[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 8)

Title: Lelaki yang Mencicit
Author: Darya Ivanova
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Cast: Nakajima Yuto, Nakajima Kento, Fujii Ryusei, Yamazaki Kento, OC
Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)
Disclaimer: All casts are not mine

Perubahan Kecil

Meskipun jam telah menunjukkan pukul 03.00, rupanya Yuto masih terduduk di atas meja makan dengan laptop di hadapannya. Bekerja di meja makan itu sebetulnya agak kurang nyaman karena jauh dari stop kontak – yang artinya Yuto harus menyediakan sebuah kabel panjang yang dapat menghubungkan laptopnya dengan stop kontak.

Iringan gitar Slash di akhir lagu November Rain terus diulang-ulang oleh Yuto. Mungkin itu supaya ia tidak mengantuk. Malam itu pula ia juga tidak menyentuh sekaleng bir atau sake, tetapi secangkir kopi dan sekotak rokok yang membantunya terjaga semalaman. Bagaimanapun caranya ia telah berkomitmen untuk menyelesaikan pekerjaan setidaknya satu jam sebelum fajar menyingsing. Setidaknya ketika ia kembali menjadi seekor tikus, meja makan dan dapurnya telah rapi, dan begitu pula laptopnya. Dengan demikian, ia dapat menggeser waktu istirahatnya di pagi hingga sore hari.

Yokatta! Akhirnya selesai juga!” ujar Yuto menghela napas tenang. Laptop telah ditutup dan dengan cepat ia mengembalikan laptop dan kabel panjang ke dalam lemari di kamarnya. Setelahnya, ia melirik jam dan memastikan bahwa detik-detik munculnya matahari masih jauh. Setidaknya ia memiliki waktu yang cukup untuk mencuci cangkir kopinya – yang merupakan satu-satunya cucian yang tersisa – dan membuang puntung rokok di asbak, serta membersihkan sisa abunya.

**

Pukul 08.30

Nagase Advertising memiliki ‘ritual pagi’ yang tidak lazim di perusahaan Jepang pada umumnya: morning coffee di pagi hari. Mungkin Nagase-san, pendiri sekaligus pemilik Nagase Advertising, mencetuskan ide ini setelah ia kembali dari Australia dan mendirikan kantor iklannya sendiri di kampung halamannya, Tokyo. Memang, program morning coffee ini seringkali menjadi momen keakraban bagi karyawan – selain di waktu makan siang dan coffee break. Semua karyawan Nagase Advertising yang bertitel senior tidaklah seperti senior di perusahaan pada umumnya. Mereka bertugas menjadi seperti mentor bagi karyawan reguler dan yang bertitel yunior. Bahkan Nagase-san sendiri tidak pernah bertindak seperti bos pada umumnya. Ia justru berbaur dengan banyak karyawan di saat-saat seperti itu – tetapi sisi profesionalnya tetap ada.

“Eh, Yuto mengirimkan surel semalam. Kau sudah buka belum?” tanya Yamazaki Kento. Seperti biasa, geng itu berkumpul di saat morning coffee: Fujii Ryusei, Nakajima Kento, dan Yamazaki Kento. Sayangnya pagi itu Yuto sama sekali tak tampak batang hidungnya.

“Belum. Mengapa?” tanya Ryusei kembali. “Aku tak mengerti mengapa ia masih serajin itu, padahal hari ini ia absen,” tambahnya sebelum menyeruput kopi hitam di cangkirnya. Sebetulnya Ryusei bukan tidak mengerti, tetapi ia hanya tak habis pikir mengapa temannya itu terlalu sering mencuri start ketika proyek periklanan baru akan dimulai.

“Bukan Yuto namanya kalau tidak melakukan persiapan seperti itu. Aku pun sebetulnya iri mengapa ia bisa sekuat itu untuk urusan pekerjaan,” sahut Nakajima Kento. Sebetulnya di pagi itu Nakajima Kento masih sedikit lemas, tetapi kali ini ia benar-benar memaksakan dirinya karena momen promosinya sudah di depan mata.

“Hei, Naka-ken, mengapa kau masih iri dengannya? Padahal kau sendiri orang pertama di antara kita yang akan dipromosikan menjadi senior copywriter, bukan dia!” sahut Yamazaki Kento. Namun perdebatan kecil mereka berakhir ketika si buah bibir muncul dengan secangkir kopinya. Ia tampak memegang cangkir kopi, tetapi pandangannya tidak fokus. Ia terus memandang sekelilingnya yang sebetulnya sudah diisi oleh banyak orang.

“Hei, Arai-san! Ada apa?” tanya Nakajima Kento dengan spontan setelah memerhatikan Yuko yang masih celingak-celinguk.

Etto… Di area ini sudah tidak ada meja yang kosong lagi, ya?” tanya Yuko retoris. Memang sudah tidak ada lagi tempat kosong di area perokok – tempat di mana ketiga serangkai yang kehilangan satu anggotanya itu berada. Setiap meja sudah penuh dengan orang karena area perokok di Nagase Advertising ternyata sangat terbatas.

“Ya… Begitulah. Bisa kau lihat sendiri kan?” tanya Yamazaki Kento kembali – yang tujuannya adalah untuk menekankan fakta yang ada. Jika dilihat kembali, sebetulnya satu-satunya kursi yang tersedia di area perokok itu ada di meja yang ditempati oleh ketiga serangkai itu.

“Kalau begitu… Keberatankah kalian jika aku ikut menumpang di sini?” tanya Yuko dengan yakin dan pasti. Sepertinya tipe wanita yang seperti Yuko masih jarang ada di Jepang. Pada awalnya ketiga dari mereka terkejut, lalu saling memandang.

“Ya… silakan!” Setelah Yamazaki Kento mengizinkan, Yuko pun meletakkan cangkir kopinya dan menarik kursi. Jujur, sebetulnya Nakajima Kento, Fujii Ryusei, dan Yamazaki Kento sedikit keberatan akan kehadiran Yuko di mejanya, tetapi mereka tidak memiliki pilihan.

“Terima kasih!” Yuko langsung mengeluarkan pemantik dan sekotak rokok setelah menyeruput kopi pertamanya. “Beberapa hari ini aku sudah mencoba mengurangi kebiasaan ini, tetapi ternyata tak semudah yang kukira. Mulutku malah terasa asam setelah beberapa hari tidak merokok!” sambungnya. Ia langsung menyulutkan api setelah batang rokok pertamanya di pagi hari keluar.

“Kalau kau ingin mengurangi kebiasaan merokok, seharusnya kau melakukannya secara bertahap. Tidak langsung tiba-tiba begitu,” Ryusei menanggapi. “Siapa yang waktu itu mau berniat berhenti merokok, tetapi malah semakin kecanduan?” timpalnya.

“Temanmu, tuh! Orangnya sedang tidak di sini!” jawab Yamazaki Kento. Kini sembari mengisap rokoknya, Yuko menengok ke sekelilingnya.

“Pantas saja aku merasa ada yang aneh dengan kalian. Rupanya Nakajima yang satunya tidak ada. Katanya dia sakit, ya?” tanya Yuko tanpa basa-basi. Kini Fujii Ryusei dan duo Kento terdiam. Bagaimana mungkin ia tahu bahwa Yuto tidak masuk dengan alasan sakit.

Eh, kau tahu dari siapa?” tanya Nakajima Kento.

“Dia sendiri yang mengatakan demikian!” jawab Yuko dengan lugas. “Tengok dia. Kalian temannya, kan?” Ketiga serangkai itu mengangguk.

“Tapi bagaimana kau bisa tahu kalau Yuto sedang sakit?” tanya Nakajima Kento heran.

“Aku tahu langsung darinya. Tidakkah tadi sebelumnya kukatakan itu?” tanya Yuko kembali karena Nakajima Kento tampak tidak menangkap maksudnya.

**

Beberapa orang kini tampak berada di sebuah ruang dengan nuansa biru-kuning-hijau dan meja bundar di tengahnya. Seorang pria yang mungkin telah berusia kepala empat tampak berdiri di satu ujung meja dan sebuah layar berada di belakangnya.

“Nah, kemarin sebelumnya sudah saya kirimkan konsep untuk iklan Harao Inc, kan? Bagaimana dengan ide untuk iklan produk minuman Harao Inc?”  Pandangan para anggota tim proyek langsung tertuju kepada Yuko yang langsung mengangkat tangan. Apalagi Ryusei dan Yamazaki Kento terperanjat karena mereka masih sibuk membuka surel yang dikirim Yuto semalam dengan PetAi.

“Baik, Nona Arai. Apa yang hendak anda sampaikan?” Yuko mengeluarkan sebuah binder dan membawanya ke bagian depan – agar dekat dengan papan putih. Ditempelkannya kertas-kertas yang semula tersimpan rapi di dalam binder dengan magnet sehingga papan putih tadi nyaris penuh dengan kertas miliknya.

“Sebetulnya ini bukan ide saya, melainkan ide Nakajima-san yang hari ini sedang berhalangan hadir karena sakit. Yang akan saya sampaikan di sini – mewakili Nakajima-san – adalah bagaimana sebaiknya bentuk iklan disampaikan. Setidaknya iklan untuk produk Harao Inc membutuhkan media yang tidak bergerak – billboard, neonbox, di dekat vending machine, dan di kawasan pertokoan – dan media bergerak – kendaraan umum. Media massa juga menjadi media penyampaian, seperti televisi, media cetak, dan radio agar iklan dapat langsung tersampaikan kepada masyarakat. Namun, untuk masalah tampilan visual, selanjutnya akan didiskusikan dengan tim visual yang lebih mengerti bagaimana tampilan ideal untuk iklan ini,” papar Yuko. Di saat berakhirnya pemaparan Yuko, Ryusei baru saja membuka berkas terlampir di surel. Matanya bertatapan dengan Yamazaki Kento dengan penuh isyarat.

**

Merah matahari masih menampakkan sebagian dirinya di ufuk barat. Yuto mengibas-ngibaskan ekor panjangnya selagi menunggu cahaya itu berganti dengan putih sinar bulan. Duh, menggaruk tubuh dengan kaki itu aneh, batinnya. Wajar saja, ia belum terbiasa menggaruk dengan kaki. Mana ada manusia yang menggaruk kepala dengan kaki – kecuali karena sesuatu dan lain hal? Karena bosan, ia pun melangkah meninggalkan jendela dan mendekati patahan kaki kotatsu – yang belum juga disingkirkannya, lalu menggigitnya. Ya, karena efek berada di dalam tubuh tikus, selain mencicit, Yuto juga mulai memiliki hasrat yang kuat untuk mengerat, sebagaimana normalnya seekor tikus – yang notabene merupakan binatang pengerat. Ternyata menggigit-gigit seperti ini enak ya, batinnya bahagia karena mulai menemukan distraksi dari rasa bosan.

“Ciiiiiiiiit!” Yuto mengerang kesakitan – yang merupakan tanda bahwa tubuhnya akan kembali normal. Selagi belum benar-benar kembali menjadi manusia, ia berlari menuju ke kamarnya. Tangannya langsung meraih apa saja yang tergantung di kapstok dan langsung mengenakannya di tubuhnya yang kerap kali disandingkan dengan bambu dan tiang listrik. Ponselnya yang disimpan di laci langsung diambilnya dengan cepat bersama dengan laptop yang diletakkan di samping nakas.

“HAAAAA! ADA APA DENGAN KAKI KOTATSU-NYA?!?!?!” Kurang lebih begitulah reaksi Yuto ketika mendapati salah satu kaki kotatsu yang tiba-tiba “berjejak”. Bukan jejak kaki atau cap tangan, melainkan bentuk gerigi seperti bekas gigitan. Jika ia ingat-ingat kembali,

“Wajar saja! Ternyata perilaku tikus!” gumamnya sembari menggerakkan sendi di rahangnya – sehingga timbul gesekan antara gigi seri atas dan bawahnya. Sesekali ia membayangkan seperti apa rasa gatal dan sakit pada giginya jika tidak mengerat, tetapi kali itu ia sama sekali tidak merasakannya. Ternyata rasa itu hilang di saat tubuhnya kembali menjadi manusia.

KRUYUK! Sistem organ pencernaan Yuto memberikan sinyal bahwa sudah waktunya perutnya diisi. Dua hari menjadi seekor tikus di siang hari belum juga meluluhkan pikirannya untuk mengambil sisa makanan di kotak sampah. Tangannya kini bergerak ke arah pintu lemari es dan mengambil sebutir telur setelah menyiapkan semangkuk mi instan seduh. Rupanya ia juga telah menyiapkan air yang sebetulnya terlalu banyak untuk menyeduh mi instan agar terdapat cadangan untuk merebus telur.

“Apa itu?” Yuto kembali menggumam saat ia hendak menutup pintu kemari es. Sebuah benda berbentuk balok dengan bungkus berwarna dasar abu-abu tampak telah habis sekitar satu per empat bagian. Ia langsung menghela napas ketika mengetahui benda yang diraihnya. Meskipun itu tak lebih dari tiga per empat batang keju, sebetulnya bagi Yuto, itu lebih seperti pengorek luka di masa lalu. Ya, Mariya. Tiga per empat batang keju yang bernaung di dalam lemari es Yuto adalah milik Mariya yang ditinggalkannya sekitar tiga bulan yang lalu – saat Mariya berlibur ke Tokyo selama seminggu. Namun, ide cemerlang kini hinggap di kepala Yuto. Sejujurnya ia tak terlalu menyukai keju, tetapi karena sifat alami seekor tikus sudah dimilikinya, mau tak mau ia harus mulai mencoba menyukai keju.

“Rasanya tidak seburuk yang kukira,” komentarnya sambil menggigit selembar keju yang sebelumnya telah diiris tipis. Sembari mengecek isi lemari es dan lemari di dapur, ia memastikan bahwa selama dua minggu ke depan, persediaan makanan yang dimilikinya cukup hingga masa hukumannya berakhir.

~Bersambung~

 

A/N: Minna-san, hisashiburi, ne~

Setelah hampir setahun nggak melanjutkan cerita ini akhirnya kusempatkan buat update . Sejujurnya aku sempat memutuskan buat hiatus sementara dari fandom, tapi gagal ><

Well, soal hiatus, memang awalnya mau begitu karena per September 2016 aku disibukkan sama skripsi yang ternyata masih harus diselesaikan sampai sekarang karena sesuatu dan lain hal (disuruh ganti topik.red) 😥  Tapi memang, karena keputusanku, aku jadi nggak begitu intens ngikutin semua update tentang HSJ, kecuali kalau ada lagu baru. Ditambah dengan writer’s block yang agak lama, makanya aku memutuskan buat nulis secukupnya saja. Tapi, entah dapat energi dari mana, aku memutuskan buat menyelesaikan cerita ini walaupun harus empot-empotan sama skripsi, kuliah, dan ujian demi mendapatkan pekerjaan idaman sesegera mungkin. Setidaknya supaya cerita ini nggak menggantung begitu saja, hihihihihi. 

Ini aja dulu dariku karena 4 hari lagi aku UTS! *ngacir dulu buat belajar* 

 

 

Advertisements