[Oneshot] Crazy You

Crazy You
by. Fuchii & Aquina
Genre: AU, romance, slice of life
Rated: General
Cast: Inoo Kei (Hey! Say! JUMP), Kitayama Hiromitsu (Kis-my-ft2); Sato Miharu, Itou Akina (OC)
Disclaimer: Inoo & Hiromitsu are under Johnnys & Associates

HABEDE KAK VIA. PANJANG UMUR, SEHAT SELALU. SEMOGA MAKIN CINTA MATI SAMA INOO. JANGAN TERTIPU DENGAN MUKA MANIS OM-OM LAIN KAK. MAAFKAN KADONYA TELAT. MESKIPUN BERDUA TAPI OTAK TETEP DANGKAL DAN SERING WEBE (sesama yg sering WB pasti paham lah:’)) ENJOOOYYY~~~~

crazy-you

“Eh, lihat ada BEST!” seorang anak perempuan berteriak dengan suara melengking sambil menunjuk-nunjuk layar besar yang sedang menampilkan sebuah band yang sedang melakukan promosi untuk single baru mereka.

Kakkoiii~

“Lihat, Miharu, itu Inoo Kei!” Seorang gadis mengguncang bahu temannya yang terlihat tak peduli dengan layar besar itu. Miharu dengan ogah-ogahan melihat layar besar yang sedang menampilkan seorang pemuda kurus berambut cokelat.

“Pastikan kalian mendengar perasaan kami untuk kalian semua di lagu baru ini, dear.”

“Kyaaaa!” Seketika itu juga Miharu menutup kedua telinganya dengan tangannya. Menyelamatkan ketulian mendadak yang disebabkan oleh teriakan teman-temannya yang merupakan penggemar berat band yang baru saja debut beberapa bulan lalu.

Yappari, Inoo-kun benar-benar pandai merangkai kata-kata manis!”

“Benar-benar seperti pangeran!”

Miharu memutar bola matanya malas, “Itu kan kata-kata yang dia baca di shoujo manga Akina semalam,” Miharu masih ingat betul semalam Kei datang ke rumahnya dengan tujuan yang menurut Miharu merepotkan. Yaitu memasakkan bento untuk laki-laki itu karena dia bilang tak terlalu cocok dengan makanan yang disediakan di lokasi syuting video klip bandnya.

“Miharu~ masakkan bento untukku besok pagi.” Kei duduk dengan santai di sofa ruang tamu rumah Miharu.

Miharu yang baru saja membereskan makan malamnya mengernyit, “Kenapa aku harus masak untukmu? Bukannya di lokasi pasti disediakan makanan?”

“Aku tidak suka dengan makanannya. Ayolah, hanya besok saja. Paginya aku ada syuting video promosi untuk single baru dan lanjut syuting video klip…” Kei memaksa dengan nada manja yang cukup membuat Satou Miharu jengah. Bagaimana tidak? Kei dan Miharu adalah teman sejak kecil, rumah mereka bersebelahan. Miharu tahu betul sifat dan karakter Kei yang berbeda 180 derajat dari yang dia tampilkan di panggung atau televisi.

“Dengarkan perasaanku untukmu…” gumam Kei sambil membaca shoujo manga yang tergeletak di meja pendek.

“Itu bukan milikmu, Kei!”

 “Aku tahu, ini milik Akina, kan?” Jawabnya santai masih dengan membolak-balik halaman komik itu.

“Berhenti menyentuh barang yang bukan milikmu,” Miharu memperingatkan

“Miharu-nee, kau lihat komik baruku tidak?” Seorang gadis berhenti di tangga dan melongok ke bawah.

Kei menoleh, “Ah, Akina. Ini milikmu? Aku pinjam sebentar ya,” Kemudian ia kembali fokus membaca manga itu lagi.

Akina menghela napas, “Jangan sampai kusut. Aku baru setengah jalan membacanya,” Kemudian ia kembali naik menuju kamarnya di lantai dua.

 

“Ugh, aku yakin pasti mereka tidak akan jadi penggemar Kei jika jadi aku,” gerutu Miharu dalam hati.

“Eh, Miharu,” celetuk Sora sambil memegang lengan Miharu. “Kau bertetangga dengan Inoo-kun, kan? Bagaimana dia di rumah?”

Ekspresi wajah Miharu yang semula tenang kini berubah seketika, “Aku yakin kalian lebih baik tidak tahu…” jawabnya dengan senyum canggung yang dipaksakan.

“Eh, kenapa?” Miki, temannya yang lain, yang sedari tadi hanya diam mendengarkan kini juga ikut bertanya.

“Ya… soalnya…” Miharu memberi jeda pada kalimatnya sambil menatap wajah menodong kedua temannya itu—yang meski mereka tidak mengatakan, Miharu tahu kalau ia harus menjawab pertanyaan mereka—secara bergantian. Mencoba merangkai kata-kata yang tepat sebelum menjawab. Miharu memang tidak menyukai Kei, tapi dia tidak cukup jahat untuk mencoreng citra baik tetangganya itu di depan para penggemarnya. “…aku kan sudah sering bertemu dia, jadi… menurutku biasa saja,” jawabnya akhirnya diiringi senyum canggung.

“Wah… enaknya…” keluh Sora, “Aku juga mau dong jadi Miharu.”

“Iya, aku mau juga menggantikan Miharu.”

Mendengar rengekan kedua temannya itu, Miharu menampakkan senyum sarkasnya yang paling lebar, “Oh, tentu saja. Mari bertukar dengan senang hati.”

.

.

Langkah kaki Miharu menggema di koridor yang sudah nyaris kosong. Hanya ada beberapa orang yang lewat di sana. Maklum saja, hari sudah sore. Langit pun sudah berwarna kejinggaan.

“Miharu!”

Miharu menoleh ke sumber datangnya suara. Mendapati sesosok laki-laki berperawakan sedang tengah berlari ke arahnya. Rambutnya yang dicat coklat bergerak seiring irama kakinya mendekat ke arah Miharu. “Kau meninggalkan clear file-mu.”

Miharu terperanjat seiring sosok yang dikenalnya itu menyerahkan sebuah clear file berwarna merah kepadanya. Miharu menerimanya dengan wajah—yang ia yakin—sedikit terlihat bodoh karena mulutnya terbuka cukup lebar. “Te-terima kasih, Kitayama-senpai,” ucapnya dengan terbata-bata.

“Lain kali pastikan kau membawa semua barang-barangmu,” ucap sang senior menasehati. Hal itu tentu saja membuat Miharu sontak mengangguk dengan penuh semangat. Pasalnya, laki-laki yang tengah berdiri di hadapannya itu, Kitayama Hiromitsu, merupakan senior yang ia kagumi. Betapa tidak? Sering menjadi pembicaraan para dosen dan mahasiswa karena selalu berhasil meraih IP tertinggi di angkatannya dan didaulat menjadi asisten dosen. Meski begitu, ia masih menyempatkan diri untuk membantu para juniornya yang kesulitan mengerjakan tugas. Tidak terkecuali Miharu. Ditambah lagi, sifatnya yang ramah kepada semua orang membuat Miharu semakin jatuh hati padanya.

“Mau langsung pulang?” Tanya Hiromitsu sambil menatap Miharu.

Miharu yang salah tingkah, alih-alih menjawab terlebih dahulu, malah menyibakkan poninya ke samping, “Ah, begitulah… bagaimana dengan senpai?” tanyanya memberanikan diri.

“Masih ada yang harus kukerjakan. Kalau begitu, hati-hati ya!” Hiromitsu melambaikan tangannya pada Miharu sebelum berbalik kemudian meninggalkan Miharu sendirian melonjak kegirangan dan memegangi clear file-nya seolah benda itu berharga ratusan ribu yen. Tapi faktanya memang bagi Miharu benda yang selalu ia bawa setiap kuliah itu jadi bertambah nilainya karena baru saja dipegang oleh senior yang dikaguminya. “Padahal besok juga bisa, tapi mau repot-repot mengembalikannya padaku sekarang…”

Miharu yang tenggelam dalam kekagumannya akan Hiromitsu tak menyadari kalau ada sosok yang sudah mengintainya dari jauh dan kini berdiri di sebelahnya. “Oi,” seru sosok tersebut menepuk pundak Miharu. Cukup pelan tapi untuk Miharu yang jiwanya sedang melayang tentu saja cukup untuk membuat jantungnya mencelos, berteriak secara reflek dan menjatuhkan clear file yang sedang dipegangnya.

“Ah, kau ini…” desah Miharu kesal pada sosok tersebut—yang di luar dugaan merupakan sosok yang dikenalnya. “…mengagetkanku saja, Kei.”

“Siapa?” Tanya Kei singkat sementara Miharu memungut clear file-nya.

“Kitayama-senpai,” jawab Miharu sambil tersenyum sumringah. “Seniorku, dua tingkat lebih tinggi.”

“Ada urusan apa kau dengannya?”

Miharu tersenyum lebar, terlihat semburat merah di pipi putihnya, “Dia baru saja membantuku mengerjakan tugas.”

Kei mengangkat sebelah alisnya, “Membantu mengerjakan tugas?”

Miharu mengangguk cepat, senyumnya masih mengembang dengan sempurna. Ia mendekap clearfile-nya dengan erat, “Dia senpai yang sangat baik! Setiap semesternya IP nya selalu bagus. Dia juga asisten dosen. Belum lagi wajahnya yang…” Miharu menjeda kalimatnya karena sudah sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Kei masih berdiri mematung disana dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Kau suka padanya?” Tanya Kei dengan nada sarkas.

Miharu menoleh cepat, “Tentu saja! Perempuan mana yang tidak suka dengan laki-laki seperti dia? Tidak sepertimu yang hanya bisa merepotkanku saja.” Di ujung kalimatnya Miharu mencibir.

“Tsk,” Kei mendecih. “Kalau begitu jadian saja dengannya.”

Miharu mengernyit, tak biasanya Kei berkata sarkas seperti ini padanya. Apa dia sedang badmood? Atau mungkin pekerjaannya sedikit membuatnya lelah? Atau presentasinya hari ini tak berjalan baik?

“Ada apa denganmu? Kenapa galak sekali?” Tanya Miharu penasaran.

“Tidak,” Jawab Kei singkat kemudian berlalu meninggalkan Miharu dengan beribu pertanyaan di kepalanya.

.

.

Malamnya, setelah menyiapkan makan malam bersama adik perempuannya, Akina, Miharu duduk di kursinya. Masih sambil tersenyum-senyum layaknya orang yang sedang kasmaran. Kei juga ada disana. Ya, tetangganya itu memang sering ikut makan malam di kediaman keluarga Satou karena sering ditinggal orang tuanya bekerja ke luar kota dan hanya berdua saja di rumah dengan kakak perempuan yang tidak berguna—setidaknya begitu yang Kei bilang. Khusus hari ini, mereka cuma makan bertiga saja karena kedua orang tuanya sedang menghadiri pesta pernikahan rekan kerjanya dan kakak perempuannya pergi entah kemana.

Neechan dari tadi tersenyum-senyum sendiri,” komentar Akina begitu duduk di kursinya. “Sedang jatuh cinta memangnya?” tambahnya kemudian.

“Eh… memangnya aku terlihat seperti itu?” Tanya Miharu malu-malu sambil memegangi pipinya.

“Masih saja Kitayama-senpai itu?” Tanya Kei sinis. Pria berperawakan jangkung itu kini tengah duduk sambil menopang dagunya di meja. Terlihat jelas ekspresi kesal dalam wajahnya.

Wajah Miharu pun ikut berubah muram, “Kau ini kenapa sih dari tadi marah terus? Kalau lapar makan saja duluan sana.”

“Aku tidak kelaparan,” balas Kei dengan nada yang meninggi.

“Sudahlah kalian berdua,” gerutu Akina kesal sambil menaruh nasi banyak-banyak di mangkok Kei. “bertengkar saja sesudah makan dan ketika aku sudah kembali ke kamar.”

“Dia yang mulai duluan!” kata Miharu dan Kei bersamaan sambil menunjuk satu sama lain.

“Kalian kompak sekali,” komentar Akina sambil makan terlebih dahulu. Tidak terlalu ambil pusing dengan pertengkaran keduanya yang bisa saja terjadi lebih banyak dari jadwal makannya dalam sehari.

Ne, Akina,” Miharu menyenggol siku adiknya itu. “Tadi Kitayama-senpai membantuku mengerjakan tugas lagi.”

“Lalu?” Tanya Akina masih sambil makan dengan santai.

“Aku tidak sengaja meninggalkan clear file-ku lalu Kitayama-senpai repot-repot mengembalikannya padaku setelah selesai mengerjakan tugas…”

“Oh, kalau itu aku sudah tahu,” potong Akina.

“Eh?” kening Miharu berkerut karena terkejut dan bingung. “Padahal aku kan belum menceritakannya padamu…”

“Kei-nii yang memberitahuku.”

Kei kemudian menatap Akina dengan pandangan padahal-kan-sudah-kubilang-untuk-tutup-mulut-dari-Miharu begitu perempuan berambut sebahu itu menggedikkan kepalanya ke arah Kei dengan tidak peduli.

Kerutan di kening Miharu bertambah, “Kei..?”

“Dari tadi dia cerewet terus bertanya soal Kitayama-senpai karena Miharu-nee terus menyebut-nyebut namanya. Jadi ya kuberitahu saja. Lalu Kei-nii bercerita soal kejadian tadi sore.”

“Kau…” pandangan Miharu beralih ke arah Kei. “…untuk apa bertanya-tanya soal Kitayama-senpai segala pada Akina?” tanyanya dengan nada menyelidik.

Kei terlihat sedikit salah tingkah mendengar pertanyaan Miharu. Ia mengerucutkan bibirnya kemudian menggerakkan tubuhnya seolah tidak tenang tapi masih bisa mempertahankan ketegasan dalam suaranya, “Ya… soalnya mana ada senpai yang sampai memanggil nama begitu.”

“Memangnya kenapa?”

“Wah, mulai deh,” gumam Akina sambil memandangi keduanya bergantian. “Tau begitu aku menerima tawaran Risa untuk menginap di rumahnya saja.”

.

.

Senpai senpai… memang apa bagusnya dia? Tinggi juga tidak,” gerutu Kei begitu ia sudah pulang ke rumahnya sendiri dan masuk ke kamarnya. Ia melempar jaketnya ke kursi di depan meja belajar kemudian menghempaskan dirinya di kasur. “Masih lebih bagus juga aku.”

Kei kemudian bangkit dalam satu hentakan. Ia kemudian berjalan menuju cermin yang terpasang di dekat jendela lalu memandangi sosok dirinya. Inoo Kei, seorang keyboardist dari band beranggotakan lima orang bernama BEST, sebuah band bergenre techno-pop. Baru debut major beberapa bulan yang lalu memang. Tapi fans mereka sudah banyak sejak masa indie. Single major pertama mereka bahkan sering menduduki posisi tiga besar di chart lagu mingguan. Mereka juga sering diberitakan sebagai artis pendatang baru yang menjanjikan. Karena itu, kepopuleran Kei pun tidak diherankan lagi. Tidak sedikit orang-orang di jalanan berteriak memanggil namanya saat kebetulan sedang berpapasan di jalan.

“Bagaimana bisa Miharu bisa dekat dengan dia?” Gumam Kei masih sambil menatap pantulan dirinya di cermin. Tiba-tiba Kei mendapat suatu ide, senyumnya mengembang.

.

.

“Miharuuu~”

Teriakan melengking yang dikenal Miharu membuatnya harus membuka matanya. “Mau apa si artis itu datang ke sini pagi-pagi,” gerutu Miharu sambil merapikan rambutnya yang berantakan karena baru bangun tidur.

“Miharu!” Teriakan itu terdengar lagi. Miharu menggeram, kemudian ia segera turun dari kamarnya.

“Mau apa kau datang pagi-pagi buta begini, Kei?” Tanya Miharu masih dengan mengantuk. Kei tersenyum lebar, “Nanti siang temani aku mencari bahan untuk tugasku, ya. Hari ini kau cuma ada kelas pagi, kan?”

“Eh, tapi…” Sebelum Miharu mengajukan keberatannya, Kei sudah berlalu lebih dulu, “Aku harus berangkat pemotretan sekarang. Jaa ne!” Kemudian Kei pergi keluar rumah Miharu. Sedangkan Miharu hanya bisa mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia ada janji pada Hiromitsu siang nanti untuk belajar bersama seperti biasa.

Tak ada pilihan lain, Miharu harus membatalkan janjinya pada Hiromitsu. Karena entah kenapa Miharu ikut merasa bertanggung jawab jika Kei tak menyelesaikan tugasnya dengan baik. Mengingat orang tua Kei sendiri yang meminta langsung pada Miharu untuk membantu Kei jika ia mengalami kesulitan.

.

.

Anou senpai..” Miharu sengaja menemui Hiromitsu di perpustakaan, tempat senpai-nya menghabiskan waktunya untuk mengerjakan tugas akhir. Tempat Hiromitsu membantu Miharu mengerjakan tugasnya juga tempat bersejarah bagi Miharu karena merupakan pertama kalinya bertemu dan berkenalan dengan Hiromitsu beberapa bulan lalu.

Hiromitsu melepas kacamatanya dan menoleh pada Miharu, “Ada apa, Miharu? Ini belum waktu yang disepakati, kan?”

Miharu menggigit bibir bawahnya, merasa tak enak membatalkan janji secara mendadak pada senpai-nya. Belum lagi kalau Hiromitsu sampai marah padanya, karena mungkin saja Hiromitsu sudah bersedia meluangkan waktunya untuk mengajarinya, tapi Miharu malah tak menghargainya.

“Maaf, tapi sepertinya nanti siang aku tidak bisa kemari.. Ada urusan mendadak,” ucap Miharu sedikit cepat, takut jika ia terbata-bata, kata-kata itu tak akan keluar dari mulutnya.

Hiromitsu tersenyum, membuat Miharu salah tingkah melihatnya. “Sou ka.. Tidak apa-apa. Aku mengerti.” Katanya masih dengan tenang.

Miharu merasa lega karena Hiromitsu tak marah padanya. Namun di sisi lain, dirinya merasa semakin tak enak karena Hiromitsu sudah sangat baik padanya. Dengan cepat Miharu membungkuk dalam, “Terima kasih banyak, senpai..”

Hiromitsu mengangguk, “Bagaimana jika diganti besok setelah kau selesai kelas?”

“Bolehkah? Kalau begitu maaf merepotkan, senpai..” Dengan kegugupan yang sama, Miharu melihat Hiromitsu tersenyum padanya.

“Kalau begitu aku permisi dulu.” Miharu menunduk sopan dan segera berjalan keluar perpustakaan. Setelah berlari menuju perpustakaan seusai kelasnya tadi, kini ia harus bergegas menuju fakultas Kei.

.

.

“Kenapa lama sekali? Waktu adalah uang, kau tahu?!” Gerutu Kei pada Miharu yang masih baru saja sampai dengan napasnya yang tersengal-sengal. Miharu menatap pemuda jangkung itu dengan sinis, “Masih untung aku datang!’

“Darimana saja kau?” Tanya Kei penasaran. Miharu menyeka keringat di pelipisnya, “Aku harus membatalkan janjiku dengan Hiromitsu-senpai dulu. Awas saja kalau kau hanya bermain-main nanti sehingga waktu belajarku menjadi terbuang percuma.”

Kei menarik ujung bibirnya sedikit, menciptakan senyum tipis penuh kemenangan, “Tidak akan. Ayo, kita segera berangkat. Kau sudah membuang 10 menitku yang berharga,” Kemudian Kei berjalan mendahului Miharu menuju mobil yang diparkir tidak jauh dari posisi mereka berdiri. Yang Miharu kenali sebagai mobil orang tua Kei.

.

.

“Kenapa kesini?” Miharu memandang Kei dengan kening berkerut ketika Kei menghentikan mobilnya di depan sebuah distro.

“Tugasku kan bukan hanya tugas kuliah saja,” jawab Kei enteng kemudian mendahului Miharu turun dari mobil.

“Memangnya tugasmu yang lain itu apa, huh?” Tanya Miharu setelah menyusul Kei dan berjalan sejajar dengannya.

“Tampil baik di depan kamera tentunya,” jawab Kei dengan penuh percaya diri sambil memasang seringai mencibir. “Ayo, Miharu! Aku tidak bisa lama-lama berdiri di sini.”

Miharu menatap punggung yang berjalan mendahuluinya itu dengan pandangan tidak percaya. Mulutnya terbuka lebar, sudah siap untuk menyuarakan isi hatinya mengenai betapa ia menyesal sudah mau membantu Kei, betapa ia menyesal karena sudah mengorbankan jam belajarnya dengan Hiromitsu demi Kei. Tapi, karena itu Inoo Kei, Miharu—setelah menghela napas panjang—menahan diri. Ia tidak mau membuang-buang tenaganya untuk hal yang kemungkinan besar akan masuk dari telinga kanan dan keluar dari telinga kiri Kei. Menurutnya akan lebih bijak jika urusannya dengan Kei lebih cepat selesai sehingga ia bisa kembali belajar dengan tenang.

Na, Miharu. Menurutmu mana yang lebih cocok untukku?” Tanya Kei tanpa rasa bersalah ketika Miharu sudah menyusul ke dalam. Menyodorkan dua vest berbahan denim di depan muka Miharu, kemudian mencoba mencocokkan keduanya secara bergantian di depan cermin.

“Eh… menurutku yang kanan lebih cocok,” jawab Miharu sekenanya.

Sou? Menurutmu begitu?” Kei melihat ke arah Miharu sekilas sebelum kembali menatap cermin. “Tapi aku kan dianugerahi ketampanan dari Tuhan. Pasti pakai yang manapun cocok.”

Miharu kemudian hanya bisa melongo menatap Kei dengan pandangan lalu-untuk-apa-kau-bertanya.

Setelah lebih dari tiga puluh menit berada di dalam distro, Miharu akhirnya keluar bersama Kei sambil membawa empat tas kertas berisi belanjaan Kei.

“Selanjutnya temani aku cari sepatu.”

“Iya~” ucap Miharu malas kemudian berjalan mengikuti Kei dengan ogah-ogahan.

.

.

Dua minggu berlalu dan Miharu benar-benar tidak punya waktu untuk belajar bersama Hiromitsu. Selama itu juga Miharu menjadi asisten pribadi Kei untuk membantunya mengerjakan maket bangunan untuk tugasnya. Mulai dari mencari dan membeli bahan-bahannya, membantu memotong atau mengukur sesuai dengan instruksi Kei. Miharu tahu betul jika Kei harus mengerjakannya sendiri, itu tak akan selesai tepat waktu mengingat jadwal Kei sebagai artis yang sedang naik daun cukup padat.

Membantu Kei membuatnya tak punya waktu yang cukup untuk persiapan ujiannya. Mau tak mau Miharu harus merelakan jam tidurnya berkurang digunakan untuk belajar hingga larut malam. Kondisi badannya yang kelelahan membuatnya terserang demam. Ia tak bisa meliburkan diri dari kampus untuk beristirahat di rumah saja. Ia harus tetap masuk untuk persiapannya untuk ujian.

“Aku sedang tidak enak badan, aku tidak bisa menemanimu mengerjakan tugas hari ini. Miharu.”

Sebaris kalimat itu tertera di layar ponsel 5 inchi yang dipegang Kei. Ia mengernyit, sepertinya ia harus menjenguk Miharu sepulang dari kampus.

.

.

“Miharu, kau baik-baik saja?” Tanya Hiromitsu khawatir. Wajah Miharu terlihat sangat pucat. Mereka tengah berada di perpustakaan sekarang, akhirnya Miharu dapat bertemu dengan Hiromitsu untuk minta tolong mengajarinya. Miharu berusaha tersenyum, namun pandangannya sudah berkunang-kunang sekarang. Tadi pagi ia mengukur suhu badannya memang sudah 39 derajat. Sepertinya siang hari ini demamnya semakin tinggi.

“Miharu?” Hiromitsu berusaha menegur Miharu. Sedari tadi Miharu memang sudah tak terlalu fokus mendengarkan penjelasan Hiromitsu. Pemuda itu mengulurkan telapak tangannya, menyentuh kening Miharu.

“Kau demam tinggi!” Hiromitsu hampir berseru jika ia tak ingat di sini adalah perpustakaan.

Dengan segenap kekuatannya, Miharu berusaha menjawab, “Maaf senpai. Aku memang sedikit kelelahan…”

“Kita akhiri saja belajar hari ini. Kuantar kau ke klinik.” Ucap Hiromitsu sembari membereskan barang-barang miliknya dan barang Miharu. Miharu sudah terlalu lemas bahkan untuk membuka mata saja.

Setelah itu Hiromitsu membantu Miharu berdiri karena pemuda itu yakin jika Miharu tak akan sanggup berdiri apalagi berjalan sendiri. Dengan lembut Hiromitsu membantu Miharu berjalan keluar perpustakaan dan menuntunnya menuju klinik kampus.

Di saat itu pula, Kei yang baru saja akan pulang, tanpa sengaja melihat Miharu dan Hiromitsu di lorong. Kening Kei mengernyit, “Bukannya dia sedang sakit?” Tanpa pikir panjang, Kei berlari menghampiri mereka berdua.

“Miharu? Kenapa kau di sini bersamanya? Bukannya kau bilang tidak enak badan?” Kei melontarkan pertanyaan itu pada Miharu yang sudah setengah sadar. Kei bisa melihat wajah pucat Miharu dengan jelas saat ia berhenti tepat di hadapan mereka berdua.

Hiromitsu memandang Kei dengan bingung. Namun otaknya bekerja cepat dan mewakili Miharu untuk menjawab pertanyaan Kei, “Miharu sedang demam tinggi. Aku mau mengantarnya ke klinik sekarang.”

Kei menatap tajam tepat pada mata Hiromitsu, kemudian menyadari jika tangan Hiromitsu melingkar di bahu Miharu untuk membantu Miharu yang lemas. “Oh, kalau begitu biar kuantar dia pulang saja.” Kei berusaha mengambil alih memapah Miharu dari Hiromitsu.

“Sebaiknya bawa saja ke klinik dulu, demamnya sangat tinggi.” Hiromitsu enggan melepas tangannya dari Miharu, membuat Kei semakin kesal.

“Lebih baik segera kuantar dia pulang, senpai.” Kei menekankan nada sarkastik pada kata ‘senpai’-nya. “Aku yang lebih tahu Miharu dibanding dirimu.”

Hiromitsu mengalah pada Kei karena sekarang memang bukan waktunya untuk berdebat. Mengobati Miharu jauh lebih penting sekarang. Sementara Hiromitsu membawa barang-barang Miharu, Kei menggendong Miharu di punggungnya dan membawanya ke mobilnya yang ada di tempat parkir. Begitu tiba di sana, Hiromitsu dengan sigap membuka pintu belakang mobil Kei terlebih dahulu sehingga Kei bisa menidurkan Miharu di kursi belakang. Tapi entah karena panik atau apa, Begitu berada di depan roda kemudi, ia langsung mengendarai mobilnya meninggalkan halaman kampus tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Hiromitsu. Membuat laki-laki itu hanya bisa menghela napas karenanya. Yah, dia tidak mau berburuk sangka. Bagaimanapun juga, kesehatan Miharu yang terpenting untuk saat ini.

.

.

Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, Kei sama sekali tak mengganggu Miharu karena ia ingin Miharu beristirahat dengan baik. Ketika akhirnya akhir pekan tiba dan Kei tak punya jadwal untuk syuting ataupun pemotretan, pemuda jangkung itu berinisiatif untuk mengunjungi Miharu di rumahnya.

“Miharu ada di kamarnya. Tapi sepertinya masih ada temannya yang datang. Langsung naik saja ke atas,” Ucap Ibu Miharu pada Kei. Kei membalas dengan tersenyum dan segera menaiki tangga.

Tepat di depan pintu kamar Miharu, Kei mendengar suara yang dikenalnya. Bukan suara Miharu, tapi suara laki-laki.

Suki da yo…

DEG

Jantung Kei mencelos seketika. Itu suara Hiromitsu, senpai kebanggaan Miharu. Tangan Kei yang telah menyentuh knop pintu, tak bergerak memutarnya. Sebaliknya, ia malah melepaskan genggamannya. Meski begitu, ia tak beranjak dari tempatnya berdiri. Entah kenapa dia ingin mendengar kelanjutannya.

Setelah hening selama beberapa saat, akhirnya Miharu mulai bersuara, “Aku… juga menyukai senpai…

Saat mendengarnya, Kei langsung memutuskan untuk turun. Segera pamit pada Ibu Miharu dan pulang ke rumahnya. Sesampainya di kamarnya, Kei melemparkan tubuhnya ke kasurnya. Kemudian meninju bantalnya dengan penuh kebencian. Namun tak tahu pasti apakah ia berhak marah atau tidak. Selama ini dia selalu menjaga keberadaannya hanya sebatas orang yang dekat dengan Miharu. Ia selalu menampakkan dirinya sebagai orang yang peduli pada Miharu sebagai sebatas teman. Bahkan Miharu mungkin menganggapnya sebagai pembuat masalah karena Kei selalu berhasil membuatnya repot. Tak pernah sekali pun ia menunjukkan perasaannya yang sesungguhnya pada Miharu. Pantaskah ia marah karena kalah langkah dari senior idaman Miharu itu?

.

.

“Stop! Stop!” sela Yabu Kouta di tengah-tengah latihan BEST. Membuat para personil yang tadinya sedang serius memainkan alat musik masing-masing, jadi terhenti dan menatap sang leader yang balik memandangi mereka satu per satu kemudian terhenti pada sang keyboardist. “Kei, kau ini kenapa? Tempomu banyak yang ketinggalan. Lalu kenapa wajahmu masam begitu beberapa hari ini, huh?”

Belum sempat Kei menjawab pertanyaan Kouta yang pertama, vokalis merangkap gitaris di band-nya itu sudah menghujani Kei dengan pertanyaan lain. Kei yang mood-nya sedang tidak baik, menghela napas dalam kemudian menjawab pertanyaan tersebut ala kadarnya. “Soal tempoku yang terlambat, aku minta maaf. Tapi ini wajahku, terserah aku mau berekspresi seperti apa,” jawabnya sedikit ketus.

“Inoo-chandaijoubu?” tanya Arioka Daiki, sang DJ yang merangkap rapper, dengan nada khawatir.

Kei berdecak kesal kemudian berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan keempat rekannya—oh, khusus hari lima karena mereka kedatangan additional drummer baru yang akan membantu mereka dalam live yang akan diadakan dalam waktu dekat—di studio. Tak mempedulikan rekannya yang saling bertukar pandang dan saling berspekulasi mengenai apa yang sedang terjadi pada Kei.

.

.

Kei menghembuskan napas dalam-dalam. Mencoba membiarkan sedikit bebannya keluar bersama napasnya. Yah, setidaknya dia bisa bernapas sedikit lebih leluasa sekarang. Sedikit…

Lalu, saat Kei mulai menikmati kesendiriannya menikmati pemandangan kota dari atap gedung studio, benda dingin dan basah menempel di pipinya tiba-tiba. Membuatnya tersentak kaget dan reflek mengeluarkan kata-kata kasar.

“Yo, tegang sekali.” Kei mendapati Kouta tersenyum ketika ia menghadap ke arah sumber datangnya benda dingin tersebut. “Kau… mengagetkanku saja,” desah Kei kesal.

Kemudian Kouta memberikan minuman kaleng itu pada Kei dan menempatkan dirinya di sebelah Kei. “Sankyu,” Ucap Kei singkat dan membuka minuman dinginnya. Kouta meminum minuman dinginnya, “Kau kenapa? Ada masalah dengan kuliahmu?” Kei menggeleng pelan, “Aku… sedang menyukai seorang gadis… Tapi aku kalah dulu dengan orang lain, sehingga mereka jadian beberapa waktu lalu…”

“Gadis itu Miharu, ya?” Tembak Kouta langsung dengan senyum menggoda.

Kei terkejut bukan main, “Ha?! Kenapa dia? Memang tak ada gadis lain di dunia ini?” Kei membuang mukanya, menghindari tatapan mengejek dari Kouta.

Kouta memutar bola matanya malas, “Memang selama ini kau dekat dengan gadis mana lagi selain Miharu? Apa-apa Miharu, ini itu Miharu.”

Kei mengacak rambutnya frustasi, kemudian ia meninggikan nada suaranya, “Aku harus bagaimanaaaa? Aku suka padanya! Sekarang dia sudah jadi milik orang lain…” Rengek Kei dengan frustasi.

“Tumben kau mengaku kalah,” komentar Kouta santai tanpa melihat ke arah Kei.

“Hah?” Kei mengerutkan kening mendengar perkataan Kouta.

“Bukankah point dari seorang Inoo Kei itu adalah tidak mau kalah?” Kouta mengangkat alisnya sembari menjelaskan. “”

Kei terdiam, memikirkan kata-kata Kouta barusan. Benar juga, itu adalah point dari dirinya. “Lalu aku harus bagaimana?” Tanya Kei dengan bimbang. Nampaknya otak jeniusnya tak bisa berpikir dengan baik sekarang.

Kouta menghela napas besar, “Nyatakan cintamu padanya!”

“Tapi aku tidak mau jadi perusak hubungan orang, Kouta!” Kei mengusap kasar wajahnya. Kouta menyentil kening Kei sedikit keras, “Aku cuma bilang nyatakan cintamu, bukan merebutnya dari pacarnya.”

“Tapi…” Kei menggantung kalimatnya, ia mengusap keningnya yang sepertinya memerah sekarang. “Apa tidak terlambat? Apa tidak apa-apa?”

“Oh ayolah, Inoo Kei. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Aku tak mau kalau kau bisa-bisa menjadi arwah penasaran nanti.”

.

.

Hari-hari Miharu terasa lebih menyenangkan beberapa hari terakhir. Pasalnya, senior yang dulu hanya bisa ia kagumi dan berinteraksi sekedar sebagai tutor, kini adalah kekasihnya. Dengan senyum lebarnya ia melihat kekasihnya berjalan ke arahnya. Membawa nampan berisi makanan dan dua gelas minuman.

“Maaf menunggu lama,” Kata Hiromitsu dengan senyum lembutnya. Miharu menggeleng malu-malu, “Tidak apa-apa.” Kemudian Miharu mengambil semangkuk salad dengan wajah berbinar-binar.

“Kau sangat suka tomat, ya?” Tanya Hiromitsu sambil menyesap ice coffee nya karena Miharu memesan salad dengan esktra tomat. Miharu tersenyum, “Ini karena Kei sering mengajakku makan di sini. Dia selalu memesan salad ekstra tomat dengan ukuran besar. Kemudian berakhir ia tak menghabiskannya dan menyuruhku menghabiskannya. Aku jadi terbiasa memakannya di sini.”

Hiromitsu hanya ber-‘oh’ pelan kemudian kembali pada ice coffee-nya sambil memperhatikan Miharu yang menyantap makanannya dengan penuh suka cita. Ia kemudian mengambil piring berisi ayam dan kentang lalu mulai memakannya.

Miharu yang baru menyadari makanan yang dipesan Hiromitsu, memutuskan untuk menghentikan sementara aktifitas makannya. “Senpai…”

Hiromitsu berdeham memperingatkan, “Uhm, Miharu.”

“Ah, maaf senp—maksudku, H-Hiro-san…” ucap Miharu malu-malu sambil menundukkan pandangannya pada piring saladnya. Ia menebak-nebak kalau-kalau pipinya sudah semerah tomat di saladnya.

“Ya, ada apa Miharu?”

Pertanyaan Hiromitsu kemudian menyadarkan Miharu kembali sehingga ia mengangkat kepalanya dan menatap Hiromitsu, “Hiro-san… tidak pakai nasi?”

“Tidak. Aku lebih suka pakai kentang,” Hiromitsu menggeleng. “Memang kenapa?”

“Ah tidak,” Miharu menggeleng pelan. “Rasanya sedikit aneh melihatnya, karena Kei biasa makan memakai nasi putih.”

Hiromitsu kemudian terkekeh pelan, “Miharu sepertinya dekat sekali dengan Inoo, ya?!”

“Begitulah. Soalnya kami bertetangga sejak kecil dan sering bermain bersama. Dia juga selalu manja padaku meskipun dia lebih tua. Sering mengganggu dan membuatku repot dengan berbagai alasan. Minta tolong ini lah, itu lah. Tapi pada akhirnya itu semua hal yang bisa dia lakukan sendiri dan hanya membuang waktuku yang berharga,” Miharu nyerocos panjang lebar tentang Kei.

“Miharu suka dengan Inoo?” tanya Hiromitsu tiba-tiba. Membuat makanan yang ditelan Miharu yang seharusnya masuk ke kerongkongannya, hampir salah masuk ke tenggorokannya.

“Tentu saja tidak! Kenapa bertanya hal mustahil begitu?” Miharu menjawab cepat.

Hiromitsu tersenyum tipis dan menggeleng, “Tidak, mungkin saja karena sudah terbiasa bersama, Miharu jadi suka padanya tapi tidak menyadarinya. Kau tahu kan? Cinta bisa datang karena terbiasa.”

.

.

Seusai kencannya dengan Hiromitsu yang berakhir dengan sedikit canggung, Miharu duduk di tempat tidur di kamarnya. Menimbang-nimbang kebenaran dari pertanyaan Hiromitsu. Apakah benar ia menyukai Kei?

“Miharuuuu~” Tiba-tiba pintu kamar Miharu terbuka, menampakkan sosok Inoo Kei di sana dengan membawa iPod dan headphone yang menggantung di lehernya.

Secara refleks Miharu terlonjak kaget. Bagaimana tidak, sudah beberapa hari ini telinganya tak mendengar teriakan yang paling ia benci itu. Dan sekarang ia tiba-tiba mendengarnya lagi. Dengan cepat ia melempar boneka beruangnya ke arah Kei, tapi refleks Kei cukup bagus, ia dapat menghindarinya. “Ketuk pintu dulu sebelum masuk, bodoh!” Teriak Miharu. Jantungnya berdebar cepat. Selain terkejut, ia juga pada awalnya sedang memikirkan pertanyaan Hiromitsu mengenai perasaannya pada Kei.

Pemuda jangkung itu berdiri dengan senyum lebar memamerkan gigi putihnya layaknya iklan pasta gigi terbaru, “Hehehe gomen gomen…”

“Mau apa kau kemari? Tidak ada jadwal pemotretan?” Tanya Miharu ketus. Namun saat melihat sosok Kei di depan matanya, Miharu sebenarnya semakin bertanya-tanya mengenai pertanyaan Hiromitsu tadi sore.

“Nih,” Kei menyodorkan iPod dan headphone-nya Miharu.

“Apa?” tanya Miharu dengan kening berkerut.

“Aku menulis lagu baru. Coba dengarkan.”

“Oh, akhirnya kau menulis lagi setelah sekian lama,” komentar Miharu seraya menerima iPod dan headphone yang disodorkan Kei.

“Apa judulnya?” Tanya Miharu sambil memasang headphone-nya. Kei tersenyum tipis, “Crazy You.

How can I get out of here?
It’s like a bottomless muddy swamp
I get more deeply addicted the more I know you
I can’t escape anymore
Looking like a confident woman, so sly,
Your chest is always open a little, inviting, and I fall in
You’re calculating, I know that too
But I feel helplessly
Standing back to back
A dangerous smell and sweet scent…
Kiss me softly, let me dance in your heart
A more risky kiss intoxicate me with that gait
And then like this, take me along
I’m continuing to lose myself in you…
Always let me sleep in your heart, always touch your lips to mine
How far should we go?
It doesn’t matter how far
It’s a world only you can see
I want astray to there, I must be imprisoned…
Kiss me softly, let me dance in your heart
A more risky kiss intoxicate me with that gait
And then like this, take me along
I’ll continue to lose myself in you
I’m continuing to lose myself in you…

Miharu melepas headphone itu dari kepalanya perlahan. “Tumben menulis lagu seperti ini. Kau sedang kasmaran?” komentarnya sambil menatap Kei. Barulah saat itu ia sadar kalau Kei sedang menatapnya dengan intens.

“Itu lagu yang kutulis untukmu, Miharu.”

“Eh?” Miharu mengerutkan kening tak paham.

“Semua perasaanku padaku tertuang dalam lagu itu.”

Jantung Miharu mencelos. Gadis itu terdiam, tenggelam dalam tatapan Kei. Tatapan yang sangat berbeda dari biasanya. Tak ada unsur kejahilan di sana, Kei memandangnya dengan tulus. Melihat Miharu yang hanya bisa diam, Kei tersenyum tipis, “Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Tak usah ambil pusing. Kau sudah bahagia dengannya.” Kei yang semula berjongkok di hadapan Miharu, kini bangkit. Tangannya mengelus lembut puncak kepala Miharu.

“Setelah ini aku akan terus merepotkanmu,” Kei tertawa kecil. Kemudian ia membuka pintu kamar Miharu, “Aku pulang dulu. Oyasumi, Miharu.” Katanya sembari menutup pintu.

“Apa-apaan barusan?” Miharu melongo menatap pintu kamarnya. Mungkinkah dia mimpi? Atau sedang berkhayal? Untuk memastikan, Miharu memilih cara klasik dengan mencubit pipinya kuat-kuat. “Ita–”

Sakit. Miharu yakin bisa merasakan sensasi sedikit menyengat di pipinya. Berarti… ini kenyataan? Miharu kembali bertanya pada dirinya sendiri, masih tak mempercayai kejadian aneh barusan bukan hanya terjadi dalam bayangannya saja.

“Mou,” Miharu mengacak-acak rambutnya dengan frustasi kemudian menghempaskan diri di kasur.

Baru saja tadi siang Hiromitsu bertanya apakah Miharu menyukai Kei dan beberapa saat yang lalu Kei masuk ke kamarnya tiba-tiba dan memperdengarkannya lagu yang ditulisnya untuk Miharu. Dan jika pendengaran Miharu tidak salah, liriknya berisi tentang afeksi Kei terhadap Miharu…

Dan oh, benar juga. Kei juga baru saja mengungkapkan perasaannya pada Miharu sebelum keluar kamar.

“Bagaimana ini?” Miharu kembali mengacak rambutnya.

.

.

Beberapa hari kemudian, Miharu entah kenapa tidak bisa mengeluarkan kalimat Hiromitsu dan kenangan akan pernyataan cinta Kei dari otaknya. Dampak yang didapat dari keduanya begitu besar bagi Miharu. Sampai-sampai…

“Miharu?”

“Ya, Kei…” Miharu kemudian salah tingkah dan merasa malu luar biasa. Pasalnya, orang yang memanggil namanya barusan bukan Kei, tapi Hiromitsu. “S-senpai… a-aku tidak bermaksud begitu…”

Alih-alih mendapat lirikan sinis atau ekspresi marah yang lain, di luar dugaan Miharu, Hiromitsu malah terkikik geli.

“Senpai… kenapa tertawa?”

“Ah, maaf. Aku tidak bermaksud tertawa,” kata Hiromitsu kemudian sambil membenarkan sikapnya. “Aku tidak bermaksud menjawab pertanyaanmu dengan pertanyaan lain tapi… bolehkah aku bertanya sesuatu sekali lagi, Miharu?”

“Un, tentu saja,” Miharu mengangguk mengiyakan.

“Kau yakin tidak menyukai Kei?”

Miharu terdiam. Sepertinya memang benar apa yang dikatakan Hiromitsu. Mungkin saja Miharu menyukai Kei tanpa sadar. Ia sedikit merasa kesepian saat beberapa waktu Kei tak mengganggunya. Di sisi lain, ia merasa canggung setiap berada di dekat Hiromitsu. Padahal ia sadar jika ia menyukai senpai-nya itu.

“Miharu…” Hiromitsu menyadarkan Miharu dari lamunannya. “Mungkin ini saatnya kau jujur pada perasaanmu sendiri. Kau menyukai Kei. Hatimu hanya menerimaku sebatas orang yang kau kagumi.”

“Miharu…” panggil Hiromitsu lagi karena selama beberapa saat tidak mendapat tanggapan dari Miharu. “Ungkapkan perasaanmu padanya. Jangan sampai kau menyesal.”

Hiromitsu kemudian berdiri dari duduknya sambil tersenyum. “Aku akan memberimu waktu sendiri supaya kau bisa memikirkannya.”

Hiromitsu meninggalkan Miharu sendiri di sana. Gadis itu terus memikirkan perkataan Hiromitsu mengenai perasaannya sendiri pada Inoo Kei. Walaupun menyebalkan dan terus saja mengganggu hidup tenangnya, Kei selalu tahu apa yang Miharu ingin dan butuhkan.

Miharu segera berlari sekuat yang dia bisa menuju fakultas Kei. Melirik jam di pergelangan tangannya, Miharu tahu ini pasti waktunya Kei berada di studio gambar, mengerjakan tugas di sana.

Sesampainya di sana, dengan napas tersengal, Miharu mengintip melalui jendela. Memastikan apakah benar Kei berada di sana. Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang dikenalnya.

Sesampainya di sana, dengan napas tersengal, Miharu mengintip melalui jendela. Memastikan apakah benar Kei berada di sana. Senyumnya mengembang saat melihat sosok yang dikenalnya. Sayangnya, sosok itu terlihat sedang sibuk dan sedang berkonsentrasi dengan tugasnya. Miharu menggigit bibir bawahnya. Ia merasa bukan hal yang bijak jika ia langsung masuk ke sana dan menyatakan cintanya pada Inoo Kei sekarang. Selain karena Miharu tidak mau mengganggu Kei yang sedang mengerjakan tugas, Kei juga merupakan artis yang sedang naik daun sekarang. Sehingga Miharu memutuskan untuk mengirim pesan singkat pada teman masa kecilnya itu agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan seperti skandal.

“Jika kau sudah free, bisa temui aku di taman dekat kampus tidak?”

.

.

“Ada apa?” Tanya Kei pada Miharu yang sudah duduk menunggunya di salah satu bangku taman. Miharu berjengit kaget saat mendengar suara yang amat dikenal dan ditunggunya. Kei dengan cepat mendudukkan dirinya di sebelah Miharu. Menyerahkan minuman kaleng pada Miharu. Miharu menerimanya dalam diam.

Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia langsung membuat janji dengan Kei sore itu sedangkan dirinya belum merangkai kata-kata sama sekali untuk menyampaikan perasaannya.

Kei meregangkan badannya, “Punggungku pegal sekali,”

Miharu melirik Kei dari ujung matanya. Pemuda jangkung itu tengah meneguk minumannya, sedang di pangkuannya terdapat tas tabung yang biasa digunakan untuk menyimpan tugas gambarnya. Sepertinya Kei terlalu lama duduk karena mengerjakan tugasnya tadi siang.

“Kenapa diam saja? Kau sakit lagi?” Tanya Kei sedikit khawatir. Tangannya terulur hendak menyentuh kening Miharu. Namun dengan cepat Miharu menggeser duduknya sehingga menjauh dari Kei.

Kei mengernyit, “Miharu? Kau kenapa?”

“Aku… putus dengan Hiromitsu-senpai,”

“Eh? Kenapa?” Tanya Kei cepat. “Kau melakukan hal buruk padanya? Kau bersendawa keras saat kencan pertamamu?”

Miharu langsung menatap Kei dengan tajam, ia melemparkan minuman kalengnya masih belum dibukanya pada Kei, “Jangan sembarangan kalau bicara, Inoo Kei!”

Minuman kaleng itu mendarat di perut Kei, membuat Kei mengaduh kemudian tertawa keras, “Lalu kenapa?”

“Aku… Baru saja menyadari kalau aku tak menyukainya…” Miharu menggantung kalimatnya. “Tapi aku menyukaimu, Kei…”

Kei terkejut mendengarnya, “Ha? Miharu, kau demam lagi?” Kei menatap mata Miharu yang menatap lurus padanya. Mencari unsur kebohongan dan kejahilan di sana. Tapi Kei tak menemukannya. Miharu masih diam.

“Miharu?”

Sekejap Kei berpikir jika bisa saja Miharu berbohong dan ia menjadikan Kei sebagai pelariannya. Bagaimana bisa ia baru saja putus, kemudian menyatakan cintanya pada orang lain.

“Aku sungguh-sungguh… Berkat dia aku bisa menyadari perasaanku padamu.” Jawab Miharu.

Senyum Kei mengembang, membuat kedua matanya tinggal segaris. Tanpa pikir panjang Kei menarik Miharu ke pelukannya. Kemungkinan itu masih ada, dan Kei tak tau pasti kebenarannya. Pelarian atau bukan, Kei tak peduli. Selama ia bisa bersama Miharu, menjaganya, dan membahagiakannya, Kei tak peduli.

Cinta buta?

Persetan dengan itu, Kei akan memberikan yang terbaik pada Miharu apapun yang terjadi. Kemudian, tanpa piker panjang, Kei menarik tubuh Miharu lalu memeluknya dengan erat. “Terima kasih sudah memilihku…” ucapnya pelan.

.

.

Seperti malam-malam sebelumnya, Kei dan Miharu makan malam bersama di ruang makan kediaman keluarga Satou tanpa kedua orangtua Miharu yang juga sibuk bekerja dan selalu melewatkan makan malam bersama. Bedanya hari ini kakak perempuan Kei yang biasanya melewatkan makan malam bersama, kini hadir. Sedangkan Akina tak ada di sana, sepertinya gadis itu belum pulang sekolah. Mereka bertiga larut dalam obrolan penting dan tidak penting, banyak bercanda dan tertawa. Hingga akhirnya…

“Eh, kudengar dari Akina, sekarang Miharu sudah punya pacar ya?!” Tanya kakak Kei, Mizuki, dengan nada meledek.

Miharu yang baru akan menelan makanan yang dikunyahnya, hampir saja tersedak mendengar pertanyaan tersebut. Dia melirik Kei yang duduk di sampingnya. Meski ia bertingkah biasa, Miharu bisa melihat mimik tegang lewat bahasa tubuhnya.

“Kukira Miharu akan terus terjebak dengan adik yang tidak berguna ini,” ucap Mizuki sambil sedikit mengernyit kea rah Kei.

Mendengar itu, menaruh mangkok dan sumpitnya. “Lalu kenapa kalau Miharu terjebak denganku?” tanyanya dengan nada menantang pada sang kakak. Ia kemudian merangkul Miharu dan mendekatkan gadis itu pada tubuhnya. “Lagipula, mulai sekarang dia milikku.”

Pertanyaan Kei barusan sukses membuat Mizuki ternganga lalu menunjuk Kei dan Miharu secara bergantian dengan sumpitnya. “Kalian… jadian?”

“HAH? SIAPA YANG JADIAN?” terdengar suara melengking dari luar ruang makan. Detik berikutnya, Akina muncul di pintu dapur masih mengenakan seragam. Melihat pemandangan yang ia dapati di meja makan, dengan sumpit Mizuki masih terarah pada Kei dan Miharu, Akina kemudian bereaksi berlebihan. “BOHONG, KAN?!”

“Sayangnya ini kenyataan,” ucap Kei dengan bangga. “Iya, kan, Miharu?!”

Miharu yang merasakan semua pasang mata di ruangan itu menatapnya penuh harap. Lalu, dengan jantung yang mulai berdetak kencang, Miharu mengangguk malu-malu.

“HEEEEEEEEEEEEEEEE?” seru Mizuki dan Akina secara bersamaan. Masih tak percaya.

 

END

Advertisements

5 thoughts on “[Oneshot] Crazy You

  1. Matsuyama Retha

    entah kenapa mau ngakak pas part ny Kei yg super duper nyebelin disini XD
    tp sasuga Mitsu-niichan yg membiarkan Miharu berpikir ttg perasaannya sm Kei-niichan XD

    keep writing Author 😀

    Reply
    1. fuchiinyan

      Ahaha author juga sebel kok sama Kei nya >< iya nih Mitsu baik banget, kasian ditinggal Miharu, mending sini sama author 😂😂 /ga
      Arigatou sudah membaca dan komen di karya abal kami ini ;;-;;)/"

      Reply
      1. Matsuyama Retha

        Ihh abar gimana org sukses bkin aku sebel sm Kei XD *plakk
        Mitsu-nii sm aku aja sini :’) *husshhh
        Sama2 author ^^ ditunggu ff menarik lainnya yah😁

    1. fuchiinyan

      Dih lama amat baru komen:( /heh
      Aku lebih kesel sama Miharunya sih, sama aja sama Risa ngga peka banget:( Kei juga ga peka sama perasaannya sendiri. Alah/?
      Makasih senpai 😘😘😘💓💓💓

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s