[Multichapter] Kareshi Gacha part 6 -END-

 

KARESHI GACHA

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Romance, Comedy, fantasy
Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke (HSJ); Koizumi Arina (OC)

Desclimer: inspirited by Oniichan Gacha

Untitled-1

~Ignition – Hey!Say!JUMP~

Yamada meletakkan piring terakhir diatas meja makan. Untuk kesekian kalinya dia melirik ke pintu kamar Arina yang tidak terbuka sejak semalam. Setelah pulang dari bertemu nenek Osawa, Arina langsung mengurung dirinya dan sama sekali tidak keluar.

Sejujurnya inilah hal yang ditakuti olehnya. Hari dimana Arina mengetahui semuanya. Dari awal dia sudah ingin menjaga jarak dari gadis itu, sehingga Arina tidak akan merasakan terluka saat mereka berpisah nantinya. Tapi entah mengapa semakin dia mencoba menjauh, justru mereka semakin dekat. Meski tidak terkatakan, tapi reaksi yang Arina berikan semalam sudah menjelaskan semua, semuanya yang dirasakan oleh gadis itu tentangnya.

Yamada mengacak rambutnya dengan frustasi. Sungguh, dia bingung ingin melakukan apa sekarang. Bagaimana caranya untuk menghibur gadis itu.

Sibuk berpikir, tiba-tiba pintu kamar gadis itu terbuka. Arina masih mengenakan bajunya semalam, namun wajahnya terlihat berantakan.

“Ricchan…” panggil Yamada.

Arina mengangkat kepalanya dan tersenyum lemah. “A-aku akan cuci muka dulu.” Serunya.

Setelahnya gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi. Yamada memutuskan untuk duduk menunggu gadis itu di meja makan.

Tak lama kemudian Arina sudah terlihat lebih rapi dengan rambutnya yang diikat, berjalan ke meja makan dan duduk di tempat yang sudah disediakan oleh pemuda itu. Keduanya makan dalam diam. Sesekali Yamada melirik untuk melihat wajah Arina. Meski gadis itu tidak mengatakan apa-apa, namun Yamada melihat mata gadis itu terlihat bengkak. Menangiskah dia semalaman?

“Ryo…” panggil Arina tiba-tiba.

“E… ehm?” jawab Yamada.

“Adakah yang ingin kau lakukan?” tanya gadis itu.

“Eh?” jujur pemuda itu bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan gadis itu padanya.

“Apakah ada tempat yang ingin kau kunjungi? Hal-hal yang ingin kau lakukan? Makanan yang sangat ingin kau makan? Benda-benda yang ingin kau beli? Apa saja… ayo kita lakukan bersama.” kata gadis itu.

Yamada menatap lurus ke mata gadis itu. Arina menatapnya dengan tatapan yang berharap. Pemuda itu tersenyum tulus ditempatnya.

“Kemanapun?”

“Kemanapun.”

“Apapun?”

“Apapun.”

“Hanya kita berdua?”

“Hanya kita berdua.”

“Walaupun aku memintamu melakukan hal-hal yang akan melanggar batas prinsipmu sendiri? Melakukan sesuatu yang tidak pantas?” tanya pemuda itu sambil menyipitkan matanya.

Arina mengangguk, “Jika itu yang kau inginkan. Jika itu dirimu…”

Yamada menghela nafas panjang. Tangannya terulur mengelus lembut puncak kepala Arina. Gadis itu tertunduk, berusahan menahan emosinya sendiri yang ingin meledak.

“Baiklah…” putus Yamada kemudian. Arina mengangkat kepalanya memandang pemuda itu. Yamada tersenyum lembut padanya, “Kita akan melakukan hal-hal yang kau inginkan, pergi ketempat-tempat yang ingin kau datangi, dan bersenang-senang!” katanya.

“Eh? Yang aku inginkan? Bukan yang kau inginkan?” tanya Arina heran.

“Tempat yang ingin aku datangi adalah tempat-tempat yang ingin kau datangi, dan yang aku inginkan adalah menghabiskan waktuku denganmu. Benda-benda yang aku ingin beli adalah benda-benda yang bisa membuatmu tersenyum lebar saat menerimanya.” kata Yamada lagi.

Arina menggigit bibirnya sendiri, rasanya pertahanan diri yang susah payah dia bangun kini dengan mudahnya diruntuhkan oleh pemuda di hadapannya ini. Bulir-bulir bening itu kembali turun dengan derasnya di pipi gadis itu. Yamada bangkit dari duduknya dan menghampiri gadis di hadapannya ini, merengkuhnya erat dalam pelukannya. Satu tangannya mengelus lembut kepala gadis itu, berusaha menenangkan pundak yang bergetar itu.

Satu kalimat, tiga kata.

Ingin sekali di ucapkannya, namun semuanya kembali tertelan di tenggorokannya.

Keduanya berpikir, untuk apa mereka mengatakannya kalau hanya akan ada sakit yang mereka tinggalkan setelah ini. Biarlah tetap seperti ini. Maka segera luka itu akan terobati.

 

*****

 

(xxxxxxxx)

Di sebuah bangku taman di sebuah rumah sakit besar, seorang wanita tua sedang duduk sambil mengamati orang-orang yang terlihat sibuk keluar-masuk pintu rumah sakit tersebut. Wanita itu tersenyum sambil melihat kearah bintang-bintang dilangit yang berkelip dengan sangat cerah diatas sana.

“Ara.. ara… s-se-perti-nya se-ben-tar l-la-gi…” seru nenek itu.

Tepat setelah itu sebuah ambulance datang diiringi suara sirine nya bising. Beberapa petugas terlihat keluar dari pintu masuk ruang emergency membawa bankar dari dalam. Pintu mobil ambulance itu terbuka dan beberapa petugas sibuk memindahkan sebuah tubuh berlumuran darah. Beberapa petugas kemudian membawa tubuh itu masuk ke dalam.

Tepat setelah itu, sebuah mobil hitam mewah datang dan berhenti di samping ambulance tersebut. Sepasang suami-istri terlihat keluar dari mobil tersebut. Sang suami terlihat memeluk sang istri yang terus-terusan menangis. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam ruang emergency tadi.

Nenek itu kemudian bangkit dari posisinya, lalu berjalan mendekati ambulance tersebut. Nenek itu menghampiri seorang pemuda dengan kemeja biru laut dan celana kain hitam. Pemuda itu hanya berdiri memandang ruang emergency itu dalam diam.

“A-anak m-mu-da,” seru si nenek, mampu membuat pemuda itu sedikit terkejut di tempatnya.

“N-ne-nek?!”

Nenek itu tersenyum lalu mengisyaratkan pada pemuda itu untuk mengikutinya dari sana. Awalnya pemuda itu terlihat ragu untuk mengikutinya, namun nenek itu terlihat memaksa dan meyakinkan dirinya bahwa dia tidak bermaksud apa-apa. Akhirnya pemuda itu bersedia untuk ikut bersamanya.

Mereka berjalan cukup jauh dari rumah sakit itu, hingga tiba di sebuah rumah yang terlihat reot, jauh dari pemukiman. Si pemuda terlihat ragu untuk mengikuti si nenek masuk kesana. Namun si nenek terlihat memaksanya dan mau tidak mau pemuda itu mengikuti nenek itu masuk.

“Nenek bisa melihatku?” tanya pemuda itu langsung setelah sampai di dalam.

Si nenek masih diam. Terlihat mengambil sebuah tongkat di samping perampian dapur, untuk meletakkan sebuah ceret di atas perapian tersebut. merebusnya.

“Nek, kau tidak ingin menjawabnya?” tanya pemuda itu lagi.

“Tidak sabaran sekali,” kata si nenek.

Pemuda itu mengerucutkan bibirnya dan memilih untuk diam. Menunggu si nenek selesai melakukan apapun itu yang sedang di lakukannya. Nenek itu ternyata sedang menjerang air untuk membuat sepoci teh. Tidak lama kemudian si nenek terlihat mengangkat kembali ceret tersebut dari atas perapian, mengambil sebuah kain dan menuangkan isinya kedalam poci yang sudah dia isi dengan daun teh. Nenek itu meletakkan dua cangkir teh ke atas meja lalu menuangkan isi poci ke dalam cangkir tersebut. Menggeser satu kearah pemuda tadi dan menyesap yang satunya sendiri.

“Ittadakimasu…” meski terlihat sedikit ragu, pemuda itu mengambil cangkirnya sendiri, kemudian menyesap teh tersebut.

“Jadi anak muda… apakah tubuh yang yang dibawa masuk ke ruang emergency tadi adalah tubuhmu?” tanya nenek tersebut dengan suaranya yang terbata.

Pemuda itu terlihat sedikit menegang dan mengerjapkan matanya heran.

“Jadi nenek memang tau bahwa aku bukan manusia lagi?” pemuda itu malah balik bertanya.

Nenek itu tersenyum semakin lebar, “Kau manusia, tapi tanpa tubuh fanamu.” kata nenek itu.

“Jadi aku hantu gentayangan?” tanya pemuda itu lagi.

Nenek itu tertawa kecil di tempatnya. Pemuda itu bergedik saat mendengar suara tawa nenek itu yang baginya sangat mengerikan. Terdengar seperti tawa penyihir-penyihir yang sering di tontonnya waktu kecil.

“Boleh ku tau kenapa kau jadi seperti ini?” tanya si nenek.

Sedikit ragu, pemuda itu mulai bercerita. “Aku sedang pulang kerja saat tidak sengaja melihat seorang wanita di ganggu para preman. Lalu tanpa sadar aku membantunya untuk kabur, menyuruhnya lari dari sana sementara aku sendiri berusaha menghalangi para preman itu. Naas sekali aku dihajar habis-habisan, kepalaku di pukul dengan tongkat besi, setelah itu aku tiba-tiba saja aku melihat tubuhku sendiri tergeletak tidak sadarkan diri, bersimbahkan darah di tempat itu.”

“Mulia sekali perbuatanmu anak muda,” seru si nenek.

Pemuda itu berdecak kesal, “Andai ku tahu kalau menyelamatkannya membuat naas di diriku, pasti tidak akan ku tolong. Padahal hari ini ulang tahun ibuku, pasti kabar tentang diriku menjadi kado terburuk sepanjang hidupnya!”

Nenek itu tersenyum penuh arti, “Apa kau menyesal dengan perbuatanmu?” tanyanya.

Mendengar pertanyaan si nenek, pemuda itu terdiam beberapa saat. Terlihat berpikir sebelum akhirnya dia menggeleng pelan.

“Tidak juga, setidaknya aku bisa menolong seseorang. Mungkin ibu akan bangga padaku nanti. Mengorbankan diri membela kebenaran, terdengar keren bukan?” kata pemuda itu dengan nada bangga.

Nenek itu masih tersenyum dan mengangguk di tempatnya. Kemudian beliau menatap lurus pada pemuda itu, terlihat serius.

“Apa kau ingin ku berikan kesempatan untuk hidup kedua?” tanya nenek itu.

Pemuda itu terlihat menyerit, “Ha? Maksudnya?”

“Hidup lagi anak muda, kembali memiliki tubuh dan berkeliaran sesukamu di bumi ini,”

“Tapi nek, aku kan belum mati. Meski aku tidak tau kenapa bisa keluar dari tubuhku, tapi aku masih mendengar detak jantung di tubuhku saat ku periksa tadi,” kata pemuda itu lagi.

“Jadi kau menolaknya?” tanya nenek itu.

“Haaa? Maksud nenek apa? Apa menurut nenek aku sudah mati?”

Nenek itu hanya tersenyum lalu menghela nafasnya, “Baiklah kalau kau menolak, kau bisa pergi setelah tehmu habis.”

“Eh! Tunggu sebentar!” tahan pemuda itu, “Kalau menurut nenek aku memang sudah mati disana, dan nenek bisa memberikan aku kesempatan kedua untuk hidup, aku ingin menerimanya. Lagipula ku pikir belum saatnya aku mati sekarang, aku hanya sedang sial saja bertemu dengan preman seperti itu.” seru si pemuda.

“Jadi kau menerimanya?” tanya nenek itu lagi. Pemuda itu mengangguk.

“Meski aku belum bilang kau akan hidup seperti apa dan berapa lama?” tanya si nenek.

Si pemuda menyerit bingung, terlihat berpikir. Lalu… “Baiklah, aku akan menerimanya.” jawab pemuda itu.

“Baiklah anak muda, panggil aku nenek Osawa.” kata nenek itu kemudian.

Si nenek tersenyum lebar. Kemudian dia membawa si pemuda masuk semakin dalam ke gubuk miliknya. Masuk melalui sebuah pintu lain yang ternyata membawa mereka ke ruang bawah tanah. Di bawah, sana si nenek menghidupkan pencahayaan dan terlihatlah sebuah ruangan besar dengan sebuah lingkaran sihir di tengah-tengah ruangan. Nenek itu meminta si pemuda berdiri tepat di tengah-tengah lingkaran itu. Meski awalnya ragu, namun pemuda itu terlihat melangkah ke tengah-tengah lingkaran dengan sangat hati-hati.

“Nah, dengarlah anak muda,” seru nenek itu masih dengan nada yang belum berubah, terdengar bergetar dan terbata, “Kau akan kuubah menjadi sebuah gacha dan suatu saat akan di aktifkan oleh seseorang. Kau akan menjadi tergantung dengan orang yang mengaktifkanmu, termasuk dalam memperoleh energi untukmu sendiri. Waktumu untuk hidup setelah kau diaktifkan nanti adalah 40 hari, mengerti?”

Pemuda itu mendadak gelagapan di tempatnya, “H-hei! Nenek! Kenapa baru kau katakan sekarang?! Dasar nenek licik!”

Protes pemuda itu teredam saat si nenek mulai membacakan mantra dan tiba-tiba tubuh pemuda itu mulai diselubungi selimut transparan yang perlahan semakin tebal, memutih, dan memerangkap tubuhnya disana.

In offer begelaat mei opjochtens sil betelle wurde op kosten fan gefoel. Akseptearje dat ferlern siel yn freed en jouwe in twadde libben binner ornearre” (pengorbanan yang disertai dengan ketulusan hati akan dibayar dengan perasaan yang di korbankan. Terimalah jiwa tersesat ini dalam kedamaian dan berikan kehidupan kedua yang di takdirkan)

Selubung itu semakin erat membungkus tubuh si pemuda hingga benar-benar tidak terlihat, sebuah cahaya yang berpendar terang beberapa saat sebelum menghilang. Meninggalkan sebuah benda berbentuk bola di tengah-tengah lingkaran tersebut.

Nenek itu berjalan perlahat mendekati bola tersebut. Membungkukkan badannya semakin dalam untuk mengambil bola tersebut menyimpannya kedalam saku di jubahnya sebelum pergi dari sana. Melangkah kembali ke pintu dan naik ke gubuk miliknya.

 

*****

 

Di suatu tempat di pesisir pantai Okinawa. Suasana senja ditemani dengan deburan ombak seperti berebut untuk tiba di pinggir pantai. Meski masih di bulan Januari, tetapi udara di Okinawa sedikit menghangat dan sesekali di temani dengan hujan. Namun, udara hari ini terasa hangat, mendukung dua orang yang terlihat berjalan-jalan di tepi pantai tersebut, tidak mengeluarkan suara sama sekali, menikmati kesunyian yang menemani mereka.

Tak terasa tujuh hari telah berlalu sejak terakhir keduanya bertemu dengan wanita tua tersebut. Yamada memilih untuk berhenti dari pekerjaan, begitu juga dengan Arina yang meminta cuti dari penerbit tempatnya bekerja. Mereka berdua memilih untuk menghabiskan waktu bersama, melakukan hal-hal menyenangkan seperti yang mereka katakan.

Mengunjungi taman bermain, makan di restaurant italia yang sangat di inginkan pemuda itu saat pertama kali dia melihat dunia luar, dan yang terakhir sudah hari kedua mereka menghabiskan waktu di Okinawa. Okinawa yang sebenarnya sangat indah saat dikunjungi pada musim panas, tetapi mereka memilih untuk mengunjunginya di musim dingin seperti sekarang.

“Apa yang kau pikirkan?” tanya Yamada pada gadis disampingnya.

Arina menggeleng dan mengeratkan tautannya pada tangan pemuda itu. Yamada menghela mendesah dan memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi.

Sejak hari itu Arina sedikit berubah, lebih kalem, tidak banyak bicara dan lebih banyak tersenyum. Lebih daripada itu Arina terlihat tidak ingin berada terlalu jauh dari pemuda itu.

“Ryosuke, kau bahagia?” tanya Arina tiba-tiba.

Yamada kembali mengalihkan pandangannya pada Arina, gadis itu juga sedang memandangnya, memandang setiap inci dari wajahnya.

“Kenapa bertanya seperti itu?” Yamada balik bertanya.

“Katanya jiwa-jiwa yang berkeliaran setelah kematian mereka akan menjadi roh jahat karena tidak ditenangkan. Orang-orang yang memiliki penyesalan saat hidupnya yang lebih banyak berakhir menjadi roh-roh jahat. Aku tidak tau kau akan menghilang secepat itu, aku tidak ingin kau memiliki penyesalan semasa hidupmu,” ucap Arina.

Yamada tersenyum hangat dan mengeratkan genggamannya. Hatinya terasa sangat hangat mendengar kata-kata penuh kepedulian dari gadis itu.

“Aku tidak tau sudah berapa lama sejak aku di ubah nenek Osawa menjadi gacha, jadi aku juga tidak tau dimana dan apa yang sedang dilakukan orangtua ku saat ini. Aku juga tidak merasa ingin mencari tau, dan menjadi larut dengan penyesalanku sendiri nantinya. Jika nyatanya saat itu aku sudah mati dan ini memang kesempatan keduaku untuk menikmati hidup, maka biarlah begini. Semakin serakah aku maka semakin banyak penyesalanku,”

“Kalau begitu jangan merasa menyesal,” seru Arina.

Gadis itu mendekatkan dirinya pada Yamada lalu memeluk pemuda itu. Untuk sesaat Yamada hanya berdiam diri karena tidak menyangka akan pelukan yang tiba-tiba tersebut, namun pemuda itu langsung mengangkat tangannya dan membalas pelukan tersebut.

“Kau tau,” kata Yamada, “ini adalah pertama kalinya kau yang memelukku lebih dulu.” katanya sembari tersenyum geli. Arina menyembunyikan wajahnya lebih dalam di ceruk leher Yamada.

Gadis itu kemudian berbicara dengan sangat pelan, “Maaf karena tidak melakukannya lebih awal,”

“Kenapa harus minta maaf, kau tidak bersalah,”

Arina tersenyum tipis, kemudian membuka suaranya, “Kau tau, beberapa hari ini aku jadi teringat dengan peristiwa yang menimpaku hampir dua tahun yang lalu.” gadis itu lalu menjauhkan sedikit dirinya.

Keduanya lalu duduk di pasir pantai sambil melihat matahari yang perlahan turun di ufuk barat sana. Arina kembali melanjutkan ceritanya.

“Dua tahun yang lalu, di satu malam musim dingin, aku pulang dari tempat ku bekerja waktu itu sangat malam sekali. Lalu aku di ganggu sekumpulan pria dan hampir saja nyawaku tidak selamat. Lalu tiba-tiba ada seorang malaikat datang menyelamatkanku. Dia menyuruhku pergi dari sana dan mulai melawan orang-orang itu sendirian. Aku memang berlari dari sana namun segera memanggil polisi terdekat. Saat aku tiba lagi disana, dia sudah tak sadarkan diri dan sedang di bawa menggunakan ambulance. Tapi, pria-pria itu berhasil di amankan dan terakhir yang ku dengar, mereka di hukum dengan berat dengan kasus penganiayaan.”

Arina mengalihkan tatapan sejenak pada Yamada yang hanya diam memandangnya. Gadis itu tersenyum lagi dan kembali beralih menatap lurus kearah pantai. “Satu penyesalanku adalah aku tidak tau dia di rawat di rumah sakit mana saat itu. Aku ingin berterima kasih padanya. Ku harap setelah itu dia baik-baik saja dan sekarang sedang hidup bahagia di suatu tempat.”

Yamada masih diam ditempatnya, sedangkan Arina kembali memandang pemuda itu sambil tersenyum tipis. “Maaf jadi menceritakan hal-hal yang tidak enak di dengar,” katanya.

Tiba-tiba Yamada meraih gadis itu kembali dalam pelukannya, mendekapnya erat.

“Eh? Ryosuke?” tanya Arina.

“Terima kasih, Ricchan… terima kasih kau masih selamat sampai sekarang,” kata pemuda itu tiba-tiba.

Arina menyerit bingung sesaat kemudian tertawa geli. “Ada apa dengan ucapan terima kasih itu,” ucapnya.

Yamada ingin sekali mengatakan kalau dia adalah pemuda yang ditemuinya saat itu, namun lidahnya kelu untuk berucap. Dia tidak ingin apa yang nanti dikatakannya membuat gadis di dekapannya ini sedih. Itu tidak diharapkannya. Dia ingin mereka berpisah dengan senyuman, bukan dengan tangis kesedihan.

“Ryosuke, mataharinya sudah terbenam” ucap Arina.

Yamada ikut memandang lurus kearah lautan di depan sana, dimana langitnya sudah mulai menggelap. Diikuti dengan awan kelabu yang sudah mulai menghiasi langit diatas sana. Kesalahan besar memang menikmati pantai Okinawa di saat seperti ini.

“Arina, mulai sekarang jangan lupa makan ya. Jangan karena deadline terjemahanmu, kau jadi mengabaikan kesehatanmu sendiri. Juga jangan bekerja terlalu larut, tidurlah di kamar bukan tidur sembarang di ruang tengah. Punggungmu bisa sakit kalau kau biasakan seperti itu,” Arina mengangkat kepalanya mendengar ucapan pemuda itu padanya. Matanya menatap menyelidik lurus ke mata Yamada yang juga membalas tatapannya.

“Ryo…” desis gadis itu.

Yamada membenarkan helaian rambut Arina dan menyelipkannya ke belakang telinganya. Tepat saat itu rintik hujan mulai turun. Membiaskan air mata yang entah sejak kapan mulai turun di pipi gadis itu.

“Tidak, jangan menangis. Aku tidak ingin mengakhirinya dengan tangisan,” kata pemuda itu.

Arina menggeleng kuat, “Bukan air mata. Ini air hujan.”

Yamada tersenyum lembut. Rintik hujan semakin deras mengguyur mereka. Langit di ufuk barat sudah semakin gelap dan hanya menyisakan bias-bias jingga saja.

“Aku ingin bersikap egois dan mengatakan tidak ingin pergi, tapi apa boleh buat waktuku sudah habis,” ucap pemuda itu getir.

Arina memandang lurus ke mata Yamada, “Aku tau aku akan terlihat seperti gadis munafik setelah ini, namun aku ingin satu hal ini kuberikan padamu. Hanya ini saja, aku ingin hanya kau yang memilikinya.” Yamada diam di tempatnya ketika secara perlahan Arina menyandarkan wajahnya ke depan, sejurus kemudian bibirnya sudah mendarat di bibir pemuda itu. Menahannya untuk beberapa detik sebelum dia melepaskannya kembali.

Yamada tersenyum tipis, kini giliran pemuda itu yang menyandarkan tubuhnya pada Arina lalu mengecup lembut pelipis gadis itu.

Tepat saat itu selubung tipis mulai menyelimuti pemuda itu. Keduanya tau bahwa ini adalah saatnya. Sudah saatnya mereka mengakhiri dongeng kontemporer ini. Sudah saatnya kehidupan kembali ke tempatnya. Dan sebuah mimpi memang harus diakhiri.

“Aku tidak akan melupakanmu, terima kasih sudah mau datang dan menjadi bagian dari hidupku. Maafkan sikapku padamu di awal,” Arina mulai terisak di tempatnya. Namun dia sama sekali tidak ingin mengalihkan pandangannya dari sosok Yamada yang sudah hampir tertelan selimut bening itu.

“Jangan menangis, aku ingin melihat kau tersenyum,” ucap pemuda itu.

Arina mengangguk cepat, mengatur nafasnya sendiri dan mengulaskan sebuah senyuman. Selubung itu semakin menebal membungkus tubuh itu semakin erat, dan ketika cahayanya bersinar dengan terang dan menghilang setelahnya, sosok pemuda itu sudah tidak ada lagi.

Arina tidak mampu lagi membendung air matanya saat melihat sebuah gacha, persis seperti yang di dapatkannya 40 hari yang lalu. Gadis itu maju dan memungutnya lalu mendekap benda itu di dadanya. Masih menangis ditempatnya. Menyesali dirinya yang tidak mampu mengatakan dan mengucapkan apa-apa, mengatakan bagaimana dia menyayangi pemuda itu, namun semua sudah terlambat. Mencintai seseorang yang sudah pasti tidak bisa kau dapatkan memang sangat menyakitkan”

 

*****

 

*Arina POV*

2 tahun kemudian.

Aku memasukkan pakaian terakhirku ke dalam koper lalu menguncinya. Lalu aku duduk di atas tempat tidur yang sprei nya sudah dibuka dan di masukkan ke dalam kotak entah mana yang berada di tumpukan kotak-kotak lainnya di sekitarku saat ini.

Aku akan pindah apartemen. Bertepatan dengan mendapatkan promosi jabatan ke kantor pusat sebagai asisten penerjemah senior. Untuk menghemat waktu aku memilih untuk pindah ke apartemen yang lebih dekat dengan kantorku yang sekarang.

Tiba-tiba pintu kamarku di buka dan muncul sosok kesukaanku.

“Mommy Naaaa~” seru seorang gadis kecil berusia setahun dan baru saja bisa berbicara beberapa bulan yang lalu.

“Hai princess favorite mommy, kemari dan berikan mommy ciuman,” aku menggendong gadis kecil itu dan dia langsung memberikan ciuman di pipi dengan bunyi ‘muah’ keras saat dia melepaskannya.

“Sudah mama bilang jangan berlari seperti itu, bagaimana kalau kau menabrak barang-barang penting sayang,” tiba-tiba sosok Miharu sudah masuk ke dalam kamar.

Sosok gadis kecil tadi sudah diambil alih oleh Miharu dari gendonganku. Aku tersenyum sambil mengelus rambutnya yang mendadak cemberut dan protes dengan lucunya pada mamanya, Miharu.

“Kau datang juga?” tanyaku.

“Tentu saja, kau perlu orang untuk membantumu untuk pindahan bukan. Aku sudah membawa agen pindahan untuk membantumu mengangkat semuanya, mereka ada bersama Kei di luar.” Jawabnya.

“Ku kira kalian yang akan membantu mengangkat barang-barangnya,” tanyaku dengan nada jahil.

“Ck.. aku harus mengurus anak nakal ini, sedangkan papanya jangan di harap. Staminanya hanya tahan untuk olahraga ranjang dibanding disuruh angkat beban,” aku tertawa keras mendengar keluhan Miharu tentang suaminya, Kei.

Kedua sahabatku ini akhirnya memutuskan untuk menikah setelah mendapat kabar kehamilan Miharu hampir setahun yang lalu. Mereka sudah menjadi keluarga kecil yang bahagia sekarang.

Ku ajak Miharu keluar sambil menggeret koper besarku. Menghampiri Inoo yang sedang berbicara dengan beberapa petugas pindahan yang sudah mulai mengeluarkan barang-barang. Aku membantu sambil mengintruksikan petugas-petugas tersebut. Hingga barang terakhir dimasukkan ke dalam truk pindah. Aku ikut ke dalam mobilnya Inoo, mereka benar-benar mengantarku sampai ke apartemenku yang baru.

Setengah hari itu kami habiskan waktu untuk menata ulang apartemen baruku. Meski malam sudah beranjak, namun beres-beres itu baru selesai setengahnya saja. Saat ini aku membaringkan tubuhku yang terasa sangat lelah di tempat tidur. Sesaat ku pandangi langit-langit kamar ku dalam diam.

“Sudah dua tahun kah…” gumamku.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat sejak hari itu. Tidak seharipun juga aku melupakan sosok yang pernah singgah selama 40 hari itu. Tiba-tiba saja aku teringat belum mengabarkan tentang kepindahanku ini pada niichanku. Buru-buru ku ambil ponsel dan mengetikkan pesan padanya. Setelah menekan tombol sent, ku matikan lampu kecil di nakas tempat tidur. Membuka laci atas nakas itu dan mengambil sebuah benda berbentuk bundar yang selalu ku simpan disana.

Gacha.

Benda itu tidak pernah lagi berubah meski malam itu sudah ku coba kembali memasukkannya ke dalam air hangat. Benda itu tetap menjadi sebuah benda biasa. Aku menghela nafas panjang sambil mengelus pelan kalung pendulum di leherku. Terdiam sesaat dan menghela nafas lagi dengan keras. Mungkin sudah saatnya aku berhenti mengingat masa laluku. Aku sudah tinggal di apartemen yang baru, pekerjaan di kantor yang baru, dan akan bertemu dengan orang-orang baru juga. Sudah saatnya aku move on dari bayangan orang itu.

Akhirnya ku letakkan kembali gacha itu dalam laci nakas. Membungkus tubuhku sendiri dengan selimut, lalu memejamkan mata.

*Arina POV end*

 

*****

 

~EPILOG~

Arina berjalan mengikuti seorang wanita yang menjabat sebagai supervisor tempatnya bekerja. Wanita itu mengantarkan Arina untuk mengenalkan diri ke masing-masing departemen yang ada di kantor pusat sembari menjelaskan nama-nama departemen tersebut serta fungsinya.

Tur singkat itu berakhir satu jam kemudian saat gadis itu kembali ke mejanya sendiri. Namun baru saja dia duduk disana, seseorang memanggilnya untuk bersiap mengikuti rapat perencanaan awal bulan.

Gadis itu langsung menyiapkan kira-kira apa saja yang dia butuhkan lalu berjalan ke ruang rapat. Arina sudah duduk di salah satu kursi yang disiapkan untuknya, tepat disamping kepala bagian departemennya sendiri. Lalu tidak lama kemudian pimpinan kantor masuk beserta sekretarisnya.

Arina mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, untuk sekedar memberi salam seperti karyawan yang lain.

Tetapi, alangkah terkejutnya gadis itu saat dia melihat dengan jelas wajah pria yang duduk di kursi direktur di depan sana. Pria itu tersenyum sambil menjawab salam dan mempersilahkan semuanya kembali duduk.

Hingga kedua netranya bertumbukan dengan netra pria itu. Pria itu terlihat terkejut sesaat namun segera menguasai dirinya sendiri, hingga tidak ada yang mengetahui.

Namun tidak dengan Arina, gadis itu merasakan dadanya sangat sesak. Sosok di depan itu adalah sosok yang selama ini selalu dia rindukan. Sosok yang tidak pernah dia lupakan selama dua tahun ini.

“Ryosuke…” bisiknya.

 

*****

END (14 Februari 2017)

// kesan-kesan //

Hai, otsukaresama deshita… akhirnya fanfic satu ini tamat juga =”)

setelah berjuang mengumpulkan mood, inspirasi, tekad yang kuat… dan juga semangat /serius bukan bermaksud lebay, tapi kenyataan emang gitu =””””/ akhirnya yah akhirnya…

sejujurnya… kalo bikin multichapter itu… selain capek di bagian konflik, saia juga rada bego disuruh bikin Ending hahahahaha =”D

terima kasih buat yang udah ngikutin, setia membaca, meski sepi komentar… entah emang gak ada kritik dan saran, atau emang males ngomentar saking bagusnya =D /idung kembang kempis /plaaaaakkk/ atau justru gak ada yang baca hahahahaha…

sampai jumpa di fanfic selanjutnya :*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s