[Multichapter] TWISTED (#1)

TWISTED
By: kyomochii
Genre: Drama, Fantasy, Romance, Suspense, Sci-Fic
Rating: PG-13
Cast: Kyomoto Taiga, Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro, Jesse, Tanaka Juri (SixTONES as Main Cast); Kouchi Yua, Chika, Hideyoshi Sora, Nagisawa Chise (OC)
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

ff twisted blog

Bayangan itu masih terus mengikutinya. Tidak ada pilihan lain bagi Yua selain terus menyusuri jalanan setapak yang ada di hadapannya, berharap menemukan titik terang di depan sana atau setidaknya kakaknya akan cepat datang untuk menyelamatkannya.

Nii-chan, tolong aku!” Yua terus berdo’a di sela-sela napasnya yang sudah terengah. Tapi bayangan itu terus mendekat dan kecepatan yang semakin dipercepat, hingga akhirnya makhluk itu berhasil meraih tudung yang menyelimuti Yua. Seketika udara dingin yang menusuk menguasai tubuh mungil Yua dan kengerian luar biasa tergambar di wajahnya. Dengan sekuat tenaga Yua mencoba mengumpulkan keberaniannya dan mulai berbicara,

“Kamu siapa? Kamu mau apa? Apa yang kamu inginkan dariku?” suara Yua tercekat saking takutnya, tapi tetap tidak ada jawaban dari makhluk yang berdiri di hadapannya itu. Saat wajah makhluk itu semakin mendekat, Yua hanya bisa memejamkan mata, menahan rasa dingin yang menghujam ke wajahnya, menimbulkan rasa sakit yang teramat di salah satu ujung matanya. Sesuatu seperti keluar dari ujung mata yang sakit itu, membuat kesadarannya melemah, sebelum samar-samar Yua mendengar suara kakaknya memanggilnya.

“Yua, bangunlah!” Yua terkesiap, terbangun dari mimpi buruknya. Saat dia membuka mata, hanya satu wajah dan akan selalu wajah yang sama yang selalu berada di sisinya. Seketika Yua menghambur ke dalam pelukan kakaknya.

Nii-chan, aku takut sekali! Mimpi itu datang lagi. Di mimpi kali ini, makhluk itu berhasil melepas tudungku dan sesuatu seperti keluar dari ujung mataku.” kata Yua sesenggukan.

“Tenanglah, itu cuma mimpi buruk. Kalau sampai itu benar-benar terjadi di dunia nyata, kamu tahu kan kalau aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi? Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merebut adikku ini dari sisiku. Aku akan selalu menjagamu meski harus mengorbankan nyawa, Yua. Percayalah.” Yua semakin mempererat pelukannya. Bukan pilihan baginya untuk percaya atau tidak kepada kakaknya, karena selama ini sejak kematian kedua orang tua mereka, kakaknya itu sudah berjuang mati-matian untuk selalu menjaganya.

“Tidurlah lagi, aku akan menemanimu di sini.” Sebuah kecupan di dahi, mengantarkan Yua kembali ke alam mimpinya, tapi semoga kali ini mimpi indah. Karena Yua tahu, kakaknya akan selalu di sampingnya untuk menjaganya, selamanya.

Beberapa saat setelah Yua kembali terlelap, seorang pemuda menghampiri keduanya tanpa suara lalu berbisik rendah,

“Kouchi-sama, apa yang harus kita lakukan mulai saat ini? Mimpi buruk yang semakin intens dialami Yua-sama menunjukkan kalau mereka sudah bertindak di luar jangkaun kita. Apakah ada hal yang bisa saya lakukan untuk melindungi Yua-sama?”

“Kau tidak perlu melakukan apa-apa. Bukan tidak perlu, tapi kau tidak akan bisa. Hanya aku yang bisa melakukannya, melindungi Yua.” Kouchi membuat jeda. “Tapi untuk sementara, kamu bisa menggantikan posisiku untuk menjaga dan mengawasinya selama aku pergi selama beberapa hari. Aku akan mencari cara.”

“Baik Kouchi-sama.” Pemuda itu membungkuk, menerima perintah dari tuannya.

“Tapi ingat, tetap awasi Juri! Aku belum bisa percaya penuh kepadanya. Kalau saja bukan Chika yang meminta, aku tidak akan sudi menerimanya tinggal bersama kita.”

“Baik.” Jawab pemuda itu lalu beranjak dari tempatnya.

“Jadilah anak baik selama kakak pergi, Yua. Aku akan kembali dan mengeluarkanmu dari segala bahaya.” Kouchi mengecup lembut pipi Yua, lalu pergi setelah meninggalkan pesan di meja.

*****

“Yua!” Hah?

Shintaro terbangun dengan peluh membasahi tubuhnya, seolah dia habis melakukan lari estafet saja! Tapi memang seperti itulah mimpinya, dia terus berlari dan berlari mengikuti suara Yua yang terus menangis meminta pertolongan, entah dari mana asal suaranya. Shintaro hanya terus berlari tanpa arah.

Semua mimpi buruk ini bermula sejak Yua membagi kisah tentang mimpi buruk yang dialaminya, dan Shintaro tidak bisa berhenti memikirkannya. Jauh di lubuk hati Shintaro, dia ingin menjadi orang yang bisa menyelamatkan gadis itu dari bahaya, siapapun musuhnya.

“Ya ampun, Shin-chan! Mau sampai kapan kamu mengharapkan Yua? Apa kamu yakin bisa menghadapi Kouchi-senpai kalau masih nekad punya perasaan ke adiknya?” seorang gadis terkekeh di ujung ranjang Shintaro, sudah selesai merapikan selimut yang dipakainya, padahal yang punya selimut masih malas-malasan kembali bergelung memeluk gulingnya.

“Apa’an sih, Chika!? Apa salahnya aku menyayanginya sebagai sahabat? Kamu juga sama, kan? Pasti ingin melindungi Yua…”

“Hei, ini dan itu beda! Perasaan sayang antar gadis itu tak terbatas, beda cerita kalau pemuda sepertimu terus memikirkannya bahkan sampai terbawa mimpi pula! Kita sudah mulai dewasa, Shin-chan. Memang sudah sewajarnya mengenal cinta.” Chika mulai berbicara panjang lebar dan akhirnya membuat Shintaro beranjak dari tempat tidurnya karena ingin pergi jauh-jauh dari sahabatnya itu sebelum Chika tidak akan pernah menghentikan ceramahnya tentang cinta.

“Kok malah pergi? Hei, Shin-chan! Aku belum selesai ngomongnya!” Chika mengumpat kesal tapi beralih merapikan tempat tidur Shintaro setelah si empunya meninggalkannya.

“Iya, iya aku paham. Tapi terlalu cepat untuk menafsirkan semuanya sebagai cinta, Chika! Bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kalian tidak akan pernah percaya dengan yang namanya sahabat jadi cinta? Lalu buat apa aku buang-buang waktu dan tenaga untuk mencintai Yua kalau akhirnya akan merusak hubungan persahabatan kita?” Shintaro bergumam sambil memandangi wajahnya di cermin setelah membasuh muka.

Nee, Shin-chan. Apa kamu akan tetap berada di sisi Yua, meski kamu tahu kalau berada dekat dengannya akan sangat berbahaya?” tanya Chika tiba-tiba dari balik pintu kamar mandi rumah mereka.

“Pertanyaan macam apa itu? Kamu tahu sendiri jawabannya meski tidak pernah ada pertanyaan seperti itu, kan?” aneh aneh saja, tambah Shintaro dalam hati. Tapi kenapa Chika tiba-tiba menanyakannya? Tidak seperti biasanya.

“Kalau Chika bagaimana?” tanya Shintaro spontan.

“Itulah alasan utamaku kenapa bisa sampai tinggal dengan keluarga Morimoto.” jawab Yua sangat pelan, sehingga mustahil Shintaro dapat mendengarnya.

“Apa?” tanya Shintaro membuka pintu dan memamerkan separuh bagian atas badannya yang tidak terbalut apa-apa.

Bugh. Sebuah handuk mendarat indah tepat di dada Shintaro. Pemuda itu tersenyum jahil melihat reaksi Chika.

“Hei, hei, hei. Jangan bilang kalau kamu mulai suka denganku, Chika? Makanya kamu cemburu karena tahu aku lebih perhatian ke Yua?” goda Shintaro menjahili Chika.

“Mati saja!” hardik Chika lalu pergi meninggalkan Shintaro yang masih terbahak-bahak seperti orang gila.

*****

Bagaimana bisa kakaknya meninggalkannya begitu saja, setelah semalam dia berjanji akan terus di sisinya? Memang sih hanya untuk beberapa hari. Tapi ini terlalu tiba-tiba. Urusan kantor sering kali merebut kakaknya itu dari sisinya. Yua ingin sekali membencinya dan melarang Kouchi untuk berkerja. Tapi kalau Kouchi tidak bekerja, bagaimana mereka akan bertahan hidup di dunia yang semakin kejam ini? Aarrgh, menyebalkan!!!

“…chi-san? Kouchi-san?”

Yua kaget saat sebuah tangan menepuk pundaknya.

Kouchi Yua-san, bukan?” tanya pemuda itu sekali lagi untuk memastikan. Yua mengangguk membenarkan. Siapa? Yua memberi tatapan janggal. Dia ingat kalau kakaknya selalu mewanti-wantinya untuk tidak mudah akrab dengan orang yang belum dikenalnya.

Seolah mengerti arti tatapan Yua, pemuda itu memperkenalkan dirinya. “Perkenalkan, nama saya Kyomoto Taiga. Saya pegawai baru di kantor yang sama dengan kakak Anda. Kebetulan saya datang dari luar kota dan belum menemukan tempat tinggal tetap. Ketika mengetahui keadaan saya, Kouchi-san berbaik hati menawari saya untuk tinggal di tempat kalian, karena katanya ada beberapa kamar yang disewakan.”

“Oh.” Yua tidak tahu harus berkomentar apa, karena jujur saja, saat pemuda itu berbicara panjang lebar tanpa sengaja Yua terus memperhatikan wajahnya. Rasa-rasanya, Yua sudah jatuh cinta pada pandangan pertama! Kyaaa, ikemeen! Jerit Yua dalam hati.

“Kamu pasti Kyomoto Taiga, kan? Kami sudah menunggu kedatanganmu. Juri akan mengantar ke kamarmu.” Suara Hokuto memecah lamunan Yua, mengembalikannya ke alam nyata.

Terima kasih Hoku! Yua lega karena Hokuto datang di waktu yang tepat.

Yua memperhatikan punggung Taiga yang semakin menjauh di depannya. Pemandangan klise, yang membuat Yua merasa sesak karena tiba-tiba saja membayangkan kakaknya. Yua membuang napas cukup panjang untuk menenangkan diri.

“Apa lihat-lihat?” Yua membuang muka, menghindari tatapan Hokuto yang terlihat akan menggodanya.

“Bukan apa-apa. Tenang saja, aku tidak akan mengatakannya pada Kouchi.” Hokuto mengacak rambut pendek Yua sebelum meninggalkannya masuk ke rumah.

“Apaan siiih?” teriak Yua gemas karena sikap Hokuto yang selalu memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi kekesalannya sirna seketika saat melihat Shintaro dan Chika berjalan ke arahnya.

Osoi!! Kalian tahu tidak sih sudah berapa menit aku menunggu kalian?” Yua pura-pura merajuk.

“Pantas saja Kouchi-senpai dan Matsumura-senpai selalu memperlakukanmu seperti anak kecil. Lihat saja tingkahmu, Yua!” Shintaro terkekeh mendengar cibiran Chika. Sebenarnya Shintaro juga hendak melontarkan ejekan yang sama kalau saja Chika tidak mendahuluinya.

“Kalian itu teman siapa sih? Kenapa selalu membela mereka?”

“Aduduh anak mama marah-marah, sini peluk mama sayang.” Chika merentangkan kedua tangannya, mengundang Chika untuk datang ke dalam pelukannya. Melihat Chika memasang wajah ‘keibuan’ yang sangat fail, sukses membuat Yua tertawa alih-alih marah.

“Udahan yuk bercandanya!? Keburu siang nih! Chise pasti akan membunuh kita kalau kita lebih telat lagi.” Shintaro berusaha menyudahi bercandaan teman-temannya.

“Salah siapa kita telat?” balas Chika dan Yua kompakan. Dengan tampang tanpa rasa bersalah, Shintaro mengabaikan teriakan kedua sahabatnya dan berjalan mendahului mereka.

“Dasar!”

*****

“Sora, kenalkan ini Kyomoto Taiga. Mulai hari ini, dia akan tinggal bersama kita.” Hokuto memperkenalkan Taiga yang baru turun dari kamarnya bersama Juri. Sora mengangguk pada Taiga sekilas, lalu kembali menonton drama kesayangannya.

Bletak. Sebuah timpukan mendarat indah di kepala Sora, membuatnya mengaduh kesakitan.

“Apaan sih, Hoku?” protes Sora masih mengelus-elus kepalanya yang dipukul Hokuto.

“Kalau ada orang ngajak ngomong itu, dilihat matanya, Sora! Bukan cuma dilirik saja. Kumatiin nih tivinya!” dengan cekatan Sora menghindarkan remote TV dari jangkauan Hokuto.

“Bentar dong! Nanggung, kurang lima menit lagi.” Sora memeluk remote TV dengan posesif, lalu kembali fokus ke arah TV. Hokuto hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.

“Maaf ya, Kyomoto-kun. Memang dia suka begini kalau sedang nonton drama. Namanya Hideyoshi Sora. Semoga kalian bisa akrab ya.” Taiga tertawa renyah melihat tingkah teman-teman barunya.

Yoroshiku, Hideyoshi-san.” Taiga mengangguk untuk memberi salam kepada Sora.

“Panggil saja aku Sora. Yoroshiku, Taiga-kun.” Sora membalas anggukan Taiga, tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV di depannya.

Eh? Baru pertama kali dalam hidup Taiga ada orang lain yang memanggil nama depannya selain kedua orang tuanya. Perasaan aneh mengusik Taiga, membuatnya sekilas ingin menitikkan air mata. Tapi tentu saja itu akan sangat memalukan kalau dilakukan di depan orang-orang yang baru dikenalnya, bukan? Sekuat tenaga Taiga menahan emosinya.

Hai.” Taiga tersenyum lebar saking senangnya. “Jadi, kita tinggal berenam di rumah ini? Kouchi-san dan adiknya, Matsumura-san, Tanaka-san, Sora-san dan saya?” tanya Taiga mengalihkan pandangannya ke Hokuto.

“Bertujuh lebih tepatnya. Tapi dia memang jarang di rumah. Kalau dibandingkan Kouchi, bisa dibilang dia orang paling sibuk di rumah ini. Kamu pernah dengar nama Lewis Jesse?”

“Lewis Jesse?” Taiga berusaha mengingat, merasa pernah mendengar nama itu tapi entah di mana.

“Aku yakin kamu pasti pernah mendengar namanya meski cuma sekali. Namanya pernah hampir selama dua minggu penuh menghiasi surat kabar dan berita televisi di negara kita.”

“Aaaaaaa, wakaru!! Si jenius itu ya? Eh? Bagaimana bisa? Bukannya dia seharusnya tinggal di mansion atau apalah?” tanya Taiga dengan penuh semangat, Hokuto dan yang lainnya tertawa.

“Kayak dia mau aja! Yugo dan Jesse itu sudah kayak amplop dan perangkonya. Di mana ada Yugo, di situ ada Jesse. Begitupun sebaliknya. Jadi, jangan pernah mencoba memisahkan mereka!” kata Sora sambil tergelak, kali ini sudah fokus dengan Taiga dan yang lainnya.

“Bahkan kalau dibandingkan kita, hubungan di antara mereka sudah terjalin lebih lama. Aku dan Sora, kami baru bertemu Kouchi saat SMA. Meskipun sejak saat itu kami tidak pernah meninggalkannya. Kalau Juri…”

“Aku teman Yua. Hmm, maksudku, aku teman temannya Yua.” sela Juri, memotong penjelasan Hokuto.

“Kamu ngomong apa sih? Keluargamu kan masih ada hubungan darah dengan keluarga Yugo. Jangan buat Taiga bingung begitu dong!?” timpal Sora sambil tertawa untuk mengalihkan perhatian Taiga.

Meski Sora mencoba mengalihkan perhatiannya, Taiga tidak bisa untuk tidak melihat keanehan pada reaksi Juri. Jujur saja, sejak kedatangannya tadi, Juri hampir sama sekali tidak berbicara. Hanya sesekali saja saat mengantarkannya ke kamar dan menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan Taiga. Selebihnya, Juri hanya diam saja. Terlalu diam malah. Tapi Taiga tahu, seiring berjalannya waktu dia akan tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi. Tidak perlu terburu-buru. Sekarang yang terpenting, penghuni yang lain bisa menerimanya dulu.

“Wah, berarti saya benar-benar orang yang tidak ada hubungannya sama sekali kalau dibandingkan kalian ya.” Taiga tertawa renyah, malu-malu karena komentarnya.

“Kamu kan teman kantor Yugo. Berarti ada hubungannya mulai sekarang.” hibur Sora mencoba ramah, membuat Taiga tulus membalas senyumannya.

Arigatou.” balas Taiga dengan tatapan penuh makna.

*****

Shintaro tidak percaya, bagaimana bisa Yua dan Chise terpisah? Bukannya keduanya tadi jalan tidak jauh darinya dan Chika?

“Coba kamu cari di sebelah sana, aku akan cari ke toilet wanita!” Chika langsung berlari setelah memberi aba-aba. Shintaro bergegas ke arah yang ditunjuk Chika.

Sudah hampir setengah jam Shintaro dan Chika mencari kedua sahabatnya, tapi tidak ada hasilnya. Ponsel mereka pun tidak ada yang bisa dihubungi. Kekhawatiran Shintaro berangsur menjadi parno, apalagi kalau mengingat mimpi buruk Yua. Shintaro hanya bisa berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.

“Sudah kubilang, bukan ide bagus meninggalkan Yua dengan Chise. Seharusnya akulah yang menjaganya.” rutuk Shintaro setengah emosi.

“Halah, bilang saja kamu mau modus! Iya, kan?” goda Chika, tapi langsung terdiam saat melihat Shintaro memelototinya.

“Ini bukan saatnya bercanda, Chika! Apa kamu tidak mengkhawatirkan mereka?” suara Shintaro mulai meninggi karena tidak bisa menahan emosi.

“Apa kamu pikir wajahku ini bukan wajah orang khawatir? Aku sama sepertimu, Shin! Khawatir dengan Yua dan Chise. Tapi apa gunanya kita menyalahkan yang sudah-sudah? Toh, sudah kejadian juga. Sekarang kita harus fokus mencari mereka. Coba kamu pikirkan, kira-kira hal apa yang paling mereka suka sampai-sampai mereka harus meninggalkan kita?” Chika dan Shintaro mencoba memikirkan kemungkinannya.

“Kalau Yua, sudah pasti kalau dia melihat Kouchi-senpai, tanpa menunggu kita dia akan langsung menemuinya. Tapi hal itu mustahil karena Kouchi-senpai sedang ada urusan kantor kan? Kalau Chise…”

“Itu bukannya Matsumura-senpai? Siapa yang sedang bersamanya?” kata Chika tiba-tiba. Refleks, Shintaro langsung mengikuti arah yang ditunjuk Chika.

“Dan itu di belakang mereka Chise dan Yua sedang mengikuti diam-diam. Pantas saja kita tidak akan bisa menemukan mereka! Mereka saja sedang sembunyi biar tidak terlihat!” Shintaro berdecak, tidak habis pikir dengan kelakuan kedua sahabatnya.

“Itu siapa yang sedang dengan Matsumura-senpai?” bisik Chika saat sudah di sebelah Yua. Karena kaget atas kemunculan Shintaro dan Chika, Yua tanpa sengaja menabrak sebuah manekin yang ada di sebelahnya. Kehebohan pun terjadi akibat kelakuan mereka.

“Yua, Chika, Shintaro, Chise? Kalian sedang apa di sini?” tanya Hokuto heran karena pertemuan tidak terduga mereka.

“Kita habis nonton senpai. Senpai sendiri, sedang apa di sini?” Chika berjalan mendekat ke arah Hokuto dan temannya, sedangkan Shintaro, Chise dan Yua masih sibuk meminta maaf pada kepala toko pemilik manekin yang mereka jatuhkan.

“Aku sedang mengantarkan Kyomoto-kun membeli beberapa alat yang dia butuhkan untuk kamar barunya. Apa Yua belum cerita kalau mulai hari ini, rumah kami punya penghuni baru?”

“Oh, sepertinya belum sempat, senpai. Tadi kita langsung nonton dan setelahnya ada kejadian yang tidak terduga.” jelas Chika sambil tertawa. Perhatian Chika beralih pada pemuda bernama Kyomoto yang di sebelah Hokuto.

“Kenalkan, namaku Chika. Aku tidak punya nama keluarga, jadi tidak perlu sungkan untuk memanggilku Chika.” Chika mengulurkan tangannya.

Eh? Lagi-lagi untuk pertama kalinya, Taiga melihat seseorang mengulurkan tangan kepadanya setelah tadi Sora memanggil namanya. Ragu-ragu Taiga menerima uluran tangan Chika. “Kyomoto Taiga desu.”

“Aaaaaa, Chika curang!!! Padahal aku yang tinggal satu rumah dengannya, tapi kenapa kamu yang salaman duluan sama Taiga?” Yua berlari ke arah Chika, meninggalkan Shintaro mengurus sisa dari kesalahannya.

“Kamu kan tinggal satu rumah, kamu bisa salaman kapan saja, Yua!” Chika melepaskan jabat tangan Taiga beralih mencubit pipi Yua.

“Kalau sampai itu terjadi, kamu tahu kalau hidup Kyomoto-kun tidak akan tenang kan nantinya, Chika?!” Hokuto dan Chika tertawa.

“Kenapa?” tanya Taiga dengan polosnya.

“Karena Kouchi-senpai akan membunuhmu karena berani menyentuh adik kesayangannya!” sahut Chise, lalu ikut tertawa bersama Hokuto dan Chika.

“Astaga, kalian lebay! Orang cuma salaman doang. Taiga, kamu bisa memanggilku Yua. Yoroshiku na.” Yua menjabat tangan Taiga.

Orang ketiga yang memanggilku nama, batin Taiga.

“Aku Nagisawa Chise, panggil saja Chise dan yang di sana Morimoto Shintaro. Yoroshiku, Taiga-kun.” Chise hanya menganggukkan kepala sebagai salam perkenalannya, karena tidak mau berebut salaman dengan Yua. Terlebih bagi Chise, bisa berdiri dekat, eh, di samping Hokuto adalah yang paling penting untuknya saat ini.

“Chise? Kamu di sini juga?” sebuah suara memecah perhatian mereka.

“Juri-kun di sini juga?” Chise melihat ke arah Hokuto, lalu menunduk menyembunyikan wajahnya. Kenapa Juri-kun ada di sini juga sih? Aku jadi tidak bisa PDKT ke Matsumura-senpai kalau begini! Chise mengomel dalam hati.

“Iya, aku menemani Matsumura-kun mengantarkan Kyomoto-kun.” Jawab Juri seadanya.

“Juri, kamu habis dari mana saja? Aku dan Kyomoto-kun mencarimu sejak tadi.”

Gomen. Tadi tiba-tiba ingin ke toilet.”

“Oh, yasudahlah.” Hokuto ijin kepada yang lainnya untuk kembali mengantarkan Taiga mencari keperluannya dan membiarkan Juri untuk tinggal karena Chika yang memintanya.

Gomenne, Chise. Aku harus menunda reuni kalian dulu.” Chika mengerlingkan matanya.

“Bawa-bawa sana!” Balas Chise sewot karena Chika selalu saja menggodanya. Padahal gadis itu tahu, kalau antara Chise dan Juri adalah cerita lama. Itu pun, tidak sampai terjadi hubungan yang istimewa di antara mereka karena Juri tidak pernah membalas perasaannya. Bodo’! Lagipula yang kusuka saat ini kan Matsumura-senpai, Chise menghibur diri.

“Yua, tolong sampaikan ke Shin-chan kalau ada yang harus kubicarakan dengan Juri. Dia bisa pulang dulu, tidak perlu menungguku.”

“Tidak, aku akan menunggumu di rumah Yua. Juri, tolong jaga Chika ya.” Shintaro yang sudah menyelesaikan urusan manekin berjalan ke arah mereka. Juri mengangguk lalu pergi mengikuti Chika.

“Mereka mau ngomongin apa ya?” tanya Yua penasaran.

“Entahlah. Dari awal, tentang hubungan di antara mereka saja aku tidak berani menanyakannya. Tapi Chika sangat terbuka kepadaku, aku yakin suatu hari dia akan menceritakannya. Jadi, aku akan menunggu saat itu tiba saja.”

“Ngomong-ngomong tentang hubungan, aku juga curiga. Aku yakin kalau Chika belum mengenal Juri-kun sampai aku yang mengenalkannya pada kalian. Tapi sehari setelah hari itu, Juri-kun selalu menuruti apapun yang dikatakan Chika. Apa mungkin mereka sudah saling mengenal sebelumnya? Shin, kamu ingat tidak orang tua mu memungut Chika darimana?” Shintaro menatap Chise dengan tatapan tidak suka. Sudah berkali-kali dia memperingatkan gadis itu untuk berhenti menggunakan istilah “memungut” karena Chika bukan barang yang ditinggalkan oleh pemiliknya.

“Bukannya aku sudah cerita kalau kami tidak menemukan Chika, tapi dia yang datang sendiri ke rumah? Waktu itu saat pesta perayaan ulang tahunku yang ke-10 saat Chika datang ke rumah. Orang tuaku mengira, dia salah satu temanku sehingga mengijinkannya masuk. Tapi sampai acara selesai, Chika tidak kunjung pulang juga. Saat itu papaku mencoba bertanya, tapi Chika tidak mengingat sama sekali tentang masa lalunya kecuali namanya Chika. Kalau menurut papa, ada kemungkinan Chika terkena amnesia. Tapi karena tidak ada keluarga yang melaporkan kehilangan anak dengan ciri-ciri seperti Chika, jadi orang tuaku memutuskan untuk merawatnya.” Jelas Shintaro mengulang ceritanya.

“Aneh. Lalu bagaimana bisa dia sampai di rumahmu? Seperti disengaja saja.” Komentar Chise, masih curiga terhadap Chika.

“Sepertinya, aku yang membawanya sampai ke rumah Shintaro.”

“Kok bisa?” tanya Chise dan Shintaro kompakan mendengar kata-kata Yua.

“Aku baru ingat waktu Shin mengatakan tentang perayaan ulang tahunnya yang ke-10. Aku ingat hari itu adalah pertama kalinya juga aku berbicara dengan Chika. Hari itu aku melihatnya terdiam di depan rumahku sedang memandangi jalanan. Karena penasaran, aku mengajaknya bicara dan bertanya darimana asalnya. Benar, dia tidak tahu apa-apa, yang dia tahu namanya Chika. Aku ingin berbicara lebih lama dengannya, tapi mamaku sudah menyuruhku untuk cepat karena pestanya akan segera dimulai. Jadi kurasa, dia mengikutiku hari itu.”

“Ah, jadi daripada datang ke rumah Morimoto, seharusnya Chika datang ke rumah Kouchi?” Chise mencoba menarik kesimpulan.

“Tunggu dulu, memang apa pentingnya sih kita mencari tahu masa lalu Chika hanya karena dia dekat dengan Juri? Bisa jadi mereka bertemu setelah tinggal di keluarga Morimoto tapi sebelum kamu mengenalkannya, Chise? Lagipula, kamu sudah berpindah hati kan? Sudah ayo kita pulang saja!” Chise memukul Shintaro karena mengatainya. Entah kenapa saat Shintaro yang mengatakannya, Chise kesal karena dia terdengar seperti gadis yang tidak setia.

Yua terdiam sepanjang perjalanan pulang, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tentang kesimpulan yang dibuat Chise, apa mungkin seharusnya Chika datang ke rumahnya bukan ke rumah Shintaro? Andai saja hari itu Yua bisa mengobrol dengan Chika lebih lama, mungkin hari ini Chika akan tinggal satu kamar dengannya? Chika akan menjadi keluarganya bukan keluarga Shintaro. Yua menyesal, dulu dia tidak cukup berani melawan perintah mamanya.

*****

Mendengar Kouchi sengaja mendatanginya, Jesse tidak tenang dalam menyelesaikan pekerjaannya. Sedikit lagi sedikit lagi, kata-kata itu terus saja berulang di kepalanya. Sudah lama sekali mereka tidak berjumpa. Jesse memang jarang pulang ke rumah, bahkan saat dia pulang seringnya Kouchi yang tidak ada di rumah karena pekerjaannya. Hal itu membuatnya menyesal, kenapa semalam menerima ajakan senior-seniornyanya untuk pergi karaoke sebentar dan mengabaikan pekerjaannya.

Kalau saja semalam aku tidak tergiur ajakan senpai, pekerjaanku ini pasti sudah selesai dan aku bisa bertemu Yugo secepatnya, argh siaaal. Jesse terus-terusan mengomel dalam hati dan mengebut pekerjaannya.

“Akhirnya selesai juga!” dengan kecepatan kilat Jesse berlari ke ruang tunggu untuk bertemu sahabatnya. Saat melihat Kouchi berdiri memunggunginya, Jesse langsung memeluknya dari belakang.

“Kamu tahu, aku sangat merindukanmu!”

“Oi, aku di sini.” Jesse melihat Kouchi sedang duduk di kursi depannya. Lalu siapa yang dipeluknya?

“Masa’ iya aku disamain sama OB, sih? Jelas-jelas lebih tampan aku lah.” Kouchi tertawa terbahak-bahak melihat Jesse meminta maaf kepada OB yang sudah salah dikiranya sebagai Kouchi. Setelah OB itu pergi, Jesse membanting badannya menindih Kouchi sampai pemuda kurus kering itu mengaduh meminta pertolongan.

“Kamu mau membunuhku apa?” umpat Kouchi melihat senyum puas mengembang di wajah Jesse. Jesse berdiri lalu merentangkan tangannya, berharap Kouchi datang memeluknya seperti biasanya.

“Bukan saatnya untuk kangen-kangenan, Jes. Ada hal penting yang ingin aku tanyakan. Ini menyangkut Yua.” Kouchi mengeraskan ekspresi wajahnya, Jesse tahu kalau Kouchi selalu serius tentang segala hal yang bersangkutan dengan Yua. “Apa kamu sudah menemukannya?”

“Maafkan aku, aku belum sampai posisi untuk bisa mengakses file penting milik kerajaan.” Jesse tidak suka melihat ekspresi sedih bercampur kecewa yang tereksplor di wajah Kouchi, buru-buru dia menambahkan.

“Tapi aku punya berita penting untukmu. Meskipun ini masih sekedar rumor dan belum tentu kebenarannya. Tapi…”

“Apa? Katakan saja!”

“Beberapa hari lalu aku sedang bekerja dengan para senior dari Team Alpha, kamu tahu Team Alpha kan?” tanya Jesse sekedar meyakinkan.

Tentu saja Kouchi tahu, Team Alpha adalah Team kebanggan papanya, meskipun sebenarnya Kouchi sama sekali tidak tahu apa yang mereka kerjakan. Kouchi mengangguk dan meminta Jesse untuk melanjutkan ceritanya.

“Dari rumor yang aku dengar, mereka percaya kalau Profesor Kouchi masih hidup dan diasingkan di suatu tempat.” Jesse memelankan suaranya, seolah takut-takut kalau hal yang disampaikannya adalah sebuah rahasia.

“APAAA?”

Ssssstt.” Jesse membekap mulut Kouchi. “Jangan teriak-teriak!”

“Kamu yakin?”

“Kan sudah kubilang, ini masih sekedar rumor dan belum tentu kebenarannya. Tapi aku janji, aku akan berusaha sebaik mungkin untuk mencari tahu kebenarannya.”

Kouchi tampak berpikir lama sebelum akhirnya berbicara.

“Aku memang tertarik tentang rumor papa, tapi ku mohon prioritasnya tentang Yua. Aku tidak tega melihatnya terus-terusan bermimpi buruk seperti ini. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan padanya. Ku mohon, bantu aku untuk menghentikan semua penderitaan ini dari Yua, Jess.” Kouchi menatap Jesse dengan pandangan memohon.

“Baiklah, aku akan segera menemukan dokumennya. Dan kita akan menyelamatkan Yua!”

“Aku tahu cuma kamu yang paling bisa kuandalkan, Jess.” Kouchi memeluk Jesse, lalu Jesse membalas pelukan sahabatnya.

 

To be continued…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s