[Multichapter] UNDIVIDED part 2

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast: Hey!Say!JUMP; KAT-TUN [including Akanishi Jin, Taguchi Junnosuke & Tanaka Koki (INKT)]; Kis-My-Ft2; ARASHI; etc
Takanishi Reia (OC)

Arina menyendokkan parfait strawberry buatannya ke dalam mulutnya sambil melihat Yuri yang sedang melihat sebuah map dengan Keito yang berdiri disampingnya. Arina berdecak dengan kesal menatap gelas parfait di depannya sendiri.

Seperti menyadari ada yang aneh pada Arina, Yuri melirik pada gadis itu sesaat sebelum memberikan isyarat pada Keito untuk melanjutkan pembahasan mereka nanti. Setelah pemuda itu keluar dari ruang makan dan menyisakan kedua saudara kembar itu saja, Yuri lalu membuka suara.

“Arina, ada apa denganmu? Ada masalah?” tanya Yuri.

“Tidak ada.” jawab gadis itu singkat.

Ada masalah! Pikir Yuri sambil tersenyum tipis. Yuri sangat mengenal Arina termasuk dengan kebiasaan gadis itu, terutama saat sekarang. Menjawab pertanyaannya dengan ketus dan singkat, berarti sedang terjadi apa-apa padanya yang membuatnya sangat kesal.

“Bagaimana dengan kuliahmu?” tanya Yuri mencoba memancing, ingin mengetahui masalah pada kembarannya itu.

“Baik-baik saja,” jawab Arina lagi sambil memainkan parfaitnya sendiri dengan malas.

“Lalu, apa parfaitnya kurang manis? Strawberry nya kurang matang? Mau minta pelayan menggantinya?” tanya Yuri lagi.

Arina mendengus dengan kesal, “Aku yang membuatnya, tentu saja rasanya sudah sangat pas! Kau saja yang tidak mencicipi milikmu dan sibuk dengan pekerjaanmu dari tadi!”

Yuri mengulum senyum mendengarnya, mendapat petunjuk apa yang menjadi penyebab kekesalan kembarannya ini. Dirinya. Pemuda itu lalu menyuap sesendok parfait di depannya yang sudah hampir mencair, namun tetap saja tidak mengubah rasa dari parfait itu sendiri.

“Ini enak. Kau memang sangat ahli dalam hal seperti ini, Arina!” seru Yuri.

Arina mendengus mendengar pujian kembarannya itu dan berdehem singkat sambil menyuap miliknya sendiri. Yuri akhirnya menghela nafas dan meletakkan kembali sendok di parfaitnya di atas meja, ganti dengan menggenggam satu tangan saudarinya yang ada diatas meja.

“Baiklah, aku minta maaf karena sudah membawa pekerjaan ke meja makan. Aku akan mengingatnya untuk lain kali tidak melakukannya lagi dan membuat saudara kembarku ini jadi kesal lagi seperti ini.” bujuk Yuri.

Arina kini memandang saudara kembarnya itu dan ganti menghela nafas, “Aku hanya ingin Yuri tidak terlalu larut dalam pekerjaan, setidaknya di rumah saja Yuri bisa beristirahat.” Ujarnya.

Yuri tersenyum lebar dan mengacak rambut saudarinya itu, “Baiklah, aku mengerti. Jadi, buang ekspresi merengutmu dan tersenyumlah lagi untukku.” katanya.

“Yuriiiiiiiii….” Arina menepuk singkat tangan Yuri dan merapikan rambutnya sendiri yang berantakan.

Gadis itu lalu melanjutkan kembali makan parfaitnya dengan perasaan ringan. Namun tidak dengan Yuri, pemuda itu terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Kenapa?” tanya Arina yang menyadari tatapan pemuda itu padanya.

“Arina, sepertinya rencana kita minggu ini akan batal.” ujar Yuri sambil menatap matanya dengan nada menyesal.

Arina menyerit mendengar kata-kata Yuri, mengingat apa kira-kira yang mereka rencanakan minggu ini, maklum saja ingatannya yang sedikit bermasalah itu.

Survival Game itu, bodoh! Kenapa kau bisa mendadak amnesia seperti ini?!” gerutu Yuri lagi dengan kesal sambil menoyor pelan kepala saudarinya itu.

“Ah, itu!” seru Arina, kemudian kembali bertanya, “Memangnya ada apa dengan minggu ini? Sibuk sekali ya?”

Yuri mengangguk, “Aku harus ke Fukuoka minggu ini. Ada kontrak kerjasama yang harus di tanda tangani dan harus menghadiri undangannya ke sebuah acara disana peresmian galeri disana,” jelas pemuda itu.

Arina terdiam sesaat di tempatnya, menghela nafas panjang dan mengangguk lemah. “Baiklah… kita bisa menundanya.” ucap Arina.

“Kau mau ikut?” tanya Yuri tiba-tiba.

Arina menyerit dan balik bertanya, “Memangnya tidak masalah?”

Yuri memiringkan kepalanya sejenak, “Siang harinya kau memang tidak mungkin ikut saat kami rapat, tapi kau bisa jadi teman kencanku untuk pesta itu pada malam harinya. Bagaimana?” ujar Yuri.

Arina tersenyum dengan sumringah lalu mengangguk, “Ikut! Menghabiskan akhir pekan di Fukuoka bukan hal yang buruk!” serunya riang.

“Baiklah. Sudah kita putuskan!” kata Yuri lagi sambil kembali menikmati parfait miliknya.

-*-

Arina mematut dirinya terakhir kali di depan cermin. Legging hitam, di padu dengan baby doll sebagai atasan. Rambutnya di ikat ekor kuda. Sempurna. Arina tersenyum melihat penampilannya di depan cermin.

Gadis itu lalu mengambil tas selempangnya di atas meja belajar, dan sesuatu jatuh ke lantai menarik perhatian gadis itu. Arina berjongkok untuk memungut benda itu, sebuah giwang berbentuk bintang dari batu yang di dapatnya dari supermarket semalam. Hampir saja dia lupa dengan benda ini.

Arina memutuskan untuk mengenakan giwang tersebut di telinganya, terlihat cocok dengan pakaian yang sedang dia kenakan. Gadis itu lalu berjalan keluar dari kamarnya menuju lantai bawah, dimana terlihat Yuri dan Keito yang sudah akan pergi.

“Tidak sarapan dulu?” tanya Arina pada kedua pemuda itu.

“Kami sudah sarapan tadi, kau saja yang bangunnya belakangan!” celetuk Yuri.

Ohayou gozaimasu, Arina ojousama!” ujar Keito pada Arina.

Arina beralih pada Keito dan menggembungkan pipinya, “Kau memanggil Yuri hanya ‘Yuri-san’ tapi memanggilku dengan ojousama, kau membuatku merinding. Setidaknya panggil namaku juga dengan biasa saja.” protes Arina.

Keito terlihat menggaruk kepalanya salah tingkah, bingung dengan protes yang diajukan nona majikannya ini.

“Panggil saja seperti kau memanggilku.” Kata Yuri kemudian.

Keito mengangguk pada Yuri kemudian beralih kembali pada Arina, “Arina-san, kalau begitu.” Ujarnya.

Arina tersenyum lalu menggandeng erat kedua pemuda itu di kedua sisinya, “Baiklah aku akan pergi ke kampus dengan kalian, tidak apa-apa kan mengantarku lebih dahulu?” kata Arina sambil tersenyum manis.

“Kau tidak sarapan dulu?” tanya Yuri sambil menyerit.

“Gampang, di kampus ada kantin!” Arina lalu menarik tangan kedua pemuda itu yang hanya bisa pasrah di tarik oleh gadis itu ke luar dari rumah.

-*-

KRIIIIIIINNNGG!!! KRRRRIIIIIINNNGGG!!!

Ryosuke tersentak dari lelapnya mendengar bunyi alarm yang sangat nyaring di telinganya. Jam di alarm tersebut masih menunjukkan pukul 4 subuh tepat. Tubuhnya masih sangat berat untuk di gerakkan. Tulang-tulangnya terasa remuk dengan rasa lelah menjalari seluruh tubuhnya. Dugaannya tepat semalam. Setelah sampai di tempat pelatihannya, tepatnya kediaman Tanaka Koki, salah satu asisten kepercayaan pamannya, dia hanya diberikan istirahat hingga makan malam. Setelah itu, pria botak itu sudah membawanya untuk ‘pemanasan’.

Namun, pemanasan bagi seorang Tanaka Koki bukanlah pemanasan biasa dalam olahraga biasa. Tepatnya, Ryosuke di suruh untuk lari melalui palang rintang sebanyak sepuluh kali dengan jangka waktu lima menit saja. Setiap kelebihan waktu sepuluh detik di ganti dengan push-up sebanyak dua puluh kali. Untuknya yang sudah jarang terlibat dengan misi di luar kantor, mendapat pelatihan seperti ini benar-benar menyiksa tubuhnya.

“Ryosuke-san! Sudah waktunya bangun. Saya akan menunggu anda lima belas menit lagi di halaman!” terdengar bunyi gedoran pintu dan suara Tanaka Koki diluar kamar pemuda itu, sebelum di susul dengan suara langkah kaki menjauh dari sana.

Ryosuke mengumpat beberapa kali sambil berusaha bangun dari posisinya. Sedikit tertatih, pemuda itu berjalan ke lemari untuk mengganti bajunya dengan pakaian latihan. Menyegarkan dirinya sedikit di kamar mandi.

Sepuluh menit kemudian pemuda itu sudah siap dengan atribut latihan lengkap. Kurang lima menit lagi dari batas waktu yang di ucapkan oleh Tanaka padanya, dengan jarak dari kamarnya ke halaman cukup lebar. Kembali umpatan dan sumpah serapah keluar dari mulut Ryosuke. Mendapat hukuman karena keterlambatan tidak termasuk dalam kamusnya saat ini dimana seluruh sendi-sendinya terasa hampir lepas. Dia hanya membutuhkan sedikit latihan untuk membuat fisiknya kembali terbiasa, tapi tidak dengan hukuman.

Ryosuke mengikat rambutnya yang sudah mulai tumbuh ke belakang, sambil mengingatkan pada dirinya sendiri untuk menyisihkan waktunya memotong rambut setelah misi kali ini berakhir, memperlihatkan sebuah giwang yang sudah tersampir manis di telinga kirinya.

Pemuda itu melemaskan sedikit kaki dan tubuhnya sambil membuka lebar jendela kamarnya, sebelum memutuskan untuk melakukan parkour, kebiasaan yang sudah lama tidak di tekuninya, melalui jendela kamarnya di lantai dua hingga tiba di bawah. Kemudian lanjut berlari ke halaman depan, mencari sosok Tanaka Koki yang sudah menantinya.

-*-

“Hoaaahhhmmm..”

Entah sudah berapa kali Arina menguap dalam semenit. Saat ini gadis itu sedang memandang sebuah lukisan yang menurutnya sangat abstrak sedang tergantung di dinding dengan wajah tanpa ekspresi. Sudah sekitar sejam gadis itu sejak dirinya dan Yuri tiba di acara peresmian galeri ini. Sejak saat itu juga, Yuri mulai berkeliling sendiri dan berbaur dengan para tamu meninggalkan dirinya di sudut pesta sambil melihat-lihat koleksi lukisan dan foto dari galeri ini.

Acara yang disangkanya akan menarik ternyata berakhir dengan membosankan. Terutama pakaian pesta yang sedang dipakainya membuatnya sangat pegal. Acara seperti ini memang mengharuskan dirinya untuk berpenampilan formal dan dia LUPA akan hal itu. Memakai hak tinggi agar sepadan dengan dress selutut berwarna Baby Pink, sebuah clutch dengan warna senada dalam genggamannya, dan giwang batu yang tidak pernah di lepasnya sejak seminggu lalu, benar-benar melelahkan.

“Kapan pesta ini akan berakhir?” desis gadis itu sambil memandang lukisan di depannya yang entah kenapa semakin fokus dia pandang, maka bentuknya semakin aneh, dan membuatnya pusing.

Berbicara mengenai ‘aneh’, akhir-akhir ini terjadi hal aneh di sekitarnya. Arina lupa tepatnya sejak kapan, tapi gadis itu mulai mendengar suara-suara misterius yang dia sendiri tidak tau darimana asalnya. Suara itu kadang bergumam, terkadang mengeluh, bahkan sampai mengumpat kata-kata sumpah serapah. Saat itu terjadi, Arina benar-benar merasakan suasana horror menyelimutinya. Lagipula, siapa yang tidak takut mendengar suara-suara saat sedang sendirian?!

Merasa sudah terlalu lama berjalan sendiri, Arina mengedarkan pandangannya untuk mencari saudara kembarnya saat ini, dan menemukan pemuda itu masih berada di kerumunan orang-orang, tepatnya pria-wanita pebisnis lainnya yang menjadi tamu undangan, sepertinya mencari kesempatan untuk memperluas bisnis mereka?

‘Ck! Yuri bodoh! Pesta bodoh!’ gerutu Arina sambil membuang mukanya. Memutuskan pergi dari sana.

‘Sialan! Jangan mendadak mengumpat disaat begini!’ Arina berhenti mendadak dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

Lagi-lagi suara itu. Suara misterius yang sama yang di dengarnya selama seminggu ini. Suara tanpa sosok yang jelas.

“Siapa kau sebenarnya?!” desis Arina, hampir berbisik. Namun tidak ada jawaban lagi.

Gadis itu menyerit setelah beberapa saat. Selalu begitu setiap dia bertanya, tidak ada yang menjawabnya sama sekali. Seolah suara itu hanya angin lalu yang lewat begitu saja.

Tiba – tiba sepasang lengan memeluknya erat dari belakang dan berbisik ditelinga gadis itu. “Apa acara ini begitu membosankan, ojousama?” tanya si pemilik tangan setengah berbisik.

Arina menghela napasnya setelah tubuhnya tegang sesaat karena pelukan tiba-tiba seperti itu. Kini ganti memutar bola matanya dengan kesal karena sosok yang masih memeluknya dari belakang ini, “Chinen bocchama, jika tidak keberatan bisakah kau menyingkirkan tanganmu ini? Orang-orang yang melihat bisa mengira kita ini bukan saudara tapi sepasang kekasih, kau tau?” katanya.

Yuri terkikik geli kemudian melepaskan pelukannya dan berdiri di dinding yang kosong tepat di samping Arina dan memandang saudari kembarnya itu sembari tersenyum jahil, “Apa salah? Kau kan pasanganku malam ini. Terserah padaku ingin memperlakukanmu seperti apa, sayang.” Ujarnya.

Arina menyilangkan tangannya dan menatap saudara kembarnya dan mendengus kesal, “Makanya, keluar sebentar dari dokumen pekerjaanmu dan cari pacar.” kata gadis itu.

“Pacar? Memang kau rela kalau aku lebih memilih menghabiskan waktu dengan seorang pacar dan mulai mengurangi waktu untuk menemani adik manja sepertimu ini?” Yuri membalas kata-kata Arina dan menyentil singkat jidat saudarinya itu yang mendapat pukulan di tangannya oleh gadis itu.

Arina memilih membelakangi Yuri dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Sudah terlanjur sangat kesal dengan kejahilan pemuda itu.

“Sudahlah, ayo ke aula utama! Ohno-san akan memulai kata sambutan, dan setelah itu kita bisa pamit pulang.” Yuri langsung merangkulkan lengannya ke leher Arina dan menyeret gadis itu dari sana.

“Lepaskan! Aku pakai heels, tidak bisa cepat-cepat bodoh!” Arina menepuk lengan Yuri dan kemudian lengan itu berpindah dengan memeluk pinggang Arina dengan erat.

Arina mengalihkan pandangannya pada sosok Yuri yang sudah bersikap biasa saja berjalan disampingnya dengan posisi seperti itu. Bukannya merasa risih, Arina merasakan perasaan lain mulai merasuk ke dalam dirinya. Perasaan seperti…… takut dan sedih? Dia tidak tau, yang jelas perasaan itu membuat Arina tidak ingin melepaskan pandangannya barang sedetik dari sosok pemuda di sampingnya ini. Seolah saat dia berpaling, Yuri akan lenyap.

‘Kenapa perasaanku tidak enak?’ Arina mendadak merasakan sesak dalam hatinya.

“Kenapa memandangku seperti itu? Aku tau aku tampan, terima kasih.” seru Yuri dengan penuh percaya diri.

Arina tersenyum tipis dan mendengus singkat. Tatapan mereka bertemu untuk beberapa saat sebelum Arina berbisik dengan suaranya yang mendadak serak.

“Aku sayang padamu, Yuri.”  Ujarnya.

Yuri mengangkat kedua alisnya keheranan. Pemuda itu tertawa tipis lalu mengelus ubun-ubun Arina lembut dan mengecup singkat pelipisnya, “Aku juga sayang padamu, saudariku tersayang, dan satu-satunya.” katanya.

Namun….

“SEMUA MERUNDUK!!” sebuah suara berteriak entah dari mana, lalu bersamaan dengan itu terdengar suara tembakan, dan di sahuti dengan teriakan dari hampir seluruh orang yang ada disana.

Kerumunan orang-orang di dalam aula mulai panik dan berusaha menyelamatkan diri. Bahkan Arina tanpa sadari terseret dalam kerumunan arus tersebut, hingga saat dia tersadar dari suasana panik itu, gadis itu tidak lagi mendapati sosok Yuri berada di dekatnya.

“YURI!!!!”

-*-

“Posisi satu, roger!”

“Posisi dua, roger!”

Elang, roger!”

“Posisi di terima! Saat ini merpati sudah memasuki sarang gagak, tunggu langkah selanjutnya!”

Ryosuke mendengus mendengar suara-suara dalam ear-chip, sebuah benda berbentuk sangat kecil, menyerupai ujung cottonbud yang sudah tertanam dalam telinga kirinya. Pemuda itu berjalan dengan santai masuk ke dalam gedung galeri, menyerahkan undangannya pada petugas yang menyambut tamu yang langsung mengecek namanya di buku undangan. Setelah itu baru dia berjalan masuk ke dalam.

Suasana di dalam galeri itu tidak jauh berbeda dengan pesta peresmian pada umumnya. Di penuhi dengan beberapa orang penting yang saling berkumpul membentuk beberapa kelompok, berbicara tentang pasar saham, bisnis, dan sejenisnya. Hanya saja, di beberapa sudut

Ryosuke memilih untuk melihat-lihat aneka lukisan dan foto yang di pajang di dalam galeri tersebut setelah mengambil segelas fruitpunch yang di sediakan oleh pelayan yang terlihat berjalan mengelilingi tempat pesta. Kebanyakan di lukis dan di potret oleh fotografer ternama dari Jepang, namun tidak sedikit juga pemuda itu menemukan nama-nama asing di bawah nama-nama lukisan dan foto-foto tersebut.

“Ryosuke, jangan lengah. Gagak sedang di kelilingi kawanan di sekitar sayap kanan!” lagi-lagi terdengar suara dari ear-chip di telinganya membuat Ryosuke hanya bisa mendengus kesal.

‘Ck! Yuri bodoh! Pesta bodoh!’

Deg!

“Shit!” umpat Ryosuke hampir saja tersedak saat menegak minumannya. Pemuda itu menggosok sebelah telinganya yang tiba-tiba mendengar jeritan penuh umpatan dari suara yang di dengarnya entah dari mana asalnya.

‘Sialan! Jangan mendadak mengumpat disaat begini!’ Ryosuke terpaksa mengumpat dalam hati karena melihat dia berada di sekeliling orang-orang yang mendadak melihatnya dengan tatapan aneh.

Lagi-lagi suara itu. Suara aneh yang selalu di dengarnya hampir seminggu ini. Dia pertama kali mendengar suara misterius itu sejak menjalani latihan intensif pertamanya di kediaman Tanaka Koki , dan itu tepat di hari pertama. Hampir terpeleset saat berlari melalui rute palang rintangan di putaran yang ke tiga, membuat waktu tempuhnya menjadi buruk hingga mendapat cambukan di betisnya oleh si sipir botak sadis yang berjaga di sisi lintasan tersebut.

Bagaimana tidak terkejut, jalur lintasan latihannya melalui hutan buatan, lalu tiba-tiba kau mendengar suara misterius yang entah dari mana datangnya, bergumam, tertawa, bahkan mengumpat. Dia bahkan sampai mengira bahwa ada korban dari latihan tiran yang di terapkan si botak, di siksa sampai tewas dan berubah menjadi arwah penasaran yang menghantui rumah itu. Tapi perkiraannya sedikit meleset karena dia tetap mendengar suara-suara itu saat kembali ke apartemennya, di kantor, bahkan di manapun dia berada.

“Apa sebaiknya aku memeriksakan diriku ke Inoo-san setelah ini? aku merasa diriku hampir gila!” gumam Ryosuke pada dirinya sendiri.

“Merpati? Ada apa? Ada sesuatu yang sedang terjadi?” tanya suara dari ear-chip di telinga lainnya.

Ryosuke meletakkan gelas minumannya di salah satu meja kosong yang di temuinya sepanjang jalan menuju ke aula utama, lalu mengusap sambil lalu pergelangan tangan kirinya yang di pasang jam tangan. Kamuflase mengaktifkan benda tersebut untuk menerima suara dari sisinya. Ryosuke lalu mengangkat lengan kirinya ke telinga, membuat gerakan seolah sedang merapikan rambut di sela telinganya dan mengusap tengkuknya sendiri.

“Bukan apa-apa, hanya hampir tersedak minuman. Bersiap saja, sebentar lagi acara utama akan segera dimulai.” ujar Rysouke dengan suara pelan sambil lalu, sembari masuk ke aula utama dan berbaur dengan tamu undangan lainnya.

“Baiklah. Jangan putuskan komunikasi setelah ini. Perhatikan sekeliling dengan saksama. Musuh bisa jadi dimana saja.” ujar suara dari ear-chip nya lagi.

“Roger!” balas Ryosuke lalu menurunkan tangannya. Berjalan menuju kerumunan paling depan, posisi paling dekat dengan podium yang akan di gunakan klien nya.

Perlahan tamu undangan mulai memasuki dan memenuhi aula utama. Melihat suasana yang semakin ramai, Ryosuke semakin bersikap waspada dengan sekelilingnya. Dari sudut matanya, pemuda itu melihat sosok Ohno Satoshi, klien misi kali ini, sedang berjalan masuk ke aula di iringi pengawalan hingga pria itu tiba di atas podium.

Ryosuke kembali mengambil gelas minuman lainnya yang di bawakan salah seorang pelayan yang berjalan melewatinya. Pemuda itu menyesap minumannya sedikit tanpa melepas pandangan sedikit pun dari sosok pria yang sudah memulai pidato penyambutan di atas podium sembari di hujani cahaya blitz kamera wartawan.

‘Kenapa perasaanku tidak enak?’ suara misterius itu lagi.

Mendengar nada dari suara itu yang terasa ketakutan, cemas, dan sedih di waktu yang bersamaan, membuat Ryosuke sedikit tertegun. Seolah bagai lecutan untuknya meningkatkan kewaspadannya ke sekeliling. Pemuda itu mengamati sekitarnya, baik orang-orang yang masih melihat antusias kepada Ohno Satoshi di podium, maupun para petugas yang berada di sekitar.

Sampai netranya tertuju pada satu titik. Sedikit tertutup dari cahaya dan penglihatan orang banyak, namun cahaya lampu sorot sedikit memantulkan cahaya dari benda yang di pegang sosok tersembunyi tersebut, beda yang sedang di arahkan tepat ke satu titik di atas podium, kepala Ohno Satoshi sendiri.

Ryosuke melebarkan matanya. Dalam sekali gerakan, pemuda itu langsung berlari mendekati podium, melemparkan gelas yang di pegangnya ke atas sebelum menjatuhkan diri menimpa tubuh Ohno Satoshi. Suara gelas pecah menghamburkan cairan fruit punch tersebut, bersamaan dengan teriakan seorang ajudan yang pipinya terlihat terkena goresan dan mengeluarkan darah segar. Salah seorang dari wartawan kini berdiri membelakangi sosok Ryosuke, menghadap kearah datangnya peluru tadi sambil menggenggam sebuah revolver, menekan pelatuk dan menembak satu kali ke tempat tersebut. Meleset!

“Yamada, bawa klien segera keluar dari tempat ini,” ujar si pria dengan tanda pengenal wartawan dengan nama ‘Yabu Kota’ tersebut pada Ryosuke.

Ryosuke mengangguk dan kembali beralih pada sosok Ohno Satoshi, “Ohno-san, daijoubu desu ka?” tanya Ryosuke langsung pada sosok yang di timpanya setelah bangkit dari posisinya.

“Ah! Ehm… baik-baik saja… ku rasa…” seru pria itu.

Pria itu terlihat masih sedikit shock dengan yang sedang terjadi. Para pengawal dan body guard kembali mulai mendekat dan mengamankan sosok Ohno Satoshi. Ryosuke memberikan petunjuk pada para petugas itu untuk segera membawa tuannya bersama dengan tamu undangan lain melalui jalur aman. Dari kejauhan pemuda itu sudah melihat rekan-rekannya mulai ikut masuk ke dalam bersama dengan beberapa petugas keamanan.

Ryosuke meraih senjatanya sendiri dari saku dalam jasnya, sebuah dessert eagle, berwarna putih dengan ukiran emas di genggamannya, lalu berlari menyusul pria bernama Yabu tadi yang sudah berlari melalui pintu lainnya mengejar sang sniper.

Ryosuke berlari dengan kecepatan penuh, berbelok melalui menuju pintu staff yang berakhir keluar di belakang galeri. Sembari berkejaran tak pelak terjadi baku tembak antara Yabu dan Ryosuke dengan sniper tersebut. Hingga tiba di halaman belakang, langkah Ryosuke mendadak terhenti, berbeda dengan Yabu yang masih mengejar sang sniper yang sudah berlari melewati pagar pembatas dan masuk ke celah antar dua gedung di belakang sana.

Satu sosok menjulang keluar dari kegelapan dan berdiri dengan jarak beberapa meter saja dari Ryosuke. Mendadak pria itu merasakan emosinya memuncak setelah dapat melihat dengan jelas sosok yang mampu membuatnya berhenti berlari. Pria tersebut memakan sebuah jubah menyerupai mantel berwarna hitam yang berkibar sembari dia berjalan dan berhenti di tempat dimana Ryosuke dapat melihat jelas sosoknya.

“Yuto….” desis Ryosuke.

Pemuda tinggi itu menyeringai kepada Ryosuke dengan kedua tangan berada di saku celananya.

Hisashiburi, Ryosuke” ucap pemuda bersurai legam itu.

Keduanya masih menahan posisi mereka, saling berhadapan, dengan tatapan lurus pada masing-masing netra keduanya.

“Tidak menyangka akan bertemu denganmu disini, Ryosuke.” Seru pemuda bersurai legam itu lagi.

“YUTOOOOO!!”

Ryosuke mendadak tersulut emosinya sendiri dan maju lebih dulu, melompat dengan satu kakinya sebagai penumpu, lalu dengan kaki lain menendang dengan target tengkorang lawan. Namun sepertinya pemuda bernama Yuto itu sudah memperkirakannya, dan dia menghindar dengan melakukan backflip untuk menghindar. Ryosuke sudah mendarat kembali dengan kakinya yang lain, dan kali ini Yuto yang menjulurkan sebelah kakinya untuk menjegal dengan gerakan memutar. Ryosuke menghindar. Keduanya kini sudah kembali memberi jarak pada masing-masing dan kembali berdiri dengan saling berhadapan.

“Sepertinya kemampuan bela dirimu sudah mengalami peningkatan, Ryosuke.” seru Yuto.

“Apa yang kau lakukan di sini, Yuto?” ujar Ryosuke sedikit menggeram.

Yuto menyeringai mendengar pertanyaan pemuda bersurai madu di hadapannya ini, “Kau tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi? Menurutmu sendiri kenapa?” pemuda itu membalikkan pertanyaan Ryosuke padanya.

Ryosuke berdecih dengan geram mendengarnya, “Kalian dalangnya.” bukan sebuah pertanyaan tapi sebuah pernyataan terlontar dari mulutnya.

Tepat setelah itu tiga tembakan terdengar di susul dengan suara derap kaki yang berjalan mendekat kearah keduanya. Yuto terlihat menghela nafasnya dan memandang Ryosuke lalu berbicara dengan nada yang terdengar menyesal.

“Sayang sekali kita kedatangan pengganggu, Ryosuke.” ujarnya. Pemuda itu kemudian berbalik dan berjalan dengan santai. Ryosuke segera membidik sosok itu dengan desert eagle di tangannya dan melepaskan satu tembakan, namun meleset. Pemuda itu memiringkan kepalanya dan peluru itu hanya melewati beberapa inci dari wajahnya saja dan terpantul ke pagar pembatas.

Yuto naik dengan gesit dan berdiri tepat di atas pagar pembatas tersebut dan berbalik sejenak untuk memandang Ryosuke, seringai meremehkan masih tercetak jelas di wajahnya.

“Tembakanmu masih lemah seperti biasanya.” ujar pemuda itu sebelum melompat ke arah sebaliknya.

Ryosuke berdiri dengan geram di tempatnya, tangannya menggenggam erat pegangan senjatanya sendiri hingga buku tangannya memutih. Tepat saat itu, pemilik suara derap kaki yang mengganggu duel nya tiba, mereka adalah rekan-rekannya sendiri.

“Ryosuke! Kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Mana snipernya?” salah seorang dari mereka langsung membrondongnya dengan pertanyaan, Takanishi Reia. Beberapa yang lain mulai menyebar ke sekeliling untuk memeriksa situasi.

“Yabu mengejarnya.” jawab Ryosuke singkat.

Mendengar jawaban Ryosuke, wanita itu langsung melihat ke tablet di tangannya, melacak lokasi Yabu, setelah mendapatkannya wanita itu lalu memerintahkan langsung melalui earphone di telinganya pada unit lain untuk pergi ke lokasi yang di katakannya.

Ryosuke tidak lagi mendengar dengan jelas intruksi yang di ucapkan oleh Reia karena sudah berbalik menjauh dari mereka semua. Menyadari hal itu, Reia segera mengejar sosok Ryosuke yang sudah berjalan menuju sisi kanan gedung. Namun belum sempat wanita itu ingin memanggil, seorang rekan mereka keluar dari sisi arah yang mereka tuju dengan wajah serius.

“Ada yang pingsan di sana,” katanya sambil menunjuk tempat itu.

Reia langsung berlari dan melewati Ryosuke begitu saja, juga ikut menyusul wanita itu yang sudah berada di depannya mengikuti arah yang di tunjuk oleh rekan mereka tadi. Dari tempatnya, dia melihat ada dua sosok tergeletak. Reia tampak berlutut di sisi salah satu sosok dan terlihat mengintruksikan sesuatu kepada beberapa rekan yang berada disana.

“Ya Tuhan, Arina! Yuri! Kenapa mereka ada disini?!” ujar Reia sedikit histeris.

****

TBC

hayo yang udah baca komen dong… gimana ceritanya?? penulis butuh kritik-saran nih /kedipkedip ganjen/ ohya, waktu updet gak tentu yah, soalnya 5 chapter awal ini hasil revisi dari yang lama… kenapa saya revisi? soalnya saya sendiri mau muntah baca gaya tulisan saya era 2011-2012 (ya elah), trus jalan ceritanya saya sendiri ngerasa kurang jelas, trus kecepetan, trus ya begitulah… banyak minusnya lah.. muehehehehe

trus juga… saya ada project lain di wattpad… kalau mau mampir, douzo yah… unemnya sama kok… “yamariena” (malah promo dia)
kalo di wattpad itu Original Story sih… nah, jadi selain nulis di page ini saya juga nulis di tempat lain… jadi maklum aja kalo banyak yg keteteran hiks /author maso sama project sendiri/


btw… sekedar pengetahuan doang…

c75f17694881c2f028fd0fdf287d1645

ini senjata yang di pakai Yabu Kota di fic ini
namanya REVOLVER jenis Smith&Wesson model 17, kaliber peluru 22 dengan isi 8-10 peluru tipe magnum buat yang jenis ini…
kelebihannya, senjata api yang dianggap paling berbahaya, banyak di gunakan terutama di Amerika Serikat pada abad ke 19 hingga 20.
untuk bisa menggunakannya dengan akurat, di butuhkan seorang yang profesional, karena untuk latihan saja bisa menghabiskan 3000-4000 butir peluru.

22-1123n_e

senjata yang digunakan Yamada Ryosuke di fic ini,
namanya Desert Eagle jenis MARK VII, gambar diatas ini adalah bentuk secara umum, punya Yamada pake ukiran emas karena dipesan secara khusus… alasannya, ntar di asupin di chapter-chapter selanjutnya.
(Kalo ini, senjata kesukaan saya tiap main GTA San Andreas muehehehehe /plaaaaakkk)
kelebihan senjata ini, adalah salah satu senjata yang memiliki daya hentak yang hebat, bahkan seorang profesional hanya bisa menggunakannya dengan dua tangan.
beratnya sekitar 1.3 kg- 2 kg, kaliber peluru 44 dengan jumlah 8 butir peluru tipe magnum.

******

nah… kebayang gak para bebebnya pegang senjata beginian??? muehehehehe…

see you babay di next chapter muah muah muah

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] UNDIVIDED part 2

  1. shieldviayoichi

    hai, saya lagi~~ XD
    lanjut gak? *todong* *gak*
    keren, pake info tambahan XD aku biasanya ngelampirin link bukan gambar *musnahsana*
    ini aja dulu deh, atut entar dibilang pembaca yang fokus ke typo XDD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s