[Multichapter] Seven Colors (#1)

Seven Colors
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 1)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Yasui Kentaro, Nagatsuma Reo, Abe Aran, Sanada Yuma, Morohoshi Shoki, Hagiya Keigo, Morita Myuto (Love-Tune); Yasutaka Ruika, Kirie Hazuki, Yasui Kaede, Saito Aoi, Hayakawa Akane, Kimura Aika, Itou Akina (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Love-Tune members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

sevencolors

Keributan kecil mewarnai pagi untuk seorang Kirie Hazuki, “Topimu!! Topi!!” Hazuki berlari lagi ke dalam, mencari topi kuning yang harusnya jadi aksesoris yang selalu dipakai, “Ken!!” Ia menyusul bocah kecil yang sudah berlari meninggalkannya, “Keeenn!!”

“Mamaaaa cepetan nanti aku telaaatt!!” bocah itu menekuk mukanya, Hazuki tersenyum lalu memakaikan topi itu dan menarik tangan anak berumur lima tahun itu, berlari-lari kecil dengan bersemangat.

“Nanti sore Mama ada rapat, Ken-chan tunggu di sekolah saja ya,”

“Minta Papa yang jemput Ken saja, Ma,” senyum Hazuki hilang seketika.

“Papamu sibuk!” seru Hazuki, tidak mau memperpanjang pembicaraan soal Papanya Ken.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian Hazuki sudah sampai di sebuah Daycare tempat dirinya biasa mengantarkan Kenichi setiap paginya.

Ohayou Ken-chaaann!!” seorang guru dengan apron berwarna biru berdiri di depan sekolah, menyapa Kenichi, “Ohayou Hazuki-chan,”

Ohayou Shoki-sensei!”

Morohoshi Shoki, salah satu guru di Daycare ini yang paling dekat dengan Kenichi, sebagai teman main dan sering menunggu jika Hazuki pulang terlambat, “Yaayy Saaafffeee!!” Shoki ber-high five dengan Kenichi.

“Mama telat bangun lagi Sensei!” Kenichi lagi-lagi mengadu pada Shoki, pria itu hanya tersenyum menanggapinya.

“Ya sudah sekarang Ken-chan masuk ya, jangan lupa simpan barang-barangmu di loker ya!” ucap Shoki sambil menepuk pelan kepala Kenichi, sebelum masuk Kenichi sempat mencium pipi Hazuki lalu berlari kecil masuk ke dalam sekolah, “Begadang lagi, Hazuki?” tanya Shoki.

“Sebentar lagi ujian, aku jadi sering begadang,” keluh Hazuki.

“Jaga kesehatanmu, ya Hazuki-chan,” Shoki menyentuh pelan bahu Hazuki, seakan ingin memberi kekuatan pada sahabatnya itu.

“Ya sudah aku berangkat dulu ya, jya ne Shoki-kun!” Hazuki melambaikan tangan pada Shoki sebelum akhirnya berlari kecil lagi karena kalau tidak begitu bisa-bisa ia telat sampai di tempat kerja walaupun jarak dari tempat kerja dengan Daycare ini tidak begitu jauh.

Kirie Hazuki baru berumur 23 tahun, dan ia sudah jadi single parent bagi anak semata wayangnya, Kenichi. Saat orang seumurannya masih betah main-main, Hazuki sudah bertanggung jawab dan harus memikirkan kebutuhannya dengan Kenichi. Tapi dia bahagia, apapun akan ia lakukan demi Ken. Beberapa kali ia sedikit iri dengan gadis-gadis di sekitarnya yang bisa main sepuasnya, tapi menatap Kenichi semua keraguannya terhapus sudah, ia mencintai Kenichi dan akan melakukan apa saja demi anaknya.

“Kirie-senseeeiii!!” lamunan Hazuki buyar dan melihat seseorang berjalan ke arahnya, “Ohayou gozaimasu,” sapanya.

Ohayou gozaimasu Sanada-sensei!

“Habis mengantar Ken-chan, ya?” Hazuki mengangguk, “Oh ya, soal untuk ujian sudah selesai?”

Hazuki mengangguk, “Tinggal disetor pada Kaede-chan sih,”

Souka.. punyaku masih satu kelas lagi… huhuhu…” keluhnya.

“Makanya jangan keseringan ke cabaret club!” Hazuki mengatakannya dengan enteng sementara Sanada tiba-tiba terlihat kelimpungan.

“Aduh!! Aku sudah lama kok gak ke sana!” elak Sanada, disambut tawa keras dari Hazuki, menggoda temannya ini memang selalu menyenangkan. Keduanya berjalan masuk ke lingkungan sekolah, sebuah papan nama besar terpampang di hadapan mereka, Sakura Gakuin, sebuah sekolah swasta yang cukup terkenal di daerah Tokyo Metropolis. Hazuki beruntung bisa mengajar di sini setelah mendapat rekomendasi dari Kepala Sekolah yang kini memang berhubungan baik dengannya.

Ohayou Kirie-sensei! Sanada-chaaann!!” seru seorang murid dengan tinggi yang menjulang dan membuat Sanada kesal.

“Hey Reo!! Panggil aku sensei!!

“Tidak mauuuu!!” ucapnya berlari memasuki halaman sekolah sambil tertawa-tawa.

Mou dasar anak itu!”

Hazuki hanya tertawa-tawa, beberapa murid kembali menyapa mereka sepanjang perjalanan mereka menuju ke ruang guru, Hazuki dan Sanada menjawabnya dengan senang hati. Bagi Hazuki, menjadi seorang guru bukanlah cita-citanya, tapi lama kelamaan dia pun menikmatinya, rasanya ada saja tingkah laku muridnya yang membuat dirinya tidak bosan dan bisa sedikit melupakan masalahnya.

Sesampainya di ruang guru ia menyapa beberapa guru, duduk di sebuah kubikel yang tak jauh dari meja kepala guru mereka, Yasui Kaede, yang tampaknya belum datang. Hazuki menyimpan tasnya dan memeriksa ponselnya sebelum ia mempersiapkan materi pelajarannya hari ini.

“Aku ingin bertemu Ken hari ini, jadi aku yang akan menjemputnya,”

Hazuki menghela napas berat. Selalu saja semena-mena, tapi apa daya toh memang pria ini berhak sepenuhnya untuk menemui putranya sendiri.

“Wakatta, antar dia ke apartemenku sebelum jam delapan malam,” balas Hazuki akhirnya.

Sent to Yasui Kentaro.

***

Bukan keinginan seorang Nagatsuma Reo untuk jadi terkenal, tapi nyatanya setiap pagi ada saja surat-surat penggemar yang memenuhi kotak sepatunya, apalagi ini awal semester dan kemarin dia baru saja naik ke kelas tiga, kemarin juga dia memberikan sambutan sebagai wakil ketua komite siswa, tanpa dirinya prediksi pun surat sampai berhamburan ke bawah ketika ia membuka lokernya.

“Wah wah, panen lagi ya?” Reo menoleh, ia melihat wajah jahil teman sekelasnya itu.

“Berisik Saito!” Reo manyun, mengambil semua surat itu dan menjejalkannya ke dalam tas, walaupun tidak suka, tapi Reo selalu menyimpan surat-surat itu, dia tidak tega jika harus membuangnya, “Kau tidak mengirimiku surat juga, A…o…i-chan~” Reo menghampiri Saito Aoi, merangkulnya dengan tatapan nakal di wajahnya.

Aoi sontak melepaskan rangkulan Reo, “Hah? Aku? Kau tau kan aku alergi laki-laki menyebalkan!” katanya seraya meninggalkan Reo yang kemudian mengejarnya hingga ke kelas.

“Nagatsuma! Saito! Jangan berlari di lorong!!” keduanya otomatis berhenti saat melihat sosok guru tegas dengan langkah pasti mendekati mereka, “Ngapain diem disini? Masuk kelas!”

Wakarimashita Yasui-sensei!” Aoi dan Reo pun segera masuk ke dalam kelas, menatap punggung Yasui-sensei yang menghilang dibalik ruang guru.

“Gara-gara kamu nih aku jadi kena marah juga!” protes Aoi, segera menyimpan tasnya di bangku yang tepat berada di depan bangku milik Nagatsuma Reo. Ia terjebak dengan Reo sejak kelas satu. Entah kenapa mereka selalu berada di kelas yang sama hingga banyak gosip mengenai dirinya dan Reo.

“Yasui-sensei itu masih terlihat sangat muda ya,” Reo terlihat menerawang.

“Kita bukan lagi bahas itu!” Aoi mencubit pipi Reo sehingga pemuda itu kini sibuk menggosok-gosokkan tangannya ke pipi, menahan kesakitan yang ditimbulkan oleh cubitan tadi.

“Sakit tau!!”

“Masih naksir Yasui-sensei? Gak kapok ditolak berkali-kali?!” Aoi menahan tawanya. Hanya Aoi yang tau kenyataan bahwa seorang Nagatsuma Reo memang naksir Yasui Kaede. Walaupun awalnya dia hanya iseng menggoda gurunya itu karena penampilan Kaede jauh sekali dari umurnya. Salah-salah Kaede bisa dianggap sebagai anak sekolah karena wajahnya yang awet muda.

Tapi lama-kelamaan Reo memang merasa ia jatuh cinta pada sosok Kaede, apalagi walaupun kadang sangat tegas, Kaede selalu bisa diajak curhat mengenai apapun masalahnya di sekolah, Aoi tau karena dia memergoki Reo sedang memandangi Kaede saat pulang sekolah. Walaupun mengelak, Aoi melihat ekspresi wajah yang sama sekali tidak bisa ditutupi oleh pemuda itu. Sejak saat itu Aoi menyimpan rapat-rapat rahasia milik Reo.

“Kaede-chan bukan menolakku! Aku kan belum benar-benar memintanya jadi kekasihku,” bisik Reo.

“Tapi berkali-kali, kan Yasui-san selalu memarahimu kalau kau menggodanya!” kata Aoi, masih tertawa, menahan geli dengan sikap Reo yang salah tingkah.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi Reo mencubit pipi Aoi dan kabur sebelum Aoi sempat mebalasnya.

***

Yasui menatap ponselnya lalu menutupnya setelah mendapat balasan dari Hazuki. Setelah beberapa minggu ini sibuk, dia bisa bertemu dengan Kenichi, buah hatinya bersama Hazuki. Kisah cintanya dengan Hazuki memang terlalu klise, jatuh cinta, kawin lari saat Hazuki hamil selepas SMA, menyadari bahwa dunia tidak ramah pada mereka, lalu berpisah, dengan banyak masalah termasuk pertengkaran yang membuat mereka tidak lagi harmonis, Yasui pulang ke orang tuanya, meminta maaf, Hazuki tinggal sendiri dan memutuskan membesarkan anak mereka seorang diri, tentu saja Yasui masih membiayai Kenichi, tapi perasaan mereka sudah tidak bisa lagi sama, terlalu banyak hal yang tidak bisa lagi mereka perbaiki.

“Yasui-kachou, anak magang kita sudah datang,” Ruika, salah satu staffnya mendekati meja Yasui.

Wakatta, arigatou Yasutaka-kun, kumpulkan mereka di ruang meeting,” Yasui berdiri, membenarkan jasnya dan berjalan ke ruang meeting untuk bertemu dengan anak-anak magang barunya.

Ohayou gozaimasu,” sapa Yasui ketika dirinya masuk ke dalam ruangan meeting. Di sana sudah ada tiga orang, satu laki-laki dan dua perempuan, semuanya menggunakan baju hitam-putih sebagai syarat kedatangan mereka hari ini, dan tampaknya ada satu peserta magang yang salah kostum hari ini.

“Namamu siapa?” ucapnya, menunjuk pada seorang peserta magang yang memakai kemeja warna biru muda.

“Eh, uhm… Abe Aran desu,” jawabnya, seketika gugup dirinya ditunjuk oleh Yasui.

“Kau baca peraturan di surat panggilan magangmu?” tanya Yasui, pemuda bernama Aran itu hanya menampakkan wajah bersalah, sudahlah pasti ia tidak membacanya dengan benar, “Sudahlah, lain kali baca aturan dengan benar, oke?”

Hai! Sumimasen deshita,

“Baiklah, namaku Yasui Kentaro, aku manajer HRD di sini, sekarang aku akan menjelaskan pekerjaan kalian, Kimura Aika, Abe Aran dan Itou Akina,”

Ketiga orang yang dipanggil langsung menyahut berbarengan, Yasui pun memulai penjelasannya, hari ini akan panjang setidaknya sepulang kerja nanti dia bisa bertemu dengan Kenichi, sabar sajalah untuk sekarang, ucapnya dalam hati.

***

“Magang kali ini ada berapa orang?” Ruika menoleh dan Morita Myuto, menyimpan segelas kopi di meja milik Ruika, berdiri di kubikelnya sendiri yang bersebelahan dengan kubikelnya.

“Tiga orang, katanya sih dari Keio, keren kan?” perhatiannya sudah teralihkan sepenuhnya.

“Waaahh Keio, sasuga, ada yang cantik, gak?”

“Myuto, aku tau kau itu jomblo ngenes, tapi gak semua cewek bisa digoda juga, kali,” Ruika mengambil gelas kopi itu, “Makasih loh kopinya!”

“Woyy! Aku baru ngambil itu!” protesnya.

Ruika memukul tangan Myuto yang berusaha mengambil gelas kopi yang kini berada di tangannya, “Apa yang ada di atas mejaku berarti punyaku, sudah sana kerja lagi! Belum waktunya istirahat!”

Myuto mencibir, misuh-misuh dengan perlakuan Ruika. Terpaksa mengambil kopi baru untuk dirinya sendiri. Daripada dapat kejahilan lain dari Ruika, dia pun kembali ke mejanya, mengerjakan kembali data yang diminta Yasui-san kemarin sore dan belum ia sentuh sama sekali karena mengurusi absensi yang sempat erorr dan terpaksa ia hitung manual sebelum akhirnya dibenarkan tadi pagi.

Tak lama kelima peserta magang baru dan Yasui keluar dari ruang meeting, Myuto memperhatikan ada dua gadis dan seorang pemuda yang memakai baju berwarna biru. Matanya menangkap wajah yang sepertinya familiar. Tunggu, tapi masa sih? Ia tak yakin, apalagi kenangan itu sudah terlalu lama mengendap dan bahkan Myuto takut salah orang melihat gadis itu seperti temannya dulu saat masih SD, adik kelasnya tepatnya.

“Baiklah Itou-kun, Abe-kun dan Kimura-kun, kalian akan ditempatkan di sini, bersamaku, Myuto!!” merasa dipanggil Myuto menatap Yasui, “Bawa mereka ke bagian registrasi pegawai,”

Wakarimashita Yasui-san,”

Myuto beranjak, mengajak ketiganya ke tempat registrasi.

“Ne, Myuto kan? Myuto, kan?” seorang gadis berambut pendek mendekatinya, gadis yang sedari tadi ia perhatikan.

“Uhmm… Aki-chaann?!” gadis itu mengangguk bersemangat, “Ya ampun! Ternyata kamu benar Aki-chan, aku pikir aku salah orang tadi, ahahaha, Hisashiburi! Aku tidak tau kau kembali ke Tokyo,” ucap Myuto, sambil menunggu yang lain sedang registrasi.

“Karena dapat beasiswa di sini jadinya aku kembali ke Tokyo, ya ampun! Tak menyangka akan bertemu Myuto-kun di sini, lucky!! Paling tidak ada satu orang yang aku kenal,” kata gadis itu bersemangat.

“Masih tetap Aki-chan yang bersemangat ya,” kata Myuto, sementara Akina hanya tersenyum.

Senangnya, Akina pikir, dia bertemu lagi dengan penyelamatnya.

***

Ternyata bekerja di perusahaan besar tidak mudah, Aika baru kali ini merasa dirinya sibuk ke sana kemari untuk mengambilkan beberapa hal yang diminta senpai mereka, atau oleh manajernya. Mungkin belum terbiasa dengan ritme kantor ini, Aika tak ayal merasa sedikit kerepotan.

“Aku kaget loh ternyata Aika-chan magang di tempat yang sama denganku,” Aika yang sedang menikmati kopi sorenya menoleh, kaget karena ternyata ada Abe Aran, teman satu kampusnya. Keberadaan Aran bagi Aika bagaikan hama yang perlu dibasmi, dia alergi pria metroseksual macam Aran yang mementingkan penampilannya. Dan seperti pria tampan dan populer, Aran sepertinya punya kebebasan memilih gadis-gadis cantik untuk bersamanya, dan itu benar-benar tidak bisa ditolerir untuk Aika.

“Kalau tau kau di sini aku juga malas barengan denganmu!” ucap Aika ketus.

Dan Abe Aran terkekeh, jenis tawa yang Aika benci. Tawa aku-tampan-coba-lihat-senyumku dengan mata mengerling ke arah Aika, “Masih dendam padaku, hah?!”

Satu-satunya yang bisa membuat Aika benci pada Aran adalah kenyataan pria itu menolak cinta sahabatnya, Akane, semasa SMA. Cara Abe Aran menolak Akane benar-benar tidak bisa ia maafkan.

“Aku heran, apa sih yang gadis-gadis lihat dari dirimu?” Aika sejujurnya memang tidak mengerti, baginya seorang Abe Aran tidak ada istimewanya.

“Uhmmm…” Aran terlihat berpikir, “Mungkin karena aku keren?!” lalu pemuda itu tersenyum, Aika mengerenyit, pede sekali pemuda itu, “Ahahaha, jangan serem gitu dong liatnya, sudah ah! Aku ngeroko dulu ya! Bye bye!!” minus satu lagi, tambah Aika dalam hati.

Ia kembali ke mejanya, sesekali matanya melihat ke arah jarum jam di dinding yang sebentar lagi menunjukkan pukul lima sore. Rasanya ia sudah ingin sekali pulang, badannya pun sudah terasa kaku karena seharian kesana kemari tanpa istirahat. Ponsel yang disimpan Aika di atas meja bergetar sekilas, ia mengambilnya, menatap sebuah pesan yang muncul di layar lima inci itu.

Aika-chan, jangan lupa ambil laundry ya.

Aika mengeluh, tapi langsung membalasnya beberapa detik kemudian, Kalau begitu Yuma-chan yang masak makan malam ya! Awas kalau tidak enak!

Wakatta, cepat pulang!

Sanada Yuma sent you a sticker.

Aika tertawa melihat stiker yang dikirimkan oleh Sanada, seorang laki-laki yang dengan tidak sengaja satu rumah dengannya. Ketika memutuskan untuk berkuliah di Tokyo, ia mencari hunian murah karena statusnya sebagai mahasiswa penerima beasiswa, tidak disangka ia mendapatkan penawaran share house yang pemiliknya adalah kakek dari Sanada Yuma, sejak saat itu dia, Yuma dan dua penghuni lainnya menjalani hidup bersama-sama.

***

Langkahnya semakin cepat, rasanya sudah tidak sabar ia bertemu dengan orang itu. Hayakawa Akane tak lupa membeli sebuah cheese cake, ia sudah hapal benar kesukaan pria itu. Malam sudah hampir tiba dan dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, sudah hampir musim semi, tapi angin musim dingin seakan masih enggan menghilang. Kini langkahnya terhenti, bangunan sederhana itu masih terlihat terang, biasanya memang tutup hingga orang tua terakhir menjemput anaknya.

“Shoki-kun!” Akane memanggil sesosok guru yang sedang mengantar seorang anak ke depan bangunan itu.

“Akane-chan!” Shoki melambaikan tangannya ketika Akane berjalan ke arahnya, “Kamu kan baru kerja besok, apa sudah tidak sabar?”

Akane tersenyum, menyerahkan sekotak cheese cake yang sejak tadi ia bawa, “Bukan begitu Shoki-kun, aku mau mengunjungi calon bosku, menyogoknya agar mau memperlakukan aku dengan baik, ehehe,”

Sambil masih tertawa Shoki membuka kotak itu, “Waaa arigatou Akane-chan, eh, mungkin aku harus membiasakan diri memanggilmu Akane-sensei,” ucapnya, mengajak Akane duduk di salah satu bangku di depan Daycare itu, “Pulang baito?

Akane mengangguk, “Tapi mulai besok aku sudah berhenti baito karena Himawari Daycare menerimaku jadi gurunya!” seru Akane bersemangat.

Omedetou Akane-sensei!” selalu. Akane mendapati dirinya tersenyum saat memandangi seorang Shoki, sejak dulu mereka memang teman dekat. Bisa dibilang Shoki sudah seperti kakaknya sendiri. Keduanya dibesarkan di panti asuhan yang sama, dan saat beranjak dewasa walaupun mereka sudah hidup masing-masing tapi Akane dan Shoki masih sering bertemu, apalagi sekarang Akane diterima di tempat kerja yang sama dengan Shoki. Bahkan Shoki sempat menampung dirinya saat Akane pernah tidak bisa membayar sewa apartemennya dan diusir dari sana.

Semua orang yang dekat dengan dirinya tau benar, bahwa Akane memendam perasaan khusus kepada Shoki, ia pun baru menyadarinya akhir-akhir ini, terutama setelah hatinya sakit karena teman sekolahnya dulu, ya, dulunya ia hanya memandang Shoki sebagai kakak laki-laki yang selalu ia inginkan. Tapi, akhirnya ia menyadari perasaan lebih ini ternyata cinta, bukan sekedar kagum saja.

“Ruika,” suara Shoki membuyarkan lamunan Akane, ia menoleh dan melihat Yasutaka Ruika, berjalan ke arah mereka.

Sebuah mobil terparkir di dekat Daycare itu, dan Ruika berjalan ke arah mereka bersama seorang pria.

“Eh, ada Akane-chan juga, hisashiburi Akane-chan!”

Hisashi…buri…” jawab Akane, ia melihat penampilan Ruika yang seorang pegawai kantoran, tiba-tiba merasa dirinya berbeda jauh dengan Ruika, polesan make-up tipis yang cantik dan setelan kantoran yang modern tampak sangat pas di tubuh Ruika yang jelas lebih jangkung darinya, pantas saja Shoki tidak pernah meliriknya sebagai seorang wanita, ia selalu dianggap adik kecil bagi Shoki.

“Yasui-san, menjemput Ken-chan?” Shoki menyapa pria yang datang bersama Ruika.

Yasui mengangguk, “Jadi sekalian mengantarkan tunanganmu,” ucapnya, Shoki hanya tertawa dan pamit sebentar untuk menjemput Kenichi yang masih di dalam. Dalam hitungan menit Shoki sudah kembali bersama Kencihi.

“Papaaa!!” Kenichi berlari ke arah Yasui yang langsung disambut dengan sumringah oleh Yasui, “Kata Mama, Papa sedang sibuk?” Kenichi yang berada di gendongan Yasui pun tersenyum.

“Sesibuk apapun Papa pasti akan menemui Ken-chan,” Yasui segera pamit, meninggalkan Daycare itu.

“Menjemputku?” tanya Shoki, sekilas menyentuh bahu Ruika, gadis itu hanya tersenyum.

“Kebetulan pulang cepat, dan aku ingin memintamu ikut denganku ke restoran ramen yang baru saja buka,” Ruika menatap ke arah Akane, “Akane-chan mau ikut juga?”

Akane menggeleng, “Kalau begitu aku pulang dulu, sampai jumpa besok, Shoki-kun!”

Ruika menatap Shoki dengan pandangan yang sulit untuk Shoki artikan, “Apa sih?” Shoki mencubit pelan hidung Ruika.

“Akane-chan naksir padamu, tau!”

Shoki tertawa, “Dia itu sudah seperti adikku sendiri, Ruika, aku ganti baju dulu, masuk?”

Ruika menggeleng, “Aku tunggu di sini saja ya,”

“Okay, tunggu sebentar,” Shoki segera masuk ke dalam, Ruika mengecek dandanannya, menatap ke lingkungan sekolah yang kebetulan memang milik keluarganya. Pertama kali Ruika bertemu dengan Shoki adalah dua tahun lalu, saat itu Shoki menjadi guru di daycare ini sementara dia dulu pernah menangani manajemen sekolah sebelum bekerja di perusahaan, sehingga karena seringnya mereka bertemu, Shoki memberanikan diri untuk mengajaknya berkencan dan setahun kemudian Shoki melamarnya.

***

Tadaima~” Aika membuka pintu depan dan menyimpan sepatunya di rak sebelum akhirnya memakai sendal rumah dan masuk ke dalam.

Okaeri Aika-chan!!”

“Keigo, bawain ke lemari atas dong!” ucap Aika ketika melihat Hagiya sedang berada di depan televisi, dengan sigap pemuda yang dipanggil Keigo itu pun beranjak, mengambil plastik besar yang dipegang oleh Aika, “Arigatou,” sementara dirinya menyimpan tas dan menuju dapur.

Okaeri, Aika-chan,”

“Masak apa, Yuma-chan?” Aika mendekati Sanada Yuma, yang terlihat sibuk di dapur, memakai apron.

“Hanya Kare, karena Aika-chan bilang harus enak, jadi rasanya lebih baik aku memasak hal yang sudah pasti enak, ahahaha,” tangannya masih sibuk mengaduk kare di dalam sebuah panci besar, “Ganti baju dulu sana, panggil Aoi-chan sekalian, ya!”

Wakatta!” Aika mengambil tasnya menaiki tangga ke lantai dua namun langkahnya terhenti ketika hendak masuk ke kamarnya, ia pun malah bergerak ke kamar milik Aoi, rasa penasarannya tumbuh karena terdengar suara berisik di sana.

“Aoi-chan…. AAAAA!!” secara otomatis dia menutupi matanya, kaget dengan apa yang dilihatnya.

“Sebentar Aika-chan… ini salah paham! Salah paham!!”

Terdengar derap kaki mendekat ke kamar itu dan detik berikutnya ada Sanada di sebelah Aika, “Hagiya! Aoi!! Kalian ngapain?!” melihat keduanya berada di lantai dengan posisi yang sama sekali tidak terlihat natural. Hagiya berada di atas tubuh Aoi sementara di atas tubuh Hagiya terdapat laundry yang tadi dibawa oleh Aika.

Hagiya menyingkirkan buntalan plastik itu lalu membantu Aoi berdiri, “Ini.. kami sedang memasukkan ini,” Hagiya menunjuk plasti laudry yang berisikan selimut besar itu, “Lalu aku terpeleset! Sumpah!!” Aoi yang berada di sebelahnya juga mengangguk-angguk cepat, mengiyakan pernyataan Hagiya walaupun dadanya berdetak sangat cepat ketika tadi tubuh Hagiya ada di atas tubuhnya.

***

Tadaima,

Okaeri, hey Ken-chan!” Kaede yang sengaja pulang cepat ketika mendengar Kenichi akan datang hari ini pun menyambut keponakannya dan kakaknya di pintu masuk.

“Kaede-chan!!” Kenichi melepaskan genggaman tangannya dari Papanya dan menghambur ke pelukan Kaede.

“Wah, keponakanku sudah besar, ya,” Kaede mengangkat tubuh Kenichi, mendekapnya, “Mau pudding? Aku bikin pudding kesukaan Ken-chan, loohh~” walaupun sebenarnya Kaede selalu bertemu dengan Hazuki setiap hari di sekolah, tapi Kaede tidak bisa bertanya soal Kenichi kepada Hazuki, alasannya dia sendiri tidak tau. Mungkin salah satunya merasa bersalah karena kejadian Kentaro meninggalkan Hazuki walaupun mereka semua tau kalau itu adalah keputusan pribadi dari keduanya. Hazuki pun bisa mengajar di sekolah milik keluarga Yasui atas campur tangan Kaede, toh memang Hazuki kompenten dan memiliki sertifikat mengajar, untungnya Ayah mereka setuju karena sama saja memberikan kesempatan agar Hazuki bisa membiayai Kenichi, cucu dari keluarga mereka.

“Kaede, sudah memikirkan tawaran Ayah?” Yasui Kentaro, kakak semata wayangnya itu membuka jasnya dan duduk di sebelah Kenichi yang asik dengan puddingnya.

“Sudah, dan jawabanku tetap tidak. Aku sudah bilang pada Ayah,” ucapnya, menyiapkan makan malam untuk kakaknya itu.

“Kenapa? Tadi aku ketemu dia sih, di kantor, hari ini dia mulai magang di kantor. Sebagai anak pemilik Perusahaan dia sama sekali membaur dan tidak mau mengatakan bahwa dia anak Paman Abe,” ucap Yasui, mengambil nasi dan menerima beberapa lauk pauk yang kini sudah terhidang di atas meja.

“Aku tetap tidak mau, Nii-chan, toh Ayah bilang sendiri semua keputusan tetap ada padaku dan Abe-kun, dia jelas-jelas tidak akan memilihku, jadi aku juga tidak akan memilihnya,” Yasui tau, bagaimanapun membujuk adiknya, tidak akan berhasil.

“Ken-chan makan nasi juga, ya?” Kaede mendekati Kenichi yang kemudian mengangguk.

“Papa, papa…” Kenichi memanggil Papanya yang sedang makan, Yasui menoleh ke arah Kenichi, memberikan perhatian sepenuhnya kepada anak laki-lakinya itu, “Minggu depan aku akan tampil jadi pangeran, loh!”

“Benarkah?? Wah hebaaatt~”

Kenichi mengangguk, “Papa harus datang!! Bareng Mama, ya?!” Yasui terdiam, sejak dirinya meninggalkan Hazuki, wanita itu selalu terlihat alergi berada di sebelahnya. Entah berapa kali pembicaraan mereka pasti berakhir jadi sulutan emosi dan saling membalas dengan nada suara tinggi.

“Nanti Papa usahakan, ya?” mendengar perkataan Papanya, Kenichi pun tersenyum sumringah. Masalahnya Hazuki akan membiarkannya datang atau tidak.

***

TBC~

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Seven Colors (#1)

  1. hanazuki00

    Aaaah kenapa Hazuki mesti pisah dari Yasui siiih. Kenchan! Aku beneran bayangin dek Fuuga tau kaaaak 😄😄😄

    Laluuu aku kayaknya perlu bikin chard nih sm karakternya lebih bny drpd yg LTCL nih jadinya bingung lagi /kebiasaan

    Btw aoi cewe apa cowo sih mih? Hahahaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s