[Multichapter] UNDIVIDED Part 4

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

 

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast (di chapter ini): Okamoto Keito, Yabu Kota, Inoo Kei (Hey!Say!JUMP); Akanishi Jin; Tanaka Koki (INKT)
Takanishi Reia (OC)

Hari itu langit terlihat lebih kelabu dari biasanya. Mentari memilih untuk menyembunyikan wujudnya dibalik awan kelabu yang terlihat menutupi langit hari itu. Bulir-bulir gerimis membasahi bumi terlihat tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Seolah-olah mendukung suasana hati yang sedang dirasakan seorang Chinen Arina hari itu.

Sejak semalam gadis itu tidak berhenti murung bahkan sesekali terisak mengingat sosok saudarnya yang mendadak raib. Awalnya kabar yang dibawa oleh Inoo sensei menjadi pengobat kegundahan hatinya, namun seketika itu juga seolah dia bagai jatuh terhempas saat mendapati sosok itu tidak berada lagi di dalam kamarnya, sebagai gantinya sepucuk surat tanpa nama tertempel pada nakas kosong di sisi bankar.

Namun hari ini, meski berada dalam kondisi paling bawah sekalipun, Chinen Arina di minta untuk datang ke ruang pertemuan oleh pria bernama Akanishi Jin.

Dua hari berlalu sejak dia sadar, dan dia tidak tau apapun mengenai tempatnya berada dan apa yang sedang terjadi padanya. Secara teknis dirinya tidak berada di rumah sakit, hanya saja semua hal yang ada di kamarnya dan pengobatannya persis seperti apa yang seharusnya dia terima di rumah sakit, yang berbeda hanyalah entah kenapa tetapi obat-obatan yang diberikan mampu membuat kondisi tubuhnya membaik dua atau tiga kali lebih cepat. Sosok dokter yang dikenalnya bernama Inoo Kei, meski secara fisik terlihat seperti dokter pada umumnya, tapi Arina bisa menduga pria itu lebih jenius daripada seorang professor.

Semua hal itu hanya membuatnya semakin lebih waspada dari biasanya. Tidak mengetahui tempat dan keadaan yang sedang terjadi, bukankan membuat kecurigaan lebih besar?

“Arina-chan? Kau masih disini?”

Arina menoleh kearah pintu dan mendapati sosok seorang wanita dengan pipi chubby tersenyum kearahnya. Gadis itu membalas dengan senyuman tipis dan membungkuk sedikit. Sejujurnya dia sudah siap dari tadi, mengenakan baju yang diberikan salah seorang perawat padanya sejam yang lalu – sebuah baju formal dengan kemeja putih, rok serta blazer berwarna hitam, juga sepatu pentofel berwarna sama dengan hak sekitar tiga sentimeter.

“Apakah sudah saatnya, Takanishi-san?” tanya Arina.

Wanita itu mengibaskan tangannya, “Sudah, panggil Reia saja.” ujarnya, “Ada yang ingin bertemu denganmu,” kata wanita itu lagi dengan senyuman sumringah.

Arina memandang wanita itu dengan tatapan bingung, mengikuti tatapan Reia yang sudah beralih kembali kearah pintu. Satu sosok pemuda melangkah masuk dan menghampirinya. Arina tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghambur ke dalam pelukan pemuda itu saat mengenalinya. Sangat mengenalinya.

“A…Arina-san?” ucap pemuda itu sedikit salah tingkah, Okamoto Keito.

“Bagaimana kau… bisa ada disini… hiks?” tanya Arina, air matanya mengalir tanpa bisa ditahannya lagi.

Setelah terjebak di sebuah tempat yang tidak diketahui, mengalami banyak hal yang diluar kendali, hingga kehilangan orang yang sangat kau sayangi… mendapati sosok Okamoto Keito yang dikenalinya adalah sesuatu yang melegakan.

“Tentu saja, aku dulu sempat di training di tempat ini sebelum ditunjuk menjadi asisten dari Yuri-san.” Katanya.

Arina melepaskan pelukan itu dan ganti memandang Keito dengan heran. “Kau… kenal dengan mereka?” tanyanya sedikit lirih.

“Arina-chan, sudah waktunya.” sela Reia, wanita itu memandang Arina dan tersenyum dengan lembut, “Keito-kun juga akan ikut, tidak perlu khawatir. Ayo kita pergi sekarang” tambahnya lagi saat melihat keengganan dari gadis itu.

Arina mengangguk pelan. Mereka bertiga lalu melangkah menuju ruang pertemuan. Saat membuka pintu, ternyata di dalam sudah ada beberapa orang yang tidak Arina kenal selain sosok Akanishi Jin yang sempat menemaninya beberapa kali saat masa pemulihan, dan seorang lagi yang entah kenapa dia merasa sangat familiar dengan wajahnya.

“Selamat siang, Akanishi sensei,” sapa Reia.

“Selamat siang, Reia. Sepertinya semua sudah berkumpul, langsung saja kita mulai pertemuan hari ini.” kata Akanishi Jin kemudian.

 

-*-

 

Ryosuke masuk ke dalam ruang pertemuan, dimana baru Akanishi Jin saja yang berada disana. Tadi pria itu memintanya untuk ikut pada pertemuan hari itu. Ryosuke mengira bahwa pertemuan itu untuk membahas tugas berikutnya, namun mendengar nama gadis itu ikut dibawa dan ikut diminta hadir pada pertemuan hari itu, Ryosuke mengira bahwa pertemuan ini pasti mengenai kejadian kemarin.

Mengingat hal-hal yang berkaitan dengan gadis itu, entah kenapa membuat batinnya terasa sesak. Ryosuke sudah menduga-duga akan keterkaitan gadis itu dengan suara-suara misterius yang akhir-akhir ini sering dia dengar, dan dugaannya semakin kuat saat kejadian semalam, dimana saudara gadis itu hilang dan dia menjadi suram sepanjang hari. Lalu intensitas Ryosuke mendengar suara-suara misterius itu semakin bertambah bahkan sampai mengganggu jadwal istirahatnya sendiri.

Satu hal yang terpikir olehnya setelah itu adalah, Telepati. Dia dan gadis itu bisa bertelepati yang sampai sekarang masih tidak tau bagaimana cara mereka melakukannya. Karena hal itu baru-baru ini terjadi secara tiba-tiba. Seolah menjadi firasat tersendiri bahwa mereka akan mengalami kejadian seperti ini. Sampai detik ini, Ryosuke seolah merasakan perasaan kelam yang sepertinya sedang dialami gadis itu dan itu membuatnya tidak tenang.

“Tumben sekali melihat kau hadir lebih dulu di banding yang lain saat pertemuan, Ryosuke?” seru pria itu.

Ryosuke mendengus kecil lalu duduk di salah satu kursi di dekat meja besar yang ada di tengah ruangan, “Ada yang ingin ku tanyakan mengenai dia,” ujar Ryosuke. Akanishi Jin masih memandangnya, menantikan pemuda itu untuk melanjutkan kata-katanya. “Apa benar mereka berdua keponakanmu yang kau telantarkan selama ini? Lalu kenapa kau memilih untuk merawat kami di banding harus mengurus keponakanmu sendiri? Menggelikan sekali jika alasannya adalah kau ingin menghindarkan mereka dari dunia yang kau geluti selama ini,” tanyanya.

Akanishi Jin masih tersenyum di tempatnya dan memandang Ryosuke lurus, “Aku tidak menelantarkan mereka, Ryosuke. Aku tetap menjaga mereka, namun tidak secara langsung. Untuk alasannya, aku tidak punya sanggahan dengan dugaanmu karena memang itu alasanku tidak turun langsung merawat mereka berdua mengingat saat itu mereka masih sangat kecil.” Akanishi Jin menggenggam kedua tangannya sendiri dan metelakkannya di bawah dagunya.

“Ironis sekali, kau terlihat tidak keberatan dengan membawa kami ke dunia mu padahal jelas saat itu usia kami masih sangat muda, paman.” ujar Ryosuke lagi.

Akanishi Jin tersenyum, “Bukankah itu keputusan kalian, Ryosuke? Aku hanya memberikan beberapa opsi untuk kalian melanjutkan hidup, dan kalian berdua memilih kehidupan yang sedang kalian jalani sekarang.” Katanya.

Tiba-tiba pintu ruangan itu kembali terbuka, terlihat Tanaka Koki dan Yabu Kota masuk ke dalam sambil menyapa Akanishi Jin dan Ryosuke. Akanishi lalu memberikan isyarat pada Ryosuke untuk menghentikan pembicaraan mereka untuk sementara waktu. Ryosuke mengangguk saja.

Tidak lama kemudian sekali lagi pintu terbuka dan masuk tiga orang sekaligus, Reia, gadis itu dan satu orang lagi yang tidak di duga oleh Ryosuke, Okamoto Keito. Ryosuke mengabaikan saat Reia dan pamannya bertukar salam dan memandang lurus sosok pemuda Okamoto tersebut.

“Arina, bagaimana keadaanmu?” mendengar pamannya mengucap nama gadis itu, membuat Ryosuke berpaling pada kursi tepat di depannya, tempat gadis itu sedang duduk dan memandang pada pria itu.

“A… aku baik-baik saja, terima kasih Akanishi…san?” gadis itu terlihat gelagapan menjawab pertanyaan paman.

“Panggil saja aku paman, secara biologis aku memang pamanmu Arina. Kakak laki-laki dari ibumu, Shiori” Ryosuke bisa melihat sorot mata kaget dari gadis itu saat Akanishi mengatakan siapa dirinya, sepertinya memang benar mereka tidak pernah bertemu sekalipun, seperti kata pria itu tadi.

“Kau… paman Jin?” tanya gadis itu dengan suara pelan.

Akanishi tersenyum dan mengangguk padanya. Pria itu kini kembali beralih pada yang lain, termasuk Ryosuke, menatapnya satu persatu lalu mulai berbicara kembali.

“Kalian yang ada di dalam ruangan ini adalah orang-orang kepercayaanku. Aku ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua, ini tentang siapa musuh kita, termasuk kemungkinan kenapa dia menangkap Chinen Yuri. Karena itu aku ingin kau datang Arina, selain sesuatu yang penting yang ingin ku tanyakan padamu nanti, tapi sebelum itu…” Akanishi Jin lalu menyalakan proyektornya, bersamaan dengan ruangan itu yang mendadak menjadi gelap dan terpampang sebuah foto beserta nama di layar putih yang berada tepat di belakang dimana Akanishi Jin duduk.

“Para gagak, kita menyebutnya begitu selama ini, namun mereka menamakan dirinya sebagai Flame Rose. Perseteruan WDA dan Flame Rose sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, bisa di bilang mereka adalah musuh bebuyutan organisasi kita. Selama sejarah perseteruan ini, WDA pernah jatuh sekali dan itu mengorbankan banyak pihak termasuk adikku, Shiori dan juga sahabat baikku.” mata Akanishi terlihat menerawang saat mengatakan kalimat terakhir.

Tidak hanya itu saja, namun gejolak emosi juga terasa dari beberapa tempat, terutama Ryosuke. Meski pemuda itu terlihat menahan emosinya sendiri dan tetap bersikap tenang, namun kepalan tangannya sendiri menguat sejak tadi.

“Satu hal positifnya saat itu adalah WDA berhasil mengambil data dari sesuatu yang sedang mereka teliti, dan itu berkaitan dengan batu meteor yang jatuh di perfektur Kanagawa beberapa tahun silam.” kata pria itu lagi. Kini terdengar beberapa gumaman dari beberapa tempat.

Tiba-tiba Arina mengangkat tangannya dengan sedikit takut, menarik perhatian dari semuanya terutama Akanishi Jin sendiri.

“Maaf tapi aku tidak mengerti, apa itu WDA? Selain itu apa hubungannya semua ini dengan Yuri?” tanya gadis itu.

Akanishi Jin tersenyum sesaat mendengar pertanyaan keponakannya, “Apakah kau tau kalau saudaramu itu jenius, Arina?” pria itu tidak menjawab pertanyaan gadis itu dan balik memberikan pertanyaan.

Arina terlihat menyerit lalu mengangguk pelan, “Selama di sekolah, Yuri selalu meraih juara umum. Dia juga masuk ke kelas unggulan saat SMA. Bahkan menerima beasiswa sebagai mahasiswa kehormatan di Universitas.” ujarnya.

“Apa kau juga tau sejak Yuri mengambil alih perusahaan keluarga, keuntungannya menjadi berkali-kali lipat? Perusahaan kalian saat ini adalah perusahaan nomor satu yang di akui di dunia?” tambah Akanishi lagi.

Ryosuke bisa melihat dengan jelas gadis itu sedikit terkesiap. Lalu dia beralih pada Keito di sampingnya dan di jawab dengan anggukan olehnya.

“Apa… apa karena itu mereka mengincar Yuri?” tanya gadis itu lagi.

“Iya dan tidak,” jawab Akanishi dengan santai, pria itu lalu menambahkan lagi sebelum sempat gadis itu buka suara kembali, “Menjadi perusahaan besar yang di akui dunia memang menjadi resiko bahwa saudaramu, bahkan juga kau Arina, di incar banyak perusahaan pesaing untuk menjatuhkan kalian. Tidak hanya itu saja, mereka bisa saja menyewa hitman handal untuk menyerang kalian berdua hingga orang-orang terdekat kalian. Tapi tidak, mereka menculik Yuri bukan karena itu melainkan alasan lain yang berkaitan dengan penelitian Flame Rose.”

Akanishi Jin memandang kearah Keito yang langsung dibalas pemuda itu dengan anggukan sigap lalu mulai berbicara menggantikan Akanishi Jin.

“Beberapa bulan yang lalu, Yuri-san menandatangani kontrak kerjasama dengan salah satu perusahaan Farmasi. Sepertinya salah seorang anggota Flame Rose bekerja disana dan mengenali sosok Yuri-san. Sepertinya orang itu melapor pada pimpinannya dan sejak saat itu mereka mulai bergera. Yuri-san di buntuti, klimaksnya adalah di acara peresmian museum Fukuoka dia di dekati secara langsung dan hampir di bawa oleh mereka. Tetapi tidak berhasil karena orang-orang WDA sudah mendekat dan mengepung tempat itu dengan jumlah yang besar.” jelas Keito.

Terdengar suara helaan nafas dari Akanishi Jin, “Satu kesalahan terbesarku adalah dengan melonggarkan pengawasan dan penjagaan padanya, menganggap bahwa dia sudah aman karena berada di kantorku sendiri. Tidak memikirkan kemungkinan adanya penyusup seperti yang terjadi saat itu. Pada akhirnya kita kehilangan Chinen Yuri dan kopian dari penelitian itu.” ujarnya

“Apa?! Bagaimana bisa sensei?!” tanya Reia terkesiap.

“Apa ilmuan gila itu kembali sibuk  dengan eksperimennya sendiri sampai tidak bisa menjaga data penting seperti itu?!” ucap Yabu sedikit menggeram kesal.

Akanishi Jin terlihat kembali beralih pada Arina yang menunduk dan tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, mengabaikan sekitarnya yang cemas dan sibuk berdebat dengan semua yang dikatakan oleh Akanishi Jin.

“Arina!” serunya. Gadis itu lalu mengangkat kepalanya kembali menatap lurus pada pria yang memanggilnya tersebut. “Selanjutnya aku ingin kau membuat pilihan, tetapi aku tidak ingin kau memilih hanya karena rasa emosionalmu setelah mendengar cerita tadi, aku ingin kau memilih sesuai kata hatimu sendiri. Karena setelah kau membuat keputusan, kau tidak bisa mengubahnya lagi.”

Arina menyerit bingung, namun masih tetap diam dan menunggu. Akanishi Jin kembali melanjutkan, “Apa yang ingin kau lakukan setelah keluar dari ruangan ini? menyerahkannya pada kami lalu aku akan mengantarkan kau pulang ke rumah, kembali pada aktifitasmu yang dulu dan menunggu Yuri pulang, atau…” pria itu menggantungkan kalimatnya sejenak sebelum melanjutkan opsi kedua, “ikut dalam rencana meski kau tau bahwa resikonya sangat besar dan bahkan nyawamu sendiri akan menjadi taruhannya.”

Déjà vu, Ryosuke teringat akan pertama kali dia bertemu dengan pria itu dan menerima pertanyaan dengan opsi yang hampir sama. Memilih kehidupan normal dan bersih, berbaur dengan masyarakat pada umumnya, atau membuangnya dan sepenuhnya menjadi hitam.

“Aku tidak mungkin hanya berdiam diri di rumah tanpa kepastian yang jelas, Yuri satu-satunya keluarga yang ku punya selama ini. Bahkan kau yang mengaku pamanku saja hanya pernah mengunjungi kami sekali, dan itu sudah sangat lama. Aku tidak ingin kehilangan keluargaku lagi. Jika memang masih ada harapan, sekecil apapun itu untuk bisa menyelamatkannya, aku akan melakukannya!” ujar gadis itu. Arina lalu menatap Akanishi Jin lurus, dengan keyakinan yang jelas, dan kebulatan tekad. “Aku akan ikut dan menyelamatkan Yuri!” katanya.

Akanishi Jin tersenyum tipis ditempatnya, wajahnya seolah menyiratkan bahwa dia sudah menduga hal itu akan dipilih oleh keponakannya. Pria itu lalu beralih pada sosok Tanaka Koki dan Reia menatap keduanya secara bergantian.

“Reia, kau susun jadwal latihannya mulai besok di kediaman Koki!” seru pria itu, lalu beralih kembali pada Arina, “Aku ingin kita berbicara empat mata setelah ini, temui aku di ruanganku setelah kau siap. Pertemuan ini di bubarkan!” setelahnya Akanishi Jin beranjak dari tempatnya dan mulai berjalan keluar di ikuti oleh Reia dan Koki.

Ryosuke masih tetap di tempatnya, memandang sosok di hadapannya yang terpekur setelah kepergian Akanishi Jin dari sana. Seolah-olah masih tidak sadar dengan apa yang sudah di putuskannya sendiri. Tidak, dia tidak menebaknya, namun suara-suara yang sering berkelebat di kepalanya yang menegaskan itu semua.

“Ryosuke, kau bawa dan serahkan ini ke Unit Teknologi,” ujar Reia sembari menyerahkan satu buah map kepadanya, “setelah itu kau bisa langsung pergi melapor pada mentormu untuk meminta jadwal selanjutnya.”

Ryosuke menerima map tersebut dengan patuh, namun sudut matanya mengikuti saat sosok Arina pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan kepala sedikit tertunduk.

‘Cahaya kah? Atau kegelapan? Tepatnya dimana aku telah meletakkan hidupku sekarang?’

Ryosuke pun tertegun sejenak di tempatnya.

 

-*-

 

“Masuklah, Arina, silahkan duduk”

Gadis itu berjalan dengan sedikit gugup memasuki ruang kerja Akanishi Jin, seorang pria yang beru ditemuinya beberapa kali dan mengakui sebagai pamannya, adik kandung dari ibunya.

Sejujurnya semua yang terjadi membuatnya bingung, dia tidak mengerti harus mempercayai semua informasi yang di dengarnya beberapa saat terakhir ini apa tidak. Namun, dari semua hal tersebut dia hanya mengerti bahwa satu-satunya hal yang akan terjadi adalah dia akan menemukan Yuri dan membawanya pulang. Meski dia tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi pada mereka hingga berakhir seperti sekarang.

“Ingin gula atau krim?” suara Akanishi Jin membawa kembali Arina dari lamunannya.

“Gula saja satu sendok, terima kasih.” Ujar gadis itu.

Arina bisa melihat Akanishi Jin mengulum senyuman di bibirnya sembari menuang sesendok gula pada cangkir Arina, mengaduknya beberapa kali, dan menyerahkannya pada gadis itu. Arina menyesapnya beberapa kali sebelum kembali meletakkan cangkir tersebut pada tatakan gelasnya.

“Shiori juga tidak begitu menyukai gula terlalu banyak di minumannya, tetapi berbeda jika membicarakan makanan manis seperti ice cream, parfait, cake, dan sejenisnya.” kata pria itu dengan nada lembut.

Mendengar nama ibunya disebut kembali, Arina meletakkan cangkirnya keatas meja lalu memandang lurus pada Akanishi Jin.

“Jadi… paman… benar-benar pamanku? Adik dari ibuku?” tanya gadis itu.

“Ku lihat kau masih belum mempercayainya?” bukannya menjawab, pria itu melontarkan pertanyaan kembali pada Arina.

Gadis itu mengangguk ragu, “Karena sejauh yang ku ingat, kita belum pernah bertemu secara langsung. Ku dengar dari Okamoto-san, paman pernah mengunjungi kami sekali tetapi tidak pernah lagi setelah itu,”

Akanishi Jin tersenyum tipis mendengar penuturan keponakannya itu, “Karena aku merasa tidak perlu untuk menyeret kalian masuk ke dalam dunia tempat ku tinggal. Sebagai seorang paman dan satu-satunya keluarga yang kalian punya, sudah tugasku untuk memberikan kalian kehidupan layak dan normal. Namun kehidupan normal itu jauh dari hidup yang aku jalani hingga saat ini, dan juga yang pernah ibumu jalani Arina.” ucapnya, kemudian pria itu terlihat menegakkan punggungnya dan menatap lurus pada Arina, “Tetapi karena semua yang terjadi sudah sampai sini, dan kau juga sudah memutuskannya sendiri, maka aku tidak punya pilihan lain.”

Arina masih diam memandang lurus pada Akanishi Jin. Pria itu tersenyum padanya.

“Ku yakin ada yang ingin kau tanyakan mengenai hal ini Arina?” ujar pria itu.

Arina menimbang-nimbang sebelum melontarkan pertanyaan, “Sebenarnya aku dan Yuri sedang terlibat dalam hal apa dan paman sebenarnya siapa?”

“Baiklah ternyata harus ku jelaskan dari sana,” kata Akanishi Jin, “Mula-mula aku akan ceritakan tentang tempat ini. Apa kau pernah dengar WDA sebelumnya?” Arina menggeleng pelan.

“WDA adalah singkatan dari Wicked-Devour Alliance, organisasi tersembunyi sekelas FBI namun masih berada di bawah pemerintahan Jepang. Kepolisian ataupun agensi Detektif, WDA lebih dari itu semua. Sejauh ini WDA menangani kasus-kasus yang sudah buntu bagi kepolisian dan Detektif di Jepang. Beberapa agen di rekrut di usia yang sangat muda namun sudah menunjukkan potensi yang sangat besar, melalui berbagai pelatihan fisik maka dalam hitungan bulan mereka sudah bisa terjun langsung ke lapangan. Termasuk aku dan Shiori, keturunan satu-satunya dari pendiri sekaligus Direktur Utama WDA sebelumnya, kakek buyutmu, Kitagawa Johnny.”

Arina menyerit bingung, “Tapi paman, yang ku tau kakek Johnny dulu adalah seorang penjelajah?” ujarnya.

Akanishi Jin tersenyum lebar pada keponakannya ini, “dan Arina sayang, apa jadinya jika seorang agen mengakui secara terang-terangan akan statusnya sebagai seorang agen? Terutama bagi pihak musuh sendiri,”

Arina mengangguk mengerti di tempatnya. Akanishi Jin kemudian kembali melanjutkan, “Meskipun organisasi terselubung, bukan berarti tidak ada yang menyimpan dendam. Termasuk kejadian beberapa tahun yang lalu yang melibatkan Flame Rose. Sebuah kejadian yang sangat besar dimana WDA berhasil menyusup ke markas Flame Rose saat itu dan menghancurkan bangunan utama. Namun bukan berarti kemenangan untuk WDA, karena saat itu WDA juga kehilangan banyak hal dan juga nyawa beberapa orang.”

Arina tidak bisa menjelaskan pergulatan batin yang terjadi di dalam dirinya saat mendengar penjelasan sang paman. Berbagai macam emosi mendera dadanya dan membuat perasaan sesak seakan ingin meluap saat itu juga.

Karena hal itu juga, Arina tidak menyadari sang paman sudah berdiri tepat di belakangnya sambil memegang sebuah suntikan di tangan kanan.

“Arina, apa kau ingat kata=kataku tadi bahwa setelah kau membuat keputusan, kau tidak akan bisa mengubahnya sama sekali?” ujar Akanishi Jin, mendadak suara pria itu berubah menjadi dingin.

Arina tersentak karena mendengar suara sang paman yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya, langsung membalikkan tubuhnya. Tetapi detik itu juga, jarum suntikan itu sudah tertancap di pembuluh darah bagian lehernya dan menyemburkan cairan dalam suntikan tersebut ke dalam tubuhnya.

“Setiap keputusan ada akibatnya masing-masing, dan inilah akibat dari keputusan yang telah kau pilih, Arina. Bertanggung jawablah dengan keputusanmu sendiri!” ujar pria itu kali ini dengan raut dan nada bicara yang sangat dingin.

“A… pa ya..ng k..au…” gadis itu perlahan mulai kehilangan kesadarannya, dan tubuhnya langsung limbung tidak sadarkan diri di sofa tempatnya berada.

-*-

TBC

wkwkwkwkwk… kecepetan ya?? sengaja muehehehehe

silahkan komentarnya yah… author cus dulu balik hibernasi ciao ^0^)/

next episode Ryutaro muncul loooohhh ‘-‘)7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s