[Oneshot] Secret

1489493901056

Secret

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

V6 Okada Junichi

Romance

PG-15? PG-17?

By: YamAriena, NadiaMiki, Shield Via Yoichi

Hadiah untuk pemenang Mystery Challenge. Selamat membaca!

Okada Junichi. Satu nama yang sangat ku kenal. Satu nama yang punggungnya selalu ku pandang. Satu nama yang menjadi tujuan hidupku sejak aku kecil. Okada Junichi, putra tertua ayah, aniki ku.

“Junichi, investor besar dari Swiss akan tiba sore nanti dan besok kita akan rapat jam sepuluh pagi. Persiapkan semuanya!” Okada Kenichi, presiden direktur sekaligus ayahku memberikan titahnya pada aniki dan langsung dipatuhinya.

Aku memandang keduanya dengan tatapan kagum dan tanpa sadar tersenyum memandang keduanya. Betapa anehnya melihat hubungan dua anak dan ayah itu berbeda antara di rumah dan di kantor. Disini mereka benar-benar bekerja sebagai suatu kesatuan dengan teamwork yang tanpa celah. Tapi dirumah…

“Kei? KEI!!”

“Ah… i-iya ayah!” panggilan Kenichi padaku dengan suara keras menarikku seketika kembali ke dunia nyata.

“Kalau kau ada waktu untuk melamun sebaiknya kau bantu Junichi sekarang!” Okada Kenichi kembali memberikan titah dengan nada yang tidak ingin dibantah, membuatku langsung membungkuk hormat dan mohon izin keluar dari ruangan presiden direktur, menyusul aniki yang mungkin sudah kembali ke ruangannya, ruang Direktur.

Tiba di depan pintu, aku berhenti sejenak dan mengetuk pintu hingga terdengar jawaban dari arah dalam. Saat kubuka pintu itu, kulihat aniki sudah kembali sibuk di balik meja kerjanya.

“Ada apa?” tanyanya datar.

“Ayah menyuruhku untuk membantu aniki. Apa ada yang kau perlukan?” seruku.

“Tidak untuk saat ini. Aku akan memanggilmu jika aku perlu sesuatu. Kau bisa kembali!” katanya masih dengan nada datar.

“Ah, baiklah kalau begitu.” Kecewa. Ya aku merasa sedikit kecewa dengan penolakan halus yang dia lontarkan. Meski begitu entah kenapa aku masih merasa bahwa sosok di depanku ini adalah sosok pria yang hebat dan aku sangat menghormatinya.

“Aniki, kau benar-benar keren ya. Kau selalu serius bekerja dan semua yang kau kerjakan selalu sempurna. Pantas saja semua mengatakan bahwa kau adalah permata keluarga Okada. Kau benar-benar pantas menjadi penerus ayah. Entah kenapa aku merasa….” kata-kataku terputus saat dia membentakku.

“KEI!!! Aku tidak ingin tau apa yang dipikirkan orang lain ataupun yang KAU pikirkan!! Aku sedang sibuk sekarang!! Kalau kau punya waktu untuk mengoceh seperti itu, gunakan untuk bekerja!! Dan juga harus ku katakan berapa kali padamu, saat di kantor jangan memanggilku dengan panggilan menjijikkan seperti itu!!”

Untuk sesaat aku terdiam. Hanya diam saat mendengarnya mengeluarkan emosinya seperti itu. Lalu akupun menunduk singkat dan berkata dengan sangat lirih, “Maafkan saya direktur, saya permisi dulu,”

Selalu seperti ini. Dia aniki ku. Tapi entah kenapa untuk sesaat aku merasa dia seperti orang asing.

Saat aku keluar dari ruangan itu, aku melihat tatapan simpati dari karyawan lain dan hanya membalas mereka sambil tersenyum. Tidak apa-apa. Karena aku percaya aniki akan membuka hatinya untukku suatu saat nanti.

Sebenarnya, tindakannya di rumah maupun di kantor tidak berbeda. Tetap suka membentakku dan melihatku dengan pandangan tidak suka. Seharusnya aku sudah terbiasa, tapi tetap saja…. Aku ingin dia melihatku dengan lembut, duduk di sampingku dan mendengarkan segala ocehanku yang sudah pasti memujinya.

Aku bangga padanya, aku menyayanginya bahkan mencintainya karena dia aniki-ku tersayang tapi dia… Ah, sudahlah. Benar katanya, untuk apa aku memikirkan hal lain saat bekerja?

***

Tadaima…” ucapku saat memasuki rumah.

Tidak ada yang menjawabku, aku menghela napas lesu. Tapi aku usahakan untuk tetap berekspresi seperti biasanya.

Aku berjalan melewati ruang tamu yang besar menuju ke arah tangga, ya kamarku ada di lantai dua. Baru saja aku melangkahkan kakiku di anak tangga, ada sebuah suara yang bisa menyentrum tepat di hatiku.

“Oh, kau pulang ternyata.”

Suara Junichi. Suaranya tetap bernada datar, tapi sanggup membuatku yang lelah sehabis pulang dari kantor menjadi semangat kembali.

Aniki…”

Dia tidak melihat ke arahku, tidak juga menjawabku. Dia hanya terus berjalan menuju kamarnya. Aku tersenyum, ya aku memang bangga padanya.

Setelah itu aku memutuskan untuk masuk juga ke kamarku, merebahkan tubuhku di atas kasur besar ini.

Mataku terpejam dan kembali terbayang akan wajah aniki yang begitu aku banggakan sedari aku kecil.

Sebenarnya ia memperilakukanku seakan aku tak ada itu semenjak kami kecil, aku yang supel, selalu ingin bermain, susah untuk mendekatinya karena ia yang sibuk dengan buku-buku pelajaran.

Hingga aku merasa tak ada teman karena ia tak mau bermain denganku. Namun terkadang Junichi seperti guruku.

Aku pernah mendapatkan nilai jelek di sekolah dan saat ayah mengetahui itu hal hasil ia memarahiku. Tapi, aku tak mengelak karena memang aku sengaja mendapatkan nilai rendah, tujuannya hanya untuk mendapatkan perhatian dari aniki ku.

“Junichi, ajari adikmu ini..” ujar ayah saat itu setelah ia puas mencaci makiku di hadapan keluarga. Aku melihat pria itu mendengus namun mengangguk menyetujui.

Begitulah seterusnya, aku pintar karena ajaran dia—tidak sebenarnya aku sudah pintar tapi pura-pura bodoh saja. Walau sikapnya seperti itu, tapi aku menyukainya.

“Kei-sama..” aku terkaget karena panggilan pelayan dari luar kamarku.

“Ya?” Aku langsung duduk dan merapikan rambutku ini, agar tidak terlihat berantakan di hadapan aniki, eh ada apa?

“Makan malam sudah siap, Anda di suruh turun,” ucapnya, dan segera aku menjawab iya kepada pelayan itu.

Aku melangkahkan kaki untuk turun dan menuju ruang makan, tapi langkahku berhenti saat mendengar ayah dan Junichi berdebat.

“Coba kau jangan bersikap aneh terus dengan Kei, kau itu kakaknya.” Sayup-sayup aku mendengar suara ayah di rumah yang sepi ini.

“Buat apa? Aku tidak mau peduli, bagaimana pun dia aku risih akan kehadirannya disini.” ucapan aniki membuat hatiku sangat sakit. Seperti tertusuk beribu-ribu duri. Seburuk itukah aku? Apa salahku?

“Memang kenapa? Apa karena dia—”

“Apa?” Aku memotong kata-kata ayah, karena terlalu penasaran, tapi nampaknya tindakanku salah, karena hal itu membuat kedua eksistensi disana langsung terdiam dan berdehem kecil.

Aku melihat aniki meminum air nya lalu berdiri, “Aku sudah kenyang.” ucapnya dingin.

“Eh, chotto!” belum sempat aku turun dia sudah mengambil langkah cepat, melewatiku memasuki kamarnya.

Ada keheningan sejenak di sana.

“Kei, ayo makan sini..” ajak ayah, dan dijawab senyuman pahit dariku sambil melangkah pelan menuju meja makan.

Sebenarnya, apa yang ayah dan aniki sembunyikan?

***

Sayupku dengar kicau burung-burung di pagi hari yang membangunkanku. Beberapa kali aku berkedip untuk mengambil alih kesadaranku. Perlahan ku bangun dan melirik jam kecil yang ada di atas nakas dan sudah menunjukkan pukul tujuh lebih. Dan seketika mataku membulat.

Yabeeee~ rapat dengan investornya!!”

Panik!!

Aku pun segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, lalu segera ke walk in closet untuk segera berganti dengan pakaian kerjaku. Beberapa menit kemudian aku sudah setengah berlari turun dan mendapati ayah dan juga aniki sudah hampir berangkat.

“Maafkan aku terlambat bangun!” seruku menghampiri keduanya.

“Tck..” ku dengar aniki berdecak dan itu membuatku meliriknya sekilas sebelum teralihkan oleh pertanyaan dari ayah.

“Kei, sudah kau susun berkas untuk rapat nanti?” tanyanya.

“Sudah, ini semuanya, ayah,” kataku sambil menyodorkan sebuah map yang sedari tadi ku pegang.

“Serahkan pada Junichi.” Kata beliau lalu beralih pada aniki, “Jun, kau pelajari berkasnya di perjalanan. Kita seharusnya bergegas sekarang,” katanya lagi.

Sedikit enggan, aniki menerima berkas itu lalu membukanya sambil berjalan lebih dulu keluar.

“Kei, kau ikut mobil Jun. Temani dia untuk menjemput investor kita, ayah akan ke kantor lebih dulu,” katanya lagi.

Aku mengangguk dengan patuh, “Baik, ayah,”

“Kei-sama, sarapan anda,” seorang pelayan menghampiriku sambil membawa nampan berisi roti dan segelas susu.

Aku segera menyusun jariku di depan dan menatapnya dengan tatapan menyesal, “Gomen, aku harus pergi sekarang,” kataku lalu buru-buru menyusul aniki yang sudah masuk ke dalam mobil.

Mobil yang di naiki oleh ayah berjalan lebih dulu keluar dari gerbang dan dilanjutkan mobil yang dihuni oleh aku juga aniki.

Disamping itu si pelayan yang tadi mengantarkan sarapan untukku, memandang kepergian mobil kami dengan tatapan cemas. Namun, aku tidak mengambil pusing hal itu.

Di dalam mobil, tidak ada suara sama sekali selain suara dari mesin mobil itu sendiri dan bunyi kertas-kertas bergesekan. Aniki sibuk dengan berkas-berkas yang dipelajarinya untuk rapat nanti. Aku pun lebih memilih untuk diam daripada dimarahi olehnya.

Perjalanan kami menjadi lama karena harus menjemput investor di bandara dan perutku mulai merasa sakit. Aku mengumpat di dalam hati karena telat bangun dan berakhir tidak sarapan. Dan lebih bodoh lagi, aku tidak membawa bekal. Rasa sakit yang teramat sangat tiba-tiba menyerang, membuatku tidak bisa untuk tidak meringis.

“Kenapa kau?”

Tubuhku sedikit tersentak saat suara aniki bertanya padaku. Kulirik dia sedikit dengan takut-takut, namun dia sama sekali tidak melihat ke arahku. Sepertinya dia terganggu dengan suara meringisku tadi.

“T-tidak apa-apa, aniki.”

Dia tidak merespon, hanya menghela napas tanda tidak suka. Kualihkan pandanganku ke jendela mobil di sampingku, berusaha untuk sibuk sendiri sambil berharap rasa sakit itu sedikit mereda. Namun bukan terasa hilang, tubuhku mulai mengeluarkan keringat, dadaku sedikit sesak, dan mual. Panik, aku mulai tidak bisa menahan rasa sakit ini tapi aku tidak ingin aniki terganggu dan tahu tentang penyakitku ini.

Kubuka tas kerjaku, mencari roti atau snack yang biasanya selalu kusediakan di dalan tas itu.

Oh, tidak! Tidak ada yang bisa ku makan! Bagaimana ini?, teriakku dalam hati saat tidak menemukan apa-apa di dalam tas itu selain berkas kerja.

Aku meliriknya dan menemukan aniki juga sedang meliriknya dengan wajah datar. Aku menelan ludahku susah payah, “Maaf mengganggu–ukh!!”

Dengan segera tanganku menutup mulutku yang hendak mengeluarkan isi perutku—walau kosong— dan tangan sebelah lagi menekan kuat bagian tubuhku yang sakit.

“Dasar bodoh.” ucapnya. Namun aku sudah tidak begitu peduli lagi.

Kusandarkan tubuhku yang melemas dan memejamkan mata. Kemudian tidak tahu apa yang terjadi setelah rasa sakit kembali kuat menyerang.

***

Mataku membuka perlahan dan menangkap bayangan dari ruangan yang bercat putih. Seketika kutahu kalau sedang berada di rumah sakit. Apalagi ditambah dengan jarum dari infus yang menancap di salah satu tanganku. Tak berapa lama, aniki datang dengan wajah datarnya yang biasa. Aku segera memposisikan diriku untuk duduk.

“Maaf menyusahk—”

“Sejak kapan kau menderita maag? Dasar lemah!” semburnya.

Aku hanya menunduk, akhirnya penyakit yang selama ini kusembunyikan dari ayah dan aniki terbongkar. Sebentar lagi pasti ayah yang akan memarahiku.

Penyakit yang ku derita adalah maag akut. Hanya pelayan yang mengetahuinya karena dia yang menyelamatkanku saat sudah pingsan di dalam kamar. Aku menyuruhnya untuk tidak memberitahukan ayah dan aniki, akibatnya dia harus menyiapkan makananku bahkan bekal maupun cemilan kecil.

Beberapa hari setelah aku dirawat, akhirnya aku diperbolehkan pulang oleh dokter karena katanya keadaanku sudah mulai membaik.

Meski begitu aku tidak akan mengulangi kejadian yang membuatku sekarat seperti ini lagi, nanti hanya merepotkan aniki.

Ah, iya aku hanya memikirkan aniki ku, haha…

“Berat?” tanya aniki saat aku membawa tas yang berisi baju-bajuku, suara beratnya sedikit membuatku tersentak, bukan apa-apa. Tak biasanya aniki menanyakan sesuatu hal yang—menurutku memberi sedikit perhatian.

Apa mungkin ini hanya ilusiku?

“Hei, aku tanya berat tidak?” Sekali lagi aku tersentak, oh Tuhan ternyata bukan sekedar ilusi.

“Hm? T-tidak juga, aniki, ini ringan,”

“Tapi kalau kau yang membawanya jadi lambat sekali,” tanpa menunggu persetujuanku aniki langsung menarik tasku dan membawanya hingga ke mobil.

Aku hanya diam, tidak membawa apapun ditanganku, sesekali memikirkannya. Kenapa aniki tiba-tiba sangat perhatian?

Ah Kei… Bukannya kau harus bersyukur?

***

Dirumah besar yang kini sedang kupijak, memang tidak begitu banyak isinya, hanya ada aku, aniki, dan juga ayah selebihnya hanya ada para pembantu yang tak juga lama mereka tinggal disini, paling saat-saat tertentu mereka  akan pulang ke kampung halaman.

Semua terasa sepi, karena ayah dan juga aniki yang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Aku yang selalu menolong aniki, tahu betul apa saja yang akan aniki kerjakan, mulai dari dokumen-dokumen pentingnya, rahasia, bahkan dokumen yang biasa saja. Juga tentang jadwal rapat aniki.

Aku tahu jelas kalau ia sangat sibuk, pria yang begitu tangguh, walau ia tak peduli akan kehadiranku namun aku tetap menyayanginya.

Namun, hari ini nampak sedikit berbeda.

Di restoran mewah dekat kantor, aku dan aniki sedang duduk didalamnya, menunggu pesanan.

Ini bukan aku yang meminta aniki untuk mengajakku makan, bukan sama sekali. Aku mohon jangan tuduh aku yang memohon-mohon aniki untuk membawaku makan disini.

Tapi kenyataannya berbalik, aniki lah yang menarikku kesini.

AnoAniki…” Setelah beberapa lama kami hanya diam, akhirnya aku membuka suaraku, memecahkan kecanggungan diantara kami.

Hanya deheman yang ia jawaban sambil terus menatap laptop, sesekali ia mengetik.

Sungguh, walau jam makan ia tak lupa untuk menyelesaikan pekerjaan.

“Kenapa… Tiba-tiba mengajak ku makan?” tanyaku canggung, “padahal sebelumnya tidak—”

“Karena kau itu ada penyakit, aku tidak mau repot kau pingsan lagi saat bekerja,” to the point.

Oke semestinya aku tidak beranggapan yang tidak-tidak untuk kebaikan aniki terhadapku, benar apa yang aku duga sebelumnya, dia hanya tidak mau repot mengurus bocah ingusan seperti ku ini.

“Kalau makanannya sudah datang, cepat makan sampai kenyang, lalu kita langsung kembali kekantor”

“Baik, aniki,” Bagaimanapun aku tetap mengagumi sifat wibawanya itu.

***

Ceroboh, hari ini aku lupa lagi untuk sarapan karena ayah menyuruhku cepat datang ke kantor karena harus menyampaikan dokumen penting kepada aniki yang sebentar lagi rapatnya akan mulai.

Setidaknya, aku sudah memakan satu buah biskuit untuk menahan perih di perutku, namun aku rasa itu akan berlaku untuk sebentar saja.

Karena baru saja aku masuk ke kantor, aku sudah merasa sedikit mual, ah tidak jangan pingsan seperti waktu itu. Aniki sedang menungguku di ruang rapat yang ada di lantai tiga sana.

Aku harap aku akan baik-baik saja, kalau bisa habis rapat ini aku akan makan dan minum obat.

Langkah kaki ku terus melangkah, walau pelan, tubuh ku mulai merasa lemas, ck, payah sekali kau, Okada Kei.

“KEI!!” seketika tubuhku mengejang saat gendang telingaku menangkap teriakan dari seseorang, di lobby ini banyak karyawan yang lewat, seketika itu juga memperhatikanku.

Aku sangat familiar dengar suara ini.

“A-aniki kenapa kau disini rapatnya?” tanyaku kaget.

“Bodoh, mana dokumennya?” segera aku memberikan dokumen yang ada di tanganku kepada aniki.

Tak lama, ia menyodorkan ku sebuah plastik.

Tanpa berkata apa-apa ia langsung pergi menuju lift dan masuk kesana.

Aku yang masih merasa sedikit shock, hanya diam dan tidak bisa melangkah, kakiku merasa berat.

Dan lebih memilih untuk melihat isi plastik itu.

Ternyata, ada sebungkus makanan disana, dan secarik kertas.

Makanlah, setelah itu baru muncul diruang rapat. Cepat, aku akan menunggumu.

Seulas senyum senang kukeluarkan, bahagia. Walau ia memperhatikanku karena tidak ingin kerepotan. Tapi, tentu saja aku merasa senang.

Arigatou, aniki,” bisikku, dan langsung menuju kantin untuk makan disana.

***

Sejak hari itu entah kenapa aku merasa sikap aniki sedikit berubah padaku. Tidak, bukan sedikit, lebih dari sedikit. Tapi tidak banyak juga. Hanya saja aniki memang bersikap lebih manis padaku. Dia lebih sering menegurku, bahkan cukup sering membawakanku makanan juga memperhatikan kesehatanku. Aku merasa sangat di perhatikan.

“Kei, kau di dalam?” Ku dengar suara aniki menyapaku dari balik pintu kamarku.

Sejurus kemudian, pintu terbuka dan memunculkan sosok aniki.

“Ada apa aniki?” tanyaku.

“Sedang apa? Kata pelayan kau tidak keluar kamar sejak sore,” tegurnya.

Aku mengulas senyum paling manis, aku suka saat dia memperhatikanku seperti ini, “Masih banyak yang harus ku kerjakan untuk tanda tangan kontrak besok, jika kutinggal maka nanti aku tidak akan sempat untuk tidur.” jelasku padanya.

“Tapi tetap saja kau harus makan, bagaimana kalau kau sakit lagi? Sama saja besok kau tidak akan bisa ikut rapat!” Mendengarnya mengomeliku seperti itu, bukan membuat kesal tapi malah membuatku senang. Bukankah itu artinya dia peduli padaku?

“Aku akan meminta pelayan untuk membawa makan malamku ke kamar. Aniki tidak perlu khawatir,” ujarku.

Ku lihat dia ingin berkata sesuatu namun urung, akhirnya dia hanya menghela nafas lalu mengangguk.

“Baiklah, biar aku yang bilang dengan pelayan untuk membawakan makan malammu nanti,” katanya lalu keluar dari kamar.

Aku tersenyum dengan lebar kembali larut dalam pekerjaanku. Ingin segera menyelesaikannya dengan baik, biar aniki semakin senang padaku.

***

Aku menghela napas lega kemudian tersenyum, akhirnya pekerjaanku selesai. Isi piringku juga sudah kandas dan waktunya untuk meletakkannya ke tempat cuci piring agar dicuci oleh pelayan. Mereka tidak akan membiarkanku mencucinya sekali pun aku mau.

Ku renggangkan tubuhku sebelum membawa nampan berisi piring dan gelas kosong ke lantai bawah. Baru saja aku keluar dari kamar, telingku mendengar suara ayah dan aniki sedang berbicara. Tampaknya sangat serius.

Pelan-pelan aku coba mendekati tangga, aku merasa penasaran dengan topik pembicaraan mereka.

“Ayah, sudah berapa kali kukatakan, dia bukan adikku. Aku tidak punya adik.”

“Jun!” suara ayah sedikit meninggi, “Sudah berapa lama dia tinggal bersama kita dan kau masih menganggapnya orang lain?”

Sebentar, mereka membicarakan siapa? Aku? Apa maksudnya aku bukan adik aniki?

“Bagaimana bisa aku menerimanya? Ibu meninggal karena melahirkannya, kenapa ayah tidak mengirimnya ke rumah ayah kandungnya saja waktu dia lahir? Kenapa menampungnya disini?”

“Tidak semudah itu, hal-hal seperti itu bisa berpengaruh terhadap perusahan besar seperti perusahaan kita.”

Mendengar ucapan aniki bagaikan petir di siang bolong, aniki sedang berbohong kan?

Lemas, nampan yang kupegang terjatuh dan membuat keributan dan suara pecah belah. Ayah dan aniki langsung melihatku dengan wajah horor, sepertinya kaget karena aku mendengar percakapan mereka.

“Kei…” ucap ayah pelan, namun masih bisa kudengar.

Tidak peduli dengan benda yang jatuh itu, aku mendekati mereka.

“Ayah, apa maksudnya?” tanyaku. Mereka terlihat salah tingkah, “Jelaskan padaku, ayah, aniki. Apa maksudnya? Aku bukan anak ayah, maksudnya?”

Aku mulai tak sabaran.

“Maaf, Kei…” Aniki menatapku dengan tatapan serius, sementara ayah memasang wajah sedih, “Kau…. bukan anak dari ayah. Kau anak dari pria simpanan ibu,”

Kepalaku semakin berdenyut, dadaku sakit, dan mataku memanas.

“Bohong kan? April Mop masih lama, kenapa bikin lelucon seperti ini?”

Aniki menggeleng pelan. Tangisku pun pecah, airmata mulai mengalir perlahan.

“Kenapa…. kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu?”

Ayah mendekatiku, memegang lenganku lembut, “Maafkan ayah, Kei.. Maaf…”

Aku yang mulai tidak bisa mengontrol emosiku langsung menghempas tangan ayah dan berlari ke luar rumah. Pergi meninggalkan rumah itu untuk menenangkan diri.

***

Langkah kakiku mengantarkanku untuk masuk ke sebuah bar, memesan minuman berakohol, walau sebelumnya aku jarang sekali menyentuh minuman itu. Tangisku sudah berhenti, bahkan airmata sudah enggan untuk mengalir lagi.

Satu tegukan gelas kecil sudah tandas mengalir ke dalam tenggorokanku, sedikit hilang stresku karena kejadian dirumah beberapa jam yang lalu, mengingat bahwa aku bukanlah adik kandung dari aniki. Melainkan adik tirinya.

Kembali mengingat itu, semakin membuat kepalaku pusing, dengan gusar aku mengacak rambutku yang sebelumnya sudah acak-acakan.

“Satu gelas lagi!”

TAK.

Gelas itu aku hentakan di meja, karena aku sudah tidak mampu lagi mengendalikan diriku, aku mabuk? Mungkin saja dan tidak akan ada yang peduli.

Tak lama, minuman itu ada di hadapanku lagi dan langsung aku minum.

Tapi tidak jadi, karena ada seseorang yang menahan tanganku. Mataku meliriknya, kemudian satu helaan nafas aku keluarkan.

“Tahu dari mana aku ada disini?”

“Bukan urusanmu, ayo pulang,” suara aniki sedikit meninggi karena dentuman kencang dari musik disini sangat memekan telinga.

“A-apaa?” Aku tak kalah menjerit.

“CEPAT PULANG BODOH, ATAU AKU GENDONG KAU KELUAR DARI SINI!!”

“TIDAK, AKU BUKAN KELUARGA DISANA, AKU HANYA ORANG AS— A- J-JUUUN!!!” Belum selesai aku berbicara aniki sudah menyeret tangan ku keluar dari tempat itu hingga kedepan mobilnya.

Saat disana, perlahan aniki melepas genggaman tangannya dariku, tidak ada sepatah katapun yang kami ucapkan hanya diam tanpa suara.

Pendengaranku dipenuhi dengan klakson mobil dan suara gas kendaraan.

Diam tanpa kata, sampai akhirnya…

“Huwek!!” Aku muntah di hadapannya, menumpahkan semua isi perutku yang berupa  air alkohol.

“Kei!” Aniki mencoba untuk mengelus punggungku, namun aku menepisnya hingga aku terjatuh ke tanah dan semuanya menjadi gelap.

Pusing, aku tak tahu lagi apa yang terjadi.

Sampai ketika aku membuka mataku kembali, aku mendapati diriku sudah ada dikamar dan melihat aniki tertidur di sampingku.

Sontak aku menjauh, dan melihat tubuh ku dibalik selimut.

A-aah aman, eh? Kau berpikir apa, Kei?

***

*OKADA POV*

Sial!!! Aku salah perhitungan!

Keinginanku untuk segera membuka jati diri Kei menjadi bumerang sendiri untukku. Aku jahat padanya! Ku akui. Tapi bukan dengan maksud buruk, aku hanya ingin menjadikannya milikku, hanya itu.

Gila memang. Apalagi mengingat bahwa kami berdua satu ibu dan sama-sama pria. Tapi sudah lama aku memendam perasaan ini padanya. Aku tidak pasti sejak kapan perasaan terlarang ini muncul, yang ku tahu sejak perasaan ini ada aku jadi semakin egois dan ingin sekali membuatnya hanya memikirkanku saja. Bersikap kasar padanya, cuek padanya, bahkan membuat ayah membencinya sehingga ayah mengusirnya. Setelah itu, setelah dia merasa bergantung padaku, maka dengan mudah aku akan memilikinya. Seutuhnya.

Tapi sepertinya aku salah langkah di akhir. Aku memaksa ayah disaat yang tidak tepat dan membuat Kei tau segalanya dengan tidak baik. Aku bisa melihat raut kekecewaan bercampur kesedihan di wajahnya, tentu saja, siapa yang tahan menerima kenyataan sepahit itu apalagi setelah mendapat perlakuan yang selama ini dia terima.

Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. Karena sudah terbuka segalanya, maka tidak ada lagi yang harus aku tahan. Kei harus jadi milikku seperti rencana sebelumnya.

Karena itu, aku rela mencarinya. Untung saja aku pernah sekali menghubungkan ponselku dengan GPS miliknya, sehingga aku bisa menemukannya dengan mudah. Saat itu dia sedang duduk di dalam bar dan menegak minuman hingga mabuk. Sejak kapan Kei-ku menjadi nakal seperti ini?! Apa aku yang merubahnya?! Atau ini adalah sisi lain dari Kei yang tidak pernah ingin dia tunjukkan pada siapapun?

Apapun itu sama sekali tidak bisa di biarkan!!

Kali ini aku membawa Kei yang tidak sadarkan diri ke apartemen pribadiku, bukan ke rumah. Mulai sekarang, dia akan tinggal di tempat ini bersamaku. Menjadi pendampingku, dan itu mutlak.

Aku membaringkan Kei di tempat tidur King Size ku, tidak peduli dengan tubuhku yang sudah bau karena muntahannya, yang penting dia bisa tidur dengan nyaman.

Setelah membaringkan Kei ku, baru aku membersihkan diri dan berganti pakaian. Lalu berbaring di sebelahnya. Aku memiringkan tubuhku untuk bisa memandang wajahnya dengan jelas. Perlahan senyuman tersungging di wajahku, “Kei ku,” bisikku.

Mentari pagi menerpa wajahku sehingga membuatku tersadar. Sembari berbalik aku juga tersadar bahwa di tempat tidurku, bukan hanya ada diriku saja.

Aku bangkit namun tidak beranjak dari tempatku dan memandang lurus pada Kei.

“Kei, masih pusing?” tanyaku.

“Ini dimana?” Kei mengangkat wajahnya dan membalas tatapanku.

“Ini apartemen pribadiku, kau akan aman disini,” kataku.

Kini dia menatapku nanar, “tapi kenapa? Apa pedulimu dengan hidupku? Aku bukan bagian keluargamu. Satu-satunya keluarga yang ku tahu sudah meninggal, dan aku tidak kenal siapa ayah kandungku.”

“Kau milikku. Meski kau bukan bagian dari keluarga Okada, akan kuubah semua itu dan menjadikanmu bagian darinya,” kataku meyakinkannya.

“Dengan cara apa? Adopsi? Bukankah sudah terlalu tua untukku masuk ke kartu keluarga Okada dengan cara begitu?” tanyanya lagi.

Aku tersenyum, “Aku punya cara lebih baik. Partnership denganku.”

Aku melihat matanya membulat lebar. Sepertinya dia terkejut. Tentu saja begitu.

“Kau gila! Bagaimana mungkin?! Kita laki-laki dan ayah butuh pewaris untuk melanjutkan nama Okada darimu!” katanya.

“Aku tidak peduli. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk menjadikanmu milikku seutuhnya!” ujarku menyakinkannya.

Ku lihat semburat merah mulai menghiasi kedua pipinya yang putih itu.

“Tapi…. kita laki-laki…” katanya lagi.

Aku tersenyum sembari mendekatkan wajahku padanya, dia tidak menolak.

“Apa peduliku. Aku cinta padamu dan ingin memilikimu, Kei,” sedetik kemudian ku raup bibir ranumnya. Benar-benar terasa sangat lembut.

Kei tidak menolak perlahan ku gigit bibir bawahnya dan membuatnya meringis. Kesempatan untukku masuk ke dalam mulutnya. Mengajak lidahnya bermain.

Pada awalnya dia tidak begitu membalas, namun aku semakin intens menggoda bibir ranumnya dan membuat pemuda cantik ini kewalahan sendiri, sehingga dia mulai mengimbangi permainanku.

Aku mendapatkanmu Kei!

***

Kei menatap ke luar jendela, menikmati suasana perkotaan dari sana. Apartemen milik Jun ini hampir semua dinding adalah kaca, seperti kamar hotel kelas atas yang paling mahal. Tidak heran, dia adalah anak pemilik perusahaan dan perusahaan itu akan diwariskan padanya. Mengingat kenyataan yang terjadi dengan begitu cepat membuat Kei bingung. Haruskah dia bersedih karena tahu akan statusnya? Atau haruskah dia bahagia karena rasa cinta pada Jun —yang baru dia sadari pagi ini— terbalaskan? Entahlah, hidup ini terlalu rumit untuknya.

Kei terkejut saat sesuatu yang dingin dan basah menyentuh pipi, dia melirik dan mendapati sebuah kaleng minuman dingin yang ditempelkan oleh Jun. Pemuda itu segera mengambilnya.

Arigatou.” ucapnya. Jun hanya berdeham seperti biasanya.

Suasana diantara mereka memang selalu canggung, tapi tidak pernah secanggung ini. Apalagi kalau mengingat kejadian tadi pagi yang mereka lakukan di atas ranjang.

“Sepertinya kau harus memikirkan perusahaan.” Kei membuka suara, “Pikirkan masa depan perusahaan, para karyawan dan terlebih lagi… ayah.” lanjutnya dengan suara kecil saat menyebut ayah. Dia bingung mau memanggil dengan sebutan apa.

“Kenapa kau peduli dengan itu?”

“Apa kau tidak peduli dengan usaha ayah bahkan usaha kakek waktu membangun perusahaan itu? Kenapa kau selalu saja egois?” tanya Kei sedikit kasar.

Dia tidak melihat ke arah Jun, tidak punya nyali untuk melihat tatapan tajam Jun. Padahal pria itu sekarang sedang tersenyum tipis sambil menatap punggung pemuda itu.

“Aku sudah memikirkannya tadi waktu aku membeli makanan,” Jun memberi jeda, “aku akan menikahi gadis yang dijodohkan denganku bulan lalu dan akan melahirkan pewaris Okada. Tapi…”

Padahal Kei baru saja bernapas lega mendengar penjelasan Jun, tapi pria itu sekarang membuatnya seperti tercekik dengan kata-katanya yang menggantung.

“Tapi apa?”

“Kau akan tetap menjadi milikku tanpa ada satupun orang yang tau.”

“Kau gila!!”

Jun merapatkan diri, memeluk Kei yang sudah berbalik arah melihatnya, “Kau. Yang. Membuatku. Gila. Jadi bertanggung jawablah dengan hal itu, Kei.”

Suara rendah Jun yang terdengar seksi bagi Kei membuatnya sedikit salah tingkah. Jun mencium pipi Kei lembut, pemuda itu hanya bisa menutup mata. Dan berakhir dengan ciuman singkat di bibir.

“Kau tidak usah khawatir dengan pekerjaan. Ayah menganggapmu seperti anaknya sendiri, dia tidak akan tega menghapus namamu dari kartu keluarga dan di perusahaan. Jadi hubungan kita yang rahasia ini tidak akan terungkap olehnya.”

Kei tidak punya pilihan lain, lagipula dia juga merasa senang Jun memikirkan perasaannya sekalipun cinta mereka ini terlarang.

Kei pun mengangguk kecil. Jun memeluknya, Kei membalas pelukan itu sambil tersenyum.

***

Sejak kejadian kaburnya Kei dari rumah, akhirnya dia di mutasi ke kantor cabang yang masih berada di Jepang.

“Bagaimana, hm?”

Kei menatap orang yang bertanya padanya, “Apanya? Pekerjaanku? Baik.” Entah sejak kapan dia menjadi orang yang irit berbicara, “Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau disini? Bagaimana istrimu? Dia akan segera melahirkan kan?”

Ya, sifatnya yang peduli dengan orang lain daripada diri sendiri ini yang membuat Jun sulit menolak pesonanya, “Aku disini mengunjungi adikku yang paling manis, masalah?”

Jun mencubit pipi pemuda itu gemas.

“Berhenti memperlakukanku seperti perempuan, Jun,”

Panggilannya sudah berubah, membuat darah Jun bergesir dengan sangat kencang setiap Kei memanggil namanya.

“Salahmu sendiri, kenapa lebih manis daripada perempuan.”

Kei tidak bicara lagi, dia tidak mau memancing perkelahian di antara mereka. Jun sudah rela jauh-jauh mengunjunginya, bukannya ini kesempatan untuk mengabiskan waktu berdua?

Kei mendekati pria itu, menutup matanya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Jun, namun tangan Jun menahan bahunya. Kei menatapnya heran.

“Aku sudah pernah mengatakan hal itu padamu, sekarang giliranmu,”

Seakan tahu maksudnya, Kei mendengus geli. Kenapa Jun jadi manis begini?

Kei mendekatkan bibirnya ke telinga Jun kemudian berbisik dengan sangat pelan, “Aku mencintaimu, Jun,”

the end

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s