[Multichapter] Kareshi Gacha part 5

KARESHI GACHA

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Romance, Comedy, fantasy
Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke (HSJ); Koizumi Arina (OC)

 

Desclimer: inspirited by Onichan Gacha

Untitled-1

Arina berjalan menyusuri jalanan pertokoan itu sambil melihat sekeliling. Tidak terasa sudah sebulan lebih gadis itu tinggal bersama seorang pemuda, meski bukan pemuda secara umumnya, ya tetap saja sosoknya memang seorang pemuda. Terkadang gadis itu bertanya-tanya tentang permainan takdir yang sedang menimpanya.

Sebulan yang lalu dia hanya seorang gadis yang memiliki keberuntungan buruk untuk berhubungan dengan pria. Semua hubungan yang dibangunnya, entah kenapa selalu gagal berkembang. Setelah dipikir-pikir, letak kesalahan memang ada padanya.

Gadis  itu membenci kontak fisik dalam bentuk apapun yang intens. Mungkin dia akan dipandang sebagai makhluk alien karena berpacaran namun tidak suka di sentuh, di cium, bahkan melakukan hubungan panas seperti pasangan pada umumnya. Sudah pasti tidak akan ada yang tahan dengan prinsipnya.

Tapi, dengan cepat pula takdir mempermainkannya. Prinsip yang selama ini di pertahankannya mati-matian, goyah begitu saja dengan kemunculan sesosok makhluk aneh yang berubah dari gacha. Sosok yang berlawanan jenis dengan dirinya itu bisa dengan mudah memeluknya, menggandeng tangannya, seakan-akan prinsipnya bukan apa-apa.

Sebenarnya dia bisa saja menolak untuk melepas prinsipnya. Lagipula siapa dia. Hanya sosok aneh yang muncul dari sebuah gacha, mengganggu hidupnya. Kalau dia mau, dia bisa menendangnya keluar waktu malam bersalju itu. Namun entah kenapa apa yang dilakukannya selalu berlawanan dengan pikirannya sendiri.

Ingin abai namun memperhatikan.

Ingin acuh namun tak tega.

Ingin sekali rasanya dia mengutuk sikapnya sendiri yang terkadang sulit untuk tegas dengan situasi yang terjadi.

Arina kini berhenti di depan sebuah family restaurant. Gadis itu memandang kedalam tempat itu dari balik kaca yang membatasi. Memandang lurus ke dalam, ke sosok seorang pemuda yang saat ini bertindak sebagai pelayan dan sedang mengambil sebuah pesanan pelanggan. Mungkin merasa sedang di perhatikan, pemuda itu terlihat memandang sekeliling sejenak sebelum akhirnya pandangan mata mereka bertemu. Pemuda itu tersenyum lebar dan melambai dari tempatnya berdiri.

Tanpa sadar, tangan gadis itu ikut terangkat membalas lambaian itu dengan senyuman tipis. Namun saat sadar, buru-buru di turunkannya tangannya dan berbalik memandang kearah lain. Ada apa dengannya akhir-akhir ini.

“Ricchan…” Tiba-tiba pintu depan tempat itu terbuka saat seseorang memanggil namanya.

Arina berbalik dan mendapati sosok yang dari tadi pandangnya sudah berdiri tepat di depannya.

“Sedang apa disini?” tanya pemuda itu.

“Ah.. ehmm.. itu…” kenapa menadadak lidahnya kelu untuk berkata?

“Shift ku selesai sebentar lagi, mau menunggu sebentar?” tanya pemuda itu, masih dengan senyuman yang tidak lepas dari wajahnya.

Gadis itu tidak berkata apa-apa, mengikuti saja saat pemuda itu masuk kembali ke dalam family restaurant tersebut, lalu menghelanya duduk di salah satu meja yang kosong. Sembari pemuda itu kembali bekerja, Arina terus memperhatikan gerak-geriknya.

Hingga pemuda itu kembali masuk ke balik pintu ruangan khusus pegawai. Arina menopang dagunya di atas meja dengan tangan kanannya.

Kenapa langkah kakinya justru menuntunnya ketempat ini? Seolah itu adalah hal yang wajar dia lakukan. Padahal dia bisa menggunakan kesempatan itu untuk berjalan lurus kembali ke apartemennya. Siapa tau saat ini dia sedang berendam di dalam bak dengan air panas yang mampu melemaskan otot-ototnya yang sudah terasa sangat kaku. Lalu memasak makanan untuk di jejalkan ke perutnya sendiri. Duduk di depan televisi sambil menonton drama, acara musik, atau reality show biasa. Atau dia bisa tidur lebih cepat?

Intinya dia bisa melakukan banyak hal saat ini dibanding sekedar duduk di sudut sebuah family restaurant, memperhatikan orang-orang yang sedang menghabiskan waktunya sendiri, menunggu seorang pemuda yang bukan siapa-siapa baginya. Kenapa dia harus repot-repot melakukan hal ini?

“Maaf membuatmu lama menunggu,” sebuah suara menyadarkan gadis itu dari larutnya sendiri.

Gadis itu mengangkat kepalanya memandang satu sosok pemuda yang menatapnya dan tersenyum tulus. Sebuah senyuman yang entah kenapa akhir-akhir ini memberikan sensasi lain dalam dirinya hanya dengan melihatnya saja.

“Ricchan…” panggil pemuda itu lagi, dan Arina menyadari bahwa dirinya sedari tadi kembali hilang fokus dengan pikiran yang sudah kemana-mana.

“Ah… iya?” jawab gadis itu.

“Kau baik-baik saja?” tanya pemuda itu.

Arina menggeleng dan menyunggingkan sebuah senyuman tipis, “Pulang sekarang?”

Pemuda itu mengangguk, “Ayo pulang,” katanya.

Arina berjalan keluar lebih dulu, diikuti pemuda itu dibelakangnya. Angin musim dingin menerpa keduanya. Arina merapatkan mantelnya di tubuhnya untuk menyalurkan rasa hangat. Menggosok-gosokkan tangannya yang sudah berbalut dengan sarung tangan berwarna merah, kontras dengan syal abu-abu yang sedang dikenakannya.

“Dingin?” tanya pemuda itu.

Arina hanya mengangguk pelan. Pemuda itu tiba-tiba mengaitkan satu tangannya ke satu tangan Arina. Gadis itu hanya kaget mendapat perlakuan tiba-tiba seperti itu.

“Sebaiknya kita segera sampai dirumah, dilihat dari udaranya sepertinya akan turun salju malam ini” seru pemuda itu.

Tanpa persetujuan, pemuda itu sudah menarik Arina dari sana. Tanpa menyadari bahwa jantung gadis itu mendadak tidak bisa diajak kompromi dan justru berdetak cepat seenaknya sendiri.

“Ada apa denganku?” gumam gadis itu.

 

*****

 

*Yamada POV*

Aku mengikuti Arina berjalan memasuki apartemen miliknya. Langsung memakai sandal rumah yang biasa ku gunakan sebulanan ini. Arina sudah menyampirkan mantelnya di gantungan mantel dekat pintu lalu berjalan masuk ke dalam, tepatnya ke kamar mandi yang terletak tak jauh dari pintu masuk dan dapur. Aku memilih untuk duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi.

Sudah sebulan lebih aku merasakan hidup. Itu benar. Selama pertama kali aku merasakan hidup adalah pada malam bersalju di bulan desember. Dimana pertama kali aku bangun, berada di dalam kamar mandi tempat ini. Lalu disambut dengan suara jeritan dan sikap apatis dari Arina yang seperti apa ya namanya? Kalau tidak salah di televisi gejala seperti itu dinamakan alergi. Benar. Arina melihatku seperti melihat sesuatu yang akan membuatnya alergi. Bahkan gadis itu sempat meninggalkanku berjam-jam di luar saat sedang hujan salju. Dengan ancaman bahwa aku tidak boleh masuk.

Tapi setelah itu dia kembali menarikku masuk ke dalam, memberiku makan dan minuman hangat, bahkan memberiku nama. Yamada Ryosuke. Sejak saat itu aku merasa berubah dari sekedar sesuatu menjadi seseorang. Kedengarannya lucu sekali bukan? Tetapi aku tidak merasa begitu, karena kenyataannya aku hanyalah sebuah gacha ajaib.

Sebagai gacha aku tidak memiliki ingatan khusus tentang bagaimana aku dibuat. Hanya beberapa hal yang aku tau, tapi aku sendiri tidak mengerti aku bisa tau itu dari mana.

Aku tau aku sebuah gacha, dan kata temannya Arina aku memiliki tattoo dengan 7 bintang di punggungku. Aku sebuah gacha dengan jenis Kareshi Gacha, atau gacha kekasih. Seharusnya aku diaktifkan dengan tugas menjadi kekasih pemilikku. Tapi mengingat yang mengaktifkanku adalah seseorang seperti Arina, aku tidak berharap banyak. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu mengembalikanku. Tapi aku sedikit bersyukur dia tidak membuangku begitu saja.

Selanjutnya caraku bertahan hidup. Aku mendapatkan energi dari pemilikku dengan cara melakukan kontak fisik dengannya. Seperti berpelukan atau berpegangan tangan. Aku tidak tau kenapa caranya harus seperti itu. Tapi kalau di pikir-pikir, karena aku Kareshi Gacha, bukankah wajar jika pasangan melakukan kontak fisik seperti itu?

Bicara tentang kontak fisik, entah kenapa aku suka melihat reaksi yang Arina berikan saat aku meminta jatahku pertama kalinya. Gadis itu terlihat menggemaskan saat tidur, bahkan aku sendiri merasa tidak tahan untuk tidak memeluknya. Jadi pagi itu itu aku memeluknya saja beberapa saat dan dia sama sekali tidak bangun. Dia justru bangun saat tanpa sadar aku memandang wajah tidurnya yang menggemaskan itu. Lalu berteriak panik hingga jatuh dari tempat tidurnya, hahahaha… lucu sekali. Sejak saat itu aku sering mencuri kesempatan untuk memeluknya. Selain untuk mengambil asupan energiku, aku juga merasa terhibur dengan sikapnya. Sepertinya Arina memang membenci kontak fisik seperti itu, atau karena dia tidak suka di peluk tiba-tiba? Atau malah keduanya? Entahlah…

Tapi sikap Arina berubah sejak dia menitipkan aku di tempat temannya waktu itu. Aku tidak sadarkan diri dan saat aku bangun, yang ku temukan adalah dirinya yang tertidur sambil memelukku dengan wajah yang sangat kelelahan. Aku tau dia merawatku semalaman, dan aku merasakan perasaan yang aneh. Aku merasa senang dengan perhatiannya. Setelah saat itu dan dia mengetahui alasanku mendadak tidak sadarkan diri, dia tidak lagi protes saat aku memeluknya tiba-tiba. Bahkan Arina seperti selalu memenuhi kebutuhanku akhir-akhir ini.

Aku tidak ingin merepotkannya lebih dari ini sebenarnya, tapi aku bisa apa? Setelah aku mengajak bicara Inoo, temannya, dia mengusulkan aku untuk mengambil part time. Sejak itu aku membantu Arina dengan bekerja di sebuah Family Restaurant yang tidak jauh dari apartemen, hanya berjarak beberapa blok saja. Terkadang Arina menjemputku saat pulang, seperti malam ini.  Dia tiba-tiba saja sudah berada di depan tempatku bekerja, melihatku, namun terlihat larut dalam pikirannya sendiri.

Dan lagi……

Apakah hanya perasaanku saja? tapi sejak saat itu, meski bukan memberikan sikap heboh dan horror saat ku peluk, sikapnya berubah menjadi lebih menarik lagi.

Tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan menghentikan segala aktifitasnya. Terkadang sampai berkeringat dingin. Lalu aku mendengar detak jantungnya yang lebih cepat dari biasanya. Lalu wajahnya yang mendadak memerah. Tatapan matanya yang lebih senang menghindar daripada melihat kearahku. Menurutku, sikapnya yang seperti ini LEBIH MENGGEMASKAN!!!

Hahahahaha…

Baiklah jika kalian menganggapku aneh. Tapi percayalah, saat dia mulai bersikap seperti itu, aku merasa tidak ingin melepaskan pelukanku selamanya.

Aku senang bersamanya. Aku ingin mengenalnya lebih dari ini. Apakah aku salah jika mengatakan hal seperti ini? Namun, saat aku mengingat kenyataan bahwa kami berbeda dunia, entah kenapa aku merasakan perasaan kecewa. Aku sadar bahwa aku bukanlah manusia, melainkan sebuah gacha yang suatu saat bisa di non-aktifkan, bahkan di kembalikan ke tempat asalku.

Berbicara soal asal. Darimana aku berasal ya? Siapa yang sudah menciptakanku?

“Ryo!” seru Arina yang langsung menyeretku dari lamunanku sendiri.

Kulihat gadis itu baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan bathrobe sembari menyeka rambutnya yang basah.

WOOOAAAAHH?! APA INI?!

“Ryo, kalau kau mau mandi kau bisa langsung saja. Aku berganti pakaian dulu baru menyiapkan makan malam,” katanya dengan santai.

“Ah… un. Baiklah,” kenapa aku mendadak gugup seperti ini.

Aku melihat Arina sedikit menyerit lalu berjalan menghampiriku. Gadis itu menyentuhkan punggung tangannya ke pelipisku. Aku mendadak merasa sulit untuk menelan ludahku sendiri. Tiba-tiba saja Arina mendekatkan pelipisnya di pelipisku sesaat setelah melepaskan tangannya. Aku merasakan air yang menetes dari helaian rambutnya.

WOOOOAAAHHH!!! AKU TIDAK BISA!!!

“A…a…apa y…ya…yang k..k..k..ka..uu l..l…la..ku..kan?” mendadak aku jadi kesulitan untuk berbicara.

“Kau tidak dingin. Apa kau butuh mengisi ulang tenagamu?” tanya gadis itu.

Aku hanya diam. Jujur aku tidak tau harus berkata apa saat ini.

“A…aku akan mengganti bajuku dulu. Setelah itu kau boleh untuk…” tiba-tiba saja Arina tidak lagi melanjutkan kata-katanya.

Aku mengerjapkan mataku, sedikit bingung karena melihat wajah Arina memerah. Sangat merah sampai telinganya. ‘eh? Tunggu! Apa ini?!’ pikirku panik.

“Ricchan…” panggilku.

“Kau boleh memelukku setelah ini, tapi aku akan ganti bajuku dulu,” katanya dengan cepat, sangat cepat sampai aku sendiri tertegun saat mendengarnya. Setelah itu Arina berbalik dan berjalan dengan cepat masuk ke kamarnya sendiri.

Aku masih mengerjap memandang tempatnya tadi menghilang. Seulas senyuman kini menghiasi wajahku sesaat setelah aku mencerna kata-katanya dengan sangat baik.

Memeluk?! Arina mengizinkanku untuk memeluknya?! Meski mengatakannya dengan sikapnya yang malu-malu dan langsung lari kabur begitu saja.

“Dia semakin menggemaskan saja,” gumamku sendiri.

*Yamada POV end*

 

*****

 

“Ricchan, sepertinya bahan-bahan makanan sudah hampir habis.” seru Yamada saat memeriksa kulkas.

Arina yang saat itu sibuk mengetik di ruang tengah, mengalihkan pandangannya dan beranjak dari tempatnya. Menghampiri Yamada ikut memeriksa isi kulkasnya.

“Benar juga, aku lupa belanja minggu lalu,” gumam gadis itu.

“Belanja sekarang saja. Aku temani!” ucap Yamada.

Arina memandang pemuda itu dan mengangguk. “Baiklah, aku tukar baju dulu,” katanya lalu beranjak ke kamar.

Beberapa saat kemudian keduanya sudah berjalan bersisian menuju supermarket. Salju tebal terlihat menutupi seluruh jalan. Arina merapatkan mantelnya karena udara dingin malam itu. Namun gadis itu tidak mengeluh. Dia suka musim dingin. Apalagi suasana malam di tambah dengan gemerlap lampu-lampu hias di seluruh penjuru kota.

“Indahnyaaaa…” gumam gadis itu sambil melihat sekeliling.

Yamada yang berjalan di sisinya tersenyum melihat wajah sumringah Arina. “Benar, indah sekali…” gumamnya sedikit keras.

“Kau lihat apa?” seperti sadar bahwa perhatian Yamada tidak sama dengannya, gadis itu bertanya.

“Melihat pemandangan yang indah,” jawab pemuda itu kalem.

Arina menyipitkan matanya memandang pemuda itu, namun Yamada terkekeh lalu merangkul pundah Arina, membuat gadis itu ganti membulatkan matanya terkejut.

“Apa yang kau lakukan? Ini di tempat umum!” kata gadis itu.

“Tapi aku dingin,” seru Yamada singkat.

Arina mengatupkan bibirnya, memikirkan sesuatu yang berbeda dengan yang Yamada pikirkan dalam konteks dingin. Arina akhirnya membiarkan saja dirinya berjalan perlahan sambil dirangkul pemuda itu. Melihat tidak ada protes yang dilontarkan, mampu mengukir sebuah kuluman senyum di bibir Yamada. Dia senang dengan kenyataan bahwa gadis di sisinya kini tidak keberatan dirangkul olehnya.

Tidak lama kemudian keduanya sudah tiba di supermarket. Yamada mengambil sebuah trolley dan berjalan mengikuti Arina yang berada di depannya, mengambil beberapa barang dari rak dan memasukkannya kedalam trolley. Orang-orang yang melihat pasti akan mengira mereka sebagai pasangan muda. Yah mungkin begitulah yang mereka kira dengan tatapan-tatapan yang mereka lontarkan. Anehnya, baik Arina maupun Yamada tidak terlihat risih dan masih terlihat sibuk memilih belanjaan mereka.

Saat keduanya sedang memilah makanan beku, dan terlihat ribut untuk membeli nugget jenis apa, tiba-tiba sebuah suara memanggil Arina.

“Arina,” gadis itu langsung mengalihkan pandangan ke si pemanggil karena mengira orang itu memanggilnya. Seketika tubuhnya menegang saat mengenali sosok itu.

“A-Asato…kun?” desis gadis itu.

Pemuda yang dipanggil Asato itu tersenyum, “Senang bertemu denganmu lagi disini. Kau sedang berbelanja?” tanyanya dengan santai.

“U-un… begitulah. Kau sendiri?” entah kenapa Arina merasakan sesak dan perasaan tidak enak.

“Aku kesini dengan kekasihku. Dia sedang di bagian bumbu dapur di sebelah sana, sebentar lagi dia akan kesini.” kata pemuda itu dengan ringan.

“Hem.. begitu” balas Arina sedikit basa-basi. Demi tuhan dia ingin pergi dari sana segera.

“Ricchan, siapa?” sebuah suara menyentak Arina begitu juga saat orang itu melingkarkan tangannya di pundak Arina. Menyadari bahwa sedari tadi gadis itu sangat tegang dan merasa tidak enak berada disana.

“Ah, dia…” namun sudah di potong oleh pemuda di depannya itu.

“Namaku Asato Yuya, mantan pacarnya Arina!” kata pemuda itu sambil mengulurkan tangannya dan disambut dengan Yamada, “Aku Yamada Ryosuke,” balasnya singkat.

Asato menarik sebelah sudut bibirnya memandang Arina. “Kau berubah ya sekarang,” seru pemuda itu.

Arina diam saja, tidak mengerti dari maksud kata-katanya. Namun seperti mengerti, pemuda itu lalu melanjutkan.

“Dulu kau sering sekali marah saat aku tiba-tiba menyentuhmu. Kau selalu mengingatkanku untuk minta ijin untuk melakukan skinship biasa padamu, tapi sekarang sepertinya kau tidak masalah dirangkul olehnya. Kau berubah banyak,” serunya.

“Ah.. itu.. karena… bukan seperti yang kau pikirkan… hanya…” Arina menggigit bibirnya. Bingung dengan situasi seperti ini, ingin dia menjelaskan namun pasti pemuda itu tidak akan percaya dan dia kembali akan di tuduh mengada-ada. Gadis itu hanya bisa menunduk, bingung.

“Tidak perlu. Aku mengerti Arina. Kau tidak sepenuhnya menyukaiku dulu, bukan? Karena itu sepertinya keputusanku minta putus darimu adalah pilihan yang tepat.” kata pemuda itu.

Yamada melepaskan rangkulannya pada Arina lalu memandang lurus pada pemuda itu, raut ketidaksukaan terlihat sangat jelas di wajahnya.

“Hei, jangan asal tuduh bung. Kau berkata seolah-olah Arina yang salah disini. Kau tidak mengerti bagaimana jika berada di posisinya? Kau berkata seolah kau mengerti apa saja yang sedang dialami olehnya!” cecar Yamada. Terlihat sekali dia seperti tersulut emosi. Pemuda itu lalu menarik Arina dari sana dan mendorong trolley belanjaan mereka, “Ayo Arina!” katanya.

Yamada segera membayar belanjaan mereka dan membawa Arina segera keluar dari tempat itu. Tidak jauh, tiba-tiba saja Yamada melepaskan tautan tangan mereka. Membuat gadis itu kaget dan semakin kaget saat Yamada tiba-tiba saja berbalik lalu membungkuk di hadapannya.

“Ricchan, maafkan aku!” kata pemuda itu.

“E-eh?”

“Karena aku tiba-tiba merangkulmu begitu, pemuda tadi sampai mengatakan yang tidak-tidak padamu. Maafkan aku. Lain kali tidak akan ku ulangi, aku tidak akan merangkul bahkan memelukmu lagi di tempat umum. Benar-benar, maafkan aku!” ucap pemuda itu.

Arina menghela nafas lalu berjalan perlahan mendekati pemuda itu dan mengangkat posisi tubuhnya agar tegak memandangnya. Saat mata mereka bertemu, Arina tersenyum. Sebuah senyuman tulus. Memandang lurus ke manik mata di depannya.

“Arigatou, Ryosuke. Terima kasih karena membelaku seperti tadi. Tidak perlu minta maaf karena tidak ada yang salah dalam hal ini. Kalaupun ada, itu adalah salahku dan prinsip kolotku yang selalu aku terapkan saat aku berpacaran. Atau juga mungkin karena aku masih kurang selektif dalam memilih pria. Tapi yang jelas kau tidak salah sama sekali,” kata gadis itu.

Arina melihat ke sekeliling dan mendapati sebuah bangku lalu mengajak Yamada untuk duduk disana. Pemuda itu kini ganti diam dan menurut saja saat Arina menghela duduk di bangku tersebut lalu mengambil tempat di sebelahnya.

“Jadi, pemuda tadi itu Asato Yuya, dia mantan pacarku yang putus musim panas lalu. Dia yang meminta putus dariku dengan alasan tidak tahan dengan prinsipku yang sama sekali tidak ingin disentuh.” Kata Arina mulai bercerita, “Kau tau, di kampung halaman ku, aku memiliki seorang tetangga. Seorang perempuan yang lebih tua empat tahun dariku. Tetapi dia sering pulang larut malam diantar oleh pacarnya. Aku sering melihat mereka sampai berciuman sangat panas di depan rumah. Hingga suatu ketika, dia pulang dan mengabarkan bahwa dia hamil di luar nikah. Lebih parah lagi, kekasihnya pergi meninggalkan dia. Tetanggaku itu depresi dan sering mencoba bunuh diri. Hingga anaknya lahir, anak itu cacat dan dia sama sekali tidak mempedulikan anak itu. Tetanggaku itu sekarang harus menghabiskan waktunya di rumah sakit jiwa sampai saat ini.

Karena itulah, aku sedikit menghindari kontak fisik yang berlebihan ketika berpacaran. Melihat keluarga tetanggaku yang hancur, menimbulkan ketakutan tersendiri di dalam diriku.” akhir Arina.

Di tempatnya Yamada hanya diam mendengarkan cerita gadis itu. Satu tangannya terulur mengelus puncak kepala Arina dengan lembut.

“Aku tidak tau benar apa tidak terus menjaga prinsipku seperti itu. Aku sendiri berpikir apa aku terlalu egois dengan terus bersikap seperti itu?” kata Arina lagi dengan menunduk.

“Uun…” seru Yamada, “Kau tidak salah. Menurutku bagus memiliki sebuah prinsip dan bisa bertahan terus percaya dan menjaga prinsipmu. Setidaknya kau juga membuktikan bahwa pria-pria itu yang tidak serius mendekatimu. Kalau dia memang serius, tulus sayang dan cinta, dia pasti akan menghargai dirimu, bukannya malah memaksa. Justru mereka yang egois,”

Arina mengangkat kepalanya dan memandang kearah Yamada. Tersenyum tulus sekali lagi. “Terima kasih,” ucap gadis itu.

Sesaat keduanya diam dan saling menikmati keheningan yang menemani mereka. Hingga hembusan angin malam yang semakin dingin menyadarkan mereka kalau malam semakin larut. Sudah saatnya mereka kembali.

“Ayo pulang!” ajak Arina sambil beranjak dari tempatnya. Namun gadis itu mengulurkan satu tangannya pada Yamada.

Pemuda itu menatap uluran tangan itu dan Arina secara bergantian, “Tidak apa-apa?” tanyanya sedikit ragu.

Arina tersenyum sembari mengangguk, “Hanya bergandengan. Kau tidak suka dingin bukan?” katanya.

Yamada tersenyum dan menyambut uluran tangan tersebut. Keduanya kembali berjalan bersisian, namun tiba-tiba saja tatapan mata Arina tertuju pada satu titik yang berada tidak jauh dari tempat mereka. Gadis itu melebarkan matanya, mengenali orang yang sedang berjualan aksesoris disana. Itu nenek yang sama yang memberinya gacha dulu.

Arina segera menarik Yamada mempercepat langkahnya menghampiri nenek tersebut.

“Nenek!” seru Arina setelah mereka berdiri tepat berada di hadapan wanita tua tersebut.

Wanita itu mengangkat kepalanya dan tersenyum memandang kearah Arina. “Ara… no-na, y-yang w-wak-tu i-tu…” seru wanita itu terbata.

“Nenek masih mengenaliku? Syukurlah…” ucap gadis itu.

Pandangan nenek itu beralih pada sosok pemuda yang sedari tadi hanya diam di belakang Arina. Wanita itu tersenyum ramah.

“S-senang b-ber-temu d-dengan-mu l-lagi…” katanya.

“Apa kabar nenek Osawa,” sapa Yamada dengan sopan.

Arina menyerit bingung melihat interaksi mereka berdua. Gadis itu menatap Yamada dan wanita tua itu secara bergantian.

“Kalian saling mengenal?” tanya Arina.

“T-ten-tu sa-ja…” jawab nenek itu masih tidak melepas senyum di wajahnya.

“Nenek, aku ingin bertanya tentang gacha yang nenek berikan waktu itu.” seru Arina lagi.

“Ara… ha-nya b-ber-ta-nya? ku-kira n-no-na i-ngin m-me-ngemba-likan-nya…” kata nenek itu telak.

Arina mendadak gelagapan sendiri. Tentu saja sejak sebulan yang lalu itu adalah keinginannya yang paling besar. Mengembalikan pemuda yang sedang berdiri di sampingnya ini, dan kembali ke kehidupan lamanya yang biasa. Tanpa gangguan. Tapi sekarang…

“N-no-na…” panggil nenek itu.

Arina menghela nafasnya setelah berdebat dengan dirinya sendiri, “Aku ingin bertanya tentang dia, pemuda yang keluar dari gacha yang nenek berikan waktu itu.” kata gadis itu yakin.

Wanita tua itu tersenyum dan mengangguk, “J-jadi… a-pa sa-ja y-yang i-ngin n-no-na k-ke-tahui?” tanya nenek itu lagi.

“Semuanya. Ceritakan semuanya tentang dia dan apa yang harus ku lakukan padanya? Ku mohon nek”

Wanita tua itu mengangguk, masih dengan suaranya yang terbata, dia menjelaskannya dengan sangat jelas.

“Gacha itu adalah gacha spesial. Sebuah gacha ajaib yang disebut Kareshi Gacha atau Gacha kekasih. Memiliki jiwa dan roh yang berasal dari roh manusia yang masih berkeliaran di bumi ini. Gacha ini spesial karena dia mampu menjelma menjadi sosok kekasih yang sesuai dengan kriteria yang diinginkan oleh yang mengaktifkannya.”

Nenek itu berhenti sesaat. Arina masih diam mendengarkan karena menduga nenek itu masih akan melanjutkan penjelasannya. Nenek itu mengalihkan pandangannya pada sosok Yamada yang terlihat menunduk dengan kaki sibuk memainkan pasir di bawah kakinya sendiri. Wanita itu kembali beralih memandang Arina yang masih menanti lanjutannya.

“Seperti kisah Cinderella dan keajaiban yang diterimanya, tidak ada keajaiban yang bertahan selamannya. Semua akan kembali ke asalnya cepat atau lambat. Setiap gacha hanya bisa berubah wujud satu kali kesempatan dan hanya bisa bertahan selama 40 hari sebelum dia kembali menjadi sebuah gacha biasa.”

Arina tertegun di tempatnya. Pikirannya masih mencoba mencerna penjelasan yang diberikan nenek itu padanya. Semuanya mulai dicernanya hingga kenyataan waktu hidup 40 hari bagi sosok pemuda yang masih berdiri disampingnya saat ini.

“H-hanya 40 hari? Tidak lebih dan tidak kurang?” Arina merutuki dirinya sendiri setelah melontarkan pertanyaan bodoh itu.

Nenek itu masih tersenyum dengan ramah kemudian mengangguk, “Roh makhluk hidup tidak selamanya bisa bertahan dalam wujud fana karena kenyataannya mereka sudah tak lagi berwujud. Kesempatan untuk menikmati hidup kembali selama 40 hari adalah sebuah hadiah yang tak ternilai harganya dari Yang Kuasa,” seru si nenek.

Tanpa sadar Arina mengeratkan genggaman tangannya pada sosok Yamada. Pemuda itu membalas genggaman itu, mengangkat wajahnya dan memandang Arina, menampilkan satu senyuman menenangkan untuk gadis itu. Tiba-tiba saja Arina langsung berpamitan dan melangkahkan kakinya dari sana. Meninggalkan sosok nenek itu begitu saja, terlihat kalut dan larut dengan pikirannya sendiri. Hingga mereka tiba kembali di apartemen, gadis itu langsung masuk kedalam kamarnya dan mengurung diri disana.

 

*****

 

*Arina POV*

40 hari…

40 hari…

Hanya 40 hari…

Kata-kata itu terus berulang di kepalaku bagai kaset rusak yang mengulang lagu yang sama. Kulihat kalender meja yang berada di nakas samping tempat tidurku. Jika benar gacha itu hanya bertahan selama 40 hari, maka waktu yang tersisa saat ini hanya tinggal 7 hari lagi. Hanya 7 hari lagi dan pemuda itu akan hilang selamanya. Aku akan kembali dengan kehidupan lamaku. Sendiri. Bebas. Tanpa gangguan. Tidak ada lagi orang yang tiba-tiba berada di tempat tidurku saat pagi hari, menatap wajah tidurku sambil tersenyum… aneh? Juga tidak akan ada lagi yang akan memeluk ku tiba-tiba. Tapi… entah kenapa aku merasakan dadanya sesak memikirkan semua itu.

Aku bingung dengan diriku sendiri. Bukankah ini yang selalu ku inginkan? Aku selalu ingin mengembalikannya pada nenek itu? Bukankah itu yang selalu aku katakan pada diriku selama sebulan lebih ini? Lalu ada apa denganku saat ini? Kenapa aku mendadak tidak rela? Kenapa rasanya ingin menangis?

“Apa… tanpa sadar… aku sudah jatuh padanya?” desisku, dan tanpa sempat di komando, bulir-bulir bening itu pun jatuh.

*****

TBC

(tinggal satu chapter lagi nih ending… hahahahaha)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s