[Minichapter] Dark Orange (chap 4) -END-

  • Juara 1 SAGITTARIUS SQUAD Fanfic Challenge

Dark Orange
by. HINO
Genre: Romance, Historical, Friendship
Rating : PG-13
Starring : Maruyama Ryuhei, Ohkura Tadayoshi, Yasuda Shota (Kanjani Eight)
Other characters :Inagaki Goro (SMAP), Nagase Tomoya (TOKIO), Domoto Koichi, Domoto Tsuyoshi (Kinki Kids), Kitayama Hiromitsu (Kis-My-Ft2), Ohno Satoshi (Arashi), Murakami Shingo, Yokoyama Yuu (Kanjani Eight), Yaotome Hikaru (Hey!Say!JUMP), Tsukada Ryoichi (A.B.C-Z),Hamada Takahiro (Johnny’s West)
Disclaimer: All characters are under Johnny’s Entertainment.

WATCH THE TRAILER HERE!!

dark-orange-cover

GREP!

Seorang pria dengan baju perang berwarna merah keluar dari tangga dan segera mencekik Yasu yang kebetulan ada di dekatnya. Cekikan itu begitu kuat hingga anak yang bersangkutan harus menjatuhkan pedang agar ia bisa menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan diri. Pria itu menyeret tubuh Yasu di lantai dan mengangkatnya ke udara hanya dengan sebelah tangan saja. Cukup tinggi hingga Yasu harus berjinjit agar lehernya tidak menggantung.

“BERHENTI!!” teriak pria tersebut lantang. Membuat semua prajurit penjaga yang tersisa segera berhenti bergerak. Tak terkecuali juga kami yang kaget dengan kedatangannya.

Dari baju perang yang dikenakan pria itu, aku langsung tahu bahwa ia adalah seorang general. Reaksi para prajurit yang patuh pada komandonya juga memperkuat dugaanku bahwa ia punya kekuasaan. Seharusnya kami tidak perlu ikut berhenti karena orang itu adalah musuh, namun tubuh Yasu yang ada dicengkramannya sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk tidak melanjutkan perkelahian.

“Segerombolan orang menyerang istana saat dua raja bertemu?” gumam pria itu entah kepada siapa. “Kalian pasti orang-orang Saikan,” lanjutnya lagi sambil sesekali melirik ke arah Ohkura dan paman paruh baya dengan pandangan tajam. Di tangan kanannya ada sebuah crossbow besar yang diarahkan pada dua orang itu sehingga mereka tidak bisa bergerak. Meski demikian, adalah cerdik Master Tsuyoshi yang segera bersembunyi di balik tangga tepat ketika pria tersebut muncul, sehingga keberadaan beliau pun lepas dari pengawasan orang-orang.

Sejujurnya, situasi seperti ini berbahaya bagi kami, namun juga sekaligus menguntungkan. Berhadapan dengan seorang general bukanlah suatu hal yang mudah dan bisa menguras banyak energi. Namun jika si pria dan prajurit-prajuritnya terus berfokus pada kami, para pengecoh, Master Tsuyoshi jadi bisa punya kesempatan untuk mengendap-endap masuk ke dalam kastil. Walaupun jujur, sesungguhnya aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Bagiku tetap, keselamatan Yasu adalah prioritas yang paling utama. Aku bahkan rela jika misi ini gagal asalkan anak itu bisa kembali ke tanganku dalam keadaan selamat. Karena itu kuharap Ohkura bisa melakukan sesuatu untuk membuat Yasu lepas dari pria berseragam merah tersebut.

“Tidak mau bicara, huh?” gumam pria itu kembali memandangi kami satu persatu dengan matanya yang tajam. Walaupun dugaannya benar, tidak ada dari kami yang merespon.

“Pertemukan kami dengan raja,” ucap paman paruh baya akhirnya. Membuat pria tersebut memicingkan mata sambil tersenyum.

“Bicara padaku. Raja Ohno sedang sibuk sekarang,” pria itu tidak membiarkan dirinya lengah dan masih terus mewaspadai kami. Sebelah tangannya yang mencekik Yasu sama sekali tidak lelah dan bahkan semakin kencang mencengkram. Membuat anak yang bersangkutan makin kesulitan bernapas. “Kalian salah besar jika memilih cara seperti ini untuk melawan raja,” lanjutnya lagi. Mendengar hal itu, paman paruh baya pun mengerutkan kening.

“Kurasa kalianlah yang salah karena telah menyembunyikan kebenaran ini dari rakyat,” balasnya dingin. “Dan… tentu saja, aku akan senang sekali bicara berdua denganmu,” ucapnya lagi dengan sinis. Nampaknya ini bukan pertama kalinya dua orang tersebut bertemu. Pembicaraan di antara mereka jelas mengatakan bahwa pria berseragam merah tahu tentang kebenaran Jia. Dan atmosfir tak nyaman juga menguar dari keduanya.

“Saikan ada di bawah kekuasaan Yoto untuk selamanya. Impian kalian untuk merdeka tidak akan pernah terwujud,” ucap Sang General sambil tersenyum. “Sampah yang suka berdelusi seperti kalian hanya akan menghalangi langkah Raja Ohno. Sebaiknya memang harus dibunuh,” lanjutnya lagi seraya memberikan tatapan intimidasi kepada paman paruh baya.

Dua orang tersebut seperti sedang memiliki waktu dan ruang bagi diri mereka sendiri untuk berdebat. Yang anehnya juga turut menghentikan seluruh pergerakan orang-orang di sekeliling mereka. Aku mengerti bahwa para prajurit tidak akan menyerang sebelum pimpinan memberikan komando, namun untuk kami yang juga jadi ikut terdiam, rasanya ada sesuatu yang janggal.

SET!

Ohkura memanfaatkan ketidakfokusan Sang General untuk bergerak mendekati Yasu.

CRAK!

Namun sayangnya ia tidak cukup cepat. Crossbow besar milik pria di sana segera mengarah pada lelaki itu sebelum ia sempat melangkah lebih jauh.

“Anak muda yang tidak sopan,” gumam pria itu pelan, hampir seperti menggeram.

“Lepaskan dia!!” bentak Ohkura seraya mengacungkan pedangnya ke arah Sang General tanpa rasa takut. Ia seperti tidak peduli pada tiga anak panah yang siap menembus tubuhnya sewaktu-waktu pelatuk ditekan. Secara otomatis seluruh prajurit yang ada di sekitarnya pun mengarahkan senjata pada lelaki tersebut untuk melindungi pimpinan mereka.

Sang General melirik ke arah paman paruh baya yang masih belum berani bergerak dan juga ke Yasu yang ada di tangannya. Setelah terdiam selama beberapa saat, ia lalu berganti menatap Ohkura. Senyuman lebar tiba-tiba saja menghiasi wajah pria tersebut. Itu adalah jenis senyuman yang paling kubenci.

“Tentu saja,” ucapnya riang. “Seperti yang kau inginkan”. Dan dengan itu, tiba-tiba saja tubuh Yasu sudah ada di udara.

Dari posisiku aku bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi gila pria tersebut ketika ia melempar tubuh Yasu dari ketinggian.

Tidak mungkin.

Tidak mungkin, pikirku.

Aku merasa jantungku tiba-tiba berkontraksi dengan sangat ekstrim detik itu juga.

“YASUUU!!” Suara teriakan histeris Ohkura pun segera terdengar dengan begitu kerasnya di telingaku.

Tidak.

Tidak, pikirku.

Persetan dengan hukum alam atau kenyataan yang ada, tidak akan kuijinkan satu hal buruk pun terjadi pada anak itu. Selama aku masih punya kuasa terhadap tubuhku sendiri, aku bisa memaksakan diri untuk melakukan apapun walau itu ada di luar batas kemampuanku. Kalau aku bilang hentikan, maka waktu harus berhenti. Kalau aku bilang selamatkan, maka alam harus mendengarkannya.

Dan itulah yang kulakukan ketika tubuh kecil Yasu hampir saja menghantam tanah.

BUAKK!

Jarak dari tempatku berdiri sampai ke dinding bukanlah yang tergolong dekat, tapi aku bisa mencapainya dengan berlari hanya dalam waktu sekian detik. Kecepatan itu tentu bukan sesuatu yang normal untuk ukuran prajurit biasa seperti diriku. Bahkan ketika Yasu berhasil kutangkap, aku sama sekali tidak merasa ada kesakitan yang berarti di kedua tangan ataupun kakiku. Layaknya otak yang dimanipulasi, tubuhku terasa seperti telah keluar dari limit kewajaran. Dan kalau bukan karena Yasu, tidak mungkin keajaiban seperti ini bisa terjadi.

“Uhuk! Uhuk!” orang yang bersangkutan terbatuk keras di pelukanku. Aku pun memegangi kepalanya untuk menghindarkan anak itu dari benturan dengan tanah. Kasihan sekali, ia selalu saja ada di posisi yang berbahaya, selalu ada di posisi yang tidak menguntungkan. Luka yang diterimanya juga mungkin sepuluh kali lipat lebih banyak dariku atau Ohkura. Walau sebelumnya aku kurang percaya pada pepatah yang mengatakan bahwa orang kuat selalu mendapat ujian lebih berat, kini rasanya aku bisa sedikit memahami alasan mengapa pepatah itu dibuat.

Ohkura pun memandangi kami dengan ekspresi horor dari atas sana.

“Berikan kepalamu padaku pria tua,” ujar lelaki itu geram seraya beralih ke arah Sang General yang sedang tertawa gembira. Ia baru saja hendak berlari dari posisinya untuk menebaskan pedang ketika seorang penjaga melempar sebuah tameng pada pimpinannya sebagai pelindung.

TRANG!

Suara keras akibat benturan dua besi berat berdengung nyaring di udara. Paman paruh baya berusaha mengambil kesempatan di kekacauan itu untuk melumpuhkan sisa prajurit di sekitarnya. Namun belum sempat ia bergerak jauh, Sang General lagi-lagi sudah lebih dulu menyerang.

BUAKK!!

Ia menendang Ohkura dengan kakinya hingga anak itu terbanting ke lantai. Ia lalu berputar sedemikian rupa seraya menembakkan crossbow-nya ke arah paman paruh baya yang hendak berlari. Salah satu anak panah berhasil melukai kaki paman dan membuat pria kepercayaan Master Tsuyoshi itu jatuh di dekat tangga.

“Terlalu cepat seribu tahun untuk mengalahkanku,” gumam Sang General tersenyum sambil kembali mengarahkan crossbow miliknya ke Ohkura. Senjata itu sudah didesain sedemikian rupa sehingga secara otomatis muncul tiga buah panah besi baru yang siap untuk ditembakkan. Aku tidak bisa memperkirakannya, tapi untuk crossbow sebesar itu mungkin ada sekitar lima belas panah yang bertindak sebagai amunisi.

Aku melihat kekacauan yang terjadi di atas sana masih dari tempatku memegangi Yasu. Cukup bersyukur dengan tiga orang anak buah Master Tsuyoshi lainnya yang bisa diandalkan untuk menghabisi sisa prajurit di dekat kami. Para prajurit mulai kembali menyerang dan aku masih belum bisa bergerak dari posisiku. Walapun keadaan sudah lebih lapang sekarang, sejujurnya aku khawatir jika kami tak cepat meloloskan Master Tsuyoshi ke dalam kastil maka prajurit-prajurit baru akan semakin banyak berdatangan. Dan keberadaan general tersebut pun sangat menyulitkan kami.

Aku membantu Yasu yang masih terbatuk untuk bangkit.

“Kau tidak apa-apa?” tanyaku cemas padanya. Anak yang bersangkutan segera mengangguk.

“Terima kasih Maru,” ia meraih tanganku sambil lalu memegangi dadanya dengan napas tersengal. Dia berbohong lagi, pikirku. “Kau sendiri… tidak terluka?” tanyanya seraya memperhatikan tubuhku dari atas sampai bawah. Membuatku segera berdiri dengan tegap.

“Tidak sama sekali,” jawabku meyakinkannya.

Kilatan petir di antara awan mendung saat itu menyadarkanku bahwa matahari sudah lama hilang dari pandangan kami. Seluruh warna di alam kini berubah menjadi abu-abu meskipun hari masih tergolong siang. Di satu sisi aku berharap agar hujan segera turun, namun di sisi yang lain juga berharap agar hujan tidak turun. Kami tidak tahu masalah apa yang akan timbul dan seberapa sulit rencana kudeta ini akan berjalan nantinya jika itu terjadi. Yang jelas, kami tetap tidak akan bisa merasa tenang sampai Master Tsuyoshi benar-benar berhasil menemui kedua raja.

CRAK!

“Sayang sekali temanmu gagal mati,” ucap Sang General tersenyum pada Ohkura. Crossbow-nya berderak ketika ia bergerak mendekati lelaki itu. Aku dan Yasu bisa mendengar suaranya karena kami berada tepat di bawah dinding. Kami berdua pun segera berpindah posisi agar bisa lebih mudah melihat apa yang terjadi di atas sana.

“Ugh,” Ohkura menggenggam erat pedangnya tanpa sekalipun beralih. Matanya menatap fokus Sang General dengan segelimang rasa geram.

“Anak nakal,” gumam pria yang lebih tua sambil lalu memasang ekspresi dingin. Jari telunjuknya ada di ambang pelatuk dan ia seperti tidak ragu untuk menekannya saat itu juga. Kedua mata Ohkura pun menyipit seraya mengantisipasi, mencoba mengerahkan seluruh indranya untuk bekerja pada level yang paling maksimal.

CTAK! SYUU! SYUU! SYUU!

Tiga buah panah besi melesat bagai kilat ke arah Ohkura. Jarak yang begitu dekat antara lelaki itu dengan crossbow membuatku berpikir rasanya tidak mungkin jika ia bisa menghindari serangan tersebut. Tapi perkiraanku ternyata salah. Ohkura bahkan mampu berpindah lebih cepat daripada gerakan mata orang-orang. Aku dan Yasu pun sampai terperanjat di tempat kami berdiri karena kaget.

TRANG! TRANG!

Sang General tidak siap untuk serangan mendadak dari anak itu. Tidak ada satupun panah yang berhasil mengenainya dan ia tidak bisa mengikuti kemana lelaki tersebut bergerak. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, Sang General pun terdorong mundur beberapa langkah oleh serangan Ohkura.

TRANG! TRANG!

“Menarik sekali,” gumam pria itu tersenyum sambil menangkis sabetan-sabetan pedang dengan tameng besi di tangannya. Ia menatap Ohkura yang sedang bertubi-tubi menyerangnya untuk terakhir kali sebelum lalu menghantam tubuh yang bersangkutan dengan crossbow miliknya hingga anak itu terbanting ke lantai. Tidak membiarkan Ohkura bangkit, Sang General pun kemudian menendanginya dengan kasar. Mencoba untuk membuat anak itu melepaskan senjatanya.

CRAK!

“Dan jangan mencoba mencuri kesempatan dariku…” gumam Sang General dingin seraya mengarahkan crossbow-nya pada paman paruh baya yang hendak bergerak. “…kalau kau tidak ingin anggota tubuhmu hilang,” lanjutnya lagi, menyuruh beberapa prajurit yang tersisa untuk mengawasi pria tua tersebut. Ia pun lalu kembali menghajar Ohkura.

“Hentikan!!” Yasu berteriak dengan lantang. Cukup untuk membuat Sang General berhenti dan melirik ke arah kami yang ada di bawah. “Tidak ada gunanya kau membunuh kami! Saat ini pasukan Saikan sudah menguasai medan! Dengan kau menghalangi kami untuk bertemu raja, itu sama saja artinya kau menyulut peperangan!” teriaknya tegas. Aku tak tahu apakah Yasu berniat menggertak dengan mengatakan hal itu atau tidak. Tapi berhubung Sang General sendiri sudah tahu tentang perihal kudeta ini, rasanya tidak ada gunanya juga kami menyembunyikan hal tersebut.

“Dan membiarkan kalian membunuh Raja Ohno?” balas Sang General tersenyum sinis. “Kau pikir aku bodoh, huh?” ia menarik jubah Ohkura bersamanya dan menahan kepala yang bersangkutan di pagar dinding. Panah besi di crossbow-nya menempel tepat di pelipis anak itu dan kami bisa menyaksikannya dengan jelas dari bawah. Ohkura masih mencoba untuk berontak namun perlawanannya hanya sia-sia saja.

“Kalian tunggu saja sampai Raja Kitayama mati. Setelah Okto ditaklukkan, Yoto akan jadi satu-satunya pemerintahan yang tersisa,” ucap Sang General masih dengan senyuman di wajahnya. “Bukankah lebih mudah untuk membuat Yoto berkuasa daripada mengembalikan Jia seperti dulu? Toh semua wilayah akan kembali bersatu seperti yang kalian inginkan. Hahahaha!” pria itu terlihat gembira ketika mengatakan hal tersebut. Bukan sesuatu yang bisa diterima oleh orang-orang kami tentunya. Walaupun logika tersebut cukup rasional, namun hal itu jelas berseberangan dengan prinsip warga Saikan. Tujuan utama kudeta ini adalah menghancurkan ambisi massive para elit untuk menguasai wilayah Jia. Jika Yoto berhasil berkuasa, maka otomatis kudeta ini gagal dan tidak ada artinya.

“Kau salah!! Perebutan paksa kekuasaan hanya akan menimbulkan pemberontakan! Dan pada akhirnya masyarakat serta orang-orang tidak berdosa jugalah yang akan menjadi korban!” Yasu mencoba untuk berteriak sekuat tenaga meskipun suaranya terdengar serak. “Selama ini apa kau tahu betapa menderitanya anak-anak korban perang yang kehilangan orang tua mereka?! Keluarga mereka?! Yang tidak punya tempat untuk berlindung! Yang tidak punya tempat untuk lari! Yang mencoba untuk bertahan hidup dalam ketakutan! Dan orang-orang haus kekuasaan seperti kalian dengan ringannya menghancurkan rumah-rumah mereka! Menghancurkan impian-impian kecil mereka! Menghilangkan nyawa mereka!! Kalian perlakukan mereka seperti barang! Seperti sampah!” aku memegangi bahu Yasu untuk memberikan anak itu support. Kulihat ada ekspresi sedih di wajahnya kala itu. “Kalian yang sudah dibutakan oleh ambisi tidak akan pernah mengerti!! Jika ada di posisi rakyat, mungkin kalian baru bisa menyadari betapa mengerikannya dampak peperangan ini bagi semua orang!!”

Dan tidak ada satupun dari kami yang menginterupsinya. Semua terdiam mendengarkan anak itu bicara. Aku tak tahu apakah kata-kata Yasu bisa masuk ke dalam hati orang-orang Yoto di sana atau tidak. Namun bagiku sendiri, apa yang disampaikan olehnya barusan adalah benar. Jika tidak pernah mencoba berjalan di atas sepatu orang lain, maka kita tidak akan mengerti seberapa sulit perjalanan mereka. Walaupun nampaknya ada juga orang-orang yang tetap tidak peduli karena sudah terlalu nyaman berjalan dengan sepatu-sepatu indah mereka.

Sang General pun tertawa kecil.

“Naif sekali,” gumamnya seraya menatap kami dengan pandangan yang merendahkan. Ia sengaja menjambak rambut Ohkura untuk membuat anak itu merintih kesakitan. “Pada kenyatannya, dalam hidup ini ada saat di mana kita harus mengorbankan orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri. Itu adalah cara orang-orang cerdas untuk bertahan hidup. Dan alam pun dengan sendirinya akan menyeleksi. Siapa di antara kita yang paling kuat, dialah yang akan bertahan hidup lebih lama,” lanjutnya lagi seraya memberikan senyum seringai pada kami. “Dan alasan mengapa banyak warga menjadi korban… tentu saja itu karena mereka adalah spesies-spesies bodoh yang lemah. Hahahaha!”.

Yasu mengepalkan tangannya ketika pria tersebut tertawa terbahak-bahak. Sama sekali tidak ada yang lucu dan bisa ditertawakan dari pembicaraan ini, aku tahu. Untuk seseorang bisa mengatakan sesuatu yang sangat kasar dan sedemikian merendahkannya tentang orang lain, pastilah ia memiliki tingkat kesombongan yang sudah terlampau akut.

“Manusia tidak berperasaan,” gumam Yasu geram. Mata anak itu sesekali melirik jauh ke arah tangga di atas sana untuk mengecek keadaan.

Sejenak kami semua terfokus pada Sang General, kami tidak ingat bahwa Master Tsuyoshi masih bersembunyi di tempatnya. Yasu menyadari hal itu dan sedang mencoba memikirkan cara agar beliau bisa masuk ke kastil. Dengan posisi yang tidak menguntungkan seperti ini, kami memang harus sedikit bersabar, sebab untuk mencuri kesempatan dari Sang General juga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

CRAK!

“Kalau begitu hari ini kalian akan kuajarkan sesuatu,” ucap pria berseragam merah itu tersenyum. Crossbow-nya berganti mengarah ke leher Ohkura dan membuat kulit yang bersangkutan sedikit berdarah karena tersayat ujung anak panah yang runcing. Aku merasa ada pertanda yang tidak menyenangkan dari perkataan pria tersebut.

“Kau,” Sang General menunjuk Yasu dengan matanya. “Aku ingin kau memilih salah satu di antara dirimu dan anak ini untuk kubunuh. Dan sisa dari kalian akan kuijinkan bertemu dengan Raja Ohno,” ucapnya seraya menjambak rambut Ohkura dengan lebih kasar.

Tiba-tiba saja kesempatan bertemu raja terbuka dengan lebar di hadapan kami. Tapi tidak semenggembirakan itu. Indra pendengaranku pun mendadak jadi seperti tuli sebagian. Rasanya ada separuh otakku yang sudah terlanjur memproses kalimat tadi, namun separuh yang lain sedang berusaha untuk menolaknya. Ada gejolak antara tidak ingin terkejut, namun juga tidak bisa menyembunyikan rasa kaget yang teramat sangat. Alhasil aku hanya bisa membatu di tempat sambil menatap Yasu dengan ekspresi yang aku sendiri tidak bisa menggambarkannya.

“Tidak!!” teriak Ohkura dari atas sana. Wajahnya segera kembali menempel di dinding setelah Sang General membenturkannya lagi dengan kasar. Dapat kurasakan pundak Yasu bergetar di telapak tanganku, dan itu membuat jantungku berdebar ribuan kali lipat lebih kencang. Aku berharap sekali agar ia tidak merespon tawaran dari pria gila di sana.

“Apa tujuanmu melakukan ini?!” tanya Yasu mencoba untuk tidak buru-buru mengiyakan. Memang tidak seharusnya kami terjebak dalam permainan Sang General dan harus selalu mengedepankan pemikiran rasional. Untuk Yasu yang berusaha tidak terlihat gentar, aku benar-benar salut pada ketangguhan hatinya yang seperti tiada pernah surut.

“Tidak ada,” jawab Sang General tersenyum. Ia menatap Yasu sambil sesekali tertawa kecil seakan-akan ia sedang berbahagia. “Aku hanya ingin mengajarkan kekejaman perang yang sebenarnya pada kalian, anak-anak kecil,” ucapnya memberitahu. Jelas sekali pria itu sedang mempermainkan nyawa kami untuk kesenangan pribadinya semata. “Dan juga menghapuskan pikiran naïf di dalam kepala kalian agar kalian bisa menjadi manusia yang lebih cerdas,” ekspresi di wajahnya sangat kejam ketika mengatakan hal itu aku bahkan sampai tidak sanggup untuk melihatnya.

CRAK!

Pria itu menarik rambut Ohkura dan mengarahkan crossbow besar di tangan kanannya ke kepala anak itu. Darah merembes dari luka di pipi Ohkura akibat benturan yang ia terima beberapa saat sebelumnya. Kulihat kedua tangan lelaki itu masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman Sang General namun tidak terlalu membuahkan hasil.

Yasu menarik napas dengan tajam.

“Apa jaminannya kau akan benar-benar membiarkan kami menemui raja?” tanya anak itu mencoba memastikan, membuat hatiku tiba-tiba jadi merasa amat sangat resah. Aku sadar bahwa dengan pertanyaan barusan artinya Yasu punya rencana untuk menerima tawaran Sang General tersebut.

Senyuman menghiasi wajah pria di atas sana.

“Tidak ada juga. Setelah kupikir lagi, Raja Ohno bisa membunuh kalian semua dengan sangat mudah walau tanpa bantuan prajurit-prajuritnya. Jadi aku sama sekali tidak khawatir. Aku tidak keberatan jika harus menyaksikan mayat kalian berserakan di ruangannya,” jawab Sang General menjelaskan. “Kalian tahu kalian bisa memilih untuk mati ditanganku… atau mati ditangan raja,” lanjutnya lagi. Segumpal amarah berkumpul di dalam kepalaku ketika mendengar jawaban tak beralasan dari pria itu.

“Yasu jangan!!” suara teriakan Ohkura kembali terdengar dari atas sana.

“Yasu jangan!!” ucapku mengulang seraya menggenggam erat pundak anak itu.

Aku tahu keputusan ada di tangan Yasu, dan aku tidak mau ia terpengaruh oleh tuntutan misi ataupun tekanan dari orang-orang. Aku mungkin salah, tapi aku seperti melihat paman paruh baya dan anak buah Master Tsuyoshi lainnya memberikan tatapan dingin kepada anak tersebut. Mereka seolah-olah sedang memaksa Yasu untuk menerima tawaran Sang General sehingga Master Tsuyoshi bisa masuk ke dalam kastil. Kami semua sadar bahwa kami sudah kehabisan waktu dan tidak ada jalan lain lagi, tapi pilihan ini terlalu berat.

Yasu menggenggam balik tanganku yang ada di pundaknya selama beberapa saat sebelum kemudian mengambil jarak.

“Bawa kami kepada raja,” ucapnya tegas.

“Yasu!!” aku berlari ke hadapannya dan menarik kedua lengan anak itu ke arahku. “Yasu, kita bisa pikirkan cara lain!” ucapku mencegahnya. Aku tidak ingin Yasu mati, dan juga tidak ingin Ohkura mati. Setelah semua yang kami lewati, tidak mungkin kubiarkan salah satu di antara kami dibunuh dengan cara seperti ini.

GREP!

“Pilihan yang bijak,” ucap Sang General tersenyum seraya mengangkat Ohkura ke udara, cukup tinggi hingga semua orang pun bisa melihat lelaki itu. Ujung anak panah di crossbow miliknya terlihat menempel tajam di dada yang bersangkutan. Membuatku dan Yasu mengrenyit di saat yang bersamaan.

“Apakah kau akan mengorbankan temanmu demi misi ini?” tanya Sang General menatap Yasu dengan seringainya yang memuakkan.

Aku tahu. Aku tidak butuh Yasu bicara untuk mengetahui jawabannya. Jika pikiran jahatku bisa memilih, maka benar aku akan mengorbankan Ohkura untuk menyelamatkan Yasu. Aku tidak ingin keduanya mati, tapi bila keadannya sangat memaksa, tidak ada pilihan lain selain melepaskan salah satu dari mereka. Dan Yasu tidak pernah ada di daftar orang-orang yang bisa dikorbankan bagiku.

Namun demikian, jika orang baik seperti dirinya yang harus memilih, kuat kemungkinan hal itu akan jadi kebalikannya. Dan dadaku terasa sempit karena mengetahui kenyataan itu.

“Aku akan mengorbankan diriku,”

“TIDAK!!” Ohkura berteriak histeris. “YASU, TIDAK!!” suara teriakan menyedihkan Ohkura bercampur dengan suara tawa lepas dari Sang General.

“Fufufufu, mengecewakan sekali,” ucap pria itu menatap rendah Yasu. “Padahal aku berharap kau akan jadi sedikit lebih cerdas. Tapi ternyata otakmu memang tidak bisa diperbaiki,” lanjutnya lagi. Kali ini ia memberikan kode kepada anak buahnya untuk membidik Yasu dengan crossbow mereka. “Orang-orang idiot sepertimu sangatlah menjijikkan,” ucapnya dengan ekspresi dingin.

Aku pun tidak bisa membendung rasa takut di dalam hatiku. Bayangan bahwa Yasu akan hilang dari hadapanku setelah ini adalah sesuatu yang sangat mengerikan. Rasanya aku tidak sanggup jika harus melihatnya dibunuh dalam keadaan terpaksa seperti ini. Ia sudah lebih dari cukup mengalami hal-hal menyedihkan dalam hidupnya, dan itu terus berlanjut bahkan sampai hari ini.  Sampai hari dimana hanya tinggal sedikit lagi kami akan berhasil mendapatkan kebenaran.

Aku benci ketika kami terjebak di situasi yang buntu seperti ini. Aku benci ketika orang-orang lebih mementingkan misi ketimbang nyawa mereka sendiri. Juga ketika harus ada yang dikorbankan dan tidak ada dari kami yang bisa berbuat apapun. Aku tahu ini sangat jahat, tapi entah mengapa aku ingin sekali Yasu mengorbankan Ohkura untuk menyelamatkan dirinya. Aku tidak pernah menyalahkan kebaikan hati anak itu dan justru banyak bersyukur karenanya, namun terkadang aku merasa lelah. Sangat lelah. Sebab aku merasa kebaikan itu seperti sedang berusaha membunuh Yasu.

“Lepaskan dia,” ucap Yasu dengan suara bergetar. Oh tidak, anak itu pasti menahan-nahan rasa takutnya sedari tadi. Aku ingin sekali memeluknya namun ia sudah keburu mendorongku untuk menjauh.

Sang General pun kembali tersenyum.

“Aku akan melepaskannya setelah kau jadi mayat,” ucapnya seraya membenturkan wajah Ohkura ke dinding dan mengangkatnya lagi ke udara. Ia benar-benar sangat menikmati penyiksaan ini. “Sampaikan kata-kata terakhirmu anak muda,” pria itu menyuruh anak buahnya untuk bersiap menembak sambil lalu mewaspadai sekeliling kalau-kalau ada yang berniat mengganggu. Paman paruh baya masih bersandar lemah di dinding dalam ancaman pedang-pedang para penjaga, sementara kami yang ada di bawah terdiam tanpa bisa melakukan apapun.

Yasu menatapku dengan bola matanya yang tegas. Dia berusaha dengan sangat keras, tapi aku bisa melihat ketidaksiapannya menerima hal ini.

“Yas-“

“Maru hentikan,” anak itu segera mencegahku ketika aku hendak mendekatinya. Ia melangkah mundur secara perlahan untuk memberi jarak yang cukup jauh di antara kami berdua. Suara-suara crossbow yang berderak di atas sana terdengar sangat horor di telingaku.

“Semakin kita bicara, semakin aku tidak siap untuk ini,” ucapnya jujur. “Dan semakin besar kemungkinan misi ini akan gagal,” lanjutnya lagi. Wajahnya menengadah ke arah para prajurit yang tengah membidiknya. “Dengan ini… ribuan orang jadi bisa punya kesempatan untuk merdeka. Bukankah ini prestasi?” ucap anak itu tersenyum kecil. Membuat hatiku serasa seperti dicabik-cabik tanpa henti. Sakit. Sakit sekali. Sosok Yasu yang sedang berusaha untuk tegar adalah pemandangan paling menyakitkan bagiku.

Tidak.

Ini tidak akan terjadi, pikirku. Persetan dengan orang-orang. Persetan dengan Jia. Persetan dengan apapun juga. Aku tidak akan mengorbankan Yasu hanya untuk misi bodoh ini. Aku tidak rela jika nyawanya dipermainkan dengan keji oleh orang-orang biadab yang haus kekuasaan seperti mereka. Dan tidak akan pernah kuijinkan seorangpun mengambil dirinya secara paksa dariku. Aku akan-

CRAK!

“Coba saja lakukan itu,” ucap Sang General menusukkan ujung crossbownya ke dada Ohkura. Pria itu seperti bisa membaca isi kepalaku dan tidak berniat membiarkan siapapun untuk bergerak.

“Hentikan!!” Yasu berteriak dari posisinya. Seluruh tubuhku pun membatu saat anak itu melihat ke arahku dengan tatapan memohon. Aku tahu aku tidak akan mampu memaksakan kehendakku padanya ketika ia sudah membulatkan tekad.

“Jadi… ada yang ingin kau sampaikan sebelum mati?” tanya Sang General tersenyum riang. Membuat Yasu kembali menengadahkan wajahnya ke atas sana.

“Ya,” jawab anak itu tegas.

“Para pencari kebenaran! Masuk dan jangan pernah berhenti hanya karena satu kematian di tempat ini! Ada ribuan rakyat yang menunggu untuk dibebaskan dari kekejaman perang!” teriak Yasu dengan sangat lantang. Rasanya seperti ada yang janggal dari kata-katanya tapi aku tidak tahu itu apa. Kalimat itu terdengar tidak natural di telingaku meskipun tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Setelah mencoba menangkap maksud dari perkataannya barusan, rupanya anak itu sedang memberikan sebuah kode kepada Master Tsuyoshi.

“Menggelikan,” gumam Sang General tertawa kecil. Karena terlalu fokus pada Yasu, ia tidak menyadari bahwa pria di belakang sana sedang mencoba untuk menyelinap naik ke tangga.

Aku tidak mengatakan ini adalah keadaan yang menguntungkan, tapi Yasu telah sukses mengubah situasi ini menjadi kesempatan bagi Master Tsuyoshi untuk masuk ke kastil. Tak ada yang tahu apakah Sang General benar akan membiarkan kami menemui raja atau tidak, karenanya Yasu berusaha mengantisipasi hal terburuk yang mungkin dapat terjadi. Aku salut. Sampai di ambang kematiannya pun anak itu masih saja memikirkan kepentingan misi ini. Meskipun di saat yang bersamaan hal itu juga membuatku merasa sedih.

CRAK! CRAK!

Crossbow para penjaga kembali berderak dan mengirimkan gelombang horor yang teramat sangat padaku. Sang General masih tetap waspada dan sesekali mengamati keadaan sekitar sehingga Master Tsuyoshi tidak bisa segera keluar dari tempatnya. Beliau hanya butuh satu pengecoh lagi agar bisa menerobos masuk melalui tangga. Dan satu-satunya pengecoh yang paling kuat saat ini adalah drama pengeksekusian Yasu.

Anak itu terlihat siap, namun aku sama sekali tidak.

“Hari ini aku melihat banyak sekali bola mata yang menatap dengan penuh keyakinan,” ucap Sang General tersenyum seraya melihat ke Ohkura dan Yasu bergantian. “Indah sekali, tapi aku membenci hal itu… membuatku jadi sangat ingin menghancurkannya,” gumam pria tersebut dengan ekspresi yang tiba-tiba saja berubah menjadi dingin.

“TEMBAK!” teriak Sang General tanpa membiarkan kami bersiap.

Belasan panah besi pun segera melesat bagai kilat menuju tempat dimana Yasu berdiri. Saat itu aku mendengar suara histeris Ohkura meneriakkan nama anak itu dari atas sana.

Dan semua tiba-tiba terasa jadi seperti tidak nyata bagiku.

JLEB! JLEB! JLEB!

Suara ujung-ujung panah menembus kulit terdengar begitu dekat di telingaku. Bahkan terasa ribuan kali lebih keras ketimbang suara petir yang menggelegar di angkasa raya kala itu. Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi pada kami. Apa yang baru saja terjadi pada diriku.

Aku berhasil menggunakan tubuhku untuk melindungi Yasu.

Ketika kupikir aku tidak bisa membiarkannya mati, dan panah-panah besi ditembakkan dengan sangat mendadak, tubuhku pun secara otomatis bergerak untuk melindungi anak itu. Aku bersyukur karena alam masih bisa kutaklukkan, dan waktu juga masih bisa kukuasai. Seperti yang pernah kukatakan sebelum ini, jika aku bilang selamatkan, maka mereka harus menyelamatkannya. Harus. Walaupun tubuhku yang menjadi tameng untuk itu.

Dan kini aku merasa seperti berada di alam mimpi.

Tidak ada sedikitpun sakit yang kurasakan meskipun tiga buah besi tajam menancap di punggungku. Mungkin karena saat ini Yasu ada di pelukanku aku jadi merasa tenang. Sempat kumelihat ekspresi horor di wajah anak itu ketika aku berhasil menjangkaunya, namun aku tidak terlalu peduli dengan hal itu. Kami berdua jatuh ke tanah sebagaimana aku membungkusnya dengan begitu erat. Kusadari bahwa tubuhnya mulai bergetar di dekapanku.

Ah, Yasu. Jangan menangis. Jangan menangis saat kau tahu dirimu masih hidup setelah semua ini. Kita harus merayakannya. Kau baru saja lolos dari kematian untuk yang kesekian kali dan itu adalah hal paling menggembirakan. Setidaknya bagiku. Perlihatkan padaku. Perlihatkan wajahmu padaku, pintaku padanya.

Namun aku hanya bisa melihat ekspresi sedih serta derasnya aliran air mata di sana.

Suasana pun tiba-tiba saja menjadi begitu hening. Entah karena semua orang tiba-tiba menghilang atau memang karena indra pendengaranku yang tak lagi berfungsi, aku tidak bisa mendengar dan melihat hal apapun kecuali Yasu yang ada di hadapanku. Darah segar mulai merembes ke sekujur tubuh namun aku masih tak mau berpindah dari posisi ini. Sekarang aku hanya ingin memeluk Yasu. Aku ingin bersamanya sampai napasku habis. Jika aku akan segera pergi, aku ingin anak itu jadi hal terakhir yang kulihat sebelum kematianku.

“Yasu…” aku tersenyum seraya mengusap dahinya.

“Maru hentikan,” adalah suara Yasu yang kudengar ketika anak itu memelukku. Kalimat-kalimat protes bercampur tangisan yang dikeluarkannya terdengar seperti nyanyian merdu bagiku. Dahi kami bersentuhan dan aku bisa merasakan kehangatan mengalir dari sana. Mungkin itu satu-satunya hal yang masih mampu kurasakan di tengah fakta bahwa tubuhku mulai mati rasa.

Aku memang takut kehilangan nyawaku, tapi kehilangan Yasu lebih menakutkan lagi. Jika aku mati, maka aku tidak akan merasakan penderitaan hidup tanpa dirinya. Tapi jika ia yang mati, sepanjang usia aku tidak akan pernah bisa hidup sebagai manusia. Mungkin aku hanya akan seperti jasad bergerak yang tidak memiliki jiwa. Karenanya saat ini aku merasa bersyukur bahwa anak itu berhasil selamat.

Ia hangat.

Jantungnya masih berdetak.

Napasnya masih terasa.

Dan tangannya masih dengan erat memelukku.

Dia hidup.

Dia hidup.

Seandainya saja itu benar.

JLEB! JLEB! JLEB!

Suara ujung-ujung panah menembus kulit terdengar begitu dekat di telingaku. Bahkan terasa ribuan kali lebih keras ketimbang suara petir yang menggelegar di angkasa raya kala itu. Aku tidak bisa mempercayai apa yang baru saja terjadi pada kami.

Yasu menggunakan tubuhnya untuk melindungiku.

Aku baru saja terbangun dari delusi tentang bagaimana aku menyelamatkan nyawa anak itu dari hujaman panah para penjaga. Tapi yang terjadi sesungguhnya di dunia nyata adalah sebaliknya. Yasu menyelamatkanku dari hujaman panah Sang General. Pria keji itu melepaskan panah dari crossbow-nya untuk membunuhku. Senjata tersebut dirancang berbeda dengan crossbow biasa sehingga kekuatan dan kecepatan tembaknya berkali-kali lipat di atas normal. Dan semuanya terjadi seperti sebuah kedipan mata bagiku. Sampai sekarang pun aku masih mencoba untuk memprosesnya.

Ketika Sang General memberikan perintah kepada prajuritnya untuk menembak Yasu, sesungguhnya aku sudah dalam posisi siap berlari untuk melindungi anak itu. Aku tidak tahu jika pria di atas sana membaca niat tersebut dan menembakkan crossbow-nya ke arahku. Saat itu aku terlalu fokus pada Yasu sehingga tidak menyadari serangan mendadak tersebut. Kecepatan tembak Sang General jauh lebih besar daripada kecepatan tembak para prajurit, sehingga Yasu yang menyadari hal itupun segera berlari ke arahku. Ia menggunakan tubuhnya untuk menghalangi panah milik Sang General mengenai diriku.

Dan pemandangan selanjutnya adalah kenyataan yang paling buruk. Tiga buah panah besi menancap ganas di tubuh Yasu. Anak itu jatuh ke tanah dan aku hanya bisa membatu di tempat. Tiga perempat dari otakku mati dan hatiku hancur lebur. Suara teriakan Ohkura adalah satu-satunya hal yang berhasil disaring oleh indra pendengaranku saat itu.

“Aku benci mata yang penuh dengan keyakinan. Tapi aku lebih benci lagi mata yang penuh dengan cinta,” ucap Sang General seraya menatapku dengan ekspresi dinginnya. Dan itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar dari pria itu sebelum Ohkura berubah menjadi monster dan menghantamkan kepala orang gila tersebut ke dinding.

Aku sudah tidak peduli lagi atas apa yang terjadi di atas sana. Master Tsuyoshi pun sudah menghilang dari pandangan kami sejak tadi. Anak buahnya yang ada di bawah segera memanjat ke dinding atas untuk kembali bertarung dengan Sang General dan para penjaga. Tentu saja, pikirku. Misi ini jelas lebih penting bagi mereka daripada Yasu. Nyawa satu prajurit tidak sebanding dengan nyawa ribuan rakyat yang jadi pertaruhan. Profesional katanya. Mencari kebenaran katanya. Tapi bagi diriku, misi ini sudah selesai. Aku sudah tidak peduli lagi dengan apapun.

Semuanya sudah berakhir.

“Yasu…” aku mengelus dahinya untuk membuat anak itu tetap sadar. Salah satu panah menancap di perutnya dan aku tahu itu adalah sesuatu yang buruk. Air mataku pun mengalir ketika Yasu menatapku sambil bertanya, “Maru, apa kau terluka?” dengan ekspresi cemas. Ia masih saja sempat menghawatirkanku meski keadaan dirinya lebih memprihatinkan.

Anak panah dari crossbow Sang General tidak memiliki pengait di ujungnya, sehingga dapat dengan mudah kutarik keluar dari tubuh Yasu. Membiarkan panah itu tetap di sana hanya akan membuat Yasu semakin kesakitan. Darah juga tidak akan berhenti mengalir walau aku tidak melakukan apapun. Maka kuputuskan untuk mencabut semua panah dan membalut tubuh anak itu dengan jubahku.

Ketika itu, mendung pun perlahan mulai menyerah. Air segera turun dari langit dan membasahi seluruh wilayah Yoto.

ZZAAAAAA

“Hujan…” gumam Yasu tersenyum. Matanya menatap sayu ke angkasa seraya mengamati tetesan-tetesan air yang datang kepadanya. “Lihat Maru…” ucapnya menggenggam tanganku yang sedang bersusah payah membalutkan kain jubah. “Tidakkah alam bersahabat denganku?” tanyanya dengan suara yang lemah. Aku takut sekali jika ia terus berbicara maka energinya akan habis dan membuat nyawanya meregang lebih cepat. Tapi aku tahu bahwa Yasu menyukai hujan, sehingga aku pun membalasnya dengan senyuman yang sama.

“Tentu Yasu, tentu. Hujan sengaja turun untukmu,” kucoba menghapus air mata yang mengalir deras di pipiku dengan punggung tangan. “Di sini berbahaya, aku akan membawamu ke tempat yang lebih aman,” lanjutku sambil lalu mengangkat tubuhnya dengan hati-hati. Anak yang bersangkutan segera menggeleng.

“Maru,” Yasu tersengal seraya memegangi dadaku. “Kau harus menyusul Master Tsuyoshi,” ucapnya memohon. Dan membiarkan dirinya sendirian tergeletak di tanah bercampur dengan mayat prajurit-prajurit tak penting lainnya di sini? Tidak akan. Anak itu terlalu berharga untukku. Aku tidak bisa meninggalkannya dalam keadaan seperti ini. Lagipula, ia belum pasti mati. Jika aku bisa membawanya ke kota terdekat, mungkin saja nyawanya bisa selamat.

“………” kuabaikan perkataan Yasu dan berlari kecil melewati jembatan. Darah dari luka di tubuh anak itu sempat meninggalkan bercak merah di atas kayu yang kami lewati, namun segera terhapuskan oleh air hujan. Semakin lama kami berada di tempat terbuka, semakin wajah Yasu terlihat memucat. Sudah pasti karena ia kedinginan dan jumlah darah di tubuhnya yang kian berkurang. Rasanya aku pun ingin segera sampai ke pepohonan di depan sana agar kami berdua terhindar dari hantaman hujan.

“Maru…hh, Maru berhenti,” Yasu terus memprotesku karena ia tahu aku sedang berlari menjauhi kastil. Dari detik ke detik hujan turun semakin deras dan angin bertiup dengan kencang. Rasanya tidak mungkin untukku membawa Yasu ke kota terdekat karena jaraknya yang jauh dari tempat ini. Bisa-bisa ia malah justru mati di perjalanan. Tapi jikapun aku membiarkannya, maka hanya tinggal menunggu waktu saja sampai darah dan seluruh napasnya habis. Pilihan yang manapun tetap akan berakhir sama. Dan itu membuat hatiku merasa kesal.

CTAAAARR!!!

Suara petir terdengar keras ketika kami sampai di pinggir hutan. Mungkin yang paling keras yang pernah kudengar di hari ini. Tapi itupun masih belum bisa mengalahkan suara debaran jantungku yang berkontraksi dengan sangat ekstrim akibat memikirkan Yasu. Aku tidak mau ia mati. Aku tidak akan sanggup menerimanya. Hatiku menolak untuk merelakan kami berakhir seperti ini. Juga menolak untuk menerima kenyataan bahwa Yasu akan segera hilang dari dekapanku.

“Yasu…” aku pun membaringkannya di pangkuanku saat aku tahu napasnya mulai terpatah-patah. Tidak mungkin lagi untukku membawanya lebih jauh dan membiarkannya tersiksa menahan sakit. Kondisi anak itu sudah terlalu parah sehingga aku harus menjaga sisa kesadarannya selama mungkin yang aku bisa. Saat kuelus kepala Yasu, aku sadar bahwa sarung tanganku sudah penuh dengan darah dari lukanya, begitu juga dengan jubahku yang melilit di tubuh anak itu.

“Yasu! Tetaplah bersamaku!” ucapku mencegahnya untuk menyerah. Anak itu memejamkan mata dan aku takut jika nyawanya lepas begitu saja tanpa sepengetahuanku. “Yasu! Bangun!” aku pun menggoyang pipinya agar ia tetap sadar. Kulihat Yasu berusaha keras untuk membuka matanya sambil kemudian menatapku dengan lemah. Baru saja aku hendak membersihkan wajah anak itu dari air hujan, kudengar seseorang berteriak di kejauhan.

“YASU! MARU!”

Itu adalah suara Ohkura. Aku tahu ia pasti akan menyusul kami.

“Oh, tidak,” lelaki itu segera mendekat dan meraih kepala Yasu dengan kedua tangannya. “Yasu…” meskipun wajahnya penuh dengan luka akibat penyiksaan dari Sang General, namun ekspresi horor masih bisa tergambar sempurna di sana. Lelaki itu melihat dengan mata kepalanya sendiri ketika panah-panah besi menghujam tubuh Yasu, sehingga ia pasti tahu seberapa mengerikannya keadaan anak itu saat ini.

“Oh…kura…h-hey…” Yasu mengangkat tangannya dan Ohkura segera menggenggamnya dengan erat. “Apa yang…ugh! Kau lakukan… di sini?” ia berusaha keras untuk berbicara seraya menggoyang pelan genggaman Ohkura. “Kalian…” ia lalu meraih tanganku dan memeluknya di dada. “Kalian… harus melindungi Master,” ucapnya lemah. Membuatku kesal dan mencoba menghentikan Yasu agar ia tidak membuang energinya untuk menceramahi kami soal tanggungjawab prajurit dan semacamnya. Aku sudah muak dengan misi ini.

“Hey…hhh, dengar…” namun anak itu tetap saja melanjutkan bicaranya. “Aku… tidak mau…hhh, mati sia-sia…” ucapnya seraya menatap kami dengan pandangan memohon. “Jangan buat aku…hhh, mati sia-sia…” air hangat mengalir dari sudut matanya dan itu membuat hatiku menjadi semakin sakit. Andai saja ia tahu bahwa tidak ada hal lain yang kuinginkan selain dirinya, bahkan tidak dengan kemerdekaan, kebenaran, atau apapun itu. Dan andai saja ia tahu bahwa aku rela mengorbankan ribuan nyawa orang hanya untuk menyelamatkan hidupnya.

“Yasu, berhenti bicara,” ucap Ohkura mengelus kepala anak itu lembut. “Master Tsuyoshi sudah masuk ke dalam kastil, tugas kita sudah selesai,” ucapnya lagi. Dan aku sangat setuju dengan hal itu. “Kita akan kembali ke Saikan… bertiga…” Ohkura mencoba menahan emosi hingga suaranya pun terdengar serak. Ia menatap sejenak ke arahku sambil lalu kembali pada Yasu. “…dalam keadaan hidup,” lanjutnya sambil memaksakan diri untuk tersenyum. “Ingat janjiku pada kalian? Aku tidak akan mengingkarinya,” Ohkura mencoba meyakinkan lelaki kecil tersebut bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi Yasu sendiri tahu bahwa itu adalah sesuatu yang mustahil. Ia tahu bahwa waktunya hampir habis.

“Kau salah…” ucap anak itu menggeleng. Matanya sempat memejam erat karena menahan sakit yang teramat sangat. “Kalian berdiri…hhh, di jembatan itu… untuk memandu tim ini,” Yasu menggenggam erat tanganku dan Ohkura. “Kalian harus… memastikan hhh, bahwa…Master Tsuyoshi yang akan…hhh, memenangkan kudeta,” ia menatapku dan Ohkura bergantian, namun tidak ada dari kami yang merespon. Sejujurnya hati kami pun bimbang, antara harus menyelesaikan misi ini atau berhenti. Sebab pilihan manapun yang diambil tidak akan mampu mengubah kenyataan bahwa hidup Yasu akan segera berakhir.

“Kumohon…” ucap Yasu melihat kepadaku dan Ohkura dengan matanya yang berair. Wajahnya sangat memilukan aku sampai tak sanggup menatapnya. “Kumohon…” ucap anak itu lagi. Kali ini dengan suara yang lebih pelan, hampir terdengar seperti sebuah bisikan. Aku menggigit bibirku untuk menahan diri dari gejolak emosi yang meluap-luap. “Kumoh-“

Dan Ohkura pun menutup mulut anak tersebut dengan punggung tangannya.

“Kami berdua akan,” ucapnya mengangguk. “Kami berdua akan memenangkan misi ini,” lanjutnya lagi. “Kami akan memenangkannya untukmu,” ucapnya memejamkan mata erat sambil lalu menunduk di dada Yasu. Sepertinya Ohkura sadar bahwa ia tidak bisa membiarkan anak itu pergi dengan membawa beban. Dan aku pun paham bahwa misi ini adalah bagian dari cita-cita serta harapan Yasu selama ini. Kulihat lelaki kecil di sana tersenyum lemah.

“Aku… percaya…” ucapnya pelan. Membuat Ohkura menangis dalam kebisuan.

Hujan kian bertambah deras dan angin menggoyang ranting-ranting pohon dengan begitu kasarnya. Tubuhku sudah dipenuhi dengan darah Yasu karena terlalu lama mendekap anak itu. Aku jadi teringat pada kejadian serupa yang pernah menimpa kami beberapa minggu sebelum ini. Saat kami bertiga jatuh di lembah dan Yasu terluka sangat parah. Ketika itu aku dan Ohkura pun berpikir bahwa Yasu mungkin tidak bisa diselamatkan, juga tidak ada kemungkinan kami bertiga bisa pulang ke istana dalam keadaan hidup. Tapi rupanya alam berkehendak lain. Sesuatu yang ajaib terjadi dan kami berhasil bertahan hidup. Seandainya saja boleh berharap, aku ingin agar keajaiban itu terjadi lagi hari ini.

“Hey…” Yasu menepuk tangan Ohkura dengan sisa tenaganya, menyuruh lelaki itu untuk mengangkat kepala. Orang yang bersangkutan pun segera menjauh untuk memberikan ruang bagi Yasu berbicara. “Dengar…” ucap anak itu menatap ke arahku dan Ohkura bergantian. Wajahnya terlhat pucat dan lemah. Aku takut. Aku berusaha sekuat mungkin untuk menahan bendungan emosi di dalam hatiku, tapi nampaknya hal itu tidak dapat berlangsung lama.

“Aku tidak menyesal…” ucapnya seraya menggoyang pelan tanganku dan Ohkura. “…telah bertemu dengan kalian,” lanjutnya tersenyum. Aku tidak dapat berbohong bahwa seluruh perasaanku tumpah ketika ia mengatakan hal itu. Air mata yang entah terbendung sejak kapan mengalir dengan sangat deras dan tidak terkontrol. Aku memeluk Yasu dan Ohkura memeluk kami berdua. Kami bertiga berpelukan dengan begitu eratnya di bawah guyuran hujan dan hantaman angin.

“Jangan menangis…” ucap Yasu pelan. Ia berusaha menenangkan tapi aku tidak yakin jika itu akan berhasil. Yang ada malah justru tangisanku dan Ohkura semakin menjadi-jadi.  “Jangan menangis…” ucapnya lagi dengan napas yang lemah. Semua memori tentang dirinya berputar-putar di kepalaku dan membuat diriku tidak bisa melakukan hal lain kecuali mendekapnya dengan lebih erat. “Jangan menangis…” bisiknya di telingaku.

Dan aku sadar bahwa itu adalah kata-kata terakhir yang kudengar dari dirinya.

Benar.

Ia sudah pergi.

Yasu sudah tiada.

Yang ada di detik selanjutnya hanyalah suara-suara teriakan kesedihan bergema pilu di udara. Entah mana yang lebih keras. Teriakanku, teriakan Ohkura, atau teriakan alam dari langit di atas kami. Gemuruh petir seakan menyambut jeritan nama Yasu yang kami lemparkan terus menerus ke angkasa. Dan mengundang air hujan untuk turun dengan lebih deras lagi ke bumi. Kala itu, aku merasa seluruh jiwaku seperti ikut mati bersama Yasu.

Aku tahu.

Aku tahu sejak awal bahwa kami bukanlah karakter utama dalam kisah ini. Kami bukan pahlawan. Kami bukan raja, general, atau siapapun yang punya kekuasaan. Kami bukan siapa-siapa di dalam sejarah besar yang tercetak sebelum ini ataupun sesudah ini. Peran kami tidak terlalu menonjol. Dan tidak ada yang peduli dengan kami.

Kami hanyalah tiga orang prajurit biasa. Pemeran figuran yang tidak punya pengaruh dalam cerita opera. Orang yang tidak disadari keberadaannya karena berdiri di pojok panggung. Sosok yang hanya muncul sekilas untuk meramaikan suasana. Dan lelaki berseragam sama yang tidak akan diingat namanya jika gugur di medan perang. Itulah kami. Posisi kami sama saja seperti para penjaga yang tewas bergelimpangan di sana. Tidak ada yang tahu siapa, apa, dan bagaimana mereka bisa ada di dalam skenario ini. Dan juga alasan mengapa peran mereka berakhir dengan sedemikian cepatnya.

Aku percaya bahwa tiap nyawa memiliki ceritanya masing-masing. Tiap yang hidup memiliki tujuan dan harapannya masing-masing. Juga bagi tiap hati, memiliki sesuatu yang berharga dan mereka cintai masing-masing. Hanya saja, alam tidak sebijak itu untuk bisa menempatkan semua orang sebagai pemeran utama yang sukses dengan hidupnya. Terkadang beberapa peran justru berakhir tragis dan bahkan dihapuskan dari memori. Seperti kisah milikku ini. Sebuah kisah yang tidak menggembirakan.

Tak seorangpun dapat memiliki lebih dari apa yang sudah ditakdirkan menjadi bagiannya.

Adalah pepatah yang kuakui kebenarannya.

Aku menginginkan Yasu, tapi mungkin sejak awal dia memang ditakdirkan bukan untukku. Kupikir ini tidak adil. Sebab aku tidak pernah menginginkan hal lain kecuali dirinya. Juga tidak pernah sembarangan meminta tanpa alasan yang pasti. Tapi meskipun demikian, alam tetap enggan untuk mengabulkannya. Dan bahkan tega menghancurkan impian itu hingga berkeping-keping.

Mereka membunuh Yasu. Bagiku, ini adalah harga yang terlalu tinggi untuk dibayar. Kebenaran yang diharapkan juga tidak membawa kebahagiaan untukku. Rasa-rasanya aku ingin menyerah saja dari kehidupan yang kejam ini. Aku tidak peduli jika aku akan dimasukkan ke dalam neraka karena hal itu, sebab itu lebih baik ketimbang harus meneruskan hidupku di dunia tanpa dirinya.

Ohkura di sisi lain, adalah sesuatu yang berbeda. Aku iri padanya. Sebab ia masih punya keberanian kembali ke medan perang untuk memenuhi tanggungjawabnya terhadap Yasu.

“Aku akan menyusul,” adalah ucapanku ketika anak itu dengan tegar memutuskan untuk kembali ke kastil. Ia menyuruhku untuk membungkus jasad Yasu dengan jubah-jubah kami dan menyembunyikannya di semak-semak. Dalam kondisi darurat, itu adalah satu-satunya cara agar mayat Yasu mudah dievakuasi setelah misi kudeta ini berakhir. Tapi sebenarnya aku kurang yakin apakah aku bisa benar-benar menyusul anak itu atau tidak.

Punggung Ohkura terlihat semakin menjauh saat lelaki itu berlari meninggalkan diriku dan Yasu di pinggir hutan. Mataku menatap kosong ke kejauhan dan kurasakan semua indraku lumpuh saat itu juga. Apa ini, pikirku. Aku sama sekali tidak memiliki keinginan apapun lagi. Dan aku sama sekali tidak berniat untuk meneruskan semua ini. Bahkan tidak untuk memenuhi permohonan Yasu.

“Yasu…” aku mengelus kepalanya dengan lembut. Rasanya masih belum percaya bahwa anak itu sudah tidak bernyawa lagi. Aku mencium dahinya hanya untuk merasakan dingin di bibirku. Kupeluk erat tubuh Yasu dengan seluruh tenaga tanpa mempedulikan darah yang masih mengalir dari luka-lukanya.

Kehilangan Yasu memang amat sangat menyakitkan. Tapi setelah kupikir lagi, mungkin inilah yang terbaik untuknya. Sebab ia tidak akan lagi merasakan sakit seperti yang selalu ia alami selama ini. Dan juga tidak akan pernah menua. Sempurna.

Aku hanya harus menyusulnya jika ingin keluar dari rasa sakit ini.

Tiba-tiba saja pedang di pinggangku terasa seperti jalan keluar yang paling tepat.

Oh, tidak. Ohkura mungkin akan sangat kaget jika menemukan dua mayat di tempat ini saat ia kembali nanti. Apa yang harus kulakukan? Aku merasa kasihan padanya karena ia harus kehilangan dua orang terdekatnya sekaligus.

Meskipun seujurnya aku tidak peduli.

SRET!

“Ugh,” aku tidak tahu jika menyayat pergelangan tangan ternyata terasa lebih menyakitkan daripada tertebas senjata musuh. Mungkin karena sebenarnya aku tidak menginginkan ini terjadi, tapi aku tetap saja melakukannya. Sejujurnya aku tidak pernah merasa sebodoh ini dalam hidupku.

Namun juga tidak pernah merasa selega ini.

“Yasu, bolehkah aku berbaring bersamamu?” tanyaku pada anak itu seraya mengelus pelan kepalanya. Aku sadar bahwa tidak akan ada jawaban dari pertanyaan tersebut sehingga aku segera saja memeluknya. Kudengar suara ranting-ranting berderak kasar akibat diterjang angin, dan juga suara petir bergemuruh di atas sana kala itu.

“Dingin…” kugenggam tangan Yasu dan melihat darah mengalir perlahan dari tanganku ke tangannya.

Ya.

Ini hanya masalah waktu.

 

Last Chapter : Pengecut

END

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s