[Multichapter] Seven Colors (#2)

Seven Colors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 2)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

sevencolors

Hampir saja matanya tertutup jika tidak mendengar suara ketukan di pintu apartemennya. Hazuki segera membuka matanya, berjalan ke depan untuk membuka pintunya.

“Kau telat,” bisik Hazuki, karena melihat Kenichi tertidur di pelukan Yasui.

“Kami main dan melatih dialognya untuk acara sabtu besok, kami lupa waktu,” Yasui berjalan masuk, membawa Kenichi ke kamarnya. Dengan gerakan yang hati-hati Yasui merebahkan tubuh Kenichi di atas kasur dan menyelimutinya.

“Saat aku bilang jam delapan, maka aku ingin anak laki-lakiku sudah ada di apartemen ini jam delapan, mengerti?” ucap Hazuki setelah menutup pintu kamar Kenichi.

Yasui menarik napas panjang, “Kami lupa waktu, aku sudah bilang,” Yasui berjalan ke arah dapur mengambil secangkir kopi, “Bisa kita berhenti bertengkar setiap bertemu?”

“Kita tidak akan bertengkar kalau Yasui Kentaro tidak telat mengantarkan anakku pulang!”

Keduanya terdiam. Yasui menatap Hazuki, menghela napasnya lagi, “Hazuki, kau mungkin tidak ingat, tapi Yasui Kenichi juga anakku,” ucap Yasui, menatap Hazuki yang kini masuk ke dapur, mengambil segelas air.

“Aku meneleponmu dan kau tidak menjawabnya,” ucap Hazuki, menatap Yasui, “Kenapa?”

“Aku tidak pegang ponsel saat bermain dengan Ken-chan, dan kalau kau mau kau bisa menelepon Kaede,” balas Yasui, meneguk kopinya.

Hazuki terdiam sesaat, “Aku tidak menghubunginya kecuali urusan sekolah.”

“Kenapa? Dia dulu sahabatmu, kan?”

Ya, sebenarnya bagaimana Yasui bisa bertemu dengan Hazuki pun salah satunya adalah campur tangan Kaede. Saat sekolah, Kaede dan Hazuki adalah sahabat, karena seringnya Hazuki datang ke kediaman Yasui, tanpa sadar Yasui Kentaro pun mulai memperhatikan sahabat adik perempuannya itu dan jatuh cinta pada Hazuki.

“Bisa kita tidak bahas itu?” Hazuki membelakangi Yasui, malas berkomentar, entah sejak kapan hubungannya dengan Kaede menjadi dingin, di sekolah pun dirinya hanya menyapa seadanya, tidak pernah benar-benar berbicara lagi, “Kau tidak telat karena siapa namanya… pacarmu itu?”

“Aku tidak punya pacar,” elak Yasui.

“Itu loh… siapa… Sora-chan??”

“Hazuki!”

Hazuki berbalik, menyodorkan sepiring kecil donat rasa coklat kepada Yasui, “Bukankah kalian akan menikah? Sudah tinggal bersama, kan?”

“Kami sudah putus. Jelas? Dan tidak, hubungan kami tidak seserius itu!” Yasui mengambil donat itu, mulai mengunyahnya, “Bisa kita tidak bahas itu?” balas Yasui, Hazuki hanya menatap mantan suaminya itu dengan pandangan kosong.

Lucu memang, seseorang yang pernah mengisi hatimu hingga bahkan Hazuki yakin jika saja waktu dulu ia harus mengorbankan nyawanya untuk Yasui, dia akan melakukannya. Tapi nyatanya sekarang mereka berdebat, bertengkar seakan-akan rasa cinta yang dulu itu tidak pernah ada. Hazuki tidak mau egois, tapi dia selalu merasa Yasui tidak memperjuangkannya maka mereka berpisah. Hazuki mengerti, mereka masih terlalu muda dulu, tapi bukankah seharusnya jika ada cinta mereka bisa melewati cobaan apapun?

Thanks donatnya, aku pulang kalau begitu,” Yasui mengambil tisu, membersihkan mulutnya dari bekas coklat yang menempel di mulutnya.

“Kebiasaan!” tangan Hazuki terulur, membersihkan sisa coklat yang masih tersisa di sudut bibir Yasui. Dan karena gerakan se-sederhana itu keduanya mendadak terdiam, seakan ditampar kenyataan Hazuki langsung melepaskan tangannya dari wajah Yasui, “Gomen,” ucap Hazuki.

“Tidak apa-apa, oyasumi, oh ya… Ken-chan ingin aku datang ke pementasannya,” ia berjalan ke pintu depan diikuti oleh Hazuki, “Bisa kita berdamai di pementasannya nanti?”

Hazuki tertegun sekejap, tapi berhasil mengendalikan dirinya, “Tentu saja, jangan telat. Kau tau aku tidak pernah memintamu datang karena kau selalu telat,”

Saat Yasui Kentaro sudah menghilang dibalik pintu apartemennya, Hazuki masih menghardik dirinya sendiri yang membiarkan perasaan sayang itu kembali muncul, menguasai logikanya yang jelas-jelas sudah membenci seorang Yasui.

***

Ohayou,” jam dinding baru menunjuk ke angka tujuh tapi di meja makan sudah ada seorang Hagiya lengkap dengan setelan rapi, “Pagi banget Keigo-chan,” sapa Aoi, dirinya sendiri masih memakai piyama.

“Aku tidak bisa tidur,” keluh Hagiya, menyesap kopinya, jarinya sibuk mengutak-atik layar lima inci di tangannya.

Aoi mendekat, duduk di sebelah Hagiya setelah sebelumnya mengambil segelas susu dari dalam kulkas, “Keigo-chan gugup karena ini hari pertama mengajar?” Hagiya mengangguk, “Tenang saja, Keigo-chan pasti bisa mengatasinya!”

“Aku gugup sekali. Ini pertama kalinya aku dapat pekerjaan setelah lulus tahun lalu dan kerja serabutan setahun ini,” ucap Hagiya, hendak mengambil setangkup roti namun Aoi mencegahnya.

“Karena ini hari pertama, Keigo-chan makan kare saja ya? Kan biar tenaganya lebih banyak!” Aoi turun dari kursinya dan mengambil kare yang masih tersisa semalam untuk Hagiya.

Arigatou Aoi-chan,”

Untuk menjawab Hagiya, Aoi mengangguk, sibuk memanaskan kare dan mengambilkan nasi.

Ohayou,” Hagiya menoleh, melihat sosok ber-piyama pink muncul ke dapur. Rambutnya berantakan dan masih menguap tanpa malu sama sekali, “Keigo-chaaann~” ucapnya, meninju pelan bahu Hagiya.

“Kemana semalam? Kenapa belum siap? Kita kan harus berangkat setengah delapan!” hardik Hagiya, mengacak rambut gadis itu tanpa ampun, “Akane!! Semalam kemanaaa?!”

“Bawel ah! Aku kan masih kerja semalam,” Akane, salah satu penghuni tidak resmi di rumah ini yang lama-kelamaan merasa betah dan sepertinya tidak lama lagi benar-benar akan pindah ke rumah ini. Berawal dari sewa apartemen yang ia tunggak, lalu Aika mengajak Akane untuk sementara tinggal di share house itu, Sanada pun setuju toh mereka masih punya satu kamar kosong yang dulunya difungsikan sebagai ruang kerja milik kakek Sanada dan sekarang sudah tidak terpakai lagi.

Bagi seorang Hayakawa Akane, Hanya Keigo adalah seseorang yang menjaga rahasianya, tanpa sengaja mereka bertemu di bar dan Akane memang bekerja sebagai hostess walaupun dirinya tidak pernah mengatakannya kepada siapapun, sejak saat itu mereka dekat dan Akane meminta Hagiya tidak memberitahukan hal ini kepada Aika karena pasti sahabatnya itu akan dengan mudah memarahinya dan bahkan mungkin menyeretnya keluar dari bar. Padahal menjadi hostess adalah cara paling cepat untuk mengumpulkan uang demi membayar hutang milik Ayahnya. Hebat sekali memang Ayahnya itu. Setelah menghilang bertahun-tahun, tiba-tiba ia datang, dan kini Akane terlibat dengan pembayaran hutang Ayahnya yang kelewat banyak untuk ditanggung pria tak bertanggung jawab itu.

Sebagai rasa terima kasihnya, Akane pun mengajak Hagiya mendaftar di TK Himawari, dan mereka diterima sebagai guru mulai hari ini. Hagiya mengambilkan secangkir kopi, menyodorkannya ke hadapan Akane, “Jangan sampai kau tertidur di hari pertama!”

Akane mengangguk-angguk, masih menguap beberapa kali sampai matanya berair, “HOAAAMMM!!” dengan spontan Hagiya menutup mulut Akane.

“Hush! Wanita tidak menguap seperti itu!”

Aoi memperhatikan, sejak Akane datang ke rumah ini Hagiya terlihat perhatian sekali kepada wanita itu. Padahal Aoi tidak suka perhatian Hagiya terbagi kepada siapapun. Sejak dulu Hagiya hanya memperhatikannya. Mungkin karena dirinya paling kecil di rumah ini, baik Hagiya, Aika atau Sanada selalu memperhatikannya dan memanjakannya. Terlebih Hagiya, katanya dia ingin sekali punya adik perempuan sehingga Hagiya selalu memperlakukan dirinya dengan spesial. Tapi sejak ada Akane, rasa-rasanya ada sesuatu yang membuat keduanya sering mengobrol lebih lama, dan Hagiya juga terang-terangan sering menkhawatirkan keadaan Akane.

Untuk Aoi, alasannya pindah ke share house ini adalah karena keadaan memaksanya. Kedua orangtuanya pindah keluar negri, namun dia tidak ingin pindah sekolah, beruntung Sanada Yuma, yang juga gurunya dan sekaligus sepupu jauhnya itu mau menampung dirinya.

“Ini Keigo-chan,” Aoi menyodorkan nasi lenkap dengan kare yang terlihat mengepul dari piring berwarna biru itu, “Makan yang lahap ya!”

Hagiya mengangguk, “Arigatou Aoi-chan!”

“Waaa kareee.. aku lapar sekali!!” Akane turun dari kursinya, “Boleh minta, kan? Aoi-chan?”

Jangan memanggilku seperti itu, seakan-akan kita dekat! Seru Aoi dalam hati, tapi akhirnya dia mengangguk, “Tentu saja, itu buatan Yuma-kun kok,”

“Yaaayyy!!”

“Makan yang banyak! Kita pasti membutuhkan energi lebih hari ini!” seru Hagiya kepada Akane. Dan Aoi hanya bisa menatap dengan sedih, Hagiya-nya bukan lagi miliknya seorang.

***

Ohayou, bangun, sudah hampir setengah delapan,” Ruika mengambil jasnya, menghampiri tempat tidur sekali lagi untuk membangunkan kekasihnya, “Shoki-kuunn~”

Shoki menggeliat, sekilas membuka matanya dan menatap Ruika yang duduk di tepian kasur mereka, sejak beberapa bulan lalu secara otomatis Ruika sudah pindah ke apartemennya, walaupun sebenarnya apartemen milik Ruika jauh lebih besar, tapi gadis itu memilih untuk pindah ke apartemen Shoki, “Ohayou,” balasnya, menyentuh bahu Ruika, “Sudah sarapan?”

Ruika menggeleng, “Mau sarapan?”

“Kopi saja deh, sankyu,”

“Oke, sebentar ya,” Ruika beranjak, sementara Shoki masih mengumpulkan nyawanya, dan akhirnya setelah tiga menit memutuskan untuk memakai kaosnya, dan menyusul Ruika ke ruang tengah sekaligus dapurnya.

“Pagi banget, ada meeting?” tanya Shoki.

Ruika menyodorkan segelas kopi  hitam kepada Shoki, “Begitulah, biasa kan, awal bulan,”

Souka, ganbatte ne,”

Ruika mengangguk, mengenakan jasnya dan mencium pipi Shoki sebelum benar-benar keluar dari apartemen, “Ittekimaaassuuu!!”

“Itterasshai!!” balas Shoki.

Dengan sedikit tergesa-gesa ia berjalan di sepanjang trotoar, kalau tau akan kesiangan seharusnya dia bawa mobil saja kemarin, tapi karena semalam diantar Yasui hingga ke TK, ia pun merasa tak perlu pulang ke apartemennya untuk mengambil mobilnya. Jam tangannya sudah hampir menunjuk ke jam delapan, sementara bis yang ia tunggu sepertinya baru akan datang sepuluh menit lagi. Semoga saja Yasui belum datang saat ia datang nanti.

Terdengar sebuah klakson yang cukup keras membuat Ruika hampir melompat, namun detik berikutnya dia malah ingin marah kepada sosok yang membunyikan klakson keras itu.

“MORITA!! KALAU AKU JANTUNGAN GIMANA!!” seru Ruika kepada si pemilik mobil yang sekarang membuka kaca mobilnya.

“Yo! Ohayou Ruika! Bareng aja yuk! Nanti telat looohh,” katanya, membuka kaca mata hitam yang ia kenakan. Ruika tak habis pikir, walaupun memang mobil yang ada di hadapannya sekarang ini tidak main-main, sebuah mobil BMW high class yang pastinya memang hanya bisa dimiliki oleh orang berada, tapi pagi-pagi begini dengan kacamata hitam benar-benar tak habis pikir.

“Tidak usah! Sana jalan duluan!” hardik Ruika.

“Yakin? Aku baik loh, sampai menepi untuk mengajakmu bareng,” katanya lagi, menampakkan senyum yang menurut Ruika, menyebalkan. Entah sejak kapan hubungan mereka seperti anjing dan kucing, tidak pernah akur apapun yang terjadi. Ruika dan Myuto mulai kenal sejak mereka sekolah menengah atas, di sekolah yang sama dan ternama itu keduanya tak pernah akur. Kalau boleh jujur Ruika sempat menyukai Myuto tapi tampaknya pemuda itu tidak mengerti dan tidak menyadari perasaan Ruika, mereka lebih sering berdebat hal-hal tidak penting sehingga akhirnya Ruika menyerah, dan Myuto saat itu berpacaran dengan gadis lain. Saat masuk kuliah pun  mereka tidak lagi pernah bertemu hingga saat penerimaan karyawan baru Myuto kembali bertemu dengan Ruika, sama sekali tanpa sengaja.

“Baiklah!” Ruika menghela napas, malas berdebat dan segera masuk ke mobil abu-abu metalik itu, tak lama mereka pun sudah melaju menuju ke kantor.

“Mobilmu mana?” tanya Myuto.

“Di apartemenku lah,”

“Ooowww jadi tadi dari apartemen kekasihmu itu ya, siapa namanya… uhmmm,” Myuto mencoba mengingat nama Shoki namun tak berhasil.

“Shoki! Dan dia bukan pacarku!” Myuto tampak kaget mendengar pernyataan itu, “Dia tunanganku!” ralat Ruika.

Souka, selamat ya!” Ruika hanya mengangguk, “Tunanganmu, tidak mengantarmu?” Myuto menekankan kata ‘tunangan’ dengan cara yang dramatis.

“Dia juga kerja, tidak bisa mengantarku sepagi ini,” jawab Ruika lagi, mulai menikmati lagu yang diputar dari perangkat audio mobil milik Myuto untuk sementara keduanya hening menikmati perjalanan, “Eh? Itu… anak magang kan?” Ruika melihat anak magang yang kemarin datang turun dari mobil presdir mereka ketika mobil Myuto sampai di gedung kantor.

“Kau benar! Eh iya namanya Abe Aran,” kata Myuto, seakan baru menyadarinya keduanya lalu berpandangan, “ABE SACHOU!!” teriak mereka bersamaan.

***

Suasana di TK Himawari memang selalu sibuk setiap paginya. Dimulai dari memeriksa seluruh ruangan, sampai ributnya guru-guru TK yang hampir kesemuanya adalah perempuan di dalam ruang guru, bergosip. Shoki selama ini selalu jadi satu-satunya guru TK yang berjenis kelamin pria di tempat ini, tapi dia tidak pernah merasa terasingkan, mengobrol dengan ibu-ibu guru disini tetaplah menyenangkan baginya. Shoki suka sekali dengan anak-anak, pengalamannya sebagai anak panti asuhan membuatnya selalu ada keinginan untuk melindungi anak kecil, mungkin begitu pada akhirnya dia sangat mencintai pekerjaan ini.

Ohayou Shoki-sensei!í” Shoki melihat Akane dan satu orang guru baru yang akhirnya laki-laki itu pun menyapa dirinya.

“Akane-sensei, dan kau…”

“Ah, Hagiya Keigo desu, yoroshiku onegaishimasu senpai! Mohon bantuannya!” seru Hagiya.

Yoroshiku onegaishimasu. Namaku Morohoshi Shoki,” mereka pun berjabat tangan, “Akhirnya aku bukan paling tampan di ruangan ini, iya kan Kaori-sensei?” tanya Shoki kepada seorang guru yang nampaknya sedang memperhatikan mereka.

“Ahahaha, benar sekali sekarang Shoki-sensei punya saingan!”

“Eh? Saingan?” tanya Hagiya, bingung.

“Jangan dianggap, mereka itu biasa sering menjodoh-jodohkan aku dengan banyak wanita atau wali murid yang single,” jelas Shoki.

Sou desu ka,” Hagiya mengangguk-angguk.

“Okay, tugas pertama kalian. Ikut aku ke depan untuk menyambut semua murid yang datang. Jangan lupa tersenyum, dan harus bersemangat ya!” Shoki menyimpan tasnya, lalu mengambil apron miliknya, “Ah iya, nanti tulis nama kalian di apron biar murid-murid cepat mengingat nama kalian,”

“Siap Shoki-sensei!” jawab Akane dengan bersemangat.

Sambil menyambut anak-anak datang, beberapa kali Shoki memperkenalkan mereka kepada wali murid yang datang mengantar anak-anaknya. Beberapa kali dipertanyakan kenapa ada guru baru dan Shoki menjelaskan bahwa ada dua guru mereka yang terpaksa mengundurkan diri dalam waktu yang bersamaan, yang satu pindah mengikuti suaminya dan yang satu lagi pindah pekerjaan karena kontraknya habis.

Hagiya baru kali ini mengajar di TK, tapi rasanya dia akan menyukainya. Melihat anak-anak kecil berlarian ke arah mereka dan tersenyum dengan sangat lebarnya, membuat hatinya menghangat.

“Shoki-senseeeiii!!” seorang anak kembali berlari ke arah mereka, “Hari ini Mama tidak telat bangun!!” serunya bersemangat.

“Ngadu lagi deh, Ken-chan!” seru Hazuki yang mulai ngos-ngosan mengejar langkah Kenichi yang kelewat bersemangat.

Shoki menunduk sejajar dengan Kenichi, “Yaaayy!! Ken-chan jadi tidak telat ya, oh iya ini ada sensei baru, ada Akane-sensei dan Keigo-sensei,” Kenichi menatap keduanya dan tersenyum.

Baik Akane maupun Hagiya menghadiahkan senyum terbaiknya kepada Kenichi.

Ohayou Ken-chan,” sapa Akane, menepuk pelan kepala Kenichi.

“Kirie Hazuki desu, aku Mamanya Ken-chan,” ucap Hazuki menjelaskan, “Ken-chan jadi anak baik di sekolah ya,” ucap Hazuki sebelum mencium pipi Kenichi dan melambaikan tangan saat Kenichi berlari masuk ke TK.

“Tidak begadang lagi, Hazuki-chan?” tanya Shoki.

“Tugas buat soal sudah selesai jadi aku bisa tidur nyenyak,” jawab Hazuki.

“Ah iya, Keigo-sensei ini yang akan jadi asistenku di kelas Ken-chan nanti,” kata Shoki mengenalkannya sekali lagi kepada Hazuki.

Hazuki tersenyum ke arah Hagiya, dan untuk beberapa saat sepertinya Hagiya pernah melihat senyum itu, tapi dia lupa dimana, “Kalau begitu aku berangkat dulu ya, Shoki-sensei, Keigo-sensei, Akane-sensei, Ittekimasssuu!!

***

Kaede mengetuk-ngetukkan jarinya, matanya masih menelusuri tulisan di layar laptopnya, beberapa kali dia mengambil gelas yang ada di sampingnya, meneguk teh hangat yang sengaja ia simpan di sana sebagai temannya pagi ini.

Ohayou Yasui-sensei,” secara spontan ia menutup layar laptopnya, menoleh kepada Sanada yang menyapanya dari belakang, membuatnya kaget.

“Sanada-sensei! Kukira siapa?!” serunya.

Sanada berdiri di samping Kaede, “Kau masih mau menjalankan itu?”

“Tentu saja. Tekadku sudah bulat,” jawab Kaede.

“Sebegitu bencinya kah kau pada pernikahan?” Sanada duduk di bangku yang memang ada di samping meja Kaede, suaranya sedikit dipelankan agar tidak ada orang yang mendengar mereka.

Kaede mengangguk, “Aku sudah pernah bilang, aku melihat pernikahan menghancurkan Ibuku dan kakakku sendiri, jadi… tidak terima kasih,”

Sanada menyerahkan sebuah flashdisk di atas meja milik Kaede, “Soal ujianku, dan kupikir kau lebih baik memikirkan lagi apakah kau akan menjalani ini atau tidak,” kata Sanada, meninggalkan Kaede.

Sambil masih memandangi punggung Sanada yang semakin menjauh Kaede menghela napasnya. Sejak tahun lalu Kaede merencanakan sesuatu, bahkan prosedurnya sudah hampir selesai, dia pun sudah mendapatkan terapi hormon seperti yang ia inginkan selama ini. Kaede ingin punya anak, tapi tidak ingin menikah. Ia melihat ibunya dan Ayahnya yang hancur setelah berpisah, begitupun dengan kakaknya. Ditambah lagi pengalaman pahitnya bersama cinta pertamanya membuat Kaede sudah memutuskan untuk menutup pintu hatinya. Maka beberapa bulan lalu ia mendaftar di sebuah Rumah Sakit untuk mendapatkan prosedur bayi tabung. Semuanya hampir selesai namun Sanada mengetahuinya setelah berkas milik Kaede tertinggal di sekolah, Sanada membacanya tanpa sengaja.

Walaupun tidak ingin tau tapi berkas itu terbuka, dan sejak saat itu Sanada mengetahui maksud Kaede dan entah dengan maksud apa yang Kaede tidak tau, Sanada pernah menawarkan pernikahan dengannya.

“Kau suka padaku?” tanya Kaede saat itu, mereka minum di bar sekitaran Shibuya karena Sanada ingin membahas apa yang ia baca di dokumen milik Kaede saat itu.

Sanada terdiam, sama sekali tidak menunjukkan ekspresi yang bisa dibaca oleh Kaede, “Aku hanya tidak setuju kau ingin punya anak dari laki-laki yang tidak jelas,”

“Mereka jelas, Sanada, profil mereka lengkap, semuanya sudah dipastikan tidak punya penyakit keturunan yang berat, itu gunanya ada bank sperma!” seru Kaede tidak mau kalah.

“Tetap saja kau tidak mengenal mereka Yasui-san,”

Sejak saat itu Kaede mengabaikan peringatan Sanada, masih tetap keras kepala dengan pilihannya. Dan sebaliknya Sanada pun terus mengingatkan Kaede akan tawarannya, yang tidak mungkin ia lakukan selama dirinya masih belum bisa percaya akan cinta.

***

Ketika Reo hendak masuk ke kelasnya, tak sengaja ia melihat Kaede di balkon gedung seberang. Matanya menerawang, seakan-akan ada beban berat yang sedang dipikirkan oleh gurunya itu. Bagi Reo, seorang Kaede bukan hanya sekedar guru, Kaede adalah cinta pertamanya. Selama hidupnya, baru kali ini ia akhirnya mempunyai perasaan khusus terhadap wanita, dan ternyata itu dirasakannya kepada Kaede. Reo hidup bersama Ayah kandungnya, tanpa Ibu karena wanita itu meninggalkannya ketika ia baru saja menginjak umur enam tahun, ia tidak membenci ibunya, tapi tidak punya niat sama sekali untuk mencari keberadaan wanita itu. Reo tau, mungkin perasaannya kepada Kaede adalah hasil dari mendambanya seorang Reo kepada kasih sayang wanita dewasa kepada dirinya yang tidak pernah merasakan hal itu, tapi ia serius, ia ingin mengejar cinta Kaede.

Reo masuk ke kelas, menyimpan tasnya dan berlari ke gedung sebelah, anggap saja pagi ini adalah waktu dirinya untuk berolahraga. Ia naik ke tangga darurat dimana ia tadi melihat sosok Kaede di sana.

“Yasui-sensei!” panggil Reo, Kaede menoleh, “Ohayou gozaimasu!!” serunya bersemangat.

Ohayou Nagatsuma-kun, kenapa kau ada di sini? Gedung kelasmu di sebelah sana kan?” kata Kaede, menunjuk ke gedung seberang.

Sambil tersenyum Reo mengangguk, “Karena Yasui-sensei terlihat sedih, aku ingin memberikan ini!” Reo menyerahkan sebatang coklat dengan pita berwarna pink di hadapan Kaede. Sesaat Kaede menatap coklat itu dengan heran, “Happy white day, Yasui-sensei!” serunya bersemangat.

White day sudah lewat, Nagatsuma-kun, dan seharusnya kau memberikannya kepada gadis yang memberikan coklat padamu, bukan padaku!” seru Kaede, namun Reo tak peduli, ia menarik tangan Kaede dan menyerahkan coklat itu langsung di tangan gurunya.

“Aku ke kelas dulu! Yasui-sensei jangan sedih lagi!”

Kaede menggeleng menatap Reo yang melambaikan tangannya dengan bersemangat ke arah Kaede, dan berlari ke gedung sebelah karena bel sekolah sudah berbunyi, “Arigatou,” gumam Kaede.

***

“Yasui-kachou hari ini kita buat pesta penyambutan buat anggota magang kita!” seru Myuto ketika siang itu ia melihat Yasui berada di pantry sedang makan siang, seperti biasa Myuto selalu kagum melihat bento milik Yasui yang selalu terlihat enak.

“Jam berapa?” tanya Yasui, menatap Myuto yang maih berdiri di hadapannya.

“Jam tujuh, Ruika-chan sudah mem-booking tempatnya!” kata Myuto, memang acara seperti ini seperti sudah menjadi kebiasaan dan mau tak mau memang sebagai ketua divisi dirinya akan ikut, bahkan mentraktir anak buahnya.

“Baiklah, makasih Morita-kun,” Myuto masih berdiri di hadapan Yasui, “Kenapa? Ada lagi yang mau kau tanyakan?”

Myuto segera duduk di hadapan Yasui, “Begini Yasui-san, Abe Aran itu….” Myuto sengaja menggantung kalimatnya.

“Anaknya Abe-sachou kalau kau penasaran, memang iya, tapi sejak awal dirinya dan Abe-sachou sendiri tidak mau anaknya diperlakukan secara istimewa,”

Sambil mengangguk-angguk Myuto membuka roti yang ia beli di kantin tadi, “Sou desu ka,”

“Tapi aku juga baru tau akhir-akhir ini,”

“Maksudnya?” tanya Myuto dengan mulut prnuh dengan roti.

“Bahwa Abe-sachou punya anak laki-laki,” jawab Yasui, “Seingatku hanya ada seorang anak perempuan yang pernah dibawa ke acara kantor,” ucapnya lagi, Myuto hanya mengangguk-angguk.

“Jangan-jangan….” Myuto menampilkan wajah seriusnya, Yasui menatapnya dengan pandangan bertanya, “Dia itu dulunya tinggal di luar negri?!”

Yasui menggeleng, “Baca profilnya dong, semua sekolah Abe-kun hingga perguruan tinggi tidak ada yang di luar negri,” ucapnya kalem, “Lagian kenapa juga aku harus membahas ini denganmu, sih?”

Bukan rahasia lagi kalau seorang Morita Myuto adalah telinga dan mata semua orang di kantor. Istilahnya jika kamu melakukan sesuatu pastilah Morita Myuto dari divisi HRD akan duluan tau.

DUK. Baik Myuto dan Yasui segera menoleh, Itou Akina berdiri di depan mesin pembuat kopi, namun kelihatan bingung.

“Aki-chan! Ada apa?” tanya Myuto, menghampiri Akina yang terlihat bingung.

Akina menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Mesin pembuat kopinya, berbeda dengan yang biasa aku pakai,” Myuto heran, setelah belasan tahun berpisah sifat Akina yang polos tidak juga berubah, “Ini… benar, kan?” Akina menekan salah satu tombol namun air panas yang keluar dan karena kaget Akina berusaha mematikannya, alhasil air panas itu langsung mengenai punggung tangannya, “AH! ITTAI!!” serunya.

Entah dari mana datangnya Yasui segera menarik tangan Akina, membawanya ke wastafel dan langsung membasuh tangan Akina yang terlihat kemerahan karena air panas itu dengan air mengalir, “Myuto! Ambil salep di kotak P3K!” serunya, menyadarkan lamunan Myuto yang sejak tadi malah terpana dengan apa yang dilakukan Yasui.

Hai! Segera!!” tanpa disuruh lagi Myuto balik kanan dan keluar dari pantry.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Yasui, melihat Akina yang tampak masih kaget dan gugup.

“I… iya kachou,” ucapnya gugup.

“Masih terasa perih?” tanya Yasui kemudian, Akina mengangguk, ia terpana menatap wajah Yasui yang hanya berjarak puluhan sentimeter saja dengan wajahnya, rasanya seperti ia harus menahan napasnya, baru kali ini sedekat ini dengan seorang pria.

Itou Akina selalu menjadi seseorang yang tidak populer diantara laki-laki, setidaknya selama masa sekolahnya ia hanya sibuk belajar dan melupakan masa mudanya. Teman wanita pun bisa dihitung dengan jari karena sifatnya yang tertutup dan sulit dekat dengan orang lain. Karena itulah dia belum pernah mengalami hal seperti ini, apalagi kalau dipikir-pikir, Yasui Kentaro ini tampan juga.

“Itou-kun?”

Akina segera menggeleng lalu tak lama ia mengangguk, “Masih perih sih, sedikit,” ucapnya.

“Kalau begitu kita nanti pakai salep kalau masih perih juga nanti kita ke dokter, ya?” Yasui mengambil salep yang dibawa oleh Myuto dan langsung mengoleskannya ke tangan Akina setelah mengeringkannya terlebih dahulu.

Arigatou Yasui-kachou,” ucap Akina.

“Nanti aku ajari deh ya bikin kopi pakai itu, okay?” kini Myuto yang menawarkan bantuan, membuatnya tenang. Untunglah walaupun jauh dari rumah dan teman-temannya ia kini berada di tempat yang cukup baik, begitu pikirnya.

***

Ketika sampai di restoran yang di informasikan oleh Ruika, Aika tidak menemukan siapapun di sana. Teman satu kantornya belum ada yang datang, ia pun segera menyebutkan nama Ruika dan pelayan di sana mengantar Aika ke sebuah ruangan private yang ternyata dipesan oleh Ruika.

“Terima kasih,” ucap Aika, tadi dia pergi duluan karena ia harus membeli sesuatu dulu di supermarket, seperti biasa titipan dari Sanada. Tapi ternyata ia selesai cukup cepat dan datang ke restoran itu terlalu cepat.

“Ada yang mau dipesan dulu?” tanya pelayan itu, masih menatap Aika yang sedang membuka mantelnya. Musim semi sudah datang tapi rasanya angin musim dingin masih saja membuat tubuhnya beku.

“Teh saja, teh hangat,” kata Aika, pelayan itu pun segera undur diri. Ia ingin segera minum bir tapi terlalu cepat mabuk sepertinya bukan ide yang bagus apalagi ia tidak begitu mengenal teman-teman satu divisinya ini.

Aika sedang sibuk dengan ponselnya ketika pesanan datang bersamaan dengan sesosok yang paling tidka ia harapkan hari ini.

“Yo!” senyum itu lagi, Aika hanya menyapa seadanya, “Sudah lama?” tanyanya.

Aika menggeleng, “Aku baru datang kok,”

Nama bir,” katanya pada pelayan yang mengantarkan teh kepada Aika, pelayan itu mengangguk, “Tidak minum bir?”

“Nanti saja,” sebisa mungkin ia menjawabnya dengan singkat dan padat. Jika tidak benar-benar perlu, di kantor pun interaksinya dengan Aran benar-benar minim.

Tidak sampai lima belas menit kemudian seluruh divisi HRD pun bergabung dengan mereka, ada sekitar sepuluh orang di ruangan private itu. Mereka pun memulai makan malam itu, dengan toast sebagai bagian dari penyambutan anggota magang mereka yang baru.

“Yooo!! Selamat bergabung dengan kami!! Semoga kalian betah, dan tahun depan kalian bisa bergabung seperti kami!! Kanpaaaiii!!” seru Myuto, yang secara tidak langsung menjadi MC di acara tidak resmi itu.

KANPAAAIIII!!

Sebenarnya Aika tidak pernah benar-benar suka acara seperti ini. Sekumpulan orang minum-minum, padahal mereka tidak begitu dekat dan mau tidak mau Aika pun harus menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai kehidupan pribadinya, apalagi dirinya, Akina dan Aran hari ini jadi pusat perhatiannya.

“Aran-chan!! Aran-chan!!” seru Chiaki, salah satu perempuan paling dewasa di ruangan ini, Aran menoleh ke arahnya, “Aran-chan sudah punya pacar belum??” diiringi sorak sorai yang lain, mengatakan bahwa itu perlu ditanyakan pada pemuda setampan Aran.

Seperti profesional Aran tersenyum, menyingkirkan rokok dari mulutnya dan menjawab, “Tentu saja belum,”

“Waaaa~ Kita masih punya kesempatan!!” seru wanita-wanita itu dengan bersemangat.

Aika melirik ke arah Aran yang duduk tepat di sebelahnya, ikut tersenyum jumawa.

“Ne, ne, Aran-kun,” kini Myuto, mendekati Aran, duduk disebelah Aran, “Kau benar anak Abe-sachou??” pertanyaan itu sangat pelan tapi Aika bisa mendengarnya karena ia tepat di sebelah Aran dan Aika bersumpah bisa melihat ekspresi wajah pemuda itu berubah jadi tidak nyaman.

“Myuto! Kau sudah cukup mabuk!” ternyata selain dirinya, Yasui juga mendengar pertanyaan itu dan Myuto segera menatap Yasui yang sedang minum itu dengan kaget, “Tolong pesankan lagi sushi,” katanya.

“Baiklah,” kecewa karena tidak mendapatkan jawaban, Myuto pun beranjak untuk memanggil pelayan.

“Aku ke WC dulu,” ucap Aika, ia sepertinya terlalu banyak minum dan sekarang rasanya beser sekali. Ketika dirinya selesai dari kamar mandi dan hendak kembali ke ruangan, ia melihat Aran di balkon restoran, tidak sulit mengenali pria itu dari rambut pirang terangnya.

“Kenapa kau?”

Aran berbalik, menatap Aika, di bibirnya terselip sebatang rokok, “Menurutmu?”

“Jadi benar Abe Aran adalah anak dari Abe-sachou?” tanya Aika, angin cukup kencang membuatnya melipatkan tangannya di depan dada.

Entah kenapa Aran hanya terkekeh, tapi sepertinya sinis, Aika bisa melihat ekspresi wajahnya yang terlihat sinis, “Aku tidak perlu menjawabnya,” jawab Aran.

“Kenapa? Tidak mau dianggap sebagai pewaris takhta?”

Sambil menoleh Aran mematikan puntung rokoknya yang masih setengah habis, langkahnya pelan mendekati Aika, menarik dagu gadis itu hingga wajah mereka kini tak lebih dari sepuluh sentimeter jaraknya, “Bawel!” seru Aran, tampak terganggu dengan ucapan Aika, “Gimana kalau aku bikin diam dengan ciuman?” pertanyaan itu sangat maskulin, hampir membuat Aika sesak napas dibuatnya.

“Kau tidak akan berani!” seru Aika, dan detik berikutnya bibirnya sudah menempel dengan bibir Aran.

Bibir dengan bibir, kesal rasanya harus mengakui bibir Aran memang terasa lembut dan sialnya manis, mungkin efek nikotin yang baru saja dihisapnya.

Belum pulih dari kekagetannya Aika merasakan bibir Aran melumat pelan bibir bawahnya, dan saat itulah ia sadar ini kesalahan. Aika mendorong bahu Aran sekuat tenaga lalu dengan dada masih bergemuruh Aika berbalik, meninggalkan Aran.

***

To Be Continue~

Doh… apaan ini???!! Ahahaha still COMMENTS ARE LOVE

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Seven Colors (#2)

  1. hanazuki00

    Lah bersambungnya pas ciuman ga asik banget mih hahaha

    Ku kira yasui hazuki bakal ada anu anu setelah mereka ribut dan hazu nyentuh pinggirbibir Yasui. Ternyata Yasui nggak khilaf huuuf… eh tp masih ada momen nanti mereka habs nonton kenchan deng (⸝⸝⸝ᵒ̴̶̷ ⌑ ᵒ̴̶̷⸝⸝⸝)✨

    Jadi hazu kaede knapa skrg saling jaga jarak? Karna cerai sm yasui? Uuuh 😦
    Tp kaede, kl mau punya anak mending minta spermanya sanada aja drpd gajelas, gausah nikah deeeh gapapaa mayaaan bapaknya nanti ganteng loh /oiii

    Abe sachouuuuu /plak

    Hagi seperti pernah melihat hazu? Jangan jangaaaaan……. dia mantannya yasui! /bedacerita oiiii/

    Aku suka shoki disini mih, rasanya tampan dan elegan sekalii beda sama dia yg banyak tingkah aslinya hihi

    Aki, asli polos apa sok polos sih… kok rasanya kesel err

    Ditunggu chapter selanjutnya ❤

    Reply
  2. dindobidari

    Hueheee aku baru baca part dua……..
    Kalo lihat(?) Yasui – Hazuki itu, rasanya emang bener sih ya, wanita suka diperjuangkan hiks. Ketika si wanita merasa tak lagi diperjuangkan, dia akan memilih pergi saja. Jadi berharap perjuangannya Sanada untuk menikahi kaede bisa berhasil.. *nyambungkemana
    Terus Hagiya. Hagiyaaaa dia itu perhatian sama siapapun, bahkan sampe jadi guru TK. Lucu siiiiih.. tapi perhatiannya terlanjur bikin Aoi jadi baper yak, kebaperan sendiri. Padahal belum tentu haginya nganu ><
    Hagi menyelamatkan(?) Shoki jadinya hihihi, sedikit ancaman bagi Aoi juga kalo entar Hagi kebawa dijodoh2in sama cewe2 lajang ahahah.. XD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s