[Oneshot] The Time That I Love You

1483359612244

The Time That I Love You

SixTONES Kyomoto Taiga

Suomi Risa

Genre: Friendship, Romance

Rated: PG

By: Shield Via Yoichi

Warning: Ini adalah Kyomoto Taiga dan Soumi Risa POV. Taiga berwarna biru dan Risa berwarna merah.

Buat fuchiinyan~ semoga gak baper *heh* Happy reading~ XD

“Taiga!”

Tangannya melambai-lambai padaku, wajahnya dengan senyum lebar menyambutku. Bibirku membuat senyum kecil, membalas senyum gadis itu. Semoga dia bisa melihatnya.

“Yo!”

Aku berjalan mendekatinya. Senyumannya semakin lebar. Ah, andai kau tahu setiap melihat senyummu jantungku jadi tidak sehat begini.

“Wah, kau belajar lagi?” tanyanya sambil melihat ke arah tanganku yang membawa beberapa buku. Aku mengangguk, “Enak ya, yang punya otak pintar. Kalau aku sih, baca buku sebanyak apa juga tidak bisa hapal apa isinya.” katanya cemberut.

Aku tertawa kecil, “Kalau ada niat dan usaha pasti bisa, Risa.”

“Hm? Kau tahu kan aku sudah lama berusaha untuk menjadi pacar Yuuri, tapi dia sama sekali tidak membalas cintaku. Sudah delapan tahun lho, delapan tahun. Coba bayangkan.”

Lagi-lagi Risa membahas pemuda itu. Membuat mood-ku tidak bagus.

“Bahkan sebentar lagi kita akan lulus kuliah ya.”

Risa mengangguk, “Un! Sabar sekali aku ditolak ratusan kali olehnya. Tapi aku harus terus berusaha!” Dia mendadak penuh dengan semangat.

“Risa, itu—”

“Oh, iya!” Tiba-tiba dia berteriak. Aku melihatnya dengan penuh tanya, “Aku sudah janji dengan Yuuri ke perpustakaan. Taiga ikut yuk.”

Lagi.

Tapi tidak apa-apa, selagi masih bersamamu kemana pun juga tidak masalah. Aku tersenyum kemudian mengangguk.

Dia memeluk sebelah lenganku, “Ayo!”

Oh, Risa. Kau benar-benar bisa membuatku tidak berdaya seperti ini.

Suomi Risa, si gadis bodoh yang menyukai pemuda yang selama delapan tahun menolaknya. Dan aku sepertinya lebih bodoh darinya. Karena…

aku menyukainya.

aku menyayanginya.

Ya, sekalipun dia tidak melihatku sebagai seorang laki-laki, aku akan tetap menyukainya, menyayanginya bahkan menjaganya karena Risa berharga bagiku.

***

Mencintai Yuuri adalah kebodohan, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaanku padanya. Menolakku dengan alasan posisiku di hatinya hanya seorang teman tidak membuatku berhenti mengharapkannya menjadi kekasihku.

Teman bisa jadi cinta, kan?

Aku selalu menemani Yuuri sebisaku dan aku bersyukur dia tidak merasa risih sama sekali. Beda sekali dengan Taiga, teman dekatku yang sudah seperti keluarga.

Dia sering memarahiku karena menghabiskan waktu dengan sia-sia. Ada benarnya, tapi bukannya menghabiskan waktu dengan orang yang kau sukai itu sangat berharga? Aku rela begadang mengerjakan tugas kuliah demi menemani Yuuri di pagi, siang, maupun malam.

Walau begitu, Taiga adalah orang yang berarti bagiku. Mungkin kalau dia tidak ada, aku sudah lama melakukan hal-hal gila agar cintaku terbalas. Taiga selalu bilang padaku kalau aku harus menyerah, lebih menyayangi diriku sendiri. Tapi tak pernah memberitahuku bagaimana caranya.

Kyomoto Taiga, pemuda yang selalu ada disaat ku membutuhkannya. Saat senang, saat sedih, saat hilang arah…

Dia selalu menyemangatiku.

“Kau ini.. Kalau aku tidak ada, mungkin kau sudah mati ya?”

Katanya setiap kali aku menangis karena aku merasa kehilangan harapan untuk mencintai Yuuri. Tentu saja aku marah waktu dia bilang begitu, kemudian…

Taiga selalu menepuk pundakku pelan dengan senyuman terlukis di wajahnya, tanpa mengatakan apa-apa.

Demi apapun, aku membutuhkan Taiga untuk menjalani hidup ini.

***

Melihatnya tersenyum dan tertawa dari kejauhan adalah kebiasaanku. Selagi dia senang, aku tidak apa-apa kalau itu bukan berasal dariku.

Tapi, aku tidak suka kebahagiaannya berasal dari pemuda itu. Chinen Yuuri.

Bagiku dia hanya bisa membuat Risa terluka, sudah terlalu lama gadis itu menyukainya dan apa yang Risa dapat? Kesedihan. Hanya itu.

“Taiga?”

Sebuah suara membuyarkan pikiranku. Mataku menangkap bayangan gadis yang sedang aku pandangi beberapa menit lalu.

“Kenapa kau ada disini?” tanyanya, “Bukannya kau harusnya belajar?” Dia melihatku penasaran.

“Kau juga, kenapa berkeliaran di taman? Kau juga harus belajar biar bisa lulus denganku.” jawabku, “Aku bosan di rumah, jadi cari angin dulu sebelum lanjut belajar.” kataku beralasan.

Risa mengangguk, “Begitu ya. Aku baru saja makan bersama Yuuri, ehehe~”

Dia tersenyum malu-malu, bisakah kau tersenyum seperti itu karenaku?

“Oh, begitu.”

“Ih, kenapa responnya cuma itu?” Risa mengembungkan pipinya.

Oh, lihat! Betapa lucunya wajahmu itu.

Aku melihatnya malas, “Kau enak-enakan pacaran dengannya padahal tugas akhirmu belum selesai. Bagaimana bisa?”

“Ah, Taiga! Jangan ingatkan aku tentang itu!” Risa menutup matanya rapat dan juga menutup telinganya dengan tangan lalu menggeleng-geleng kuat.

Aku tertawa puas, dia mendengus kesal.

“Taiga jahat! Aku benci!” Dia memukul lenganku berkali-kali.

“Seharusnya kau bersyukur punya teman sepertiku yang selalu mengingatkanmu.” godaku dengan senyum jahil.

“Cih!” Dia memajukan bibirnya kesal, “Dan kenapa kau bilang aku pacaran dengan Yuuri? Aku cuma makan dengannya karena dia butuh teman makan, hubungan kami masih teman.”

Aku menaikkan alis, “Tapi kau senang kan pergi bersamanya? Akui saja~”

“Cukup, Taiga! Berhenti menggodaku!”

“Ahahahaha!”

Risa, bisakah aku menjadi sebuah alasan untukmu tersenyum? Yang membuatmu selalu berbunga-bunga setiap kau mengingatku?

***

“Yo!”

Aku yang baru saja membuka pintu kamarku terdiam mendengar sapaan itu lalu menghela napas.

“Kenapa kau ada di kamarku?” tanyaku dengan nada tidak bersahabat.

Orang itu menyengir, “Ibumu yang menyuruhku. Kau dari mana? Menguntit Risa lagi?”

“Hah? Kayak kurang kerjaan saja, aku cuma cari udara segar. Kebetulan ketemu Risa.” jelasku masih dengan nada tidak senang.

Aku mendorong tubuhnya yang duduk menjauh dari tempat tidurku, kemudian aku merebahkan tubuhku.

“Jadi…. Kau belum bilang padanya?” tanya Yugo, wajahnya yang serius menatapku. Aku menggeleng pelan, “Apa lagi yang kau tunggu? Jangan takut begitu–”

“Tentu saja aku takut!” Suaraku yang meninggi membuat Yugo terperanjat, “Aku… aku tidak mau dia menjauhiku karena perasaan ini dan…”

Aku terdiam, tidak bisa melanjutkan omonganku. Sebuah rasa sakit menjalar di dadaku, membuatku sedikit merasa sesak. Untuk beberapa saat aku sibuk dengan pikiranku sendiri, membayangkan apa yang akan terjadi kalau Risa tahu perasaanku.

Bisa dengan jelas kulihat bayangan-bayangan yang diciptakan oleh pikiranku sendiri. Risa yang menjauhiku, menghindariku setiap kali bertemu, dan banyak lagi. Membuat rasa sakit yang bersarang di dadaku semakin terasa sakit. Aku seakan sedang mencelupkan jariku yang terluka ke dalam cairan asam.

“Taiga?”

“Eh?” Aku kembali tersadar karena Yugo yang masih ada di kamarku memanggil. Raut wajahnya yang sedikit khawatir menatapku.

“Jangan terlalu dipikirkan. Tidak semua yang kita pikirkan bakal terjadi kan? Tidak ada salahnya mencoba sebelum terlambat kan?” ucapnya seakan tahu apa yang kupikirkan, “Aku mengerti kenapa kau tidak mau memberitahunya, tapi aku tidak bisa melihat temanku gila cuma karena masalah perasaan.”

Aku hanya diam sambil terus melihatnya, tidak tahu harus menjawab apa.

“Eh… Aku kesini mau menumpang makan, kenapa malah menghibur orang galau?” ucapnya sambil mengacak rambutnya gusar. Seulas senyum geli terkembang di wajahku karena tingkah bodohnya, “Hora, kau lebih cocok tersenyum begitu daripada kayak orang yang tidak semangat hidup.”

“Kau berisik, Yugo. Sana ke dapur, ada beberapa makanan yang sengaja disisakan ibuku untukmu.” Aku mendorongnya keluar dari kamar, Yugo menurut saja.

Maji? Ibumu memang yang terbaik!”

***

Aku melihat secangkir latte yang ada di hadapanku, hendak meminumnya seteguk. Namun aku mengurungkan niatku itu sampai orang yang kutunggu datang. Rasanya belum lega kalau aku belum memberitahukannya.

Dada ini rasanya ingin meledak saking senangnya, orang-orang pasti bisa melihat dari wajahku yang sedari tadi tidak bisa menyembunyikan senyuman di sana.

“Risa..”

Masih melihat latte, aku pun segera mengarahkan kepalaku pada sosok yang menyebut namaku. Senyumku semakin lebar karena orang yang kutunggu sejak tadi akhirnya ada di depanku.

“Taiga!”

“Ada apa? Wajahmu kelihatan bahagia sekali,” ucapnya sambil duduk di kursi di depanku.

Benar kan yang kukatakan? Aku sedang memancarkan kebahagiaan, haha..

Aku menggeleng, “Mau pesan apa? Aku traktir,”

Dia menaikkan alisnya, tampaknya bingung. Aku tertawa kecil.

“Kau benar baik-baik saja? Kau terlihat aneh,”

“Cepat saja pesan apa yang kau mau!” perintahku. Raut mukanya yang khawatir langsung berubah masam, kemudian menghela napas kesal dan mengangguk setengah hati.

Mungkin ada sekitar satu jam berlalu untuk menghabiskan latte pesananku dan minuman bersoda pesanan Taiga sambil membicarakan sebuah manga yang baru mengeluarkan volume terbarunya.

“Jadi kesini cuma mau bicara tentang manga?” tanya Taiga.

Aku menipiskan bibirku kemudian menggeleng, “Tidak juga,”

“Ada yang lain lagi? Aku siap mendengar apa saja ceritamu.” Taiga menopang kepalanya dengan tangan. Bibirnya menciptakan sebuah senyum tipis.

Aku menarik napasku dalam-dalam, lalu menyunggingkan senyum. Kulihat Taiga yang masih menatapku dengan senyum sok kerennya itu.

“Kau tau, Yuuri bilang dia mencoba menerima perasaanku! Mungkin aku bisa jadi pacarnya, katanya!”

Aku heboh sendiri, pipiku panas, jantungku berdegup kencang mengingat hal itu. Namun, Taiga tidak memberi respon seperti yang aku bayangkan sebelumnya.

***

“Tidak juga,” jawab Risa ketika kupikir dia hanya mau membicarakan tentang manga kesukaan kami karena Risa selalu seperti itu. Ia akan sangat bergebu-gebu saat menceritakan tentang sesuatu yang dia sukai. Termasuk Yuuri.

“Ada yang lain lagi? Aku siap mendengar apa saja ceritamu.” Aku menopang kepalaku dengan tangan dan tersenyum kecil. Ya, aku suka melihat wajahnya yang terlihat bercahaya itu.

Risa menarik napasnya kemudian tersenyum, “Kau tau, Yuuri bilang dia mencoba menerima perasaanku! Mungkin aku bisa jadi pacarnya, katanya!”

Sebuah petir seperti sedang menyambarku. Aku tidak salah dengar kan?

Tiba-tiba aku seperti mendengar suara Yugo yang berbicara padaku tempo hari lalu.

“….Tidak ada salahnya mencoba sebelum terlambat kan?”

Apa ini sudah terlambat? Apa aku harus bilang kalau aku menyukai Risa sekarang? Bagaimana ini, kenapa aku seperti ini?

Sial.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

***

Aku duduk meja belajarku. Kepalaku kuletakkan di atas meja. Kalau Yugo melihatku, dia pasti bilang aku kehabisan nyawa dan perlu diisi ulang.

Otakku masih memikirkan yang tadi, juga Risa yang terus bertanya keadaanku waktu aku mengantarnya pulang. Apa aku terlihat berbeda? Kenapa kali ini aku tidak bisa menutupi perasaanku sendiri?

Mataku terpaku pada sebuah bingkai foto satu-satunya yang ada di mejaku. Seketika fokus pada salah satu wajah yang sedang tersenyum lebar. Biasanya aku akan ikut tersenyum saat melihat foto ini, namun saat ini terasa sangat menyayat hati.

Memang aku pernah bilang kalau melihat Risa tersenyum, aku akan bahagia. Tapi itu hanya sebuah ucapan untuk menenangkan hatiku sendiri. Sebenarnya tidak seperti itu, tidak sekalipun aku merasa senang.

“Taiga, kau tidak makan?” teriak ibu sambil mengetuk pintu kamarku.

Aku sedikit menoleh ke sana kemudian menghela napas, “Sebentar lagi, bu,”

Aku menunggu jawaban dari ibu, tapi beberapa detik berlalu tidak ada jawaban apapun. Sepertinya dia sudah tidak ada di depan pintu.

Kembali menatap pigura itu sambil menata hatiku sendiri sebelum ke luar dari kamar untuk makan. Bisa-bisa ibu kaget melihat tampang kusutku dan menghujaniku dengan banyak pertanyaan.

Risa, tidakkah kau bisa peka dengan perasanku ini?

***

Sudah sebulan Taiga tidak terlihat lagi. Entah apa yang terjadi, tapi aku benar-benar penasaran dengan keadaannya. Apa aku merindukannya? Tidak mungkin, aku cuma merasa heran. Ya, pasti itu!

Setiap aku datang ke tempat favoritnya, dia tidak ada. Di perpustakaan juga begitu, bahkan di kampus sekalipun. Ada apa sebenarnya? Apa dia sakit parah dan tidak mau mengatakannya padaku?

Terakhir kali berbicara dengan Taiga tentang Yuuri yang menyatakan perasaannya padaku. Aku dengan jelas melihat wajah Taiga yang tiba-tiba murung. Bahkan tidak memberikan respon seperti menggodaku habis-habisan yang biasa dia lakukan. Dia hanya menjawab singkat.

Kalau boleh jujur, aku sedikit merindukannya. Aku selalu berbagi cerita dengan Taiga, dia sudah bagaikan buku diari. Wajar kan kalau aku kangen?

Tanpa kusadari, kakiku berjalan menuju rumah Taiga yang kebetulan tidak jauh dari rumahku. Kulihat pintu rumahnya dari luar pagar. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan pikiranku dari hal-hal negatif yang terus bermunculan.

Ku beranikan diri untuk memencet bel rumahnya, sesekali aku lihat sebuah jendela yang ada di ruangan lantai dua. Ada cahaya samar-samar karena tertutup gordyn di sana.

Tak berapa lama, pagarnya terbuka. Aku sedikit terlonjak kaget karena Taiga yang muncul. Di dalam hatiku, aku merasa lega karena pikiran tentang Taiga yang sakit parah itu tidak benar.

“Risa? Ayo masuk,” ajaknya.

Aku menggeleng cepat, “Tidak, disini saja. Tidak apa-apa.”

Dia hanya mengangguk kecil.

Ku pandangi wajahnya sebentar, ada yang sedikit berubah darinya. Berantakan, satu kata untuk penampilannya saat ini. Wajah yang berminyak, mata sedikit sayu, dan rambut cokelatnya yang acak-acakan. Ini bukan Taiga yang kukenal, karena setahuku dia adalah pemuda yang bersih dan selalu mengutamakan penampilan.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku tidak tahan lagi melihatnya seperti itu.

Dia mengangguk pelan, “Ya, aku baik kok, kenapa?”

“Kau terlihat sedikit aneh,”

Dia tidak merespon dan membuat suasana menjadi canggung. Tidak ada yang mau membuka suara.

“Kau kesini karena merindukanku kan?”

Mataku melebar, “Kenapa kau percaya diri sekali?”

“Yugo bilang, selama sebulan ini sudah beberapa kali bertanya padanya aku ada dimana. Masih mau mengelak?” ucapnya agak dingin. Kenapa dia sok keren begitu?

“Kau tau? Aku menghilang karena kau, Risa,”

“Heh?” aku menaikkan alis, “Aku? Memangnya aku melakukan apa?” Aku berpikir sejenak, “Ah, kau mau menyelesaikan tugasmu dan membantuku kan? Agar kita bi—”

“Itu karena kau selalu memuji Chinen,” potongnya. Aku terdiam, “Kau selalu menceritakan tentang kebaikannya padaku, betapa kerennya dia waktu bekerja. Aku juga… aku juga…” Dia diam sesaat mengambil napas, “aku juga ingin kau menceritakan tentangku ke semua orang, betapa bangganya kau padaku. Karena… aku mencintaimu, Risa.”

Sesuatu yang keras seperti sedang memukul dadaku. Rasa sakit menjalar ke luar dari sana, “Eh? Kau bercanda kan?” Taiga menggeleng lemah, “Bukannya kau sering membuatku sebagai leluconmu?”

“Aku tidak pernah melakukan itu.” ucapnya pelan.

Rasa sakitnya semakin jelas setelah Taiga mengatakan itu dan membuatku ingin menangis karenanya. Aku berbalik arah, menutupi wajahku dari pandangan Taiga. Beberapa detik kami terdiam, aku terus berusaha untuk menahan sakit itu.

“Aku tidak pernah berpikir kalau kau akan menyukai gadis sepertiku. Maksudnya, kau pintar dan popular, banyak gadis yang mengejarmu. Itu kenapa aku tidak pernah memperhatikan perasaanmu.” Aku menarik napasku, mencoba menenangkan diriku sendiri. Aku tahu kalau Taiga terus melihat ke arahku, “Gomen…”

Aku langsung berlari menjauh dari Taiga, meninggalkan dirinya dan airmataku yang berjatuhkan ke jalan.

***

Seminggu sejak hari itu, aku tidak pernah keluar kamar. Setiap hari ibu bertanya dengan nada khawatir dan selalu meletakkan makanan untukku di depan pintu kamar. Sedih, rasa tersayat masih terasa di dadaku. Namun, aku tak ingin menampakkan wajahku yang menyedihkan pada ibu, tidak, ini hanya masalah waktu untuk menata perasaan.

Tak pernah terbayang olehku betapa sakitnya ditolak oleh orang yang disukai. Ingin rasanya menangis, tapi rasanya aku seperti anak-anak. Tidak ada salahnya untuk laki-laki menangis memang, tapi menangis karena cinta? Apa kata Yugo kalau dia tahu?

Meski dia sudah menolakku, otakku enggan untuk menghapus nama Risa di pikiranku. Jangankan namanya, wajah, suara, dan tingkah lakunya masih bebas menari-nari dalam pikiranku. Entah sampai kapan aku akan berada dalam perangkapnya yang jelas-jelas hanya menganggapku sebagai teman biasa.

Kutatap layar laptop-ku yang menyala, menampilkan jendela folder tugas akhirku yang baru selesai setengahnya. Kemudian kuhela napas berat. Aku tidak bisa berlama-lama dalam mode seperti ini. Aku harus segera menyelesaikan tugas ini dan lulus agar ibu tidak khawatir serta dia bangga padaku. Dan tidak akan jadi masalah kalau aku pergi dari kota ini. Ya, untuk melupakannya.

***

“Kemana Kyomoto?” tanya Yuuri saat kembali dari vending machine sambil membawa dua minuman kaleng di kedua tangannya. Hari ini kami ada kencan. Tidak, kami belum berpacaran tapi Yuuri sudah sering mengajakku untuk ke luar bersamanya. Meskipun hanya jalan ke supermarket.

“Eh?” Entah kenapa aku merasa terkejut saat nama itu disebut.

Dia menatapku heran, “Kenapa kaget begitu? Biar kutebak, kau ada masalah dengannya?”

“Kenapa bertanya seperti itu?”

Dia mendengus geli, “Kau tiba-tiba jadi pendiam, biasanya bibirmu itu pasti akan berkicau seperti burung. Dia juga biasanya sering bersama kita kan?”

Aku hanya diam. Pernyataan cinta Taiga padaku menganggu pikiranku. Apa kami yang selalu bersama akan berpisah karena perasaan cinta? Apa yang sebenarnya membuatku tidak bisa lepas darinya? Apa aku mencintainya? Lalu, perasaanku pada Yuuri ini apa?

Tidak ada satu pertanyaan dalam benakku yang bisa kujawab dan sekarang aku mulai meragukan rasa sukaku pada Yuuri.

Aku melihat sosok yang duduk di sebelahku sambil meneguk sedikit isi dari minuman kalengnya, ia menatap lurus ke depan. Biasanya aku akan merasa deg-degan melihatnya seperti itu, kenapa rasanya hanya datar saja? Apa benar aku memang jatuh cinta padanya?

***

Aku berjalan gontai di lorong kampus, hendak menemui dosenku untuk mendiskusikan tugas akhirku. Sepi rasanya berjalan sendiri di kampus seperti ini, biasanya ada Taiga yang akan menyemangatiku.

Lagi.

Dia lagi.

Bahkan dia masuk ke dalam mimpiku beberapa hari ini. Membuatku lebih banyak membuang waktu untuk memikirkan mimpi itu daripada memikirkan tugas akhir ini.

Tidak!!! Aku langsung menampar pelan kedua pipiku, bukan waktunya untuk memikirkan pemuda itu. Aku harus fokus dengan tugas akhir ini dan lulus secepatnya.

“Risa!” panggil seseorang membuat aktivitas menampar pipiku berhenti. Aku membalikkan tubuhku, retinaku mendapatkan bayangan seorang gadis seumuranku yang kukenal sebagai pejuang cinta Kyomoto Taiga. Sejak masuk kuliah sampai saat ini dia mengincar Taiga sebagai kekasihnya namun Taiga adalah pemuda yang tidak peka dan akhirnya gadis ini menyerah untuk memberikan kode-kode cinta dan memendam cintanya.

“A-ada apa?” tanyaku gagap saat dia menyerbu ke arahku. Untung saja aku bisa menyeimbangkan tubuh sehingga kami tidak jatuh, malu sekali kalau itu terjadi.

“Kau tau, Kyomoto-kun jalan dengan seorang gadis! Aku sedih sekali, huwaaah….”

Dengan seorang gadis? Siapa? Siapa gadis yang dekat dengannya selain aku? Kenapa aku pernah tidak tau? Sebentar, memang aku siapanya?

Ku longgarkan pelukannya, menatapnya yang sedang menutup matanya. Sepertinya dia menahan airmatanya, “Tenang dulu, ceritakan bagaimana kau bisa melihatnya bersama perempuan?”

“Loh, kau tidak tau?” Aku menggeleng, “Aku melihatnya di kantin, perempuan itu menggenggam tangannya erat padahal mereka sedang duduk. Kyomoto-kun juga diam saja sambil melempar senyum padanya. Risa, hatiku sakit!”

Mataku sedikit melebar mendengar penjelasan Aki—nama gadis yang sedang gundah itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung meninggalkannya dan berjalan menuju kantin.

“Risa, kau mau kemana?” teriaknya.

“Ke kantin,”

“Lalu, sensei bagaimana?”

Pertanyaan itu sempat membuatku berhenti sejenak, seakan lupa dengan tujuan utamaku ke kampus ini, “Sebentar saja, masih ada setengah jam lagi sebelum janjiku dengan sensei.” ucapku dan kembali melangkah.

Aku berjalan menuju kantin dengan tergesa-gesa, membuat orang yang disekitarku melihat keheranan ke arahku. Entah kenapa aku ingin sekali membuktikan apa yang Aki bilang itu adalah kebenaran, akan lebih baik kalau dia hanya besar mulut saja. Aku sendiri bingung kenapa aku ingin tahu tentang itu.

“Itu, Risa. Kau lihat kan?” Aki menunjuk ke sebuah meja yang dihuni oleh dua orang manusia berlainan jenis. Aku pastikan kalau itu memang Taiga.

Apa ini? Tiba-tiba dadaku terasa sesak, rasanya aku tidak bisa menarik napasku dengan lega. Mataku pun mulai memanas seperti ingin menangis. Ada apa?

Semakin ku pandangi mereka, semakin sakit dadaku. Aku mulai tidak sanggup dan segera berlari meninggalkan Aki yang terus berteriak memanggil namaku. Entah mengapa kakiku membawaku ke toilet, masuk ke salah satu biliknya dan duduk di atas kloset. Airmata yang sedari tadi kutahan mulai mengalir perlahan. Kenapa? Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa sakit melihatnya? Ada apa dengan diriku sendiri?

***

Bulan Maret. Bulan kelulusan. Pagi ini aku melihat penampilanku di cermin, menggunakan setelan jas dan dasi yang selalu menjadi pasangannya. Aku tidak menyangka akan lulus mengingat aku harus melewati pertarungan dengan hatiku sendiri dan fokus pada tugas akhir. Melelahkan, namun menyenangkan karena mendapat hasil yang baik.

Saat sudah sampai di tempat upacara kelulusan, aku melihat Risa duduk tak jauh dari tempatku duduk. Dia terlihat cantik sekali, mengenakan kimono bermotif bunga, rambutnya yang biasa digerai kini diikat setengah dan memakai hiasan rambut menambah nilai keindahan pada dirinya. Tak lupa juga make up tipis yang semakin mempercantik dirinya.

Dadaku berdebar, ingin rasanya memeluknya dari belakang dan berbisik kalau dia sangat cantik hari ini. Apa daya, aku yakin Risa sangat membenciku sekarang. Entah bagaimana ceritanya, kini aku memiliki seorang pacar. Saking terlalu larut dengan rasa patah hati membuatku mengiyakan segala hal tanpa sadar, termasuk saat seorang gadis menyatakan cintanya padaku. Aku tahu ini bodoh.

Setelah pembagian ijazah dan berfoto dengan teman-teman, aku segera berlari mencari Risa. Aku tidak boleh kehilangan kesempatan ini, mungkin saja ini pertemuan kami untuk terakhir kalinya.

“Risa,” panggilku saat menemukannya di kerumunan teman-teman perempuannya yang sibuk berfoto ria.

Ia menoleh padaku lalu keluar dari kerumunan itu. Biasanya dia akan berteriak bahagia atau memukulku saking bahagianya, namun kali ini benar-benar canggung. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Selamat atas atas kelulusannya,” ucapku sambil tersenyum.

Risa membalas senyumku, “Taiga juga, selamat ya,” Hening kembali, Risa sendiri terlihat menunduk, tidak mau memandang ke arahku, “Bolehkah aku…” kataku ragu-ragu, ia mengangkat kepalanya melihatku bingung, “…hm.. Berfoto denganmu?”

Baka, tentu saja!”

Aku tersenyum lebar kemudian mengeluarkan handphone-ku. Aku harus menyimpan momen hari ini sebanyak mungkin dalam bentuk foto.

***

Aku merenggangkan tubuhku malas, mataku masih terpejam setengah. Kututup mulutku yang menguap lebar sambil melirik ke arah meja kecil yang ada di samping tempat tidurku. Hendak melihat jam berapa sekarang, tapi mataku lebih tergoda untuk melihat sebuah bingkai foto yang sengaja kuletakkan di sana. Mataku yang masih mengantuk tiba-tiba menjadi lebih segar. Bahkan sekarang pigura itu sudah ada di tanganku. Aku tersenyum kecil melihat foto yang di sana.

Foto kelulusan bersama Taiga, hanya berdua. Diambil sendiri melalui handphone. Aku yang ada difoto itu tersenyum lebar, sama seperti Taiga saat itu. Mungkin siapapun yang melihat foto ini juga akan tersenyum karena aura bahagia dari sana.

Tiba-tiba teringat tujuan awal, aku melihat ke arah jam digital milikku, menunjukkan pukul sepuluh. Entah sudah ke minggu berapa sejak aku resmi menjadi seorang pengangguran dan selalu bangun telat karena tidur larut malam.

Aku pun meletakkan kembali pigura itu, membereskan tempat tidur, ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Belum aku pergi menuju dapur untuk mencari makanan, ibu sudah berteriak.

“Risa, ada temanmu datang nih..”

Siapa?, tanyaku dalam hati. Yuuri? Tidak mungkin, kami sudah begitu dekat lagi karena aku memutuskan untuk menjaga jarak darinya. Tidak ada lagi rasa suka padanya, aku juga bingung kenapa. Aku malah merasakan sesuatu yang lain terhadap Taiga.

Walau penasaran, tapi aku tidak segera menemui tamuku. Aku lebih memilih untuk mengganti pakaianku lebih dulu dan menemuinya.

“Y-Yugo?” kejutku. Untuk apa dia kesini? Dia jarang berkunjung ke rumahku.

“Risa, kau tidak menemuinya?” tanyanya menggantung.

Aku mengkerutkan keningku, “Siapa?”

“Taiga! Siapa lagi?”

“Memangnya dia kenapa? Sakit?” tanyaku balik dengan polos.

Yugo menghela napas kesal dan memandangku masam, “Dia akan pergi Korea hari ini. Kemungkinan besar dia tidak akan kembali kesini,”

“Apa? Kenapa dia tidak bilang padaku?” Aku pun panik harus bagaimana, jarak dari sini ke bandara sangatlah jauh. Bagaimana bisa menemuinya sebelum dia berangkat?

“Mana aku tau, cepatlah sebelum kita benar-benar tidak melihatnya lagi disini,”

Kami pun pergi dengan menggunakan mobil milik paman Yugo. Tidak perlu terlalu lama seperti harus menunggu bis. Yugo yang duduk di depan bersama supir berusaha untuk menghubungi Taiga, sementara aku mengisi perutku dengan makanan yang kubawa dari rumah.

“Bodoh, angkat teleponnya!” ucap Yugo sedikit frustrasi.

Kumohon, biarkanlah aku melihatnya walau ini untuk yang terakhir kalinya.

***

Aku baru saja tiba di bandara. Sebenarnya jam keberangkatan masih lama, tapi karena jarak yang jauh membuatku harus tiba lebih awal dari jam yang ditentukan untuk pengecekan.

Aku melihat sisi luar bandara, sekelebat kenangan bersama Risa terlintas di ingatanku. Membuat rasa enggan untuk pergi kembali muncul. Tidak, aku harus pergi dari sini. Bukan untuk lari dari kenyataan, melainkan karena aku mau membuktikan pada Risa kalau aku bisa membuatnya bangga.

Aku melangkah masuk ke dalam bandara sambil menyeret koperku. Sudah waktunya untuk melihat ke depan, menoleh ke belakang hanya akan membuatku berat untuk pisah dari tempat ini.

Aku merogoh kantong celanaku, mengambil passport dan tiket yang ada di dalamnya serta ponselku. Entah kenapa aku malah mengecek handphone-ku lebih dulu. Mataku membulat saat melihat nama Yugo tertera sebagai panggilan tidak terjawab sebanyak lima kali. Aku meneleponnya dan kembali ke arah luar sambil menyeret koperku yang berat padahal aku sudah berada di ujung sisi bagian dalam bandara.

“Halo, Yugo?” Telingaku menangkap jawaban dari seberang sana, “Apa? Kau di bandara?”

“Memutarlah sedikit, ke arah jam sembilan,” katanya.

“Eh?” Tidak, aku bukan terkaget karena Yugo sudah ada di bandara, namun karena seseorang yang bersamanya, “Risa?”

Ia berjalan cepat ke arahku, aku pun berjalan mendekatnya. Membiarkan koperku tertinggal di sana.

“R-Risa, kenapa kau disini?”

Dia melihatku kesal, “Bodoh, kau pikir kau siapa yang seenaknya pergi tanpa memberitahuku dulu, huh?”

Dia marah, tapi kenapa terasa begitu menggemaskan sampai-sampai membuatku tertawa?

“Kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?”

Aku menggeleng lalu berdeham pelan, “Aku berpikir kalau kau itu manis se—”

Tiba-tiba bibirku terkunci, ada yang lembut menyentuh bibirku. Risa menciumku. Hanya beberapa detik, namun berhasil membuatku kehabisan kata-kata.

Dia tersenyum melihat wajahku yang bingung, “Memangnya hanya kau yang bisa membuat dadaku mau meledak, aku juga bisa.”

Senyumnya makin melebar, menunjukkan ada sebuah kebahagiaan seperti sedang memenangkan suatu lomba.

Are? Kenapa kau diam saja?” tanyanya, tapi tak kubiarkan bibir itu kembali bertanya.

Kututup bibirnya dengan bibirku, tanganku sebelah memegang lembut pinggangnya, yang lainnya berada di pipinya. Tidak ada perlawanan, Risa balik menciumku. Aku yakin sekarang banyak yang melihat ke arah kami dan Yugo mungkin sedang melototi kami, namun sudah tidak peduli lagi. Bahkan koperku entah sudah dimana. Satu hal yang ku tahu, Risa adalah milikku.

***

Tiga bulan berlalu, aku dan Taiga sekarang adalah sepasang kekasih. Bagaimana rasanya? Hm, entahlah. Karena kami berhubungan jarak jauh, kami hanya bisa berkomukasi lewat video call. Selama aku kenal Taiga, dia tidak pernah mengucapkan kata kangen padaku. Tapi sejak menjadi pacarnya, tiap kali kata itu keluar dari bibirnya. Seperti saat ini…

“Risa, aku kangen~” ucapnya sambil memasang mimik lucu.

Aku melihatnya melalui layar laptop-ku hanya tertawa, “Ayo, kembali ke Jepang kalau kau sebegitu kangennya padaku, ahahaha…”

“Bagaimana kalau kau yang kesini? Sekalian liburan?”

“Liburan? Aku baru saja diterima kerja dan langsung mengajukan cuti? Kau mau aku langsung dipecat?” tanyaku ketus. Tidak, itu sebenarnya hanya menggodanya.

Dia mengangguk cepat membuatku terkejut, “Tidak apa-apa, aku yang akan membiayaimu,”

Sial, dia mulai gombal lagi.

“Kau yakin? Makanku banyak, aku juga suka ke cafè untuk mencicipi menu baru…” dan segala macamnya agar dia tahu sisi lainku.

“Aku tau,”

Aku mengangkat alisku, “Apa? Dari mana? Kau membuntutiku?”

Dia tertawa geli, “Baka, kau pikir sudah berapa tahun aku bersamamu? Aku lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri tau!”

Entah mengapa aku tersenyum malu, apa ini rasanya jatuh cinta yang sebenarnya?

“Risa…” panggilnya, aku memiringkan kepalaku sedikit, “Coba lihat ke luar jendela.”

“Untuk apa sih? Aku malas,”

Dia mendengus kesal, “Sudah, lihat saja!”

“Baiklah,”

Aku meletakkan laptop yang ada di atas bantalku perlahan ke meja, lalu berjalan menuju jendela, membuka gordyn-nya dan memandang ke  luar.

“Taiga??”

Seorang pemuda sedang memandang ke arahku, kemudian melambai-lambai tangannya semangat. Aku pun langsung keluar rumah untuk menemuinya.

“Kau… kenapa ada disini?”

Kaget, tentu saja. Siapa yang sangka kalau dia ada di Jepang saat ini?

“Sudah kubilang, aku kangen padamu!” Tanpa izin, dia langsung memelukku erat. Aku tidak menolak, karena aku juga rindu dengan kehangatan ini, kehangatan tubuh Taiga.

“Kau tidak kangen padaku?” tanyanya. Tapi aku lebih memilih untuk mengeratkan pelukanku daripada menjawabnya.

Entah sudah berapa kali aku melihat Taiga, memegang tangannya bahkan memeluknya, tapi sekarang terasa berbeda. Berdebar, di perutku pun seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di sana. Apa ini memang cinta? Apa tidak ada kata yang lebih bagus dari kata cinta?

Tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dengan gerakan cepat, kemudian melihat ke arah jam tangannya. Aku menatapnya bingung.

“Aku harus segera kembali!” serunya sedikit panik.

“Taiga, ini tidak lucu,”

“Ini serius!”

Aku memeluk pinggangnya, “Kenapa tidak libur saja sehari? Kebetulan besok adalah hari liburku.”

Taiga melihatku sebentar, kemudian berpikir lalu melihatku lagi. Aku hanya tersenyum kecil padanya.

“Sepertinya tidak ada pilihan lain,“ Tangannya mencubit kedua pipiku, “lain kali kau yang harus mengunjungiku ya!”

Aku tertawa geli lalu mengangguk, “Un!”

Taiga tersenyum manis, lebih manis daripada senyumannya yang selama ini kulihat. Senyum yang hanya dia berikan padaku.

Bisakah selamanya seperti ini? Bahagia bersamanya setiap hari, walau ada pertengkaran-pertengkaran yang terjadi dan kembali bersama karena saling membutuhkan.

I love you, Kyomoto Taiga.

the end~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s