[Oneshot] In the Storm

In the Storm

SixTONES Matsumura Hokuto

Kirie Hazuki

SixTONES Kyomoto Taiga

Lyrics: In the Storm – SixTONES (Thanks for a blogger who translate this song)

By: Dinchan, YamAriena, NadiaMiki, Shield Via Yoichi

PicsArt_03-21-09.47.28

Flash, flash, flash of the lightning

Twist, twist, twist comes closer (TRUST ME)

Flash, flash, flash of the lightning (Yeah)

Twist, twist, twist comes closer

Come On!

 

Hokuto menatap pantulan dirinya yang mengenakan jas hitam dengan dasi biru bergaris di cermin, “Sempurna.” ucapnya kemudian tersenyum.

Jarang berpenampilan seperti ini membuat pemuda bernama lengkap Matsumura Hokuto terus menerus memandang dirinya sendiri yang terbias di cermin. Sesekali mata melirik ke arah jam dinding di kamarnya.

Senyum yang sedari tadi menghias wajahnya juga merupakan cerminan isi hatinya. Bagaimana tidak, hari ini, sebentar lagi dia akan melamar pujaan hatinya, Kirie Hazuki. Gadis yang sudah lama menjadi kekasihnya dan sekarang mereka ingin ke jenjang yang lebih serius.

Hokuto melihat ke luar jendela kamarnya, bahkan sang mentari pun ikut tersenyum. Buktinya, hari sangat cerah dan terasa menyilaukan mata. Seperti cahaya lampu sorot yang mengenai mata.

“Hokuto, kau sudah siap, nak?” tanya ibunya dari luar kamar.

Untuk ke sekian kalinya, Hokuto menatap dirinya di cermin, lalu mengangguk mantap, “Sudah, bu,”

Dia berjalan mendekati pintu kamar, membukanya dan segera keluar dari sana.

“Hazuki..” bisiknya, berharap nama itu bisa membuat debaran jantungnya sedikit menjadi normal.

 

It seems they have noticed the time is out

Out! Now let’s escape from this town

Yeah, come on!

 

Hokuto melihat sekeliling dengan gugup. Menerima tatapan dari calon mertua ternyata lebih mengerikan dibanding sekedar di sidang skripsi, atau di interview bos perusahaan.

Di sebelahnya, Hazuki melihat kearahnya dengan tatapan cemas, namun Hokuto mencoba tersenyum menenangkan gadis itu.

“Nak Hokuto, kami boleh tau tanggal lahir dan golongan darahmu?” tanya ayahnya Hazuki.

Hokuto mengangguk, kemudian mengambil kartu identitas dari dalam dompetnya dan menyerahkan pada pria itu.

Ayah Hazuki melihat kartu identitas itu dengan seksama, sebelum menyerahkannya pada istrinya.

Hokuto hanya memperhatikan dalam diam reaksi dari kedua calon mertuanya.

Terlihat sekali keraguan di tunjukkan oleh kedua orang tersebut, yang saling bertatapan penuh arti.

“Nak Hokuto, apa Hazuki pernah bercerita tentang kepercayaan keluarga kami?” tanya nyonya Kirie dengan lembut.

Hokuto memandang sejenak kearah Hazuki lalu kembali melihat dua orang paruh baya tersebut.

“Apa maksud bibi tentang kepercayaan keluarga bibi mengenai ramalan?” tanya pemuda itu memastikan.

Nyonya Kirie mengangguk lalu memandang kearah suaminya yang membalas tatapannya sambil mengangguk.

“Jadi, sebelumnya, kami sempat bertanya tentang lamaran ini dengan peramal keluarga. Kami ingin nak Hokuto tidak berpikiran buruk tentang keluarga kami tentang kepercayaan ini, tapi sepertinya nak Hokuto bukan orang yang tepat untuk putri kami.” ucapnya.

Okaasan!” tegur Hazuki tidak suka.

“Hazuki, kau sudah setuju jika ramalan itu benar, kau akan menuruti kata-kata kami” kata tuan Kirie pada putrinya.

“Tetap saja, ayah hidup di jaman kapan masih percaya dengan ramalan seperti itu?!” Hazuki masih tetap tidak terima.

“Hazuki chan, jangan begitu. Menolak kepercayaan ini sama saja menghina leluhur kita!” tegur nyonya Kirie.

“Maaf sebelumnya,” kali ini giliran ibu Hokuto berbicara, menggantikan putranya yang terlihat sedikit shock dengan penolakan orang tua Hazuki. “Boleh saya tau apa isi ramalan mengenai putra kami?” tanya wanita itu.

Tuan Kirie ingin menjawab namun dering dari ponselnya membuat pria itu izin untuk mengangkat telpon. Akhirnya nyonya Hazuki yang menjawab menggantikan suaminya.

“Menurut ramalan, akan ada dua pemuda yang datang untuk melamar putri kami yang satu akan menjadi jodoh putri kami, namun yang satu akan menjadi penyebab petaka bagi keluarga Kirie. Menurut ramalan itu, pemuda yang datang itu akan lahir di bulan berjumlah genap dengan tanggal lahir kelipatan tiga, juga bergolongan darah B.”

Nyonya Matsumura terlihat terkesiap mendengarnya, semuanya memang merujuk pada putranya yang lahir pada tanggal 18 Juni.

“Putra Kyomoto ada disini!” ujar tuan Kirie pada istrinya.

“Ayah mengundangnya?!” Hazuki semakin tidak terima, apalagi saat melihay seorang pemuda berjalan masuk menghampiri mereka.

Ojamashimasu, Kyomoto Taiga desu,” kenal pemuda itu.

“Hazuki, sebagai gantinya kau akan bertunangan dengan Taiga mulai malam ini!” putus tuan Kirie langsung.

“Tidak, ayah! Aku tidak mau!” ujar Hazuki histeris.

“Hazuki!” tegur nyonya Kirie lagi.

Hazuki menatap kesal pada pemuda Kyomoto itu, “Kau! Keluarkan KTP mu!!” perintah Hazuki. Kembali terdengar nada tidak kesukaan dari ayahnya yg menegur, namun Hazuki tidak peduli.

Pemuda Kyomoto itu lalu mengeluarkan KTP nya, dan langsung di rebut oleh Hazuki. Mata gadis itu melebar saat membaca kartu identitas tersebut.

Dua pemuda, satu ramalan. Seperti ramalan itu memang ada dan kini nyata di hadapannya. Tertulis di kartu identitas di tangannya, 3 Desember, golongan darah B.

Satu lagi pemuda lahir di bulan genap dengan tanggal kelipatan tiga dan bergolongan darah B.

“Tidak ada jaminan kalau ramalan ini diperuntukkan kepada Hokku!!” seru Hazuki spontan, menatap kedua orang tuanya.

Ayah terdiam sesaat. Ternyata benar, Kyomoto Taiga pun memiliki ciri yang sama dengan pemuda yang dibawa putrinya. Tapi Masaki adalah sahabat lamanya, mereka selalu bersama sejak kuliah dan saat putra Masaki lahir, mereka sudah sepakat untuk menjodohkan anak-anak mereka.

“Tidak Hazuki, Ayah yakin Taiga-kun bukanlah orang yang dimaksud oleh ramalan ini,” jujur saja ia tidak yakin, tapi ini semua demi Masaki.

“Ayah tidak adil!!” Hazuki beranjak, menarik tangan Hokuto untuk mengikutinya, hanya dalam hitungan detik keduanya sudah keluar dari rumah.

 

Covered with the darkness of night

I’ll break & kick the door

Take you heaven, yeah

Before one awares you’ll follow me, surely

Believe me, keep on running GO!

 

Hokuto menarik tangan Hazuki, gadis itu berhenti berlari, dan menghambur memeluk kekasihnya itu.

“Ayah tidak adil!!” tangisnya tidak bisa lagi ia tahan, sementara Hokuto hanya bisa menenangkan gadisnya.

“Kurasa orang tuamu tidak salah, mereka pasti khawatir anak gadisnya tidak bahagia bersamaku,”

Hazuki menggeleng, “Tidak mungkin!! aku selalu merasa bahagia bersamamu!”

Hokuto mempererat pelukannya, “Begini saja, kita akan mencari tau, siapakah yang dimaksud ramalan itu, okay?”

Hazuki mengangguk, masih membenamkan wajahnya di dada bidang Hokuto, tempat ternyaman untuknya.

“Tapi kau harus janji, kalau itu terbukti aku, Hazuki harus menerima perjodohan itu, oke?”

Dengan enggan Hazuki mengangguk pelan, berdoa dalam hati kalau ini semua tidak akan terjadi.

 

Even if the light is taken away (I can see you)

I hold you, I kiss you

Let’s start on a journey

 

Siang itu Hazuki dan Hokuto segera pergi kesebuah perpustakaan, walau sebelumnya ibu dan ayah Hazuki melarang namun tetap saja Hazuki nekad pergi.

Mereka menelusuri, membaca setiap buku yang menyangkut tentang ramalan. Namun apa yang mereka baca belum menemukan titik terang untuk menemukan siapa yang akan menjadi jodoh Hazuki.

“Ah, mataku lelah,” ujar Hokuto menopang pipinya dengan tangan, selama tiga jam tanpa henti membaca. Membuat mata pria itu lelah, tentu saja.

Dua buku tebal sudah ada di atas meja mereka, tidak peduli akan ucapan Hokuto, Hazuki masih tetap sibuk membaca.

Melihat tingkah Hazuki yang menurutnya sangat mengesankan untuk Hokuto refleks ia tersenyum dan mengelus kepala Hazuki dengan pelan.

Sangat senang mengetahui bahwa ramalan itu sangat penting dan Hazuki berharap bahwa ialah jodohnya.

Merasa terganggu, Hazuki menoleh ke arah Hokuto dan menatapnya bingung.

Aneh karena tiba-tiba Hokuto mengelus kepalanya, biasanya yang gadis itu tahu Hokuto akan melakukan hal romantis disaat-saat tertentu saja.

“He? Kenapa?” tanya Hazuki heran.

“Tidak, hm… Ano.. tidak lapar?” tanya Hokuto sambil menggaruk tengkuknya.

Namun seperti tidak mendengar pertanyaan dari Hokuto, gadis itu sedikit bergumam.

“Aku sudah banyak membaca berbagai buku ramalan, dan banyak yang mengatakan kalau angka 3 itu sial,”

“Jadi?” Hokuto malah bertanya, otaknya belum sampai dengan apa yang di maksud oleh Hazuki.

Kesal, Hazuki mencubit lengan Hokuto “Akh, itta!”

“Sadar, tidak? Tanggal lahir Taiga itu 3, dan tiga itu dari kesialan…” Hazuki sedikit berpikir, “tapi ini belum akurat…”

“Kita cari cara lain,” setitik cahaya telah ditemukan oleh Hazuki.

Dan mereka akan kembali mencari cahaya itu hingga menemukan cara keluar.

Mereka berjalan keluar dari perpustakaan. Sebenarnya Hazuki tidak ingin, tapi Hokuto memaksa agar segera makan siang. Pemuda itu mana mungkin mau membuat ‘calon istri’-nya sakit karena sibuk mencari kebenaran. Tidak ada pilihan selain makan di cafè atau di restoran. Kembali ke rumah Hazuki sama saja seperti memancing peperangan kedua belah pihak, sementara rumah Hokuto jauh jaraknya dari kota.

Hazuki menatap tangannya yang digenggam Hokuto dengan sangat erat. Hazuki yakin dibalik sikap tenang Hokuto, ia hanya ingin membuat Hazuki merasa semua akan baik-baik saja.

 

I’ll protect you IN THE STORM

IN THE STORM

Don’t let go of this hand

Somehow it’s not scary (Be with you, you know?)

Stay like this IN THE STORM

IN THE STORM

Even if I take you away to the place where nobody’s in it

Not bad… it’s not bad

 

Lantunan instrumen mengalun merdu, membuat suasana syahdu. Namun ada satu gadis yang terlihat begitu masam wajahnya.

“Ada apa? Kau tidak suka makan disini?” suara bariton dari pemuda Kyomoto bertanya.

Hazuki mendengus. Bagaimana tidak kesal, dia baru saja pulang dari kantornya dan tiba-tiba diseret ibunya masuk ke kamar kemudian di dandani tanpa memberikan penjelasan sedikitpun. Disinilah Hazuki sekarang, di restoran mewah yang dia yakin sudah lama dipesan oleh Taiga—tapi dia tidak peduli akan hal itu.

“Aku suka tempatnya, tapi tidak dengan kau!” ucapnya ketus.

Taiga tidak begitu ambil pusing dengan sikap Hazuki yang tidak menerima kehadiannya sama sekali.

“Apa… yang membuat pemuda Matsumura itu menarik untukmu? Kau tau kan, kita ini sudah dari kecil bersama dan saling mengenal—”

“Kau tidak tau apa-apa tentangku.” potong Hazuki, “Hokuto lebih darimu dari segala hal. Sudahlah, aku tidak mau berlama-lama bersamamu. Aku pulang saja.”

Hazuki beranjak dari duduknya dan melangkah ke luar. Namun pergerakannya terhenti karena Taiga menarik tangannya.

“Lepaskan!” protesnya.

“Tidak. Ini kencan kita, le—”

Hazuki meronta, “Aku tidak mau!”

“Aku juga tidak,” Taiga mengeratkan genggamannya di lengan Hazuki, membuat gadis itu merasa kesakitan.

“Lepaskan dia,”

Tiba-tiba sebuah tangan ikut menarik tangan Hazuki ke arah gadis itu, menjauhi Taiga.

“H-hokuto…”

Hokuto tersenyum kecil, kemudian menatap Taiga yang melotot, “Dia tidak mau bersamamu, kenapa kau memaksanya?”

“Kenapa?” Taiga menatap nanar pemuda itu, “Kenapa kau ada disini?!”

Hokuto kembali tersenyum tipis, “Dimana Hazuki berada, aku pun ada disitu. Karena aku akan selalu melindunginya.”

Hazuki menatap kedua pemuda itu bergantian. Dia bisa melihat sebuah aura mengerikan antara keduanya.

Taiga menghempaskan tangan Hazuki yang digenggamnya, “Kali ini aku biarkan kalian bersama, untuk selanjutnya akan kulaporkan agar pernikahan kami secepatnya dilaksanakan.”

“Jangan bermimpi terlalu cepat, Taiga-kun. Sebelum itu terjadi, aku dan Hokuto akan membuktikan kalau yang ada di dalam ramalan itu adalah kau. Bukan Hokuto.”

Hazuki melangkah menjauh dari Taiga sambil mengandeng Hokuto. Taiga yang melihatnya hanya bisa mengepal tangannya dengan kuat.

Taiga tidak berkata apa-apa dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Namun tidak menjalankan benda itu setelah dinyalakan, tetapi sibuk berkutat dengan ponselnya sendiri. Pemuda itu membuat sebuah panggilan.

“Aku baru saja memberikan detail yang harus kau lakukan melalui email. Aku ingin eksekusi rencananya dilakukan juga hari ini!” ucapnya

“Tentu saja bos. Tapi anda tentu tidak lupa dengan harganya bukan?”

Taiga mendengus mendengar suara lawan bicaranya, “Lakukan saja dan rekeningmu akan bertambah besok pagi.”

Setelahnya Taiga langsung memutuskan sambungan, barulah dia menjalankan mobilnya dari tempat itu

“Lihat saja Hazuki, kau akan jadi milikku cepat atau lambat,” dengus pemuda itu.

 

Flash, flash, flash of the lightning

Twist, twist, twist comes closer

Flash, flash, flash of the lightning

Twist, twist, twist

 

“Hazuki? Kau baik-baik saja?” Hokuto heran melihat gadis disampingnya ini hanya diam sedari tadi. Mereka saat ini sedang berada di cafe lainnya dan kembali membaca mengenai perbintangan yang mereka pinjam. Tetapi Hazuki yang biasanya paling bersemangat kini terlihat lesu dan hanya membolak balik halaman buku itu tanpa arti.

“Entahlah, hanya saja aku takut jauh-jauh darimu,” jawab Hazuki lirih.

Hokuto tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada lengan Hazuki.

“Lekas selesaikan makanmu, setelah ini kau harus pulang. Kalau terlalu malam nanti di cari lagi sama ayah dan ibumu.” ujar Hokuto.

Hazuki mengerucutkan bibirnya namun menurut pada Hokuto.

Tidak lama kemudian mereka berdua sudah kembali berjalan bersisian dengan tangan yang saling bertaut. Semua terasa benar bagi mereka sebelum malapetaka itu terjadi.

Tiba-tiba Hokuto di pukul dengan keras di pundaknya dan membuat kesadaran pemuda itu menipis seketika. Satu yang dipikirkannya saat melihat Hazuki yang berteriak sembari di seret paksa orang-orang tidak di kenal, masuk ke dalam mobil van hitam. Saat mobil itu mulai menjauh dari pandangannya, satu sosok berjalan menghampirinya dan berjongkok tepat di depannya sambil menyeringai kejam.

“Kali ini kau tamat Matsumura Hokuto. Kirie Hazuki akan menjadi milikku dan kau akan disalahkan tentang apa yang terjadi malam ini,” ujarnya.

Seberapa keraspun dia berusaha, sepertinya kesadarannya sedang tidak bisa diajak kompromi. Namun sebelum kegelapan mengambil alih, satu yang di pikirannya adalah untuk membawa Hazuki kembali dari Kyomoto Taiga.

“Pilih mana… Hokuto mu kenapa kenapa atau menikah denganku?” pertanyaan itu yg langsung terlontar dari seorang Taiga ketika Hazuki membuka matanya dan kaget ketika melihat tubuh pemuda itu tepat berada di atasnya. Gerakan kecil yang ia usahakan pun sia-sia, kedua tangan dan kakinya sudah diikat ke ranjang, “Jawab dong sayang,” tangan Taiga mampir ke pipi Hazuki, secara spontan gadis itu menoleh untuk menghindari sentuhan Taiga.

“Mana Hokuto?!!” Hazuki setengah berteriak, panik karena tidak bisa menemukan Hokuto di ruangan itu.

“Dia… aman.. asal kau mau menjadi istriku,” jawab Taiga.

Tiba-tiba terdengar suara ringtone ternyata ponsel Taiga lah yang berbunyi.

“Ya, bibi? Iya… aku juga sedang mencarinya, kemarin malam katanya Hazuki-chan berangkat dengan pacarnya itu, tapi aku juga tidak bisa menemukan Hazuki-chan di apartemen milik Hokuto,” Hazuki hampir akan berteriak ketika sadar yang menelepon adalah Mamanya tapi gerakan Taiga lebih cepat membungkam mulut Hazuki dengan tangannya, “Iya bibi, nanti kalau ada kabar aku segera menelepon,” Taiga memutuskan sambungan itu, kembali menatap Hazuki, “Gimana? pilih mana? pilihannya tidak sulit, kan?”

Hazuki ingin menangis tapi dia merasa tidak akan ada gunanya sekarang. Dimana Hokuto?

Mentari telah bersembunyi dari peradabannya, diganti dengan bulan yang kini menerangi terangnya malam, bintang-bintang bertaburan menghiasi langit.

Sangat indah, namun malam ini tak seindah perasaan Hokuto yang terus berkeliling dikota besar Tokyo, mencari Hazuki, harus kemana lagi ia melangkah?

Kemana lelaki brengsek itu membawa gadisnya? Mencoba menghubungi Hazuki pun percuma handphone nya tidak aktif.

Hokuto terduduk disebuah taman untuk mengistirahatkan tubuhnya, karena terlalu lelah berlari dan berjalan. Bahkan sejak Hazuki pergi dibawa oleh Taiga belum ada setetes air ataupun sesuap makanan yang masuk ke tenggorokan Hokuto, membuatnya lemas namun dikalahkan oleh kekhawatiran Hokuto terhadap Hazuki,  ia sangat khawatir.

Sungguh, bagaimana tidak? Ini kasus penculikan. Gila!

Lama ia terdiam disana, mengatur napasnya sambil berpikir harus kemana lagi ia melangkah untuk menemui gadisnya? Namun seketika sebuah ide untuk datang kerumah Hazuki terlintas diotak Hokuto.

Iya, siapa tahu saja Taiga membawa Hazuki kembali kerumah, itu hal bagus bukan? Baru memikirkannya saja sudah membuat pemuda itu tersenyum sendiri.

Tak mau membuang waktu banyak Hokuto segera berlari menuju rumah Hazuki, ah mungkin naik bus akan lebih cepat.

 

SHOW ME

Right, even if we both are separated

even it brings a temptation and fears

I’ll never lose sight of you

Even in a storm, Yeah

 

Kaki pemuda itu sedikit berat untuk melangkah mendekati pintu rumah Hazuki, ia menarik napas dalam lalu dihembuskannya.

Di dalam pikiran Hokuto hanya ada satu, berharap kalau gadisnya benar-benar ada di dalam rumah dan baik-baik saja, semoga.

Setelah merasa tidak gugup lagi, Hokuto mulai mengetuk pintu rumah keluarga Kirie.

Pintu perlahan terbuka dan terlihat sosok parubaya seorang perempuan, ah ibunya Hazuki, refleks Hokuto tersenyum.

Ano.. selamat malam, bibi apa ada Hazuki?” tanya pemuda itu pelan, namun sepertinya respon dari ibu Hazuki tidak baik.

Hokuto sedikit mengerutkan keningnya “Ano, Hazu—”

“Bukannya anakku ada bersamamu?” Pertanyaan dingin itu keluar dari bibir ibu Hazuki, membuat tubuh Hokuto menegang.

Memang iya kan… Tapi, “Tadi pagi memang bersamaku lalu saat—”

“Tidak usah berlagak bodoh, kembalikan anakku!” ujarnya sedikit menjerit.

“Tapi, dengarkan aku dulu—”

“Kembalikan! Jelas-jelas kau bersama Hazuki tadi, lalu kemana dia?! Kembalikan! Taiga bilang Hazuki hilang saat bersamamu!” Mendengar kejelasan dari ibu Hazuki membuat Hokuto terdiam.

Telinganya merasa tuli seketika, bahkan ia tak sadar bahwa ayah Hazuki sudah datang dan ikut mengusirnya kemudian menutup pintu tanpa permisi lagi.

Taiga mengatakan kalau Hazuki hilang saat bersama nya?

Kaki pemuda itu menyeret tubuhnya lemas, lalu terduduk di aspal.

“TAIGA SIALAAANNN!” teriak Hokuto geram atas perbuatan Taiga.

Tidak punya pilihan lain, Hokuto pun menyeret kakinya menuju sebuah kedai untuk mengisi perutnya yang bukan berbunyi saja, bahkan sudah sangat sakit. Begitu juga rasa nyeri di sekitar pinggangnya karena tidak minum seharian.

Selama mengisi tenaga, Hokuto terus berpikir. Mencari cara agar bisa menyelamatkan Hazuki dari Taiga yang mengerikan itu. Tidak mungkin baginya untuk berjalan sendiri. Bisa saja kalau dia langsung berhadapan dengan Taiga, tapi laki-laki itu mempunyai kaki tangan yang Hokuto tidak tahu berapa banyaknya. Kalau salah langkah, Hokuto bukannya menyelamatkan Hazuki, malah membuat gadis itu semakin kerepotan.

“Ck, kenapa susah sekali?!” gumam Hokuto sambil menggaruk kepalanya kasar. Bagaimana cara membuktikan kalau Taiga adalah lelaki dalam ramalan itu? Apa pria Matsumura ini harus menggunakan kekuatan magis dan segala macamnya juga? Tapi… Bagaimana?

Mata Hokuto sedikit melebar saat teringat sesuatu. Teringat dengan wanita kartu tarot yang pernah dia temui bersama temannya waktu SMA, apa wanita itu bisa menolongnya? Entah, Hokuto meragukan itu.

Kaki Hokuto sampai di sebuah cafè. Bukan menu cafè itu yang di incarnya, namun seorang karyawan yang bekerja di sana. Di dalam hatinya, dia berharap wanita itu masih bekerja di sana.

Irasshaimase!” sebuah suara menyambut Hokuto saat pemuda itu sudah berada di dalam.

Dengan cepat Hokuto mencari orang itu dan sebuah ingatan tentang wajah wanita itu terlintas di otak Hokuto. Tidak ada yang berubah dari wanita itu, masih tetap sama bahkan tampaknya terlihat awet muda.

“Kau… Apa kau bisa melihat keadaan seseorang dengan kartu tarot-mu itu?”

“Eh?” Wanita itu menatapnya bingung, “Maaf, tapi kartu tarot tidak bisa melihat hal-hal seperti itu.”

Mendengar itu, Hokuto menghela napas berat, “Benar juga ya…” ucapnya pelan, bahkan terdengar seperti bisikan.

“Kau terlihat stres, bagaimana kalau kau duduk dulu dan menceritakan apa yang terjadi? Mungkin saja aku bisa membantumu,” Wanita itu tersenyum lembut. Hokuto menurut, ia mengangguk kemudian mencari tempat duduk yang nyaman untuknya.

Tak berapa lama, wanita itu membawa secangkir teh dan meletakkannya di depan Hokuto, pemuda itu kebingungan.

“Tenang, itu Lavender Tea. Wanginya bisa meredakan stres,” jelasnya, kemudian duduk di depan Hokuto.

Hokuto menyesap sedikit teh itu, benar, harum dari teh itu membuatnya sedikit rileks.

“Jadi, apa yang terjadi sampai membuatmu stres seperti ini?”

Hokuto menatap wanita itu, apa benar dia akan cerita dengan wanita ini? Apa memang bisa membantunya?

“Begini…” Pemuda itu pun mulai bercerita dari lamarannya yang ditolak keluarga Kirie karena sebuah ramalan, calon tunangan Hazuki yang menculik Hazuki dan menyebar fitnah tentang Hokuto ke keluarga Hazuki.

“Kau sudah melewati hal-hal yang berat ya…” ucap wanita itu prihatin dengan Hokuto, “Kau sudah mencoba menghubungi pacarmu?”

Hokuto mengangguk, “Sudah, sejak tadi malam.”

“Jadi sekarang belum?” Hokuto menjawab dengan gelengan, “Bagaimana kalau kita buat sebuah rencana?”

“Rencana?”

“Iya! Begini, kau telepon saja pacarmu sekarang. Pasti si penculik yang menjawabnya. Aku akan merekam percakapan kalian kemudian menemui orangtua pacarmu untuk menjelaskan, sementara kau bisa mencari tempatnya melalui GPS kan?”

Ah, benar! Kenapa tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya?, tanya Hokuto dalam hatinya.

“Baiklah, aku setuju dengan rencana ini.”

 

HA HA!

Last night, you said “Scary”

From now on we spin the Story

No need to worry, no need to “Sorry”

I swear to you on your lips it’s a promise

Even in the rough times

Spread sail as high as you can

Take out the ship named courage

I’ll save you babe, i’ll save you babe

IN THE STORM TONIGHT

 

Pemuda itu mengambil ponselnya dari saku celananya, ia menatap wanita itu sebentar. Seakan bertanya apakah sudah saatnya mereka bertindak, wanita itu sudah memegang handphone-nya juga untuk merekam, ia mengangguk memberi Hokuto sinyal.

“Halo? Hazuki?” tanya Hokuto saat panggilannya dijawab.

“Halo, Hokuto-kun! Apa kabar? Masih mencari Hazuki-chan? Tenang dia aman denganku, iya kan sayang?”

“Tidak! Hokuto, tolong aku! Aku takut!”

Mata Hokuto sedikit melebar, dia mulai panik mendengar teriakan Hazuki. Tapi wanita yang ada di depannya tetap menyuruhnya untuk tenang.

“Tenang, Hazuki. Aku akan segera menyelamatkanmu. Bersabarlah.”

“AHAHAHAHAHAHA! Apa? Aku tidak salah dengar kan? Kau mau menolongnya? Untuk apa?? Bahkan kalau kau menolong Hazuki dan membawanya pulang ke rumahnya, kau pasti akan diusir. Karena menurut mereka, kau yang menculik Hazuki, bukan aku! Hahahahaha!!” Taiga tertawa jahat dengan begitu puasnya, “Sayang sekali, Hokuto-kun. Lebih baik kau menjauh dari Hazuki daripada nyawa kalian melayang, hahaha…”

Sambungan terputus. Hokuto tampak mulai sedikit emosi.

“Hokuto-san, tetaplah tenang. Kau pasti bisa menyelamatkannya.”

Setelah menghabiskan tehnya, Hokuto mulai melacak keberadaan Hazuki sementara wanita pembaca kartu tarot itu pergi ke rumah Hazuki dengan misi memperdengarkan rekaman telepon antara Hokuto dan Taiga.

Muka Hokuto terlihat serius. Ini saatnya, apapun yang terjadi ia harus membawa Hazuki pulang. Sinyal GPS milik Hazuki menunjukkan sebuah tempat yang tidak begitu jauh dari tempatnya kini, dan hanya butuh kurang dari tiga puluh menit untuk sampai di sana.

Moshi-moshi?” Hokuto menghubungi temannya, “Juri, kau sedang sibuk?”

“Sibuk? Tidak juga, ada apa Hokku?” seru suara di seberang.

“Aku butuh bantuanmu. Nanti aku akan mengirimkan sebuah alamat dan foto depannya, dalam satu jam, jika kau tidak mendengar kabar dariku, kau harus segera datang dan menelepon polisi!” seru Hokuto.

Chotto matte! Apa yang terjadi?” Hokuto menjelaskan secara singkat keadaannya, dan apa yang akan terjadi jika ia berbuat gegabah akan berdampak kepada Hazuki jika ia gegabah memberitahu polisi, “Tolong aku sekali ini saja, Juri,”

Mochiron. Beri tau aku tempatnya, aku kesana dalam 45 menit!”

Hokuto segera menutup ponselnya dan mempercepat langkahnya menuju ke tempat dimana Hazuki berada. Bangunan yang kini ada di hadapannya adalah sebuah gedung mansion. Ia menatap GPSnya, menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya karena mencari dari satu pintu ke pintu lain akan memakan waktu yang sangat lama. Hokuto melangkah masuk, menuju ke tempat informasi.

Anou saya butuh nomor kamar Kyomoto Taiga-san,” kata Hokuto setelah berbasa-basi mengatakan bahwa dirinya adalah teknisi namun catatan nomor mansionnya tertinggal. Untunglah si resepsionis sama sekali tidak curiga padanya dan memberikan nomor kamar Taiga.

Keluar dari ruang informasi ia segera naik lift, ke lantai dua puluh lima seperti yang dikatakan oleh resepsionis, dia pun mengetik nomor kamar dan lantainya kepada Juri setelah itu. Saat pintu terbuka Hokuto berjalan perlahan, melihat lorong yang kosong hatinya sedikit tenang, ia merilekskan badannya, sedikit pemanasan tidak buruk.

Akhirnya di depan kamar yang dimaksud Hokuto mengetuk pintunya, menarik napasnya, tidak butuh satu menit pintu itu terbuka dan Hokuto melepaskan tendangan serta pukulan tanpa ampun kepada dua bodyguard yang berjaga di sana, punya sabuk hitam karate ternyata berguna juga sekarang. Beberapa kali kena bogem mentah Hokuto masih bangkit, ia mengerahkan tenanganya, hingga akhirnya kedua bodyguard itu tumbang tak berdaya.

Taiga yang saat itu sedang mengawasi Hazuki sendirian mendengar ada keributan di luar kamar membuatnya sedikit penasaran lalu keluar dari kamar yang memang ia sediakan untuk Hazuki.

Namun sebelum itu, Taiga berbicara terlebih dahulu dengan Hazuki yang sedang tertidur dengan posisi tidurnya duduk diikat dengan tali.

Sangat mengesankan bagi Taiga. Baru saja pemuda itu akan menyentuh pipi mulus Hazuki tiba-tiba ada yang memanggilnya.

“Oi, Taiga!!” Suara seorang pria yang tak asing bagi Taiga. Ia berdecih kesal mengetahui siapa yang datang.

Dan yang tambah membuat pemuda itu kesal, teriakan dari sana tadi membangunkan Hazuki.

“Taiga! Keluar kau!!” Ya, benar ternyata ia sudah datang.

Umpatan emosi Taiga gumamkan dengan pelan.

 

I’ll protect you IN THE STORM

IN THE STORM

Don’t let go of this hand

Somehow it’s not scary (Be with you, you know?)

Stay like this IN THE STORM

IN THE STORM

Even if i take you away to the place where nobody’s in it

Not bad… it’s not bad

 

“Hokuto! Kau disana?! Tolong aku tolong aku, Hokuto!!” tak henti-hentinya Hazuki berteriak sambil menangis. Taiga hanya diam, melihat reaksi gadis itu namun dalam diamnya ia sudah menyiapkan sesuatu dibalik punggung.

Tak lama, Hokuto masuk dan langsung menarik Taiga ke tembok lalu menghujamkan bogem mentah ke wajah Taiga. Hingga membuatnya babak belur.

Sedangkan Hazuki sibuk menjerit untuk menghentikan mereka berkelahi.

Hingga akhirnya Hokuto kelelahan sendiri dan membiarkan Taiga merosot duduk di lantai.

“Sudah puas?” tanya Taiga meremehkan, nafasnya tak beraturan.

“Sudah, dan sekarang kau tidak bisa menghalangiku untuk melepaskan Hazuki,”

Sreettt

Mata Hokuto melebar saat ia melihat sebuat pisau yang Taiga lempar keluar kamar, kalau sampai anak buahnya melihat itu. Bisa gawat.

“Coba saja,”

Sesegera mungkin Hokuto berlari kearah Hazuki dan berusaha melepaskan ikatannya.

Langkah kaki seseorang terdengar dari telinga Hokuto, membuatkan semakin terburu-buru untuk melepaskan tali itu walau sedikit susah.

“Hokku! Awas!” teriak Hazuki saat ia melihat anak buah Taiga sudah siap untuk menusuk punggung Hokuto menggunakan pisau itu. Tepat saat itu tali Hazuki lepas seluruhnya dan ia refleks membalik tubuhnya untuk melindungi Hokuto.

DOR!

Tembakan itu melesat tepat dibelakang dada anak buah Taiga dan sukses membuatnya ambruk.

Hazuki berlindung dibelakang Hokuto saat menyaksikan tubuh tak bernyawa itu ambruk di lantai.

Sementara itu mereka lengah dan kesempatan tersebut digunakan Taiga untuk menarik Hazuki dari Hokuto.

“Hokku!!” Hazuki menjerit sambil berusaha melepaskan diri dari sandraan Taiga yang memeluk erat bagian lehernya dari belakang.

Tepat saat itu polisi sudah bermunculan masuk ke kamar tempat mereka berada.

“Jangan bergerak! atau Hazuki akan kubunuh!” Taiga membawa Hazuki sedikit mundur ke belakang sambil mengancam dengan sebilah pisau lagi yang kini berada di leher gadis itu.

“Taiga, nak! Jangan gegabah!” Tanpa mereka sadari orang tua Hazuki sudah ikut masuk disusul oleh si gadis peramal dan juga Juri.

“Persetan! Hazuki milikku! Aku tidak akan membiarkannya jadi milik orang lain. Lebih baik aku membuhuhnya, lalu aku juga akan mati sehingga kami bisa bersatu di dunia sana tanpa ada yang mengganggu!” ujar Taiga.

“Tidak!! Hokku… hiks!” mendengar ancaman orang di belakangnya, Hazuki semakin panik.

“Sst.. diam, sayang!” kata Taiga lagi.

“Tenanglah Taiga, jangan lakukan itu! Kau tau selama ini kami percaya padamu bukan? Jangan rusak kepercayaan kami lebih dari ini.” ayah Hazuki masih berusaha bernegosiasi dengan Taiga demi putrinya.

Sementara itu Hazuki memandang Hokuto hampir menangis, namun pemuda itu menenangkannya dengan isyarat, dan begitu juga saat dia menyuruh Hazuki untuk menginjak kaki Taiga dan menjegalnya, membuat baik Taiga dan Hazuki terjatuh. Kesempatan itu di pakai Hokuto untuk menarik lepas Hazuki dari Taiga lalu menendang jatuh pemuda itu. Setelahnya, para polisi langsung menyerbu tubuh Taiga dan menahannya.

“Lepaskan aku!! Brengsek kau, Hokuto!! Jangan kira kau akan hidup tenang setelah ini!! Hazuki milikku! Aku akan merebutnyaaaa!!” Petugas kepolisian menyeret Taiga yang terus histeris dan meronta keluar dari kamar tersebut.

 

Flash, flash, flash of the lightning (TRUST ME Yeah)

Twist, twist, twist comes closer (I TRUST YOU)

Flash, flash, flash of the lightning

Twist, twist, twist comes closer (TRUST YOU, YEAH)

 

“Kau tidak apa-apa?” Hazuki menggeleng dan langsung menghambur dalam pelukan Hokuto.

“Hazuki…” panggil ibunya.

Hokuto melepaskan pelukan itu lalu membiarkan gadisnya ke pelukan orang tuanya.

“Kau tidak apa-apa, bro?” tanya Juri,

“Baik-baik saja. Terima kasih banyak atas bantuanmu! Jika polisi itu tidak tepat waktu entah bagaimana jadinya?” ujar Hokuto, tersirat nada kelegaan dalam suaranya.

No problem!” lalu keduanya melakukan bro-hug.

“Satu akan menyebabkan malapetaka bagi Hazuki dan yang satu tidak.” tiba-tiba si gadis peramal membuka suara. “Ramalan itu sifatnya tidak pasti, bisa jadi sesuatu itu akan terjadi bisa juga tidak. Bisa jadi sebuah kejadian yang tidak seharusnya terjadi, tetapi karena di pancing terjadi maka terjadilah. Tidak ada yang pasti di dunia ini termasuk ramalan, kecuali ketetapan dari Tuhan. Kalian bisa melihat sendiri akan dampak dari ramalan yang kalian percayai dan sifat kalian yang langsung menilai orang tanpa mau mengenalnya terlebih dahulu. Ku harap kalian bisa belajar dari kejadian ini.” Mendengar kata-kata wanita peramal tersebut, ayah Hazuki langsung memandang pada pemuda itu, membuat Hokuto sedikit gugup, terlihat dari tangan pemuda itu yang terangkat untuk membenarkan poninya.

“Nak Hokuto, maafkan kami karena kejadian tempo hari. Kami bersalah dan itu pasti membuatmu tersinggung.” ujar ayah Hazuki.

“Tidak masalah paman, bibi,  aku tidak begitu mempermasalahkannya lagi. Aku tau sebagai orang tua kalian ingin yang terbaik untuk putri kalian.”

“Jangan panggil bibi, panggil saja ibu, nak,” ujar ibu Hazuki tiba-tiba.

“Eh?” Hokuto sedikit bingung dengan apa yang terjadi.

“Tidak apa-apa kan Hokuto juga memanggil kita ayah dan ibu, yah?” tanya wanita itu pada suaminya.

“Ya, tidak masalah.” Jawab pria itu pada istrinya, lalu beralih pada Hokuto, “Kalau bisa kami juga ingin berbicara dengan orang tuamu sekali lagi, bisa di atur ulang jadwalnya bukan?”

“Tidak masalah pa… eh, ayah,” ujar Hokuto.

“Baiklah, kami berdua akan ke kantor polisi untuk membereskan kasus ini, Hazuki kau minta diantar pulang dengan Hokuto saja, tapi jangan malam-malam ya.” ujar ayahnya.

“Baik ayah,” setelah itu kedua orang dewasa itu pun keluar dari sana.

“Hokuto! Yokatta jyan!” Juri menepuk girang pundak sahabatnya.

“Aku masih belum mengerti apa maksudnya,” ujar Hokuto.

Baka!” Hazuki menjitak kekasihnya itu lalu kembali memeluknya, “Ayah dan ibu sudah merestui kita, bodoh! Kau diminta melakukan lamaran sekali lagi.”

“Eh? Direstui? Beneran? Yattaaaaaa~”

“Kenapa sahabatku ini parah sekali bodohnya!” ujar Juri sambil geleng-geleng.

“Sepertinya peranku sudah sampai disini, aku pamit dulu,” ujar si wanita peramal.

“Ah, terima kasih banyak untuk bantuanmu!” wanita itu mengangguk dan tersenyum, kemudian berjalan pergi dari sana.

“Siapa?” tanya Hazuki bingung.

“Kenalanku, nanti kuceritakan. Sekarang ayo pulang, kalau kemalaman nanti restunya di pending lagi,” kata Hokuto dengan nada bercanda.

“Bodoh!” Hazuki menggandeng tangan kekasihnya.

Mereka bertiga pun keluar dari tempat itu dengan perasaan lebih lega.

THE END

THE END

 

Advertisements

One thought on “[Oneshot] In the Storm

  1. hanazuki00

    mamiiiih dan authortachi….. ..
    kyaaa aku degdegan sampe nangis bacanyaa…
    yaampuuuun ternyata ini dipost 3 ahri lalu yaa ngga apdet banget kenapa otifnya di line nggak amsuk sih huhu
    taiganya ahat tapi kayaknya ngga pantes tapi kok kebayang dia yg sok jahat kayak di kamen teacher huhu
    Hokutooooohhhh pengen nangiiiis huhuu
    pas hokuto dipukul terus ngga makan ngga minum demi nyari hazuki terus ngebayanginnya ngenes gimana gituuu untung ngga ada berdarah darahnya juga

    makaaasiiih yaaa makasiiiiih >////////<

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s