[Multichapter] Seven Colors (#3)

Seven Colors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 3)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.

sevencolors

COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Semalaman kemarin Ruika merasa sulit tidur sampai-sampai ia pun melakukan hal-hal yang tidak biasa dilakukan. Mencuci piring, membersihkan karpet, bahkan tak segan mengeluarkan semua koleksi sepatunya, membersihkannya satu persatu. Tujuannya agar dirinya bisa tidur karena kelelahan, tapi nyatanya matanya tetap tidak bisa terpejam. Semuanya gara-gara semalam, saat Ruika pulang dengan Taksi ke apartemen milik Shoki, ia melihat Shoki dan Akane, bukan hanya mengobrol, keduanya sedang berpelukan. Ruika tidak tau apa yang terjadi saat itu, tapi karena terlalu marah ia kemudian kembali mencari taksi dan melarikan diri ke apartemennya sendiri.

Padahal habis minum-minum tapi otaknya menolak lelah karena terus-terusan memikirkan kemungkinan apa yang terjadi antara Shoki dan Akane membuat kepalanya sakit tapi sama sekali tidak bisa diajak kompromi untuk beristirahat.

Jawaban Shoki selalu klasik jika menyangkut Akane, “Dia itu seperti adikku sendiri, Ruika, aku dan Akane dari panti asuhan yang sama, sejak kecil aku sudah bersumpah untuk menjaganya seperti adikku sendiri!” dulu, Ruika sempat marah besar karena Shoki pernah membiarkan Akane tinggal sementara di apartemennya, sejak saat itu Akane keluar dari apartemen Shoki tapi ternyata kemarin Ruika diberi tahu kalau Akane diterima sebagai guru baru di TK Himawari. Benar-benar, gadis itu tidak bisa membiarkan hidupnya tenang sedikit saja.

Jam di tengah ruangan itu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Ruika memutuskan untuk mandi, mungkin bisa membuatnya sedikit tenang dan bisa tidur pada akhirnya, untunglah sekarang hari sabtu dan dia tidak perlu ke Kantor. Baru saja ia beranjak dari sofa, pintu apartemennya terbuka dan Shoki masuk ke dalam.

Tadaima, Ruika?!” ya, Shoki memang memegang kunci serep apartemen ini, pasti Shoki mencarinya karena semalam ia sama sekali tidak mengangkat telepon dari pria itu.

Karena panik Ruika bermaksud lari ke kamarnya namun baru dua langkah ia pun terjembab karena kakinya terantuk ujung meja ruang TV nya, “AWW!!”

Ruika melihat Shoki berlari ke arahnya, “RUIKA!! Kau baik-baik saja?!” serunya panik.

“Tentu saja gak! Aduuhh, kakiku,” Ruika mengerenyitkan dahinya, rasa sakit menjalar di daerah tulang keringnya dan rasanya lengannya pun memar. Tidak ambil pusing Shoki mengangkat tubuh Ruika seperti seorang putri dan membawanya ke kamar.

“Ngapain lari-lari dalam rumah, sih?” Shoki mengomel sambil menggulung celana training yang digunakan oleh Ruika, memeriksa kaki Ruika, “Tuh kan memar! Sebentar aku ambil kompres dulu,” Shoki membuka jaketnya, lalu beberapa menit kemudian kembali dengan kompresan untuk kaki Ruika, “Lenganmu juga memar?”

Shoki menarik tangan Ruika, memeriksanya juga, “Sedikit, ya?” tanya Ruika, Shoki mengangguk, “Huft~ aku kesal sama Shoki-kun!!” Ruika merebahkan tubuhnya, menutup matanya dengan lengannya, berharap air mata tidak akan jatuh sekarang saat hatinya sakit tapi dengan semua perhatian Shoki dengan mudah ia akan memaafkan pria itu.

“Ada apa sih? Hmm? Kau tidak mengangkat telepon dan tidak mengabarkan kalau akan pulang ke sini?” Shoki menarik lengan Ruika, menatap gadis itu yang jelas-jelas sedang ngambek, “Ruika, jelaskan padaku, ingat kan… aku…”

“Bukan cenayang!” sambung Ruika, “Iya iya aku mengerti,” Ruika menatap mata Shoki yang benar-benar terlihat khawatir, “Semalam… Akane-chan ada di apartemenmu?”

“Astaga! Kau melihatku memeluknya?”

Dan saat Shoki mengatakannya entah kenapa air mata yang sudah susah payah ia tahan sejak semalam kini mengalir, “Gomen!! Aku benar-benar minta maaf Ruika, tapi itu karena Akane-chan terus menangis, aku tidak bisa membiarkannya begitu,”

Shoki bercerita bahwa semalam Akane kembali bermasalah dengan penagih hutangnya, karena jumlahnya belum pas untuk membayar bulan ini, debt collector itu menaikkan harga bunganya, Akane tentu saja menolak dan membayar dulu sebagian tapi karena peraturannya tidak boleh kurang, Akane pun sempat dianiaya oleh pihak penagih, beruntung gadis itu berhasil kabur dan satu-satunya tempat yang bisa ia datangi adalah tempat Shoki, karena tidak mungkin pulang ke Share House dalam keadaan tertekan begitu.

“Ya ampun!” tangis Ruika berhenti seketika dan ia pun segera duduk saking kagetnya mendengar kabar itu dari Shoki, “Tapi Akane-chan sekarang sudah tidak apa-apa?!”

Shoki tersenyum, “Aku sudah mengantarkannya pulang tadi sebelum ke sini, dia baik-baik saja,” Shoki meraih tangan Ruika, “Gomen na Ruika, sudah membuatmu tidak tenang,” detik berikutnya Shoki sudah mencium Ruika dengan lembut, runtuhlah semua keraguan Ruika.

Ruika mendorong bahu Shoki dengan lembut, “Aku ngantuk, aku tidak tidur semalaman,” ucapnya.

“Sebentar lagi aku harus ke TK, nanti sore aku pulang ke sini ya?”

Ruika mengangguk, mulai menutup matanya.

Shoki tertawa dan menarik tubuh Ruika agar berbaring, Shoki menariknya ke dalam pelukan, “Ya sudah sini tidur,” tidak butuh waktu lama, hanya sesederhana dekapan ini Ruika pun mengantuk, merasa aman dalam pelukan Shoki.

***

“Kau anggap aku sahabat seperti apa?!” Aika melipat tangannya di depan dada sementara mengambilkan secangkir teh hangat untuk ‘tersangka’ yang kini duduk di hadapannya, di sana ada Sanada, Hagiya dan Aoi juga.

Gomen Aika-chan,”

“Harusnya kau memberi tahu kami, paling tidak kepada Aika, apalagi ini masalahnya cukup serius,” kata-kata Sanada memang benar, tapi bagi Akane tidak semudah itu mengakuinya, “Mulai hari ini jangan pergi sendirian ya, kalau pergi kerja kau harus pergi dan pulang bersama Hagiya,” Betapa kagetnya seisi Share House ketika Akane diantar pulang oleh Shoki, dan akhirnya pria itu menjelaskan apa yang terjadi pada Akane semalam.

Aoi melotot kaget, sementara Akane hanya mengangguk pasrah.

“Selain itu aku atau Aika yang akan menemanimu pergi, termasuk saat membayar hutangmu,” tambah Sanada.

Aika berjalan memutari meja lalu duduk di sebelah Akane, “Harusnya kau bilang kalau ada masalah seberat ini, aku sebenarnya sudah tau Akane-chan bekerja di sebuah club karena aku pernah membuntutimu, tapi karena Akane-chan tidak pernah cerita, aku pikir asal Akane-chan tidak apa-apa aku masih tenang, tapi hampir diapa-apakan oleh penagih hutang….” Aika menatap Akane, “Pasti Akane-chan takut sekali ya?” Akane mengangguk dan saat itu juga menangis, bayangan dirinya hampir diperkosa semalam tiba-tiba kembali terngiang dan itu sangat menakutkan. Aika memeluk sahabatnya itu, hanya bisa menenangkan karena ia pun tidak bisa membayangkan bagaimana ketakutannya Akane semalam.

“Ya sudah, lebih baik Akane-chan istirahat,” ucap Sanada, menepuk pelan punggung Akane yang masih berada di pelukan Aika, “Tidurlah dulu,”

Arigatou Sanada-kun,” jawab Akane, menghapus air matanya dengan punggung tangan lalu beranjak meninggalkan ruangan menuju ke kamarnya.

Aika juga ikut beranjak, “Aku butuh udara segar, keluar dulu ya,” kata Aika, mengambil tas kecilnya di kamar lalu tak lama keluar dari rumah.

“Aku juga harus berangkat ke TK,” Hagiya mengambil tasnya, ikut keluar bersama Aika.

Gara-gara Ayahnya meminta uang kemarin, jatah untuk membayar hutang pun berkurang. Akane benar-benar tidak habis pikir, mengaku padanya bekerja tapi setiap bulan Ayahnya itu pasti datang, meminta jatah untuk sekedar makan atau membeli minuman kesukaannya itu, tanpa sadar ia sudah jadi ATM hidup bagi Ayahnya. Bulan ini pun seperti biasa di awal bulan Ayah meminta uang, untuk kali ini Akane menolak, karena ia butuh uang untuk membeli beberapa potong pakaian saat mengajar namun dengan muka memelas dan alasan yang tidak bisa Akane bantah, akhirnya Akane memberikan sebagian uangnya, sambil berharap akan ada uang lebih di pertengahan bulan ini. Tapi sayang, karena mulai bekerja di TK, Akane harus mengurangi shift di club tempatnya bekerja. Karena itulah sekarang dia tidak punya uang cukup untuk membayar penagih hutang yang harus ia cicil setiap bulannya.

***

Jam di ponselnya sudah hampir menunjukkan pukul sembilan, tapi Yasui Kentaro belum juga muncul di halaman TK Himawari, ia sudah bilang pada Kenichi untuk menunggu di dalam sementara dirinya akan menunggu di gerbang hingga Papanya datang.

“Papa pasti datang kan, Ma?” tanya Kenichi saat Hazuki mengganti baju Kenichi dengan kostum pangerannya.

Hazuki mengangguk, “Tentu saja, Mama sudah menelepon Papa tadi, sekarang Ken-chan di sini, Mama ke depan dulu ya menunggu Papa,” Kenichi pun mengangguk bersemangat.

Hasilnya, hingga hampir sepuluh menit lagi pertunjukkan dimulai, batang hidung mantan suaminya itu sama sekali belum muncul.

“Kirie-san, sedang menunggu seseorang?” Hazuki menoleh, ah! Guru baru itu ya, seru Hazuki dalam hati, ia melirik apron kuning yang dipakai guru tersebut, Keigo-sensei, tertulis di sana, tapi memanggil nama depan pada orang yang baru dikenal rasanya akan aneh sekali, “Namaku Hagiya Keigo, kalau kau lupa,”

“Ah iya! Ohayou Hagiya-san,” Hazuki mencoba tersenyum, hasilnya mungkin terlihat seperti seringaian, sudahlah ia tak peduli, “Iya aku sedang menunggu seseorang.”

“Sebentar lagi pertunjukannya akan dimulai loh,” kata Hagiya mengingatkan.

Hazuki mengangguk, “Aku tau, tapi ini penting,” katanya menatap Hagiya, “Untuk Ken-chan,”

“Baiklah kalau begitu biar aku temani,” Hagiya kembali mengingat-ingat kapan ia pernah bertemu Hazuki, karena rasanya tidak asing senyum itu baginya, “Ah! Kirie-san sering ke toko buku Yamazaki ya?!” seru Hagiya tiba-tiba ingat, beberapa bulan lalu ia pernah bekerja di sana hanya untuk menggantikan seorang temannya selama dua minggu, karena bayarannya lumayan dia pun bersedia.

“Iya yang dekat stasiun, itu langgananku bila membeli buku, kenapa?”

Hagiya terlihat tersenyum, “Pantas saja aku sepertinya pernah bertemu dengan Kirie-san. Aku pernah bekerja di sana tapi hanya dua minggu, dan Kirie-san beberapa kali datang,” ucap Hagiya dengan sumringah, rasanya seperti mendapatkan jackpot karena berhasil mengingatnya.

“Ohhh begitu ya,” Hazuki mencoba mengingat-ingat tapi ia tidak bisa, “Gomen aku lupa pernah bertemu denganmu,” ucap Hazuki lagi. Melarikan diri ke toko buku adalah kebiasaan Hazuki jika Kenichi sedang liburan bersama Papanya, sekedar mengisi waktu luang yang akhirnya ia miliki.

Sambil tersenyum Hagiya menggeleng, “Tidak apa-apa kok, Kirie-san.”

Tak lama kemudian Hazuki merasa seseorang memanggilnya, ternyata Yasui sudah tiba, “Gomen, tiba-tiba saja ada berkas yang tertinggal di kantor, aku harus mengirimkannya dan jadi tadi aku ke kantor dulu,” jelas Yasui ketika tiba di hadapan Hazuki dan Hagiya.

“Ah iya kenalkan, ini sensei barunya Ken-chan,” kata Hazuki.

Yasui menatap Hagiya, lalu tersenyum, “Yasui Kentaro, aku Papanya Ken-chan,”

“Hagiya Keigo desu,” Oh, jadi ini suaminya Kirie-san, eh? Nama belakangnya berbeda apa mereka sudah bercerai? Pikir Hagiya, tapi dia hanya tersenyum dan tidak mau membahas hal itu. Siapa tau memang ada pasangan yang sepakat tidak mengubah nama belakang mereka, kan?

“Kau telat! Ayo masuk!” Hazuki menarik tangan Yasui, “Kami duluan ya Hagiya-sensei,” kata Hazuki, “Untung kau datang!” seru Hazuki, Hagiya masih bisa mendengarnya dari kejauhan.

“Memangnya kenapa?” balas Yasui.

“Kalau sampai kau membuat Ken-chan sedih lagi, errr… ku cincang nanti!” seru Hazuki.

Yasui hanya tertawa, langkah mereka pun sampai di aula tempat di mana pertunjukkan akan dimulai lima menit lagi. Hazuki kebetulan tadi sudah menyimpan tasnya di depan agar mereka bisa duduk paling depan dan dapat merekam sepanjang pertunjukan.

“Selamat siang, para hadirin semua, kita mulai saja pertunjukan dari kelas Himawari satu, dengan judul Pangeran Kodok! Selamat menikmati!” seru Shoki, semua penonton bertepuk tangan, dan ketika Kenichi masuk ke panggung, ia melihat Papanya lalu melambaikan tangannya dengan bersemangat.

Hazuki menoleh ke arah Yasui, yang kini berkata tanpa suara “Ganbatte ne!” dengan tangan terkepal dan ekspresi yang ceria. Ah ini dia, ini Yasui Kentaro yang pernah membuatnya jatuh cinta, tapi sekarang kemana cinta itu pergi?

***

Dandanannya sudah rapi, Kaede kembali menatap dirinya di cermin, bukankah ia sudah siap dengan semua konsekuensinya? Itu kan yang selalu dia inginkan? Berkali-kali menarik napas tapi tetap saja rasanya sangat berat dirasa. Kakaknya tadi mengajak dirinya ke TK Himawari, katanya Kenichi ada pertunjukkan dan ia sama sekali tidak bisa mengatakan pada kakaknya itu apa yang akan ia lakukan hari ini.

Kaede mengambil ponselnya, meng-scroll satu persatu nama yang ada di kontaknya, menimbang-nimbang siapa yang harus ia hubungi sekarang. Jarinya berhentinya di satu nama, ia menekan layarnya, menunggu sebentar hingga sambungan telepon itu menyambung.

Moshi-moshi?” angkat suara diseberang.

Kaede mengambil napas sebelum berkata, “Sanada, aku butuh bantuanmu,”

Maka satu jam kemudian keduanya sudah bertemu di salah satu cafe, Kaede yang mengusulkan tempatnya karena memang tidak jauh dari tujuan mereka selanjutnya.

“Jadi, hari ini?” tanya Sanada, dua kopi sudah terhidang di hadapan mereka.

“Hari ini USG, melihat apakah sel telurku sudah siap dibuahi atau tidak,” ucap Kaede, suaranya bergetar. Untuk proses pertama ini Kaede menggunakan metode inseminasi, dimana sperma akan dikirimkan ke sel telur dengan kateter.

“Kau yakin?” tanya Sanada, lagi-lagi bertanya dengan serius.

“Entahlah,”

Sanada menatap Kaede, “Lebih baik batalkan saja kalau kau tidak yakin, Kaede.”

Baru kali ini, Sanada dengan lantang memanggil nama depannya, biasanya pria itu memanggilnya dengan nama keluarganya, apalagi jika di sekolah. Kaede menatapnya, menggeleng pelan, “Sudahlah ayo berangkat,” Kaede mengambil tasnya, duluan berjalan keluar dari Cafe diikuti oleh Sanada. Jarak dari cafe itu ke klinik memang tidak begitu jauh dan bisa ditempuh hanya dengan jalan kaki saja.

Klinik yang memang dikhususkan untuk ibu dan anak itu tidak begitu besar namun dari cerita Kaede, Sanada bisa menyimpulkan bahwa klinik ini lumayan lengkap fasilitasnya dan dokternya pun tidak sembarangan. Klinik ini juga mengkhususkan pada bidang fertilisasi, jadi memang tempat yang tepat jika ingin memiliki anak.

“Biasanya sendiri?” tanya Sanada, dan Kaede mengangguk sebagai jawaban, “Orang tuamu tidak tau kau mengikuti prosedur ini?”

Kaede menatap Sanada dengan tajam, “Aku hanya akan memberi tahu mereka saat semuanya sudah selesai, mungkin kalau aku sudah benar-benar hamil,” jawabnya.

“Mengambil resiko sebesar ini? Sendirian?” tanya Sanada lagi, masih heran dengan keputusan Kaede yang menurutnya ‘aneh’.

Kaede menghela napas berat, “Mereka juga tidak akan peduli, kecuali kakakku mungkin. Tapi akhir-akhir ini dia sedang sibuk dan aku juga tau jawabannya akan selalu tidak untuk keputusan semacam ini, jadi lebih baik aku diam sampai semua ini benar-benar sudah terjadi,” jawab Kaede, “Kalau penasaran, Ayah dan Ibuku masih bersama, tapi tidak benar-benar bersama. Karena urusan reputasi sekolah, mereka tidak berpisah tapi tidak juga saling mencintai. Pernikahan mereka benar-benar hanya urusan reputasi dan keuntungan keluarga. Ayah dan Ibuku dijodohkan, diminta untuk melahirkan generasi selanjutnya untuk memimpin yayasan sekolah, kakakku menolak jabatan itu dia tidak ingin jadi pengajar, maka akulah yang mengambil peran itu, aku akan jadi ketua yayasan suatu saat. Demi keluarga,” ucapnya lagi.

Sanada tidak bisa mengerti bagaimana dua orang yang tidak saling mencintai bisa menikah. Di keluarganya keadaan selalu terasa hangat dan walaupun mereka tidak selalu berkecukupan, tapi hatinya selalu bahagia setiap kali mereka makan malam bersama dan sederhana sekalipun.

“Kau akan baik-baik saja,” entah kenapa tangan Sanada bergerak meraih tangan Kaede yang terlihat gemetar, walaupun tidak mau mengakuinya pasti sebenarnya Kaede merasa sangat gugup.

Arigatou,” dan sebagai jawaban bahwa ia percaya pada Sanada, gadis itu pun menyambut genggaman tangan Sanada.

***

Inginnya tidak percaya, tapi pemandangan yang mampir tepat dihadapannya itu tidak salah lagi. Itu Sanada Yuma, dengan seorang wanita yang Aika tidak kenal, masuk ke sebuah klinik bersalin yang kebetulan sekali Aika sedang minum kopi di toko dua puluh empat jam yang tepat berada di depan klinik itu. Saking penasarannya Aika membututi Sanada dan masuk ke klinik, apakah Sanada selama ini punya pacar? Bagaimana bisa ia tidak memberitahu orang rumah?! Mood Aika hancur dan segera keluar dari klinik itu, membawa sejuta pertanyaan di kepalanya dan rasa sakit di hatinya.

Bagi seorang Kimura Aika, Sanada Yuma adalah seseorang yang ia kagumi, walaupun dirinya tidak pernah berani untuk mengungkapkannya. Aika meyakini bahwa Sanada adalah cinta pertamanya, karena baru kali ini lah Aika bisa merasakan kagum dan ingin memiliki pria itu, walaupun Aika tau, Sanada tidak pernah melihatnya seperti itu. Bagi Sanada dirinya hanyalah adik kecil yang harus ia urus, tidak lebih.

Karena tidak tau kemana harus pergi setelah merasa sakit hati dan kelelahan berjalan, Aika masuk ke sebuah bar & cafe yang ia temui tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Sekedar mengisi perutnya, kalau sedang emosi memang bawaannya jadi lapar, pikir Aika. Saat masuk, Aika sedikit terpana melihat cafe yang bernuansa Amerika ini, dia layaknya masuk ke mesin waktu dimana koboi masih ada. Setelah menimbang-nimbang menu yang ia lihat, Aika pun memesan burger dengan tambahan keju dan es coklat, rasanya ia benar-benar bisa memakan apapun sekarang, tak peduli apa kata orang.

Aika mengarahkan pandangannya keluar, kebetulan memang ia memilih meja di dekat jendela agar setidaknya pikirannya teralihkan sebentar tidak melulu memikirkan pemandangan tangan Sanada yang menggenggam erat tangan wanita disebelahnya, siapapun dia. Lamunan Aika terganggu ketika dirasanya ada seseorang yang duduk di hadapannya, ia pun menoleh, seketika ia kaget melihat siapa yang ada dihadapannya.

“Hey, kenapa kita sering sekali ketemu, sih?” ucapnya, di tangan pemuda itu ada segelas besar bir, padahal ini masih siang bolong.

“Ngapain di sini?” tanya Aika, gagal menutupi nada sinisnya.

“Menurutmu?” pemuda itu mengacungkan gelas birnya, nyengir menyebalkan-kalau menurut Aika, dan ciuman malam kemarin pun tiba-tiba mampir lagi di otaknya, membuat selera makannya berkurang drastis.

“Ini masih siang bolong, Abe-san,”

“Aku tidak berencana mabuk juga sih, hanya minum, dan ini hari sabtu,” jawabnya, seperti biasa seenaknya. Tak lama pesanan makan Aika pun datang, Aran tiba-tiba memesan sepiring french fries juga, “makanmu banyak juga ya…”

Aika mengambil burgernya dan mulai makan, ia tidak merasa harus menjaga image nya jika berhubungan dengan seorang Abe Aran, beda sekali sikapnya jika sedang bersama Sanada. Dan kali ini pun Aika memilih untuk tidak menjawab.

“Hanya dua hal yang bisa membuat seorang cewek makan banyak,” Aran mengacungkan dua jarinya, “Satu, dia sedang PMS,” ia melipat satu jarinya, “dan dua, dia sedang patah hati,” kini dilipatnya juga jari yang satunya, “Jadi kamu yang mana?”

Mata Aika otomatis menatap wajah Aran yang menunjukkan senyumnya, tampak tidak terganggu dengan sikap acuh dan sinis dari Aika yang sejak tadi diperlihatkannya, “Jangan sok tau. Masih ada ribuan alasan yang tidak melibatkan PMS dan patah hati,” jawab Aika, “Misalnya aku memang suka makan, bagaimana dengan itu?”

Aran terlihat berpikir, “Iya juga sih, tapi kebanyakan gitu, kan?”

Walaupun Aika tidak menggubris Aran tapi pemuda dihadapannya itu masih asik mengoceh soal hari ini dan bagaimana dia bisa ada di sana, katanya dengar dari temannya kalau cafe ini menjual bir yang langsung datang dari Amerika, makanya dia datang ke sini.

“Kenapa Abe Aran sensitif sekali jika ditanya soal Abe sachou?” tanya Aika ketika Aran akhirnya berhenti mengoceh, dan pemuda itu menatap Aika dengan pandangan yang tiba-tiba dingin, membuat Aika sendiri kaget karena Aran bisa berubah ekspresi secepat itu.

“Kau benar-benar ingin tau?”

Aika mengangkat bahu, “Hanya penasaran saja, dan kalau tidak mau dijawab juga tidak apa-apa,” jawabnya, menyimpan burger yang sedang ia makan di atas piring untuk meminum es coklatnya.

“Karena dia Ayahku yang tidak terasa seperti Ayahku,” Aika mengerenyitkan dahinya tak mengerti, “Ibuku itu istri kedua dari Abe sachou, selama dua puluh dua tahun ini aku tidak pernah tau punya Ayah karena Ibuku tidak pernah memberi tahuku kalau Ayahku masih hidup,” dan kunyahan Aika benar-benar berhenti, “Sekarang tiba-tiba dia butuh anak laki-lakinya karena anak perempuan satu-satunya itu tidak bisa meneruskan perusahaan. Aku sih tidak tertarik meneruskan perusahaan, tapi Ibu memintaku untuk setidaknya mencoba bekerja di sana, dan Ayah berjanji memberikan Ibu tempat yang layak untuk tinggal. Begitulah, ada lagi yang ingin kau ketahui?”

Untuk kali ini Aika benar-benar tidak punya kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Aran, ia bahkan sama sekali tidak menyangka jawaban itu yang keluar dari mulut Aran, “Gomen…” ucap Aika, karena hanya kata itu yang mampu ia ucapkan sekarang.

“Sudahlah, jangan dipikirkan, bir?” Aran menyodorkan gelas bir nya.

Aika menggeleng, “Ini masih siang!”

***

Beberapa kali Akina harus memencet bel rumah itu hingga akhirnya pintu terbuka dan sesosok tinggi berambut hitam itu terlihat mengantuk, “Yo!” sapa Akina.

“Ah… cuma Akina-chan, kupikir siapa,” ucapnya, menggosok matanya yang masih mengantuk, “Masuk,” ucap pemuda itu.

“Ayahmu masih praktek?” tanya Akina, pemuda itu mengangguk, “Ah iya Reo-chan, ini kemarin Ibuku mengirimkan manisan dari kampung, katanya buat paman Nagatsuma juga,” ucapnya, mengeluarkan beberapa toples yang sengaja dibawanya.

Reo mengangguk, “Arigatou Akina-chan,” hubungan keduanya adalah sepupu. Ibu Akina adalah adik kandung dari Ayah Reo, begitulah Akina sering mengunjungi pamannya itu sambil membawakan oleh-oleh jika Ibunya mengirimkan makanan untuknya.

“Saori-chan, mana?” Nagatsuma Saori, yang sekarang sudah berganti nama jadi Yamamoto Saori, kakaknya Reo yang umurnya berjarak lumayan jauh dengannya dan sudah menikah.

“Katanya sih ada konferensi di Okinawa, entahlah,” jawab Reo, yang kini mengambilkan segelas teh hangat untuk Akina. Seperti Ayahnya, kakak semata wayangnya itu pun adalah seorang dokter, sehingga otomatis Reo lebih sering sendirian.

“Bagaimana sekolahmu?” tanya Akina, kini membereskan beberapa peralatan dapur yang berantakan, mungkin alasan utama Akina mengunjungi Reo adalah sedikit merasa iba karena sepupunya ini lebih sering ditinggal sendirian.

Reo terkekeh, “Akina-chan seperti ibuku saja,” Akina ikut terkekeh, “Tidak ada yang menarik di sekolah, aku juga tidak tertarik ambil jurusan kedokteran walaupun Ayah memintanya,” jawab Reo.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin jadi gila kerja seperti Ayah dan Neechan,” sesaat setelah menjawab, ponsel milik Reo berbunyi, dan pemuda itu memperlihatkan nama Saori kepada Akina, “Nih orangnya muncul,” katanya sebelum memencet tombol hijau untuk mengangkat telepon, “Hello??” jawabnya, “Hah? Sekarang? Uhmmm.. aduh malas….baiklah, iya… iya… bawel!” Reo pun menutup sambungannya.

“Ada apa?”

“Aku diminta menjemput Natsumi-chan, aduhh… malas sekaliii…”

“Aku saja kalau begitu yang menjemputnya. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengannya, kan?” Natsumi adalah anak dari kakaknya dan tadi Saori menjelaskan bahwa ibu mertuanya mendadak tidak bisa menjemput Natsumi.

“Benar tidak apa-apa, Akina-chan?”

Akina mengangguk, “Tidak apa-apa kok, sekolahnya masih di TK Himawari, kan?”

Reo mengangguk sebagai jawaban, “Arigatou Akina-chan!! Kau penyelamatkuuuu!!” Akina hanya terkekeh dan akhirnya memakai kembali sweaternya, untuk berjalan keluar. Seingatnya jarak dari mansion ini dengan TK Himawari tidak begitu jauh. Jadi ia memutuskan untuk berjalan kaki saja. Belum ada dua puluh meter dari gedung mansion, Akina merasakan ada yang memanggilnya dari kejauhan, ia pun menoleh.

“Myuto-kun?” seorang Morita Myuto terlihat memakai pakaian olahraga, “Disini… ngapain?” tanyanya.

“Aku tinggal di sini juga,” kata Myuto, menunjuk ke gedung mansion dimana keluarga Nagatsuma juga tinggal, dan Akina hanya bisa ber-oooh, “Dan aku baru habis lari di sekeliling taman, Akina-chan tinggal di sini juga?” mansion mewah itu memang dilengkapi dengan jogging track di taman hutan buatan yang ada di lantai dasar.

Akina menggeleng, “Bukan, aku dari rumah sepupuku,”

“Sekarang mau pulang?” tanya Myuto.

“Tidak, aku mau menjemput keponakanku, di TK Himawari,” jawab Akina lagi.

“Himawari…” Myuto seakan-akan sedang mengingat sesuatu, “Oh iya! Tk itu milik Ruika-chan,” ucapnya setelah ingat.

“Yasutaka-san?” Myuto mengangguk, dan lagi-lagi Akina hanya bisa ber-ooh saja.

“Anaknya Yasui-san juga sekolah di sana,” kata Myuto.

“Ehh? Yasui-san sudah punya anak?!” seru Akina, kekagetannya tidak bisa ia tutupi lagi.

“Loh? Memangnya belum tau?” Akina menggeleng cepat, Yasui Kenataro kan hanya selisih beberapa tahun dengannya, tapi sudah punya anak? Jadi Yasui Kentaro sudah menikah? Wow, itu benar-benar hal yang mengejutkan bagi seorang Akina.

***

To Be Continue~

Ah akhirnya chap 3 beres… chap 4 mudah-mudahan gak molor lagiii~ www silahkan dicaci (?)

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Seven Colors (#3)

  1. hanazuki00

    Yampuuun akhirnya rilis!
    Chapt 3 nulai kelihatan konfliknya. Ceritanya dewasa ternyata ya mih 😂
    Masing masing punya konflik keluarganya sendiri.
    Aaaah tp kayaknya nikah sama sanada enak tuuh keluarganya kayaknya adem ayem sendiri.
    Tapi karna castnya ada 14 orang jadi masih suka mikir ini yg mana sih hehehe *ampuuun*

    Lalu sukaaaaa part ini : Ah ini dia, ini Yasui Kentaro yang pernah membuatnya jatuh cinta, tapi sekarang kemana cinta itu pergi?
    AKU MASIH CINTA KAK YAAAAAS MIIIIIH! 😣😂💜💜💜
    Terus yg awalnya bayangin Kenchan itu kyk fuuga kecil, garagara semalem foto hoku kecil ke up lagi jadi bayangin Ken itu bayinya Hoku 💜

    Kaede yaampun yaa jangan diterusun naaak. Kamu anu anu aama sanada ajaaa 😭😭😭 gausah nikah yg penting punya anak drpd pake proses begitu 😭

    Mau komen semua tp nanti panjangnya ngalahin ffnya hahaha

    Ditunggu part 4nyaaa mamih sayang 💜

    Reply
    1. dindobidari

      Hoeee ngga boleh sesat tante……. kaede sama sanada anuanu halal aja doong.. biar ke depannya happy, mengarungi samudra bersama.. terus entar anaknya disekolahin di TK himawari juga, Sanada yang nganterin.. papah gyanteng 🙈🙈🙈

      Reply
  2. dindobidari

    Haiyah Ruika terbakar api cembuyuu.. tapi shoki dengan mudah membuatnya padam ciee..
    terus yang di sharehouse juga terpicu gegara Akane, apalagi Aoi yang lebih terpicu lagi gegara akhirnya Hagi disuruh nganter jemput Akane.. kacian sih tapi si Akane, yaudah gitu aja nggapapa *siapaelu
    Hagiiii selalu menarik untul diperbincangkan ahaha. Sempat magang si toko buku juga ya, benar2 dikelilingi banyak wanita dia itu.. apa yang terjadi nanti? Tanya pada hagi yang bergoyang XD *heh
    Aslinya agak berharap Yasu-hazu rujuk sih, pasti ken-chan bahagiya.. tapi namanya jodoh ya ngga tau sih, asal kau bahagiya :’3
    Entah gimana tiap muncul scene sanada – kaede selalu pingin nulis aabsbbdbdjdbdnfmfbdkdf 😂😂😂 oh my heartttt.. tapi ternyata ada yang terselubung, Aika ternyata menyimpan ‘sesuatu’ hueeee.  sama aran aja sonooo.. *hempas

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s