[Multichapter] Please be MINE Again #2

PLEASE BE MINE AGAIN Part 2

by : Matsuyama Retha

Genre : Romance, (Hard) Violence, Fluff

Rating : NC-17 *masih aman kok*

Cast : Hirano Sho (Mr. KING), Matsumoto Reina (OC), Nakamura Kaito (Travis Japan), Kawago Hina (Nogizaka46), Koichi Goseki (A.B.C-Z) as Hirano Goseki, Kikuchi Moa (BABYMETAL) as Hirano Moa, Totsuka Shota (A.B.C-Z) as Matsumoto Shota, Matsumoto Kota (Johnny’s Jr.)

Part 1 HERE

16229957_1232232140205688_1652411126_o_%e5%89%af%e6%9c%ac

DOUZO

Sho-kun, sebegitu hinanya diriku di mata-mu, sehingga kau anggap aku sebagai pembantumu?

.

.

Keesokkan harinya, Matsumoto Reina, telah bangun dari waktu biasanya untuk mempersiapkan semua yang dikatakan oleh Hirano Sho kemarin. Jika tidak, bisa-bisa Reina kena marah dari Sho.

 

Suara berisik kini terdengar dari dalam dapur. Membangunkan seorang pemuda tinggi yang merupakan kakak kandung Reina, Matsumoto Kota.

 

“Rei-chan? tumben jam segini sudah rapi sekali. Memangnya mau kemana?” aktivitas Reina pun terhenti begitu mendengar suara kakaknya itu.

“A .. ano .. aku ..” Reina terlihat ragu-ragu. Dirinya tidak tahu bagaimana menjelaskannya.

“Makanan ini untuk siapa? Untuk aku?” tanya sang kakak pada Reina.

“Chigau, Kota-nii. Makanan ini untuk Hirano Sho dan adiknya, Hirano Moa.” Jelas Reina dengan jujur pada kakaknya yang dipanggil Kota-nii. Lengkapnya Matsumoto Kota.

“Ah, Hirano Sho ya? Bukannya dia yang akan dijodohkan Papa padamu?” tanya Kota yang hanya mampu dijawab dengan sekali anggukan dan mempercepat pergerakannya untuk memasukkan kotak bento yang telah disiapkan tadi kedalam tas.

“Tadinya aku ingin sekali memakan masakanmu, tapi berhubung kamu memasak untuk Sho-kun, ya tidak jadi. Hahaha!” mendengar Kota yang tertawa itu hanya membuat Reina tersenyum saja. Senyum yang benar-benar terpaksa. Dalam hatinya yang paling dalam, dia benar-benar tersiksa saat ini.

“Saa. Aku langsung saja ya, Oniichan. Ah iya satu lagi. Mungkin aku akan menginap dirumah Sho-kun karena Papanya sedang ada proyek diluar negeri selama 2 tahun, jadi tidak apa-apa, Oniichan?” jelas Reina dengan ragu-ragu sebelum dia benar-benar pergi.

“Apa? 2 tahun? Jadi kau akan menginap disana selama 2 tahun? Lalu .. apakah kamu sudah minta izin sama Papa?”

“Justru Papa mengizinkan sebelum aku meminta izin padanya, Kota-nii. Kata Papa kemarin paman Goseki menelepon untuk mengizinkanku menginap disana.” Jelas Reina lagi.

“Souka. Kalau begitu ya sudah. Mungkin aku harus sabar menunggu selama 2 tahun untuk bisa dimasakkan makanan yang enak buatan imouto-chan. Hahaha!!”

 

Lagi-lagi Kota tertawa dan terlihat manis sekali. Itupun hanya membuat Reina tersenyum penuh terpaksa dan juga tidak diketahui oleh kakaknya sendiri.

 

“Saa .. kalau begitu aku langsung berangkat ya, Kota-nii. Aku sudah membuat sarapan untuk Kota-nii, Papa, sama Mama juga. Ittekimasu!” Reina pun segera memasukkan kotak bento yang dibawanya itu kedalam tas dan kemudian izin pamit dengan Kota.

“Itterashai.” Balas Kota sambil mengembangkan senyumannya yang manis sekali, meskipun Reina tidak mengetahuinya karena sudah keluar rumah duluan.

 

.

 

Sesampainya Reina di kediaman keluarga Hirano, rasa debaran di jantungnya kini terasa sekali. Dia sedang gugup saat itu. Memang terlalu pagi bagi seorang gadis bernama Matsumoto Reina ini untuk mendatangi rumah teman masa kecilnya itu, ah, bukan teman melainkan seseorang yang akan dijodohkannya itu.

 

TOK TOK TOK ..

 

Dengan perlahan Reina mengetuk pintu kediaman Hirano ini. Debaran di jantungnya semakin tidak beraturan dan membuat dada Reina sempat merasakan sakit.

 

Tak membutuhkan waktu lama, pintu rumah itu akhirnya terbuka dan tampaklah seseorang dibalik pintu itu telah membukakannya untuk Reina.

 

“Onee-chan!! Ohayou!!” sapa seorang gadis berusia sekitar 15 tahun yang tadi baru saja membukakan pintu untuk Reina.

“Ohayou Moa-chan. Tumben jam segini sudah bangun?” tanya Reina pada gadis manis itu yang dipanggilnya Moa-chan itu. Hirano Moa.

“Iya. Baru saja tadi membantu Papa untuk membereskan barang yang akan dibawanya ke luar negeri. Oh iya, kenapa Onee-chan datang kemari pagi sekali?” kini giliran Moa menanyakan hal yang sama pada Reina. Membuat Reina tersenyum kecil.

“Onee-chan diminta sama Papa kamu untuk menemanimu dan Sho-kun selama Papa kamu pergi, sayang. Tidak apa-apa, kan?” penjelasan yang diakhiri sebuah pertanyaan dari Reina itu kini telah dijawab secara langsung oleh Moa dengan menganggukkan kepalanya itu.

“Tentu saja. Kalau begitu segera masuk saja, Onee-chan. Biar aku yang membawa tas Onee-chan.”

“Tidak perlu, Moa-chan. Biar Onee-chan yang membawanya. Ini, Onee-chan membuatkanmu dan kakakmu sarapan pagi sebelum Onee-chan kemari.” Setelah beberapa saat meletakkan tas kopernya itu, segera saja Reina memberikan sebuah kantong tas berisi kotak bento pada Moa. Setelah diterima oleh Moa, segera saja dia meletakkannya di atas meja dan berencana untuk membuka kotak bento tersebut.

“Wah, Onee-chan tahu saja kalau aku ingin makan ikan salmon!” mendadak Moa langsung terkejut sekaligus senang begitu dirinya mengetahui isi dari kotak bento itu.

“Hontou ni? Soalnya Onee-chan bingung ingin membuat masakan apa, jadinya ya membuat ikan salmon dan berbagai sayuran disana.” Jelas Reina dan kemudian tersenyum. “Oh iya, kalau Onee-chan boleh tahu, Onee-chan tidur dikamar mana?” lanjut tanya Reina kemudian.

 

“Kau tidur sekamar denganku, Reina.” Jawab sebuah suara yang sukses membuat Reina maupun Moa kebingungan yang di akhiri dengan terkejut itu setelah mengetahui siapa orang yang telah menjawab pertanyaan Reina barusan.

“Se .. sekamar dengan Onii-chan?” tanya Moa sedikit ragu-ragu. Dengan santainya orang yang dipanggil Moa ‘Onii-chan’ tadi hanya menganggukkan kepalanya. ~Hirano Sho.

“Ta .. tapi, Sho-kun …”

“Reina, apa kau mau menolak?” ucapan Reina barusan langsung disela begitu saja oleh Sho. Tatapan matanya yang terlihat biasa saja, namun sebenarnya terkesan mematikan membuat Reina tidak bisa berkutik lagi dan hanya bisa menurut.

“Baiklah, Sho-kun.”

“Ayo ikut aku ke kamar.”

 

Tanpa aba-aba, Reina akhirnya langsung mengikuti arah jalur Sho yang sedang berjalan mendahuluinya itu. Lebih tepatnya menuju ke kamarnya Sho.

 

Dalam hati Reina langsung berdebar luar biasa. Bukankah tidak boleh jika harus dikamar hanya berdua saja dengan seorang laki-laki?

 

“Kasurnya ada dua, yang atas ini dan juga yang dibawah. Jadi kau tidur dengan kasur yang dibawah, sementara aku diatas.” Jelas Sho dengan santainya setelah dia mulai menghentikan langkahnya dan berdiri di ambang pintu kamarnya. Dengan ragu-ragu Reina memasuki kamar Sho dan meletakkan tas kopernya di sudut pojok kamar itu yang bersebelahan dengan pintu kamarnya.

 

Sesaat Reina mulai membuka tas kopernya dan mengambil sesuatu dari dalam tas itu. Sho yang melihatnya dari belakang membuatnya langsung menutup pintu kamar dan menguncinya secara perlahan, kemudian setelah itu ia berjalan kearah Reina yang tampak sibuk mencari sesuatu di tasnya itu. Setelah Reina selesai mencari barangnya itu, segera saja Reina berbalik dan akhirnya dibuat terkejut oleh Sho yang mendadak ada di hadapannya saat ini.

 

“Sho-kun? A-ada apa?” Sho tidak menjawabnya dan justru semakin mendekatinya sehingga membuat Reina melangkah mundur. Namun sebelum punggung Reina menyentuh dinding kamar, Sho segera meraih Reina dan mengarahkannya ke atas tempat tidur. Setelah itu Sho mulai menindih Reina di atasnya.

“Sho-kun, aku mohon lepaskan!” Reina meronta tetapi tidak di tanggapi oleh Sho. Dengan cepat Sho memulai untuk mencium bibir tipis Reina dan kali ini Reina tidak bisa berkutik.

“Jika kita sedang begini, aku tidak ingin kau menolak! MENGERTI!!” di akhir kalimat, Sho meninggikan suaranya sehingga membuat Reina terkejut akan hal itu dan tidak bisa berkomentar apapun selain hanya bisa pasrah akan perlakuan Sho padanya.

 

Setelah itu Sho melanjutkan perlakuannya itu. Sho kembali mencium bibir Reina dengan lembut dan membuat Reina sedikit ragu-ragu untuk membalasnya.

Karena Sho merasa kurang puas, akhirnya dia menggunakan cara keduanya. Kini tangannya mulai meraba-raba bagian dada Reina dan sontak membuatnya terkejut akan perlakuan Sho tadi.

 

“Uuuhh .. Sho-kun. jangan .. ahhh …” desahan Reina kini semakin membuat Sho berbuat hal yang lebih tidak berkenan lagi dengan bergerilya di tubuh Reina sehingga membuat Reina tidak bisa menolak.

 

Kini tangannya yang lain mulai meraba paha mulus Reina dan membuat Reina sedikit kewalahan.

 

“Sho-kun …. aaahhh…” desahan Reina semakin menjadi dan membuat Sho semakin ingin berbuat nakal. Perlahan namun pasti, Sho memasukkan lidahnya ke dalam bibir Reina sehingga gadis itu sedikit tersedak akan perbuatan Sho itu.

 

Sudah berkali-kali Reina berusaha untuk meghentikan Sho, namun apa daya semuanya hanya sia-sia.

 

“Aarrgghh!!”

 

PPLAAKK

 

“Ittai!!” sebuah tamparan kini telah sukses mendarat di pipi Reina sehingga membuatnya merintih kesakitan.

“Sudah kubilang sejak awal, JANGAN MEMBERONTAK KALAU KITA SEDANG SEPERTI INI !!” bentak Sho yang emosi itu. Dia tidak suka dengan perlakuan Reina yang ingin menghentikan Sho untuk bergerilya di tubuh Reina.

 

Tanpa banyak bicara, Sho kembali melakukan aktivitasnya lagi dan kali ini jauh lebih nakal. Dengan tanggap Sho membuka setiap kancing baju Reina tanpa tersisakan sedikitpun.

 

Wajah cantik Reina kini bersemu merah, tidak biasanya dia membuka baju dihadapan lekaki. Ingin sekali Reina menghentikan aktivitas Sho, tapi dia tidak ingin membuat amarah Sho semakin menjadi. Kali ini dia hanya pasrah begitu saja.

 

Setelah semua kancing baju Reina terbuka, kini Sho langsung meremas dada Reina yang masih terbalut bra itu. Nafsu Sho semakin tidak terkontrol saat ini.

 

“Sho-kun … aaahhh …”

 

Sho tidak peduli dengan berbagai macam desahan dari Reina, dia hanya berfokus pada nafsunya itu. Kali ini tangan satunya mulai turun sehingga tepat pada sasarannya itu. Bagian yang berharga bagi semua wanita.

 

“Sho-kun jangan!!” cegah Reina begitu dia menyadari kalau Sho sedang membelai lembut daerah sensitifnya itu yang saat ini masih terbalut celana jins pendek.

“URUSE!!” ketus Sho dan kemudian memulai untuk membuka resleting celana jins nya itu. Namun …

 

TOK TOK TOK

 

“Haaahh Shit!! Siapa yang mengetuk pintu, hah?!” sebuah ketukan pintu kini berhasil membuat Sho menghentikan aktivitasnya. Dalam hati Reina pada akhirnya bisa merasakan lega karena Sho tidak jadi melakukan hal yang lebih dari itu.

“Onii-chan? Onee-chan? kenapa lama sekali yang berdua-duaan di kamar? Aku sudah lapar ini!!” ternyata orang yang telah mengetuk pintu itu adalah Moa, adiknya Sho. Terlintas di pikiran Reina kalau hari ini adalah hari keberuntungannya.

“Aku katakan padamu, Reina!” mulailah Sho mendekati Reina yang sedang memasang kembali kancing bajunya yang tadinya sempat dibuka oleh Sho.

“Kali ini aku tidak berhasil. Tapi suatu saat aku akan menghancurkan masa depanmu!” lanjut Sho dengan ketus dan kemudian berjalan menuju ke ambang pintu kamarnya untuk pergi keluar kamar.

 

Namun sebelum Sho melakukan itu, buru-buru Reina merapikan rambutnya yang sedikit berantakan itu agar adiknya Sho, Hirano Moa, tidak bertanya yang macam-macam terhadapnya.

 

“Uh! Onii-chan kenapa sih?” – “Ah, Onee-chan. daijoubu ka? Kenapa tadi Onii-chan keluar dengan tampang kesal ya?” kini Moa mulai bertanya pada Reina. Tidak mungkin kalau Reina akan berbicara seperti dengan kejadian yang baru saja dialaminya karena Moa masih kecil dan juga tidak layak untuk mendengar hal semacam ini.

“Daijoubu. Ah, kalau begitu kita sarapan yuk.” Kini Reina membelai lembut rambut Moa yang terurai panjang itu. Kemudian mereka berdua sama-sama keluar dari kamar Sho untuk menuju ke ruang makan.

*+*+*+*

 

Sebelum Sho, Reina, dan Moa yang bersama-sama akan berangkat untuk menjalankan aktivitasnya, mendadak Sho menghampiri Reina yang masih menata rambut Moa.

 

“Mulai sekarang kau harus mengantar Moa ke sekolahnya sebelum kau berangkat ke kampus. Mengerti?!” kata Sho dengan ketus dan kemudian pergi mendahului Reina dan Moa.

“Ah, Onee-chan tidak perlu mengantarku ke sekolah. Aku bisa …”

“Tidak apa, Moa-chan. Biar Onee-chan yang mengantarmu ke sekolah.” Sela Reina dengan cepat begitu Moa mengatakan kalau dia tidak perlu diantar ke sekolahnya.

“Ah, baiklah. Terima kasih Onee-chan.” jawab Moa dan segera memeluk Reina dengan erat. “Onee-chan memang yang terbaik. Tidak salah aku memilihmu sebagai kakak iparku suatu saat nanti, Onee-chan.” puji Moa pada Reina.

“Ah, jangan berkata seperti itu, Moa-chan.” kata Reina yang mendadak tersipu malu itu. “Nah sekarang kita berangkat ya, Moa-chan.” ajak Reina dan segera beranjak dari tempatnya menuju garasi mobil yang ada di kediaman Sho.

 

Saat ini, Reina sering memakai mobil miliknya sendiri untuk mengantar Moa menuju ke sekolahnya. Terkadang Sho juga menyuruh Reina untuk menggunakan mobilnya yang pada akhirnya berujung ditolak secara mentah-mentah oleh Reina sendiri.

 

Sesampainya …

 

“Arigatou, Oneechan.” Ucap Moa ketika ia sudah sampai disekolahnya.

“Douitashimashite, Moa-chan. Ganbatte ne!” Reina pun menyempatkan dirinya untuk memberikan dukungan dan semangat pada Moa. Sehingga membuatnya tersenyum senang. “Arigatou. Nanti aku bisa pulang sendiri, Oneechan. Jadi tidak perlu menjemputku.”

“Eh? Tapi …”

“Daijoubu. Saat aku sudah pulang ‘kan Oneechan belum waktunya pulang dari kampus, jadi aku memilih pulang sendiri.” Moa pun dengan cepat menyela ucapan Reina.

“Hontou ni daijoubu ka?” tanya Reina yang tampak khawatir itu.

“Daijoubu desu! Jya matta ne, Oneechan!!”

“Hai!! Jya matta ne!!” setelah selang beberapa waktu saling berbicara, pada akhirnya pun dihentikan. Moa segera masuk ke sekolah dan Reina mulai berangkat menuju kampusnya.

 

.

 

Setelah 15 menit berlalu, tibalah Reina di kampusnya. Ia telah menduga bahwa Sho pasti sudah ada di kampusnya dan saat ini pasti sedang bercanda dengan kawan-kawannya. Tersirat dalam pikiran Reina, dimana Sho berada sekarang ini. Ia sangat jarang sekali bertemu dengannya sejak 15 tahun yang lalu dimana insiden kecelakaan Mama Sho. Namun di sisi lainnya, ia bisa tenang karena Sho tidak mengganggunya.

 

“Hei, Reina!!” seorang pemuda kini memanggil Reina dari kejauhan. Reflek Reina membalikkan badannya menuju ke asal suara itu. “Na-Nakamura-kun?”

“Sudah berapa kali kukatakan? Panggil aku Kaito, Reina.” Ujar pemuda yang bernama Nakamura Kaito itu sembari mengerucutkan bibirnya. Reina hanya tertawa pelan melihat tingkahnya yang lucu itu.

“Haha, baiklah! Ka-i-to-kun.” Reina pun mengeja nama ‘Kaito’ sembari menjulurkan lidahnya. Namun Kaito tak menghiraukan hal itu dan justru menggapai pergelangan tangan Reina dan kemudian menariknya sembari melangkah masuk ke dalam kampusnya. “H-hei .. kenapa kau-”

“Kita langsung masuk saja, Reina.” Ajak Kaito dan kembali melanjutkan langkahnya. Reina hanya terdiam sembari mengikuti langkah Kaito.

 

Fakultas mereka memang sama, tapi tidak dengan Hirano Sho. Kaito dan Reina berada di fakultas Bahasa jurusan Sastra Jepang, sementara Hirano Sho berada di fakultas Seni jurusan Musik. Berbeda fakultas, bukan berarti Reina lepas dari pengawasan Sho, justru Sho semakin memperhatikan Reina dari jauh. Tak Reina sangka, kawan-kawan Sho yang ditugaskan untuk mengawasi Reina mungkin sudah ada disekeliling Reina dan Kaito saat itu. Namun mereka tak tahu.

 

 

“Sho, saat ini pemuda bernama Nakamura Kaito menggenggam tangan Reina dan mengajaknya memasuki gedung fakultas bahasa.” Ujar salah seorang kawan Sho yang sedang ditugaskan untuk mengawasi Reina.

Terus awasi dia selama kau juga berada di fakultas yang sama seperti dia. Ketika pulang nanti, tidak akan kuberi ampun!!” ujar Sho di seberang sana dan kemudian memutuskan sambungan teleponnya tadi.

 

.

 

“Are? Sho-kun? kenapa kau terlihat frustasi?” suara seorang gadis kini telah membuat Sho yang mulanya frustasi menjadi heran. “Kenapa kau bisa disini, Hina-chan?” bukannya menjawab, justru Sho bertanya balik pada gadis yang dipanggilnya Hina-chan itu.

“Hhh. Tentu saja untuk mengawasimu supaya tidak dekat-dekat dengan Reina sialan itu. Alasan inilah kenapa aku memutuskan untuk kuliah disini dan satu fakultas denganmu, Sho-kun.” tanpa izin, Hina pun segera memeluk manja tangan kekar Sho dan menyandarkan kepala di bahu Sho.

“Tenang saja. Reina itu hanya pelampiasan atas meninggalnya Mamaku. Aku tidak mencintainya, jadi aku akan terus menyiksanya sebagai balasannya.” Ujar Sho sembari melepaskan tangannya dari pelukan manja Hina dan beralih pada bahu Hina untuk dipeluknya.

“Bagus sekali, Sho-kun. Biar dia tahu rasa!!” kembali lagi Hina bergelayut manja dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Sho dan memeluknya dengan erat. Sho yang memperhatikan hal itu hanya tersenyum kecil dan kemudian melanjutkan perjalanannya menuju ke fakultas Seni Musik.

 

*+*+*+*

 

3 jam telah berlalu. Pertanda jam mata pelajaran kuliah telah usai dan tinggal menunggu beberapa jam lagi untuk mata pelajaran kuliah yang dijadwalkan pada malam hari. Reina pun bersyukur bisa pulang cepat karena ia ingin menjemput adiknya Sho –Hirano Moa- di sekolahnya. Selain itu, ia juga ingin menyiapkan makan siang jika Sho juga pulang siang seperti Reina.

 

Dengan cepat Reina menuju ke parkiran mobil supaya bisa cepat menjamput Moa dan setelahnya membeli bahan-bahan makanan untuk menu makan siang sekaligus makan malam nanti. Namun …

 

“Reina-chan, kenapa kau cepat sekali yang ingin pulangnya?” tanya Kaito yang berdiri di belakang Reina.

“Maaf, Kaito-kun, aku harus pergi menjemput adiknya Sho-kun di sekolah lalu ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Aku takut kalau nanti Sho marah karena aku tidak tepat waktu.” Ujar Reina secara panjang lebar dan kemudian membalikkan badannya untuk masuk ke mobil.

 

Sebelumnya, “Mau kutemani, Reina-chan?” Kaito pun menawarkan diri untuk menemani Reina, namun Reina hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tidak perlu ditemani yang bersamaan dengan senyuman kecil namun masih terkesan manis bagi Kaito. “Tidak perlu, Kaito-kun. Aku bisa sendiri. Sebaiknya kau pulang saja. Jya ne!”

 

Tanpa menunggu respon dari Kaito, Reina langsung membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam. Ia sangat terburu-buru saat ini. Percakapan singkat dengan Kaito bagi Reina adalah waktu yang terbuang selama beberapa menit. Reina sama seperti Sho yang mengerti waktu, apalagi soal ketepatan waktu dalam melakukan hal apapun.

 

Kaito hanya terdiam memandangi belakang mobil yang ditumpangi Reina melaju menjauh kedepan dan semakin tak terlihat di pandangan mata. Tatapan mata lembut itu kini berubah menjadi sayu. Rasa kekhawatiran sekaligus kecewa melanda pada diri Kaito.

 

“Reina-chan, tidak bisakah kau sadar bahwa aku mencintaimu lebih daripada Hirano-san?”

 

.

.

.

 

15 menit kemudian Reina sudah sampai di sekolahnya Moa. SMA Horikoshi. Sekolah elit pertama di Jepang. Sekolah ini juga merupakan sekolah Reina sekaligus Sho. Sekolah ini ketat sekali dengan aturan-aturan terlebih tidak boleh berpacaran, terlebih berkomunikasi antara kaum Adam dan kaum Hawa.

 

Disaat itulah, Reina merasa sedikit lega dengan peraturan sekolahnya dulu itu karena dengan alasan itu, Reina tidak merasa disiksa oleh Sho. Kaum Hawa yang disiksa oleh Kaum Adam itu berarti sama saja berkomunikasi bukan? Bahkan bisa dibilang tindakan kekerasan fisik. Apabila jika salah satu siswa atau siswi Sekolah Horikoshi itu mendapat perlakuan kasar dari teman sekelasnya atau bahkan teman diluar kelas, seperti perlakuan pembullyan, maka siswa/siswi itu akan dilindungi oleh pihak Sekolah Horikoshi karena sekolah itu menetapkan aturan tidak boleh menyiksa siswa/siswi lain. Dan bagaimana nasib orang yang melakukan penyiksaan atau pembullyan terhadap temannya? Tentu saja tanpa ampun langsung dikeluaran dari sekolah karena hal itu akan membuang nama baik Sekolah Horikoshi.

 

“Moa-chan!!” Reina langsung memanggil seorang gadis berseragam SMA yang diduga adalah Hirano Moa begitu Reina menyadari keberadaan Moa yang sudah berada di depan gerbang. “Eh? Reina-neechan? Kenapa menjemputku? Bukankah ….”

“Sudah ayo masuk. Nanti aku jelaskan.” Moa pun tak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Reina dan masuk ke dalam mobilnya. Lebih tepat duduk di sebelah Reina.

“Ne, kenapa Neechan menjemputku? Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan naik kereta?” tanya Moa yang belum dijawab oleh Reina.

“Hahaha. Kebetulan Neechan pulang cepat. Jadinya bisa menjemputmu. Kebetulan juga kau pulang siang, ‘kan? Tidak sampai sore juga. Hahaha!!” jelas Reina sembari menghidupkan mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan.

“Ne, kita tidak langsung pulang, Moa-chan.”

“Eh? Memangnya kita mau kemana, Neechan?”

“Kita akan pergi ke supermarket untuk membeli bahan menu makan siang nanti.”

“Souka. Aku ingin sekali bisa pergi ke supermarket. Sudah lama aku tidak pergi ke supermarket sejak terakhir aku kesana waktu masih bayi. Kata Papa sih. Dulu aku masih di gendong Mama dan bahkan sempat menangis karena suatu hal yang aku sendiri tak tahu. Ah, mendengar cerita Papa, aku jadi merindukan Mama. Bahkan aku selalu menganggap Neechan itu adalah Mamaku. Kau selalu mengkhawatirkanku seperti seorang Ibu yang mengkhawatirkan anaknya.” Moa pun menjeda curahan hatinya yang cukup panjang itu.

 

Reina sedari tadi hanya diam mendengar semua curahan hati Moa yang justru membuat Reina semakin mengingat masa lalu itu dimana Mamanya Sho dan Moa meninggal dalam kecelakaan yang (mungkin) disengaja dan itu karena ulah Reina sendiri sehingga Sho membencinya.

 

Pandangan Reina masih fokus pada jalanan, namun perasaannya masih tidak tenang dan ia merasa bersalah. “Maafkan aku, Moa-chan. Aku tidak bisa menebus apapun atas meninggalnya Mama-mu. Hanya dengan melayanimu saja yang bisa kulakukan.” Ujar Reina dengan getir. Namun ia tidak ingin menangis saat itu juga karena jika air matanya keluar dari pelupuk mata, akan mengganggu pemandangannya di jalan raya.

 

“Neechan tidak boleh bilang seperti itu!! Neechan itu bukan pembantu keluarga Hirano!! Neechan itu adalah calon kakak iparku suatu saat nanti!! Jadi jangan bilang melayani, sama saja kalau itu artinya pembantu!! Neechan harus yakin kalau Sho-niichan pasti bisa memaafkan Neechan dan kembali mencintai Neechan. Aku yakin saat itu bukan salah Neechan. Pasti ada orang yang sengaja menabrak Mama hingga meninggal.” Moa pun menentang keras ucapan Reina barusan. Ia merasa tak terima jika calon kakak iparnya itu dibilang ‘pembantu’ atau ‘melayani’.

“Entahlah Moa-chan. Memang saat itu ada mobil yang menabrak Mama mu. Tapi tetap saja itu salahku karena melempar bola terlalu tinggi dan sampai di tengah jalan. Aku benar-benar menyesal sekali, Moa-chan.”

“Neechan jangan berkata seperti itu. Tidak mungkin gadis secantik dan sebaik Reina-neechan itu berusaha untuk membunuh Mamaku. Lagipula kejadian itu ketika Neechan masih kecil, deshou? Aku sangat yakin itu bukan salah Neechan. Pasti ada seseorang yang membenci keluargaku sehingga dengan sengaja menabrak Mamaku.”

“Tapi, itu tidak mungkin Moa-chan. Mama kamu tidak mungkin punya musuh yang membencinya.” Ujar Reina yang menolak pernyataan dari Moa.

“Bisa jadi. Atau mungkin ada yang membenci Sho-niichan atau Reina-neechan saat itu, namun Mamaku yang menjadi sasarannya!!” mendengar ucapan Moa telah membuat Reina menjadi bungkam. Entah bingung dengan ucapan Moa atau sedang memikirkan sesuatu.

“Tapi, bagaimana mungkin?” Tanya Reina dengan nada lirih. Pandangannya terus fokus ke arah jalan supaya tak terjadi kecelakaan. Bisa-bisa dirinya kena amarah Sho jika terjadi sesuatu pada adik kesayangannya.

“Entahlah. Polisi saat ini sedang mencari pelaku. Tapi kata Papa sejak dulu belum ketemu petunjuk apapun. Huh menyebalkan!” Moa pun uring-uringan sendiri, namun tak membuat Reina mengalihkan pandangannya dari fokus ke jalan raya.

 

Semoga saja pelakunya cepat ditemukan. Sungguh, aku tak melakukan apapun saat itu.” Batin Reina kemudian.

 

.

.

.

 

Setelah setengah jam berbelanja, kini Reina dan Moa kembali pulang. Yah selama setengah jam itu mereka sukses mendapatkan banyak bahan makanan yang cukup untuk dibuat makanan selama 3 hari kedepan.

 

Selama perjalanan, Reina dan Moa banyak berbicara dan seolah-olah mereka melupakan topik pembicaraan saat menuju ke supermarket tadi. Ya, meskipun sangat banyak bahan pembicaraan –tak lupa juga Reina yang stay focus kea rah jalan raya- mereka tak menyadari jika sudah sampai di kediaman Hirano.

 

Rumah Hirano Sho dan juga Hirano Moa.

 

Setelah turun dari mobil pribadi Reina, dirinya dan juga Moa langsung menuju ke arah belakang mobil untuk mengambil seluruh belanjaannya. Lalu, pandangan Moa mengarah tepat ke arah timur taman rumahnya dimana ada sebuah mobil yang tampak asing baginya.

 

Rasa penasaran kini langsung menyatu di otak Moa.

 

“Ne Reina-neechan, itu mobil siapa disana?”  Tanya Moa yang melontarkan rasa penasarannya itu pada Reina yang –sepertinya- tak menyadari keberadaan mobil lain disana.

 

Sedikit terkejut dengan pertanyaan Moa barusan, Reina yang mendadak penasaran pun pada akhirnya melihat ke arah mobil yang diparkirkan di sebelah timur taman kediaman Hirano ini.

 

DEG ..

 

Jantung Reina seolah-olah berdetak kencang setelah melihat kearah mobil itu.

 

Mobil itu .. warna dan bentuknya sama .. sama saat kejadian itu .. mungkinkah?” batin Reina terus-menerus dilanda keraguan ketika melihat mobil itu.

 

Keraguan tentang masa lalu tentunya.

 

“Nee-chan? Ada apa?” Moa yang sedari tadi tidak mendapat jawaban dari Reina, kini mengayunkan tangannya sekedar untuk menyadarkan.

“Ah, maaf Moa-chan. Nee-chan tak tahu itu mobil siapa. Mungkin ada tamu.” Ucap Reina asal dan menyembunyikan keraguannya itu.

“Hm. Mungkin saja kali ya. Ayo Nee-chan kita masuk dan mulai memasak.” Reina hanya mengangguk sebagai jawaban dan kemudian masuk ke dalam kediaman Hirano.

 

“Tadaima!!” sapa Reina dan Moa bersamaan. Namun tak ada jawaban apapun.

“Huh seperti biasa, Nii-chan mana mau membalas sapa kita.” Moa pun cemberut akibat kebiasaan kakaknya yang satu itu –Hirano Sho- yang selalu tak membalas sapaannya.

 

“Ahhh ahhh Sho-kun Aaaahhhh”

“Ughhh kau benar-benar menarik Hina-chan.”

“Ahh kimochi~”

 

Baik Reina maupun Moa terkejut dengan suara aneh yang tiba-tiba itu. Namun Reina yang lebih terkejut saat ini. Gadis seusianya pasti tahu arti suara aneh seperti itu, sehingga tangannya yang membawa belanjaan diletakkannya begitu saja dan kemudian langsung menutup kedua telinga Moa.

 

“Apa yang Nee-chan lakukan?” Tanya Moa yang sedikit terkejut dengan perlakuan dadakan dari Reina barusan.

“Sekarang kita ke kamarmu dulu, Moa-chan.” Ucap Reina dan hanya dijawab dengan anggukan kepala dari Moa.

 

Pikiran Reina menjadi tak tenang mengingat suara aneh itu yang merupakan suara desahan. Ia semakin syok jika mendengar suara itu, terlebih disana ada Moa yang usianya masih belum cukup untuk mendengar hal semacam suara desahan tadi. Kini Reina membawa Moa untuk pergi ke kamarnya sembari tangannya menutup telinga Moa.

 

“Nee-chan sebenarnya ada apa?” Tanya Moa dengan tampang polosnya dan sukses membuat Reina sedikit frustasi.

“Gomen ne Moa-chan. Ini urusan orang dewasa jadi kamu jangan hiraukan suara tadi ya. Sekarang kamu disini dulu dan jangan keluar sebelum Nee-chan kemari. Oke?” Moa pun mengangguk pertanda ia akan menuruti apa yang dikatakan Reina barusan. Hal itu membuat Reina tersenyum kecil dan keluar dari kamar Moa untuk menghampiri sumber suara desahan itu.

 

“Ahh ahh terus Sho-kun aaahhh.”

 

Suara desahan itu kembali terdengar. Dan suara itu adalah suara seorang gadis yang sangat familiar di telinga Reina. Hal itu membuat Reina sedikit takut dan juga sakit hati.

 

Pria yang sangat dicintainya dengan tulus selama 15 tahun lamanya, kini harus hilang keperjakaannya saat itu. Padahal dirinya sudah mati-matian bertahan demi pria itu agar dapat memandangnya dan mencintainya. Tapi …

 

“Nande Sho-kun?” gumam Reina dan tanpa sadar air matanya menetes mengingat sakit hatinya yang terlalu mendalam.

 

Dengan penuh keberanian, Reina menghampiri sumber suara desahan tersebut. Ternyata asalnya dari dapur. Untung saja dirinya dan Moa tadi tidak langsung menuju ke dapur mengingat suara desahan tadi yang terdengar secara dadakan.

 

Langkah kakinya yang berat kini telah membuat Reina tetap memaksakan diri untuk berjalan. Pelan namun pasti. Tak perlu waktu lama untuk tiba di dapur. Suasana yang dapat membengkakkan mata kini terpampang jelas dimana posisi gadis yang sangat dikenali Reina itu tertindih oleh tubuh Sho –pria yang sangat dicintainya- diatas dengan kedua kaki jenjang gadis itu terangkat dan melingkar di punggung Sho yang bergerak maju mundur itu.

 

Kini Reina tak dapat membendung air matanya lagi untuk tidak keluar dari pelupuk mata indahnya. Rasa sakit yang menjalar hatinya-lah sebagai pemicu keluarnya air mata yang sangat berharga itu. Pria yang sangat ia cintai sedang melakukan hal tak semestinya dengan gadis lain dan itu dihadapannya.

 

Tangan Reina mengepal seolah-olah aliran emosi mengalir sampai di tangannya itu dan tiba-tiba saja dengan penuh keberanian Reina menghampiri kedua lawan jenis yang sedang melakukan hal tak semena-mena itu.

 

Baiklah kali ini amarah maupun emosi yang mempunyai sama makna telah menyatu pada diri Reina sehingga tanpa ampun dirinya menarik rambut gadis itu dengan keras dan kemudian memisahkan dirinya dari pria yang sangat dicintainya. Hirano Sho.

 

“AWWWW!!” rintih gadis itu akan perlakuan dadakan dari Reina barusan.

“SIALAN KAU, HINA!!! BERANINYA KAU MENDEKATI SHO!!!” Reina pun berteriak dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada rambut gadis bernama Hina itu.

“Baka!! Apa yang kau lakukan pada Hina hah?!!” Sho pun terkejut saat Reina melakukan aksi itu secara tiba-tiba.

 

Tak ada pilihan lain, Sho pun segera membenarkan sekaligus mengancingkan celana jeans nya dan kemudian memisahkan Reina dari Hina.

 

“BRENGSEK KAU!! BERANI-BERANINYA KAU MEMANCING SHO UNTUK MELAKUKAN ITU HAAAHHH!!!!!!!!” Entah terkena sabetan apa sehingga Reina benar-benar naik pitam saat ini. Dirinya yang biasanya kalem kini harus benar-benar marah max.

“LEPASKAN AKU, AWWW!!! BRENGSEK KAU REINA!!!” Hina pun masih merintih kesakitan namun tak dapat dipungkiri kalau dirinya masih bisa berteriak.

 

Sho yang sejak tadi hanya beraksi untuk memisahkan Reina dari Hina, tiba-tiba dilanda emosi yang besar sehingga dengan sekali gerakan dirinya bisa memisahkan Reina dari Hina dan menimbulkan efek kedua gadis itu terjatuh.

 

Bukannya memperhatikan Reina, Sho malah langsung menghampiri Hina yang jatuh itu. Bajunya masih berantakan akibat permainannya tadi.

 

“Kau tak apa Hina-chan?” Tanya Sho dengan lembut pada Hina. Namun Hina yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan, dia langsung menangis.

“Sakit Sho-kun. Kepalaku tiba-tiba pusing begini gara-gara dia!” keluh Hina dan berakting seolah-olah kepalanya pusing. Padahal sesungguhnya tak ada efek apapun.

“Dia biar aku yang urus. Sekarang kamu benarkan baju dulu dan langsung pulang ya. Akan ku telpon nanti.” Ucap Sho dan kemudian membantu Hina berdiri.

 

Tanpa disadari oleh Hina, pandangan mata Sho menatap tajam kearah Reina seolah-olah urusan diantara mereka belum selesai. Dan, tanpa disadari oleh Sho juga, Hina menatap kearah Reina dengan penuh kemenangan. Seolah-olah dirinya menang atas game yang dibuat dadakan tanpa tujuan.

 

Disaat Sho menemani Hina keluar dari dapur, Reina yang sedari tadi belum berdiri itu hanya bisa terpaku dengan hatinya yang sangat sakit saat ini. “Sebenci itukah kau padaku Sho-kun?” batinnya lagi mengulang pertanyaan yang sama ketika dirinya kena amarah dari Sho. “Sesakit inikah cinta sepihak?” batin Reina lagi yang masih menderita dengan sakit hatinya itu.

 

“Heh kau!!” suara kasar yang tak ingin didengar oleh Reina kini telah mengejutkannya.

 

Tentu saja itu suara Sho yang barusaja kembali dari mengantar Hina sampai di depan rumah. Wajahnya yang tampan kini harus tertutup akibat amarah yang meluap-luap.

 

“KENAPA KAU MENGANGGUKU TADI HAH?!!!” teriak Sho dengan nada penuh emosi yang sudah max itu sembari menarik rambut Reina sehingga membuatnya berdiri. “Sakit Sho-kun.” Rintih Reina dengan nadanya yang pelan.

 

Mata Reina sudah penuh berlinang air mata itu pun tak membuat Sho sedikit merasa kasihan. Justru malah membuatnya semakin muak.

 

“BERHENTI MENANGIS SEPERTI ITU!! APA KAU JUGA MAU DIPERLAKUKAN SEPERTI HINA HAH?!!” perkataan dari Sho benar-benar membuat Reina terkejut dan secara otomatis menggelengkan kepalanya.

 

DUK ..

 

Masih dengan emosi max, Sho menyandarkan punggung kecil Reina ke arah tembok sehingga menimbulkan suara yang keras. Reina dapat merasakan nyeri di punggungnya itu akibat perlakuan Sho tadi. Dengan pemaksaan, kedua jari Sho menarik paksa dagu Reina supaya wajahnya dapat terlihat jelas.

 

“Ck! Kau benar-benar gadis paling menyebalkan didunia dan juga gadis pembunuh!! Kau tak pantas menjadi pendamping hidupku karena aku tak ingin punya istri seorang PEMBUNUH!!” jelas Sho dan secara langsung mendorong Reina kearah samping sehingga dirinya tersungkur di lantai.

 

Setelah mendorong Reina, tiba-tiba saja Sho hendak mencari sesuatu di sekitar rumahnya. Sehingga tak membutuhkan waktu lama, dirinya menemukan sebuah sapu lidi di depan rumahnya dan kemudian mengambil dua batang dari sapu lidi itu. Lalu ia kembali masuk kedalam dam menghampiri Reina lagi.

 

Di angkatkannya tangannya yang membawa dua batang lidi itu dan bersiap untuk mengayunkan tepat di tubuh Reina.

 

“Ahh! Sa-sakit Sho-kun.” Reina merintih kesakitan ketika dirinya terkena sabetan dua batang lidi itu. Sho pun semakin tak berperikemanusiaan itu kembali mengayunkan dua batang lidi itu.

“Sho-kun yamete!! Itaaiii!!!” Reina memohon pada Sho untuk menghentikan aktivitas yang melukainya itu. Dirinya tak sanggup menahan rasa sakit itu karena sudah banyak rasa sakit yang menimpanya saat ini.

 

Sho tak mengindahkan permohonan dari Reina dan terus melanjutkan aktivitasnya itu. Terus dan menerus tanpa ampun. Reina tak dapat berkutik karena dirinya sudah tak kuasa menahan rasa sakit itu.

 

“SHO-NIICHAN YAMETE!!!!” sebuah suara tak diundang kini menghambat aktivitas Sho yang menyiksa Reina. Itu suara Moa.

“Sho-niichan hentikan!! Kasihan Reina-neechan. Jangan disiksa seperti ini! Apa salahnya?!” ucap Moa dengan emosi sembari membantu Reina untuk berdiri.

 

Sho tak menjawab pertanyaan adiknya itu dan meninggalkannya begitu saja. Dilemparkannya dua batang lidi itu kesegala arah dengan perasaan tak peduli. Moa yang marah karena sifat kakaknya itu, kini teralihkan dengan kondisi Reina yang buruk. Penuh luka disekitar tubuh Reina. Bahkan baju yang dikenakan Reina terdapat banyak sobekan akibat sabetan tadi.

 

“Nee-chan daijoubu?” tanya Moa yang khawatir dengan kondisi Reina saat ini.

 

Tak ada jawaban apapun dari Reina. Nafasnya memburu dan juga kepalanya yang tertunduk untuk menahan rasa sakit yang menjalar diseluruh tubuhnya. Dan tiba-tiba saja …

 

BRUKK …

 

“Reina-neechan!!!!”

To be Continued

Comments are ❤ :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s