[Oneshot] Whatever You Are

Whatever You Are
By. Dinchan
Oneshot
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : almost NC-17 (?)
Starring : Kyomoto Taiga (SixTONES); Hideyoshi Sora (OC); dan beberapa figuran yang lewat-lewat
Disclaimer : I don’t own all characters here. Kyomoto Taiga is under Johnnys & Associates; Hideyoshi Sora is my original character

hahaha
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah sequel dari ff Chocolate by. Magentaclover please read the first series here
PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Ini sudah pukul dua pagi, dan laju mobil hitam itu membelah keheningan malam, hanya suara dari perangkat audio mobil saja yang menemani wanita berambut panjang itu menyetir. Ia melirik ke arah dasbor, dimana GPS nya menyala menunjukkan ke arah mana dirinya harus membawa mobilnya menjelajah kota Tokyo sepagi ini. Layar GPS itu berkedip-kedip menunjukkan bahwa dirinya sudah sampai, ditepikannya mobil itu, sebuah club yang tentu saja memang sedang ramai-ramainya di jam dua pagi ini terlihat tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang.

Sambil menghembuskan napas berat langkah wanita itu akhirnya mantap memasuki gedung club yang di pintu masuk saja sudah dijaga ketat oleh beberapa bodyguard. Beruntung dirinya memiliki kartu pass dari sahabatnya yang juga merupakan anggota club itu. Hingar bingar suara dari DJ dan lampu-lampu yang mulai mengganggu pandangannya terpaksa harus ia terobos demi mencari seseorang. Matanya terus-terusan menelusuri satu persatu orang di sana, belum juga ia temukan yang ia cari. Wanita itu mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi sosok yang ia cari walaupun dengan suara se-keras ini mustahil sosok itu bisa mendengar suara ringtone dari ponselnya.

“Soraaaa.. huhuhu Soraaaaa,” ternyata sosok itu mengangkat teleponnya.

“Kamu di mana?!” seru Sora sebelum ponselnya kembali di tutup oleh suara di seberang.

Sora masih bisa mendengar suara bising tapi tidak begitu kentara. Langkah Sora menuju ke Toilet karena satu-satunya tempat di club ini yang lumayan terlindungi dari suara bising pastilah Toilet. Dan benar saja, ketika Sora membuka pintu Toilet – yang entah dengan alasan apa dibuat toilet wanita dan pria disatukan – sosok itu sedang terduduk d lantai, terlihat sangat kacau dengan rambut acak-acakan, bahkan Sora bisa melihat jejak air mata di pipi pemuda itu.

“Taiga… bangun!” Sora berjongkok di hadapan Taiga, mengguncang bahu pemuda itu, “Taiga!!”

Pemuda yang dipanggil Taiga itu membuka matanya, menatap Sora dan dengan gerakan tiba-tiba memeluk tubuh Sora hingga tubuh Sora terdorong dan hampir saja terjatuh, “Sora-chaaannn!!” seru Taiga, napasnya bau alkohol kuat dan sudah jelas pemuda ini sedang mabuk.

Dengan bantuan dari beberapa security di sana akhirnya Sora berhasil membawa Taiga masuk ke mobil dan kali ini mobil Sora membelah kota Tokyo di malam hari untuk membawa Taiga ke apartemennya.

***

Ruangan ini tidak asing, Taiga membuka matanya, hantaman sakit kepala langsung menyergap dirinya, membuatnya merasa kepalanya seperti di hantam oleh palu. Taiga menatap jam dinding berwarna hitam dengan tulisan putih di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi ketika ia melirik sebuah jam dinding di kamar ini, lagipula Taiga melihat cahaya dari luar kamar ini.

Ohayou sleepyhead,” Taiga ingat akhirnya, ini apartemennya Sora.

Ohayou,” balas Taiga sambil memijat-mijat keningnya yang kini terasa nyut-nyutan. Ia menghampiri Sora yang sepertinya sedang sibuk di dapur, Taiga lalu duduk di meja makan, dan beberapa menit kemudian Sora menyodorkan secangkir kopi di hadapan Taiga, “Arigatou Sora-chan,”

“Siapa Arisa-chan?” tanya Sora, wajahnya terlihat jahil, ugh pasti semalam dia mengigau.

“Aku ngomong apa aja sih semalam?” tanya Taiga yang lalu menyeruput kopinya, kafein ternyata memang sedikit ampuh untuk menghalau rasa pusingnya.

Sora mengambilkan satu tangkup sandwich dan menyerahkannya di hadapan Taiga, kini Sora duduk di kursi seberang Taiga, “Uhmmm.. Arisa-chan, patah hati, Hokuto brengsek, dan kau bilang kegerahan sambil membuka bajumu,” ucap Sora sambil melipat satu persatu jari di tangan kanannya dengan tangan kirinya, menghitung semua perkataan Taiga semalam.

“Ugh!” Taiga merasa tertangkap basah, tapi masih enggan berbagi dengan apa yang ia rasakan sekarang. Sora tersenyum ke arah Taiga, beranjak dari kursinya dan mengacak pelan rambut Taiga.

“Ya sudah aku berangkat kerja dulu, kalau mau pulang, kuncinya simpan di kotak surat di bawah saja ya,” Sora bekerja di sebuah percetakan buku di hari biasa dan menjadi pelayan di sebuah toko aksesoris di akhir pekan, Taiga tau persis jadwal Sora bekerja. Karena ini hari sabtu, Sora berarti berangkat ke toko.

“Sora-chan,” Taiga memanggil Sora ketika wanita itu sudah berbalik memakai sepatunya untuk bersiap-siap, Sora menatap wajah Taiga, “Arigatou,”

“Apaan sih Taiga-kun, kamu itu sudah seperti adikku sendiri, jangan sungkan,” jawab Sora lalu melambaikan tangan pada Taiga sebelum berlalu dari pintu.

Hideyoshi Sora adalah kakak tirinya. Tidak secara sah ataupun berhubungan darah dengannya, tapi Taiga ingat Sora adalah anak yang diurus oleh Ayah dan Ibunya. Ayah bilang Sora adalah anak temannya yang baru saja meninggal dalam kecelakaan dan sejak Sora berumur empat belas selama beberapa tahun tinggal di kediaman Kyomoto namun setelah itu lulus SMA, Sora memutuskan untuk pindah, tapi hubungan mereka masih baik. Sora terkadang masih menginap di kediaman Kyomoto bahkan ikut liburan jika sempat. Memang sejak kuliah Sora sudah bisa mandiri, namun Ayah Taiga masih bersikeras terkadang membantu Sora walaupun gadis itu menolak. Bahkan Kyomoto Masaki memaksa Sora untuk menerima hadiah mobil darinya karena khawatir dengan jam kerja Sora yang terkadang hingga larut malam. Untuk yang satu itu Sora pun bersikeras untuk membayarnya, Ayah Taiga setuju untuk Sora membayar setengahnya saja.

Setelah sakit kepalanya agak mereda Taiga akhirnya mencari ponselnya, ratusan chat masuk ke ponselnya, Taiga membuka aplikasi chat dan ratusan pesan itu dari grup mereka. Anggota grup itu member SixTONES dan tiga gadis yang tidak sengaja mereka temui. Aika, Ayaka dan Arisa. Menyebut nama terakhir membuat hatinya sedikit sakit. Terlebih ketika ia membaca isi chat yang sedang ramai membicarakan pasangan-pasangan di antara mereka. Jesse berhasil merebut hati Ayaka sedangkan Juri akhirnya memberanikan diri untuk berpacaran dengan Aika. Arisa sendiri, memilih Hokuto.

Arisa-nya. Sejak awal pertemuan mereka dan beranjut lewat chat, Taiga jatuh hati pada Arisa. Walaupun memang Taiga tau ada orang lain di hati Arisa dan  gadis itu sedikit keberatan ia dekati, Taiga berprinsip apapun yang terjadi sebelum Arisa dimiliki oleh siapapun Taiga tidak akan mundur selangkahpun untuk meraih cinta Arisa. Namun malam itu jawaban Arisa sudah jelas. Malam dimana mereka akhirnya berkumpul untuk makan malam. Arisa berjalan di sebelah Hokuto, dengan tangan Hokuto menggenggam tangan Arisa dengan sikap protektif.

Taiga berusaha merelakan mereka, terlebih Hokuto adalah salah satu teman dekatnya dan Arisa pun memang terlihat bahagia bersama Hokuto. Saat Taiga merasa sudah move on, nyatanya sudah enam bulan belakangan Taiga berlagak baik-baik saja namun ada malam-malam dimana ia akan mabuk, masih merasa patah hati seperti orang bodoh. Ia tidak menyadari bahwa selama prosesnya mendekati Arisa, ia telah menyerahkan sepenuh hatinya pada gadis itu tanpa sisa. Dan kini ia merasa hampa, merasa jahat karena diam-diam membenci hubungan Arisa dan Hokuto padahal di hadapan mereka Taiga selalu menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja. Tidak, dia tidak baik-baik saja.

Ponselnya bergetar, Jesse meneleponnya. Dengan sedikit malas ia mengangkatnya.

“Ya?”

“Kenapa tidak balas chat­ku?” tanya Jesse to-the-point

Gomen, Jesse, aku baru bangun. Memangnya kenapa?”

“Ayaka bilang malam ini ke apartemen mereka, bisa kan?” satu malam lagi ia harus memasang senyum, menatap bagaimana cara Arisa berbicara dan menatap Hokuto dengan pandangan memuja, dan ia harus memaksakan dirinya bersikap biasa, “Kyomo-chan!” seru suara diseberang.

“Uhm.. uhm.. wakatta,” jawab Taiga cepat.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jesse, mulai curiga sepertinya dengan suara Taiga yang tidak seperti biasanya.

Taiga menarik napas panjang, berusaha kembali ke tone suaranya yang biasa, “Tentu saja, aku hanya sedikit mengantuk,”

“Ya sudah sampai jumpa nanti malam,”

***

“Turun ya Sora-chan,” ucap Taiga, mereka sudah sampai di depan sebuah gedung apartemen ber-cat biru yang tidak begitu mewah namun terihat bersih dan terawat.

“Aku? Kan kamu hanya minta diantar ke sini,” ucap Sora di bangku penumpang.

Sepulang Sora bekerja ternyata Taiga masih ada di apartemennya, bahkan memintanya untuk mengantar dirinya ke tempat sekarang mereka berada. Memang Taiga yang menyetir dan Sora berencana untuk pergi setelahnya, tapi sekarang tiba-tiba saja pemuda itu mengajaknya ikut turun.

“Kumohon,” ucap Taiga, memandang wajah Sora dengan ekspresi memelas, “Sora-chaaann,” Taiga hanya berani menampilkan wajah manjanya pada Sora. Wanita itu sudah terlalu lama bersamanya, bahkan jika Taiga sakit atau dulu merasakan kesedihan-kesedihan, Sora lah yang membantunya, itulah kenapa kemarin malam secara spontan ia menelepon Sora saat dirinya merasa patah hati, lagi.

“Aduh, aku gak dandan, aku harusnya cuma nganter kan,” protes Sora. Taiga masih belum menyerah lalu menunjukkan ekspresi sedih pada wanita itu, “Iya deh iya! Sebentar aja ya!” ancam Sora.

Tidak sampai lima menit kemudian mereka sudah sampai di lantai tiga menggunakan lift. Taiga memencet bel apartemen itu, lima detik kemudian pintu terbuka, “Yo! Aaahh!! Sora-san!” seru Shintaro yang membukakan pintu.

“Shin-kun!! Hisashiburi!!” Sora melangkah masuk ke dalam.

Ruangan apartemen itu tidak begitu besar tapi mampu menampung mungkin lima belas orang di ruang tengahnya.

“Hey, ada Sora-chan!!” kata Shintaro kepada teman-temannya di dalam.

“Yo!”

“Sora-chaaann!!” kelima member SixTONES yang lain praktis sudah pernah bertemu dengan Sora walaupun hanya sesekali saat mereka berkumpul. Shintaro terutama yang lebih lama dekat dengan Taiga sudah sering bertemu dengan Sora.

Sora berjalan ke arah dapur, mendapati tiga orang gadis yang lebih muda darinya sedang sibuk mengatur makanan dan mengambil beberapa peralatan, “Hajimemashite, Hideyoshi Sora desu.”

“Ini Aika, Ayaka dan Arisa!” seru Shintaro mengenalkan ketiganya pada Sora, dan ketiga gadis itu menunduk sekilas kepada Sora.

“Ada yang perlu aku bantu?” tanya Sora.

Gadis yang bernama Aika menggeleng, “Tidak perlu Hideyoshi-san, sudah beres ko,” ucapnya lalu tersenyum.

“Panggil Sora saja, lihat kan kumpulan orang bodoh itu sudah seperti adikku sendiri, jadi kalian juga akan kuanggap sebagai adikku,” kata Sora, mengambil sebuah mangkuk yang dipegang oleh Arisa, “Simpan di meja?” tanyanya pada Arisa, gadis itu mengangguk. Sora memperhatikan Arisa yang terlihat paling pemalu diantara ketiganya. Dalam hati Sora mengerti kenapa Taiga menyukai gadis itu, selain manis, Arisa adalah tipe gadis yang akan Taiga sukai karena Taiga senang ‘memimpin’ gadisnya, Arisa tentu saja masuk dalam kriteria itu.

Makan malam di apartemen itu merupakan hal yang baru bagi Sora. Ke-sembilan orang itu bergantian mengoceh, mengambil makanan, bertengkar soal makanan atau minuman, bahkan tidak sungkan mencela satu sama lain. Hanya ada satu orang yang sejak tadi ogah-ogahan ikut nimbrung, tentu saja Taiga hanya menjawab sekenanya, tertawa jika diperlukan. Sora juga menyadari satu hal, Arisa dan Hokuto sangat nyaman satu sama lain, beberapa kali Sora mendapati mata Arisa menatap Hokuto dengan pandangan memuja, Sora mengerti sekarang, alasan ucapan Taiga saat mabuk semalam. Taiga kalah telak, dan sampai saat ini dia belum bisa menerima kekalahannya.

“Berhenti menghela napas dan membuat wajahmu seperti itu,” Sora dan Taiga sekarang sudah di perjalanan pulang, Taiga meminta mereka pulang ke apartemen milik Sora saja, dia sedang malas diinterogasi oleh Ayahnya.

“Wajahku kenapa?” Taiga menatap Sora yang sedang menyetir di sebelahnya.

“Wajahmu seperti monster,” Sora tiba-tiba saja memutar arah, Taiga sedikit kebingungan namun tidak protes juga, “Ada satu tempat yang ingin aku datangi,”

Ketika mobil itu berenti di parkiran sebuah hotel terkenal, Taiga agak kaget Sora membawa mereka ke hotel, “Yang benar saja Sora-chan!” seru Taiga.

“Bodoh, kau masih kecepatan sepuluh tahun untuk mengajakku macam-macam!” Sora menyentil dahi Taiga, “Ikut saja jangan banyak tanya,”

Karena sudah tidak punya tenaga untuk berdebat, Taiga mengikuti langkah Sora masuk ke hotel, dan Sora bertemu dengan seseorang yang sepertinya Taiga belum pernah kenal, berbicara sebentar lalu kembali menghampiri Taiga, “Ayo!” Sora mengacungkan sebuah kartu dan melewati Taiga, dengan terpaksa Taiga mengikuti Sora.

Mereka masuk ke lift. Untuk beberapa saat Taiga memperhatikan angka di display yang terus menunjukkan kenaikan. Bahkan sudah mencapai angka puluhan dan ketika berhenti mereka ada di lantai 64. Sora menunjuk ke arah pintu, “Duluan ya, ada yang harus kuambil sebentar,”

Taiga mengangguk, membuka pintu itu dan pandangannya langsung berbinar melihat sebuah taman yang sangat indah ada di atas situ. Tidka begitu luas, tapi ada bunga-bunga dan lampu-lampu yang membuat lantai paling atas atau biasa disebut okujou itu kini terlihat menganggumkan. Di sana juga ada beberapa kursi sepertinya untuk santai-santai sambil menikmati taman itu.

“Ini,” saat sadar Sora sudah berdiri di sebelahnya, menyodorkan sekaleng bir untuknya.

Arigatou,” ucap Taiga, menerima bir itu dari tangan Sora.

“Taman ini yang merancang adalah temanku. Kebetulan aku membantunya dalam beberapa hal jadi aku mendapatkan akses khusus di sini, kadang aku kesini jika sedang sedih atau suntuk,” kata Sora, ia berjalan ke sebuah kursi yang menghadap langsung ke tengah taman itu, ada sebuah air mancur kecil yang indah di situ.

Ketika Sora duduk Taiga juga ikut duduk di sebelahnya sambil meneguk birnya.

“Mungkin sudah saatnya kau mengaku kalah, Taiga,” kata Sora, “Aku tidak bilang rasa cintamu kalah dengan Hokuto, aku tidak peduli apapun yang terjadi sebelumnya antara dirimu, Hokuto dan Arisa-chan, tapi Arisa sudah memilih dan Hokuto pun memilih membalas perasaan Arisa. Terlalu menyedihkan kau larut dalam perasaan seperti ini, pasti sulit tapi bukan berarti tidak mungkin untuk sembuh dari lukamu ini,”

Sora mendengar suara helaan napas Taiga yang terdengar begitu berat, “Aku masih merasa Arisa-chan salah memilih Hokuto. Kau tau, awalnya Hokuto tidak tertarik pada Arisa!”

“Tapi bukan hakmu untuk menentukan itu pilihan yang salah atau bukan! Arisa yang memilih!” jawab Sora lagi. Taiga terdiam, dan saat Sora menatap Taiga nyata sekali rasa sakit yang diderita oleh pemuda itu. Maka Sora berdiri, menarik Taiga ke dalam dekapannya sehingga kini kepala Taiga bersandar di tubuh Sora, tak lama Sora merasakan tangan Taiga balas memeluknya, tangis pemuda itu pecah.

Menangislah, sampai kau puas. Ucap Sora dalam hati, ia tau rasa sakit Taiga. Ia tau persis.

***

Menjadi sibuk memang ternyata obat paling mujarab untuk sakit hati, selain katanya mendapatkan orang baru. Tapi Taiga mengesampingkan masalah hatinya. Untuk saat ini dia berkonsentrasi kepada pekerjaannya, latihan keras untuk stage play nya dan syuting Shounen Club. Ada juga persiapan konser Junior, apapun yang bisa membuatnya lupa akan Arisa. Hasilnya cukup signifikan, Taiga mulai bisa menerima interaksi antara Hokuto dan Arisa. Rasanya Taiga ingin berterima kasih kepada Sora, bagaimanapun juga nasehatnya saat di taman memang mengena dan membuka matanya. Hari ini Taiga memutuskan untuk membawakan Sora makanan kesukaannya, vanilla cake, sebagai rasa terima kasihnya.

Taiga memencet bel apartemen Sora, namun tidak juga ada jawaban. Padahal seharusnya Sora sudah sampai di rumah, karena tadi Sora mengabarkan bahwa dia sudah sampai di apartemen sebelum Taiga selesai latihan.

“Sora-chaaann,” panggil Taiga, diketuknya pintu berwarna ungu itu dengan sedikit keras, seperti memukul. Tidak juga ada jawaban, namun ketika Taiga akan mencoba untuk mengetuk lagi, tiba-tiba saja pintu terbuka. Seorang pria keluar dari apartemen Sora, seseorang yan tidak dikenali oleh Taiga.

“Eh, Taiga,” Sora yang mengantar pria itu keluar agak kaget dengan kedatangan Taiga.

“Aku pulang dulu, shitsureishimasu,” ketika pria itu meninggalkan apartemen Sora, pria itu jelas jauh lebih tua dari Sora, menggunakan setelan jas berwarna hitam dan tampak kerutan-kerutan yang menunjukkan pria itu paling tidak lebih dari tiga puluh lima tahun.

“Tadi itu…”

Taiga akhirnya masuk dan Sora menyuguhkan secangkir teh hangat untuk Taiga, “Bosku, di kantor percetakan,” ucap Sora dan walaupun tidak menjelaskan lebih lanjut Taiga melihat gerak-gerik Sora yang menghindari tatapan matanya.

Taiga berusaha berpikiran positif kalau saja tidak melihat baju berserakan dan kasur yang berantakan, Taiga mau tidak mau berpikiran macam-macam, “Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa kau bersama pria tadi? Selarut ini? Aku lihat dia… sepertinya sudah menikah,” tambah Taiga, ia menangkap sebuah cincin di jari manis pria itu.

Sora kini duduk di hadapan Taiga, “Bukan urusanmu,” jawab Sora cepat.

“Jadi urusanku!” balas Taiga galak.

“Sudahlah Taiga, kau mau mengajakku bertengkar atau apa?” wajah Sora lebih dingin dari biasanya, tidak kalah dengan nada suaranya.

Taiga menghela napas, “Dia tidak baik untukmu. Aku tau kau lebih baik dari ini!”

“Maksudmu?”

“Kau yakin mau merusak Rumah Tangganya?!”

PLAKK! Tamparan yang cukup keras mampir di pipi pemuda itu. Taiga kaget, tidak menyangka Sora akan menamparnya.

“Keluar dari apartemenku!! KELUAR!!” seru Sora dengan nada yang marah.

Taiga menurut, hatinya kesal setengah mati. Dia hanya tidak ingin Sora tersakiti. Bagaimanapun juga Sora sudah seperti kakaknya sendiri, dan melihat Sora memilih pria yang sudha berkeluarga, menjadi simpanan seseorang bukanlah hal yang ingin ia lihat.

***

Okaeri,” Taiga membuka pintu rumahnya, wangi masakan langsung menyerang indera penciumannya. Sudah lama ia tidak pulang cepat dan makan masakan yang masih hangat. Ibunya akan menyisakan makanan untuknya karena biasanya baik dirinya atau Ayahnya sama-sama pulang larut malam. Tapi malam ini, entah kenapa ibu meneleponnya, memintanya untuk pulang cepat. Beruntung tidak ada jadwal yang mengharuskan dirinya tinggal lebih lama di tempat latihan sehingga ia bisa mengiyakan permintaan Ibu.

Tadaima,” mata Taiga menangkap sosok Sora yang berdiri di hadapannya, menggunakan apron warna ungu dan rambutnya yang ditata rapi ke belakang, “Jangan bengong,” Sora menghampirinya, mengambil tas Taiga yang masih ia pegang sejak tadi karena masih kaget dengan keberadaan Sora di sana.

“Ah! Taiga, hari ini makan malam keluarga seperti biasaaa,” Ayahnya ternyata sudah pulang duluan, karena sibuk dengan pikirannya sendiri ia tidak menyadari sepatu Ayahnya di depan tadi.

Keberadaan Sora di rumah ini memang sudah tidak asing lagi. Pemandangan Sora dan Ibu di dapur sambil bercanda dan memasak sementara dirinya duduk di sini, bermain dengan Ayahnya ketika ia masih kecil, lalu beranjak menjadi sebuah percakapan serius mengenai pekerjaan kali ini. Hal ini memang sangat ia rindukan, beberapa kali makan malam tidak jadi seingat Taiga entah karena pekerjaan Sora, dirinya sendiri atau Ayahnya yang mendadak membatalkan janji karena tidak memungkinkan untuk pulang cepat. Tapi hari ini, setelah berbulan-bulan akhirnya mereka melakukan makan malam bersama lagi.

Taiga masih memikirkan masalah mereka tempo hari. Setelah Sora menamparnya, ia masih bisa mendengar isak tangis Sora malam itu ketika ia meninggalkan apartemen Sora. Sebenarnya di satu sisi ia tau, tidak benar mengatakan hal sejahat itu kepada Sora, apalagi ia tidak tau masalah yang sebenarnya. Tapi Taiga benar-benar ingin Sora menyadari bahwa apa yang ia lakukan tidak benar. Taiga memerhatikan ekspresi wajah Sora selama makan malam. Tidak ada yang berubah, Hideyoshi Sora bersikap seolah tidak pernah ada masalah apa-apa dengannya. Sora mengambilkan makanan untuknya, tersenyum kepadanya, bahkan bercanda mengenai pekerjaan bersama Ayahnya. Tidak ada yang berubah, Taiga sedikit lega.

“Bir?” setelah makan malam Taiga memutuskan untuk menyendiri di balkon, ternyata Sora menyadarinya dan membawakan sekaleng bir dingin untuknya.

Arigatou,” Taiga menyambut uluran sekaleng bir itu, lalu membukanya, “Soal malam itu… aku minta maaf,” bisik Taiga, cukup pelan tapi Taiga yakin Sora mendengarnya.

“Kau mau tau tentang dirinya?”

Taiga tidak menjawab, Sora duduk di bangku yang berhadapan dengan bangku yang kini Taiga duduki.

“Dia supervisorku, dan aku jatuh cinta padanya padahal aku tau dia sudah punya keluarga. Memang, awalnya aku sempat menolaknya, tapi dia bilang bahwa pernikahannya tidak bahagia dan tidak lama lagi dia akan menceraikan istrinya,” Taiga menatap Sora tak percaya, “Aku sangat ingin mempercayai dirinya walaupun kadang aku tidak tau apa yang sebenarnya dia inginkan karena setelah setahun kita menjalin hubungan, aku belum juga mendapatkan kabar soal perceraiannya,”

Gomen,” entah kenapa Taiga rasanya ingin berkata maaf lagi, seakan seharusnya Sora tidak harus sampai menceritakan hal ini kepadanya.

Sora tertawa pelan, “Sepertinya aku justru yang harus minta maaf karena sudah menampar wajah berharga seorang idol,”

Taiga menggeleng, “Apaan sih, tamparanmu itu tidak keras tau!” serunya mengelak.

“Benarkah? Mau coba lagi?” Sora mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Taiga, bersikap seolah-olah dia akan menampar pemuda itu. Taiga meraih pergelangan tangan Sora dan menariknya untuk mengelak namun sepertinya tarikan itu terlalu kuat sehingga tiba-tiba saja Sora sudah terlalu dekat jaraknya dengan Taiga.

Keduanya seakan gagu, Taiga belum pernah berpikiran lain soal Sora, tapi kali ini wangi tubuh Sora seakan menghipnotis dirinya dan detik ini juga Taiga merasakan keinginan kuat untuk mencium Sora. Belum bisa menguasai keadaan, tiba-tiba saja Taiga menempelkan bibirnya pada bibir Sora.

“Taiga!” Sora kaget dan mendorong bahu Taiga, “Apa-apaan sih?!” Sora segera beranjak dan meninggalkan Taiga di balkon dengan kegugupan dan detak jantung yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada Taiga.

***

Dia mencium kakaknya sendiri! Taiga mengacak rambut pinknya. Tak percaya dengan apa yang ia lakukan kemarin. Tapi semuanya terasa benar. Saat bibirnya menempel pada bibir Sora, rasa getaran dan seakan aliran listrik menjalar di tubuhnya. Mana mungkin?! Sora? Sora yang sudah ia anggap kakak sendiri dan bahkan mereka seharusnya tidak canggung untuk tidur satu kamar, toh Taiga hanya dianggap anak kecil oleh Sora sedangkan Taiga sendiri menganggap Sora kakak perempuannya.

“Kenapa sih?” Taiga sejak tadi duduk di ruang latihan, sedangkan yang lain sedang latihan ia memilih untuk duduk sebentar, Shintaro menghampiri.

“Tidak ada apa-apa,” jawab Taiga cuek, lalu meneguk air mineralnya untuk menetralisir pikiran aneh yang kini mampir di otaknya.

“Ayolaaahhh.. jangan sok misterius gitu,” ucap Shintaro, menyenggol pelan bahu Taiga, namun sama sekali tidak digubris oleh pemuda berambut pink itu, Taiga beranjak, meninggalkan Shintaro yang masih penasaran dengan apa yang terjadi pada Taiga, “Malam ini ke apartemen Aika, Arisa dan Ayaka, yuk?!” ajak Shintaro, namun Taiga berbalik dan menggeleng.

Gomen aku ada urusan penting, bye!

Selesai latihan Taiga berjalan sendirian ke tengah pertokoan Shinjuku, dia butuh pengalihan pikiran dan berada di rumah atau di tempat Arisa sama saja akan membuatnya memikirkan hal-hal bodoh, misalnya memutuskan untuk merasa benar-benar jatuh cinta pada Sora, ugh! Sora itu kakaknya, seorang wanita yang separuh hidupnya sudah ia anggap sebagai orang yang selalu bisa ia andalkan, wanita yang merupakan orang yang tau hampir semua keburukan dirinya, jatuh cinta? Yang benar saja!

Taiga memutuskan untuk membeli secangkir coklat panas dan croissant di sebuah cafe, ia duduk di tempat yang agak tersembunyi, agar tidak terganggu orang lain. Ponselnya kembali ribut oleh ratusan chat masih di grup yang sama dan selama beberapa hari ini ia hanya jadi silent reader bahkan beberapa kali jarinya hampir memencet tombol leave. Pandangan Taiga mengarah keluar cafe, dilihatnya lalu lalang manusia Tokyo yang seakan tidak ada habisnya. Mata Taiga menangkap satu sosok yang rasanya tidak asing. Ah! Itu kan pria yang tempo hari ada di apartemennya Sora. Tanpa pikir panjang ia keluar dari cafe, membawa minuman coklatnya yang baru setengah diteguk, dan entah dengan alasan apa ia ingin mengikuti pria itu.

Penasaran? Atau sekedar ingin menghilangkan kecurigaannya tentang pria ini? Bahwa bisa saja memang pria di hadapannya sekarang masuk ke sebuah pusat perbelanjaan itu adalah pria yang tepat untuk Sora. Langkahnya semakin cepat, Taiga mengikutinya sambil berharap pria itu tidak menyadari, apalagi jujur saja Taiga tidak punya pengalaman soal kuntit menguntit. Saat pria itu masuk ke sebuah tempat makan, Taiga membuang gelas kertas yang sudah kosong itu, dan duduk tak jauh dari si pria.

“Udah belanjanya?” Taiga menatap seorang wanita yang sepertinya umurnya tidak jauh beda dari si pria dan dua orang anak perempuan yang mengangguk-angguk dengan bahagia.

“Papa.. aku tadi beli baju warna pink loh!!”

Keluarga itu sangat bahagia, sangat berbeda dari apa yang diceritakan oleh Sora.

“Tuan… mau pesan apa?” Taiga menoleh dan seorang pelayan menghampirinya.

Taiga beranjak, “Gomen, aku ada urusan mendadak,” bagaimanapun Sora harus tau kebenarannya, bahwa pria ini menipunya. Benar-benar menipunya.

.

.

.

“Sora?!” tak pikir panjang malam itu juga Taiga mengetuk pintu kediaman seorang Hideyoshi Sora, dia harus segera memberi tau Sora.

Tak sampai satu menit pintu terbuka, Sora terlihat agak kaget melihat Taiga ada di apartemennya malam-malam begini, “Ada apa?”

“Aku… harus bicara denganmu,”

Sora mempersilahkan pemuda itu masuk, lalu menyodorkan sekaleng bir ketika Taiga sudah duduk di ruang tengahnya, “Ada apa? Kau kelihatan panik,” Sora duduk di sebelah Taiga, ikut membuka satu kaleng bir.

Taiga mengambil ponselnya, membuka folder foto dan memperlihatkan foto yang dia ambil tadi, foto pria itu dengan keluarganya, sekali lihat saja Sora menghela napas berat.

“Sampai kapan kau berencana mencampuri kehidupan pribadiku?”

“Sora-chan! Aku tidak mau kau terluka! Pria ini tidak ada rencana untuk meninggalkan keluarganya!!” seru Taiga, tubuhnya secara otomatis menghadap ke arah Sora, “Tinggalkan dia!”

Sora bungkam, matanya langsung menatap Taiga, “Kau tidak perlu khawatir, aku sudah dewasa dan sudah bisa menjaga diriku sendiri!” ucapan itu pelan, namun tegas. Taiga terlihat frustasi, ia tidak menyangka Sora akan menjawab seperti itu.

“Sadar Sora! Apa yang kau harapkan darinya?!” suasana semakin terasa panas karena keduanya kini sudah saling berteriak.

“Sejak awal aku tau ini salah, tapi aku tidak bisa melepaskannya begitu saja, aku mencintainya!!” air mata Sora tidak lagi bisa dibendung dan detik berikutnya gadis itu menutup wajahnya, melampiaskan rasa frustasinya dengan menangis.

Entah apa yang dipikirkannya tapi Taiga menarik tubuh Sora, menguncinya dalam pelukannya. Bibirnya kelu, ia tidak menemukan kalimat yang pas kali ini untuk menenangkan Sora. Untuk kali ini dia ingin Sora tenang karena pelukannya, apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Sora dalam keadaan seperti ini. Beberapa menit di ruangan kecil itu hanya terdengar isakan dari mulut Sora, setelah agak tenang Sora mendorong pelan bahu Taiga.

Arigatou,” ucapnya, satu dua isakan masih terdengar tapi ia sudah lebih tenang. Sora hendak beranjak dari tempatnya duduk saat Taiga menarik tangannya, detik berikutnya tanpa Sora bisa menguasai keadaan, bibir Taiga sudah menempel dengan bibirnya. Reaksi alami dari Sora adalah mendorong bahu Taiga, “Kamu kenapa, sih?!” Sora hampir berteriak karena tanpa mengatakan apapun Taiga kembali menciumnya. Kini lebih intens, pagutan demi pagutan tak mampu lagi Sora tolak, tangan Taiga merengkuh belakang kepala Sora, memungkinkan Taiga mengontrol ritme ciuman yang dia inginkan, “Hmmpphh…” Sora masih mencoba untuk mendorong bahu Taiga namun usahanya tetap sia-sia karena kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan Taiga.

Taiga masih melumat bibir mungil Sora, penolakan Sora pun semakin melemah, sementara itu Taiga mendorong tubuh Sora sehingga kini Sora berbaring dan tubuhnya berada tepat di atas Sora, “Gomen, aku tidak mau menahan diriku lagi,” bisiknya, membuat Sora terdiam dan selanjutnya Taiga kembali mencium bibir Sora.

***

“Sora?!” rambut Asami acak-acakan, ini baru pukul enam pagi dan teman sekantornya ini tiba-tiba muncul di hadapannya, “Ini baru jam enam, demi Tuhan!!”

Gomen, boleh masuk?”

Sedikit enggan namun akhirnya Asami membukakan pintu, “Untung saja Ryuta sedang dinas ke luar,” ucap wanita dengan rambut pink menyala itu, bagi Sora seorang Asami adalah teman sekaligus penasehatnya di masalah apapun, meskipun dengan penampilan yang agak nyeleneh dan omongan yang terkadang terlalu jujur, Sora menyukai cara berpikir seorang Asami.

“Aku tau makanya aku ke sini,” Ryuta, kekasih dari Asami itu pun satu kantor dengan mereka.

Asami terkekeh, “Oh iya benar juga,” kini Asami masuk ke dapurnya, “Kopi?” dan hanya dijawab dengan anggukan oleh Sora. Tak sampai lima menit kemudian sudah terhidang secangkir kopi di hadapan Sora, “Jadi, Hideyoshi Sora, apa yang membawamu pagi buta gini ke apartemenku?”

Sebelum menjawab Sora menyesap kopinya, selama beberapa menit sesudahnya Sora sibuk menceritakan tentang Taiga dan apa yang terjadi semalam.

“Ahahaha… astagah! Sumpah?! Kalian benar-benar melakukannya? Kau mabuk?” Sora menggeleng, “Taiga mabuk?” Sora kembali menggeleng, “Berarti itu kemujuran buatmu!”

“Hah? Serius deh Asami! Dia itu sudah seperti adikku sendiri!” protes Sora.

“Ayolah, walaupun kau bilang ia memaksa, but you guys did it and the fact is, you enjoyed that!” Asami memang lama tinggal di Amerika, selama masa sekolahnya.

“Aku tidak…”

Good sex makes you glowing… dan kau…” Asami menyentil dahi Sora, “Glowing…”

Sora otomatis menyentuh pipinya yang terasa panas, ia menikmatinya dan itu tidak bisa dipungkiri. Taiga mungkin lebih muda darinya, tapi sepertinya cukup pengalaman. Duh, memikirkannya saja tiba-tiba dia merasa malu sendiri.

“Dan sekarang Taiga, dimana?”

“Entahlah, aku kabur sebelum dia bangun, aku tidak sanggup menghadapinya,” Sora kembali menyesap kopinya, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering sekali, “Lagipula aku masih mencintai Murata-san,”

“Kau masih berhubungan dengannya? Sampai kapan?” Sora tak mampu menjawabnya, toh memang tidak pernah ada kepastian diantara mereka, “Dia tidak akan meninggalkan istrinya, percayalah.” Hanya Asami yang mengetahui hubungannya dengan Murata-san, tentu saja selain Taiga sekarang.

“Itu juga yang dikatakan Taiga semalam, dia juga memperlihatkan potret Murata-san bersama keluarganya,” pandangan Sora tiba-tiba terlihat menerawang, “dan aku tidak bisa bohong kalau aku merasa bersalah.”

***

Saat Taiga membuka matanya, ia tidak menemukan Sora disampingnya. Bukankah seharusnya wanita itu tidur disebelahnya semalam? Kemana dia sekarang? Dengan mengumpulkan niatnya untuk bangun akhirnya ia beranjak dari kasur, meraih kaos dan celana boxernya sebelum akhirnya menelusuri apartemen yang tidak begitu luas itu, dan Sora tidak kelihatan batang hidungnya.

“Sora-chaaan~” ia mengetuk pintu kamar mandi namun sepertinya terlalu hening jika memang Sora ada di dalam.

Taiga mengambil ponselnya, mencoba menghubungi Sora namun nihil, Sora tidak mengangkat teleponnya, bahkan chat nya pun tidak dibaca. Karena frustasi dia pun memutuskan untuk membuka kulkas yang ada di apartemen ini, mencari apa saja yang bisa ia masukkan ke dalam mulutnya agar paling tidak mengalihkan perhatiannya dari sosok Sora.

Sarapanmu kusiapkan di dalam microwave, tinggal panaskan – Sora

Ternyata Sora sudah mempersiapkan sarapannya, Sora memberi sebuah notes di kulkas, dengan tulisan cukup besar sepertinya agar ia menyadarinya. Di dalam microwave itu ada tiga potong sandwich, Taiga memanaskan sandwich itu lalu sambil menunggu ia mengambil segelas jus jeruk, entah kenapa dia tidak sedang ingin kopi. Segera setelah sandwich nya selesai dihangatkan dia pun segera melahapnya, masih mengecek ponselnya dan hanya ada chat dari grupnya, tidak ada dari Sora.

Karena tidak ada tanda-tanda kedatangan Sora, Taiga memutuskan untuk mandi dan segera berangkat ke tempat latihan. Yang penting dia sudah meminta Sora untuk bertemu setelah kegiatan mereka selesai malam ini. Kalaupun tidak direspon dia akan tetap kembali ke apartemen Sora nanti malam. Sebelum ke tempat latihan dia sepertinya mulai merasa butuh kafein, Taiga berhenti di coffe shopitak jauh dari gedung Johnny’s, tempat dirinya biasa membeli kopi.

“Taiga-kun~” Taiga menoleh, membuka kaca mata hitamnya ketika manik matanya beradu langsung dengan mata Arisa, ya, gadis itu ada di sana.

“Jadi, janjian dengan Hokuto?” Taiga memutuskan untuk menemani Arisa dulu, sampai Hokuto datang. Arisa mengangguk, menyesap coklat hangatnya dengan salah tingkah, “Hokuto orang baik, dia pasti bisa membahagiakanmu,” sambung Taiga, dan kata-kata itu sukses membuat Arisa memandanginya dengan kaget.

“Soal itu… maafkan aku,”

Taiga menggeleng, “Sepertinya aku justru yang harusnya minta maaf, berlaku seperti orang jahat dan kadang membuat kalian tidak nyaman,”

Arisa tersenyum, “Jadi, kita masih teman, kan?” Taiga mengangguk sebagai jawabannya.

***

Suara audio masih bergema di dalam mobil itu, ini baru saja pukul sembilan, bahkan masih pagi kalau kata orang-orang. Untuk Sora ini adalah waktunya pulang kerja, dan bagi orang yang duduk tepat di sebelahnya, ini adalah waktunya ia pulang ke rumah setelah berlatih. Mobil itu tidak bergerak, kedua orang di dalam juga sama heningnya, hanya lagu-lagu yang terputar dari playlist mobil yang membuat suasana sedikit riuh.

“Bagaimana latihanmu?” basa-basi memang. Tapi setidaknya ia harus mencairkan suasana yang sejak tadi membeku karena baik dirinya atau Taiga tidak ada yang mau memulai percakapan.

“Lancar-lancar saja,” jawab Taiga, sama-sama canggung, ia bahkan tak berani melirik ke arah Sora. Detik demi detik berlalu tanpa ada satupun yang mau melanjutkan percakapan ini, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, “Kenapa kabur?” akhirnya Taiga bersuara juga, ia menoleh ke arah Sora, dan wanita itu ternyata sedang memperhatikan dirinya.

“Menurutmu kenapa?”

“Sora, aku butuh jawaban kenapa sekarang kamu malah balik nanya?!” Taiga mengacak rambutnya, frustasi.

Bukannya mengasihani Taiga, wanita itu malah asyik menertawakan Taiga, “Aku bingung. Sesaat kemarin saat aku bangun dan mendapati dirimu memelukku, itu membingungkan. Aku selalu menganggapmu sebagai adik, tidak lebih, sampai….”

“Sampai…?” Taiga masih menatap wajah Sora dengan intens.

“Sampai aku tau kalau aku sudah lama menatapmu lebih dari adikku, dan itu, jujur saja, membuat diriku sempat kebingungan, apalagi sadar atau tidak sadar, kau mengatakan kata cinta…”

“Aku sadar sepenuhnya saat mengatakannya! Kita tidak sedang mabuk, Sora!”

“Okay, okay, aku mengerti!” Sora mencoba menenangkan pemuda itu. Tanpa aba-aba Taiga mematikan audio mobil, menarik bahu Sora untuk menghadap kepadanya.

“Kau mau aku mengatakannya lagi?”

Sebenarnya Sora tak ingin tertawa, tapi ini membuatnya geli, kenapa Taiga tiba-tiba serius begini, “Sebentar, sebelum apapun yang mau kau katakan, aku mau mengatakan sesuatu dulu,”

“Uhmm?” Taiga terdiam.

“Aku mengakhirinya hari ini dengan Murata-san,” ucap Sora.

“Hah?” Taiga tidak mengharapkan kata-kata itu sehingga jujur saja ia benar-benar shock, “Kenapa? Maksudku… Karena apa?”

“Karena sejujurnya hal ini sudah kupikirkan sejak lama, dan saat kau memberitahuku soal keluarganya… aku bohong kalau aku tidak tau Murata-san berbohong, kami sudah bersama selama setahun dan kalau dia memang benar mencintaiku bukankah dia seharusnya meninggalkan istrinya sejak dulu, tapi… itu hanya janji. Itu hanya selalu janji kosongnya, dan kemarin… aku seperti ditampar kenyataan bahwa itu tidak akan pernah terjadi, dia tidak akan pernah memilihku. Jadi, aku memilih untuk mundur,” jelas Sora, “Aku memikirkan bagaimana rasanya menjadi istri Murata-san, dan aku langsung muak pada diriku sendiri,”

“Sora-chan…” suara Taiga terdengar lirih.

“Aku ini selingkuhan orang, Taiga, kau punya pilihan lebih banyak daripada bersamaku,” ucap Sora, ia menyentuh tangan Taiga.

Taiga menggeleng, “Kurasa aku tidak punya pilihan lain,”

“Untuk sekarang… hidupmu masih panjang…”

“Berhenti melihatku sebagai anak kecil! Aku sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku! Dan aku mau dirimu!” suara Taiga meninggi, “Ada alasan lain untuk menolakku?”

Mulut Sora terkunci, dia tak punya alasan lain yang lebih masuk akal. Tidak ada. Sesungguhnya dia pun tau egois sekali langsung berlari ke pelukan Taiga saat hatinya masih terluka oleh Murata-san.

“Hmmm?” Taiga menatap mata Sora.

“Aku belum sampai dua puluh empat jam patah hati, Taiga!”

“Memangnya aku peduli? Kau akan jatuh cinta padaku, aku bisa pastikan itu!”

Sora menggeleng, keras kepala sekali pemuda dihadapannya ini, “Okay, kalau begitu buktikan padaku, bisa?”

Taiga mengangguk, “Tentu saja, siapa takut?” pemuda itu menarik tubuh Sora, mendaratkan ciuman intens di bibir Sora.

“Taiga!” Sora hampir berteriak setelah berhasil melepaskan diri dari Taiga, “Jangan menyerangku secara mendadak terus!!” protesnya, menahan bahu Taiga, “Dan ini tempat umum!!”

***

THE END~

Makasih buat A3 yang meminjamkan charanya dan special Aika yang membolehkan saya buat sequel gaje ini… komennya ditunggu…

THANK YOU SO MUCH

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s