[Oneshot]I Want To Eat That Pizza With You

I Want To Eat That Pizza With You
By : aiibaka
Genre : Romance, Drama
Rating : PG +15
Oneshot
Cast : Nagase Ren (Mr. KING); Eihara Naho (OC); Takahashi Chiizu (OC)
Disclaimer : Nagase Ren belongs to himself and JE, OCs are mine. Author owns the plot
Note : FF ini terinspirasi dari kengidaman author yang pengen banget pizza tapi gak boleh www Siapapun yang baca, arigatou ~ comments are love ^^

“Sudah selesai?”

Ayah bertanya pada Naho yang baru saja menyampirkan sweater biru-nya di kursi. Dia baru saja selesai mengantar pesanan. Di dapur sekecil ini, aroma roti yang dipanggang menguar di udara membuat Naho menganggukkan kepalanya dengan semangat. Sejak kecil, pizza buatan ayah selalu membuatnya tenang dan bahagia.

“Apa ada pesanan lagi?” tanya Naho mendekati ayah dan mengendus aroma lelehan keju dan tomat yang menyatu.

Ayah yang baru saja mengeluarkan satu bulatan pizza dari alat pemanggang tersenyum penuh arti padanya.

Seolah mengerti maksud sang ayah, Naho mengembangkan senyumnya. “Malam kamis!”

“Pesanannya sudah Ayah siapkan di meja. Hati-hati mengantarnya, ya. Pelanggan kita ini sangat loyal.” Ayah berpesan meskipun sudah tahu Naho pasti akan sangat berhati-hati.

“Baik!” Naho memasang kembali sweater-nya dan meraih lima tumpuk box pizza di atas meja. “Ittekimasu!

Iterasshai!” sahut ayah cepat sebelum Naho menghilang di pintu belakang.

Eihara Naho sudah membantu ayahnya di kedai pizza sejak kecil. Dulu dia hanya mengantar pizza dari meja ke meja. Sekarang jam terbangnya bertambah. Dia mengantar pizza di sekitar Nogizaka. Sebelum naho lahir, ayah sudah menekuni usaha tersebut, bahkan sebelum menikah dengan ibu Naho. Sayangnya, ibu meninggal beberapa tahun yang lalu karena sakit. Jadi kedai pizza tersebut hanya dikelola oleh Naho dan ayah dengan bantuan dua karyawan mereka.

Naho  mengayuh sepedanya agak cepat membelah dinginnya malam musim gugur Nogizaka. Entah kenapa setiap menerima pesanan dari pelanggan ini dia selalu bersemangat mengantarnya. Mungkin karena wajahnya yang tampan, atau mungkin karena kemisteriusannya. Bagaimana tidak, dia selalu memesan lima box pizza setiap malam kamis padahal di apato-nya sedang tidak ada pesta. Setidaknya Naho tidak mendengar suara ribut-ribut dari kamar laki-laki itu. Naho bertanya-tanya apa dia memakan pizza sebanyak itu seorang diri atau ada seseorang yang sering datang berkunjung setiap malam kamis ke apato-nya dan mereka memakannya bersama. Naho menggeleng berulang kali. Untuk apa dia memikirkan hal seperti itu?

Dua puluh menit mengayuh, Naho berhenti lalu memarkir sepedanya di depan sebuah apartemen berlantai enam. Setelah memastikan keamanan sepedanya, dia menaiki tangga menuju lantai tiga. Meskipun harus melalui banyak anak tangga, Naho tidak merasa lelah sama sekali. Dia tampak terlalu bersemangat.

“Pizza EIHARA pesanan anda, Nagase-san.” Ucap Naho saat pintu terbuka setelah dia mengetuknya dua kali.

Seorang laki-laki berambut coklat pucat muncul di pintu, menerima lima box pizza pesanannya lalu membayar sejumlah bon yang ditunjukkan Naho tanpa sepatah katapun. Kemudian segera menutup pintu saat mendapati Naho mencuri pandang ke dalam ruang pribadinya.

“Benar-benar misterius.” Gumam Naho.

***

“Naho, kau sudah selesai mengerjakan program tugas akhir?” tanya Kojima Maru. Dia adalah salah satu teman Naho di kelas java programming.

Naho mendengus malas di mejanya. Sepertinya belum selesai dikerjakan. “Baru sekitar 30%. Ada beberapa form yang sulit kutemukan kodingnya. Aku ragu bisa menyelesaikannya.”

Maru pun tampak lesu. “Kalau begitu kita sama saja. Bagaimana kalau kita minta bantuan Hirano? Dia kan hebat dalam hal ini.” Saran Maru.

Naho melirik malas laki-laki berkacamata berambut blonde di sudut ruangan. “Meskipun pintar, dia itu banyak maunya. Apalagi dia terkenal hentai.” Naho berdiri dari duduknya. “Sudahlah, nanti juga selesai. Mau ikut ke kantin?”

“Kantin fakultas sedang tutup. Ada renovasi.”

“Oh iyayaa… Jadi kita makan dimana?”

Maru berpikir sebentar. “Bagaimana kalau di kantin kedokteran?”

Naho menaikkan satu alisnya. “Memangnya di sana ada apa?”

“Ada calon-calon dokter yang tampan dan memesona.” Mata Maru berbinar-binar. Jika saja ini anime, pupil matanya sudah membesar.

Ingin rasanya Naho menimpuknya dengan buku programming yang tebalnya bukan main. “Sudahlah, makan dimana saja asal enak.”

“Makanan di sana enak enak. Kan yang makan anak orang kaya semua.” Maru masih bersikeras.

Naho memutar bola matanya. Mengalah sekali ini tidak akan jadi kiamat. “Terserah kau saja, Kojima Maru~~~”

Maru tersenyum puas. Akhirnya dia menang. Mereka pun berjalan menuju kantin fakultas kedokteran yang jaraknya cukup dekat dengan fakultas mereka, Ilmu Komputer.

Naho sudah menduganya. Maru tidak akan fokus dengan makanan karena terlalu terpesona dengan mahasiswa kedokteran yang memang terkenal tampan tampan. Ternyata selain mereka, ada beberapa mahasiswa dari fakultas yang sama sedang makan di sana. Entah kapan kantin fakultasnya akan terbuka kembali. Baru sekali, dia sudah mual melihat kelakuan Maru.

“Oi Maru, habiskan cepat makananmu! Kita masih ada kelas setelah ini.” Tegur Naho yang tidak tahan lagi.

“Sabar sedikit, Naho. Anugerah Tuhan yang indah ini tidak boleh dilewatkan.” Pandangan Maru melanglang buana kesana kemari menikmati pemandangan gratis yang ada.

“Anugerah macam a-“ Pandangan Naho yang ikut menjelajah terhenti pada sesosok laki-laki yang dikenalinya, membuatnya tidak bisa melanjutkan kalimatnya sendiri.

Maru mengalihkan pandangan pada Naho yang tiba-tiba terdiam. “Naho, kau kenapa? Siapa yang kau lihat? Ah, aku tahu, kau pasti mulai jatuh cinta pada seseorang di sini, kan?”

Alih-alih menyahut, Naho berdiri meninggalkan kursinya.

“Hei, Naho, mau kemana? Kau belum menghabiskan makananmu!”

Naho menghiraukan teriakan Maru. Dia terfokus mengikuti sosok yang dikenalinya tersebut. Dia terus mengikuti laki-laki itu di belakangnya tanpa berani memanggil. Dia bahkan tidak mengerti kenapa melakukan ini. Dia hanya ingin tahu lebih banyak tentang laki-laki misterius itu. Tidak disangka mereka malah kuliah di kampus yang sama. Sepertinya dia mahasiswa kedokteran, pikir Naho.

“Ano~” akhirnya Naho berani bersuara setelah mengumpulkan segenap keberanian yang dimilikinya.

Merasa dirinya dipanggil, laki-laki itu berbalik. “Kau bicara padaku?”

Naho mengangguk takut-takut. “Watashi, Eihara Naho desu!

“Hm?!”

Naho merasa canggung. Entah apalagi yang harus dikatakannya. Lalu dia teringat lima box pizza yang selalu dipesan laki-laki tersebut. “K-kau sering memesan pizza di kedai kami. Aku yang sering mengantarnya. Hehehe.”

Laki-laki itu bergeming, membuat wajah Naho memerah karena malu. Selama sepersekian detik ada jeda tidak mengenakkan di antara mereka.

“T-terimakasih telah memesan pizza kami selama ini. A-aku permisi.” Naho ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu. Dia berbalik.

“Pizzanya enak. Aku suka.”

“Eh?” Naho menghentikan langkah. Tidak disangka sang misterius pun menyahut. Dengan ragu dia membalikkan badannya lagi. “T-terimakasih.”

“Jangan lupa besok malam kamis.”

“Un!” Naho mengangguk senang. Tapi, masih ada sesuatu yang ingin dia tahu. “Ano~~~”

“Hm?!”

“B-boleh aku tahu namamu? Ah, tolong jangan salah paham. Kedai kami berencana membuat kartu ucapan untuk pelanggan kami, jadi mungkin kami bisa menulis namamu di sana.” Alasan yang jenius! Padahal Naho baru saja memikirkannya.

“Nagase Ren. Panggil saja Ren.”

***

Jam dinding menunjukkan angka 9. Kedai pizza Eihara bersiap-siap untuk tutup. Naho baru saja selesai membereskan meja terakhir ketika seorang laki-laki masuk ke dalam kedai. Naho yang terkejut segera mendatangi ayahnya di dapur.

“Ayah, pelanggan yang sering memesan lima box pizza itu datang kemari. Padahal kan kita sudah mau tutup.”

“Tidak apa-apa. Layani dia dengan baik. Dia pelanggan setia kita.”

“Tapi, Ayah?”

“Sudah sana tanya pesanannya. Membuat satu pizza lagi tidak masalah untuk Ayah.”

Sebenarnya Naho sudah lelah sekali dan ingin segera istirahat. Apalagi besok ada kuliah pagi. Tapi karena yang datang adalah orang yang selalu ingin dilihatnya, dia melupakan semua lelahnya. Ayah juga sepertinya sangat senang dengan kedatangannya.

“Selamat datang di kedai pizza Eihara. Anda ingin pesan apa?” tanya Naho menyodorkan buku menu dengan tangan gemetar.

“Deluxe Cheese dengan pinggiran keju.” Jawab Ren tanpa melihat buku menu lalu segera membayarnya.

Seperti biasa. Sepertinya dia sangat menyukai keju, pikir Naho.

“Mohon tunggu pesanan anda.”

Naho segera ke dapur dan ayah dengan cekatan membuat adonan pizza untuk pelanggan setianya tersebut. Dua puluh kemudian pizza yang ditunggu akhirnya matang. Naho segera mengantarnya ke meja Ren. Tepat setelah Naho meletakkan nampan di atas meja, beberapa orang berjas namun tampak sangar memasuki kedai. Naho langsung mengenali mereka. Dia segera berlari menemui ayahnya.

“Eihara! Aku datang menagih utangmu! Kapan kau akan membayarnya, hah?!” salah satu pria berbadan kekar menggebrak meja, sementara yang lainnya mengacak kursi dan meja dengan beringas.

Ayah keluar dari dapur didampingi Naho yang gemetar. Meskipun kejadian seperti ini sudah biasa terjadi setiap mereka menagih utang, tetap saja Naho merasa ketakutan.

“Maafkan saya, Tanaka-san. Tolong beri waktu beberapa minggu lagi. Saya sedang berusaha mengumpulkan uang untuk melunasinya.” Jawab ayah dengan tenang. Naho selalu kagum dengan cara ayah menghadapi yakuza tersebut.

“Apa kau bilang?! Minta waktu lagi?! Kami sudah cukup memberimu waktu!!! Sekarang lunasi saja utangmu atau kedai ini akan kuratakan dengan tanah!”

Jantung Naho berdegup kencang. Dia tidak bisa membayangkan jika kedai ini menghilang. Bagaimana dia dan ayah bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka? Hanya kedai ini yang mereka punya.

Ayah menelengkupkan kedua tangannya di depan dada. “Tolonglah, Tanaka-san. Kali ini aku benar-benar akan membayarnya. Aku hanya meminta waktu beberapa minggu.”

Pria yang tadi menggebrak meja berpikir cukup lama kemudian menggebrak meja sekali lagi. “Baiklah, kuberi waktu dua minggu. Jika dalam waktu itu kau tidak membayar utangmu, kedai ini akan rata dengan tanah!”

Wajah ayah tampak lega. “Terimakasih atas kemurahan hati anda, Tanaka-san.”

Rombongan yakuza itu pun akhirnya keluar kedai setelah sebelumnya mengacak meja dan kursi. Ren yang duduk paling sudut luput dari gangguan mereka. Yakuza Nogizaka memang terkenal tidak suka mengganggu orang yang tidak seharusnya diganggu. Apalagi sejak tadi Ren hanya memakan pizza tanpa peduli apa yang sedang terjadi.

Namun, diam-diam Ren melihat ketakutan di mata Naho. Perempuan itu terus memeluk ayahnya sambil menangis. Ren bisa melihat bibir ayahnya berulang kali mengucap ‘daijoubu’. Sementara perasaan Naho semakin  kalut. Darimana mereka bisa mendapatkan uang banyak dalam waktu dua minggu? Apa yang sedang dipikirkan ayah? Naho ingin tahu. Lalu pandangan Naho tertuju pada Ren yang sejak tadi diam saja. Naho juga ingin tahu apa yang sedang dipikirkannya. Tiba-tiba saja Ren berdiri dan berjalan menuju pintu keluar. Naho minta izin pada ayah dan berlari kecil menemui Ren yang sudah berada di ambang pintu.

Ano~~~

Ren menoleh.

“Kami minta maaf atas ketidaknyamanan malam ini. Hontou ni gomennasai!” Naho sedikit membungkuk.

“Pinjamlah uang pada bank. Jangan berurusan dengan yakuza. Chiizu tidak akan senang jika kedai ini rata dengan tanah. Dia sangat menyukai pizza kalian.”

Siapa Chiizu? Rasa penasaran membuat Naho ingin bertanya. Namun belum sempat melakukannya, Ren sudah meninggalkan kedai.

Siapa Chiizu? Naho bertanya sekali lagi tanpa ada yang bisa menjawabnya.

***

Minggu terakhir di musim gugur hujan turun tanpa terduga. Padahal cuaca cukup cerah sejak pagi. Namun hujan justru mengguyur Nogizaka menjelang sore hari. Naho yang baru saja selesai mengantar pesanan, yang tidak ada persiapan sama sekali jadi agak basah. Untung saja dia menemukan kuil untuk berteduh. Lebih beruntung lagi karena sudah tidak ada lagi pesanan yang harus diantar. Jadi dia bisa berteduh sampai hujan benar-benar reda. Naho melirik jam tangannya. Pukul setengah tiga.

Seorang laki-laki datang dan ikut berteduh di kuil. Dia memegang sebuket bunga mawar merah. Naho menoleh dan perasaannya jadi tidak menentu. Ren berdiri tepat di sampingnya.

Merasa diperhatikan, Ren balas menoleh dan mengenali Naho seketika. Dia pun tersenyum. “Ternyata kau.” Ujarnya.

Naho mengangguk tersenyum. Setelah beberapa kali pertemuan akhirnya Ren mengenalinya.

“Bagaimana kabar Ayahmu?” tanya Ren tanpa bermaksud berbasa-basi.

“Dia baik-baik saja.” Jawab Naho pelan. Mungkin sebenarnya tidak seperti itu.

“Syukurlah. Kalian pasti bisa melewatinya.” Ren menyinggung kejadian beberapa malam yang lalu.

Naho tersenyum kecut. “Entahlah. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kedai itu. Ayah sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kedai. Kau tahu? Ayah sampai belajar jauh-jauh ke Italia hanya untuk membuat pizza yang enak. Dia sangat  menyukai pizza dan menikmati cara membuatnya. Aku sudah berencana mengambil cuti kuliah untuk mencari pekerjaan dengan gaji yang besar agar kami tidak perlu berutang lagi pada siapapun.”

Ren mengangguk paham.

“Bunga itu… Apa untuk pacarmu?” tanya Naho berusaha mengalihkan pembicaraan meskipun terasa aneh baginya bertanya seperti itu.

Ren mengangguk sekali lagi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Naho menatap ke atas. Langit masih sangat gelap. “Hujannya sangat deras. Sepertinya tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Kalau tidak cepat-cepat pergi pacarmu bisa marah. Dia pasti sudah menunggumu.” Naho harus mengakui dia cemburu saat mengatakan itu.

Kali ini Ren tersenyum. “Dia tidak akan pernah marah karena dia selalu berada di sini.”

Di sini? Apa maksud Ren di hatinya? Naho yang selalu penasaran rasanya ingin bertanya lagi. Selalu ada rahasia dari setiap ucapan seorang Nagase Ren. Naho jadi semakin penasaran.

Sejam berlalu tanpa ada percakapan lagi. Mereka berdua terdiam menikmati suara air hujan yang jatuh ke bumi. Naho tampak gelisah ingin segera meninggalkan tempat itu. Dia tidak sanggup berada di samping Ren terlalu lama. Dia tidak ingin terlalu menyukainya. Terlebih lagi Ren sudah punya pacar. Naho tidak ingin menyukai pacar orang.

Hujan pun akhirnya berhenti beberapa saat kemudian. Naho segera berdiri mengambil sepedanya. “Aku duluan ya, Ren.”

“Iya.”

Naho mengayuh sepedanya cepat-cepat. Namun ketika mengingat ucapan Ren tentang pacarnya yang selalu berada ‘di sini’, sepertinya ada yang aneh. Dia pun memutar sepedanya dan diam-diam mengikuti Ren. Tubuh Naho mematung ketika melihat Ren memasuki area pemakaman.

Mau apa dia ke sini?” tanya Naho dalam hati. Karena sangat ingin tahu apa yang dilakukan Ren, dia pun memarkir sepedanya dan mengendap-endap mengikuti Ren masuk ke area makam.

Ren berhenti di sebuah makam yang terletak di tengah-tengah area. Dia berjongkok lalu meletakkan buket bunga yang dibawanya. Naho terus memperhatikannya dari balik pohon beringin besar. Meskipun dia tidak bisa mendengar apa saja yang Ren ucapkan di depan makam tersebut, dia dapat melihat Ren beberapa kali menyeka airmatanya dan sesekali tersenyum. Lalu tidak lama kemudian Ren pun meninggalkan tempat tersebut.

Naho yang belum habis rasa penasarannya tidak ikut keluar, alih-alih mendekati makam tersebut. Ketika membaca nama di batu nisan, dia menahan napas.

Di sana tertulis ‘Takahashi Chiizu’.

***

Di tengah aroma pizza panggang yang menguar di udara, Naho duduk menopang dagu. Hari ini rasanya dia tidak bersemangat melakukan apapun. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya. Terutama mengenai Ren dan pacarnya yang sudah meninggal. Lalu kenapa Ren bilang Chiizu akan bersedih kalau kedai pizzanya tutup? Itu hanyalah satu dari sekian banyak pertanyaan yang kini memenuhi pikirannya.

“Memikirkan Ren?” tiba-tiba ayah bertanya.

“Ayah tahu?” Naho terkejut.

“Aku ini Ayahmu. Tentu saja aku tahu,” ujar ayah sembari memotong-motong paprika hijau dan mereka. “Memangnya ada apa dengannya?”

“Ayah tahu kalau aku menyukainya?” tanya Naho ingin tahu.

Ayah tersenyum hingga hanya menyisakan segaris saja di matanya. “Tentu saja. Ayah juga tahu kau sudah menyukainya sejak pertama kali dia memesan pizza. Benar, kan?”

“Benar.” Naho menjawab lesu.

Ayah menaburkan paprika ke dalam roti pizza yang akan dipanggangnya. “Kalau begitu tunggu apalagi? Katakan saja padanya.”

“Dia sudah punya pacar.”

“Yah, berarti kau tidak punya kesempatan.”

“Tapi pacarnya sudah meninggal.”

“Kalau begitu kau akan bersaing dengan hantu cantik.”

“Ayaaaaaahh… aku serius! Ren tampaknya sangat mencintai pacarnya. Dia menangis di depan makamnya.”

Kali ini ayah menatap anaknya dengan serius. “Jika seperti itu, apa kau tega  merusak hubungan di antara mereka? Meskipun dunia mereka sekarang berbeda, tapi perasaan mereka tetap sama dan saling terhubung. Sama seperti perasaan yang ayah miliki untuk ibu. Tapi Ren masih sangat muda. Mungkin keadaan akan berubah.”

“Entahlah, Ayah. Ah iya, apa ayah mengenal perempuan bernama Takahashi Chiizu? Itu nama pacarnya Ren. Ren pernah bilang jika kedai kita tutup, Chiizu akan sangat sedih. Memangnya siapa dia? Ayah kenal?”

“Takahashi Chiizu…,” Ayah bergumam sembari mengingat-ingat nama tersebut. Sejauh dia mengingat, dia memang pernah familiar dengan nama itu. Ayah berjalan menuju lemari di pojok kanan dan mengeluarkan sebuah buku tebal dari sana lalu membawanya ke hadapan Naho. Ayah membuka lembaran demi lembaran buku yang sepengetahuan Naho adalah catatan pelanggan pesan-antar yang sudah lama. “Ketemu!” ayah berseru.

“Apa yang Ayah temukan?” Naho penasaran.

Ayah duduk di kursi. “Chiizu adalah langganan kita beberapa tahun yang lalu. Dia sering memesan lima box deluxe cheese setiap malam kamis dan minta diantar ke rumahnya. Dia bilang sangat menyukai pizza dari kedai kita dan akan menjadi langganan selamanya.”

“Eh?” kening Naho berkerut. “Seperti Ren. Tapi, kenapa aku tidak pernah mengenalnya?”

“Kau kan SMA di Hokkaido, Naho. Tentu saja kau tidak tahu.”

Naho mengerti. “Lanjutkan cerita Ayah.”

“Suatu hari dia tidak lagi memesan. Lalu Ayah mendapat kabar kalau dia meninggal karena kanker hati yang dideritanya sudah cukup parah. Ayah sangat bersedih. Dia adalah gadis yang baik dan ramah. Jika saja masih hidup, dia akan seumuran denganmu,” Ayah melanjutkan. “Lalu, sebulan kemudian datang pesanan dari seorang laki-laki yang sama dengan Chiizu… Ya ampun!!! Kenapa Ayah baru menyadarinya sekarang?! Ternyata selama ini Ren memesan untuk melanjutkan kebiasaan Chiizu! Ayah terlalu sibuk jadi tidak menyadarinya. Kasihan Ren.”

Mata Naho sudah mulai memanas. Mendengar cerita tentang Chiizu membuatnya ingin menangis. Dia teringat Ren. Mungkin saja selama ini dia memakan pizza sebanyak itu sendirian.

KRIIING!!!

Telepon berdering.

“Biar Ayah yang angkat.” Ayah berdiri, mengangkat telepon lalu berbicara sebentar. Tapi ekspresi wajahnya terlihat aneh.

“Ada apa?”

“Naho, ini hari apa?” Ayah balik bertanya.

“Hari minggu.”

“Tadi Ren yang memesan. Aneh sekali, kenapa dia memesan di hari lain? Dia juga minta diantarkan ke tempat lain, bukan ke apartemennya. Kenapa berubah, ya?”

“Diantar kemana?”

“Makam Chiizu.”

Naho dan ayah saling menatap tak mengerti. Meski begitu, mereka tetap menuruti permintaan Ren. Setelah semua siap, Naho mengayuh sepedanya menuju makam. Dia sedikit bergidik membayangkan suasana makam sore ini. Sangat sepi dan lengang. Jika bukan karena Chiizu, Ren pasti tidak akan berada di sana. Begitu pun dirinya, jika bukan karena Ren, dia tidak akan pergi ke makam sore ini.

Naho masih penasaran kenapa Ren memesan pizza lebih awal dan minta diantarkan ke makam. Apakah ini hari spesial yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya?

Apakah hari ini hari kematian Chiizu? Naho berasumsi sendiri, dan saat dia sampai di tempat yang dituju, Ren membenarkannya.

“Terimakasih sudah mau mengantar pizza-nya,” Ren berdiri dengan lututnya di depan makam membelakangi Naho. “Hari ini tepat 4 tahun dia pergi.”

Naho yang berdiri tidak jauh di belakang Ren dapat mendengar suara laki-laki itu tercekat. Pasti rasanya sakit sekali berpisah selama itu dan tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Naho teringat ibu yang juga tidak akan pernah bisa ditemuinya lagi dan matanya mulai memanas.

“Dia sangat menyukai pizza kalian. Bahkan saat sakit dia tetap ingin makan pizza Eihara dan itu membuatnya bahagia.” Ren berbicara seolah mewakili Chiizu.

Airmata Naho sudah menetes. Dia menutup mulut agar isakannya tidak terdengar.

Kemudian Ren melanjutkan. “Dia meninggal saat kami SMA. Dia bahkan tidak bisa menunggu sampai aku jadi dokter dan menemukan obat untuk penyakitnya. Chiizu, aku datang membawa pizza kesukaanmu. Apa kau senang? Apa kau bahagia tanpaku? Aku tidak. Aku sama sekali tidak bisa hidup tanpamu, Chiizu. Pizza-pizza ini… Aku ingin memakannya bersamamu.” Ren sudah tidak dapat lagi menahan airmatanya. Tangisnya tumpah di depan makam Chiizu. Dia bahkan tidak mempedulikan Naho di sana. Yang diinginkannya saat ini hanyalah bertemu Chiizu.

Di belakang Ren, Naho semakin terisak tanpa suara. Dadanya terasa sesak. Jika bisa, dia sangat ingin berada di samping Ren dan menenangkannya. Tapi Ren tidak membutuhkannya. Ren tidak butuh siapapun selain Chiizu.

“Ren, berhentilah menangis. Bisakah aku menemanimu memakan pizza itu? Karena aku juga menyukaimu.

Naho menyadari satu hal, perasaannya tidak akan pernah terbalaskan.

THE END

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot]I Want To Eat That Pizza With You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s