[Multichapter] UNDIVIDED part 1

c291ca8f-4d6e-4e8a-89ac-23fefe592aef

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Actions, Drama, Fantasy, Sci-Fic
Rating : PG-17

Main Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri (HSJ); Morimoto Ryutaro (ZERO); Chinen Arina (OC)

Support Cast: Hey!Say!JUMP; KAT-TUN [including Akanishi Jin, Taguchi Junnosuke & Tanaka Koki (INKT)]; Kis-My-Ft2; etc
Takanishi Reia (OC)

Jarak terget lima belas meter dan dua setengah meter diatas permukaan tanah. Berdasarkan gravitasi, dan arah mata angin, maka…

DORR!!

Chinen Arina tersenyum puas saat melihat bekas sebuah balon berisi air tergantung di sebuah tali berjalan tepat lima belas meter didepannya yang berhasil di tembaknya.

“Seperti biasa, aku sama sekali tidak bisa mengalahkanmu dalam hal menembak target dengan benar.” seru seorang pemuda yang kini sudah berdiri di sampingnya sambil memanggul sebuah senapan di pundaknya dan memandang Arina dengan wajah memelas. Baju kaos berwarna biru dan celana jeans, serta sepatu sneaker dan topi, membuat kesan santai namun tampan pada pemuda itu, Chinen Yuri.

Arina tersenyum semakin lebar sambil memandang pemuda itu dan menghampirinya. Senapan yang digunakannya barusan untuk menembak di pegangnya di satu tangannya yang bebas sedangkan yang satu lagi menggamit lengan pemuda itu dan menggandengnya. Dan pemuda itu sama sekali tidak terlihat risih di gandeng seperti itu di depan umum.

“Kalau begitu, minggu depan kau harus menemaniku bermain survival game seharian penuh, dan juga makan malam hari ini semuanya kau yang traktir.” kata Arina dengan girang.

“Perjanjiannya bukan seperti itu, aku tidak mau. Minggu depan aku sangat sibuk, Arina.” tolak pemuda itu dengan nada keberatan.

“Ayolah, kau harus menemaniku. Ayolah, oniichan.” kata gadis itu dengan memelas.

Yuri memandang gadis disampingnya ini dalam diam dan menyipitkan matanya, “Berhenti memanggilku oniichan dan memandangku seperti itu, Arina. Kau pikir umurmu berapa sekarang?” oh, ayolah. Perbedaan tujuh menit diantara mereka, tidak langsung membuatnya bisa di panggil seperti itu oleh gadis di sebelahnya ini.

Arina balas menyipitkan matanya sambil mengerucutkan bibir memandang pemuda disampingnya ini lekat-lekat. Hingga akhirnya Yuri menghela nafas dan mengangguk saat mereka tiba di tempat mengembalikan perlengkapan menembak mereka tadi karena Arina tetap tidak melepasnya dan terus memandanginya seperti itu.

“Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Akan ku tanyakan kepada Okamoto-san tentang kemungkinan aku bisa mengosongkan jadwalku minggu depan. Tapi aku tetap tidak bisa berjanji padamu, puas?” katanya.

Arina kembali tersenyum riang sambil memeluk pemuda itu erat dengan singkat, “Aku tau Yuri tidak pernah bisa menolakku,” katanya dengan nada puas.

Sekilas dilihat, mungkin banyak yang berpendapat bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih. Namun kenyataannya mereka berdua adalah adik-kakak. Lebih tepatnya saudara kembar. Chinen Yuri lebih tua tujuh menit dibanding Arina. Sejak kecil keduanya memang sudah akrab satu sama lain dan tidak terpisahkan. Bahkan ketika mereka sudah beranjak dewasa, Arina selalu berada disisi Yuri dimana pun dan kapan pun. Mungkin karena sejak kecil mereka tidak pernah mengenali bagaimana kedua orang tua mereka.

Sejauh yang mereka tau, kedua orang tua mereka sudah meninggal sejak mereka masih sangat kecil dan semenjak saat itu mereka berdua diasuh oleh pelayan di rumah mereka dan seorang paman yang hanya pernah mengunjungi mereka sekali, itu pun sudah sangat lama.

Meski kembar, wajah Yuri dan Arina tidak terlalu mirip satu sama lain, karena mereka kembar non-identik. Tetapi untuk beberapa hal mereka sangat mirip, bahkan juga dari segi sifat. Terkadang Arina bisa terlihat manja dan memaksa sehingga mau tidak mau Yuri harus menurutinya, namun tidak jarang Arina tidak bisa mengatakan tidak ketika Yuri sudah berkata sesuatu.

Sejak sekolah, Yuri selalu menduduki posisi puncak di setiap mata pelajaran bersama dengan Arina. Mereka berdua juga jago berkuda dan olahraga kelas atas lainnya. Hanya satu hal yang bisa dilakukan Arina tetapi Yuri tidak bisa, yaitu menembak.

Sejak kecil Arina sangat menyukai survival game, dan gadis itu selalu bisa menembak dengan sangat akurat. Yuri juga tidak tau dari mana Arina memperoleh bakatnya itu. Karena sejak pertama kalinya mencoba, gadis itu langsung menyukainya dan selalu mengasah kemampuannya sendiri dengan bermain survival game atau hanya latihan singkat di lapangan menembak. Hingga setelah mereka tamat dan Yuri meneruskan perusahaan keluarga, pemuda itu menyarankan kepada saudari kembarnya itu untuk mengambil ujian masuk ke akademi kepolisian. Namun Arina menolaknya dengan alasan tidak tertarik dan lebih memilih melanjutkan pendidikannya ke Universitas negeri.

“Baiklah, karena kau menang hari ini, aku akan mentraktir makan malammu,” kata Yuri sambil tersenyum, “Tapi gantinya, besok kau harus membuatkanku sarapan dan bekal.” kata Yuri lagi sambil menyeringai.

Arina mendadak panik lalu memandang Yuri dengan tatapan memelas, “Itu tidak adil. Itu artinya aku harus bangun pagi-pagi sekali. Bekal saja bagaimana? Aku bisa mengantarnya ke kantormu sambil ke kampusku.”

Yuri menggeleng dengan tegas masih tersenyum, “Malam ini aku mentraktirmu, jadi besok pagi aku ingin makan masakanmu. Kali ini tatapan memelasmu tidak akan mempan padaku, Arina.” kata Yuri final.

Arina menekuk wajahnya pasrah mendengar permintaan Yuri. Terkadang Yuri memang akan menurut pada semua permintaannya, namun terkadang pemuda itu akan memberikan kondisi yang harus dia penuhi sebagai ganti permintaannya.

“Baiklah, sekarang kita pergi makan malam. Setelah itu kita pergi belanja bahan-bahan yang kau perlukan untuk membuatkanku sarapan,” kata Yuri sambil menggandeng erat tangan Arina dan menariknya pergi dari sana.

Dalam hati gadis itu mengingatkan dirinya untuk mengatur jam alarm nya dengan suara yang sangat besar. Tidak hanya satu tapi tiga. Ya, tiga. Dan ketiganya harus diletakkan di dekat kepalanya.

-*-

Okaerinasai, Bocchama, Ojousama

Pemandangan yang biasa dilihat oleh Chinen Yuri dan Arina ketika mereka pulang kerumah, dimana pelayan-pelayan di rumah mereka, baik laki-laki atau peremuan, yang kebetulan berada di ruang tengah atau di dekat sana akan berbaris menyambut mereka, setelah pintu dibuka oleh seorang pria paruh baya dengan wajah yang ramah, yang mereka kenal sebagai pengurus rumah mereka.

Tadaima, Okamoto-san” sapa Yuri.

Arina berjalan mendekati salah seorang pelayan sambil menyerahkan beberapa kantong belanjaannya, “Tolong aku membawa ini ke dapur ya, ini berat sekali.” gerutu Arina yang kini sudah berjalan bersama pelayan tadi masuk ke belakang,

Okamoto tersenyum melihat pemandangan kecil itu, “Hari ini nona Arina terlihat bersemangat seperti biasanya.” kata pria itu.

Yuri tersenyum ditempatnya dan mengangguk, “Saat Arina berubah menjadi pemurung hanya saat dia sakit. Selain itu, dia akan terus ribut dan tidak akan bisa diam.” celetuk Yuri.  Okamoto tersenyum dan mengangguk dengan sopan kepada Yuri.

“Apa ada yang terjadi selama kami pergi?” tanya Yuri pada pria paruh baya itu. Keduanya kemudian berjalan menaiki tangga menuju ke lantai dua.

“Hanya beberapa undangan pesta untuk tuan muda dan nona Arina. Juga ada beberapa telepon mengenai pekerjaan yang sudah saya catat dan semuanya sudah saya letakkan di ruang kerja tuan muda,” lapor pria itu.

Yuri tampak mengangguk. Selain sebagai pengurus rumah, Okamoto juga bertindak sebagai asisten pribadi Yuri dalam urusan pekerjaan. Sejak kedua orang tua Yuri dan Arina tiada, beliau lah yang membantu sang paman mengelola perusahaan sampai Yuri cukup dewasa untuk mengurus perusahaan sendiri.

“Yuri bocchama, saya ingin memperkenalkan seseorang.” Ujar Okamoto, seketika Yuri baru menyadari ada seseorang lagi yang sedari tadi berdiri di belakang pria baruh baya tersebut. Seorang pemuda dengan usia yang tidak jauh darinya, mungkin saja sebaya dengan Yuri dan Arina.

“Siapa dia, Okamoto-san?” tanya Yuri.

Pria itu tersenyum dengan ramah, “Dia adalah putra saya satu-satunya, bocchama. Okamoto Keito. Usianya tidak begitu jauh dari anda, dia akan menjadi pengganti saya membantu bocchama di kantor. Keito sudah lulus dari Universitas Harvard di usia muda dan dia sudah saya latih sendiri dalam hal menjadi asisten. Mohon bimbingan anda, bocchama.” jelas pria itu.

Pemuda tersebut maju dan membungkuk sopan kepada Yuri, “Hajimemashite Chinen-sama, nama saya Okamoto Keito, yoroshiku oneigaitashimasu.” Serunya.

Tingkah pemuda yang sangat sopan itu membuat Yuri sedikit jengah, buru-buru dia menjawab, “Yoroshiku, Keito-kun. Anoo… tidak perlu sesopan itu padaku. Usia kita tidak terpaut jauh, jadi panggil saja Yuri. Aku tidak masalah.”

“Baik, Yuri-sama!” serunya lagi.

Etto.. tidak perlu pakai –sama!” ujar Yuri lagi.

“Maaf, Yuri-sama. Itu melanggar etika kesopanan antara saya dan anda, ja…”

“-san!” belum selesai pemuda itu mengemukakan alasannya, namun sudah di potong oleh Yuri lagi. “Yuri-san saja. Panggil seperti itu atau aku tidak akan menerimamu jadi asistenku sampai kapanpun!” ancamnya.

Pemuda Okamoto itu terlihat berpikir sejenak di tempatnya, sebelum akhirnya mengangguk dengan ragu, “Baiklah kalau begitu, Yuri….. san?”

Yuri menghela nafas lega kemudian mengangguk dan tersenyum, “Sekali lagi salam kenal, Keito-kun.” ujarnya.

Tiba-tiba mereka berhenti saat mendengar suara ribut datang dari lantai bawah, tepat di depan sebuah foto dengan ukuran yang sangat besar, berada di tengah-tengah yang membatasi tangga menuju sayap kanan dan kiri rumah mereka. Yuri tampak menghela nafas ketika mengenalinya tepat setelah itu satu sosok muncul dan berjalan mendekati tangga.

“Ingat ya, tolong bangunkan aku besok pagi. Pagi-pagi sekali. Kalau masih tidak terdengar jawaban, ketuk saja pintunya dengan keras, atau teriak saja, mengerti?”

“Kalau kau memang ingin bangun pagi, sebaiknya sekarang kau segera kekamarmu dan pergi tidur, Arina.” gerutu Yuri ditempatnya.

Arina berbalik dan memandang kearah Yuri, Pengurus Okamoto, dan Keito yang juga sedang memandangnya sambil tersenyum sopan. Arina tampak berlari menaiki tangga dan menghampiri pemuda itu tanpa sedikit pun ada rasa bersalah di wajahnya.

“Yuri dan paman Okamoto mau ke ruang kerja lagi? Ini sudah terlalu larut, sebaiknya lanjutkan besok saja pekerjaannya.” kata Arina. Lalu matanya tertuju pada seorang yang belum dikenalnya, “Halo, kau siapa? Wajahmu sangat mirip dengan paman, apa kau anaknya?” seru gadis itu langsung.

Yuri menjitak pelan kepala Arina sambil tersenyum, “Tingkah masih seperti anak-anak ini ternyata bisa mengkhawatirkanku?”

“Yuriiiiiiii…” protes Arina sambil mengelus kepalanya yang di jitak pemuda itu.

“Tidak sakit aku tau!” ujar Yuri, Arina hanya menggembungkan pipinya dengan kesal.

“Nama saya Okamoto Keito, Chinen ojousama. Mulai sekarang saya akan menjadi asisten Yuri…san, Yoroshiku oneigaitashimasu!” ujarnya masih sedikit canggung memanggil tuan mudanya hanya dengan nama dan embel-embel yang tidak terlalu resmi seperti itu.

“Yoroshiku, Keito-chan.” Seru Arina dengan riang, gadis itu kembali memandang Yuri, namun Yuri seakan mengerti arti tatapan itu dan segera berkata, “Tenang saja, aku tidak akan memaksa diriku. Hanya memeriksa beberapa hal lalu aku akan segera tidur.” kata Yuri dengan nada yang menenangkan kembarannya itu.

Arina menghela nafas sejenak sebelum akhirnya mengangguk dan tersenyum. “Baiklah. Hanya pastikan kau segera tidur setelah ini.” Arina lalu memeluk Yuri dan mencium pipi pemuda itu sekilas. Kemudian tanpa canggung Yuri membalas dengan mengecup pelipis Arina dan mengelus ubun-ubun gadis itu.

Oyasumi, Yuri.”

Oyasumi, Arina.”

Itu adalah ritual selamat tidur yang selalu mereka lakukan sejak kecil yang sudah menjadi kebiasaan. Meskipun sudah sebesar ini, namun sepertinya kebiasaan memang sulit untuk dihilangkan.

Oyasuminasai, Arina ojousama.” kata pengurus Okamoto dan putranya sambil membungkuk singkat kepada gadis itu.

Oyasumi, paman. Tolong pastikan Yuri segera tidur sebelum dia memutuskan untuk bekerja hingga pagi.” balas Arina dengan riang sambil berjalan kearah yang berlawanan dari arah yang di tuju ketiga pria itu.

“Dasar anak itu,” celetuk Yuri sambil menggeleng pelan lalu kembali beralih pada sosok Okamoto, “Mari paman, kita langsung saja.”

-*-

Yamada Ryosuke tampak berjalan keluar dari sebuah pusat perbelanjaan menuju tempat dimana mobil blue jag kesayangannya dia parkirkan. Satu lagi hari libur yang dilewatinya tanpa ada kejadian khusus. Namun pemuda itu sama sekali tidak mengeluh, bahkan terlihat sangat menikmatinya. Setelah pekerjaan yang selama ini dia lakukan, beberapa hari libur merupakan kesempatan yang sangat langka.

Pada hari libur seperti ini pemuda itu bisa menggunakannya untuk berbelanja, atau menguji apakah kemampuan memasaknya masih sebaik biasanya, atau dia bisa pergi jalan-jalan keluar kota, ke pusat peristirahatan yang ada di pinggir kota untuk memanjakan diri barang sejenak, atau kegiatan santai lainnya. Ya, dia sangat merindukan melakukan hal-hal itu. Dan sepertinya dia akan memasukkan kegiatan terakhir itu ke agendanya untuk besok pagi.

Sambil bersenandung kecil, Ryosuke memasukkan belanjaannya ke bagasi belakang mobil dan menutupnya. Lalu berlari kecil ke pintu kemudi dan membukanya.

Baru saja pemuda itu menyalakan blue jag kesayangannya itu, tiba-tiba saja seorang wanita dengan rambut coklat panjang tergerai membuka pintu penumpang dan duduk begitu saja disampingnya sambil memasang sabuk pengaman.

“Reia… oneesan?” sapanya terkejut.

Ryosuke mengenal dengan baik wanita yang baru saja duduk disampingnya ini. Dia sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Bahkan mereka baru saja bertemu kemarin.

Ryosuke menghela nafasnya dengan panjang dan menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi mobilnya. Pemuda itu lalu mulai menjalankan mobilnya sesuai dengan arahan dari wanita itu.  “Jadi? Ada apa?” tanyanya ketus.

“Liburanmu terpaksa harus di tunda. Kau di panggil kembali ke kantor hari ini karena ada tugas untukmu untuk minggu depan. Rapat akan di adakan sore ini dan pelatihannya akan di mulai besok hari,” kata wanita itu

“Baiklah, dimana aku harus menurunkanmu sekarang?” tanya pemuda itu lagi

Wanita yang dipanggil Reia itu menunjukkan sebuah supermarket di depan tidak jauh dari mereka. Ryosuke memperlambat laju blue jag miliknya dan akhirnya berhenti tepat di depan supermarket tersebut. Wanita itu turun, lalu berpaling sebentar dan memandang Ryosuke sambil tersenyum.

“Terima kasih tumpangannya anak muda,” katanya dengan ekspresi dan aksen bicara yang berbeda.

Ryosuke hanya tersenyum kecil dan mengangguk sebelum kembali melajukan mobilnya di jalan. Berbelok di beberapa persimpangan hingga tiba di sebuah bangunan apartemen cukup mewah di kawasan ginza. Setelah memarkirkan blue jag kesayangannya di parkir bawah tanah, pemuda itu langsung naik ke atas menggunakan lift sambil membawa seluruh barang belanjaannya. Tidak lama menjelang, pemuda itu sudah tiba di dalam kamar apartemen miliknya sendiri. Meletakkan belanjaannya begitu saja di atas meja pantry, memasukkan beberapa barang ke dalam kulkas sebelum melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Tidak memakan waktu lama, Ryosuke kini sudah berganti pakaian dengan busana lebih formal. Lengkap dengan jas, terlihat seperti para eksekutif muda. Pria itu kembali mengambil kunci mobilnya dan keluar dari apartemennya sendiri, kembali ke parkiran dan melajukan blue jag kesayangannya itu keluar dari gedung apartemen, kembali ke jalan raya.

Sekitar satu jam kemudian, pemuda itu sudah memarkirkan mobilnya di bestmen sebuah gedung. Gedung ini dari luar terlihat seperti sebuah pusat pertokoan. Ryosuke kemudian turun dari mobilnya dan berjalan menuju sebuah elevator, mengeluarkan sebuah ID card dan memegangnya tepat di depan tombol elevator itu. Seketika tombol di elevator tersebut berganti menjadi sebuah  mesin pemindai yang lebih canggih.

Ryosuke kemudian meletakkan telapak tangannya di mesin tersebut untuk di pindai, kemudian sebuah sinar muncul untuk memindai wajah dan kornea mata. Setelahnya lampu di elevator tersebut berubah menjadi warna hijau dan pintunya pun terbuka. Kini pemuda itu dihadapkan dengan pemandangan perkantoran serba putih. Orang – orang yang ada disana semuanya memakai pakaian resmi dan ID card seperti milik Ryosuke.

Pemuda itu kemudian membelok di salah satu tikungan dengan santai. Tiba – tiba seseorang mendekatinya dan berjalan disampingnya. Seorang wanita yang berusia sedikit lebih tua dibandingkan dirinya, dengan pembawaannya yang terlihat tenang sambil memandang Ryosuke dan membawa sebuah map dokumen berwarna kuning. Takanishi Reia. Wanita yang tadi di temuinya di depan supermarket.

“Paman ada dimana sekarang?” tanya Ryosuke langsung.

Reia menunjukkan sebuah ruangan, “Tentu saja diruangannya, dan juga ini…” kata wanita itu sambil menyerahkan beberapa dokumen ketangan Ryosuke. “Garis besar mengenai misi yang akan diberikan padamu selanjutnya.” kata Reia lagi.

Ryosuke melihat map ditangannya dengan acuh kemudian kembali memandang wanita di depannya itu sambil tersenyum. “Baiklah, arigatou Oneesan.” kata ujarnya.

“Aku duluan kalau begitu, masih banyak yang harus ku kerjakan sebagai persiapan.” kata Reia lagi sambil berlalu pergi meninggalkan Ryosuke sendirian.

Ryosuke kemudian membuka dokumen tersebut sekilas, kemudian menutupnya lagi dan segera berjalan menuju sebuah pintu dengan tulisan “Presiden Direktur” didepannya. Pemuda itu mengetuk singkat pintu itu baru kemudian memutar knop pintunya dan masuk kedalam. Seorang pria dengan jas hitam berdiri membelakanginya memandang pemandangan malam kota dijendela sana.

“Hampir tiba… watunya sebentar lagi…” kata pria itu pada Ryosuke.

Ryosuke berjalan perlahan mendekati pria itu sambil memasukkan satu tangan di saku celananya. Pemuda itu menyerit bingung mendengar penuturan pria di depannya. Akanishi Jin, pimpinan tertinggi tempat itu sekaligus orang yang dia kenal sebagai pamannya. Bukan paman kandung, hanya saja sejak kecil pria itu yang merawat dirinya. Ibu Ryosuke meninggal dalam sebuah kebakaran dan sejak itu Akanishi lah yang merawat dirinya dan saudaranya. Namun saat ini, saudaranya sedang berada diluar negeri menyelesaikan sekolahnya.

“Kau mendengar suara itu? Suara angin yang berubah ke barat. Aku tau sudah hampir tiba saatnya.” kata Akanishi lagi. Kali ini pria itu berbalik dan memandang Ryosuke dengan serius.

“Aku tidak mengerti .. apa yang hampir tiba?” tanya Ryosuke tenang sambil melirik keluar jendela.

Akanishi tersenyum dan menggeleng kemudian menunjuk sebuah kursi di depan mejanya dan memberi tanda agar pemuda itu duduk disana. Ryosuke hanya menurut masih sambil memandang pamannya itu dengan bingung. Akanishi kemudian berjalan ke meja kerjanya dan duduk disana, menyalakan laptopnya dan menunjukkanya kepada Ryosuke.

“Pembicaraan mengenai itu kita lanjutkan saja lain kali. Kita bicarakan saja tugas yang akan kuberikan padamu kali ini” kata pria itu kemudian menunjukkan sebuah foto seorang pria yang menghiasi layar laptopnya. “Ohno Satoshi, 35 tahun, salah satu kandidat pemilihan kepala daerah Fukuoka selanjutnya. Beberapa waktu yang lalu beliau mendapat surat ancaman pembunuhan dan semenjak saat itu beliau selalu dikawal dengan ketat.” jelas Akanishi, kemudian pria itu mengganti tampilan foto pria itu dengan foto sebuah gedung dan kembali memandang kearah Ryosuke. “Minggu depan beliau akan ikut dalam acara peresmian sebuah galeri ini. Banyak orang–orang penting yang akan berpartisipasi dan aku juga tau kau termasuk dalam salah satu undangan.” kata pria itu lagi.

Ryosuke mendengarnya sambil mengangguk. “Jadi karena itu paman memilihku untuk tugas ini?” tanyanya sambil melihat sebuah kartu undangan di dalam tumpukan map dan amplop di tangannya.

Akanishi mengangguk dan menunjuk dokumen yang dipegang oleh Ryosuke. “Tugasmu hanya mengawasi. Usahakan selalu berada di dekat Sakuraba Ryoji tanpa dicurigai. Selain kau, aku juga menempatkan beberapa agen Silver Diamond lainnya dalam tugas ini.” jelas Akanishi lagi.

Ryosuke membuka dokumen ditangannya dan membacanya sekilas. “Reia oneesan ikut juga kalau begitu?” katanya acuh sambil membaca dokumen tersebut. Tak lama kemudian pria itu menutup kembali dokumen itu dan memandang pamannya itu sambil tersenyum.

Akanishi kembali menutup tampilan laptopnya kemudian kembali fokus memandang keponakannya satu itu. “Tiga hari lagi kita akan rapat mengenai hal ini, juga mendiskusikan langkah yang akan dilakukan. Mulai besok kau akan dilatih oleh Tanaka di kediamannya langsung,” kata Akanishi sedikit tegas.

Ryosuke merengut sedikit mendengar nama ‘Tanaka’ diucapkan oleh pamannya itu, “Kenapa harus si botak itu yang melatihku?” gerutunya.

“Ada beberapa hal dalam misi ini dimana hanya Tanaka yang bisa menjelaskannya padamu. Atau kau ingin aku yang turun langsung melatihmu, Ryosuke?” ucap Akanishi dengan tenang.

Ryosuke langsung mengangguk dan berdiri dari posisinya. “Tanaka lebih baik.” katanya. “Aku akan langsung pulang dan berkemas untuk pergi ke rumah Tanaka-san segera, sampai jumpa lagi paman.” kata pria itu santai sambil mengangkat dokumennya dan berjalan keluar ruangan.

Akanishi menatap punggung keponakannya itu sambil tersenyum dengan tatapan yang sulit dibaca. Kemudian pria itu kembali memandang kembali keluar jendela dari tempatnya.

“Siap atau tidak, aku bisa merasakan waktunya hampir tiba. Ryosuke dan anak itu harus menghadapinya cepat atau lambat.” desis pria itu.

-*-

Hari sudah beranjak sangat sore saat Arina keluar dari gedung kampusnya di Universitas Tokyo. Gadis itu memasang jaketnya lengkap dengan tudung ke kepalanya sendiri. Lalu memasang earphone ke telinganya yang tersambung ke ponselnya yang memutar musik kesukaannya. Langit terlihat mendung saat itu.

Arina sebenarnya bisa saja menelpon untuk diantarkan supir menjemputnya, namun dia memilih untuk tidak melakukannya. Satu hal yang akan terjadi saat dia menelpon supir dan di jemput dengan mobil adalah, dia akan tertidur dengan sangat pulas hingga tiba dirumah. Meski dia sangat lelah, tapi tidur jam segini akan membuatnya susah tidur malam nanti, sehingga dia akan tidur sangat larut dan kembali sulit bangun di pagi harinya. Jadi memilih untuk menahan rasa kantuknya dengan tetap terjaga lebih baik.

“Ah, aku buat parfait saja dirumah. Kira-kira masih ada bahan-bahannya tidak ya? Sepertinya baru tiga hari yang lalu aku bikin parfait dengan persediaan terakhir.” gumam gadis itu pada dirinya sendiri, “Aku mampir saja nanti di supermarket,” putusnya kemudian.

Gadis itu sedikit berlari karena hujan sudah mulai turun. Hingga dia tiba di halte bus, tepat saat sebuah bus datang dan berhenti disana, Arina langsung naik ke dalam bus tersebut.

Tidak lama kemudian, gadis itu tiba di halte dekat kawasan rumahnya, dan berjalan menuju sebuah supermarket yang ada di dekat sana. Netranya terlihat berbinar saat memandang berbagai macam bahan masakan di rak-rak yang di laluinya, mengambil beberapa hal yang dirasanya dibutuhkan dan memasukkannya kedalam keranjang belanjaan. Hingga dia tiba di kounter buah-buahan, mata gadis itu tertuju pada kotak-kotak buah strawberry.

“Kalau ku buatkan parfait topping strawberry, Yuri pasti senang.” pikir gadis itu sambil tersenyum, kemudian dengan riang memilah kotak-kotak strawberry di rak tersebut. Matanya kemudian tertuju pada satu kotak ukuran sedang diantara kotak kecil lainnya. Ketika tangannya ingin meraih satu kotak strawberry tersebut, tiba-tiba satu tangan asing terjulur dan mengambil kotak yang sama dan segera berlalu meninggalkan gadis itu sendiri.

“Hei, tunggu!” kata Arina sambil mengejar sosok si pemilik tangan dan langsung berhenti tepat di depan sosok itu. Sosok pemuda dengan jaket hitam, kacamata frame hitam, dan topi. Pemuda itu berhenti dan memandang Arina dengan tatapan bingung. “Aku yang terlebih dulu melihat strawberry itu!” ujar Arina sambil menunjuk kotak strawberry yang sedang di pegang oleh pemuda itu.

Si pemuda terlihat memandang Arina dengan tenang. “Secara logika, siapa yang duluan mengambil berarti benda itu miliknya. Aku yang duluan mengambil, berarti ini milikku.” Ujarnya.

Mendengar penjelasan pemuda itu, Arina langsung menggembungkan pipinya dengan kesal. “Apa kau tidak bisa mengalah dengan perempuan? Dasar menyebalkan.” Rutuknya.

Pemuda terlihat mengangkat sebelah alisnya, “Berbicara emansipasi, nona? Sepertinya kau seorang feminism?” kata pemuda itu yang sontak membuat Arina bertambah kesal.

Namun belum sempat Arina menyanggah, tiba-tiba dia menyadari sekelilingnya mendadak sedikit kisruh. Beberapa orang sudah mulai berkumpul dan saling berbisik. Arina hanya memandang bingung pemandangan tersebut. Pemuda di depannya tadi langsung berjalan melewati Arina begitu saja menuju kasir yang tak jauh dari tempatnya berada saat itu, langsung membayar belanjaannya. Sedangkan Arina, gadis itu masih kelihatan bingung di tempatnya.

“Ah… strawberry nya!” katanya setelah tersadar, tetapi pemuda tadi sepertinya sudah selesai membayar dan keluar dari supermarket tersebut.

Gadis itu semakin kesal menggembungkan pipinya sambil mengambil kembali keranjang belanjaannya yang tadi dia letakkan begitu saja di lantai. Gadis itu kembali ke rak dimana dia melihat strawberry tadi, dan segera mengambil dua kotak strawberry ukuran kecil kemudian membawa serta belanjaannya ke meja kasir.

Wajahnya ditekuk kesal memandang saat petugas kasir menghitung belanjaannya, di lihatnya harga dari dua kotak strawberry itu menjadi sedikit lebih mahal dan hal tersebut membuatnya semakin kesal.

“Seharusnya bisa murah, gara-gara dia. Lihat saja kalau aku bertemu lagi…” desis gadis itu. Namun buru-buru dia menggelengkan kepalanya, “Amit-amit deh ketemu lagi. Jangan sampai!” ucapnya lagi.

“Toko kami sedang ulang tahun, silahkan dipilih salah satu dari hadiah ini sebagai souvenir,” lamunan Arina tersadar berkat kata-kata dari si petugas kasir yang mengeluarkan beberapa souvenir dan meletakkannya diatas meja kasir.

“Eh?” kata Arina sedikit kaget, namun dia langsung memilih. Matanya tertuju pada satu buah giwang berbentuk hati yang terbuat dari batu berwarna yang sangat indah, dan langsung mengambilnya. “Saya pilih yang ini saja, arigatou gozaimasu!” katanya lalu mengambil belanjaannya.

Sambil berjalan Arina kembali melihat sejenak giwang tersebut sambil tersenyum sebelum akhirnya dia memasukkannya ke dalam tasnya, lalu pergi begitu saja dari tempat itu.

-*-

Ryosuke memasukkan tas ranselnya ke kursi belakang mobilnya lalu masuk ke kursi kemudi. Tiba-tiba saja dia merasakan perutnya sangat lapar. Teringat bahwa sejak siang dia sama sekali belum makan apapun, apalagi setelah belanja bahan makanan dia kembali di seret ke kantor. Lalu pulang lagi kerumah dan langsung membereskan baju-bajunya untuk menginap, dan sekarang dia harus pergi lagi.

Ryosuke menimbang untuk makan dulu atau langsung saja pergi ke tempat pelatihannya. Tapi mengingat tempramen pelatihnya, sepertinya tidak akan sempat untuknya pergi makan ke restaurant dulu. Akhirnya pemuda itu memutuskan untuk membeli camilan saja yang bisa di makannya dalam perjalanan.

Hingga akhirnya pria itu memarkirkan mobilnya di depan sebuah supermarket. Pria itu kemudian keluar dari mobilnya masuk ke dalam supermarket tersebut dan mulai menyusuri satu persatu rak disana. Mengambil beberapa snack, hingga yang terakhir dia tiba di dekat rak buah-buahan dan melihat kotak-kotak strawberry kesukaannya. Matanya tertuju pada satu-satunya kotak berukuran sedang, dengan segera dia mengambilnya tanpa berpikir panjang dan segera pergi dari sana.

Namun…

“Hei, tunggu!” langkahnya dihentikan oleh seorang gadis. Ryosuke menatapnya dengan bingung, seorang gadis dengan rambut sebahu, menggunakan jaket, dan sedang menatapnya dengan kesal. “Aku yang terlebih dulu melihat strawberry itu!” ujarnya sambil menunjuk kotak strawberry yang sedang dalam genggamannya.

Ryosuke menghela nafas, dan berbicara dengan tenang. “Secara logika, siapa yang duluan mengambil berarti benda itu miliknya. Aku yang duluan mengambil, berarti ini milikku.”

Demi Tuhan!! Tidak bisakah gadis itu mengambil yang lain saja? Bukankah masih banyak kotak strawberry di rak sana?

“Apa kau tidak bisa mengalah dengan perempuan? Dasar menyebalkan.” Gadis itu malah merutukinya sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.

Ryosuke menghela napas dengan kesal. Apa katanya? Menyebalkan? Demi Tuhan, siapa disini yang paling menyebalkan? Dia ataukah gadis itu yang dengan seenaknya menghalangi jalannya dan memancing keributan?

Namun Ryosuke sadar, setidaknya dia cukup waras untuk membalas perkataan gadis itu, sebagai gantinya dia hanya membalas, “Berbicara emansipasi, nona? Sepertinya kau seorang feminism?” katanya, dan dia langsung mendapati gadis itu seperti ingin menyemburnya dengan sumpah serapah.

Sekelilingnya kembali semakin riuh dengan banyak orang mulai berbisik. Ryosuke menunduk singkat ke sekeliling karena merasa mengganggu pengunjung lain. Sedangkan gadis di depannya ini terlihat kebingungan dengan sekelilingnya.

“Menyebalkan sekali!” rutuk Ryosuke singkat lalu segera pergi dari sana menuju meja kasir membawa belajaannya sendiri.

“Toko kami sedang ulang tahun, silahkan dipilih salah satu dari hadiah ini sebagai souvenir!” kata dari si petugas kasir sambil mengeluarkan beberapa souvenir dan meletakkannya diatas meja kasir setelah selesai menghitung belanjaan Ryosuke.

Pemuda itu tersenyum singkat kemudian mulai memilih souvenir tersebut. Matanya tertuju pada sebuah anting pria dengan desain sederhana berwarna hitam.

Sepertinya lumayan. Pikirnya. Tangannya terulur untuk mengambilnya dan kembali memandang sang petugas. “Saya ambil yang ini, arigatou gozaimasu.” Ujarnya.

Petugas kasir tersebut kembali menyimpan yang lainnya, “Arigatou gozaimashita! silahkan datang lagi.” katanya dengan sopan.

Ryosuke segera berjalan keluar, segera masuk kedalam mobilnya dan menjalankannya kembali ke jalan raya.

-*-

TBC

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s