[Multichapter] Seven Colors (#4)

Seven Colors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 4)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

sevencolors

Halaman TK Himawari terlihat lebih ramai dari biasanya. Banyak mobil diparkirkan di sana dan berlalu-lalang orang yang lewat. Akina mencoba menelusuri satu persatu wajah anak kecil di sana dan ia lupa kalau sudah lama tidak bertemu dengan Natsumi-chan dan lupa-lupa ingat dengan wajah gadis kecil itu.

“Ah ya!” Akina ingat kalau ia pernah menyimpan foto Natsumi-chan, ia pun segera mencarinya di ponselnya tapi agak lupa kapan ia menyimpannya, “Uhmm.. bukan yang ini… sebentar…”

“Itou…kun?” hampir saja Akina melemparkan ponselnya saat suara itu mampir di telinganya.

“Ah! Ya…sui-san…” ucap Akina terbata-bata seakan tertangkap basah padahal ia tak melakukan kesalahan apa-apa.

“Ah benar ternyata Itou-kun! Menjemput seseorang?”

Kenapa saat sekarang pun Yasui Kentaro terlihat tampan, ya, dengan kaos dan jeans serta cardigan panjang yang dipakai pria itu seakan-akan pria itu keluar dari majalah, kalau tidak ingat perkataan Myuto soal anak, Akina masih selalu berpikir bahwa Yasui dan dirinya seumuran. Apalagi ini pertama kalinya Akina

“Iya… anak sepupuku, Yasui-san, tapi… uhm… aku…”

“Papa!!” Akina dan Yasui serentak menoleh ke arah Kenichi yang kini berlari ke arah Yasui.

Dengan sigap Yasui mengangkat Kenichi ke dekapannya, “Ini teman kerja Papa, namanya Akina-chan,”

Ah! Yasui-san ingat nama depanku!! Seru Akina dalam hati. Ia tak menyangka kalau Yasui bisa ingat namanya.

“Yasui Kenichi desu!” seru Kenichi, membuat Akina tersenyum ke arah Kenichi.

“Tadi kau bilang menjemput anak sepupumu, siapa namanya?”

“Natsumi… Yamamoto Natsumi!” jawab Akina cepat.

“Nah, Akina-chan ini bibinya Natsumi-chan,” jelas Yasui kepada Kenichi.

“Itu Natsu-chan!!” Kenichi menunjuk ke seorang gadis yang menunggu di pintu masuk kelas. Rasanya Akina ingin mencium Kenichi yang tiba-tiba saja menjadi penyelamatnya.

“Kalau begitu, saya permisi dulu, Yasui-san,” Akina segera pamit, sepertinya Natsumi-chan juga sudah menunggunya. Baru saja ia menyapa Natsumi, ketika berbalik ia melihat Yasui bersama seorang wanita. Jadi itu istrinya Yasui-san? Kalau boleh jujur Akina sepertinya tidak pernah lihat Yasui memakai cincin nikah. Atau memang sengaja ya? Ah sudahlah, yang penting tugasnya sudah selesai.

***

Ketika Hagiya sampai di rumah sore itu rasanya rumah sepi sekali. Akane bilang dia tetap harus bekerja malam itu dan mengiriminya teks, sementara Aika dan Sanada keberadaannya tidak diketahui.

Tadaima,” seru Hagiya di pintu, dan tidak ada jawaban. Ia pun membuka sepatu dan mantelnya sebelum masuk ke ruangan tengah, di sana ada Aoi, yang sedang menonton tapi matanya terpejam, sepertinya gadis ini ketiduran, “Aoi-chan, nanti kamu masuk angin,” ucap Hagiya menepuk pelan kepala gadis itu, tapi sama sekali tidak ada respon.

Tidak punya pilihan lain, akhirnya Hagiya menggendong tubuh mungil Aoi ke kamarnya di lantai atas, walaupun agak kesusahan saat akan membuka pintu sehingga tak sengaja Hagiya membenturkan kepala Aoi ke tembok.

“Aww!!”

Hagiya panik, “Gomen!! Aduh maaf ya Aoi-chan!” serunya. Mata Aoi terbuka dan kaget saat melihat Hagiya begitu dekat dengannya.

“Turunkan aku!” seru Aoi kesal, kini tangannya sibuk menggosok-gosok kepalanya yang sakit karena terbentur, “Baru pulang?” tanya Aoi ketika kesalnya sudah sedikit berkurang.

Hagiya mengangguk, “Maaf aku malah jadi membangunkanmu,” kata Hagiya sungguh-sungguh minta maaf.

Sambil masih menggosok-gosokkan tangannya di kepala Aoi menggeleng pelan, “Tidak apa-apa, aku sebenarnya ketiduran karena bosan saja sih, semua orang pergi, aku sendirian,” ucapnya.

“Aoi-chan sudah makan belum?” Aoi menggeleng, “Bagaimana kalau kita pesan makanan? Pizza misalnya? Sekalian sebagai permintaan maafku,” kata Hagiya. Dan hanya dengan sogokan Pizza juga Spagetti, sekarang mood Aoi pun berubah jadi lebih baik. Hagiya memesankan beberapa kotak Pizza siapa tau nanti Aika atau Sanada pulang jadi mereka juga bisa kebagian.

“Sanada-san bukannya tadi di rumah ya?” tanya Hagiya ketika kini mereka akhirnya menonton televisi sambil mengunyah Pizza yang beberapa menit lalu sudah sampai di rumah.

“Tadi terima telepon, entah dari siapa lalu langsung ngacir keluar, gak tau deh kemana,” Aoi mengangkat bahunya.

“Kalau Akane-chan sih tadi bilang mau kerja,” kalimat singkat itu membuat Aoi menatap Hagiya dengan pandangan kesal. Kenapa ketika mereka harusnya membicarakan soal mereka berdua saja, nama Akane harus muncul lagi, benar-benar merusak moodnya.

“Aku gak peduli sih,” ucap Aoi, ia melihat Hagiya kebingungan dengan nada Aoi yang tiba-tiba sinis, “Kenapa Keigo-chan selalu ngomongin Hayakawa-san sih? Keigo-chan suka padanya?!”

Tidak menjawab, Hagiya malah menggeleng lalu tertawa, “Aoi-chan, kamu ini kenapa? Aku kan hanya memberi tau kalau Akane-chan…”

“Iya aku tidak suka Keigo-chan membicarakan dirinya!” seru Aoi, memotong kalimat dari Hagiya, “Kenapa sejak ada Hayakawa-san, Keigo selalu menyebut-nyebut namanya! Aku tidak suka!”

“Dia itu teman serumah kita, Aoi!!”

“Dia hanya numpang di sini!”

“AOI!!” hardik Hagiya, nada suaranya meninggi, kaget dengan sikap Aoi yang tiba-tiba seperti ini. Tidak ramah, bukan Aoi yang ia kenal manis dan selalu baik hati, “Kenapa kamu bicara seperti itu?!”

Dengan kesal Aoi menyimpan potongan Pizza yang baru ia makan setengahnya lalu beranjak meninggalkan Hagiya, berlari ke kamarnya di lantai atas. Tak sampai dua menit kemudian dia mendengar ketukan di pintu kamarnya.

“Aoi-chan, sebenarnya ada apa? Kau baik-baik saja?” Aoi benci kenapa Hagiya selalu tidak mengerti perasaannya padahal ia cukup jelas memperlihatkan pada Hagiya bahwa selama ini ia menyukai pria itu.

“Sana pergi!!” teriak Aoi.

Tapi tak lama ketukan itu kembali terdengar, “Aku tidak akan berhenti mengetuk pintu ini kalau kau tidak mau keluar!” kini nada suara Hagiya meninggi, “Aoi! Atau kudobrak pintu ini!!”

Karena ancaman itu terdengar serius, dan Aoi tidak mau merusak properti rumah ini ia pun mau tidak mau membuka pintunya untuk Hagiya, ia hanya membukanya sedikit, “Aku tidak mau bicara denganmu!”

Hagiya mendorong perlahan pintu itu, Aoi tidak lagi dapat menahan tangisnya yang kini berderai entah apa alasannya. Mungkin sakit hati, mungkin juga merasa tidak berdaya karena tidak bisa megungkapkan perasaannya kepada Hagiya.

“Aoi-chan, kamu kenapa?” Aoi yang sedang menunduk dapat merasakan telapak tangan Hagiya mampir di kepalanya, menepuknya pelan, “Aoi-chan sedang ada masalah?”

Perlahan Aoi menyeka tangisnya, kini rasanya dia ingin marah. Hagiya sama sekali tidak mengerti, berarti selama ini dia benar-benar tidak pernah mengerti.

“Iya!! Masalahnya Keigo-chan sama sekali tidak mengerti perasaanku!!” dan walaupun bermaksud tidak berteriak, Aoi sadar kalau tadi dia berteriak kencang sekali. Hagiya yang berdiri tepat di hadapannya terlihat kaget, wajahnya membeku, tidak tau harus bereaksi seperti apa.

Keheningan itu tidak bertahan lama karena Aoi kembali berteriak, “Aku menyukai Keigo-chan!!”

“Sebentar, Aoi… kau jangan bercanda,” lima menit yang hening menyakitkan itu dijawab cengiran canggung dari wajah Hagiya.

Entah keberanian dari mana Aoi menarik kerah baju Hagiya hngga pemuda itu menunduk dan detik berikutnya ia menempelkan bibirnya di bibir Hagiya. Baik Hagiya maupun Aoi masih kaget tak bergerak dari posisi bibir ke bibir itu, tapi tak lama Aoi melepaskan Hagiya, berbalik dan segera masuk ke kamar, membanting pintu kamarnya di hadapan Hagiya.

“BODOOHHH!!” batin Aoi menutupi wajahnya dengan bantal, bagaimana ia bisa menghadapi Hagiya lagi setelah ini?

***

Sudah hampir sore ketika Ruika berhasil mengumpulkan nyawanya, beberapa ronde tidur membuatnya kini lapar dan butuh asupan karbohidrat karena energinya seakan terserap setelah tidur tadi. Shoki mengiriminya teks bahwa dirinya masih di TK untuk membereskan beberapa hal. Ruika memutuskan untuk keluar rumah, mungkin makan sesuatu di luar akan membuatnya sedikit segar. Tanpa make up, hanya dengan cardigan dan kaos dipadu jeans Ruika pun melangkahkan kaki keluar apartemen, mengetikkan pesan pada Shoki bahwa dirinya akan makan di luar. Tidak ada balasan, Ruika yakin Shoki masih sibuk membereskan properti  atau berbincang dengan para ibu di sana.

Ruika sampai di toko 24 jam dan membeli bento serta beberapa cemilan. Dia sedang tidak ingin diganggu, mungkin makan sendirian sambil membaca majalah akan lebih menyenangkan sekarang. Sambil menunggu bento nya dipanaskan Ruika memilih majalah yang akan dia beli, dan memutuskan satu majalah dengan cover idola yang sedang naik daun sekarang.

Sambil makan Ruika pun membaca majalahnya, mengambil salah satu gambar dengan ponselnya lalu mengirimkannya kepada Myuto, Ruika memang sering menggoda pemuda itu ketika bosan, ‘Mirip kamu’ ketik Ruika sambil tertawa.

Tak sampai lima menit kemudian ada jawaban ‘Mirip apanya? Tampan aku kemana-mana!!’ disambung sebuah sticker dengan muka marah. Ruika tidak membalasnya, menutup layar halaman chatnya dan masih belum ada tanda-tanda balasan dari Shoki. Akhirnya Ruika memutuskan untuk membeli beberapa bahan makanan, ia ingin memasak untuk Shoki. Tidak bisa dibilang jago sih, tapi paling tidak makanan yang ia buat selalu dipuji oleh Shoki.

Tidak sampai sejam kemudian Ruika sudah kembali ke apartemen Shoki kali ini, dan mulai memasak untuk Shoki. Menu malam ini sup daging dan sayuran yang biasanya memang ia masakkan untuk Shoki. Karena ingin membuat kejutan Ruika tidak memberitahu Shoki. Ia yakin Shoki memang biasanya kembali dulu ke apartemennya sebelum ke mansion Ruika. Setahun hubungan mereka membuatnya hapal betul dengan kebiasaan Shoki ini.

‘Aku akan pulang secepat aku bisa’ balas Shoki satu jam kemudian. Ruika tersenyum, saat membacanya. Sambil menunggu Ruika menonton televisi, memindahkan satu channel ke channel lain tapi tidak ada tayangan yang membuatnya tertarik. Jarum jam pendek di jam dinding pun terus melaju, Ruika mulai khawatir karena sama sekali belum ada tanda-tanda kepulangan dari Shoki, ia sudah mencoba menelepon ponsel pria itu tapi nihil, belum ada jawaban sama sekali.

Klik. Pintu terbuka dan Ruika segera beranjak dari sofa, mendekat ke arah pintu untuk mengagetkan pria itu.

“Kejut…an…” senyum Ruika memudar sepenuhnya. Shoki berdiri di hadapannya, tapi tidak sendiri, bersama dengan Akane.

“Yasutaka-san,” gumam Akane, terlihat benar gadis itu kaget melihat Ruika di sana.

“Ruika, ada apa di sini?” Shoki terlihat sama gugupnya.

Mata Ruika terasa panas, hatinya sakit sekali hingga dadanya bergemuruh seakan-akan ia sulit bernapas saking emosinya. Ruika berbalik, mengambil ponselnya dan berlari keluar. Shoki mengejar Ruika, menarik lengan gadis itu.

“Ruika! Dengarkan aku dulu!” Shoki mati-matian menahan lengan Ruika yang berkali-kali mencoba melepaskan cengkraman tangan Shoki.

“Aku ingin sendirian!” air mata Ruika mengkhianati dirinya, tangis Ruika tidak bisa lagi dibendung, “Lepaskan aku!” Ruika menarik tangannya, berlari ke arah halte bis dan segera naik tanpa mengecek jurusannya. Dia hanya butuh lari dari Shoki. Hanya itu.

***

Aika mengecek lagi pantulannya di cermin, dia tidak mabuk, dan pemuda di luar yang sedang merokok itu juga tidak mabuk, well, pemuda itu memang minum alkohol cukup banyak, tapi dari gerak-geriknya pemuda itu sama sekali tidak mabuk. Aika yakin. Dan sekarang mereka di hotel, entah setan apa yang membuat mereka akhirnya berakhir di hotel.

“Aika… kau baik-baik saja?” sebuah ketukan di pintu membuat Aika sedikit terlonjak.

“Uhmm.. iya… aku baik-baik saja,” jawab Aika, mengambil jubah mandi yang disediakan hotel dan keluar menatap pemuda yang sejak tadi ia pikirkan kini ada di hadapannya, “Mau ke kamar mandi?” tanya Aika, gugup sekali padahal mereka sudah melakukan lebih dari sekedar pandang-pandangan seperti ini.

Pemuda berambut pirang terang itu menggeleng, “Aku hanya mau memastikan kau tidak pingsan di dalam,” dan gerakan selanjutnya, Aika belum sempat membalas karena bibir pemuda itu kini sudah mampir di bibirnya.

Aika mendorong bahunya pelan, “Uhmm… gak capek?” tenggorokannya terasa sangat kering, “Aran…” Aika protes lagi karena Aran belum menyerah dengan mencium leher Aika.

“Malam masih panjang,” ucap Aran, melihat jarum jam dinding yang masih menunjukkan pukul sebelas malam.

Setelah makan siangnya yang diganggu Aran, pemuda itu mengajaknya nonton sebagai permintaan maafnya. Aika tidak punya alasan untuk menolak, toh dia juga sedang tidak ingin pulang mengingat siapa yang harus dia hadapi jika pulang ke rumah, Akane juga bilang dia masih harus kerja dan meminta Aika tidak memberitahu Sanada karena dirinya akan dijemput Shoki, maka hari itu secara tidak sengaja mereka pun kencan. Aran juga mentraktirnya makan malam, obrolan mereka mengalir tanpa canggung, walaupun menyebalkan ternyata Aran adalah partner diskusi yang cukup menyenangkan.

“Kamu ngajak kencan aku, gak ada kerjaan lain?” tanya Aika saat mereka sudah selesai makan, “Bukannya biasanya kamu punya banyak teman?” seingat Aika dia jarang sekali melihat Aran sendirian, baik di SMA maupun saat kini mereka sudah kuliah. Aran selalu dikelilingi oleh teman-temannya.

“Hari sabtu begini semuanya sudah punya acara,” jawab Aran, tangannya memainkan jarinya di atas gelas tinggi berisikan champagne itu, “Aku tidak pernah membicarakan masalahku dengan mereka, jadi ya… malas saja kalau harus berbicara dengan mereka saat sedang begini,”

Aran bilang mulai hari ini dirinya diberi kartu kredit oleh Ayahnya dan berencana berfoya-foya sendirian sampai bertemu dengan Aika tadi siang.

“Sebenarnya kamu memikirkan soal Ayahmu itu cukup serius ya?” tanya Aika, saat itu Aran menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

Aran menggeleng, “Mungkin, rasanya membingungkan, aku tidak bisa merasakan sayang padanya apalagi mengingat sulitnya hidup ibu sebelum akhirnya dia menginginkanku lagi. Aku kerja hampir setiap hari saat SMA sampai kuliah, ibuku harus bekerja di dua tempat berbeda agar aku bisa kuliah lalu sekarang orang itu kembali tapi Ibuku bisa memaafkannya begitu saja,” Aran tersenyum sinis, “Tidak masuk akal saja sih, alasan ibuku karena dia ingin aku akhirnya bisa merasakan memiliki Ayah, sayangnya aku merasa justru aku hanya punya bos, bukan Ayah,” Aika tidak tau kalau Aran punya masalah seperti itu. Dari dulu image Aran di mata Aika selain playboy adalah pemuda itu selalu bersenang-senang, main dengan teman-temannya, ternyata jauh dari itu semua seorang Aran menyimpan sesuatu yang tidak pernah ia tampakkan, “Kalau begitu ini saatnya Aika-chan menceritakan rahasia nya,”

“Aku? Rahasia apa?” kening Aika berkerut bingung.

“Misalnya kenapa tiba-tiba tadi kau muncul di cafe dan mukamu suntuk dan seharian ini tetap  tidak terlihat senang?” Aran tersenyum karena melihat ekspresi wajah Aika yang seperti tertangkap basah.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Aika, langsung meneguk air mineral yang memang sengaja dia pesan tadi.

Tak disangka Aran langsung tertawa terbahak-bahak, untunglah mereka ada di runagan eksklusif sehingga kemungkinannya tawa itu mengganggu pengunjung lain hampir nol persen, “Kimura Aika tiba-tiba saja dengan impulsifnya ikut aku, kukira kau membenciku? Pasti ada alasan sampai kamu malas pulang ke rumah, kan?”

Aika menunduk dan entah kenapa dia jadi ingin menceritakannya, mungkin karena Aran juga menceritakan rahasianya, Aika yakin pemuda itu tidak akan membocorkan rahasianya.

“Ah… klasik, cinta bertepuk sebelah tangan,” ucap Aran setelah Aika selesai menceritakan masalahnya dengan Sanada dan seorang wanita yang tidak dia ketahui siapa.

“Jangan mencibirku!” tukas Aika, kesal dengan senyum menyebalkan Aran yang lagi-lagi ditunjukkannya. Pemuda itu hanya terkekeh, menahan tawanya, “Memangnya belum pernah patah hati? Hmmm… kayaknya gak ya, ada juga kamu yang bikin banyak cewek patah hati!” pikiran Aika sesaat langsung menuju ke Akane yang pernah menangis sesaat ditolak oleh Aran.

“Boleh percaya atau tidak, tapi aku tidak pernah benar-benar pacaran dengan semua wanita itu,” jawaban Aran sontak membuat Aika bingung, “Aku kan sibuk kerja setiap pulang sekolah, hanya kadang-kadang saja aku bisa main dengan teman-temanku, apalagi kalau punya pacar, waktuku pasti tersita, mereka saja yang suka mengklaim diriku pacarnya, mungkin aku yang salah sikap pada mereka sehingga mereka kadang salah sangka,”

“Masa sih?”

“Ya sudah kalau tidak percaya, ahahaha, sampai sekarang aku hanya mencari kesenangan dengan mereka dan mereka tidak keberatan, aku juga tidak menawarkan lebih, jadi, mutual benefit kan? Mereka bisa bilang aku pacar mereka, toh aku juga tidak pernah menyangkalnya, tapi aku sebenarnya tidak pernah benar-benar punya hubungan serius,”

“Laki-laki sepertimu itu yang kurang ajar!” seru Aika, “Masa kau tidak memikirkan perasaan wanita, sih?”

“Aku kan tidak pernah menjanjikan apapun pada mereka, jadi kalau mereka patah hati ya bukan salahku. Lagipula aku biasanya hanya main-main dengan gadis yang sama-sama cuek denganku, kau lihat sendiri aku menolak Akane-chan karena aku tidak mau membuatnya berharap lebih banyak,” Aran berdehem, meneguk air putih sebelum melanjutkan, “Dia atau mungkin kau juga sama-sama polos, aku tidak tega membuat kalian patah hati,”

“Memangnya aku polos? Tau dari mana?” mata Aika mengerling kepada Aran.

“Ayolah Aika, hanya gadis polos yang patah hati lalu melampiaskannya pada makanan,” jawab Aran, “Aku juga tau dari caramu menghindar saat aku cium tempo hari,”

Aika membelalakan matanya, berani-beraninya Aran mengungkit masalah ciuman yang berefek pada mukanya yang kini terasa hangat, masih jelas diingatannya dan entah kenapa membuatnya malu, “Huh! Sok tau!” ia pun membuang muka dari Aran, malas menanggapi.

Setelah itu mereka memutuskan untuk pulang, Aran mengajaknya naik taksi, “Di mana rumahmu?” tanya Aran ketika mereka sudah masuk ke Taksi tapi belum menyebutkan arah sehingga taksi itu masih diam sejak tadi.

“Aku tidak mau pulang,” keluh Aika.

“Jawabanmu terlalu berbahaya,” kata Aran.

Kening Aika berkerut, “Hah?”

“Kalau di kamusku itu tandanya kau ingin aku bawa ke hotel,” jawab Aran, supir di depan mereka terlihat mengintip lewat kaca spion.

“Kenapa tidak?”

Aran mendesah, “Aika! Aku masih memberi kesempatanmu untuk pulang, aku tidak bisa janji tidak menyentuhmu kalau kita benar-benar ke hotel!”

“Aku tidak keberatan,” ucap Aika, entah kenapa dia menjawab seperti itu lalu begitulah. Terjadilah apa yang kini mereka lakukan di hotel, bahkan Aika masih merasa dia terlalu impulsif, tapi sialnya Aika tidak bisa bohong kalau sentuhan Aran memang memabukkan, dia bisa melihat kenapa banyak wanita yang rela tidak dianggap dan masih menempel saja kepada pemuda itu.

***

“Terima kasih sudah mengantarku pulang,” Kaede menatap Sanada yang ikut turun dari taksi bersamanya, “Mau langsung pulang?”

“Kau yakin tidak apa-apa? Kakakmu ada di rumah?”

Kaede menggeleng, “Dia mengirimiku teks bahwa dia kemungkinan akan menginap di rumah Hazuki,”

Sanada kaget kalau saja dia tidak ingat Hazuki adalah mantan istri kakaknya Kaede, “Oh… kau yakin? Aku bisa tinggal beberapa saat sampai kau benar-benar tenang,”

Tadi, di Rumah Sakit Kaede histeris saat prosedur akan dilakukan dan walaupun sudah ditunda beberapa jam akhirnya dokter memutuskan untuk memundurkannya padahal setelah pemeriksaan dikatakan bahwa Kaede sudah siap.

“Mau minum teh?” tanya Kaede saat Sanada sudah duduk di ruang tengah rumah itu, “Atau kopi?”

“Kopi boleh, arigatou Kaede-san,”

Ketika Kaede memanaskan air, dia memikirkan apa yang terjadi hari ini. Bukankah ini keinginannya sejak dulu? Kenapa tiba-tiba dia jadi penakut begini? Apa yang dia pikirkan? Padahal semuanya sudah bisa selesai dan walaupun tidak 100 persen akan berhasil, setidaknya prosedur kali ini kan lebih mudah dari bayi tabung, tapi dia malah ketakutan seperti orang bodoh. Air matanya jatuh, hatinya ternyata masih belum siap.

“Airnya mendidih,” Kaede kaget ketika melihat tangan Sanada mematikan kompor yang ada didepannya, “Kaede, kau tidak harus selalu terlihat tegar,” isakan tangis Kaede semakin kencang, memenuhi ruangan yang sepi itu, Sanada menarik tubuh Kaede mendekat, dipeluknya wanita itu dengan erat, “Kau akan baik-baik saja, aku janji,”

Kaede masih terus terisak sampai matanya terasa sembab dan dilihatnya kemeja Sanada sudah basah oleh air matanya, “Gomen Sanada-sensei,”

“Lebih baik Kaede-san istirahat,” Kaede menghapus air matanya dengan punggung tangan, “Kalau begitu aku pulang dulu,”

Sanada melepaskan pelukannya namun Kaede menahan lengan Sanada, “Kalau aku minta kau tidak pergi, bagaimana?” keduanya saling bertatapan, Kaede hanya tidak ingin sendirian, dia terlalu merasa sedih sekarang, tidak ingin sendirian.

“Baiklah,”

***

“Ken-chan sudah tidur?” tanya Hazuki ketika melihat Yasui keluar dari kamar Kenichi, menuju ke dapur, “Gomen kau sampai harus menginap,”

Tadi siang setelah selesai pertunjukkan Yasui mengajak Hazuki dan Kenichi untuk makan siang di tempat favorit Kenichi, restoran burger sebagai hadiah karena penampilan Kenichi hari ini baik sekali. Setelah itu mereka pun menemani Kenichi bermain di salah satu pusat perbelanjaan, lalu ketika pulang Kenichi merengek agar Papanya tidak pulang dan harus menginap di sana.

Yasui tersenyum, “Sudah lama sekali rasanya aku meninggalkan tempat ini,”

Apartemen ini memang sejatinya milik Yasui ketika mereka masih bersama. Hazuki malas pindah, lagipula tempat ini sebenarnya sangat strategis dan dekat dengan sekolah Kenichi juga tempat kerjanya sekarang.

“Sudah tiga tahun tepatnya,” ucap Hazuki, “Iya, tiga tahun,” Hazuki menyodorkan sepotong kue coklat yang dibeli Kenichi tadi siang.

Arigatou,” Yasui mengangguk, “Sudah tiga tahun,”

“Sebenarnya aku berpikir untuk pindah, tapi belum menemukan tempat yang sebagus ini dan lebih murah dari ini,”

“Kan aku bilang akan tetap membayarkan sewanya, kau tidak perlu pindah,”

Hazuki menghela napas, duduk di sebelah Yasui, “Kata orang kalau mau maju terus aku harus cepat pindah,”

“Kenapa?” tanya Yasui.

“Tidak bagus terus-terusan di sini bisa-bisa aku jomblo terus!”

Mereka belum pernah sebelumnya membicarakan hal ini, seakan-akan hal ini tabu padahal toh mereka sudah berpisah, begitu pikir Hazuki.

“Jika suatu saat Hazuki menemukan pria lain, pastikan aku harus bertemu dia dulu,” kata Yasui, mulutnya masih setengah penuh dengan kue coklat yang sedang dia makan.

Kaede menatap Yasui, “Buat apa? Memangnya aku peduli kau setuju atau tidak?”

“Aku peduli dia sayang pada Ken-chan atau tidak,” jawab Yasui, “Itu penting, kan?”

Hazuki hanya mencibir, malas menjawab, dia hanya memperhatikan Yasui yang terus mengunyah. Dulu, waktu mereka masih menikah, kegiatan makan malam sambil menonton film ini adalah kegiatan favorite Hazuki dan Yasui. Setelah Kenichi tidur, mereka mengunyah, tanpa harus berbicara satu sama lain pun keduanya nyaman, seakan frekuensi mereka sama dan tanpa perbincangan apapun rasanya terasa bahagia. Hazuki akan bersandar pada Yasui dan terkadang Hazuki sampai tertidur atau keduanya tertidur dengan posisi berpelukan di sofa sehingga keesokan harinya mereka merasa pegal, tapi itu menyenangkan. Jujur saja, beberapa bulan belakangan ini hubungannya dengan Yasui sedikit membaik, mereka sudah jarang bertengkar sampai berteriak satu sama lain.

“Aku tau kau terpesona padaku, tapi jangan bengong gitu,” ucap Yasui menyentil pelan hidung Hazuki. Kadang memang Yasui suka membuat jantungan dengan perlakuannya seperti ini, “Ahahaha, hidungmu!”

“Hah!?” Hazuki menyentuh hidungnya yang ternyata sudah belepotan oleh krim coklat dari kue yang dimakan oleh Yasui, dengan refleks Hazuki mendorong Yasui, “Tissuuee!! Ambilin tisuuu!!” seru Hazuki protes. Alih-alih mengambil tisu, Yasui mengelapnya dengan telapak tangannya yang tidak belepotan oleh krim, “Bersih ga?!” tanya Hazuki galak.

“Bersih kooo…” jawab Yasui, keduanya tiba-tiba sadar bahwa jarak mereka sekarang benar-benar ada di radius cium, tidak lebih dari dua puluh sentimeter, keduanya terpaku satu sama lain, Hazuki hanya bisa mengerjapkan matanya saat Yasui tiba-tiba mendekatinya.

“Mama… Papa…” suara Kenichi yang mendekat ke arah mereka seakan alarm yang menyadarkan mereka.

“Ken-chan!” seru Hazuki spontan mendorong bahu Yasui, “Ada apa? Mau ke kamar mandi?” Kenichi mengangguk sambil mengucek matanya dan menguap, Hazuki segera menghampiri Kenichi, meninggalkan Yasui yang masih bengong.

Apa yang aku lakukan?!!’ seru Yasui pada dirinya sendiri.

***

To Be Continue~

Banyak yang gak muncul… maaf ya… ahahaha~ see you next chap. Diusahakan gak lebih dari seminggu. ^^ COMMENTS ARE LOVE

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Seven Colors (#4)

  1. dindobidari

    Wew kaya’nya kak yas stylish amat ya wahaha kaya’ keluar dari majalah XD macam handsome papa gitu yg mau jemput anak ke sekolah 😍
    Terus aoi…… emang ya ngga bisa jengkel lama2 sama hagi wahaha 😍 frontal sekaliiiiii bisa ngungkapin walopun dalam suasana kaya’ gitu 😂 habisnya hagi ngga peka 😂 ngga kebayang betapa canggungnya entar 😂
    Shoki najsdfhfydkdlduf 😂 tetoooot…… 😂 nambah deh yang cembuyu.. habisnya ruika juga ngga ngabarin sih, jadi salah paham deh..
    Waaaaaw ternyata dek aran lebih ansjdhxhdhdxjdxhdkdh lagi wahaha 😍😂🙈 kok aku kaget sih dia nganu2 aika. Tapi karakternya cocok, ngeselin, sok ganteng, tapi punya sisi gelaaap gitu, suka deh.
    hueheeeee ❤😭 walopun singkat tapi sukaaa sama chemistry’nya sanada – kaede 😭 udah sono nikah sono.. 😭 *lempar penghulu*
    Eh eh kok malah pingin ketawa sih sama adegannya hazu-yas wahaha.. awkward banget.. XD balikan juga nggapapa aku rela XD *sapeelu

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s