[Multichapter] TWISTED (#4)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian itu. Tidak ada lagi tanda-tanda penyerangan ataupun orang mencurigakan di antara mereka, sehingga suasana tegang yang sempat ada, lambat laun mulai menghilang. Sebagai perayaan kembalinya ketenangan itu, mereka memutuskan untuk melakukan pesta barbekyu sekaligus welcome party untuk Taiga.

“Taiga, maaf ya. Gara-gara aku, kita semua jadi terlambat menyambut kedatanganmu.” ucap Yua. Taiga melirik gadis di sebelahnya, yang sedang sibuk memilah-milah bahan makanan yang akan mereka gunakan untuk barbekyu bersama Chise.

“Ini semua bukan salah kamu, Yua-san. Hanya saja, saya datang di saat yang kurang tepat. Yang terpenting, sekarang semuanya sudah kembali seperti seharusnya, kan?” Taiga tersenyum kepada Yua.

“Betul kata Taiga, Yua. Toh, bukan kamu yang merencanakan semua ini terjadi bertepatan dengan kedatangan Taiga. Yang penting hari ini kita senang-senang dan makan sepuasnya!” tambah Chise, bersorak kegirangan.

Jesse berdiri tidak jauh dari ketiganya sehingga dapat mendengar percakapan mereka. Dia masih memperhatikan sampai Kouchi datang membawa beberapa peralatan dan dengan sigap membantunya.

“Aku bisa membawanya sendiri, kamu bantu yang lainnya saja!” tolak Kouchi, mengarahkan Jesse untuk membantu Juri dan Shintaro yang sedang berkutat di gudang, mencari alat panggang yang akan mereka gunakan. Tapi Jesse sama sekali tidak menggubrisnya dan memaksa membantu Kouchi membawa peralatan di tangannya.

Nee, Yugo. Apa kamu tidak curiga dengan Kyomoto? Kalau dipikir-pikir, semua kejadian buruk yang dialami Yua, terjadi setelah kedatangannya.” kata Jesse, teringat apa yang dikatakan Chise tadi.

“Bukankah kita sudah sepakat kalau tidak ada pelaku di antara kita?” Kouchi memandang Jesse tepat di kedua matanya. “Semua orang sudah membuktikan kalau alibi mereka benar saat terjadinya kejadian. Juri dan Hokuto mempunyai nota dengan waktu yang persis dengan waktu kejadian, sehingga bisa dipastikan mereka berada di tempat yang mereka katakan. Kalau kita masih tidak percaya, mereka bersedia untuk melakukan pengecekan CCTV di tempat mereka berbelanja. Jadi kurasa tidak ada yang perlu diragukan lagi.” kurang lebih, Kouchi seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Sedangkan Kyomoto, sudah pasti dia masih ada di tempat kerja. Aku bisa menjaminnya karena aku bekerja di tempat yang sama dengannya, jadi memang sangat sulit keluar kantor sebelum jam kerja habis kecuali kamu mempunyai urusan yang benar-benar urgent seperti ada anggota keluargamu yang meninggal.” tambah Kouchi.

“Tapi kamu bisa tidak pergi kerja seenaknya.” cibir Jesse.

“Aku pengecualian sih. Bagaimanapun, orang tuaku mempunyai saham cukup besar di perusahaan itu. Dan mereka perlu menjagaku tetap bekerja agar urusan mereka tetap lancar jika ada urusan dengan pihak kerajaan. Beda cerita kalau Kyomoto. Dia masih pegawai baru dan setelah mengecek latar belakang keluarganya, dia berasal dari keluarga biasa saja. Jadi, tidak mungkin dia memperoleh hak istimewa sepertiku.”

“Kok kesal ya dengarnya.” komentar Jesse, Kouchi terkekeh mendengarnya.

“Lihat! Hokuto saja bisa akrab dengannya, masa’ kamu tidak?” Jesse dan Kouchi memperhatikan Hokuto yang berjalan menghampiri Taiga, Yua dan Chise. Melihat itu, entah kenapa perasaan Jesse malah semakin kesal.

“Jangan dilihatin terus, kalau suka bilang saja. Nanti nyesal lho kalau sudah direbut orang.” Shintaro sengaja menggoda Juri yang diam-diam memperhatikan Chise dari tempat mereka.

“Lihat, siapa yang bicara?! Padahal kamu sendiri cuma bisa memendam perasaan ke Yua.” cibir Juri, tidak mau dikomentari oleh orang yang nasibnya tidak jauh berbeda dengannya.

“Itu beda cerita! Yua tidak pernah melihatku lebih dari seorang sahabat. Lagipula aku tidak berhak berada di sisinya, aku tidak bisa melindunginya, Matsumura-senpai lah yang bisa. Sedangkan kalau Chise, dia cuma menyukai Matsumura-senpai karena kamu selalu mengabaikannya. Kalau dia tahu perasaanmu yang sebenarnya, kurasa dia akan kembali padamu.” ujar Shintaro.

Juri kembali melihat ke arah Chise dan yang lainnya. Kalau pendapat Shintaro benar, berarti sedang terjadi Cinta segitiga di seberang sana. Chise mempunyai perasaan pada Hokuto, sedangkan Hokuto menyukai Yua. Bagaimana dengan perasaan Yua? Eh, tunggu dulu.

“Kenapa kamu seyakin itu kalau Matsumura menyukai Yua? Apa kamu pernah mendengar langsung dari mulutnya?” tanya Juri.

“Tidak perlu mendengarnya, aku bisa melihatnya dari cara Matsumura-senpai memperlakukan Yua.” Shintaro melihat ke arah Yua yang sedang tertawa lebar bersama Hokuto dan yang lainnya, Juri mengikutinya. “Padahal belum tentu itu suka.” gumamnya.

“Dih, kalian sih memang payah! Yang satu nyerah sebelum berjuang, yang satu cuma berani jadi pengagum rahasia! Nih, lihat aku ya!” Chika berjalan menghampiri Taiga yang sedang sibuk membantu Sora mengangkat beberapa sayuran.

“Kalau kamu mah, jangan ditanya!” semprot Shintaro, Juri terkekeh di sampingnya.

“Sini biar kubantu, Sora-san.” Taiga menawarkan bantuan. Sora mengangguk dan membiarkan Taiga membawakan beberapa tas plastik berisi sayuran di tangannya.

“Letakkan di meja itu! Aku akan mengambil air sebentar.” Sora berbalik, tepat saat Chika berada di belakangnya, keduanya hampir bertabrakan.

“Ya ampun, Chika! Bikin kaget saja!” Sora mengelus dada.

“Ya maaf, senpai. Aku kan cuma mau menawarkan bantuan. Aku juga tidak menyangka kalau senpai akan berbalik tiba-tiba.” sahut Chika sambil nyengir kuda.

“Kebetulan banget! Itu tolong bantu Taiga memotongi sayuran ya. Aku akan mengambil air dulu.” Chika mengangguk, lalu berjalan mendekati Taiga.

“Hideyoshi-senpai menyuruhku membantumu, boleh kan?” tanya Chika, meminta ijin untuk membantu Taiga. Taiga tersenyum melihat kedatangan Chika.

“Tumben kamu bertanya.” sindir Taiga, Chika hanya melongo mendengarnya.

“Apa coba maksudnya? Memang aku terlihat sebegitu dominannya ya?” Chika pura-pura memalingkan muka, Taiga tertawa melihat reaksi Chika.

“Cuma bercanda. Lagipula saya suka kok dengan cewek yang straight-foward dan berkemauan keras.” kata Taiga, berusaha menghibur Chika.

Eh? Suka? Chika bisa merasakan pipinya memanas. Untung saja Chika masih memalingkan muka, sehingga menghalangi Taiga untuk melihat wajahnya yang mulai memerah.

“Apa’an sih? Sudah, sebaiknya kita cepat memotongi sayurnya sebelum Hideyoshi-senpai kembali.” Chika mulai membongkar tas plastik di depan Taiga dan mulai memotongi sayur agar tidak terlihat salah tingkah. Taiga tersenyum memperhatikan Chika.

Aku yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya, tapi entah kenapa aku merasa sangat dekat denganmu? batin Taiga. Ini bukan pertama kali Taiga merasakannya. Sejak pertama Chika menjabat tangannya dulu, Taiga selalu merasa aneh tiap berdekatan dengan gadis itu.

“Mau sampai kapan kamu memandangi Chika seperti itu Taiga?” Yua berdeham, membuat Taiga buru-buru mengalihkan pandangannya.

“Terlalu cepat 100 tahun untukmu merebut Chika dariku!” Yua berdiri di antara Chika dan Taiga, memisahkan keduanya.

Bletak

Sebuah timpukan indah melayang ke kepala Yua, gadis itu meronta ketika seseorang menariknya menjauh. “Lepasin, Hoku!”

“Kamu diam di sini saja, Yua! Jangan ganggu orang lain.” Yua cemberut mendengarnya. “Chika bukan orang lain buatku!”

“Tapi kamu tidak perlu ikut campur dengan urusan percintaannya juga, kan?” Yua mendengus kesal, mendengar Hokuto memarahinya.

Jantung Chika berdegup sangat kencang, bahkan dia tidak sanggup berkata-kata untuk membela Yua dari Hokuto. Pikirannya dipenuhi dengan komentar Yua tadi. Apa benar Taiga memandangiku? Chika mencuri-curi pandang pada Taiga. Tapi pemuda itu sibuk tertawa menyaksikan pertengkaran Hokuto dan Yua.

“Saya penasaran. Menurutmu, apa Matsumura-kun menyukai Yua? Dia selalu saja mati-matian berusaha melindunginya tapi di saat seperti ini dia senang sekali mengganggunya.” tanya Taiga pada Chika. Chika ragu-ragu untuk menjawab karena sadar ada Chise di dekat mereka.

“Akhirnya selesai juga! Yua, aku mau cuci tangan, kamu ikut tidak?” kata Chise terlalu tiba-tiba, Chika merasa gadis itu mendengar pertanyaan Taiga. Tidak ada tanda-tanda Yua akan menjawabnya, karena masih sibuk berdebat dengan Hokuto, Chise memutuskan untuk pergi cuci tangan sendiri.

“Chika, Taiga, aku cuci tangan dulu ya?” pamit Chise meninggalkan keduanya.

“Chise menyukai Matsumura-senpai.” bisik Chika lirih, supaya hanya Taiga yang bisa mendengarnya. Taiga kaget mendengarnya, “Eh, saya tidak tahu.”

“Ya, kalau kamu tahu, tidak mungkin bertanya seperti itu di dekatnya.” Taiga mengangguk membenarkan. “Tapi tenang saja. Dia tidak benar-benar menyukai Matsumura-senpai, dia hanya melarikan diri dari perasaannya yang sebenarnya. Chise akan baik-baik saja.” Hibur Chika agar Taiga tidak terlalu merasa bersalah.

Chise berulang kali membasuh tangannya yang sudah bersih, dia belum ingin kembali ke tempat teman-temannya tadi, belum ingin melihat Hokuto dan Yua lagi.

“Bukannya dari awal aku sudah tahu kalau Matsumura-senpai menyukai Yua? Aku saja yang bodoh nekad menyukainya.” Chise bergumam sendiri. “Tapi aku juga tahu kalau Yua tidak punya perasaan apa-apa ke Matsumura-senpai, makanya aku nekad menyukainya.” Chise merasakan dilema berat dengan perasaannya sendiri.

“Ciyee yang lagi galau.” Chise kaget, tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya.

“Jesse-kun mengagetkanku saja!” Chise menyipratkan air ke arah pemuda yang membuatnya kaget tadi, Jesse berusaha menghindar.

“Jadi kamu suka Hoku nih?” goda Jesse. Chise tidak menjawab karena yakin Jesse sudah mendengar semua ocehannya tadi. Tapi Jesse tidak lagi bersuara, terlihat masih menunggu jawaban darinya.

“Apa sebaiknya aku menyerah?” tanya Chise tiba-tiba. “Kenapa?” Jesse balik bertanya.

“Mau sampai kapan pun, Matsumura-senpai tidak akan pernah melihat ke arahku. Baginya, Yua adalah prioritas utama. Aku tidak yakin bisa bertahan menyukai orang yang tidak pernah sekalipun melihat ke arahku.”

Jesse tampak berpikir. Sebenarnya, jangankan untuk Hokuto, bahkan untuk dirinya sendiri, Yua adalah prioritas utama. Sayang, Hokuto yang mempunyai banyak waktu untuk bisa lebih menunjukkan perhatiannya, sedangkan dia sibuk untuk mencari cara bagaimana menyelamatkannya.

“Apa kamu yakin Hokuto menyukai Yua dengan prespektif seperti itu?” Chise menatap Jesse dengan pandangan bertanya. “Maksudku, apa kamu yakin perhatian Hokuto ke Yua itu cinta?”

Chise mengangguk mantap. “Tentu saja. Aku selalu memperhatikannya, jadi aku tidak akan salah menafsirkannya.”

“Yasudah, kalau begitu menyerah saja.”

Eh? Semudah itu dia mengatakannya. Chise kesal karena dia tahu, memang itu jawaban yang ingin Chise dengar dari mulut Jesse, tapi saat Jesse mengatakannya tanpa beban, benar-benar membuat Chise kesal. Chise menutup keran air dan menyudahi kegiatan cuci tangannya yang sedari tadi tak kunjung usai, lalu pergi meninggalkan Jesse.

Saat berbalik, Chise melihat Juri sudah berada tidak jauh di belakangnya. “Semuanya sudah siap. Yang lain menyuruhku memanggil kalian.” kata Juri singkat, lalu berbalik, berjalan kembali ke yang lainnya mendahului Chise dan Jesse. Apa Juri-kun mendengar semuanya?

“Ayo?” ajak Jesse, membuyarkan lamunan Chise, lalu keduanya menyusul Juri.

*****

Sejak kejadian hari itu, setiap malam Kouchi selalu tidur bersama Yua. Kabarnya, sejak hari itu pula Yua tidak pernah mengalami mimpi buruk lagi.

“Hoku, apa yang kamu lakukan di kamar Yua? Bukannya Kouchi bersamanya?” Sora melihat Hokuto diam-diam keluar dari kamar Yua, berusaha tidak menimbulkan suara. Hokuto tampak terkejut dengan kehadiran Sora, tapi kemudian mampu mengendalikan diri secepatnya.

“Aku cuma mengecek keadaan saja. Sora sendiri, ngapain kamu di sini?” Hokuto balik bertanya, Sora kelagapan mencari jawaban.

“Ah, eh, sama. Aku juga mau mengecek keadaan saja. Siapa tahu mereka memerlukan sesuatu.” jawab Sora sekenanya. Hokuto mengangkat sebelah alisnya. “Kamu cemburu sama Yua?”

“Apa’an sih Hoku!” hardik Sora cukup keras, membuat Hokuto mendesis mengingatkan Sora untuk memelankan suaranya. Sora refleks membekap mulutnya.

Hokuto menarik Sora untuk pergi bersamanya. “Mau ke mana kita?” tanya Sora, berusaha melepas tangan Hokuto yang menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. Hokuto tidak menjawab.

Hokuto mengajak Sora ke balkon. Mereka saling terdiam lama sebelum akhirnya Hokuto berkata, “Aku tahu. Kamu menyukai Kouchi, karena itu dulu kamu memaksaku untuk mau tinggal bersama dengannya di sini setelah lulus SMA.”

Tidak ada tanda-tanda Sora ingin mengelak ataupun membenarkannya, Hokuto melanjutkan bicara. “Aku tidak menyalahkanmu karena perasaan itu, tapi kamu pasti sadar sampai kapanpun kamu tidak akan pernah masuk ke hatinya. Jangankan ke hatinya, bahkan sedetik pun Kouchi tidak akan pernah memikirkanmu, karena yang ada di pikiran Kouchi cuma Yua dan Yua selamanya.”

“Aku tahu!” Sora berteriak lantang, tidak tahan lagi mendengar Hokuto mengguruinya. Sora tahu semua itu, dan sampai hari ini dia tetap bertahan dengan perasaannya meski mengetahui kenyataan pahit itu. Karena jauh di lubuk hati Sora, masih berharap suatu hari Kouchi akan balik melihatnya, karena bagaimanapun Yua hanya adiknya. Ah,

“Kalau kamu tahu, berhentilah hanya melihat Kouchi. Aku tidak tahan melihatnya. Kamu pantas bahagia dengan orang lain yang mencintaimu juga, Sora!” Sora terkesiap mendengar kata-kata Hokuto. Ternyata Hokuto mengatakannya karena pemuda itu peduli padanya? Sora merasa bersalah.

Sora memperhatikan Hokuto yang menerawang jauh menatap halaman kosong di hadapan mereka. “Lalu bagaimana dengan perasaanmu ke Yua?” tanya Sora.

“Yua?” Hokuto mengulangi pertanyaan Sora.

“Semua orang tahu kalau kamu menyukainya, Hoku. Apa kamu akan menyerah juga?” alih-alih menjawab, Hokuto malah tertawa mendengar pertanyaan Sora.

“Astaga, semua orang? Memang apa yang aku lakukan sampai-sampai semua orang berpikir aku menyukai Yua?” Hokuto masih tidak bisa menghentikan tawanya. Sora membelalakkan mata.

“Jangan bilang, bahkan kamu tidak menyadari perasaanmu sendiri? Padahal jelas banget kelihatan kalau kamu suka Yua, Hoku!” Sora heran, bagaimana bisa ada orang tidak sepeka ini, bahkan tidak menyadari perasaannya sendiri.

“Lho, makanya aku bertanya, apa yang aku lakukan sampai-sampai semua orang berpikir aku menyukai Yua?” Hokuto mengulangi pertanyaannya. Sora melihat tatapan serius di mata Hokuto, tatapan yang sama saat dia menyuruh Sora untuk melupakan Kouchi.

“Kamu yakin tidak menyukai Yua? Padahal selama ini kamu selalu menjaganya sampai seperti rela mengorbankan nyawamu sendiri.” Sora menunggu jawaban Hokuto, masih tidak yakin kalau pemuda itu benar-benar tidak memiliki perasaan apapun pada Yua.

“Bukankah Kouchi juga melakukannya? Bahkan Kalau Jesse bisa selalu di dekat Yua, dia pasti melakukan hal yang sama. Kamu juga kan, Sora?” Sora menatap Hokuto, tidak mengerti maksudnya.

“Selama ini kamu banyak berkontribusi membantu Kouchi dan Jesse dengan mencarikan dokumen-dokumen rahasia dan penting di perpustakaan, kan?”

“Bagaimana kamu…”

“Tentu saja aku tahu.” sahut Hokuto, memotong kata-kata Sora.

Tiba-tiba saja lampu ruang tengah dinyalakan. Hokuto dan Sora melihat Taiga berdiri bawah sakelar lampu, memandangi keduanya keheranan.

“Oh, maaf kalau mengganggu. Saya bisa mematikan lampunya lagi.”

“Kami sudah selesai bicara. Matikan saja lampunya.” Hokuto beranjak dari tempatnya, mengabaikan Sora yang sepertinya masih ingin melanjutkan pembicaraan mereka.

Taiga mematikan lampu dan kembali ke kamarnya. Sebenarnya tadi Taiga terbangun karena mendengar teriakan Sora dan khawatir terjadi apa-apa pada gadis itu. Ternyata cuma pertengkaran pasangan biasa, ujar Taiga kecewa.

*****

Chise hanya bisa melongo melihat Jesse sudah berdiri di hadapannya, mengajaknya kencan sepulang sekolah.

“Jadi kamu datang bukan untuk menjemputku?” tanya Yua, ikut melongo juga. Padahal, biasanya Jesse datang untuk menjemputnya kalau Hokuto sedang tidak bisa. Tidak selang berapa lama, Hokuto dan Juri muncul untuk menjemput Yua.

“Tuh, jemputanmu sudah datang. Aku pinjam Chise dulu ya!” Jesse menarik Chise dan membawanya meninggalkan yang lainnya. Shintaro dan Chika berjalan mendekati Juri, lalu menepuk-nepuk pundaknya.

“Sudah kubilang, cepatlah bergerak sebelum Chise direbut orang.” kata Shintaro, “yang sabar ya, Juri.” tambah Chika, sambil memukul-mukul tangan Juri.

“Aww, sakit Chika!” Chika meringis karena sadar kalau pukulannya terlalu keras dan mengenai tulang pengumpil Juri yang tipis.

“Sejak kapan Jesse dan Chise?” tanya Hokuto, masih memandangi kepergian Jesse dan Chise dengan pandangan tidak percaya. “Entahlah.” Yua mengangkat kedua bahunya.

“Mungkin sejak kami pergi menyelamatkan Yua dan Chise hari itu?” Chika mengira-ngira. “Waktu itu, Jesse-senpai yang menggendong Chise dan mengantarkannya sampai rumah. Mungkin ada sesuatu yang mereka bicarakan dan membuat Jesse-senpai tertarik dengan Chise?”

“Kukira Jesse tidak tertarik dengan cewek.”

Bletak, lagi-lagi Hokuto memukul kepala Yua.

“Habisnya dia nempel mulu sama nii-chan, bahkan dia tidak punya malu memeluk nii-chan kalau mereka sedang berdua. Untung saja aku belum pernah melihatnya sendiri, cuma mendengar dari Sora-nee. Kalau sampai aku melihatnya memeluk nii-chan seenaknya, aku pasti akan membunuhnya!” oceh Yua sambil mengusap-usap kepalanya yang habis dipukul Hokuto, tidak ada niat membalasnya, karena Yua sedang dalam mood yang bahagia.

“Tapi syukurlah, akhirnya Chise bisa bahagia tanpa harus menunggu cowok tidak jelas yang terus-terusan mempermainkan perasaannya.” Yua melirik sinis ke arah Juri.

“Dan mengejar cowok yang tidak pernah sekalipun melihat ke arahnya.” tambah Taiga yang muncul tiba-tiba.

“Lho, ngapain ada Taiga juga?” tanya Yua kaget dengan kemunculan Taiga yang tiba-tiba.

“Siapa?” tanya Hokuto, tidak merasa kalau dirinyalah yang dimaksud oleh Taiga. Tapi sayang, tidak ada yang berniat menjawab pertanyaan Hokuto, karena semua mata tertuju pada Taiga.

“Oh, Taiga datang menjemputku. Aku sudah janji akan mengantarnya mengunjungi tempat tinggal lamanya.” Chika menjawab dengan santai, membuat Shintaro terbelalak mendengarnya. “Kamu tidak pulang hari ini?”

“Aku sudah ijin papa-mama. Aku juga sudah bawa baju ganti dari rumah. Jadi sebaiknya kalian pulang saja dulu.” Shintaro masih tidak bisa menerima alasan Chika, dia masih tidak rela membiarkan adik(?)-nya pergi berdua dengan Taiga.

“Tenang saja, Shin-kun. Aku akan menjaga Chika. Lagipula, kami tidak akan lama. Setelah urusanku selesai, kami akan langsung kembali.” Taiga berusaha meyakinkan Shintaro agar mengijinkan Chika pergi bersamanya.

“Bukan itu masalahnya. Tapi, bagaimana… aduh bagaimana sih aku mengatakannya. Masalahnya karena Chika pergi denganmu. Aku belum bisa mempercayaimu, Taiga. Bagaimana kalau kamu berbuat macam-macam pada Chika?” kata Shintaro layaknya seorang kakak yang over-protective terhadap adiknya.

“Astaga, Shin-chan! Aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri. Kamu tahu kan kalau aku lumayan jago beladiri? Lagipula, Taiga tidak akan berani macam-macam padaku, kalau masih tetap ingin tinggal di rumah Kouchi, atau Yua akan membunuhnya!”

“Betul! Kalau kamu berani macam-macam pada sahabatku, aku akan membunuhmu!” kata Yua sok mengancam Taiga, tapi diam-diam keduanya tersenyum menunggu reaksi Shintaro.

Shintaro tahu, bukan Yua yang akan bertindak tapi dia sendiri lah yang akan menghabisi Taiga kalau sampai pemuda itu berani macam-macam pada Chika. “Baiklah. Tapi jangan lupa terus kabari aku bagaimanapun keadaanmu, oke?” kata Shintaro akhirnya. Chika mengangguk, lalu pergi bersama Taiga.

“Anak itu benar-benar luar biasa, bahkan aku tidak perlu banyak membantunya dia bisa semudah itu dekat dengan Kyomoto.” gumam Juri, melihat kepergian Chika dan Taiga.

“Apa?” Shintaro bertanya karena merasa Juri mengatakan sesuatu. “Bukan apa-apa. Hanya saja, Chika memang luar biasa.” Juri mengulangi kata-katanya, tapi tidak seluruhnya.

“Iya. Dia bisa semudah itu dekat dengan orang yang disukainya. Bukan hanya karena percaya diri, kadang aku merasa seperti Chika bisa memprediksi apa yang akan terjadi. Kemampuannya itu kadang membuatku takut. Seolah dia bisa melihat masa depan saja.” Juri hanya tersenyum mendengarnya.

“Yasudah, ayo kita pulang!” ajak Hokuto kepada orang yang tersisa. Yua, Juri dan Shintaro mengangguk menyetujuinya.

*****

Jesse memperhatikan Chise yang juga memperhatikannya, sedang memandanginya curiga. Meskipun ingin mengajak kencan Chise, sebenarnya Jesse tidak mempunyai tujuan yang jelas, karena ini adalah kali pertamanya mengajak perempuan keluar selain Yua dan Sora. Tapi, Jesse juga tidak pernah kencan dengan mereka, palingan pergi ke supermarket untuk belanja.

“Jadi, mau sampai kapan kita cuma lihat-lihatan begini di dalam mobil, di depan gedung olahraga?” akhirnya Chise membuka suara. Jesse hanya terkekeh mendengarnya.

“Aku tidak ada ide mau mengajakmu kencan ke mana.” kata Jesse jujur, “mungkin Chise ada ide mau ke mana? Atau mungkin ada tempat yang mau kamu kunjungi?” tambahnya.

“Tidak ada tempat yang ingin aku kunjungi. Yang aku mau, Jesse-kun menjelaskan ini semua maksudnya apa? Kenapa tiba-tiba mengajakku kencan? Pasti Jesse-kun bercanda!” Chise masih berpegang pada kepercayaannya, karena menurutnya sangat tidak masuk akal seorang Lewis Jesse yang jenius mengajak Chise seorang anak biasa-biasa saja pergi kencan.

“Lho kenapa? Bukannya kamu sudah menyerah dengan Hokuto? Berarti aku punya kesempatan untuk mendekatimu kan?” jawab Jesse, tidak merasa melakukan kesalahan.

“Kenapa? Aku memang menyerah dengan Matsumura-senpai. Tapi bukan berarti Jesse-kun bisa bermain-main dengan perasaanku seenaknya.”

“Aku tidak bermain-main, aku serius ingin mendekatimu.” Chise melihat keseriusan di mata Jesse saat mengatakannya.

“Aku selalu memikirkanmu sejak hari di mana aku menggendongmu.” Kilas balik kejadian hari itu terbayang di kepala Chise, dia ingat betul saat pandangannya samar-samar melihat Jesse menggendongnya.

“Saat itu, kupikir aku hanya kagum denganmu karena rela mengorbankan nyawa demi Yua. Tapi secara tidak sadar, aku selalu memperhatikanmu semenjak hari itu. Aku juga tahu kalau kamu menyukai Hokuto, makanya aku sempat berpikir untuk menyerah dan memilih berteman denganmu. Tapi saat kamu bertanya padaku apakah sebaiknya kamu menyerah tentang Hokuto, tentu saja aku sangat bahagia. Akhirnya kesempatanku datang juga.”

Oh, pantas saja waktu itu Jesse-kun dengan mudahnya menyuruhku untuk menyerah, kata Chise dalam hati.

“Setelah mengumpulkan cukup keberanian, aku memutuskan hari ini untuk mengungkapkan perasaanku. Aku mencintaimu, Nagisawa Chise. Maukah kamu menjadi pacarku?” kata Jesse akhirnya. Chise terdiam. Alih-alih menjawab pernyataan cinta Jesse, Chise mengitarkan pandangannya ke sekitar. Lalu dia bertanya, “Pernyataan cinta di dalam mobil, di depan gedung olahraga? Apa ini ide teromantis yang kamu punya?”

“Ah, gomen. Anggap saja aku belum mengatakannya. Aku akan mengajakmu ke tempat yang indah lalu akan kuungkapkan perasaanku sekali lagi padamu.” balas Jesse dengan polosnya meminta Chise untuk melupakan pernyataan cintanya. Chise diam saja, tapi dalam hati dia ingin tertawa.

Ya ampun, lucunya. Tapi sayang, aku belum ada perasaan apa-apa padanya. Chise mengalihkan pandangan, pikirannya melayang mengingat ekspresi Juri saat tahu Jesse mengajaknya pergi tadi.

Sebentar lagi, aku akan menunggunya sebentar lagi. Maafkan aku, Jesse-kun.

*****

Juri tidak bisa menghilangkan bayangan saat Jesse mengajak Chise pergi. Juri tidak tahu bagaimana ekspresi Chise saat itu, apakah Chise senang karena akhirnya ada seseorang yang serius mendekatinya?

Tapi, melebihi itu, Juri kepikiran bagaimana dia harus bersikap saat bertemu Jesse nanti? Selama ini mereka memang jarang bicara, tapi saat mengetahui kalau mereka menyukai perempuan yang sama, bagaimana Juri harus bereaksi sewajarnya?

“Aaarrrgh…” Juri membekapkan bantal ke wajahnya.

Tok Tok

Bunyi pintu kamar diketuk, Juri dengan malas berjalan untuk membukanya. “Ada apa?” tanya Juri saat melihat Hokuto lah berada di balik pintunya.

“Aku cuma mau mengembalikan celana yang kupinjam bulan lalu. Kenapa mukamu lusuh begitu?” tanya Hokuto penasaran. Serabutan Juri mengambil celananya dari tangan Hokuto, lalu kembali ke kasur tanpa menjawab pertanyaan Hokuto. Tanpa permisi Hokuto mengikuti Juri sampai ke kasurnya, masih menunggu pemuda itu bercerita.

“Kenapa kamu ikut masuk?” tanya Juri menatap Hokuto yang sudah duduk di salah satu ujung kasurnya.

“Lho, bukannya kamu mau cerita?”

“Cerita apa? Tidak ada yang mau kuceritakan, kamu keluar sana! Jangan lupa tutup pintu.” Juri kembali membenamkan wajah ke bantal, tidak menggubris Hokuto yang terus menyuruhnya untuk bercerita.

Hokuto tidak bergeming dari tempatnya, malah terlihat sibuk memainkan beberapa gundam yang terpajang di meja sebelah kasur Juri.

“Jangan menyentuhnya! Itu hartaku yang paling berharga.” Juri merebut gundam yang sedang dimainkan Hokuto.

“Oooh, pantas saja Chise lebih memilih Jesse. Habisnya kamu lebih menghargai gundam daripada perasaan Chise.”

JLEB

Juri terdiam mendengar komentar Hokuto. Ternyata Hokuto menyadari kalau selama ini dia menyukai Chise.

“Kenapa? Bukannya kamu juga berpikir kalau aku menyukai Yua? Kata Sora, semua orang, jadi aku memasukkanmu ke dalamnya. Kalau kamu tahu aku menyukai Yua, kenapa kamu tidak merebut Chise daripada membiarkannya terus-terusan berharap tidak jelas padaku?”

“Karena aku tahu bukan Yua yang kamu suka.” balas Juri, berhasil membuat Hokuto terkejut mendengarnya. “Kamu tahu?”

“Tentu saja. Chika menceritakannya.” Hokuto hanya membuang napas saat mendengar Chika yang membongkar rahasia mereka.

“Setelah mengetahuinya, secara tidak sadar aku jadi memperhatikan kalian, dan aku jadi yakin kalau yang dikatakan Chika benar. Apalagi kejadian beberapa waktu lalu, aku mendengar semuanya.” Hokuto mengangkat sebelah alisnya, tidak paham kejadian mana yang sedang dibicarakannya.

“Berhentilah hanya melihat Kouchi. Aku tidak tahan melihatnya. Kamu pantas bahagia dengan orang lain yang mencintaimu juga, Sora!” Juri menirukan Hokuto saat mengatakannya, lalu tertawa. “Kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu menyukai Sora, Matsumura?”

Hokuto terdiam, dia tidak menyangka kalau Juri ada di dekat mereka saat malam itu. Tapi kemudian dia menjawab, “Aku tidak bisa. Tidak, belum bisa. Kalau yang dikatakan Chika benar, maka itu kejadiannya masih lama. Sekarang ini aku masih harus fokus dengan misi yang kujalani.”

“Aku tidak paham dengan misi yang kamu bicarakan, tapi kalau kamu memerlukan bantuan untuk menunjukkan perasaanmu pada Sora, katakan saja!” Juri mengacungkan kedua ibu jarinya.

“Tenang saja, aku bisa mengurusnya. Sekarang apa yang akan kamu lakukan kalau bertemu Jesse? Kalian menyukai gadis yang sama.”

“Astaga, kamu mengingatkannya!!” Juri melempar bantal ke arah Hokuto, lalu keduanya tertawa.

 

to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s