ada di sana?” tanya Jesse mulai panik.

“Kami semua ada di sini. Yua… keadaannya… Aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon, pokoknya cepatlah ke sini!!” Sora menutup teleponnya. Jesse termangu menatap layar ponsel lalu menghentikan mobilnya.

“Chise, gomen. Sepertinya aku harus menunda acara kita hari ini. Aku harus kembali ke rumah Shintaro.” kata Jesse dengan berat hati.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” melihat perubahan ekspresi pada wajah Jesse, Chise tidak bisa untuk tidak ikut khawatir.

“Chise, sebelumnya aku ingin meminta maaf padamu. Karena sebenarnya, bukan hanya untuk Hokuto, tapi juga untukku, Yua dan Yugo adalah prioritas utamaku. Saat ini, mereka membutuhkanku. Aku harus ke sana dan membantu mereka.” mendengar Jesse mengatakannya, serangan panik menyerang Chise juga.

“Ada apa dengan Yua? Jangan bodoh! Jangankan untukmu, untukku Yua juga prioritas utama! Ayo kita cepat kembali ke rumah Shintaro! Yua pasti juga membutuhkanku.”

Jesse tercengang mendengar kata-kata Chise. “Tapi katamu, kamu tidak suka melihat Hokuto memprioritaskan Yua?”

“Apa ini waktu yang tepat untuk membicarakannya? Sebaiknya kita kembali sekarang, Jesse-kun!!”

Jesse sadar, baginya dan bagi Chise saat ini, mengetahui keadaan Yua dan berada di sisinya adalah yang terpenting saat ini. Tanpa menunggu lagi, Jesse memutar balik mobilnya dan kembali ke kediaman Morimoto.

 

to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s