[Multichapter] UNDIVIDED part 3

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast (di chapter ini): Inoo Kei, Arioka Daiki, Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP); Tamamori Yuta (Kis-My-Ft2); Iwamoto Hikaru (Snow Man)

Ryosuke berjalan menyusuri koridor lantai tiga sayap barat dari tempat yang dia sebut sebagai ‘kantor’ itu. Saat ini dia ingin mendiskusikan sesuatu dengan sang paman sekaligus atasannya, Akanishi Jin, tentang kejadian tempo hari. Tetapi pria itu sedang tidak berada di kantornya, dan bukan juga kebiasaan dari seorang Akanishi Jin yang di ketahuinya akan berada di luar ruangannya di saat-saat evaluasi setelah tugas seperti saat ini. Setelah bertanya dengan beberapa orang yang berpapasan dengannya, di ketahui bahwa pria itu sedang berada di tempat itu. Lantai tiga sayap barat kantor yang juga di kenal sebagai bagian Departemen Kesehatan.

Tanpa sadar, pemuda itu tiba di tempat yang di tujunya. Saat berada di Departemen Kesehatan, ada satu tempat yang mungkin saja di datangi oleh pria itu. Ruangan penanggung jawab tempat itu tentu saja, ruangan Inoo Kei.

Namun saat melewati sebuah ruang rawat, Ryosuke mendadak menghentikan langkahnya. Pemuda itu mengintip dari celah pintu yang sedikit terbuka. Di sana terlihat sosok paman yang di carinya sejak tadi. Namun niatnya untuk menghampiri pria tersebut hilang saat dia melihat pemandangan di dalam sana.

Saat itu dia melihat seorang Akanishi Jin berdiri membelakangi jendela, sedang menatap pada sosok gadis yang kini terbaring di atas bankar ruangan tersebut. Tangan pria itu terulur sembari mengelus lembut kepala gadis itu. Tetapi bukan itu saja yang membuatnya urung, namun juga tatapan Akanishi Jin saat itu yang tersirat akan sebuah kerinduan dan kesedihan.

Tiba-tiba pundak Yamada di tepuk dari belakang, membuat pemuda itu sedikit terkejut di tempatnya dan berbalik seketika melihat siapapun itu. Sesosok pria lain yang di kenalnya yang memang bekerja di bangsal itu, Inoo Kei.

Sensei,” gumam Ryosuke.

Inoo melihat sejenak kearah pandangan Ryosuke tadi lalu tersenyum maklum pada pemuda itu. “Ayo ikut ke ruanganku,” ajaknya pada Ryosuke.

Sedikit bingung namun Ryosuke tetap mengikuti langkah Inoo yang sudah berjalan lebih dahulu di depannya menuju ruangan pria itu. Di dalam, Inoo mempersilahkan Ryosuke untuk duduk di sofa yang ada di tengah ruangan sementara pria itu terlihat sedang melakukan sesuatu di meja kerjanya sendiri.

Ryosuke sebenarnya tidak terlalu suka berada di ruangan Inoo Kei. Pria itu meski terlihat santai, namun sepertinya sedikit memiliki bakat sebagai psikopat. Terlihat dari ruangan itu yang di penuhi selain berbagai macam jenis tanaman dan cairan berwarna-warni yang dilabeli, juga ada beberapa seperti bangkai hewan kecil yang di awetkan, terutama bau dari ruangan itu sangat menyengat dan membuat sakit kepala.

“Mengagumi apa yang sedang kau lihat?” tanya Inoo dengan nada jahil sambil berjalan mendekat ke sofa dan mengambil tempat di depan Ryosuke.

Ryosuke mendengus tidak suka sebagai jawaban dari pertanyaan itu.

“Langsung saja, kenapa kau mengajakku ke tempat eksperimen gilamu ini?” Ryosuke tetap saja gerah berlama-lama berada di ruangan itu.

Inoo duduk dengan santai lengkap dengan jas labnya dan memandang lurus pada Ryosuke, “Aku yakin ada sesuatu yang ingin kau tanyakan mengenai Akanishi-sama dan juga kedua orang itu,” katanya.

Ryosuke membalas tatapan Inoo padanya. Akanishi Jin, meskipun adalah pamannya, tetapi banyak hal yang tidak Ryosuke tau mengenai pria itu. Sejauh yang diketahuinya, sejak hari pertama dia di bawa ke kantor itu, dia langsung di asuh bergantian oleh orang-orang kepercayaan pria yang mengaku sebagai pamannya tersebut. Sebuah latihan ketat seperti yang di lakukannya bersama Tanaka Koki tempo hari. Bahkan dirinya sendiri tidak terlalu mengenal sosok pria itu selain sebagai  sang paman dan pemilik kantor tempatnya bekerja.

Inoo mengangkat alisnya, menanti Ryosuke yang masih menimbang-nimbang tawaran dari pria itu padanya.

“Baiklah,” ujar pemuda itu, “Ceritakan apa yang bisa di ceritakan dan apa saja yang dapat aku ketahui.”

Inoo tersenyum tipis lalu sedikit merubah posisi duduknya senyaman mungkin, “Kalau begitu, kita mulai saja dari siapa mereka berdua.” Katanya. “Kedua anak itu adalah Chinen Yuri dan Arina, putra-putri dari adik perempuan Akanishi-sama sendiri yang meninggal sepuluh tahun yang lalu karena kecelakaan pesawat.”

“Paman pernah memiliki seorang adik? Kalau begitu mereka keponakan kandung paman yang fotonya ada di atas meja kerjanya itu?” tanya Ryosuke.

Inoo mengangguk, “Sejujurnya Akanishi-sama menyayangi mereka berdua, namun dia tidak bisa langsung turun tangan untuk merawat mereka setelah kepergian adik kandungnya. Jika dia melakukan hal itu, maka dia tidak bisa memberikan kehidupan normal pada mereka. Mengingat pekerjaannya sebagai…. Ya, kau tau lah…” ujar pria itu.

Ryosuke mengangguk pelan di tempatnya. Benar. Pekerjaannya ini membuatnya tidak bisa merasakan bagaimana kehidupan ‘normal’ pada umumnya. Berkutat dengan latihan, senjata, mesiu, bahkan racun adalah kehidupan ‘normal’ yang selama ini dia jalani.

“Namun, mengingat keduanya di temukan di lokasi kejadian dan bahkan menjadi korban, sepertinya Akanishi-sama akan berubah pikiran.” seru Inoo lagi.

“Maksudmu? Paman akan….” Perkataan Ryosuke terhenti sembari menduga-duga apa tindakan yang akan di lakukan pamannya setelah ini.

“Yah… itupun tergantung setelah mereka berdua siuman nanti. Sesuai yang ku dengar, Akanishi sensei akan langsung mengambil tindakan setelah mengintrogasi keduanya,” celetuk Inoo lagi.

‘Tidak!’

“Eh?” gumam Ryosuke sambil memandang sekeliling. Sepertinya dia mendengar suara seperti menjerit.

“Ada apa?” tanya Inoo mendapati sikap ganjil pemuda itu.

Ryosuke langsung menggeleng, “Tidak apa-apa, itu….” kembali kata-katanya terputus karena suara ‘itu’ kembali terdengar.

‘Tidak! Jangan sakiti Yuri! Jangan bawa dia pergi! Yuri!! Yuri!!! Jangan pergi!!’

“Yu…ri?” gumam Ryosuke pelan.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang pria dengan jas putih bak dokter terlihat masuk dan langsung memandang kearah Inoo.

“Ada apa Tamamori-san?” tanya Inoo pada pria itu.

“Pasien VIP yang perempuan sudah sadar, Akanishi sensei menyuruh saya memanggil anda segera!” ujar pria Tamamori tersebut.

Inoo langsung bangkit dari tempatnya dan lalu berjalan cepat, hampir berlari keluar dari kantornya. Disusul oleh Ryosuke yang juga mengejar pria itu. Tetapi saat tiba di depan ruangan yang di maksud, Ryosuke tidak ikut masuk ke dalam ruangan. Membiarkan saja Inoo dan petugas medis lainnya bekerja di dalam. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Ryosuke melihat sosok Akanishi Jin masih berada di dalam ruangan tersebut.

“Arina-san, bagaimana perasaanmu?” tanya Inoo sambil memeriksa gadis itu dengan stetoskop.

Ryosuke tidak bisa mendengar dengan jelas, namun dia bisa melihat gadis itu seperti mengucapkan sesuatu pada Inoo di sampingnya. Inoo kemudian terlihat tersenyum menenangkan sambil menyampirkan kembali stetoskop itu di lehernya.

“Yuri-kun sudah di tangani di ruangan sebelah. Untuk sementara fokus saja untuk kesembuhanmu, setelah itu kau bisa menemuinya.” ujar Inoo.

Ryosuke menyerit di tempatnya, sebuah dugaan tiba-tiba terlintas di kepalanya. “Yuri? Saudara? Apa jangan-jangan yang selama ini ku dengar…………… tapi bagaimana mungkin?!”

-*-

“YURIIIII!!!”

Dengan bersusah payah, Arina menghindari kerumunan yang semakin mendesak sembari memanggil nama saudara kembarnya. Perasaannya semakin merasa tidak enak, benaknya selalu membisikkan bahwa ada sesuatu yang buruk akan terjadi.

Hingga akhirnya Arina berhasil menembus kerumunan. Namun matanya tidak mendapati sosok kembarnya itu dimanapun. Gadis itu sudah merasa akan putus asa, sampai akhirnya netranya tertuju pada sebuah titik, sosok yang sangat dikenalnya sedang di seret oleh beberapa orang mencurigakan melalui pintu samping.

“Yuri?!” Arina segera berjalan dengan cepat menyusul orang-orang itu.

Sepatu hak tinggi menahan gerakannya untuk lebih cepat, akhirnya gadis itu berhenti sejenak untuk melepaskannya, namun dengan tatapan yang tidak lepas dari arah orang-orang itu pergi. Setelah melepaskan dan ganti menenteng sepatunya, Arina langsung berlari untuk menyusul.

“…mau berapa kali aku bilang, aku tidak kenal dengan Yokoyama siapapun itu!” Arina terdiam sejenak di tempatnya saat mendengar suara Yuri yang membentak orang-orang itu dengan keras.

“Bagaimanapun juga anda harus ikut dengan kami!” ujar salah seorang dari mereka.

“Tidak akan! Aku tidak akan ikut! Aku tidak kenal dengan kalian!” elah Yuri.

“Bawa dia!” ujar suara asing lainnya.

Arina langsung keluar dari tempatnya berdiri dan menerjang siapapun itu yang berusaha memegangi saudaranya. Arina mendorongnya hingga terjengkang, lalu melempar sepatu hak tingginya pada siapapun yang berusaha menghentikannya.

“Arina?!” ujar Yuri yang kaget melihat saudarinya sudah berada di depannya.

Arina segera menggenggam tangan Yuri dengan erat lalu menariknya menjauh dari sana untuk kabur, namun…

“Mau lari kemana?” suara seorang pria menghentikan langkah mereka.

Kini keduanya kembali di kepung oleh orang-orang berjubah legam. Arina dan Yuri saling memunggungi sembari mencari celah untuk kabur.

“Siapa mereka?” tanya Arina pada Yuri.

Pemuda itu menggeleng, “Tidak tau, mereka tiba-tiba saja menyeretku!” jawabnya.

Arina kembali memandang mereka satu per satu, “Siapa kalian?!” tanya gadis itu.

“Sebaiknya kalian ikut saja kami dengan baik-baik, atau kami harus menyeret kalian dengan paksa!” ujar salah seorang dari pria berjubah tersebut.

“Kalian tidak mau menjawab, jangan harap kami mau ikut!” kali ini giliran Yuri yang menjawab.

“Yaotome-san?” tanya salah satu pria berjubah dengan orang yang tadi menghadang mereka berdua.

Pria berjubah yang di panggil Yaotome itu mengangguk, “Lumpuhkan mereka!” ujarnya.

Kepungan itu makin lama makin mendekat, makin menghimpit dua saudara itu yang kini saling melindungi satu sama lain. Meski mereka sudah memasang sikap waspada, tetapi melawan lima orang pria sekaligus itu sangat sulit.

Dengan mudahnya salah seorang dari mereka memukul tepat di tengkuk Yuri dan membuat pemuda itu jatuh. Saat melihat saudaranya sudah tidak sadarkan diri, Arina ikut goyah dan dalam sekali serangan gadis itu kehilangan kesadarannya. Satu hal yang diingatnya adalah Ia sempat meneriakkan nama Yuri dengan keras dan di susul dengan suara tembakan sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Arina tidak tau berapa lama dirinya tidak sadarkan diri. Hal pertama yang dilihatnya saat membuka mata adalah warna putih yang menyilaukan. Arina berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan sekeliling. Ruang tempatnya berada saat itu sangat jauh untuk di katakan sebagai sebuah rumah sakit, namun peralatan di sekitarnya adalah peralatan medis. Baru dia tau bahwa ada rumah sakit seperti ini, dan gadis itu hampir saja menyangka bahwa jiwanya sudah terlepas dari raga sebelum dia melihat ada satu sosok pria yang berdiri disampingnya dan tersenyum memandangnya. Jujur dia tidak mengenal orang itu, namun entah kenapa pria itu terlihat sangat mengenalinya. Arina membuka mulutnya perlahan, ingin menanyakan sesuatu, tetapi tidak ada satupun suara yang keluar dari mulutnya.

“Kau butuh sesuatu?” tanya pria itu.

Arina memandang pria itu sejenak, lalu matanya beralih pada nakas di samping kanan. Tidak ada benda yang dicarinya, begitu juga saat dia beralih ke kiri, hanya ada tiang yang menggantung tabung infus saja disana.

“Mau minum?” tanya pria itu lagi membuat perhatian gadis itu kembali padanya.

Ternyata pria itu sudah memegang segelas air putih di tangannya. Arina mengangguk pelan sebagai jawaban. Pria itu tersenyum hangat lalu membantu gadis itu untuk meminum air itu hingga setengahnya. Tepat setelah itu beberapa perawat disusul oleh seorang dokter masuk ke dalam ruangan tersebut. Berarti dia memang berada di rumah sakit?

“Arina-san, bagaimana perasaanmu?” tanya dokter itu.

Arina memperhatikan sosok itu dan membaca name tag di dekat saku pria itu yang bertuliskan ‘Inoo Kei’, mungkin namanya. Arina mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia tidak tau apa yang sudah terjadi padanya hingga dia merasa kehilangan tenaga seperti itu, namun hanya satu hal yang mengganggu pikirannya sejak tadi.

“Yu…ri di…ma…na?” kenapa untuk berbicara saja rasanya sulit sekali?

Dokter itu tersenyum sambil melirik padanya sekilas sebelum kembali mencatat sesuatu di papan yang sedang di pegangnya. “Yuri-kun sudah di tangani di ruangan sebelah. Untuk sementara fokus saja untuk kesembuhanmu, setelah itu kau bisa menemuinya.” ujarnya.

Arina mengangguk lagi dengan pelan. Dokter itu terlihat memandang sejenak kepada pria lainnya yang sedari tadi hanya berdiri di sisi lain bankarnya. Dokter itu memberikan isyarat agar pria itu mengikutinya keluar dan di jawab dengan anggukan. Namun sebelumnya dia berpaling sejenak pada Arina, mengelus lembut rambut gadis itu sembari tersenyum, “Istirahatlah,” ujarnya singkat.

Arina hanya diam saja. Karena pada kenyataannya rasa kantuk kembali menyerangnya dan mengambil alih kesadarannya, tepat setelah orang paling akhir keluar dari ruangannya dan menutup pintu.

-*-

Ruangan hampir gelap, beberapa lilin yang di nyalakan hampir di tiap penjuru ruangan menjadi satu-satunya penerangan di tempat itu. Ruangan gelap itu kini diisi oleh beberapa orang dengan pakaian serba hitam serta jubah panjang yang menutup kepala hingga ke kaki. Satu hal yang membedakan dari itu semua adalah adanya ukiran berbentuk api di belakang jubah.

Seorang sedang duduk di sebuah kursi besar bak singgasana dengan ukiran api berwarna merah terang bak batu ruby, dengan seorang lain berdiri tepat di sisi kirinya, memiliki ukiran api dengan warna hijau emerald, seorang lagi terlihat berlutut di depannya dengan jubah dengan ukiran api sekuning batu topaz, di ikuti oleh belasan lainnya yang menyerupai dengan ukiran api perak.

Pria dengan api merah itu terlihat bangkit sembari melempar beberapa foto ke sosok yang sedang berlutut di depannya dengan kasar, hingga jubah yang menutupi kepalanya turun dan memperlihatkan wajah murkanya. Foto-foto itu memperlihatkan hampir selutuh kejadian pada malam penyerangan itu, namun hal yang membuatnya murka adalah foto yang memperlihatkan sosok seorang gadis dan pemuda berada diantara musuh besarnya.

“Kenapa bisa terjadi hal seperti ini?”  bentak pria itu menggeram, yang tidak lain adalah Arioka Daiki, pimpinan mereka semua.

Sosok yang dibentak Daiki itu tampak gugup, “M…maafkan saya, Arioka-sama!” katanya sembari menunduk semakin dalam.

Daiki menggebrak meja di dekat tempat duduknya, membuat benda-benda yang ada diatasnya jatuh berantakan, “Kau kusuruh membawa anak itu! tapi tidak hanya gagal, malah mereka berdua sekarang dibawa ke markas merpati?! Kau tau bencana apa yang sudah kau akibatkan, YAOTOME!!” bentak pria itu.

“Mohon maaf Arioka-sama! Beri aku kesempatan sekali lagi, akan kubawa dia kesini!” kata pria itu dengan suara gemetar dan ketakutan.

Daiki tampak tersenyum mengejek mendengarnya, lalu berjalan mendekat ke sosok itu dan mencengkram keras kerah pria itu, kemudian melempar sosoknya kembali ke lantai dan menginjaknya bagai sebuah keset kaki.

“Kesempatan? Kesempatan kau bilang? Kesempatan untuk membuatku kecewa lagi? Hahahaha… jangan bercanda denganku!!!!”

“Daichan, calm down. Kau benar-benar membuat keributan tengah malam seperti ini.” Tiba-tiba satu sosok berjubah lainnya melangkah masuk ke ruangan tersebut, melepaskan tudung di kepalanya dan tersenyum memandang sosok Daiki yang terlihat kesal. Nakajima Yuto.

Daiki memandang Yuto dengan pandangan malas lalu menarik keluar sebuah pistol dari jubahnya, mengarahkan mulut pistol itu pada Yuto “Tutup mulutmu! Meski kau tangan kananku, jangan mengira aku tidak berani membunuhmu.” Katanya dingin.

Yuto menyengir dengan santai, “Benarkah kau akan membunuhku? Kalau begitu sayang sekali, karena info yang kudapat ini akan kubawa ke neraka!” kata pria itu santai kemudian beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju pintu.

Daiki menghela napas, “Seperti biasa Yuto.” Katanya sedikit melunak dan menyimpan kembali senjatanya.

Yuto tersenyum manis memandang Daiki sembari menyerahkan sebuah map yang tadi di pegangnya. Membiarkan pria itu membacanya terlebih dahulu sembari dia berjalan berkeliling ruangan itu, menikmati wajah ketakutan orang-orang yang masih berlutut di sana.

“D… darimana kau dapat semua ini?!” Yuto tersenyum, mendengar pertanyaan yang ditunggunya sejak tadi.

“Kau tau pribahasa, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga? Sepintar-pintarnya mereka mengamankan markas, bukannya mustahil tempat itu tidak bisa di bobol. Apalagi kita sedang berada di zaman dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat.” ujar Yuto dengan santai, pria itu berjalan kembali mendekat ke tempat dimana Daiki berdiri, “Aku juga sudah memperkirakan apa yang bisa kita lakukan. Setiap langkah akan selalu ada resiko, untuk siasat ini resikonya kita akan kehilangan rantai penghubung kita dengan tempat itu. Namun, sepertinya kita bisa mendapatkan anak itu sekaligus dengan data itu. Lalu mendapatkan waktu beberapa bulan untuk mempersiapkan rencana besar kita.” Jelasnya.

“Bagaimana? Ingin bertaruh??” tanya Yuto lagi pada Daiki.

Kali ini Daiki membalas senyuman Yuto dengan cengiran licik yang sangat lebar. “Memang tidak salah aku memilihmu menjadi tangan kananku, Nakajima Yuto.” katanya sembari tertawa dengan keras.

Yuto mengangkat acuh kedua bahunya sembari berjalan menuju sosok Yaotome Hikaru, lalu menariknya berdiri dan memandang sekilas pada Daiki. “Kalau begitu deal. Aku permisi dulu untuk segera bersiap, dan… aku pinjam orang ini. Sisanya terserah padamu saja, okay.” katanya kemudian menarik sosok itu keluar dan menutup pintu.

Baru saja dia tertawa lebar, namun sekali lagi dia harus berdecak melihat tingkah pemuda tinggi yang sudah menghilang dari ruangan tersebut. Daiki beralih pada sosok pria lain yang masih setia berdiri di dekat tempat duduknya, “Kau, lakukan tugasmu seperti biasa, dan…” katanya terhenti sejenak sambil dia memandang tajam sosok itu. “Ku serahkan mereka semua ini padamu, terserah ingin kau apakan.” Ujarnya tegas.

“Mengerti Arioka-sama!” kata pria berjubah ukiran api emerald itu  lalu menghampiri para sosok berjubah yang masih berlutut disana. Terlihat pasrah dengan keputusan yang sudah di buat pimpinan mereka.

-*-

Ruangan serba putih itu tampak senyap. Hanya terdengar suara dari alat pendeteksi denyut jantung yang memperlihatkan detak jantung seseorang yang kini sedang terbaring diatas bankar tersebut. Tiba-tiba sebuah pergerakan terlihat dari sosok tersebut. Matanya mulai bergerak, mencoba membuka kelopak matanya,  jari-jari tangannya mulai bergerak perlahan. Perlahan, kelopak matanya terbuka dan sesekali menutup, seperti menyesuaikan diri dengan sekitarnya.

Perlahan pintu ruangan itu terbuka, sosok Inoo Kei masuk dengan mata masih fokus membaca sebuah map ditangannya. Mata peria itu kemudian terangkat memandang kearah ranjang pasien, dan betapa terkejutnya dia melihat sosok tersebut sudah sadar dan sedang terduduk di tempatnya.

“Yuri-kun, kau sudah sadar?” tanya Inoo langsung menghampiri sosok itu. “Bisa berbaring sebentar, aku akan memeriksa keadaanmu.” Katanya.

Yuri menurut saja dan membaringkan kembali tubuhnya, sementara Inoo sudah mulai sibuk dengan stetoskopnya.

Dengan cekatan pria itu sudah selesai memeriksa dan mencatat keadaan Yuri di laporan kesehatannya, “Baiklah, aku akan mengabarkan keadanmu pada Arina-chan dulu.” katanya.

Saat pria itu berbalik, seorang petugas medis lainnya melangkah masuk ke dalam dan berpapasan dengan Inoo.

“Otsukaresama, Inoo-sensei.” ujarnya pada Inoo.

“Ah, Iwamoto-kun, bisa tolong di lepaskan elektrokardiograph-nya dari tubuh Yuri-kun. Sebentar lagi aku kembali setelah melaporkan keadannya pada Akanishi-sama.” seru Inoo pada pemuda itu.

“Baik sensei,” kata pemuda Iwamoto tersebut.

Inoo lalu melangkah keluar dari ruangan itu. Pemuda Iwamoto itu lalu berjalan mendekati sosok Yuri yang kembali bangkit dari duduknya dan memandang pemuda itu dengan bingung untuk menjalankan perintah Inoo padanya tadi. Memandangnya dari kepala hingga kaki sosok itu serta membaca name-tag di dadanya yang bertuliskan ‘Iwamoto Hikaru’.

“Anoo… boleh aku bertanya?” seru Yuri pada pemuda itu.

Iwamoto yang sedang mencabut kabel-kabel yang sedang terpasang di dada Yuri mengangguk singkat, “Tanya saja. Tidak ada larangan untuk bertanya bukan? Aku juga akan menjawab apa yang bisa ku jawab,” katanya.

Yuri mengangguk singkat di tempatnya, “Boleh aku tau apa yang terjadi padaku? Juga, sekarang aku sedang di rumah sakit mana? Dan… sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?” tanyanya.

“Kau pingsan dan dibawa ke sini tiga hari yang lalu, jelasnya aku tidak tau mengapa. Lalu disini bukan rumah sakit, tapi departemen medis kantor WDA.” Jawab pemuda itu sambil merapikan kembali alat itu dan meletakkannya ke sudut.

“WDA?! Apa itu?” tanya Yuri lagi dengan bingung.

Iwamoto lalu tersenyum dan menghampiri Yuri yang kini tubuhnya sudah terbebas dari alat medis apapun, termasuk jarum infus, satu hal yang tidak di perintahkan oleh Inoo tadi untuk dia lakukan. Senyuman tipis di wajah pemuda itu sekejap lenyap dan berganti dengan cengiran mengerikan.

“Kau akan tau sebentar lagi, Yuri-sama.” mendadak saja pemuda itu sudah mengganti nada bicaranya sekaligus panggilannya untuk Yuri.

Yuri membulatkan matanya, menyadari sesuatu hal yang sangat familiar dengan yang pernah terjadi padanya sebelum hari ini. Tetapi belum sempat otaknya bekerja, pemuda Iwamoto itu membekap Yuri dengan sapu tangan yang dilumuri obat bius. Iwamoto lalu membopong tubuh Yuri yang sudah tidak sadarkan diri itu dan membawanya keluar dari kamar tersebut.

Iwamoto ternyata sudah menyiapkan yang dibutuhkannya tepat beberapa blok dari kamar rawat Yuri. Pria itu segera melepas jubah medisnya dengan seragam petugas kebersihan, lengkap dengan topi dan masker. Lalu tubuh Yuri di letakkan dalam sebuah trolley yang membawa serta tumpukan kain-kain selimut dan sprei yang harus di cuci. Sembari mempercepat langkahnya masuk ke dalam lift petugas kebersihan, mulai terlihat pergerakan dari banyak orang disana. Sepertinya mereka sudah mendapati sosok yang sedang dibawanya ini menghilang dari kamarnya.

Iwamoto sudah tiba di lantai dasar dan mendorong trolley nya menuju ruang kebersihan saat mendengar pemberitahuan emergency dari speaker kantor itu. Iwamoto mempercepat langkahnya, kembali membopong Yuri lalu melompat melalui lorong kecil, hanya berdiameter satu meter, yang digunakan untuk melempar kain-kain yang akan di cuci. Dimana ujungnya langsung menuju bak besar yang di letakkan untuk langsung diambil petugas binatu.

Namun saat itu, tidak ada bak besar binatu, melainkan sebuah mobil box dengan stiker jasa pindahan di badannya, terparkir manis tepat di ujung lorong tersebut. Iwamoto yang sedang membawa Yuri pun meluncur, masuk tepat di dalam mobil box jasa pindahan tersebut. Lalu tanpa membuang banyak waktu lagi, mobil tersebut bergerak dari sana dan melaju di jalan raya.

Okaeri, Iwamoto-kun!” sapa seseorang dari celah ventilasi yang menghubungkan bagian supir dan bagian box.

Iwamoto tersenyum lalu menjawab sapaan yang di tujukan padanya, “Tadaima kaerimashita, Nakajima-sama!”

-*-

TBC desu ^0^)v

habis baca komentarnya dooooonngg…. yang komen di doain di sayang ichibannya..
gak komentar, ntar cere sama ichiban /gak /heh /musnahlo /author di bacok rame-rame/

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s