[Oneshot] Arienai, I Love You!

Arienai, I Love You!

Kanjani8 Ohkura Tadayoshi

Kanjani8 Yasuda Shota

And the rest members of Kanjani8

By: Dinchan, YamAriena, NadiaMiki, Shield Via Yoichi

1487687743888

Di sebuah kedai kopi, di bagian sudut ruangan tampak dua orang pria duduk menunggu pesanan mereka. Seorang terlihat sedang berpikir keras dan seorang lagi menatap pria itu malas sambil menopang dagunya.

“Pesanannya, tuan.” kata pelayan sembari meletakkan dua cangkir kopi. Masing-masing mereka mengangguk kecil dan membiarkan pelayan itu pergi.

Pria yang mengkerutkan kening sejak awal duduk di kedai itu menghirup aroma dari kopi yang dia pesan, kemudian menyesapnya seteguk. Rasa pekat dari kopi langsung menggetarkan lidahnya.

“Oh, Tacchon. Apa susahnya mengatakan ‘aku mencintaimu, Yasu’?” tanya Maruyama —Maruyama Ryuhei— sambil memperagakan gayanya menyatakan cinta. Dia mulai bosan dengan tingkah sok serius dari temannya yang dipanggil Tacchon itu.

Pria dengan nama lengkap Ohkura Tadayoshi itu melirik Maruyama, lalu mengangkat kepalanya, “Hei, jangan panggil dari seperti itu!” marahnya, “Kau bisa dengan gampang bilang cinta, aku tidak bisa!”

“Kau belum mencoba dan langsung bilang tidak bisa?” Maruyama menyeringai.

Ohkura mendengus kesal saat dia merasa sedikit déjà vu dengan ucapan dan ekspresi Maruyama.

 

***

 

“Kau, Yasu!!” Ohkura melingkarkan lengannya di leher seorang pria yang lebih kecil darinya. Ia menekan kuat lengannya, membuat pria yang disebut Yasu itu tercekik dan meringis kesakitan.

“Ampun, Tacchon. Maaf!!” ucapnya sambil menarik tangan Ohkura agar tidak mencekiknya lagi. Tapi kekuatan pria itu lebih besar darinya sehingga tindakannya sia-sia.

Mendengar kata maaf dari kekasihnya, Ohkura melepaskan Yasuda, “Baiklah, tapi kau harus janji tidak menggelitikku untuk membangunkanku,”

“Hm? Siapa yang peduli?”

“A-apa?” tanya Ohkura memastikan kalau dia tidak salah dengar.

“Baka! Mendengar itu saja tidak bisa? Baka! Baka!”

“YASUUUU!”

“HYAAAAAA!!!”

Dan terjadilah kejar mengejar antara pria dan pria, seakan-akan tidak sadar dengan jumlah umur mereka saat itu.

“Hei, berhenti kejar-kejaran!! Udah jiji juga, tidak malu apa sama yang di taman kanak-kanak?!” Ryo yang baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati tasnya ditendang oleh Ohkura yang sedang mengejar Yasuda, mulai mengeluarkan jurus bon cabe miliknya.

Murakami Shingo yang sedari tadi hanya memainkan ponselnya sambil tidur-tiduran di futon miliknya tiba-tiba nyengir jahat.

“Ne, ne, minna shitteru?” serunya tiba-tiba, membuat yang lain menghentikan aktifitasnya sejenak dan memandang pria itu.

“Si Tacchon meski sudah pacaran selama ini sama Yasu, tapi gak pernah bilang cinta loh!” Shingo menyeringai jahat sambil memandang Ohkura yang mendadak bungkam dan Yasuda langsung salah tingkah.

“Shingo BAKA!!!” Pria itu langsung menimpa Shingo, berusaha menutup mulutnya dari mengumbar lebih banyak lagi.

“Eeeehhh??? Benarkah?” Koor yang lain hampir bersamaan.

“Bohong! Shingo bohong!” Yasuda langsung menyangkal sambil mengibaskan tangannya.

“Masa?! Bukankah kemaren kau bilang… ‘dasar Tacchon itu menyebalkan, bilang aku cinta padamu saja-pfffttt” ocehan Shingo kembali terhenti kala Yasu membekap mulutnya dengan bantal.

“Gitu ya?” kata Yuu sambil tersenyum mengejek.

“Masa sama kekasih sendiri begitu,” seru Shibutani ikut mengejek.

“Diam kalian!” Ohkura terlihat menggerutu di tempatnya, lalu melirik singkat pada Yasuda yang kini memasang wajah memelas dan meminta maaf dengan isyarat.

“Heeee, kau pria bukan sih? Mana sikap gentle-mu?” Ryo ikut menyeringai di tempatnya, terlihat masih ingin memperpanjang masalah tersebut.

“Apa kau bilang? Kau sendiri bagaimana?” seru Ohkura tidak terima.

“Aku kenapa memangnya?” seringai Ryo, Ohkura berdecak dengan kesal. “Kau pacaran seperti anak gadis perawan tau, pakai acara malu-malu. Kalau pria itu pacaran lebih jelas, realistis. Suka ya bilang suka, tidak ya tidak. Kau sendiri menganggap Yasu pacarmu bukan? Cinta kan?” pancing Ryo lagi.

“TENTU SAJA AKU….” Ohkura yang sempat tersulut emosi mendadak terdiam, saat satu kata kramat dalam kamusnya itu hampir saja diucapkannya. Dia melihat teman-temannya di sekeliling yang sudah menyeringai jahil memandangnya, ditambah wajah Yasuda yang berpaling dengan telinga sudah memerah.

“Kau apa? Ayo dilanjutkan.. kau apa tadi?” seru Shibutani.

“Aku mau mandi!” tandas Ohkura lalu beranjak dari sana, namun ditahan oleh Yuu.

“Eit, tunggu dulu! Ngapain buru-buru?” katanya.

“Yasu, kau cari pacar lain saja. Ngapain mengharapkan orang kaku seperti Tacchon?” Shingo mulai mengkompori dari tempatnya.

“Eh?” Yasuda bingung dan mulai gelagapan sendiri.

“Siapa yang kaku? Kalian ngomong suka seenaknya!” Tacchon sedikit membentak karena kesal.

“Kami bicara kenyataan, Tacchon sayang. Kau terlalu kaku, bilang cinta saja seperti orang mau ngelamar ke bapaknya Yasu saja,” kali ini Maruyama yang bersuara.

“Aku tidak! Akan ku buktikan kalau aku tidak seperti yang kalian bilang!”

“Yang benar saja, baru saja kau mengalihkan pembicaraan,” ejek Shibutani.

Ohkura menggeram kesal di tempatnya, tiba-tiba saja Ryo bersuara.

“Bagaimana kalau kita taruhan?”

Semua perhatian kini beralih pada Nishikido Ryo, yang cengiran licik sudah tercetak jelas di wajahnya.

“Kuberi waktu 3 hari, dengan cara yang paling romantis di depan kami semua. Kalau kau kalah, traktir kami Yakiniku super seharga satu juta yen!” Putus Ryo.

“SETUJU!” koor yang lain tiba-tiba.

“Kalau kalian yang kalah?” tanya Ohkura lagi.

“Apapun yang kau inginkan,” kata Ryo dengan santai.

Ohkura terlihat berpikir sejenak sambil melirik pada Yasuda yang memandangnya dengan tatapan bersalah.

“Deal!” putus pria itu akhirnya.

 

***

 

Serius deh. Teman-temannya itu tidak bisa lebih kekanakan lagi? Gara-gara taruhan sialan saat mereka selesai tour kemarin, otak Tacchon berpikir keras, apa yang harus ia lakukan? Bukan gayanya menyatakan cinta di depan banyak orang. Dia tidak suka menampilkan perasaannya, toh Yasuda tidak pernah protes secara langsung kepadanya.

Pertemuannya dengan Maruyama tadi pun tidak membuahkan ide cemerlang sama sekali. Yeah, salahnya sendiri meminta pendapat dari Maruyama, tapi setidaknya ia mencoba, lagipula teman-temannya yang lain sedang sibuk.

Langkah Ohkura terhenti ketika melihat buket bunga di sebuah Florist tak jauh dari tempatnya berdiri. Bunga romantis kan? Uhmmm.. tapi cheesy banget tidak sih menyatakan pakai bunga? Ini jaman modern, mungkin Yasuda lebih memilih mendapatkan bunga bank daripada bunga asli. Ohkura kembali menghela napasnya, masih ada dua hari lagi sebelum final tour dan waktu yang diberikan oleh Ryo untuk menyatakan cinta dengan romantisnya dilaksanakan, kepala Ohkura mulai terasa hampir pecah memikirkannya.

 

***

 

Ohkura berkali-kali melihat jam dinding yang ada di kamarnya, memikirkan bagaimana cara agar bisa menunjukkan sikap romantisnya ke Yasuda di hadapan teman-temannya.

Dengan gusar ia duduk di atas kasur, lalu berdiri lagi. Entahlah pikirannya tidak karuan, bukan hal mudah bagi Ohkura untuk menunjukan sikap romantis apalagi di hadapan Yasuda.

“Tacchon!” Suara dari depan kamarnya sukses membuat jantung pria itu hampir loncat dari tempatnya.

Merasa tidak ada jawaban, akhirnya orang yang memanggil Ohkura barusan membuka pintu kamar pria itu dan kemudian muncul kepala Yasuda dari balik pintu, “Boleh aku masuk?” tanya orang tersebut yang ternyata Yasuda.

Ohkura menghelas nafasnya, “Seperti tidak pernah masuk ke kamarku saja,” katanya datar, mencoba menetralisir keadaan jantungnya sendiri.

Mengerti maksud dari Ohkura, Yasuda masuk ke dalam kamar dan menempati posisi duduk di samping Ohkura, menatap kekasihnya dalam diam.

Ohkura yang merasa sedikit risih diperhatikan, hanya sedikit mendelik, “A-apa?”

Yasuda menggeleng, “Kau ini lucu sekali, hanya disuruh romantis saja seperti disuruh hal yang macam-macam,” kata Yasuda.

Ohkura memutar bola matanya, “Lagian aneh-aneh saja, kau juga tidak perlu hal romantis kan? Cukup kau dan aku yang tahu bagaimana kita menjalankan hubungan ini, lagian…. Apa-apaan sih,” kata terakhir itu hanya diucapkan Ohkura dengan nada pelan, sambil mengalihkan wajahnya dari Yasuda, untuk menutupi wajahnya yang memerah.

“Ryo berkali-kali mengirimkanku chat untuk mengingatkan tantangannya… Ayo Tacchon, kau pasti bisa! Hehe..” entah kenapa sikap Yasuda yang seperti ini malah membuat Ohkura salah tingkah sendiri.

Tidak biasanya Yasuda bersikap manja begitu.

“Hei, jangan jadi aneh begitu kau!” kata Ohkura  tidak terima.

Mendengar kata-kata Ohkura, Yasuda hanya terbahak. Dan tak lama suasana kembali seperti biasanya mereka bersama berdua di dalam kamar.

Tidak ada yang menganggu, namun tanpa Yasuda sadari di dalam tas Ohkura terdapat sesuatu yang sudah Ohkura siapkan untuk tantangan besok hari.

Hari berganti, hari kedua dari batas waktu tantangan yang ditentukan, tapi Ryo dan yang lainnya sudah meminta Ohkura untuk bertindak romantis di depan mereka hari ini. Membuat pria itu terpaksa untuk memutar lebih keras pikirannya untuk berpikir.

Ohkura ingin sekali mengumpat sebanyak-banyaknya saat melihat senyum-senyum jahil teman-temannya, apalagi Ryo yang terlihat begitu puas mengerjainya. Namun, di dalam hatinya ia yakin kalau dia akan menang taruhan ini.

“Apa kau sudah siap untuk kalah?” tanya Ryo dengan nada yang mengundang Ohkura ingin menyemburkan kata-kata mutiaranya.

Alih-alih menyumpahi Ryo, pria itu tersenyum, “Kalian yang akan kalah.”

Maruyama, Shingo, Ryo, Shibutani, dan Yuu saling beradu pandangan kemudian tertawa.

“Kami kalah? Yang benar saja,” ucap Yuu masih sambil tertawa.

“Padahal kemarin saja….. Ahahahahahaha,” Maruyama tidak bisa menahan tawanya saat mengingat kejadian kemarin saat dia menyuruh Ohkura untuk memeluk dan mencium mesra Yasuda sambil membisikkan cinta di depan teman-temannya. Bukannya Ohkura menolak, tapi Maruyama malah melihat pria itu salah tingkah dengan wajah, telinga, dan leher yang memerah.

“Sudah, sudah,” tenang Shibutani, “Buktikan kalau kami yang akan kalah,” Ya, sebenarnya dia juga penasaran dengan apa yang akan Ohkura lakukan sekarang ini.

Ohkura menatap teman-temannya lalu mengangguk mantap. Dilihatnya Yasuda yang terlihat gugup. Dia berpikir apa yang akan Ohkura lakukan padanya.

“Oi, Yasu. Coba lihat apa yang ada di tasku.”

“Tas?” Yasuda langsung menyambar tas punggung Ohkura dan mengeluarkan sesuatu yang menurutnya sedikit aneh untuk dibawa oleh pria itu, “Hah? Bunga?”

“Kau tau itu bunga apa?” Yasuda menggeleng, “Itu namanya Anemone.”

“Oh, jadi itu nama bunga yang biasanya dijadikan bunga tangan pernikahan.”

Ohkura mengangguk, “Kau benar,” Untuk kali ini, dia ingin mengucapkan beribu-ribu terima kasih pada penjual bunga yang mau mengajarinya tentang bunga yang memiliki arti nama bunga angin itu.

“Apa kau tau arti dari bunga itu, Yasu?” lanjut Ohkura.

“Oi, oi, oi! Kau pikir Yasu itu penjual bunga, hm? Dari tadi kau tanya yang aneh-aneh, nama bunga itu lah, arti bunga itu lah. Dikira kita ini tau tentang begitu? Mana bagian romantisnya? Arti bunga itu? Aduh, kuno sekali. Bicaranya juga kaku banget,” Ryo langsung melemparkan kata-kata pedasnya yang membuat Ohkura menutup mulutnya sebelum benar-benar menerkam temannya itu.

Karena suasana menjadi hening dan tidak mengenakkan, Yasuda pun membuka suaranya, “Maa.. Maa.. Aku suka kok bunga ini. Setidaknya dia sudah berusaha kan?” katanya mencoba berpihak pada kekasihnya walau dia juga berpikiran kalau say it with flowers itu tidak jaman lagi. Selain karena bunganya akan layu, membeli bunga jadi hanya membuang uang kan? Menyatakan cinta ada banyak caranya, tapi Ohkura malah lebih memilih membeli kembang dan mengerti tentang bunga itu daripada melakukan hal simpel yang mungkin bisa membuat Yasuda meleleh seketika dan jatuh dalam dekapannya.

Ohkura melihat ke arah Yasuda dengan tatapan lega, Yasuda membalasnya dengan senyuman sambil melambai-lambai kecil bunga yang dipegangnya itu. Membuat Ohkura ingin sekali memeluknya dengan sangat erat sampai tidak bisa bernapas saking gemasnya dengan tingkah Yasuda.

“Tidak, kita tunggu besok apa yang bakal dia lakukan untuk menang karena itu kesempatan terakhirnya.” tegas Ryo, kemudian meninggalkan tempat itu bersama teman-temannya, membiarkan sepasang kekasih itu.

Ohkura sendiri mematung, keputusan Ryo yang begitu cepat membuatnya tidak bisa memprosesnya dengan cepat di otaknya.

Gomen,”

Ohkura tersadar saat mendengar Yasuda meminta maaf, menatapnya dengan rasa bersalah.

“Tidak, Yasu. Kau tidak perlu minta maaf,”

Ganbatte, Tacchon pasti bisa!”

Demi apapun, senyum Yasuda membuat Ohkura sedikit memberi kelegaan bagi pikirannya yang mulai lelah memikirkan hal-hal romantis yang harus dia lakukan.

 

***

 

Semuanya sedang menikmati makan malam saat itu namun minus dengan Ohkura. Pria itu sudah menghilang sendiri entah kemana. Di satu tempat, Yasuda terlihat sibuk sendiri dengan ponselnya. Ada guratan kecemasan di wajahnya. Mengingat belasan pesan yang dia kirim dan beberapa panggilan yang dibuatnya sama sekali tidak mendapatkan respon.

“Tacchon… apa yang terjadi padamu?” gumamnya.

“Yasu? Kau tidak makan?” tanya Maruyama yg duduk tepat di hadapannya.

Yasuda mengangkat kepalanya lemah dan menghela nafas.

“Kenapa? Si Tacchon ya?” tanya Ryo.

Kembali terdengar helaan nafas keluar dari bibir Yasuda.

“Kalian apa tidak terlalu kejam, berbuat begitu padanya?” seru pria itu akhirnya.

Melihat orang yang dia sayang menjadi uring-uringan seperti ini, entah kenapa membuat hati kecilnya memberontak untuk melanjutkan tantangan ini.

“Kenapa memangnya?” tanya Yuu kali ini.

“Yah… kalian sendiri kenal dia. Jika sampai seperti ini, aku sangsi untuk melanjutkan..” jawab Yasu.

Anggota yang lain terlihat saling berpandangan dan mengulum senyum, “Justru karena itu, sesekali pria kaku itu harus di beri pelajaran.” kata Shibutani.

“Lagipula kalau berhasil, kan kau sendiri yang senang,” kata Ryo dan diangguki oleh yang lain.

“Entahlah…” Yasuda kembali memandang ponselnya yang masih bergeming.

“Kenapa lagi?” seru Shingo.

“Setelah dipikir-pikir, kenapa justru aku yang terlihat seperti anak gadis? Hhh…” Yasuda kembali bergumam namun kini lebih ke pada dirinya sendiri.

Dia sudah tidak tahan lagi. Diambilnya barang-barangnya dan langsung beranjak dari sana.

“Hei, kau mau kemana?” tanya Maruyama.

“Mencari Tacchon!” jawab Yasuda singkat.

 

***

 

Shit!!

Berjuta shit!!

Demi apapun Ohkura sudah hampir menyerah memutar otaknya sendiri memikirkan apa yang harus dilakukannya.

Semalam dia sampai berkeliling ke perpustakaan untuk menemukan referensi. Kini dia melihat ke tumpukan hasil kebodohannya di atas meja kamarnya yang tergeletak begitu saja. Bodoh sekali dia membeli referensi menyatakan cinta pada pria tapi buku untuk wanita! Mereka pasangan pria-pria! Bukan hal polos yang di butuhkan tapi logika!! Baiklah, sesekali memang tidak masalah untuk menyenangkan pasangan.

Membelikan bunga? Sudah dan hasilnya menggelikan!

Cincin? Memangnya mau melamar?!

Surat? Kartu?! Ah sudahlah! Semuanya terlalu feminin untuk dia dan Yasuda.

Ohkura menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menutup matanya dengan satu lengan. Lelah! Pikirannya lelah!

Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk dari luar. Ohkura menghela nafasnya dengan kasar lalu bangkit dari posisinya.

“Masuk!” katanya singkat.

Terlihat kepala Yasuda menyembul dari balik pintu, memandang kearahnya dan tersenyum.

“Ternyata kau ada disini? Aku mencarimu dari tadi,” seru Yasuda.

“Ada apa? Apa ada yang penting?” tanya Ohkura.

Yasuda mengambil tempat disamping Ohkura sembari menggeleng.

“Ponselmu kemana? Ku hubungi dari tadi tidak kau jawab sama sekali. Kami semua terpaksa makan duluan mengira kau tidak akan datang,” kata pria itu.

Ohkura menyerit bingung beberapa saat sebelum akhirnya seperti teringat sesuatu dan menepuk kepalanya.

“Benar juga, makan malam itu! Ponselku mati dan sedang diisi, jadi aku tidak menerima pesan atau panggilan.” jelasnya.

Yasuda tersenyum lemah kemudian menggeleng.

“Kau sudah makan?” tanya Ohkura dan dijawab dengan gelengan dari Yasuda, “Aku menunggumu,”

Ohkura menghela nafasnya dengan keras, “Seharusnya kau makan saja duluan, kenapa repot-repot menungguku? Nanti kau sakit jangan merengek padaku ya,” kata Ohkura dengan sedikit mengancam.

“Katakan pada dirimu sendiri!” pungkas Yasuda. Pria itu lalu meletakkan bungkusan plastik di antara mereka berdua, Ohkura hanya memandangnya dengan bingung.

“Mengganjal perut untuk kita berdua. Aku tau kau belum makan,” kata Yasuda seperti mengerti arti tatapan pria di hadapannya ini.

Ohkura mengerang dalam hati. Mengapa begitu mudah untuk Yasuda melakukan hal seperti ini?

“Terima kasih,” kata Ohkura dengan pelan sambil menyuap miliknya sendiri. Yasuda benar, dia belum makan dan saat ini dirinya benar-benar lapar.

“Tacchon,” panggil Yasuda.

Ohkura kembali menoleh pada pria itu.

“Batalkan saja ya, yang besok itu?” kata Yasuda tiba-tiba.

“Hah? Kenapa?” Ohkura menyerit kebingungan.

“Sejujurnya aku memang ingin mendengarnya sesekali, tapi aku tidak ingin memaksamu. Aku tau kau kepikiran sekali karena tantangan ini sampai-sampai fokusmu sedikit terganggu. Maaf kalau justru aku menjadi egois seperti ini, tapi aku sadar ada Tacchon saja sudah cukup untukku. Asal Tacchon ada bersamaku, bersedia selalu di sisiku, mendukung dan memperhatikanku seperti biasanya, itu sudah cukup. Tacchon menyayangiku dengan caranya sendiri, dari dulu aku sudah tau, dan aku seharusnya sadar lebih cepat. Maafkan aku ya…” kata Yasuda pelan.

Ohkura hanya diam di tempatnya, memperhatikan Yasuda yang sudah merona di depannya. Pria itu kembali melanjutkan, “Kalau nanti mereka masih minta traktiran, aku akan membantumu membayarnya. Jadi… karena itu…”

Ohkura tersenyum geli, tangannya terulur ke puncak kepala Yasuda, membuat pria itu mengangkat kepalanya pada Ohkura. Pria itu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Yasuda yang kini ganti terdiam dengan raut merona merah.

“Yasu chan meccha kawaii!” seru Ohkura masih tersenyum geli.

“Eh?”

“Makanlah, nanti keburu dingin tidak enak lagi,” seru Ohkura yang kini terlihat lebih ringan. Seakan beban di pundaknya terangkat.

Yasuda mengangguk dan mulai makan kembali. Dia bingung dengan perubahan sikap kekasihnya yang tiba-tiba seperti ini. Sepertinya keputusannya benar, karena melihat Ohkura yang menciumnya tiba-tiba tadi sepertinya akan menganggu kesehatan jantungnya.

Namun lain halnya dengan Ohkura, pemuda itu sudah sedang sibuk merencanakan sesuatu di dalam kepalanya. Yasuda sangat manis, dan sekedar ingin membalas perhatian yang dia terima dari kekasihnya sendiri sepertinya bukan hal yang memalukan.

 

***

 

Final Show untuk tur kali ini. Ohkura datang tanpa Yasuda yang katanya sudah duluan ke venue karena harus menyetel beberapa hal. Saat sampai di ruang ganti dilihatnya teman-temannya sudah datang, tinggal Ryo yang katanya masih di jalan.

“Sudah siap, eh?” tanya Maruyama.

“Konser? Tentu saja, aku tidak pernah main-main untuk konser,” jawab Ohkura, menyimpan tasnya, duduk di sebelah Maruyama.

“Bukan itu laah… ungkapan cintamu untuk Yasu?”

Ohkura hanya mengangkat bahu, “Kita lihat saja nanti,”

Sejujurnya dia sudah punya rencana, tapi memang belum final dan dia sendiri belum tahu apakah rencana ini akan berhasil. Yasuda bilang batalkan saja, tapi harga dirinya sebagai seorang pria tidak bisa begitu saja dia lupakan, walaupun selama ini Yasuda tidak pernah protes dengan sikapnya yang terkadang kelewat dingin, sesekali bukankah tidak buruk untuk mengungkapkan isi hatinya?

Semua persiapan sudah dilakukan dan tinggal menghitung menit mereka akan menyapa lima puluh lima ribu penonton yang sudah memenuhi venue itu. Ohkura mengecek kembali pakaiannya dan setelah berdoa bersama seluruh staff dan member sebelum akhirnya mereka benar-benar tampil. Ohkura selalu merasa bahwa saat dirinya di atas panggung, semuanya terasa magis, walaupun dia memang selalu merasa gugup pada saat akan tampil, tapi setelah bernyanyi dan melihat semua fans yang mendukung mereka, rasa gugup pasti digantikan oleh rasa bahagia bahkan tensinya menjadi tinggi.

Pertunjukan mereka hari ini berjalan lancar. Ohkura masih punya satu misi, dan walaupun dia mati-matian menolak pada awalnya, kini ia benar-benar memikirkannya, dan akan mengeksekusi rencananya hari ini. Apapun yang terjadi, walaupun awalnya hanya main-main saja, ini harus berhasil.

Kapanpun mereka konser, sesi encore selalu jadi bagian yang menyenangkan. Ohkura merasa bisa bebas berekspresi dan itulah yang akan ia lakukan sekarang. Ia menoleh, mencari keberadaan Yasuda yang ternyata berdiri agak jauh darinya, sebentar lagi gilirannya bernyanyi, dan dengan refleks Ohkura berlari kencang ke arah Yasuda yang saat itu ada di tengah panggung utama, masih melambaikan tangan ke penonton, mereka sedang menyanyikan lagu Nai Nai Love You.

Arienai nai nai nai nai I LOVE YOUUUU!” Walaupun part itu dinyanyikan bersama-sama, Ohkura berteriak kencang lalu refleks memeluk Yasuda, “Arienai nai nai Yasuuu I Loveee youuuu,” penonton berteriak histeris melihat keduanya berpelukan.

Keduanya masih bernyanyi di tengah panggung utama, sorotan kamera tepat ke arah keduanya saat Ohkura membisikkan sesuatu, hanya mereka berdua yang tahu, “Aishiteru,” ucapnya pelan, saat penonton histeris melihat Ohkura berbisik padanya, Yasuda hanya bisa mencoba menutupi rasa senang dan rasa tak percayanya bahwa Ohkura benar-benar melakukannya, mengungkapkannya lewat kata-kata. Tak seperti biasanya. Tapi dia bahagia, sangat bahagia sekarang.

Akhirnya setelah berjam-jam konser, saat ini semuanya sudah selesai, mereka masuk satu per satu ke dalam backstage.

Ohkura dengan bangganya tersenyum, duduk di sofa dan melepas baju konser. Ia menang akan tantangan yang diberi teman-temannya, dan tidak hanya sekedar itu, Ohkura juga berhasil memenangkan hati Yasuda. Membuat pria pujaannya itu luluh, tentu saja.

Membuat hatinya juga lega. Benar-benar lega.

“Berhasil, ne?” Kata Ryo yang ikut duduk di samping Ohkura sambil tersenyum, ikut senang karena temannya bisa melewati tantangan yang sedikit kurang wajar ini.

Ohkura mengangguk mantap, “Ya, aku berhasil!”

Tiba-tiba ada yang merangkulnya, orang itu adalah Maruyama, “Berani juga kau, aku terkejut!” takjub pria itu sambil tercengang, sedangkan Ohkura hanya bisa mengangguk sambil tersenyum bangga.

Padahal, di dalam pikirannya sedang berpikir apa yang akan ia pinta kepada teman-temannya yang super jahil ini.

“Jadi, jadi—” tiba-tiba Shibutani dan Yokoyama ikut bergabung, “apa yang kau inginkan? Wahai pemenang~” Shibutani sedikit terkikik, tidak menyangka orang kaku seperti Ohkura bisa melakukan hal seromantis itu.

Mereka diam sejenak, memperhatikan Ohkura yang sedang berpikir. Tak lama lelaki itu menjentikan jarinya.

“Kalian…” Ohkura menunjuk teman-temannya satu persatu, “selama sebulan ini, harus membelikanku dan Yasuda makanan yang mahal-mahal terserah mau makanan apa, yang penting harganya kulihat mahal dan harus dibeli sendiri-sendiri tidak boleh sumbangan, atau satu makanan beli bersama,” sudut bibir Ohkura menanjak, retinanya juga menatap teman-temannya dengan tatapan puas.

Sedangkan, mereka termasuk Shibutani hanya bisa melongo.

“Oh ya—” Ohkura seperti ingin melanjutkan kata-katanya sambil berdiri dari sofa, berjalan menghampiri Yasuda yang sedang memakai bajunya. “—struk pembelian makanannya harus ada ya, supaya aku percaya kalau itu harganya mahal.” kemudian tawa jahatnya menggema di backstage.

Sejenak mereka membeku, merutuki diri sendiri karena menginginkan taruhan itu dan tidak pernah menyangka kalau seorang Ohkura Tadayoshi si pria kaku mampu memenangkan tantangan itu.

“Kau… Beri mereka hukuman apa?” tanya Yasuda saat kini sedang berada di perjalanan pulang. Takut-takut kekasihnya itu akan kejam dengan teman satu grupnya sendiri.

Ohkura tertawa geli, seakan lupa kalau dirinya kini sedang menyetir, “Hahahaha,” tak lama, tawa itu berhenti.

Dan seulas senyum terlihat di wajah tampan itu, “Tidak masalah, itu bukan hukuman yang berat kok,” katanya. Mendengar kata-kata Ohkura, Yasuda hanya mengangguk saja.

Dia tidak tahu saja kalau teman-temannya yang lain sedang menggerutu sendiri. Kalau begini uang bulanan buat couple tidak romantis itu saja., pikir mereka.

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s