[Multichapter] TWISTED (#2)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Juri memfokuskan perhatian pada segelas es kopi yang hampir kosong di hadapannya. Melihat Chika yang biasanya banyak bicara menjadi diam, membuat Juri enggan memulai percakapan.

Chika menghela napas cukup panjang, Juri pun mengalihkan pandangannya. “Doushita?”

Doushita janai yo! Kamu tahu kan ini artinya apa? Kedatangan Taiga, membuatku sangat gugup.” Sekali lagi Chika menghela napas, “Mereka benar-benar berbeda, meskipun aku tahu kalau mereka orang yang sama.” Chika memandang Juri dengan gelisah.

“Eeee, seorang Chika ternyata bisa gugup juga? Tapi yang kulihat tadi, kamu menjabat tangannya dengan biasa saja. Yakin gugup?” goda Juri membuat Chika salah tingkah. Juri terkekeh karena berhasil membuat suasana kembali seperti biasa.

“Menurutmu apa yang berbeda?” tanya Juri mencoba kembali ke pokok pembicaraan.

“Aura mereka. Taiga yang kulihat hari ini memancarkan aura kesepian yang sangat kuat dan sedikit menyeramkan. Bagaimana menurutmu, Juri?”

“Aku tidak bisa menyangkal kalau melihat dia sampai kemarin masih tinggal di tempat itu. Aku tidak bisa membayangkan hal apa saja yang sudah dialaminya.” Juri bergidik ngeri.

“Tempat itu?”

“Apa Kyomoto tidak pernah menceritakannya?” Chika menggeleng, “Aku kan…”

“Sebuah lembaga milik pemerintah. Hampir semua anak Profesor di Jepang pernah tinggal di sana untuk dilakukan uji coba. Kami tidak bisa menolaknya, karena itu sebuah keharusan dari pekerjaan orang tua kami.”

“Semua anak Profesor? Kouchi-senpai juga?”

“Ya. Aku pertama kali bertemu dengannya di sana.”

“Tunggu dulu, kalau kalian pernah tinggal bersama, berarti Taiga…?” Chika sengaja menggantung pertanyaannya.

“Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Kyomoto datang setelah Kouchi meninggalkan lembaga.” Juri mengambil jeda. “Dibandingkan orang tua kami, Profesor Kouchi mempunyai jabatan cukup penting di kerajaan. Sehingga dia bisa membebaskan anaknya dari keharusan menjadi kelinci percobaan.”

“Apa yang mereka lakukan pada kalian?” tanya Chika penasaran.

“Aku tidak bisa mengatakannya, karena itu rahasia negara. Tapi dibandingkan Kyomoto, aku beruntung bisa bebas lebih awal. Proyek yang dilakukan Ayahku berhasil dan aku bisa kembali tinggal bersama keluargaku…” suara Juri mendadak tercekat, “walau cuma sementara.”

Chika teringat saat pertama kali Chise mengenalkan Juri sebagai salah satu anak panti asuhan yang diurus keluarga Nagisawa. Karena itu, Chika mempunyai alasan untuk meminta Kouchi menampung Juri di rumahnya. Chika tidak pernah tahu latar belakang Juri, hanya saja, Chika mengenalnya.

Nee, Juri. Apa Taiga mengingatmu?” Juri mengangkat kedua bahunya, “Entahlah, aku belum banyak bicara dengannya. Tapi aku sangsi Kyomoto masih mengingatku.”

Twisted, it has been twisted! Pekik Chika dalam hati.

“Kenapa?” tanya Juri, “Oh, tidak apa-apa. Hanya saja aku punya rencana.” Juri menaikkan sebelah alisnya, memandang Chika penuh curiga. Chika tersenyum melihat ekspresi Juri, tanpa perlu ditanya, Chika menjawabnya, “Apa lagi? Aku akan mendekati Taiga dan merebut hatinya!”

KRIK

“Dasar cewek agresif! Kamu pikir, Taiga akan semudah itu membuka hati untukmu? Kalau melihat latar belakangnya…” “Kamu akan membantuku!” Juri terbatuk mendengar keputusan Chika. “Kamu bercanda? Sudah kubilang, aku belum ngobrol sama sekali dengannya. Lagi pula, untuk apa aku membantumu dalam urusan seperti ini hah?”

“Karena kamu berjanji akan selalu membantuku untuk membalas budi yang dilakukan ayahku.”

“Hey! Tapi kan…”

“Bahkan kamu bisa tinggal di rumah keluarga Kouchi, itu juga berkat bantuan ayahku yang berhasil membujuknya. Kalau tidak, mungkin seharusnya kamu kembali ke lembaga dan mengalami nasib seperti Taiga!” TELAK, Juri tidak dapat lagi mengelaknya. Benar juga, mungkin begitu seharusnya dan Chika berhasil mengubahnya.

“Baiklah. Aku akan membantumu. Tapi jangan berharap banyak, karena aku sama sekali tidak punya pengalaman tentang urusan percintaan.”

“Hoho, tenang saja. Aku tidak memintamu untuk membuat rencana. Kamu hanya perlu mendukung setiap tindakanku saja, okay?” Juri hanya bisa mengangguk pasrah.

*****

Gomen, lama ya nunggunya? Tadi toiletnya antri banget!” Hokuto terengah berlari ke arah Taiga.

“Tidak juga, saya juga baru selesai bayar.” Taiga menunjukkan nota pembayaran kepada Hokuto. “Barangnya diantar malam ini juga. Apa kita langsung pulang saja? Biar tidak merepotkan orang-orang yang di rumah.” Taiga memberikan usul.

“Oke. Tapi nanti di jalan pulang, aku mau mampir di toko buku sebentar.” Taiga mengangguk, mengiyakan.

Di tempat lain, di waktu yang sama, Shintaro dan Yua sedang asyik membicarakan cinta segitiga antara Chika, Juri dan Chise sepanjang perjalanan pulang.

“Aku tim Juri-Chise!” teriak Yua lantang.

“Kalau aku tentu saja tim Juri-Chika! Karena bagaimanapun aku akan memihak pada Chika.” Balas Shintaro tidak mau kalah.

“Aku juga ingin berpihak pada Chika sih. Tapi kalau Juri sama Chika, nanti Chise gangguin Hoku terus. Aku kan Hoku-Sora shipper!” Yua ngedumel karena serba salah dengan pilihannya.

“Memangnya Hideyoshi-senpai suka dengan Matsumura-senpai?”

“Hmmm, sepertinya tidak sih. Tapi aku suka melihat mereka berdua.” Yua nyengir kuda, memamerkan gigi-giginya yang tidak rata.

Tentu saja kamu tidak menyadarinya, karena Matsumura-senpai menyukaimu, Yua! Shintaro hanya bisa bergumam dalam hatinya. Selama ini, Shintaro selalu memperhatikan Yua, begitu juga orang-orang di sekitarnya. Karena itu, Shintaro tahu kalau Hokuto selalu memperhatikan Yua.

Shintaro terlalu fokus dengan pikirannya, tanpa sadar Yua tidak lagi berjalan sejajar dengannya. Saat dia menoleh, “Yua!!” Shintaro berlari ke arah Yua yang sudah tergeletak di tanah.

Tiba-tiba sebuah pisau melayang ke arah Shintaro, hampir saja mengenainya. Shintaro mengitarkan pandangan, mencari tahu dari mana asalnya. Tapi, tidak ada siapa-siapa.

Mata Yua terbelalak, berwarna merah, seperti bukan mata Yua yang biasanya. Suara kemarahan, entah milik siapa, dan suara Yua beradu jadi satu antara ingin membunuh Shintaro dan menyuruhnya pergi.

Shintaro panik, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Haruskah aku pergi mencari bantuan? Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Yua! tanpa pikir panjang Shintaro langsung memeluk Yua untuk menenangkannya.

“Yua, ini aku, Shintaro. Aku sahabatmu, aku tidak akan melukaimu. Sadarlah, Yua!” Shintaro dapat merasakan Yua memberontak dalam pelukannya, tapi dia bertahan sekuat tenaga tidak akan melepaskannya. Perlahan Yua mulai kelelahan dan jatuh pingsan dalam pelukan Shintaro. Shintaro hendak memindahkan Yua ke dalam gendongannya, saat samar-samar dia melihat sosok Hokuto dan Taiga berlari ke arahnya.

“Apa yang kamu lakukan?!” Hokuto menarik Yua ke dalam pelukannya, melepas paksa dari pelukan Shintaro.

“Aku bisa jelaskan, senpai. Yang terpenting sekarang, kita bawa Yua pulang dulu.”

Hokuto melirik Yua yang tidak sadarkan diri dalam pelukannya. Tanpa mempedulikan yang lain, Hokuto langsung menggendong Yua dan berlari ke arah rumah. Yua, kamu kenapa? Sadarlah! Kouchi bisa membunuhku kalau tahu aku tidak menjagamu dengan baik.

BRAK

Sora terkejut saat melihat Hokuto terengah-engah dengan Yua dalam gendongannya. Secepatnya Sora membantu Hokuto membawa Yua ke kamarnya. Sora ingin bertanya apa yang sudah terjadi, tapi dia tahu Hokuto malah akan memarahinya kalau dia nekad mengeluarkan suara.

“Sora, tolong hubungi Kouchi. Jelaskan keadaan Yua. Kalau bisa, hubungi Jesse juga.” Sora bergegas ke kamarnya untuk mengambil ponsel dan menghubungi Kouchi dan Jesse. Sedangkan Hokuto tidak beranjak sedikitpun dari sisi Yua dan terus menggenggam tangannya.

Saat melihat Hokuto dan Yua, Shintaro memutuskan untuk menunggu di ruang tengah, Taiga mengikutinya. Taiga tahu, Shintaro pasti bisa menjelaskan apa yang terjadi pada Yua. Tapi melihat keadaannya, Taiga mengurungkan niat dan memilih menunggu sampai orangnya sendiri yang membuka suara.

“Kamu yang tadi pergi ke toko furniture sama Matsumura-senpai dan Juri, kan?” tanya Shintaro, Taiga mengangguk membenarkan, “Kyomoto Taiga, desu. Kamu Shintaro…-san? Ah maaf, saya lupa nama keluargamu. Padahal tadi Chise-san memperkenalkanmu.” Shintaro terkekeh mendengar jawaban Taiga.

“Panggil saja aku Shintaro, dan juga, jangan bicara terlalu formal. Yoroshiku na, Taiga.” Meskipun masih sedikit terkejut, tapi Taiga mulai terbiasa dengan orang-orang yang mencoba ramah kepadanya. Taiga mengangguk bahagia.

Anoo, Shintaro—s… eh, apa sa—eh, aku boleh tahu apa yang terjadi pada Yua?” Taiga terbata-bata karena pertama kali mencoba bicara supaya terdengar lebih akrab. Shintaro terdiam sebentar, lalu memandang ke arah Taiga.

“Apa kamu akan percaya apapun yang akan kukatakan?” Shintaro mencari jawaban dari sorot mata Taiga. Tapi tentu saja, Taiga tidak bisa menjaminnya. Shintaro menghela napas.

“Aku tahu, memang sulit dipercaya. Tapi aku juga tidak tahu apa-apa. Aku tidak sengaja meninggalkannya beberapa langkah, hanya beberapa langkah. Saat aku berbalik, Yua sudah tergeletak di tanah. Dan…”

BRAK

Lagi, pintu rumah dibanting dengan sekuat tenaga. Juri dan Chika muncul dengan napas terengah-engah.

“Di mana Yua?” teriak Chika panik, matanya menyapu seluruh ruangan. Saat tidak melihat Yua di sana, tanpa menunggu jawaban Chika langsung berlari ke kamar Yua.

Senpai, bagaimana keadaan Yua?” tanya Chika dengan suara lirih di samping Hokuto, tidak mau membangunkan Yua.

“Dia belum sadarkan diri sejak aku menemukannya di jalan dengan Shintaro. Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi. Shintaro…”

“Shin-chan tidak mungkin melakukan apa-apa, senpai. Mungkin ini bisa terjadi karena Shin-chan tanpa sengaja meninggalkan Yua dan saat dia sadar, dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.” Chika refleks membela Shintaro meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Aku tahu.” Hokuto membuat jeda. “Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi pada Yua. Kita beruntung karena Shintaro ada di sampingnya saat hal ini terjadi. Tolong sampaikan maafku karena sudah membentaknya tadi.”

“Shin-chan pasti memahaminya, senpai.” Chika melirik ke arah Shintaro yang berdiri di depan kamar, memperhatikan semuanya. Shintaro tahu, melebihi dirinya, kekhawatiran Hokuto bisa jadi lebih besar karena mereka tinggal bersama.

“Apa Kouchi-senpai sudah dihubungi?” tanya Chika pada Sora yang baru masuk, wajahnya terlihat gusar. “Aku sudah mencoba berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Jesse juga sedang ada tugas di luar. Makanya tadi aku malah menghubungi Juri.” Jawab Sora lemas, merasa frustasi.

“Terus hubungi Kouchi, Sora. Coba terus sampai dia mengangkatnya.” Sora mengangguk, lalu kembali menelpon nomor teratas di kontaknya.

Senpai, sebaiknya kalian istirahat saja. Aku yang akan menjaga Yua sampai Kouchi-senpai kembali.” Hokuto dan Sora menuruti saran Chika, lalu keduanya keluar kamar dan membiarkan Chika menjaga Yua.

*****

Saat membuka mata, Yua melihat Chika tertidur di sampingnya. Ini bukan mimpi, kan? Yua menyibakkan rambut panjang Chika yang menutupi sebagian wajahnya. Yua sangat menyukai rambut panjang Chika, meskipun Yua sendiri tidak pernah mau setiap kali disuruh memanjangkan rambutnya. Perlahan Chika mulai membuka matanya. Saat melihat Yua tersenyum ke arahnya, Chika tersentak bangun dari tidurnya.

“Yua, kamu sudah bangun? Kamu tidak apa-apa? Ada yang sakit?” Chika heboh mengecek setiap bagian tubuh Yua.

“Hey, aku tidak apa-apa. Tidurlah lagi, aku sedang bahagia, jangan merusaknya!” Seketika Chika memeluk sahabatnya itu, “Yokatta!”

Kriet, bunyi pintu kamar dibuka. Hokuto dan Sora sudah berdiri di sana, terlihat sangat bahagia melihat Yua sudah terbangun dari mimpi buruknya.

“Apa kamu tahu yang aku pikirkan, Chika? Kita seperti sepasang saudara dan mereka seperti orang tua yang akan membangunkan anak-anaknya untuk berangkat ke sekolah.” Yua terkikik, Chika melirik sekilas ke arah Hokuto dan Sora, tersenyum penuh makna.

“Syukurlah kalian sudah bangun. Shintaro, Juri dan Taiga menunggu kalian di bawah, aku juga sudah menyiapkan bekal untuk kalian. Bersiap-siaplah.” Sora membuka tirai kamar Yua, dan membiarkan Chika merapikan tempat tidur mereka.

“Tuh kan, kalian mirip banget! Jadi Chika kakaknya, mirip sama mama Sora yang rajin bersih-bersih dan aku adiknya, mirip sama papa Hoku yang… apa ya kesamaanku sama Hoku? Ah sudahlah.” Yua tergelak puas, sedangkan Chika dan Sora hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Ngomong apa kamu, Yua?” Hokuto sudah berdiri di belakang Yua, siap menerkamnya.

“Kabuuuuur!” dengan gesit Yua melenggang dan berlari masuk ke kamar mandi, tempat di mana Hokuto tidak mungkin mengejarnya sampai ke sana. Hokuto berdecak melihat kelakuan Yua tapi di sisi lain dia terlihat sangat lega. “Syukurlah dia sudah kembali seperti biasanya.”

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…” terdengar suara Yua berteriak dengan lantangnya, membuat Hokuto, Sora dan Chika terperanjat dan langsung berlari, berebut keluar kamar untuk mengetahui apa yang terjadi pada Yua.

Saat sampai di depan kamar mandi, mereka bertiga sudah mendapati Juri dan Shintaro yang bengong di depan pintu. “Ada apa?” tanya Chika.

Taiga keluar dari kamar mandi dengan rambut masih berbusa dan handuk hanya menutupi tubuh bagian bawahnya, sedangkan Yua masih histeris di dalam kamar mandi menutupi mata.

“Astaga, Taiga! Apa kamu tidak menutup pintu saat mandi?” Sora masuk ke kamar mandi dan membawa Yua keluar bersamanya.

Gomen, saya lupa. Di tempat tinggal saya sebelumnya, isinya cowok semua. Jadi saya terbiasa tidak menutup pintu saat mandi.” Chika dan yang lainnya tergelak mendengarnya, entah kesialan atau keberuntungan yang dialami Yua sampai harus melihat Taiga yang sedang telanjang di hari pertama mereka tinggal bersama.

“Yasudah, aku akan mengambilkan handuk baru untukmu.” Sora hendak beranjak saat Chika mencegahnya, “Biar aku saja, senpai. Masih di tempat yang biasa, kan?” Juri terbatuk saat mendengarnya.

Anoo, Sora-san apa aku bisa mengambil payungku? Tadi ramalan cuaca mengatakan kalau hari ini akan hujan, jadi aku memerlukannya.” Juri mencoba mengalihkan perhatian Sora. Sora ingat kalau pekan lalu dia meminjam payung Juri karena payungnya sedang dipakai Jesse.

“Oh, aku akan mengambilkannya. Chika tolong ambilkan handuk baru untuk Taiga ya?” Sora pergi tanpa rasa curiga. Buru-buru Juri mengajak Shintaro, Hokuto dan Yua pergi dari depan kamar mandi. Shintaro memandang Chika penuh tanya, tapi dia mengangguk saat membaca gerak bibir Chika mengatakan, akan kujelaskan nanti.

Saat Chika kembali dari mengambil handuk, Taiga sudah masuk melanjutkan mandinya. Chika mengetuk pintu, “Taiga-kun, ini handuknya.”

Perlahan Taiga membuka pintu, membuat jantung Chika berdegup sangat kencang. Yabai, aku bisa membayangkan bagaimana perasaan Yua tadi, kata Chika dalam hati. “Arigatou na.” kata Taiga, meraih handuk dari tangan Chika.

Meskipun hanya tangannya saja, Chika bisa membayangkan bagaimana keadaan Taiga saat ini, tanpa sehelai kain pun menutupinya.

Un. Kalau ada yang dibutuhkan lagi, jangan sungkan meminta bantuanku. Aku ganti baju dulu ya.” Chika berjalan kembali ke kamar Yua dengan perasaan berbunga-bunga. Aku pasti akan membuatmu jatuh cinta padaku, ungkap Chika yakin dalam hati.

*****

Setelah menyelesaikan bagian sastra, sehabis istirahat nanti Sora akan mengecek bagian Sejarah.

Otsukaresamadesu!” sapa salah seorang rekan kerja Sora. “Otsukare~” balas Sora singkat. Jujur saja, tenaganya tidak maksimal hari ini karena masih kepikiran kejadian semalam. Apalagi sampai tadi pagi, Sora masih belum bisa menghubungi Kouchi, membuatnya semakin kepikiran. Matanya sedikit berkunang-kunang, bahkan saat ini dia seperti sedang berhalusinasi melihat Kouchi sedang tersenyum memandangnya.

Eh? Ini bukan halusinasi kan? Sora mencubit pipinya sendiri “Aw, sakit.” Rasa sakit yang Sora rasakan nyata, itu berarti sosok Kouchi yang sedang dilihatnya juga nyata.

“Yugo, ngapain kamu ke sini?” Sora berjalan cepat ke arah Kouchi. Melebihi dari apapun, rasanya Sora ingin sekali berteriak memaki pemuda di hadapannya itu. Kalau saja Sora tidak ingat mereka sedang diperpustakaan, tempatnya bekerja.

“Aku butuh bantuanmu.” jawab Kouchi saat Sora sudah berada tepat di depannya. Mendengar itu, amarah Sora lenyap seketika. “Kamu memerlukan bantuanku? Apa?” tanya Sora dengan mata berkaca-kaca.

“Sekarang jam istirahat kan? Makanlah dulu. Aku bisa menunggu.”

“Baiklah, tunggu di tempat biasa. Aku akan mengambil bekal dulu lalu menyusulmu ke sana.” Kouchi mengangguk, lalu pergi ke tempat yang dimaksud Sora.

“Wah, sepertinya enaa…” belum sempat Kouchi menyelesaikan kata-katanya, Sora sudah menjejalkan sebuah tamagoyaki ke dalam mulutnya. “Makanlah. Kamu pasti belum makan dari kemarin, kan?” Sora tahu, melihat raut muka Kouchi yang lusuh, pemuda itu pasti terlalu banyak bekerja, bahkan makan pun tidak akan sempat dilakukannya.

Kouchi sibuk mengunyah makanan di mulutnya, sampai-sampai dia tidak bisa berbicara. “S-stop, tunggu! Aku masih mengunyah.” Kouchi menahan tangan Sora yang hendak menjejalkan tempura untuk kedua kalinya.

“Kamu juga makanlah, Sora. Wajahmu terlihat lelah, apa ada masalah?” Kouchi mengambil tempura yang tadi gagal masuk ke mulutnya dan menyuapkannya ke mulut Sora. Alih-alih bahagia, Sora terlihat sangat marah.

“Masalah? Ya, aku baru ingat kalau kita ada masalah! Kenapa kamu tidak mengangkat teleponku sama sekali dari semalam hah?”

“Telepon?” Kouchi merogoh kantongnya, melihat daftar panggilan di ponselnya. Astaga, banyak banget. “Gomen ke-silent, jadi tidak ada getar sama sekali. Ada apa?”

Sora hendak menjawab pertanyaan Kouchi dan menjelaskan tentang kejadian semalam yang menimpa Yua, saat tiba-tiba sebuah telepon masuk mengganggu obrolan mereka. “Sora, aku angkat telepon dulu ya?” Kouchi pergi mengangkat teleponnya.

Setelah mengakhiri telepon, tiba-tiba Kouchi memutuskan untuk pergi. “Sora, gomen. Aku akan meminta bantuanmu lain waktu. Ada urusan yang harus kuselesaikan secepatnya. Tolong jaga Yua untuk semalam lagi ya.”

Sora benci melihat pemandangan punggung Kouchi yang berjalan pergi. Tapi bukannya karena itu, dia memutuskan untuk tinggal di rumah Kouchi dan merasa yakin kalau setiap hari Kouchi akan kembali? Ya, Yugo akan kembali dan kita bisa bertemu lagi.

*****

“Juri, tolong gantikan aku sebentar. Aku sudah menyelesaikan prosedurnya, kamu tinggal mengamati hasilnya.” Hokuto melepas jas lab yang digunakannya.

“Kamu mau ke mana?” tanya Juri, “Ke tempat Yua.” jawab Hokuto cuek, lalu pergi begitu saja.

“Oi, Matsumura!” percuma Juri memanggil Hokuto untuk kembali, karena pemuda itu sengaja mengabaikannya.

Chise berulang kali mengkucek matanya, meyakinkan diri tidak sedang berhalusinasi melihat Hokuto sedang berdiri di hadapannya.

“Chise, apa kamu melihat Yua?” Hokuto mengulangi pertanyaannya untuk ketiga kali sampai Chise benar-benar mendengarnya. “Huwaa, senpai! Matsumura-senpai kenapa ada di sini? Bagaimana bisa?” Chise mengatur napasnya, agar tidak terlihat sedang salah tingkah.

“Aku mencari Yua, apa kamu melihatnya?” tanya Hokuto lagi.

“Yua masih di kelas. Akan ku panggilkan, tunggu sebentar, senpai!” Chise berbalik, berlari menuju kelas Yua. “Yua!” panggil Chise dengan suara terengah-engah. Yua menoleh, lalu bertanya “Ada apa?”

“Ada Matsumura-senpai mencarimu.” “Hoku? Ngapain?” tanya Yua keheranan.

“Entahlah, sebaiknya kamu cepat menemuinya sebelum jam istirahat kita habis.” Chise menarik Yua keluar kelas menuju ke tempat Hokuto tadi menunggu.

“Ada apa?” tanya Yua tanpa basa-basi, bahkan saat Hokuto belum menyadari kedatangannya. Hokuto menoleh, lalu berkata. “Kamu hari ini langsung pulang, kan? Jangan pulang dulu sebelum aku menjemputmu.”

“Kenapa? Aku pulang bareng Shintaro dan Chika, kamu tidak perlu repot-repot. Lagipula, bukannya kamu masih magang? Bagaimana bisa anak magang sebebas ini keluar-masuk gedung SMA? Apa satpam tidak memarahimu, Hoku?” Yua sengaja menolak tawaran Hokuto karena sadar Chise sedang bersamanya. Yua tidak mau Chise salah mengira tentang hubungan mereka.

“Apa kamu lupa kalau aku alumni sekolah ini juga? Tentu saja aku punya banyak jalan masuk rahasia.” kata Hokuto, menyombongkan diri.

“Pokoknya tunggu sampai aku menjemputmu! Sekarang kembali ke kelas sana!”

“Kamu mengusirku? Padahal tadi kamu yang memanggilku! Dasar tidak sopan!” cibir Yua, lalu mengajak Chise kembali ke kelas mereka.

“Yua…” Yua merasakan genggaman Chise menguat, meremas genggamannya. Gawat!

“Chise aku bisa jelaskan. Tidak ada apa-apa antara aku dan Hoku. Dia cuma jadi khawatir berlebih gara-gara kejadian semalam. Kamu tidak perlu memikirkannya ya?” Yua mencoba menjelaskan sebisanya agar Chise tidak salah paham kepadanya.

“Yua, kenapa buru-buru balik sih? Aku masih pengen memandangi Matsumura-senpai lebih lama padahal.”

NGEK

“Kamu dengar sendiri dia yang mengusirku, Chise. Lagian jam istirahat kita sudah habis. Nanti sepulang sekolah kita pulang bareng saja biar kamu bisa dekat-dekat Hoku lebih lama.”

“AHA, good idea. Kenapa aku tidak kepikiran ya? Oh, soalnya aku terlalu fokus memandangi keindahan di depan mata.” Chise senyum-senyum sendiri seperti orang gila. Yua buru-buru mempercepat langkah menuju kelasnya. Bukan temanku, bukan temanku, Yua sengaja meninggalkan Chise yang masih sibuk berdelusi.

*****

Saat pulang sekolah, Yua menepati janji dan menunggu sampai Hokuto menjemputnya. Setelah Hokuto dan Juri datang, mereka pulang bersama.

Kenapa ada Juri-kun lagi sih? Chise menyenggol Chika agar mengajak Juri jalan lebih dulu di depan mereka. Alasannya, biar dia bisa dekat-dekat dengan Hokuto tanpa merasa bersalah. Tapi belum sempat Chise menoleh ke Hokuto, Hokuto sudah berjalan melewatinya sambil menyeret Yua dalam genggamannya.

“Hoku, lepasin! Sakit tau!” Yua meronta, berusaha melepas tangan Hokuto yang menggenggam erat tangannya. “Akan kulepas asal kamu janji tidak akan jauh-jauh dari sampingku!?” Tahu kalau Hokuto bersungguh-sungguh, Yua hanya bisa mengangguk pasrah.

“Sudah jangan dilihatin terus, nanti bintitan!” bisik Shintaro di telinga Chise, sengaja menggodanya. Chise menyikut Shintaro tepat di perutnya, membuat pemuda itu mengaduh kesakitan.

“Memangnya kamu tidak cemburu Yua jalan dengan Matsumura-senpai? Jangan pikir aku tidak tahu perasaanmu yang sebenarnya, Shintaro!”

“Kalau Matsumura-senpai bisa menjaga Yua lebih baik dariku, kenapa tidak?” tersirat jelas penyesalan di wajah Shintaro karena merasa tidak bisa menjaga Yua.

Chise mendengus kesal mendengar jawaban Shintaro. “Jawaban macam apa itu? Sudah jelas, cuma Kouchi-senpai yang bisa melindungi Yua.” gumam Chise tidak sependapat dengan Shintaro.

“Berhenti menyalahkan dirimu karena kejadian semalam, Shin-chan! Kita semua tahu kalau itu diluar kuasamu.” tiba-tiba Chika kembali dan berjalan di antara mereka, sedangkan Juri sedang mampir di sebuah toko elektronik yang mereka lewati.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Yua? Kenapa semua ini bisa terjadi padanya?” meskipun terkesan cuek, sebenarnya Chise adalah orang yang paling peduli dengan Yua. Kesetiaannya pada Yua, membuatnya bertahan berteman dengan Shintaro dan Chika meskipun Chise sering berselisih pendapat dengan keduanya.

“Kami juga tidak tahu. Tapi yang pasti, Kouchi-senpai sedang mencari cara untuk menyelamatkan Yua.” Dalam hal ini, Chise sependapat dengan Chika.

Masih belum ada separuh jalan menuju rumah, saat hujan deras tiba-tiba turun. Karena tidak ada yang membawa payung, mereka memutuskan untuk berteduh.

“Kok bisa sih? Padahal tadi menurut ramalan cuaca hari ini bakal cerah.” Keluh Chise sambil mengkibas-kibaskan ujung roknya yang basah.

Tunggu dulu, tadi pagi Juri mengatakan kalau hari ini akan hujan, itu bohong kan? Cuma untuk membantuku. Tapi kok bisa ya jadi kenyataan? Chika teringat kejadian tadi pagi di depan kamar mandi rumah Yua.

“Ngomong-ngomong, di mana Juri?” Hokuto celingukan mencari Juri tidak lagi bersama mereka.

“Tadi dia mampir di toko elektronik, senpai. Tapi seingatku dia tidak membawa payung juga. Jadi kemungkinan, sama seperti kita dia akan menunggu sampai hujan cukup reda untuk lanjut pulang.” Chika mencoba menjelaskan.

Sudah hampir satu jam, hujan tidak juga reda. Akhirnya Hokuto memutuskan untuk nekad pergi ke minimarket terdekat dan membeli payung untuk mereka berlima.

Belum ada lima menit Hokuto pergi, tiba-tiba ada seorang pria mengenakan jas hujan hitam yang menutup rapat tubuhnya, datang menyerang mereka. Shintaro dengan sigap memasang tubuhnya di depan ketiga sahabat perempuannya. Chise memeluk Yua erat, sedangkan Chika dengan segenap keberaniannya berusaha membantu Shintaro melawan pria tadi.

Sayangnya, kemampuan Shintaro dan Chika tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan pria itu. Dalam beberapa kali pukulan keduanya tersungkur di tanah. Pria itu berjalan ke arah Chise dan Yua.

“Kamu mau apa?” Chise berteriak lantang, mempertahankan Yua dalam pelukannya. Entah sejak kapan, gadis itu sudah kehilangan kesadaran.

“Lepaskan dia, aku tidak akan menyakitimu.” kata pria itu, tapi suaranya aneh, seperti dibesar-besarkan dengan mesih pengubah suara.

“Lebih baik aku yang tersakiti daripada kamu memisahkanku dari Yua. Jangan mendekat!” Chise melemparkan tasnya, tapi pria itu tidak terpengaruh sama sekali dan datang mendekati keduanya, merebut Yua dari pelukan Chise.

Pria itu berhasil merebut Yua, tapi Chise tidak mau menyerah. Chise menggelayuti pria itu yang sedang membopong Yua. Karena kedua tangannya penuh, pria itu tidak bisa melepas pegangan Chise. Saat pria itu memasukkan Yua ke mobilnya, tanpa pikir panjang Chise ikut melompat masuk dan kembali memeluk Yua.

“Yasudahlah, aku bisa membunuhnya juga nanti.” Kata pria itu sebelum menutup pintu mobilnya, lalu pergi ke kursi kemudi.

*****

“Kenapa kamu memanggilku, apa kamu menemukan sesuatu?” tanya Kouchi begitu Jesse memasuki ruangan tempatnya menunggu.

“Duduklah, aku akan menjelaskan sesuatu.” Kouchi menurut dan duduk, menunggu Jesse mulai menjelaskan.

“Dengarkan aku baik-baik…” Kouchi memasang telinga untuk mendengarkan informasi penting dari Jesse, “Kamu tahu kan kalau Yua bukan manusia seutuhnya? Meskipun dia mempunyai emosi, perasaan bahkan pikiran, tapi dia bukan manusia.”

Kouchi benci mengakuinya dan sebisa mungkin ingin melupakan bahwa itu adalah kenyataan tentang Yua, adiknya, tapi Kouchi tidak bisa mengelak bahwa Yua bukan benar-benar adiknya.

“Yua adalah senjata manusia. Gen yang ada di dalam tubuhnya berbeda dengan kita. Yua adalah percobaan pertama dan satu-satunya yang berhasil dilakukan Profesor Kouchi, jadi kita tidak tahu pasti apa faktor pemicu yang dapat mengaktifkan kemampuannya. Ku rasa, mimpi buruk yang dialami Yua, itu merupakan pertanda kalau kemampuan senjata dalam tubuh Yua mulai mencoba menguasai tubuhnya. Mimpi buruk itu bukan disebabkan oleh organisasi pemerintah, tapi dari dalam tubuh Yua.”

Kouchi tertegun mendengar penjelasan Jesse, tidak mampu berkata-kata.

“Aku tahu, kamu pasti ingin mencari cara untuk mencegah agar senjata itu tidak aktif, kan?” tebak Jesse. Kouchi hanya mengangguk membenarkan tebakan sahabatnya.

“Tapi, melebihi dari keinginan mencari tahu bagaimana cara mencegahnya, kita harus lebih fokus menjaga Yua. Sepertinya selama ini Yua selalu di awasi oleh anjing-anjing pemerintah. Sebab semalam terjadi laporan kalau kemampuan senjata Yua aktif tiba-tiba dan hampir mencelakai seorang manusia.”

“Semalam?” Kouchi ingat kalau Sora mencoba menghubunginya dari semalam. Dan tadi saat Sora akan menjelaskannya, Jesse menelponnya sehingga Kouchi tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Ya. Menurut dugaanku, sepertinya ada mata-mata di antara kita. Kita harus berhati-hati dan tidak mudah saling percaya.”

“Juri, pasti Juri! Dia itu anak Profesor Tanaka! Aku tidak pernah mempercayainya!” Amarah Kouchi meluap. Dia sangat yakin Juri lah mata-mata pemerintah, sama seperti orang tuanya. Padahal selama ini, Kouchi sudah bersusah payah memutus semua ikatan yang terhubung dengan masa lalu keluarganya.

“Tunggu dulu, Yugo. Jangan dibutakan oleh amarah. Bagaimana dengan yang lainnya? Bagaimana dengan Hokuto dan Sora? Bagaimana dengan Shintaro dan Chika? Bagaimana dengan Chise? Atau bagaimana dengan Taiga, anak baru yang bahkan aku belum melihat wajahnya. Semua dari mereka memiliki kesempatan yang sama besar untuk dicurigai.” Kouchi menelan ludah.

“Sebaiknya kita pulang. Aku akan mengambil cuti panjang dan membantumu menjaga Yua sampai kita bisa menemukan cara untuk mencegah senjata dalam tubuh Yua aktif.”

“Kalau kamu pulang, bagaimana kita bisa menemukan cara? Bukankan dokumen penelitian papa tentang Yua ada di ruang data kerajaan?” Kouchi menahan Jesse.

“Tenanglah, aku sudah mengurus semuanya. Kita pasti akan segera menemukannya. Ayo pulang?” Jesse mengulurkan tangan. Kouchi mengangguk lalu meraih uluran tangan Jesse. Keduanya pun pulang ke rumah, tanpa mereka sadari, ketakutan yang mereka bicarakan sudah terjadi.

 

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s