[Multichapter] TWISTED (#3)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Chise mengintip dari balik tirai kamarnya yang belum dibuka, memperhatikan gadis yang sedang tertawa gelak bersama anak-anak panti asuhan lainnya. Gadis itu terlihat seusia dengan Chise.

Bukannya dia baru kehilangan kedua orang tuanya? Bagaimana bisa dia tertawa begitu lepas? Apa dia tidak punya hati? Chise memandang gadis itu dengan pandangan tidak suka.

Sudah hampir jam makan. Dengan gontai Chise memutuskan untuk turun dan seperti biasa, mama sedang sibuk mengurus beberapa anak asuh barunya, termasuk gadis itu.

Tidak ada tanda-tanda mamanya menyadari kehadirannya, Chise mendengus kesal lalu pergi ke taman belakang rumah. Di sana, Chise melihat seorang pemuda yang baru pertama kali ditemuinya, sedang merenung dan terlihat sangat kehilangan.

Anoo, apa aku boleh duduk di sini?” Chise meminta ijin untuk duduk di bangku sebelah pemuda itu, tapi tidak ada jawaban. Pemuda itu masih fokus dengan pikirannya sendiri. Tanpa perlu capek-capek mengurusinya, Toh ini rumahku sendiri, Chise menghenyakkan tubuh di kursi. Dengan tubuh terlentang, Chise sengaja merenung memandangi langit.

“Di sini setiap hari ramai, tapi kenapa aku selalu merasa sendiri?” Chise bergumam sendiri, menyibukkan diri menghitung burung yang sedang terbang di langit di atasnya. Cukup lama sampai Chise tidak sengaja memiringkan tubuh, Chise mendapati pemuda yang tadi merenung sedang memandanginya.

Meskipun belum mengenalnya, Chise memang tidak ada keinginan untuk mengenalnya sehingga memilih memiringkan tubuh ke sisi lain dan memunggungi pemuda tadi, menghindari kalau-kalau dia mulai mengajak bicara. Tapi ternyata, pemuda itu tetap diam. Chise menghela napas lega karena tidak ada yang mengganggu ketenangannya.

Sampai tiba-tiba, gadis tadi, yang sedang bersama mamanya, datang dan berteriak-teriak dengan heboh, “Nii-chan, lihat Nagisawa-mama mengajariku membuat karangan bunga. Ayo ke makam mama-papa! Aku akan memberikan ini pada mereka.”

Chise terkejut saat tiba-tiba pemuda yang terlihat murung tadi malah tertawa saat mendengar adiknya mengajak ke makam orang tua mereka, diam-diam Chise memperhatikan keduanya.

“Kamu mau memberikan karangan bunga jelek ini ke mama, Yua? Kamu pasti bercanda! Masih lebih bagus karangan bunga buatanku!” Pemuda itu terlihat sengaja menyombongkan diri dan sukses membuat adiknya memanyunkan bibir. “Belajarlah dulu sampai kamu bisa membuat karangan bunga yang lebih indah. Baru nanti kita akan menemui mama-papa ya?” Gadis itu mengangguk dengan semangatnya, dengan mudah suasana hatinya berubah hanya karena mendengar kakaknya berjanji akan mengajaknya pergi ke makam orang tua mereka.

“Kalau begitu, bunga ini untukmu nii-chan! Aku juga akan membuat banyak karangan bunga yang indah untukmu!” Gadis itu memberikan bunga tadi ke kakaknya. Tapi pemuda itu menolaknya, “Yua, berikan bungamu ke anak itu. Mulai hari ini, cobalah berteman dengannya ya.”

“Kenapa aku harus berteman dengannya? Aku tidak butuh teman. Aku benci keramaian!” Chise merasa kesal karena pemuda tadi sedang mengejeknya. Apa-apaan dia menyuruh adiknya untuk berteman denganku? Siapa juga yang mau berteman dengan gadis tak berperasaan sepertinya?! Chise sangat kesal sehingga memutuskan untuk kembali ke kamar.

Baru satu jam Chise memutuskan kembali ke kamar, terpaksa Chise harus kembali turun untuk mengambil makan. Chise ingat kalau dia belum makan sama sekali sejak kemarin sore.

Betapa terkejutnya Chise saat dia membuka pintu kamar, gadis tadi sudah berdiri di sana sedang menunggunya. Dia mengulurkan bunga kepada Chise, tapi Chise sengaja mengabaikannya. Chise membiarkan gadis itu tetap berdiri di depan kamarnya.

Anoo, Chise-chan, apa kamu mau menjadi temanku?” tanya gadis itu, Chise pura-pura tidak mendengarnya. Dia tetap berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan. Gadis itu masih mengikuti Chise, bahkan membantunya mengambilkan beberapa makanan dan ikut masuk ke kamar.

“Siapa yang mengijinkanmu masuk? Keluar!” Usir Chise kesal karena gadis itu sudah berbuat semaunya dan mengganggu ketenangannya.

“Ayo kita berteman? Kalau kita berteman, kita bisa melakukan banyak hal bersama. Seperti yang biasa aku lakukan dengan Shintaro dan Chika! Nanti aku juga akan mengenalkanmu dengan mereka.” Gadis itu masih bersikeras, bahkan mengabaikan Chise yang hampir membentaknya.

“Aku tidak mau berteman denganmu dan juga teman-temanmu. Aku tidak butuh teman!” Chise mendorong gadis keluar kamarnya sampai terjatuh, lalu membanting pintu sekerasnya.

Tapi, meskipun berulang kali Chise sudah menolaknya, gadis itu sangat keras keras kepala dan tidak mau menyerah. Chise mulai benar-benar kehilangan kesabaran akhirnya.

“Kenapa kamu ingin berteman denganku? Apa karena kakakmu menyuruhmu?”

“Iya.” Jawab gadis itu lugu. Bah, emosi Chise semakin kemana-mana. “Aku benci kakakmu! Aku juga sangat membencimu! Apa kalian sengaja mempermainkanku hah?” Chise sudah hampir menangis sangat mengatakannya.

“Kenapa kamu membenciku dan nii-chan? Kata nii-chan, kita tidak boleh mudah membenci orang dan semua orang berhak menjadi teman. Aku juga mau menjadi teman Chise-chan.”

“Tapi aku tidak mau!!!” teriak Chise tetap tak tergoyahkan.

Hari demi hari berlalu, Chise mulai terbiasa melihat Yua mengganggu hari-harinya untuk mengajaknya berteman. Tapi hari ini, Yua tidak datang ke kamarnya. Tidak juga menunggunya di dapur bahkan di halaman belakang. Di mana Yua? Chise sengaja kembali ke kamar melalui jalur terpanjang, siapa tahu dia bisa menemukan keberadaan Yua.

“Yua, kamu sedang ngapain sih?” samar-samar Chise dapat mendengar suara kakak Yua dari dalam sebuah ruangan di ujung lorong.

Nii-chan lihat, karangan bunga buatanku sudah lebih indah kan sekarang? Aku akan membuat yang banyak! Besok kita kan mau menemui papa-mama! Aku akan menghias makam mereka supaya indah. Meskipun kita sudah tidak bisa melihat mereka, papa-mama masih akan selalu mengawasi kita kan?” Chise memberanikan diri mengintip dari balik pintu yang sedikit terbuka.

“Tapi, bukannya kamu membuat terlalu banyak?” Yua mulai menjejer karangan bunga yang sudah diselesaikannya dan menjelaskan pada kakaknya.

“Ini nanti kukasihkan Shintaro, yang ini Chika. Lihat, buat Chika aku kasih banyak bunga lavender karena dia sangat menyukainya. Terus yang ini untuk paman Morimoto, yang ini untuk tante Morimoto. Aku juga bikinkan buat Jesse lhoo, aku yakin dia bakal nangis saat kukasih nanti!” Chise melihat Yua dan kakaknya tertawa.

“Buatku mana?” tanya kakak Yua.

“Buat Nii-chan, nanti kubikinin special. Tapi setelah aku menyelesaikan karangan bunga buat Chise-chan ya.” kata Yua penuh semangat melanjutkan kesibukannya merangkai bunga.

“Kalian sudah berteman?” Yua menggelengkan kepala. “Chise masih terus-terusan mengabaikanku. Tapi aku tahu kalau itu salahku. Waktu dia tanya kenapa aku ingin berteman dengannya, aku mengiyakan saat dia bilang karena nii-chan yang menyuruhku. Mungkin aku seharusnya tidak menjawab seperti itu, tapi memang itu kenyataannya.” Chise dengan cermat mendengarkan, karena tahu dirinyalah yang sedang dibicarakan.

“Tapi karena nii-chan yang menyuruhku, aku jadi ingin berteman dengannya. Apa itu salah? Aku tidak tahu kenapa Chise-chan tidak mau berteman denganku, bahkan dia tidak mau berteman dengan anak-anak panti lainnya. Kenapa dia bersembunyi dalam kesendirian? Apa dia tidak kesepian?”

Yua berhenti sejenak, lalu menatap kakaknya, “Aku merasa cukup mempunyai nii-chan sebagai satu-satunya saudaraku. Tapi kalau kita mempunyai lebih banyak saudara, bukannya akan lebih menyenangkan? Selama tinggal di sini aku benar-benar senang karena bisa tertawa puas dengan banyak orang. Sayang, kita tetap harus pulang kan?”

Eh? Yua akan pulang? Jadi dia tidak selamanya tinggal di sini seperti anak-anak panti lainnya?

“Apa kamu ingin tetap tinggal di sini?” Yua menggelengkan kepala sebagai jawaban pertanyaan kakaknya. “Aku juga sudah sangat merindukan rumah. Tapi aku akan merindukan suasana banyak orang seperti di sini. Apalagi sekarang kita cuma tinggal berdua.”

“Kita tidak cuma berdua kok, Yua.” “Maksudnya?” Yua tampak penasaran dengan pernyataan kakaknya.

“Tunggu sampai kita pulang, kamu akan melihat sendiri kejutannya.”

Chise sudah tidak sanggup lagi mendengarkan percakapan keduanya, karena kabar kepulangan Yua sudah memenuhi pikirannya.

Kenapa Yua pulang secepat ini? Padahal untuk pertama kalinya aku menemukan anak yang mau berteman denganku meskipun terus-terusan kuabaikan. Apa yang harus ku lakukan?

Chise hampir tidak bisa tidur semalaman, sampai saat dia tersadar hari mulai siang. Untung saja ini akhir pekan. Chise membuka pintu dan terkejut saat melihat rangkaian bunga yang dibuat Yua dan sebuah pesan diletakkan di depan pintu kamarnya.

Ohayou, Chise-chan \(^o^)/ Gomen, aku tidak bisa berpamitan langsung padamu, tapi hari ini aku pulang. Ya, pulang ke rumahku sendiri. Tapi tenang saja, kalau ada waktu aku akan sering-sering main ke tempatmu. Sampai ketemu lagi. Sayonara -Yua-

Chise tertegun membaca pesan Yua. Jadi hari ini, hari kepulangan mereka? tanpa sadar air mata Chise mulai berjatuhan. Chise belum ingin berpisah dengan Yua, belum sebelum dia menerima ajakan pertemanannya. Dengan cepat Chise berlari ke bawah, berharap Yua masih ada di sana. Tapi sia-sia.

Salah satu anak panti mengatakan kalau Yua dan kakaknya sudah meninggalkan rumah sejak pagi tadi, sedangkan sekarang matahari sudah tinggi menjulang. Chise mngutuk dirinya karena sudah bangun kesiangan.

“Chise, kamu sedang apa?” Chise menoleh, ternyata mamanya yang bertanya.

“Mama mau ke mana?” Chise memperhatikan pakaian rapi yang dikenakan mamanya.

“Hari ini, hari kelulusan Yugo. Karena mama mempunyai kewajiban sebagai wali sementara, mama harus menghadiri upacara kelulusannya.”

Yugo? Kalau tidak salah itu nama kakak Yua!

“Ma, aku ikut ya? Tunggu sebentar!” dengan cepat Chise melesat ke kamarnya, mengambil salah satu gaun favoritenya. Setelah memoleskan sedikit bedak dan lipgloss di bibirnya, Chise menyusul mamanya yang sudah masuk mobil.

Mamanya tersenyum melihat Chise dalam balutan gaun, lalu membantu menata rambut anak gadisnya selama perjalanan.

“Mama senang akhirnya kamu mau membuka diri, sayang.” kata mama Chise, masih sibuk menata rambut anaknya.

Mmmm?” Chise menggumam, enggan membalas komentar mamanya.

“Mama tidak menyangka kalau keputusan mama merawat anak-anak Profesor Kouchi untuk sementara bisa membawa perubahan besar dalam kehidupan kita.”

Mama Chise menyelesaikan sentuhan terakhir pada tatanan rambut anaknya, lalu melanjutkan berkata, “Sebenarnya mama tidak masalah merawat mereka selamanya, tapi Yugo menolaknya. Anak itu mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi untuk melindungi adiknya. Karena itu, dia bersikeras akan bekerja sendiri setelah lulus dan memilih tinggal berdua. Dia menolak menerima dana santunan dari kerajaan karena ingin memulai kehidupan yang baru hanya bersama adiknya.”

“Ngomong-ngomong, kamu sudah berteman dengan Yua?” tanya mama Chise. Chise menggelengkan kepala, “Belum ma. Makanya hari ini aku akan menjawabnya. Aku, ingin berteman dengannya.” Kata Chise mantap. Mama Chise terlihat sangat bahagia melihat perubahan pada anaknya.

Dan sejak hari itu, banyak hal berubah dalam diri Chise, sejak dia memutuskan berteman dengan Yua. Chise mulai bisa berteman dengan saudara-saudara angkatnya, bahkan Chise memutuskan melanjutkan ke sekolah yang sama dengan Yua saat masuk SMA.

Chise yang dulunya sangat tertutup dan membenci dunia, mulai bisa mencintai dirinya setelah bertemu Yua. Arti kehadiran Yua dalam kehidupan Chise, lebih dari sekedar sahabat biasa. Kalau ada perumpamaan, sahabat rasa saudara, seperti itulah yang Chise rasakan kepada Yua. Karena itu, apapun yang terjadi pada Yua, Chise tidak akan membiarkan orang lain melukai saudaranya itu. Kalau ada orang yang melukai Yua, maka orang itu melukai Chise juga.

Chise memperhatikan Yua mulai menggeliat di sebelahnya, tangannya yang diikat membuat Chise kesulitan membangunkan Yua.

“Yua, apa kamu sudah sadar? Yua, Yua, apa kamu mendengar suaraku?” Chise berulang kali mencoba memanggil Yua.

“Chise?” terdengar suara Yua lirih mulai menjawab.

“Iya, ini aku Chise. Tenang saja aku akan menjagamu sampai Kouchi-senpai datang. Jangan takut, kamu tidak sendiri. Sekarang, coba tegakkan badanmu. Sini, bergulinglah ke arahku!” Chise mencoba memberi aba-aba. Yua berusaha keras menggulingkan tubuhnya, hingga akhirnya berhasil meletakkan kepalanya di paha Chise.

“Apa yang terjadi?” tanya Yua, masih terlihat sangat lemah. Chise tidak paham kenapa keadaan Yua bisa selemah itu padahal kemarin dia baik-baik saja.

“Ada pria bermantel yang tiba-tiba menyerang kita saat kita pulang sekolah. Lalu tiba-tiba saja kamu pingsan, sedangkan Shintaro, Chika dan aku tidak berhasil melawan pria itu.”

“Di mana Shintaro dan Chika?” tanya Yua.

“Mereka pingsan saat pria itu berhasil mengalahkan mereka, sedangkan aku ikut tertangkap karena aku tidak mau melepasmu.” Yua mengangguk lemah, tanda memahami keadaan yang sedang dialaminya.

“Sudah berapa lama kita di sini? Apa pria itu ada di sini?”

“Kurang lebih sudah 8 jam kita dikurung di sini. Pria itu pergi setelah mengikat kita. Sepertinya dia mendapat telepon dari sesorang lalu pergi begitu saja.”

“8 jam? Apa mungkin nii-chan bakal menemukan kita?”

“Tentu saja! Apa kamu tidak ingat kejadian waktu kamu tersesat saat darma wisata tahun lalu? Saat kami sudah putus asa karena tidak bisa menemukanmu, Kouchi-senpai tanpa pantang menyerah tetap mencarimu dan akhirnya berhasil menemukanmu. Aku percaya pada kekuatan ikatan batin kalian. Tenang saja.” Chise mencoba menenangkan.

Yua jadi teringat kejadian itu. Kalau tidak salah, keadaannya tidak jauh beda dengan sekarang. Saat tiba-tiba tubuhnya menjadi sulit dikendalikan dan hilang kesadaran. Yua benar-benar tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Akhir-akhir ini, Yua merasa semakin sering kehilangan kesadaran dan seperti ada sosok lain yang berusaha menguasai tubuhnya. Apa gara-gara mimpi itu? Nii-chan, aku takut sekali. Tolong aku!

 

Beberapa waktu setelah kejadian di tempat yang berbeda,

Kouchi merasakan dadanya sangat sesak, dia yakin Yua di suatu tempat sedang ketakutan. “Kenapa ini bisa terjadi?”

“Maafkan aku senpai, untuk kedua kalinya aku tidak bisa melindungi Yua.” Shintaro terus-terusan menyalahkan diri, Chika berusaha menenangkannya.

Hokuto, Juri dan Taiga berdiri agak jauh dari mereka. Pandangan ketiganya kosong, jangankan menyalahkan diri karena tidak bisa melindungi Yua, bahkan mereka tidak ada di samping Yua saat kejadian itu terjadi. Jesse memandangi ketiganya penuh curiga.

“Saat kejadian, kalian ada di mana?” tanya Jesse dengan nada menyelidik, ketiganya memercingkan mata. “Apa itu maksudnya? Kamu mencurigai kami yang melakukannya?” tanya Juri naik darah.

“Tenanglah Juri, Jesse cuma tanya kita ada di mana saat kejadian, kan? Aku sedang ke minimarket untuk membeli payung untuk kami berlima.” Jelas Hokuto mencoba menenangkan Juri, lalu menjawab pertanyaan Jesse.

“Aku terpisah dari yang lainnya karena mampir ke toko elektronik untuk menukar garansi lampu kamar.” Jawab Juri.

“Alasan yang tidak masuk akal.” cibir Kouchi, membuat Juri hampir lepas kontrol kalau saja Sora tidak menahannya.

“Kalau saya, masih di kantor.” jawab Taiga.

“Aku sampai di rumah tepat sebelum hujan turun. Dan aku tidak mungkin ke mana-mana karena payungku masih kamu pinjam, kan?” jawab Sora selanjutnya.

“Kamu out of the count, Sora. Apa kamu tidak dengar Shintaro dan Chika mengatakan kalau yang menyerang mereka seorang pria?” Jesse masih mengitarkan pandangannya ke ketiga pemuda yang ada di hadapannya.

“Tapi kenapa kamu menuduh salah satu di antara kita, Jess? Bisa saja orang lain yang melakukannya.” tanya Sora, merasa tidak enak karena harus mencurigai teman-temannya.

“Apa kamu lupa, Sora? Tidak ada yang tahu tentang masa lalu keluarga Kouchi selain penghuni rumah ini dan orang-orang terdekatnya.” Jelas Jesse, kali ini pandangannya tertuju pada Taiga.

“Ah, ada satu orang yang tidak tahu masa lalu keluarga Kouchi, tapi aku juga belum tahu bagaimana masa lalunya. Siapa tahu dia sengaja mendekati Yugo karena suatu rencana.” Jesse memandang sinis Taiga.

“Cukup. Berhenti saling menuduh! Kalau memang salah satu dari kita yang melakukan penyerangan ini dan menculik Yua, untuk apa?” Chika mencoba menengahi permasalahan yang semakin memanas di antara mereka.

“Bisa saja karena dendam.” Jawab Kouchi geram.

“Cukup, senpai! Kalau kita terus-terusan seperti ini, mau sampai kapanpun kita tidak akan menemukan Yua dan Chise. Sebaiknya kita bekerja sama untuk mencari mereka.” Chika mulai meninggikan suaranya.

“Betul kata Chika, yang terpenting sekarang, kita harus cepat menemukan mereka.” Sora membantu Chika untuk menyatukan teman-temannya.

“Tapi kita sama sekali tidak mempunyai petunjuk untuk menemukan mereka. Kita kesulitan mengidentifikasi pelaku karena CCTV yang dipasang dekat tempat kejadian sedang dalam perbaikan. Bahkan kita tidak tahu ke arah mana pelaku membawa Yua dan Chise.” Hokuto terlihat sangat frustasi saat mengatakannya.

“Bahkan ponsel mereka tidak terbawa, sehingga kita tidak bisa mengecek lokasi menggunakan GPS.” keluh Jesse.

“GPS? Tunggu dulu senpai! Bukankan Kouchi-senpai bisa merasakan keberadaan Yua dalam radius 2 Km?” celetuk Chika.

“Ah, kejadian tahun lalu!” Kouchi teringat sesuatu,

“Ya, waktu Yua tersesat saat darma wisata! Saat semua orang sudah putus asa tidak bisa menemukan Yua, tapi Kouchi-senpai terus mengatakan aku bisa merasakannya berulang kali. Aku mempercayainya dan membantu mencari. Berkat keyakinan dan kemampuan Kouchi-senpai, akhirnya kami bisa menemukan Yua radius 2 Km dari tempat awal kami mencari.” Chika menceritakan kembali kejadian tahun lalu yang membuat mereka hampir kehilangan Yua saat itu.

“Berarti yang perlu kita lakukan, cukup membawa Yugo berkeliling Kota sampai dia bisa merasakan keberadaan Yua? Anggap saja, kita tidak membuang kemungkinan kalau pelaku ada di antara kita. Pasti dia tidak akan menyembunyikan Yua sampai ke luar Kota agar dia bisa kembali tepat waktu dan tidak ada yang curiga?” Jesse mulai berasumsi.

“Aku benci mengakuinya, tapi tidak ada salahnya kita mencoba. Aku akan ikut dengan kalian.” Chika menawarkan diri dalam misi pencarian.

“Aku juga ikut.” Kata Shintaro, Hokuto, Juri, Sora dan Taiga hampir bersamaan. Jesse mengitarkan pandangan.

“Tidak, aku cuma akan pergi dengan Yugo dan Chika. Jangan lupa, aku masih mencurigai kalian bertiga. Dan aku membutuhkan Sora dan Shintaro untuk mengawasi kalian.” Jesse memberikan pandangan memohon pada Shintaro dan Sora, lalu keduanya mengangguk pasrah.

“Sebaiknya kita mencari sekarang. Sudah 3 jam sejak kejadian. Aku khawatir dengan keadaan mereka kalau tidak segera ditemukan.” Kouchi dan Chika mengangguk. Sebelum pergi, Chika menyempatkan diri menghampiri Sora dan berkata,

Senpai, apapun yang terjadi, ku mohon jangan dekati Taiga. Jangan biarkan dia mempunyai perasaan pada senpai!” Sora tidak mengerti mengapa Chika mengatakannya, tapi mengangguk juga.

Juri yang mendengarnya hanya bisa geleng-geleng kepala, sebegitunya kamu ingin memonopoli Taiga? ckckck.

Ternyata mengelilingi kota tidak semudah dan secepat yang mereka bayangkan, sudah hampir 5 jam pencarian, tapi Kouchi belum juga bisa merasakan keberadaan Yua. Bahkan Kouchi sudah sengaja mengajak Jesse pergi ke mantan kediaman keluarga Tanaka, dan sempat mengakibatkan cekcok besar antara Kouchi dan Chika, tapi Kouchi tetap tidak bisa merasakan apa-apa.

“Sudah kubilang, bukan Juri pelakunya! Kenapa senpai masih belum juga bisa mempercayainya?” Kouchi mulai merasa bersalah karena tidak pernah berusaha mempercayai Juri selama ini. Bisa jadi, pemuda itu tidak ada sangkut paut dengan apa yang sudah dilakukan ayahnya.

“Sudah, berhenti berdebat! Sekarang kemana lagi kita harus mencari?” Jesse menengahi.

“Kita belum ke daerah utara. Kalau masih tidak ketemu juga, berarti kita harus mencari ke luar Kota.” Jesse mengangguk dan kembali menjalankan mobilnya. Bahkan di bagian utara Kota sudah mereka cari, tapi tidak ada juga tanda-tanda keberadaan Yua. Kouchi mulai meragukan kemampuannya.

Mungkin saja waktu itu cuma kebetulan. Kouchi mulai frustasi. Sampai tiba-tiba Kouchi kembali merasakannya.

“Tunggu, pelankan mobilmu Jes! Aku mulai bisa merasakan keberadaan Yua.” Jesse mengurangi kecepatan, menyesuaikan dengan indera Kouchi yang dapat merasakan Yua.

“Mundur-mundur, di sini auranya melemah.” Jesse menjalankan sesuai instruksi. “Stop di sini!” Kouchi, Chika dan Jesse mulai melihat-lihat keadaan sekitar. Tidak ada bangunan sama sekali, di mana mereka menyembunyikan Yua dan Chise?

Ketiganya turun dari mobil, dengan mengikuti indera Kouchi memasuki hutan di dekat mereka. Sekitar 1 Km berjalan, mereka menemukan sebuah bangunan putih yang tampaknya sudah lama tidak berpenghuni. Tanpa menunggu aba-aba, ketiganya segera berlari dan berhasil menemukan Yua dan Chise yang tersenyum menyambut kedatangan mereka.

“Sudah kubilang kan, Kouchi-senpai pasti bisa menemukanmu, Yua!” Chise langsung kehilangan kesadaran setelah mengatakannya. Dan Kouchi langsung memeluk adiknya.

Gomen, gomenne, Yua. Aku janji tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.” Kouchi menggendong tubuh Yua yang lemah.

Anoo, senpai. Bisakah aku minta tolong untuk mengangkat Chise?” Chika memohon pada Jesse yang masih sibuk terharu menyaksikan pertemuan kembali Kouchi dan Yua.

Gomen. Biarkan aku yang menggendongnya, sebaiknya kamu jalan lebih dulu, Chika!”

“Terima kasih, senpai.” Chika menunggu sampai Chise sudah berada dalam gendongan Jesse dan berjalan di sebelah mereka.

“Sepertinya Chise belum tidur sama sekali dari kemarin untuk menjaga Yua.” kata Chika, Jesse memperhatikan gadis yang sekarang dalam gendongannya. Wajahnya pucat dan terlihat sangat kelelahan.

“Iya, dia sudah menjaga Yua dengan baik. Yua beruntung mempunyai sahabat seperti kalian.” Jesse tulus memuji Chika dan Chise karena dia tahu betul kalau kedua gadis itu rela melakukan apapun untuk melindungi Yua, bahkan jika harus mengorbankan nyawa.

“Sebenarnya kami yang beruntung. Yua sudah berjasa dalam hidup kami lebih dari yang Yua sendiri sadari.” Jesse terkejut karena gadis yang digendongnya ternyata masih sadar, dan refleks melepaskan gendongannya.

Ittai!” Chise mngaduh kesakitan karena Jesse yang tiba-tiba menjatuhkannya. “Senpai jahat!” rengek Chise.

Gomen, aku tadi kaget. Sini kugendong lagi, tapi di belakang saja ya.” Jesse berjongkok membelakangi Chise dan memberikan akses pada gadis itu naik ke punggungnya. Chise terkikik pelan lalu meminta Chika untuk membantunya berdiri.

“Tidak usah, aku bisa jalan sendiri.” Baru saja mengatakannya, Chise sudah hampir terjatuh lagi.

“Sudahlah, naik saja. Aku tidak keberatan kok menggendongmu bahkan sampai rumah.”

Eh? Bodoh. Apa yang kamu katakan, Jesse? Jesse menelan ludah, takut kalau-kalau Chise salah mengartikan tawarannya. Tapi sepertinya gadis itu tidak terlalu meresponnya dan naik ke punggungnya dengan biasa saja. “Arigatou, senpai.” Jesse menghela napas lega.

*****

Kouchi tahu, tidak seharusnya dia melampiaskan kemarahannya pada semua orang. Tapi merasakan kehilangan Yua untuk kedua kali dalam hidupnya, Kouchi benar-benar tidak sanggup menanggung perasaan itu sendiri. Untung saja kali ini dia masih berhasil menemukannya lagi. Bagaimana kalau sampai terjadi untuk yang ketiga kali? Kouchi tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

TOK TOK

Kouchi melihat Sora di depan pintu, membawakan sarapan untuknya dan Yua. “Kamu tahu, Yua hari ini harus sekolah. Sebaiknya kita membangunkannya.” Kouchi mengabaikan Sora.

“Yua tidak akan suka kalau kamu menyuruhnya bolos lama-lama. Dia pasti bosan di rumah terus, Yugo. Kamu juga harus berkerja. Serahkan Yua padaku dan Jesse, kami akan menjaganya.” Sora membujuk Kouchi untuk kembali menjalani hari-harinya. Sudah berhari-hari sejak kejadian yang dialami Yua, Kouchi tidak mau pergi kerja dan melarang Yua pergi ke sekolah.

Kouchi memperhatikan wajah Yua yang sedang tidur di sampingnya, membelai lembut kedua pipi adiknya. “Yua, apa kamu hari ini mau pergi ke sekolah?” bisik Kouchi, membangunkan Yua.

Perlahan Yua membuka kedua matanya, masih setengah sadar sehingga tidak mendengar apa yang Kouchi katakan. “Ohayou, nii-chan.” sapanya.

Ohayou, Sora-nee.” sapa Yua saat melihat Sora.

Ohayou, Yua. Ini aku bawakan sarapan untukmu. Kalau kamu mau berangkat ke sekolah, sebaiknya cepatlah bersiap-siap. Jesse akan mengantarkanmu mulai hari ini.” Yua mengerjapkan mata mendengar Sora menyuruhnya pergi ke sekolah.

“Sekolah? Memang boleh?” Yua memandang ragu-ragu ke arah Kouchi. Dengan enggan Kouchi mengangguk menyetujuinya.

Arigatou, nii-chan!!! Arigatou, Sora-nee!!” Yua meloncat dari tempat tidurnya, memeluk Sora, hampir menumpahkan nampan yang dibawanya. “Aku akan sarapan nanti. Aku mau ganti baju dulu yaa.” Yua berlari ke arah lemari dan mengambil bajunya lalu pergi ke kamar mandi.

Kouchi melihat kebahagiaan Yua saat tahu dia memperbolehkannya pergi ke sekolah dan sedikit merasa bersalah. “Arigatou, Sora.”

“Untuk apa?” Goda Sora. Kouchi tersenyum, dia ingat kalau dia tidak pernah sendiri menanggug semuanya. Sora selalu ada di sisinya. Bahkan saat dengan egois dia melampiaskan amarah ke semua orang, Sora tidak pernah bosan menghibur, membujuk bahkan menerima semua amukannya.

“Mau sarapan sendiri apa kusuapi?” tanya Sora, Kouchi tertawa. “Kamu pikir aku bayi? Bawa ke meja makan dulu, aku akan ganti baju juga.”

Sora tersenyum cerah mendengar Kouchi memutuskan untuk pergi kerja. Akhirnya dia berhasil menggerakkan waktu Kouchi yang sempat terhenti.

Aku benci melihatmu pergi, tapi aku lebih benci saat melihatmu seperti orang mati. Semangatlah, aku akan selalu ada di sini.

 

to be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s